BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN
RATA-RATA BOPO
Rata-rata BOPO tahun pertama sebesar 86,1643, tahun kedua 89,5671, dan tahun ketiga sebesar 90,0486. Hal ini memperlihatkan bahwa kinerja per tahun bank mengalami adanya peningkatan setelah merger.
7. LDR 66 68 70 72 74 76 78 80
TAHUN 1 TAHUN 2 TAHUN 3
RATA-RATA LDR
Gambar 5.7
Rata-rata LDR tahun pertama sebesar 77,2514, tahun kedua sebesar 72,2100, dan tahun ketiga sebesar 78,7071. Hal ini memperlihatkan bahwa kinerja per tahun bank tahun pertama ke tahun kedua mengalami penurunan dan pada tahun ketiga mengalami adanya peningkatan setelah merger.
D. Pembahasan
Dengan menggunakan uji Paired Sampel T-Test satu ekor dengan tingkat signifikansi 0,05 dan dari hasil t-hitung, menjabarkan bahwa hampir seluruh rasio finansial perbankan yang digunakan dalam penelitian ini tidak mengalami peningkatan kinerja finansial yang signifikan setelah merger, pada saat pengujian periode 1 tahun sebelum merger dan 3 tahun setelah merger (dirata-rata) dan pada saat pengujian per periode setelah merger.
1. Rasio yang Tetap/Tidak Ada Peningkatan Maupun Penurunan : a. ATTM = (Aktiva Tetap+Inventaris)/Modal
Secara umum aspek ATTM (aktiva tetap terhadap modal) setelah merger tidak ada peningkatan maupun penurunan. Aktiva tetap+inventaris didanai dari modal sendiri, dimana porsi pendanaan dengan modal sendiri tetap. Data bank secara umum memperlihatkan bahwa aktiva tetap+inventaris mengalami peningkatan setelah merger begitu pula modalnya. Namun, besar persentase peningkatan aktiva tetap+inventaris hampir sama dengan besar persentase peningkatan modal. Dengan begitu rasio aktiva tetap+inventaris dengan modal tetap. Hal ini berarti, merger tidak membuat kinerja finansial perbankan menjadi lebih baik, karena tidak meningkatkan kemampuan bank dalam mendanai aktiva tetap+inventaris yang tertanam dalam jangka waktu relatif lama dengan modal sendiri. Sesuai ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia, ATTM perbankan paling rendah 20%. Karena dari hasil penganalisisan memperlihatkan
rata-rata sebelum merger 80% dan setelah merger 65%, maka memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang sehat.
b. ROE = Laba Setelah Pajak/Ekuitas
Secara umum aspek ROE (Return on Equity) setelah merger tidak ada peningkatan maupun penurunan, terlihat dari rata-rata sebelum merger 10% dan setelah merger 9%. Data bank secara umum memperlihatkan bahwa laba setelah pajak mengalami peningkatan begitu pula dengan ekuitasnya. Namun, besar persentase peningkatan laba setelah pajak hampir sama dengan besar persentase peningkatan ekuitas. Dengan begitu rasio ROE tetap, sehingga keinginan bank memperbaiki rentabilitas pasca merger tidak terwujud. Hal ini memperlihatkan bahwa kinerja bank dalam mengelola modal sendiri yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak tidak lebih baik setelah merger, namun masih di atas bunga simpanan di bank sehingga menarik bagi investasi. Adapun persentase bunga simpanan di bank antara 5,64% hingga 6%, sehingga memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang sehat.
c. NIM = Pendapatan Bunga Bersih/Aktiva Produktif
Rasio NIM (Net Interest Margin) dimaksudkan untuk mengukur kemampuan Earning Asset dalam menghasilkan laba operasional bersih atau Net Interest Income. Secara umum aspek NIM setelah merger tidak ada peningkatan maupun penurunan. Data bank secara umum memperlihatkan bahwa pendapatan bunga bersih mengalami
peningkatan begitu pula dengan aktiva produktifnya. Namun, besar persentase peningkatan pendapatan bunga bersih hampir sama dengan besar persentase peningkatan aktiva produktif. Dengan begitu rasio NIM tetap. Aktiva produktif adalah penanaman dana bank baik dalam Rupiah maupun Valuta Asing dalam bentuk kredit, Surat Berharga, Penempatan Dana Antar Bank Penyertaan. Lambatnya pertumbuhan NIM secara umum disebabkan, karena penyaluran kredit oleh bank belum optimal, sehingga pendapatan bunga yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia, NIM perbankan antara 5,8%-6,2%. Karena dari hasil penganalisisan memperlihatkan rata-rata sebelum merger 4% dan setelah merger 4%, maka memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang kurang sehat. Hal ini memperlihatkan bahwa setelah merger tidak lebih baik dari sebelum merger.
d. BOPO = Biaya Operasional/Pendapatan Operasional
Secara umum aspek BOPO setelah merger tidak ada peningkatan maupun penurunan. Data bank secara umum memperlihatkan bahwa biaya operasional mengalami peningkatan begitu pula dengan pendapatan operasionalnya. Namun, besar persentase peningkatan biaya operasional hampir sama dengan besar persentase peningkatan pendapatan operasional. Dengan begitu rasio BOPO tetap. Secara umum setelah merger, bank tidak ada perbaikan efisiensi dalam operasional bank dan keinginan ekonomis untuk memperbaiki
rentabilitas pasca merger tidak sepenuhnya terwujud. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia, BOPO perbankan kurang dari 1 sehat dan lebih dari 1 tidak sehat. Karena dari hasil penganalisisan memperlihatkan rata-rata sebelum merger 89% dan setelah merger 88%, maka memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang sehat.
e. LDR = Total Kredit/Total Dana Pihak Ketiga
Secara umum aspek LDR (Loan to Deposit Ratio) setelah merger tidak ada peningkatan maupun penurunan. Data bank secara umum memperlihatkan bahwa kredit mengalami peningkatan begitu pula dengan penghimpunan dana dari pihak ketiga. Namun, besar persentase peningkatan kredit hampir sama dengan besar persentase peningkatan penghimpunan dana dari pihak ketiga. Dengan begitu rasio LDR tetap. Hal ini terjadi karena bertumbuhnya kredit yang diberikan sebanding dengan bertumbuhnya penghimpunan dana dari pihak ketiga berupa, giro, tabungan, simpanan berjangka, sertifikat deposito, kewajiban akseptasi, kewajiban pembelian kembali surat berharga (repo), pinjaman yang diterima, dan kewajiban lain-lain. Data rasio LDR (loan to deposit ratio) secara umum menghasilkan bahwa kemampuan bank setelah merger dalam menyalurkan kredit komersial masih sepadan dengan sebelum merger. Berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan Bank Indonesia, LDR perbankan antara 85%-110%. Karena dari hasil penganalisisan memperlihatkan
rata-rata sebelum merger 73% dan setelah merger 76%, maka memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang kurang sehat. Tingkat likuiditas berdasarkan rasio LDR setelah merger tidak lebih baik daripada sebelum merger, dengan begitu merger pada bank setelah merger tidak meningkatkan likuiditas terhadap pihak ketiga.
2. Rasio yang Turun/Tidak Ada Peningkatan Tetapi Justru Penurunan : a. CAR = Total Modal/Total ATMR
Aspek CAR (Capital Adequancy Ratio) seharusnya naik, tetapi justru kenyataannya turun setelah merger, yaitu dari rata-rata 64% menjadi 25%. Hal ini terjadi karena data bank secara umum memperlihatkan modal naik setelah merger dan total ATMR (aktiva tertimbang menurut risiko) naik setelah merger, tetapi kenaikan ATMR lebih besar daripada kenaikan modal sehingga mengakibatkan rasio turun. Dengan turunnya rasio CAR berakibat buruk, karena kemampuan mendanai ATMR dengan modal sendiri turun. Hal ini berarti porsi ATMR semakin banyak didanai oleh utang, dimana sebelum merger 36% didanai modal asing, sedangkan setelah merger 75% didanai modal asing. Rendahnya modal, berarti bank tidak dapat menutup segala risiko yang mungkin timbul dari penanaman dana dalam aktiva-aktiva produktif yang mengandung risiko, serta untuk membiayai penanaman dalam aktiva tetap+inventaris. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, CAR perbankan minimal 8%, maka memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang sehat.
b. ROA = Laba Sebelum Pajak/Rata-rata Aktiva
Aspek ROA (Return on Assets) seharusnya naik, tetapi justru kenyataannya turun setelah merger, yaitu dari rata-rata 26% menjadi 9%. Hal ini terjadi karena data bank secara umum memperlihatkan laba sebelum pajak dan rata-rata aktiva sama-sama naik setelah merger, tetapi kenaikan rata-rata aktiva lebih besar daripada kenaikan laba sebelum pajak sehingga mengakibatkan rasio turun. Beradasarkan ketentuan Bank Indonesia, ROA perbankan minimal 1,5%, maka memperlihatkan perbankan dalam keadaan yang sehat.
Penjabaran hasil pengujian hipotesis Paired Sampel T-Test di atas terhadap kinerja finansial perbankan yang diproksikan dengan CAR, ATTM, ROA, ROE, NIM, BOPO, dan LDR, pada saat 1 tahun sebelum merger dan 3 tahun setelah merger (dirata-rata), serta per periode setelah merger memperlihatkan bahwa tidak ada peningkatan kinerja finansial yang signifikan setelah merger. Hal ini memperlihatkan bahwa kinerja finansial bukan faktor utama dalam merger dan tidak memberikan peningkatan yang berarti. Hal ini terjadi karena merger merupakan proses jangka panjang, yang mana sinergi yang tercipta akan mulai nampak melalui proses yang panjang. Kebijakan penggabungan bisnis efektif untuk mendorong bank-bank menengah dan bank kecil untuk bergabung dalam rangka untuk memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum, kebijakan Single Presence Policy, dan jika dana pemegang saham untuk rekapitalisasi < 20% bank akan diawasi oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), dari segi Peraturan Pemerintah. Secara signifikan ini akan meningkatkan skala ekonomi
bank yang bergabung dan memiliki kapasitas yang lebih besar untuk bersaing dengan bank lain. Selanjutnya, merger akan meningkatkan distribusi pangsa pasar, market power, bertambahnya lini produk, dan kekuatan monopoli dari segi pemasaran. Peningkatan distribusi pangsa pasar mengurangi konsentrasi pasar dan meningkatkan kompetisi. Sedangkan merger dari segi sumber daya manusia, memperoleh SDM yang berpengalaman dan profesional. Merger dari segi teknologi akan meningkatkan keunggulan teknik, sistem teknologi informasi yang efektif, dan memperoleh infrastruktur yang lebih maju, dibandingkan dengan sebelum dilakukan merger.
125
BAB VI
KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kinerja finansial perbankan setelah merger. Setelah dilakukan analisis statistik deskriptif sebelum merger dan setelah merger, uji normalitas, dan uji Paired Sampel T-Test, dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada peningkatan kinerja finansial yang signifikan setelah merger, dengan periode 1 tahun sebelum merger dan 3 tahun setelah merger (dirata-rata) dan per periode setelah merger.
B. Saran
1. Bagi pihak manajemen perbankan, disarankan untuk lebih cermat dalam pengambilan keputusan memilih merger sebagai kebijakan perbankan guna mempertahankan kelangsungan hidup dan mengembangkan perusahaan, sehingga keputusan yang diambil tepat. Merger tidak hanya menggabungkan asset dan modal antara bank penerima dan bank target, tetapi juga kewajiban-kewajiban bank lama yang harus diselesaikan oleh bank merger yang terbentuk. Merger bukan hanya berpatokan dari segi finansial saja, tetapi juga perlu melihat pemasarannya, sumber dayanya, bahkan peraturan pemerintah itu sendiri.
2. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melakukan pengukuran kinerja keuangan dengan variabel rasio keuangan yang lain, misalnya (Operational Risk dan Saham) atau analisis lain, seperti pengukuran kinerja dari segi pemasaran ataupun segi SDM, sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil penelitian.
C. Keterbatasan
1. Data yang digunakan dalam penelitian ini sangat terbatas, hanya 16 perbankan yang melakukan merger dari tahun 2004-2010, sehingga hanya 7 sampel perbankan yang digunakan dalam penelitian ini. Hal ini menyebabkan sulitnya diperoleh jumlah sampel yang representatif. 2. Ketika perbankan yang melakukan merger tidak terpublikasi (bank
kecil dan yang sudah berhenti beroperasi), maka sulit dalam mendapatkan data untuk proses penelitian. Sehingga menyebabkan penelitian ini belum bisa membuktikan adanya peningkatan kinerja finansial perbankan setelah merger.
127