V. RESPONSIFITAS KREDIT INVESTASI
5.1.1. Rasio Return on Assets (ROA)
Rasio ROA digunakan untuk mengukur kemampuan suatu bank dalam memperoleh laba secara keseluruhan. Semakin besar ROA yang dimiliki, maka berarti semakin besar laba yang diperoleh, dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset. Timbulnya kredit bermasalah pada suatu bank berimplikasi pada penurunan ROA karena kredit bermasalah dapat menurunkan laba yang dimiliki oleh bank tersebut. Secara umum, pengembalian Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) ternyata cukup signifikan dalam menopang ROA perbankan Indonesia, dan tanpa adanya komponen pendapatan ini maka ROA perbankan akan lebih rendah daripada yang dipublikasikan.
Gambar 5.1. memperlihatkan pergerakan ROA dari Bank Persero, BUSN Devisa, dan BUSN Non Devisa dengan pola berbeda sepanjang periode penelitian. Berdasarkan gambar tersebut, terlihat bahwa pergerakan ROA Bank Persero setiap tahunnya cenderung memperlihatkan peningkatan, meskipun pada pertengahan tahun 2005 sempat mengalami penurunan yang cukup signifikan dari posisi 3,27 persen pada Mei 2005 menjadi 0,50 persen pada Juni 2005. Penurunan ROA ini sangat terkait dengan penurunan laba yang turun drastis pada periode tersebut sebesar Rp. 13.963 miliar menjadi hanya sebesar Rp. 2.540 miliar pada Juni 2005. Selanjutnya, hingga kuartal pertama tahun 2006 ROA Bank Persero tampak lebih berfluktuatif dibandingkan sebelumnya. Hal ini ditandai dengan peningkatan kembali ROA dalam angka yang cukup signifikan menjadi 2,54 persen pada Desember 2005 dari posisi 1,02 persen pada November 2005. Namun, hal ini tidak bertahan lama karena pada Januari 2006 ROA kembali
mengalami penurunan, bahkan berada pada titik terendah selama periode penelitian, yakni sebesar -1,51 persen dengan kondisi laba yang juga terpuruk mencapai kondisi laba yang negatif, yakni sebesar - Rp. 8.556 miliar pada Januari 2006. Penurunan laba ini disebabkan oleh tingginya risiko kredit yang sedang dihadapi oleh Bank Persero di tengah kondisi suku bunga yang masih tinggi, sehingga berimbas pada penurunan laba dalam jumlah yang signifikan. Pada Februari 2006, ROA akhirnya kembali mengalami perbaikan dengan angka yang positif pada posisi 1,76 persen.
Gambar 5.1. ROA Bank Persero, BUSN Devisa, dan BUSN Non Devisa
-3 -2 -1 0 1 2 3 4 2001 2002 2003 2004 2005 2006 ROA_D TREND_ROA_D 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 2001 2002 2003 2004 2005 2006 ROA_ND TREND_ROA_ND -2 -1 0 1 2 3 4 2001 2002 2003 2004 2005 2006 ROA_P TREND_ROA_P
Berbeda halnya dengan ROA BUSN Devisa. Jika ROA Bank Persero cenderung berfluktuatif menjelang akhir periode penelitian, ROA BUSN Devisa justru menunjukkan fluktuasi pada awal periode penelitian. Bahkan, hingga kuartal ketiga tahun 2001 ROA BUSN Devisa menunjukkan angka yang negatif dengan titik terendah pada Mei 2001, yakni sebesar -2,10 persen. Hal ini terkait dengan kondisi rekapitalisasi perbankan pasca krisis pada saat itu. Di mana, pasca krisis begitu banyak bank devisa yang mengalami masalah likuiditas. Namun, keadaan semakin membaik yang ditandai dengan terjadinya peningkatan pada ROA BUSN Devisa pada Oktober 2001 sehingga membuat ROA kembali berada pada angka yang positif, yakni sebesar 1,44 persen. Selanjutnya, hingga akhir periode penelitian ROA BUSN Devisa terus menunjukkan trend yang meningkat, dengan posisi tertinggi ROA 3,21 persen pada Maret 2005.
Sementara, ROA BUSN Non Devisa menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif sepanjang periode penelitian. Beberapa kali ROA sempat mengalami pasang surut dalam angka yang signifikan dan posisinya cenderung lebih volatile dibandingkan dua kelompok bank lainnya. Kurang sustainable-nya ROA ini diantaranya karena struktur aset bank yang lemah, dimana margin yang diperoleh lebih banyak berasal dari spread (selisih) suku bunga pinjaman dan simpanan yang diperkirakan tidak dapat berkelanjutan, terutama dalam kondisi suku bunga yang terus menurun. Namun, perlu diketahui bahwa meskipun pergerakan ROA BUSN Non Devisa lebih fluktuatif, tetapi ROA selalu dalam angka yang positif sepanjang periode penelitian. Artinya, BUSN Non Devisa tidak pernah mengalami kerugian selama periode penelitian. Peningkatan ROA terbesar
terjadi pada Februari 2004, yakni sebesar 1,72 persen dari posisi Januari 2004 sehingga ROA pada Februari 2004 sebesar 2,82 persen. Sedangkan penurunan tertajam ROA terjadi pada Februari 2005, dimana ROA BUSN Non Devisa hanya sebesar 0,96 persen atau turun 1,69 persen dari posisi Januari 2005 sebesar 2,65 persen. Meskipun akhirnya posisi ROA kembali mencapai 2,50 persen pada Maret 2005, tetapi hingga akhir periode penelitian ROA BUSN Non Devisa cenderung mengalami penurunan. Hal ini dibuktikan dengan pergerakan rata-rata ROA pada tahun 2005 pada kisaran 1,83 persen dan tahun 2006 pada kisaran 1,53 persen dibandingkan tahun 2004 yang bergerak pada kisaran 2,71 persen.
Jika trend pergerakan ROA dari ketiga kelompok bank tersebut digabungkan, maka dapat dilihat pada Gambar 5.2. Trend ROA BUSN Devisa cenderung lebih meningkat dari periode ke periode, dan bahkan menduduki posisi ROA terbesar dibandingkan Bank Persero dan BUSN Non Devisa kurang lebih sejak kuartal kedua tahun 2004. Sementara jika diamati, pada awal periode penelitian (tahun 2001) posisi ROA BUSN Devisa justru paling rendah dibandingkan dua kelompok bank lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa BUSN Devisa semakin lama semakin memperlihatkan perkembangan dan peningkatan kinerja dalam arah yang signifikan. Peningkatan dalam rata-rata total aset yang juga disertai dengan peningkatan laba pada BUSN Devisa menunjukkan bahwa pertumbuhan total aset tersebut didukung oleh pertumbuhan aktiva produktif berupa ekspansi kredit yang didanai oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank yang bersangkutan. Di samping itu, peningkatan trend ROA ini juga diakibatkan oleh semakin meningkatnya pangsa pasar BUSN Devisa yang
sekarang bahkan telah mengungguli pangsa pasar Bank Persero. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Siregar (2004) dalam Warjiyo (2006) bahwa bank swasta konsisten dengan perilaku maksimisasi laba.
Gambar 5.2. Trend ROA Bank Persero, BUSN Devisa, dan BUSN Non Devisa Sementara, trend ROA Bank Persero dan BUSN Non Devisa justru sebaliknya menunjukkan penurunan sejak kuartal kedua tahun 2004. Padahal, sebelumnya ROA kedua bank ini memperlihatkan tendensitas yang meningkat. Terutama ROA BUSN Non Devisa yang menduduki peringkat pertama pada awal periode penelitian, tetapi justru paling rendah posisinya pada akhir periode penelitian. Hal ini salah satunya disinyalir karena transaksinya yang terbatas mata uang domestik, serta lemahnya struktur permodalan.
Hal serupa yang dialami oleh Bank Persero juga menandakan bahwa turunnya kinerja dari segi rasio ROA tersebut diantaranya disebabkan oleh turunnya laba Bank Persero (terutama jika dibandingkan dengan BUSN Devisa yang notabene merupakan kompetitor terdekatnya), pelambatan ekspansi kredit, serta menyusutnya pangsa pasar Bank Persero yang diambil alih oleh BUSN Devisa. Turunnya laba Bank Persero salah satunya disebabkan oleh semakin
-2 -1 0 1 2 3 2001 2002 2003 2004 2005 2006
meningkatnya rasio Non Performing Loan (NPL) (yang juga mencerminkan risiko kredit) pada bank tersebut akibat kurang memperhatikan aspek prudential (kehati-hatian) dalam menyalurkan kredit. Arthesa dan Handiman (2006) mengemukakan bahwa menekan biaya dana (cost of fund) sampai titik terendah yang merupakan bagian terbesar dari total cost suatu bank secara tidak langsung akan dapat meningkatkan pendapatan berupa Net Interest Margin (NIM) dan ROA.