• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Raksa (Hg) dan Efek Rraksa (Hg) terhadap Kesehatan Manusia

Semua manusia terpapar dengan raksa (Hg) pada level rendah. Hampir

semua manusia dapat dilacak jumlah Hg dari jaringan mereka. Secara umum

paparan yang rendah tidak menyebabkan efek kurang baik terhadap kesehatan.

Raksa (Hg) menyebabkan efek buruk yang bermakna pada kesehatan manusia jika

terpapar pada level yang berlebihan dari batas aman yang telah ditetapkan (WHO,

bagaimana keparahannya meliputi bentuk kimia raksa (Hg), dosis, usia saat

terpapar, durasi paparan, rute paparan (inhalasi, saluran cerna, parenteral atau

kontak kulit), dan pola diet konsumsi ikan dan seafood (WHO, 2008 dan Eapen,

2011).

Kepekaan terhadap Hg (metabolisme, eksresi dan toksisitasnya)

dipengaruhi oleh genetik, usia, jenis kelamin, dan status kesehatan. Pada

percobaan binatang menunjukkan diet susu meningkatkan absropsi melalui

gastrointestinal. Untuk eksresi dibutuhkan produksi empedu yang adekuat, pada

bayi baru lahir sering tidak adekuat. Flora normal usus juga bermain peran dalam

menghancurkan Hg untuk dieksresi, oleh karena itu paparan antibiotika

menyebabkan penurunan eksresi (Autism Research Institute, 2005).

Target utama dari toksisitas Hg adalah sistem saraf, ginjal, dan sistem

kardiovaskular. Perkembangan sistem organ (seperti sistem saraf fetus) lebih

sensitif terhadap efek toksik Hg. Organ tubuh lain yang dapat terpengaruh adalah

sistem respirasi, gastrointestinal, hematologi, imun, dan reproduksi (WHO, 2008).

2.2.1 Patogenesa toksisitas raksa (Hg) pada anak dengan gangguan autistik

Tinjauan literatur mengindikasikan peningkatan paparan Hg menginduksi

kerusakan neurologis yang serupa dengan yang diobservasi pada penelitian

patologi otak subyek yang didiagnosa gangguan spektrum autisme. Contoh tipe

kerusakan neurologis akibat paparan Hg konsisten dengan kerusakan neurologis

yang diobservasi pada studi patologi otak pasien autisme meliputi 1) peningkatan

degenerasi neuronal, 2) peningkatan stres oksidatif lipid neuronal, 3) peningkatan

neuronal, 5) gangguan pada sistem antioksidan neuronal, 6) penurunan neuronal

glutation dan aktivitas acetyl cholinesterase, dan 7) nekrosis neuronal,

demyelinisasi axon dan gliosis (Geier et al., 2010).

Raksa (Hg) atau merkuri ada dalam tiga bentuk utama; uap raksa (merkuri

elemental, Hg0), merkuri inorganik divalen (Hg2+), dan merkuri organik.

Organomerkuri selain metil merkuri cepat terdekomposisi kembali menjadi

merkuri anorganik. Raksa mempunyai afinitas terhadap lipid dalam tubuh

organisme sehingga cenderung lebih terakumulasi dan terbiomagnefikasi

dibandingkan bentuk logam berat lainnya. Oleh organisme akuatik Hg di

akumulasi dalam bentuk metil merkuri atau ion Hg2+

Toksikokinetik (absrobsi, distribusi, metabolisme dan eksresi) Hg sangat

tergantung pada bentuknya. Pada paparan dengan inhalasi, absrobsi Hg

pada seluruh jejaring

makanan (Suseno, dkk, 2010).

0

(uap Hg)

sangat cepat dan efisien masuk ke paru-paru, melewati plasenta dan sawar darah

otak. Bentuk inorganik diabsrobsi melalui saluran cerna dan kulit, dan

terakumulasi di ginjal. Pada banyak jaringan tubuh Hg0 mengalami oksidasi

menjadi Hg2+ dan memungkinkan untuk direduksi oleh jaringan mamalia kembali

menjadi Hg0. Raksa dapat tertahan dalam bentuk ion selama beberapa minggu

atau bulan pada berbagai jaringan tubuh, khususnya otak dan ginjal (WH0, 2008).

Waktu paruh bentuk inorganik dalam darah adalah sekitar 20-66 hari. Bentuk ion

(Hg2+) terutama dieksresi melalui urin, ASI dan feses, begitu juga Hg0 terutama

dieliminasi melalui urin dan feses. Banyak merkuri yang dieksresi melalui urin

dieksresi langsung sebelum mengalami oksidasi. Umumnya banyak Hg di urin

dalam bentuk ionik.

Sumber paparan penting pada manusia adalah uap Hg yang terhirup dari

dental amalgam dan metil merkuri (MeHg) dari ikan. Uap Hg dan MeHg

keduanya neurotoksik. Target kritis toxisitas MeHg adalah sistem saraf,

khususnya selama tahap perkembangan. MeHg diketahui mempunyai efek tidak

baik terhadap perkembangan otak pada paparan in utero. Waktu paparan

menentukan kritikal toksisitas. Karena konjugasi MeHg-cystein dapat melewati

barier plasenta dan sawar darah otak, dan perkembangan fetus khususnya sensitif

terhadap efek toksik Hg, paparan selama kehamilan menjadi perhatian yang

sangat tinggi (WHO, 2008). Paparan selama masa perkembangan fetus

menyebabkan 5-10 kali lebih sensitif terhadap merkuri. Otak manusia mengalami

perkembangan dan maturasi yang luar biasa pada tahun pertama kehidupan.

Paparan yang terjadi selama “critical windows of development” menimbulkan

lebih banyak kerusakan (Autism Research Institute, 2005).

Campuran Hg organik yang lain adalah etil merkuri (EtHg) ada pada

pengawet thimerosal yang terdapat dalam vaksin dan beberapa produk

pharmasetik. MeHg terdistribusi ke banyak jaringan, eliminasi utama melalui

feses setelah demethylasi, rambut dan urin, dengan waktu paruh mendekati 44-80

hari (Barregard et al., 2011; WHO, 2008).

Dalam darah metilmerkuri terikat secara eksklusif pada protein dan

sulfhidril berbobot molekul rendah seperti sistein. Reaktifitas metilmerkuri yang

metilmerkuri bebas dalam cairan biologis sangat kecil. Kompleks MeHg-sistein

yang terbentuk beraksi sebagai analog asam amino, mempunyai struktur mirip

metionin. Sistein merupakan asam amino yang penting pada rambut. Metilmerkuri

yang bereaksi dan terikat dengan gugus sulfhidril pada sistein, terserap dalam

rambut, menyebabkan kadar merkuri pada rambut 250-300 kali lebih tinggi dari

konsentrasi dalam darah (Mercury Analysis Manual, 2004).

Inorganic Hg (IHg) Metil Hg (MeHg) Ethil Hg (EtHg) Dental amalgam, diet Diet (fish) Vaccines

*

* Enterohepatic

Circulation of MeHg Demethylation and Deethylation in blood and tissue

Gambar 2.2. Garis besar secara sederhana sumber dan metabolisme dari jenis merkuri yang berbeda (Barregard et al., 2011)

EtHg telah digunakan sebagai pengawet sejak tahun 1930, seperti dalam

vaksin, immunoglobulin, obat tetes mata, dan produk kosmetik. Radikal EtHg

berikatan pada grop sulfur dari thiosalisilat menghasilkan produk thimerosal.

Pengawet vaksin dengan thimerosal biasanya mengandung 0,001-0,01%

thimerosal. Dosis tunggal 0,5 milliliter vaksin dengan 0,01% thimerosal

Absorbed in Lung (as Hg) After inhalation

Absorbed in GUT after oral intake

Injected into Subcutaneus tissue

Blood (IHg, MeHg, and EtHg)

Kiddney (IHg)

Liver, Brain, and other tissue (IHg, MeHg, and EtHg

Urine (IHg)

mengandung 50 mikrogram thimerosal atau mendekati 25 mikrogram merkuri

(Barregard et al., 2011).

Karena sedikit informasi tentang toksisitas EtHg (bentuk merkuri pada

thimerosal), banyak yang memperkirakan toksisitasnya didasari pada/berdasarkan

(toksisitas) metil merkuri. Penelitian oleh Burbacher (2004), pada primata

mendokumentasikan bahwa etil merkuri mempunyai waktu paruh yang lebih

singkat didalam darah dari metil merkuri, lebih cepat dikonversi ke bentuk

inorganik, lebih toksik dan dapat berada di otak sampai bertahun-tahun. Baskin et

al. (2003) telah mendokumentasikan kerusakan DNA, aktivasi caspase-3,

kerusakan membran nuklear, dan kematian sel pada kultur neuron dan fibroblast

manusia dewasa yang dipapar dengan 201 mikrogram/liter etil merkuri setelah

inkubasi 6 jam atau kurang, yang mana hal ini serupa dengan yang terjadi pada

praktek pemberian rutin vaksinasi selama tahun 1990 yang menyebabkan

kerusakan perkembangan saraf infan. Hal ini serupa dengan penelitian oleh Waly

et al. (2004), telah mencatat bahwa thimerosal, pada konsentrasi nanomolar yang

rendah menghambat insulin like growth factor-1 (IGF-1) dan dopamin

menstimulasi methylasi pada sel neuroblastoma manusia, indikasi potensial

gangguan kontrol faktor pertumbuhan normal dan methylasi (Research Autism

Institute, 2005).

Paparan merkuri telah diketahui menyebabkan kerusakan kognitif, sulit

berfikir abstrak dan mengikuti perintah yang kompleks, keterbatasan sosial, cemas

Merkuri mengganggu neorotransmiter serotonin, dopamin, glutamat dan

asetilkolin. Abnormalitas yang sama dijumpai pada anak dengan autism. Target

sel pada otak oleh merkuri adalah pada sel Purkinje dan lapisan granula serebelum

seperti amigdala dan hipocampus. Pola ini sama dengan patologi yang dijumpai

pada anakdengan gangguan autistik.

Toksisitas merkuri menyebabkan kerusakan sistem imun dan memicu

proses autoimun, meliputi pergeseran limfosit Th2. Proses autoimun yang sama

telah diketahui terjadi pada gangguan autistik. Paparan terhadap merkuri

menyebabkan kepekaan terhadap strain virus tertentu, yang mana hal ini mungkin

berkaitan dengan penurunan fungsi NK sel. Sebagian anak gangguan autistik

ditemukan bukti nyata mengalami infeksi virus kronik, termasuk virus measles.

Keracunan merkuri mengganggu dan menghambat enzim dan peptida saluran

cerna. Banyak anak gangguan autistik mempunyai masalah pencernaan dan

kesulitan mencerna produk susu dan gandum atau glutein (Research Autism

Institute, 2005).

Logam berat, mencakup ethylmerkuri dari thymerosal mempunyai efek

penting dalam perjalanan metabolisme yang melibatkan asam amino mengandung

sulfur (seperti methionin, S-adenosylmethionin, S-adenosylhomocystein,

homocystein, dan cystein), peptida yang mengandung sulfur (seperti glutathion).

Kemampuan untuk membersihkan logam dari tubuh tergantung pada level thiol

tersebut, khususnya level glutation. Rendahnya level glutation pada anak

gangguan autistik beresiko lebih besar untuk toksisitas logam berat secara

logam berat dan thimerosal sangat kuat menghambat aktivitas methionin sintase,

yang mana dipakai oleh derivat folate grup methyl untuk mengkonversi

homochystein menjadi methyoin. Inhibisi ini memblok kemampuan Insulin Like

Growth Factor-1 (IGF-1) dan dopamin untuk aktivasi enzim ini, dengan demikian

bertentangan dengan peran methylasi dalam perkembangan dan mekanisme

molekular. Efek inhibisi metal adalah langsung pada sintesa glutation-dependent

dari methylcobalamin (methyl B12), yang mana ini dibutuhkan untuk aktivitas

methionin synthase pada tipe-tipe sel tertentu (seperti lymphosit dan beberapa sel

neuronal). Fungsi methylasi pada sel-sel tertentu ini akan sangat dipengaruhi oleh

logam berat, khususnya pada individu yang mempunyai latar belakang genetik

akan membuat mereka lebih peka (Research Autism Institute, 2005).

Neurotoksisitas merkuri dihubungkan dengan kekurangan glutation.

Merkuri mengikat pada grop cystein thiol (-SH) pada protein intraselular dan

menginaktivkan fungsi mereka. Grop cystein –SH dari glutation mengikat Hg dan

memproteksi protein esensial dari inaktivasi fungsinya. Glutation berperan utama

dalam mekanisme eksresi Hg. Individu dengan genetik defisiensi sintesa

glutation, kurang mampu mengeksresi Hg, membuat mereka lebih sensitif

terhadap efek yang kurang baik (Geier & Geier, 2007). Stress dan sakit juga

diketahui mengurangi level glutation sehingga menurunkan kemampuan tubuh

mengeksresi Hg (Autism Research Institute, 2005).

Kekurangan atau defisiensi sistem antioksidan selular telah terlihat pada

sejumlah anak gangguan autistik. Temuan yang umum pada anak gangguan

(Research Autism Institute, 2005). Glutation merupakan tripeptida dari cysteine,

glycine, dan glutamat yang disintesa dari setiap sel tubuh. Disamping berperan

dalam detoksifikasi logam berat, glutation juga berfungsi mengurangi stres

oksidatif. Konsisten dengan level glutation yang rendah dan peningkatan stres

oksidatif, anak gangguan autistik mengalami kesulitan resisten terhadap infeksi,

inflamasi, dan detoksifikasi dari kontaminan lingkungan. Anak gangguan autistik

dilaporkan mengalami infeksi kambuhan, neuroinflamasi, inflamasi

gastrointestinal, dan kerusakan kapasitas antioksidan dan detoksifikasi.

Keberadaan logam berat dalam tubuh menyebabkan stres oksidatif dan glutation

cepat habis akibat peningkatan kebutuhan yang diinduksi oleh logam berat (Geier

et al., 2008).

2.2.2 Batas aman raksa (Hg) dalam tubuh

Environmental Protection Agency (EPA) telah menetapkan batas aman

terhadap total paparan merkuri sebesar 0,1 microgram merkuri per kilogram berat

badan per hari (µg/kg BB/hari), Agency for Toxic Substances and Desease

Registry (ATSDR), 0,3 µg/kg BB/hari, dan Food and Drug Administration (FDA)

membuat batas aman 0,4 µg/kg BB/hari (Autism Research Institute, 2005).

2.2.3 Sumber paparan raksa (Hg) pada anak

Tiga sumber utama paparan Hg pada anak di Amerika adalah konsumsi

EPA telah melaporkan 1 dari 6 wanita di USA mempunyai level Hg yang

memungkinkan bayi mereka beresiko mengalami kerusakan neurologis. Wanita

yang teratur mengkonsumsi ikan 9 kali atau lebih setiap bulan, 7 kali lebih banyak

Hg dalam darah mereka dibandingkan yang tidak mengkonsumsi ikan. Ikan hiu

dan ikan todak rata-rata mengandung 1 ppm (microgram/gram) Hg, yang mana

jika sekali mengkonsumsi 200 gram mengandung Hg sekitar 200 microgram.

Sumber paparan Hg pada anak gangguan autistik bisa dalam bentuk

merkuri elemental (uap merkuri elemental yang didapat saat prenatal dari ibu

hamil yang menggunakan dental amalgam atau dari sumber lain), merkuri

inorganik (terpapar saat prenatal, seperti ibu hamil yang mengkonsumsi

ikan/makanan yang tercemar, atau setelah lahir anak mengkonsumsi ikan yang

tercemar, ASI dari ibu mengkonsumsi makanan yang tercemar Hg), dan merkuri

organik (terpapar saat prenatal yang didapat dari thimerosal saat ibu hamil

divaksinasi atau didapat selama post natal dari thimerosal saat vaksinasi).

Mercury-silver dental amalgam umumnya mengandung 50% Hg. Banyak

penelitian menyebutkan mendekati 80% uap Hg yang dilepas dari dental amalgam

diabsrobsi kedalam badan. Jumlah Hg yang diabsrobsi ke badan berkisar 1-10

microgram/hari, tergantung jumlah dental amalgam yang dipakai. Jumlah ini

tidak berbahaya pada kebanyakan orang, namun menambah beban tubuh terhadap

peningkatan resiko paparan tambahan dari sumber lain (Autism Research

Institute, 2005).

Thimerosal merupakan pengawet yang dipakai pada sejumlah obat

berat. Saat ini umum dipakai sebagai pengawet pada vaksin anak-anak. Beberapa

contoh thimerosal yang terdapat dalam vaksin meliputi Hep B (12,5 microgram),

DTaP (25 microgram), HiB (25 microgram), dan PCV (25 microgram). Vaksinasi

HepB (dan HiB) diberikan saat lahir, 3 kali selama 6 bulan pertama kehidupan

bayi (Autism Research Institute, 2005).

Dokumen terkait