• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II ANALISIS TOKOH DAN PENOKOHAN DALAM NOVEL NAYLA

2.5 Rangkuman

Analisis dalam bab II ini mengungkapkan tokoh dan penokohan Nayla dan Ibunya. Kedua tokoh ini dipilih karena mengungkapkan tokoh kita dan memiliki masalah kajian analisis terhadap tokoh Nayla dan Ibunya.

Tokoh Nayla menghasilkan pandangan lebih dari dimensi fisik yaitu usianya yang sudah remaja tetapi ia masih saja mengompol. Ketika ia mengompol Ibu selalu menusukan peniti keselangkangannya bahkan ke vaginanya.

Dimensi psikis Nayla yaitu Nayla ingin melihat Ibu seperti Ibu-ibu lainnya yang menjaga dan menyayangi anaknya dengan tulus bukan dengan siksaan.

Dimensi sosiologis Nayla ialah ketika Nayla tumbuh menjadi gadis dewasa dan ia tidak menyadari bahwa sikap yang diambilnya salah. Karena tertekan dan tidak suka dengan sikap Ibunya yang selalu menghukumnya, Nayla selalu mencari rasa aman lewat alkohol.

Analisis terhadap tokoh Ibu menunjukkan dimensi fisik Ibu yang kuat dan tegar. Dengan fisik Ibu yang tegar dan kuat membuat ia selalu menyiksa Nayla tanpa alasan yang tepat. Hanya karena Nayla mengompol, Ibu selalu menusuki

30

vagin Nayla dengan peniti. Ibu tak melihat dan mencoba mengerti bagaimana perasaan Nayla.

Dimensi psikis Ibu yaitu perasaan Ibu sangat hancur dan sangat membenci ayah. Ibu membenci ayah karena ayah meninggalkan ibu begitu saja. Oleh karena itu Ibu harus tegar dan bekerja keras atau membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan Nayla.

Dimensi sosiologis Ibu yaitu ia ingin sikapnya diikuti oleh Nayla. Nayla harus mengikuti jejak atau sifat Ibu. Ibu tidak ingin Nayla sama seperti Ayahnya.

Ibu ingin Nayla mencontohnya, karena menurut Ibu hidup ini keras. Jadi Nayla harus benar-benar dewasa dan pandai. Agar kelak Nayla bisa menaklukkan laki-laki sama seperti Ibunya. Itulah latar belakang Ibu yang ia terapkan untuk anaknya Nayla.

Tokoh Ibu memang berwatak keras. Semua yang Ibu inginkan harus tercapai. Ibu juga memegang prinsip bahwa Nayla harus menjadi seperti yang ia inginkan. Setiap keputusan yang sudah Ibu buat tidak bisa diubah dan ditawar lagi. Bahkan bentuk kedisiplinan yang diterapkan untuk Nayla juga sesuai dengan aturannya, bila Nayla melakukan kesalahan, Ibu menghukum tanpa melihat sebab akibat Nayla melakukan kesalahan itu. Seperti saat Nayla tetap mengompol dan Ibu menghukumnya dengan menusukkan peniti ke selangkangan dan vagina Nayla.

Penyiksaan fisik dan psikis serta pelecehan seksual yang dialami Nayla pada waktu kecil memberikan dampak trauma dalam kehidupannya. Trauma tersebut berpengaruh terhadap kepribadian Nayla. Struktur kepribadian Nayla

31

berkembang dengan tidak seimbang. Hal tersebut dapat dilihat dari besarnya Id yang terlalu mendominasi dalam kepribadian Nayla. Ego selalu dituntut untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh Id tanpa memikirkan norma-norma yang ada.

Semua terjadi disebabkan tidak terbentuknya Superego yang baik dalam kepribadian Nayla. Struktur kepribadian yang tidak seimbang juga mengakibatkan Nayla mengalami gangguan kepribadian seperti neurosis dan depresi.

Pengalaman-pengalaman traumatis pada masa kecil memberikan inspirasi terhadap tulisan-tulisan Nayla, khususnya penyiksaan yang dilakukan oleh Ibu dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh kekasih Ibunya. Hal yang menjadi inspirasi Nayla dalam dunia kepengarangannya yaitu seksualitas dan dunia perempuan. Hubungan problematis Ibu dan anak dan seksualitas kerap menjadi tema dalam setiap tulisannya. Dalam dunia kepengarangannya, Nayla menghasilkan sebuah cerita pendek yang berjudul “Laki-laki Binatang!”, dan dua buah tulisan yang membahas seksualitas dan pelecahan seksual. Trauma yang mengikat kehidupan Nayla berdampak pada tulisan-tulisan yang dihasilkannya.

Selalu menonton, gaya penulisan Nayla yang cenderung menggunakan stream of consciousness, yaitu teknik aliran kesadaran, dan dalam setiap tulisannya selalu dibumbui oleh seksualitas dari sudut pandang dunia perempuan.

Hal yang sangat menarik adalah masalah kejiwaan yang berkaitan dengan interaksi Id, Ego dan Superego. Hal ini akan dibahas di dalam bab III.

32 BAB III

KAJIAN TENTANG ID, EGO DAN SUPEREGO DALAM DIRI TOKOH NAYLA DAN TOKOH IBU DALAM NOVEL NAYLA KARYA

DJENAR MAESA AYU

3.1 Pengantar

Dalam bab II telah dianalisis tokoh dan penokohan pada novel Nayla. Oleh karena itu, pada bab III peneliti akan menganalisis id, ego, dan superego tokoh Nayla dan Ibu. Menurut Freud, alam tak sadar merupakan segi pengalaman yang tidak pernah kita sadari (karena terjadi pada tahap perkembangan ketika kita belum berbahasa atau karena berlangsung cepat sekali maupun terjadi di luar pusat perhatian kita) (Hartono, 2003: 3).

Freud menyatakan bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik antara impuls id (umumnya seksual dan agresif) dan pertahanan dari ego. Impuls-impuls id mengancam individu yang disebabkan pertentangan nilai-nilai personal atau berseberangan dengan nilai-nilai dalam suatu masyarakat. Misalnya, perasaan tidak senang seorang anak kepada oranng tuanya yang bertentangan dengan keharusan anak mencintai orang tuanya. Mengakui perasaan sesungguhnya akan mengakibatkan kecemasan bagi si anak karena akan menghancurkan konsep diri sebagai anak baik dan mengancam posisinya karena akan kehilangan kasih sayang dan dukungan orang tua. Ketika ia marah kepada orang tuanya, kecemasan akan timbul sebagai tanda bahaya (Mindertop, 2010:28).

33

Psikoanalisis Sigmund Freud membahas mengenai id, ego, dan superego.

Dinamika ini mampu menciptakan arus alam bawah sadar. Hal ini juga terjadi pada tokoh Nayla yang mengalami berbagai peristiwa yang dialaminya secara nyata. Dengan demikian, hasil kajian dalam penelitian ini merupakan psikoanalisis, maka sub judul pembahasan didasarkan pada id, ego, dan superego pada tokoh Nayla dan Ibu.

3.2 Kajian Id, Ego dan Superego Tokoh Nayla

Id adalah lapisan psikis yang paling dasariah: yang di dalamnya terdapat naluri-naluri bawaan (seksual dan agresif) dan keinginan-keinginan yang direpresi. Id menjadi bahan dasar bagi pembentukan psikis lebih lanjut dan tidak terpengaruhi oleh kontrol pihak ego dan prinsip realitas. Id memiliki perlengkapan berupa dua macam proses. Proses pertama adalah tindakan-tindakan refleks, yakni suatu bentuk tingkah laku atau tindakan yang melibatkan sejumlah reaksi psikologis yang rumit (Koswara, 1991:33). Jadi Id merupakan sistem yang paling dasar yang dimiliki oleh manusia. Id tidak membutuhkan perintah dari sistem yang lainnya karena Id akan bekerja secara otomatis.

Nayla seorang anak yang mengalami hukuman badan sewaktu masih berusia belasan tahun hanya karena ngompol. Nayla mengompol karena mempertahankan rasa malas tetapi bukan hanya itu saja, Nayla juga tertekan dengan perilaku Ibunya.

34

(8) “Kenapa ibu tak bisa berpikir bahwa tak akan ada satu orang anak pun yang memilih ditusuk vaginanya dengan peniti hanya karena ingin mempertahankan rasa malas” (Nayla, 2005:2)

Tokoh Ibu juga memberi pernyataan bahwa Nayla anak yang malas. Tetapi Nayla menganggap bahwa hukuman itu merupakan tekanan buat dia. Mengompol itu dikarenakan tekanan yang terjadi pada diri Nayla. Hal ini juga yang membuat Nayla berwatak keras karena tekanan-tekanan yang dihadapinya.

(9) “Apalagi yang kamu harapkan ketika semua kebutuhan tak ada yang kurang? Kenapa untuk pergi kekamar mandi saja kamu begitu malas?”

(Nayla, 2005:7)

Tokoh Nayla sendiri berkepribadian keras. Kepribadian yang keras ini karena Nayla dipengaruhi oleh Ego. Ego memegang prinsip dan selalu memandang hidup sesuai dengan realitas. Nayla saat berumur belasan sudah dipengaruhi oleh Ego karena dia diusir dari rumah Ibu setelah keluar dari Panti Rehabilitasi. Hal ini merupakan penolakan orang tua terhadap anak yang akan mengakibatkan anak menjadi seorang pemberontak, ingin melarikan diri dari rumah, dan bersikap agresif.

(10) “Ia berjalan melewati kucing-kucing dan anjing-anjing tak bertuan.

Mendadak Nayla merasa tak lebih dari binatang-binatang ini. Tak lebih dari sampah yang belum dibersihkan di jalan. Tak bisa selamanya begini. Ia butuh pekerjaan. Butuh tempat tinggal. Butuh sesuatu yang bisa membuatnya sedikit merasa berarti ketimbang binatang dan sampah ini. Nayla butuh pilihan. Tapi apa yang bisa ia pilih ketika ia sama sekali tak punya pilihan? Hanya untuk semua inikah ia dilahirkan? Terlahir, terluka, dan disia-siakan?

Sampai matikah ia akan seperti ini?” (Nayla, 2005:15)

Kutipan di atas menunjukan bahwa Nayla sudah berpikir rill tentang hidupnya. Nayla juga berpikir tentang masa depannya kalau dia harus terus menerus hidup di jalan. Dia punya masa depan yang harus diperjuangkan. Saat

35

harus memilih peniti dan Nayla mulai tidak takut lagi. Secara tidak sadar Nayla telah dipengaruhi oleh Ego, Nayla sadar bahwa ini pilihan dan harus dijalani.

(11) “Tapi kini, beberapa tahun kemudian, tak ada satu peniti pun yang membuat Nayla gentar maupun gemetar. Ia malah menentang dengan memilih peniti yang terbesar. Membuka pahanya lebar-lebar.

Tak terisak. Tak meronta. Membuat Ibu semakin murka. Tak hanya selangkangan Nayla yang ditusukinya tapi juga vaginanya. Nayla diam saja. Tak ada sakit terasa. Hanya nestapa. Tak ada takut. Hanya kalut” (Nayla, 2005:2)

Nayla sadar bahwa pilihan untuk memilih peniti harus dia hadapi. Nayla sudah terbiasa maka dia tidak takut tetapi ada perasaan tertekan, Nayla pun menjadi kalut. Nayla berusaha tegar dan tabah dengan tidak meronta dan menangis. Ego membuat Nayla berpikir rill tentang hukuman yang diberikan Ibu karena dia sudah terbiasa menghadapinya. Nayla juga menentang tindakan Ibu dengan tidak menangis dan meronta.

Nayla juga lebih banyak dipengaruhi oleh Id karena dia ingin lepas dari semua penderitaannya. Usia yang masih terlalu muda dan hidup di dunia bebas.

Nayla lebih memikirkan hidup yang enak. Dia melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. Saat dia mabok-mabokan di diskotek yang dia lakukan hanya menghindari kehidupan yang tidak enak atau menjadi beban pikirannya. Nayla mencoba melepaskan penderitaan dengan meminum-minuman beralkohol.

Meskipun demikian, dia tetap merasa sepi dan hidup sendiri dengan segala kesulitan yang menghimpitnya dan dia tetap merasa nestapa walaupun dia lupa karena mabuk. Hal ini terlihat dari kutipan novel di bawah ini:

(12) “ Kegaduhan ini, tetap saja terasa sepi…….. tak ada yang terlalu peduli…… hanya ada mabuk yang limbung. Hanya ada limbung yang lupa. Hanya ada lupa yang sejenak membuat bahagia. Tapi bagi saya, lupa tetaplah nestapa” (Nayla, 2005: 3).

36

Dari dua kutipan di atas, terlihat jelas bagaimana Id Nayla begitu ingin menjadi seorang anak yang normal yang selalu memperoleh kebahagian dengan cara yang normal dan dia begitu ingin segera lepas dari kesulitan yang selama ini selalau menghimpitnya dan menjalar di sela-sela hidupnya.

Nayla mengalami suatu tekanan batin karena mengalami trauma yang mendalam dalam hidupnya karena perilaku yang dilakukan oleh ibunya terhadap dirinya. Perilaku yang dilakukan ibunya dapat menyebabkan Nayla frustasi atau trauma. Sehingga ia tak inginpunya ibu seperti ibunya saat ini. Ia ingin mempunyai ibu, tapi buka ibunya sendiri.

(13) Rasa sakit di hatinya pun masih kerap menusuk setiap kali melihat sosok Ibu tak ubahnya monster. Padahal ia ingin melihat Ibu seperti ibu-ibu lain yang biasa dilihatnya di sekolah ataupun di ruang tunggu dokter. Nayla ingin punya Ibu, tapi bukan Ibunya sendiri. Nayla ingin memilih tak punya Ibu, ketimbang punya Ibu yang mengharuskannya memilih peniti (Nayla, 2005:2).

Dari kutipan di atas, kita bisa lihat bahwa Nayla tidak ingin punya Ibu, dia ingin diperlakukan seperti anak-anak yang lain, dia ingin dimanja dan disayang dengan cara yang normal, bukan dengan cara disiksa dengan cara ditusuki vaginanya hanya karena ngompol. Karena trauma akan hal itu, Nayla mempertahankan egonya dengan membenci sosok seorang Ibu. Nayla juga menganggap laki-laki itu sebagai binatang dan berotak kerdil. Hal tersebut tampak pada kutipan di bawah ini.

(14) “Otak laki-laki memang kerdil. Senggama bagi mereka hanya berkisar di seputar kekuatan otot Vagina” kata Juli (Nayla, 2005: 5).

(15) Saya sependapat dengannya. Karena itu saya tak terlalu bangga ketika banyak tamu laki-laki dan juru musik yang lain yang menagku

37

tergila-gila pada saya……. Mereka pasti bangga jika berhasil merobek selaput dara saya. Bodoh…” (Nayla, 2005:3).

Dari kutipan di atas, peneliti mengetahui bahwa Nayla menganggap laki itu bodoh karena hanya menginginkan tubuhnya saja dan menganggap laki-laki itu seperti binatang karena laki-laki-laki-laki berpikiran seks itu hanya pelampiasan nafsu birahi saja.

Nayla selalu merindukan sosok Ayah, ketika dia sudah bertemu dengan Ayahnya dia ingin berbakti kepada Ayahnya dan memberikan sesuatu yang terbaik kepada Ayahnya. Hal ini terlihat dari kutipan di bawah ini:

(16) “Hari ini saya malas ke sekolah. Saya ingin menunggui Ayah di rumah. Walaupun dokter mengatakan kondisinya membaik, tapi ia masih terlihat lemah (Nayla, 2005:19).

Kutipan (13) menjelaskan bahwa ketika Ayahnya sakit dia ingin menunggui Ayahnya walaupun ia harus bolos sekolah, karena ia ingin memperoleh kebahagiaan dan merasa tenang yang selama ini belum pernah ia rasakan ketika bersama Ibunya walaupun dia tidak tahu seperti apa kebahagiaan itu yang penting dia merasa tenang.

(17) “Tapi saya merasa tenang di rumah ini. Bukan isapan jempol.

Buktinya saya berhenti ngompol. Saya tak tahu seperti apa bahagia.

Tapi saya yakin, saya sedang mengetuk, di depan pintunya...”

(Nayla, 2005:20)

Walaupun trauma karena sering disiksa ibunya, Nayla tetap merindukan ibunya dan menganggapi ibunya adalah perempuan terhebat di dunia ini dan dia tetap mengagumi ibunya. Hal ini terlihat dari kutipan di bawah ini:

(18) “ saya gak tahu apakah tindaklan menulis surat ini akan memperburuk atau memperbaikai keadaan. Tapi saya gak ada

38

maksud jelek sedikit pun. Saya Cuma ingin mengabari bahwa saya sudah mulai bisa hidup dengan hasil keringat saya sendiri”.

(hal 53).

(19) “ ia adalah perempuan terhebat yang pernah saya kenal. Ia laksana matahari yang tak akan pernah terjamah dan terjangkau” (Nayla, 2005:57).

Dari kuitipan di atas, Nayla ingin mengabari ibunya tentang keadaanya karena dia masih merasa dan memerlukan seorang ibu. Selain itu, bagi Nayla ibu adalah sosok yang akan selalu menginspirasi dia dalam mengahadapi setiap kesulitan dan kesendirian dalam hidupnya.

Tokoh Ibu juga memberi pernyataan bahwa Nayla anak malas. Tetapi Nayla menganggap bahwa hukuman itu merupakan tekanan buat dia. Ngompol itu dikarenakan tekanan yang terjadi pada diri Nayla. Hal itu juga yang membuat Nayla berwatak keras karena tekanan-tekanan yang dihadapinya. Seperti pada kutipan di bawan ini.

(20) “Apalahi yang kamu harapkan ketika semua kebutuhan tak ada yang kurang? Kenapa untuk pergi ke kamar mandi saja kamu begitu malas?”. (Nayla, 2005:7)

Tokoh Nayla pun berkepribadian keras. Kepribadian yang keras ini karena Nayla dipengaruhi oleh Ego. Ego memegang prinsip dan selalu memandang hidup sesuai realitas. Nayla saat berumur belasan sudah dipengaruhi oleh Ego karena dia diusir dari rumah Ibu setelah keluar dari Panti Rehabilitasi. Hal ini merupakan penolakan orang tua terhadap anak yang akan mengakibatkan anak menjadi seorang pemberontak, ingin melarikan diri dari rumah, dan bersikap agresif.

Ego membuat Nayla berpikir rill tentang hukuman yang diberikan Ibu karena dia sudah terbiasa menghadapinya. Nayla juga menentang tindakan Ibu dengan tidak menangis dan meronta ketika di hukum. Nayla juga lebih banyak

39

dipengaruhi oleh Id karena dia ingin lepas dari semua penderitaannya. Usia yang masih terlalu muda dan hidup di dunia bebas. Nayla lebih memikirkan hidup yang enak. Dia melakukan apa saja yang ingin dilakukannya. Saat dia mabok-mabokan di diskotek, yang dia lakukan hanya menghindari hidup yang tidak enak. Dia mencoba bertahan hidup dengan menghindari kehidupan yang tidak enak atau menjadi beban pikirannya. Nayla mencoba melepaskan penderitaan dengan meminum minuman alkohol.

(21) “Tapi bagi saya, lupa tetaplah nestapa. Bahkan ketika pengaruh alkohol sudah melewati kapasitas otak juga tubuh saya dan mengocak perut hingga seluruh isinya berpindah ke dalam jamban, karpet di bawah sofa, atau lantai dansa, isi kepala saya tetaplah dipenuhi pertanyaan yang sama. Kenapa saya harus terdampar di tempat sunyi ini ketika anak-anak sebaya yang lain sedang tertidur di balik kehangatan selimut dan bermimpi? Kenapa saya harus mencari rasa aman lewat alkohol ketika anak-anak sebaya yang lain sudah merasa nyaman oleh segelas susu dan sekerat roti?” (Nayla, 2005:3)

Nayla dipengaruhi Id dengan membuang hal yang buruk-buruk dengan membayangkan kehidupan yang lebih baik. Tetapi pernyataan di atas juga menunjukan dia berpikir tentang hidupnya maka Id dan Ego memandang kehidupan dengan rill. Nayla juga memandang kehidupannya telah mempermainkannya. Pelariannya dari kehidupan yang tidak enak dengan mabok-mabokan. Nayla juga dipengaruhi oleh Id saat dia berkencan dengan banyak laki-laki. Id berdasarkan pada kenikmatan. Nayla mengencani laki-laki untuk senang-senang saja.

(22) “Semua berjalan lancar. Kami bercinta dalam waktu singkat. Maka dalam waktu sesingkat itu tak ada satu orang pun yang bisa memuaskan saya seperti juli, tetapi memang bukan sekedar kepuasan kelamin yang saya cari. Saya juga butuh kepuasan rohani.

Mendengar suara mereka mengerang, merasakan tubuh mereka

40

menggelinjang. Menyaksikan mereka tak lebih dari seekor binatang sangatlah menyenagkan. Setelah malam itu mereka akan kembali mengendus-endus kenikmatan yang saya berikan. Mereka dengan tak berdaya menunggu giliran seperti pengunsi menanti jam makan.

Jika mereka diberi satu kali lagi kesempatan, mereka mati-matian membuktikan kejantanan. Mereka merasa tertantang.

Disitulah Ego mereka mulai menguasai, dan kutipan di atas menunjukan bahwa Nayla bersikap agresif, perilaku ini yang dipengaruhi oleh Id. Walau ada beberapa kalimat yang menunjukan bahwa Ego muncul dan menguasai saat bercinta. Dorongan-dorongan dan nafsu termasuk dalam Id. Saat insting seksual mencul kepribadian lebih banyak dipengaruhi oleh Id, karena seksualitas yang dicari Nayla hanya kepuasan sesaat. Tetapi saat muncul juga dipengaruhi oleh Ego, karena Ego sebagai penggerak sistem Id yang berperilaku agresif tetapi Ego tidak mendominasi Nayla juga memukul Ben demi mempertahankan Egonya.

Nayla memang bertindak sesuka hati dan selalu ingin menang sendiri. Saat berhubungan dengan Ben, Nayla seringkali emosional dan melakukan pemukulan.

Tindakan ini dipengaruhi oleh Id, tindakan primitif. Dorongan-dorongan nafsu dan tindakn kasar untuk mempertahankan Egonya karena Id lebih dominan.

Sehubungan dengan pengaruh bahwa Id Nayla disebabkan oleh kekerasan Ibu dan seksualitas, maka pada kutipan berikut akan dijelaskan lebih rinci.

41 3.2.1 Kekerasan Ibu

Faktor yang mempengaruhi kepribadian Nayla, yang berasal dari dalam dirinya dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor pengalaman langsung dan kerangka acuan. Faktor pengalaman langsung bersumber dari Ibu bersikap saat Nayla masih berumur belasan. Ibu saat Nayla mengompol malam hari dan mendapat hukuman dari Ibu. Saat Nayla dihukum tanpa alasan yang jelas oleh Ibu tanpa mendengar alasan Nayla melakukan hal tersebut.

(23) ”Mata Nayla menatap tajam ke arah rangkaian peniti yang teronggok di atas meja tepat di depannya. Beberapa tahun lalu, Nayla masih gentar setiap kali malihat rangkaian peniti ini. Ia akan terdiam cukup lama sebelum akhirnya terpaksa memilih satu.

Itupun harus dengan cara ditampar ibu terlebih dulu. Beberapa tahun lalu, Nayla masih gemetar ketika tangan ibu menyalakan pematik dengan ukuran terkecil, tentunya. Dan ketika peneiti yang menurut ibu sudah steril iti ditusukkan ke selangkangannya, ia akan mengapit rapat-rapat kedua pahanya. Terisak. Meronta. Membuat ibu semakin murka” (Nayla, hlm 1)

Pada kutipan di atas Nayla diperlakukan oleh Ibu dengan keras dan kaku.

Nayla pun saat sudah dewasa bersikap baik berwatak keras maupun berperilaku keras pada Ibu dan hidupnya sendiri. Bahkan Nayla meninggalkan Ibu karena Nayla merasa sudah tidak nyaman lagi di rumah dan Nayla pun memilih Ayah.

Sikap Nayla memilih Ayah karena sikap Ibu yang kasar terhadap Nayla. Beberapa hukuman yang Nayla terima tanpa alasan yang jelas.

(24) ”Rasa sakit di hatinya pun masih kerap menusuk setiap kali melihat sosok Ibu tak Ubahnya monster. Padahal ia ingin melihat Ibu seperti Ibu-Ibu lain yang biasa dilihatnya di sekolah atau pun di ruang tunggu dokter. Ia ingin Ibu seperti Ibu-Ibu lain yang terkejut katika anak kandungnya jatuh hingga terluka dan mengeluarkan darah, bukan sebaliknya membuat berdarah. Nayla ingin punya Ibu, tapi bukan ibunya sendiri. Nayla ingin memilih tak punya Ibu,

42

ketimbang punya Ibu yang mengaruskannya memilih peniti”

(Nayla, hlm 3)

Pengalaman langsung membawa Nayla pada trumatis pada tokoh Ibu.

Nayla juga tidak menginginkan tokoh Ibu. Hal ini karena pengalaman Nayla dengan Ibu yang buruk. Karena pengalaman yang buruk Nayla tidak bisa menggambarkan tokoh Ibu pada karya-karyanya. Bila kerangka acuan, Nayla

Nayla juga tidak menginginkan tokoh Ibu. Hal ini karena pengalaman Nayla dengan Ibu yang buruk. Karena pengalaman yang buruk Nayla tidak bisa menggambarkan tokoh Ibu pada karya-karyanya. Bila kerangka acuan, Nayla

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 42-0)

Dokumen terkait