B. Realisasi Anggaran
B.1. Realisasi Anggaran Unit Kerja
Dukungan anggaran untuk pelaksanaan Program Bangga Kencana di Provinsi Sumatera Selatan sebagaimana tercantum dalam DIPA awal Satker Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Tahun Anggaran (TA.) 2021 adalah sebesar Rp 121.112.974.000. Angka tersebut sedikit mengalami peningkatan sebesar Rp 17.820.498.000 atau 17,25% dibanding dengan pagu anggaran awal tahun 2020 sebesar Rp 103.292.476.000. Adapun total anggaran Satker Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan yang di-refocusing selama tahun 2021 adalah sebanyak 3 (tiga) kali dengan total jumlah yang di-refocusing sebesar Rp 10.293.075.000. Selain itu, terdapat dana realokasi di bulan September 2021 dengan tambahan dana realokasi sebesar Rp 3.635.574.000 untuk kegiatan percepatan penurunan stunting, yaitu Pelatihan Fasilitator Penyuluh KB, Orientasi bagi Kader TPK, dan Percepatan Ralisasi Pemberian Paket Data bagi TPK tingkat desa sehingga total pagu anggaran menjadi sebesar Rp 113.083.261.000. Terdapat total penurunan dari pagu awal sebesar 6,63% atau sebesar Rp 8.029.713.000. Sampai dengan akhir TA. 2021 realisasi anggaran sebesar 97.58% atau sebesar Rp 110.344.098.824. Rincian penyerapan anggaran selengkapnya tersaji pada tabel berikut:
Tabel 3.52 Realisasi Penyerapan Anggaran Tahun 2021
Pagu Anggaran Realisasi % Capaian Status Capaian
113.083.261.000 110.344.098.824 97.58 Sumber: OMSPAN Kemenkeu
151
Komposisi Alokasi dan Realisasi Anggaran BKKBN Per Jenis Belanja Tahun 2021
Tabel 3.53 Komposisi Realisasi Anggaran per Belanja Tahun 2021
Uraian Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal
Pagu 64.732.658.000 48.325.433.000 25.170.000
Realisasi 63.326.539.004 47.004.524.509 25.170.000
Persentase 98 97 100
Sumber: OMSPAN Kemenkeu
Grafik 3.36 Komposisi Alokasi dan Realisasi Anggaran BKKBN per Jenis Belanja Th. 2021
Realisasi anggaran Satker Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan TA.
2021 memiliki kategori sangat baik, yakni sebesar Rp 110.344.098.824 atau sebesar 97,58% dari total pagu sebesar Rp 113.083.261.000. Nilai ini telah mencapai standar minimal yang ditetapkan oleh PMK Nomor 249 Tahun 2011 tentang Pengukuran dan Evaluasi Kinerja atas Pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, yaitu sebesar minimal 95%. Walaupun tahun 2021 ini merupakan tahun yang sangat menantang bagi semua pihak, termasuk Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan dalam menghadapi wabah pandemi Covid-19 dan 5 (lima) kali refocusing anggaran, namun Satker Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan mampu memaksimalkan penyerapan anggaran. Jika dibandingkan dengan realisasi TA. 2020, yaitu sebesar Rp 96.955.412.196 terdapat kenaikan sebesar Rp 13.388.686.628 atau sebesar 13,84%. Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan realisasi belanja ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu: 1) Adanya 3 (tiga) kali refocusing anggaran dalam rangka penanganan Covid-19 sehingga meningkatkan nilai realisasi anggaran di semua jenis belanja (belanja pegawai,
152
barang, dan modal); 2) Pelaksanaan kegiatan di Triwulan IV dimaksimalkan setelah adanya penurunan status level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Trend pencapaian realisasi anggaran periode tahun 2019-2021 dapat dilihat dalam pada grafik di bawah ini:
Grafik 3.37 Trend Pencapaian Realisasi Anggaran BKKBN Tahun 2019-2021
Sumber: OMSPAN Kemenkeu
Adapun Realisasi Anggaran dan Realisasi Capaian Target per Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2021 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.54 Realisasi Anggaran dan Realisasi Capaian Target per Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2021
NO Sasaran Kinerja Indikator Kinerja % Realisasi
Pembangunan Keluarga Indeks Pembangunan
Keluarga (iBangga) 94,01 100,74 6,73
Dalam Miliar Rupiah (Rp) Tren Pencapaian Realisasi Anggaran BKKBN Tahun 2019-2021
153
Jumlah PIK Remaja dan BKR yang Mendapat Fasilitasi dan Pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi Bagi Remaja Putri Sebagai Calon Ibu
154
Dari tabel diatas dapat dilihat terdapat 6 (enam) Indikator Kinerja Utama (IKU) yang realisasi anggaran sesuai dengan realisasi capaian target yaitu 1) Meningkatnya Kualitas Kegiatan Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan; 2) Meningkatnya Keluarga yang Memiliki Baduta yang Terpapar 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK); 3) Meningkatnya Upaya Penguatan Peran Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja) dan Bina Keluarga Remaja (BKR) Dalam Edukasi Kesehatan Reproduksi (Kespro) dan Gizi Bagi Remaja Putri Sebagai Calon Ibu; 4) Meningkatnya Pelayanan Ramah Lansia Melalui 7 (Tujuh) Dimensi Lansia Tangguh dan Pendampingan Perawatan Jangka Panjang Bagi Lansia; 5) Meningkatnya Fasilitasi dan Pembinaan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga di Kampung KB Percontohan; dan 6) Meningkatnya Fasilitasi Pembinaan Rumah Data Kependudukan Paripurna di Kampung KB Percontohan. Kemudian terdapat 7 (tujuh) Indikator Kinerja Utama (IKU) yang terdapat gap antara capaian realisasi anggaran dan realisasi target dengan uraian sebagai berikut:
1. Terdapat gap yang cukup tinggi antara realisasi anggaran dan realisasi target pada indikator unmetneed sebesar 49,01% karena dana untuk mendukung kegiatan tersebut sebagian di-refocusing sehingga realisasi anggaran tidak menggambarkan secara utuh bahwa terdapat hubungan garis lurus antara penyerapan anggaran dan pencapaian target pada indikator tersebut.
Permasalahan ini juga terdapat pada indikator lainnya yang terdapat gap antara capaian realisasi anggaran dan capaian target, yaitu TFR, mCPR, ASFR dan MUKP. Selain itu, belum tersedianya data PUS unmeetneed by name by address di kabupaten/kota sehingga intervensi secara langsung penurunan unmeetneed yang tepat sasaran masih sulit dilakukan. Selain itu juga akibat pandemi Covid-19, masih dibatasi kegiatan tatap muka baik itu penggerakan dan KIE di lini lapangan maupun Pelayanan KB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
2. Terdapat capaian realisasi target lebih tinggi dibandingkan realisasi anggaran pada indikator iBangga sebesar 6.73%. Hal ini menggambarkan bahwa terdapat efisiensi penggunaan sumber daya anggaran. Hal ini dapat dicapai karena terdapat upaya optimal dalam membangun kualitas keluarga dengan meningkatkan kualitas pembinaan kelompok kegiatan BKB, BKR, BKL, PIK
155
Remaja serta UPPKA melalui peningkatan kapasitas tenaga penyuluh dan kader serta mitra kerja terkait dalam hal pembinaan ketahanan keluarga.
3. Terdapat capaian realisasi target lebih tinggi dibandingkan realisasi anggaran pada indikator pemenuhan ketersediaan alokon di Faskes sebesar 70.77%. Hal ini dapat dicapai karena terdapat percepatan pengadaan alokon dan non alokon yang dilakukan di awal tahun, kegiatan distribusi alokon yang dilakukan rutin sesuai kebutuhan/permintaan kabupaten/kota serta optimalisasi percepatan distribusi dari gudang alokon OPD KB kabupaten dan kota melalui dana BOKB pada menu distribusi alokon sampai dengan faskes yang melayani KB.
Realisasi Anggaraan per Kegiatan yang tertera dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2021 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan dapat diuraikan per output pada tabel berikut:
Tabel 3.55 Realisasi Anggaran per Kegiatan
No Kegiatan Rincian Ouput Anggaran Realisasi %
1 Pengelolaan Fasilitasi dan Pembinaan
dalam Bidang
Pembangunan Keluarga
87.088.000 87.087.500 100
2 Pemerintah Daerah yang Mendapat Fasilitasi dan Pembinaan Sinkronisasi Kebijakan dalam Rangka Pengendalian Kuantitas Penduduk
39.767.000 39.753.000 99,96
3 Faskes yang Mendapat Fasilitasi dan Pembinaan dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan KBKR yang Sesuai Standar Pelayanan
78.284.000 78.283.162 100
4 Pemerintah Daerah yang
133.493.000 133.487.500 100
5 Data Hasil Pelaksanaan Pendataan Keluarga yang Tersedia
18.024.279.000 16.944.847.082 94,01
156 6 SDM (Internal dan
Eksternal) yang Mendapatkan Pendidikan dan Pelatihan Program Bangga Kencana Tingkat Provinsi dan Kab/Kota
141.685.000 141.685.000 100
7 Rekomendasi Kebijakan Hasil Penelitian dan Pengembangan Program Bangga Kencana
73.757.000 73.757.000 100
8 Pelatihan dan Refreshing
dalam Rangka
Percepatan Penurunan Stunting
1.664.362.000 1.651.139.600 99,21
9 Tim Pendamping
Keluarga yang
Mendapatkan Paket Data
1.839.000.000 1.824.031.000 99,19
2 Pelaksanaan
Manajemen Satker 280.776.000 279.190.000 99,44 2 Layanan Perkantoran 67.254.364.000 65.640.824.815 97,60 3 Layanan Sarana Internal 25.170.000 25.170.000 100 4 Layanan Pengawasan
Internal 73.007.000 68.907.000 94,38
3 Proyek Prioritas Nasional
1 Keluarga Dengan Baduta yang Mendapatkan Fasilitasi dan Pembinaan 1000 HPK
558.783.000 558.782.000 100
2 PIK Remaja dan BKR yang Mendapat Fasilitasi dan Pembinaan Edukasi Kespro dan Gizi Bagi Remaja Putri Sebagai Calon Ibu
906.457.000 906.455.000 100
3 Kelompok BKL yang Mendapat Fasilitasi dan Pembinaan Pelayanan Ramah Lansia
67.419.000 67.418.250 100
4 Kampung KB
Percontohan yang Mendapat Fasilitasi dan Pembinaan
Pemberdayaan Ekonomi Keluarga
167.274.000 167.274.000 100
5 Rumah Data
Kependudukan Paripurna yang Difasilitasi dan Pembinaan
Pemberdayaan Ekonomi Keluarga
14.756.000 14.756.000 100
6 Fakses yang Terpenuhi Ketersediaan Alat/Obat Kontrasepsi (Alokon)
21.653.540.000 21.653.385.604 100
TOTAL ANGGARAN 113.083.261.000 110.356.233.513 97,59
157
Dari realisasi anggaran per kegiatan yang tertera dalam Perjanjian Kinerja tersebut terdapat 1 (satu) kegiatan pada Pengelolaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Selatan yang persentasenya di bawah 95%, yaitu rincian ouput data hasil pelaksanaan pendataan keluarga yang tersedia diangka 94,01%. Angka tersebut di bawah rata-rata provinsi karena merupakan sisa kegiatan operasional pendataan keluarga yang tidak terserap disebabkan terdapat perubahan data jumlah target KK yang didata di masing-masing kabupaten/kota. Selain itu, terdapat 1 (satu) kegiatan pada Pelaksanaan Dukungan Manajemen ouput layanan pengawasan internal di Perwakilan BKKBN Provinsi di angka 94,38 di bawah rata-rata provinsi. Hal ini disebabkan karena terdapat sisa kegiatan yang tidak terealisasi, yaitu sisa belanja bahan, jasa profesi kegiatan TLHP Internal dan Eksternal serta sisa belanja bahan kegiatan penyusunan Laporan PKPT PKAU Provinsi. Adapun faktor yang mendukung optimalnya penyerapan anggaran di tahun 2021 ini antara lain adalah:
1. Kebijakan Kepala Perwakilan untuk melakukan refocusing seluruh kegiatan non prioritas sebagai sumber refocusing dan melaksanakan kegiatan prioritas dalam upaya pencapaian IKU dan IKK;
2. Ditengah terbatasnya anggaran karena refocusing, dilaksanakan penyesuaian bentuk kegiatan yang efektif dan efisien dengan melaksanakan perrtemuan berbasis IT/Online Meeting dengan memanfaatkan WhatsApp Group/Zoom Meeting/Webex Meeting;
3. Menyusun strategi Monitoring dan Evaluasi yang meminimalisir kunjungan lapangan melalui 1 on 1 meeting melalui Virtual Meeting;
4. Melakukan Optimalisasi Pagu Anggaran Belanja Pegawai (51) dalam rangka penanganan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19);
5. Adanya evaluasi berkala dalam rangka pemantauan progress realisasi dan penyelesaian permasalahan pelaksanaan anggaran khususnya pada kegiatan yang bersumber dari realokasi dana di akhir bulan September 2021, yaitu kegiatan pelatihan fasilitator penyuluh KB, orientasi bagi Kader TPK dan percepatan realisasi pemberian paket data bagi TPK tingkat desa;
6. Pembentukan Tim Verifikasi pertanggungjawaban Kegiatan Pendataan Keluarga dalam rangka percepatan realisasi kegiatan tersebut di kabupaten/kota; dan
158
7. Adanya koordinasi yang baik antara pelaksana kegiatan dengan pengelola anggaran dalam penyelesaian kegiatan dan berkas pertanggungjawaban.
Meskipun pencapaian sudah dalam kategori sangat baik sebesar 97,58%, tetapi dalam pelaksanaannya terdapat berbagai kendala, antara lain:
1. Penyesuaian atas kebijakan refocusing dan realokasi dalam rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di lingkungan BKKBN;
2. Sisa anggaran pada Bidang KB dan KS yg di-refocusing seluruhnya untuk menutupi target jumlah yang harus di-refocusing yang ditetapkan oleh BKKBN;
3. Adanya kebijakan pembayaran tunjangan kinerja dan uang makan serta pembayaran penghasilan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) Bulan Desember 2021 dibayarkan pada Bulan Januari 2022; dan
4. Menunggu persetujuan revisi optimalisasi sisa anggaran belanja pegawai (51) dalam rangka pendanaan kegiatan yang yang mendukung percepatan penanganan pandemic Covid-19.