PENDEKATAN TEORITIS
2.2 Radio sebagai Media Komunikasi Massa .1 Karakteristik dan Keunggulan Radio .1 Karakteristik dan Keunggulan Radio
Komunikasi massa tidak lepas dari pengaruh media yang menjadi alat penyampai pesan dari komunikator kepada komunikan. Menurut Changara (2006), media adalah alat yang dapat menghubungkan antara sumber dan penerima yang sifatnya terbuka dimana setiap orang dapat melihat, membaca dan mendengarnya. Media merupakan saluran yang dimanfaatkan untuk mengendalikan arah dan memberikan dorongan terhadap perubahan sosial. Radio adalah media massa elektronik yang menguasai ruang tetapi tidak menguasai waktu. Artinya, siaran dari suatu media radio dapat diterima dimana saja dalam jangkauan pancarannya (menguasai ruang) tetapi tidak dapat dilihat kembali (tidak menguasai waktu).
Karakteristik radio dibandingkan dengan media lain yaitu (Habib, 1997):
1. Media radio adalah media audio yang menggunakan kata-kata dan suara dalam menyampaikan pesan dan informasi.
xxvii
2. Media radio menggunakan unsur-unsur dunia realita, seperti suara dalam menyampaikan informasi. Hal ini dapat memberikan pengalaman konkrit kepada pendengarnya.
3. Media radio menggunakan indera pendengaran dalam menerima pesan atau informasi, sehingga media ini digolongkan media audio.
4. Media radio merupakan media yang menyampaikan pesan dan informasi dengan kecepatan dan urutan penyajian yang bersifat kaku.
5. Media radio pada umumnya tidak memberikan kesempatan kepada pendengar untuk melakukan tindakan atau respon pada saat menerima pesan atau informasi yang disampaikan oleh media tersebut.
Radio memiliki keunggulan dibandingkan dengan media massa lain.
Beberapa keunggulan radio adalah (Effendy, 1992):
1. Informasi yang disampaikan melalui radio bisa disampaikan secara cepat.
Siaran radio memungkinkan untuk memberitakan peristiwa-peristiwa terkini yang terjadi.
2. Murah, baik pengelola radio dan pendengar radio tidak butuh banyak biaya untuk menjalankan dan menikmati siaran radio. Pengelolaan peralatan stasiun radio relatif lebih murah bila dibandingkan dengan biaya untuk membentuk sebuah media cetak dan televisi.
3. Mudah dipahami, untuk menikmati siaran radio tidak diperlukan kemampuan khusus. Misalnya, kemampuan untuk membaca.
4. Akrab, pada saat siaran seorang penyiar pada dasarnya melakukan percakapan dengan pendengar, dengan begitu maka suasana yang dijalin melalui radio
xxviii
akan membentuk suatu hubungan informal diantara stasiun radio dan pendengarnya.
5. Mudah dibawa, pesawat radio mudah untuk dibawa ke berbagai tempat.
6. Tidak perlu meluangkan waktu khusus, seorang pendengar radio dapat melakukan kegiatan lain selagi pendengar mendengarkan radio.
7. Interaktif, pada sebuah radio komunitas seorang warga komunitas bisa turut aktif bersiaran atau berdialog dengan penyiarnya melalui telepon.
Selain itu menurut Romli (2004), radio siaran memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:
1. Cepat dan langsung. Sarana tercepat, lebih cepat dari koran atau TV, dalam menyampaikan informasi kepada publik tanpa melalui proses yang rumit dan butuh waktu banyak seperti siaran TV atau sajian media cetak
2. Akrab. Radio siaran adalah alat yang akrab dengan pemiliknya.
3. Dekat. Suara penyiar hadir di rumah atau di dekat pendengar. Pembicaraannya langsung menyentuh aspek pribadi (interpersonal communications).
4. Hangat. Paduan kata-kata, musik dan efek suara dalam siaran radio mampu mempengaruhi emosi pendengar. Pendengar akan bereaksi atas kehangatan suara penyiar dan seringkali berpikir bahwa penyiar adalah seorang teman bagi mereka.
5. Sederhana. Tidak rumit, tidak banyak pernik, baik bagi pengelola maupun pendengar.
6. Tanpa batas. Siaran radio menembus batas-batas geografis, demografis, SARA, (Suku, Agama, Ras, Antargolongan) dan kelas sosial.
xxix
7. Murah. Dibandingkan dengan berlangganan media cetak atau harga TV, radio jauh lebih murah.
8. Bisa mengulang. Radio memiliki kesementaraan alami (transient nature) sehingga berkemampuan mengulang informasi yang sudah disampaikan secara tepat.
9. Fleksibel. Siaran radio dapat dinikmati sambil mengerjakan hal lain tanpa menggangu aktivitas yang lain seperti memasak, mengemudi, belajar dan membaca koran atau buku.
Kelebihan yang banyak dimiliki radio tetapi tetap memiliki kelemahan, informasinya yang selintas membuat informasi yang disampaikan sulit di ingat, dan karena siaran radio melalui pendengaran dan hanya sekali maka informasi tersebut tidak bisa di dokumentasikan oleh pendengarnya.
2.2.2 Khalayak Radio
Khalayak adalah pihak yang menjadi sasaran pesan yang dikirim oleh sumber (Changara, 2006). Khalayak biasa disebut dengan istilah penerima, sasaran, pembaca, pendengar, pemirsa, audience, decorder atau komunikan.
Khalayak adalah salah satu aktor dari proses komunikasi. Unsur khalayak tidak boleh diabaikan sebab berhasil tidaknya suatu proses komunikasi sangat ditentukan oleh khalayak. Khalayak dalam studi komunikasi bisa berupa individu, kelompok dan masyarakat. Ada tiga aspek yang perlu diketahui seorang komunikator menyangkut tentang khalayak, yaitu aspek sosiodemografik, aspek profil psikologis dan aspek karakteristik perilaku khalayak.
xxx
Aspek sosiodemografik antara lain (Changara, 2006): (1) Jenis kelamin, (2) Usia, (3) Populasi, (4) Lokasi, (5) Tingkat pendidikan, (6) Bahasa, (7) Agama, (8) Pekerjaan, (9) Ideologi, (10) Pemilikan media. Aspek profil psikologis ialah memahami khalayak dari segi kejiwaan, yaitu (1) Emosi, (2) Bagaimana pendapat-pendapat mereka, (3) Adakah keinginan mereka yang perlu dipenuhi, (4) Adakah selama ini mereka menyimpan rasa kecewa, frustasi atau dendam. Aspek karakteristik perilaku khalayak, yaitu (1) Hobi, (2) Nilai dan norma, (3) Mobilitas sosial, (4) Perilaku komunikasi.
Masduki (2002) membagi pendengar radio dalam 4 kategori, yakni pendengar aktif, pasif, selektif dan spontan. Pendengar spontan adalah pendengar yang tanpa sengaja mendengar suatu siaran radio dan relatif mudah teralih perhatiannya pada hal lain. Pendengar pasif adalah pendengar yang sering mendengarkan suatu program radio tapi jarang melakukan interaksi dengan penyiar dan hanya mendengarkan siaran radio saja. Pendengar selektif adalah pendengar yang hanya memilih untuk mendengarkan program siaran tertentu yang memang diminati oleh pendengar baik dikarenakan kualitas program yang ditawarkan maupun karena tertarik terhadap penyiar yang bersiaran. Pendengar aktif adalah pendengar yang selalu mendengarkan siaran suatu stasiun radio dan mereka juga sering aktif berinteraksi dengan penyiar pada saat siaran berlangsung dengan mengirimkan SMS (Short Message Service) atau telepon ke stasiun radio yang bersangkutan.
Masduki (2002) menginformasikan bahwa terdapat empat komponen sosiologis yang dapat dipertimbangkan sebagai identitas khalayak, yaitu: (1) Berasal dari berbagai strata sosial (berbeda umur, tingkat pendidikan, jabatan,
xxxi
pendapatan, dan gaya hidup), (2) Merupakan kelompok anonim yang terdiri dari individu-individu yang tidak saling mengenal, (3) Karena secara fisik terpisah maka hanya ada sedikit kemungkinan untuk interaksi dan tukar pengalaman, (4) Tidak terorganisasi sehingga tidak mungkin digerakkan untuk kepentingan tertentu.
2.2.3 Efek Komunikasi Massa
Chaffee (Rakhmat, 2004) menyebutkan bahwa efek komunikasi massa mengakibatkan perubahan pada diri khalayak komunikasi massa, perubahan tersebut adalah perubahan kognitif, afektif dan konatif. Bloom dalam Notoatmodjo (1990), membagi perilaku ke dalam tiga kawasan, yaitu cognitive domain, affective domain dan pscychomotor domain.
Rakhmat (2004) menjelaskan bahwa efek kognitif terjadi bila ada perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau dipersepsi khalayak. Efek ini berkaitan dengan tranmisi pengetahuan, keterampilan, kepercayaan atau informasi. Menurut Kibler et. Al (Anggraeni, 2004), pengetahuan dapat didefinisikan sebagai ingatan mengenai sesuatu yang bersifat spesifik/umum;
ingatan mengenai metode atau proses; ingatan mengenai pola, susunan atau keadaan. Selanjutnya pengetahuan tersebut dikelompokkan secara hierarkhis ke dalam: (1) Pengetahuan yang bersifat spesifik, (2) Pengetahuan mengenani terminologi, (3) Pengetahuan mengenai fakta-fakta tertentu, (4) Pengetahuan mengenai cara-cara tertentu, (5) Pengetahuan mengenai kaidah, (6) Pengetahuan mengenai arah dan tujuan, (7) Pengetahuan mengenai klasifikasi dan kategori, (8) Pengetahuan mengenai kriteria, (9) Pengetahuan mengenai metode, (10)
xxxii
Pengetahuan mengenai pola, (11) Pengetahuan mengenai prinsip dan generalisasi, (12) Pengetahuan mengenai teori dan struktur.
Sudjono (1996), menyatakan bahwa pengetahuan diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide gejala, rumus dan sebagainya tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya. Menurut Supriyadi (Anggraeni, 2004), pengetahuan merupakan sekumpulan infomasi yang dipahami, yang diperoleh melalui proses belajar selama hidup dan dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat penyesuaian diri sendiri maupun lingkungannya.
Efek afektif timbul bila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci. Efek behavioral merujuk pada perilaku nyata yang dapat diamati, meliputi pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan. Sikap menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), diartikan sebagai perasaan, cara berfikir dan kecenderungan seseorang yang kurang lebih bersifat permanen mengenai aspek-aspek tertentu dalam lingkungannya. Komponen-komponen sikap adalah cara berfikir, perasaan dan kecenderungan untuk bertindak.
Akibat dari efek komunikasi massa adalah terjadinya perubahan pada diri khalayak komunikasi massa yaitu perubahan kognitif, afektif dan konatif. Respons pengetahuan merupakan penguasaan individu mengenai fakta-fakta yang berhubungan dengan informasi yang disampaikan. Respon sikap adalah perasaan, pikiran dan kecenderungan seseorang yang berhubungan dengan informasi yang disampaikan kepada khalayak.
xxxiii