51
Sumber Data : BKKBN 2021 (Hasil Pendataan Keluarga (PK) 2021)
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
A. Capaian Kinerja BKKBN
A.1. Pencapaian Indikator Kinerja Sasaran Program/Kegiatan Unit Kerja
A.1.1. Angka Kelahiran Total (Total Fertility Rate/TFR) per WUS usia 15-49 Tahun Angka kelahiran total/TFR adalah jumlah anak rata-rata yang dilahirkan oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya (15 -49 tahun). Angka kelahiran total ini memiliki peran penting dalam pembangunan negara, khususnya dalam mendukung terciptanya periode bonus demografi yang lebih panjang sehingga jendela kesempatan memiliki peluang terbuka pada proporsi penduduk usia produktif untuk menciptakan sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
Pada tahun 2021, realisasi capaian TFR Provinsi Sumatera Selatan masih lebih besar yaitu 2,38 dibandingkan target 2021 (2,30) dan target Perjanjian Kinerja, yang artinya Provinsi Sumatera Selatan belum sepenuhnya berhasil menurunkan angka TFR dari target yang ditetapkan. Berikut tabel capaian TFR per WUS (15-49 tahun) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021.
Tabel 3.1 Pencapaian Angka Kelahiran Total (TFR) per WUS (15–49 Tahun) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % Status Capaian
1 Menurunnya Angka Kelahiran Total
Angka Kelahiran Total (TFR) per
WUS (15-49 Tahun)
Rata-rata anak per wanita
2,30 2,38 96,6
Selanjutnya, jika dibandingkan dengan capaian TFR dua tahun sebelumnya serta dibandingkan dengan target dokumen rencana strategis, maka diketahui realisasi capaian angka kelahiran total per WUS (15-49 tahun) Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2021 belum dapat memenuhi target yang ditetapkan.
Berikut grafik perbandingan capaian TFR, target Renstra dan target Perjanjian Kinerja yang harus dicapai.
52 Grafik 3.1
Pencapaian Angka Kelahiran Total (TFR) per WUS (15–49 Tahun) Provinsi Sumatera Selatan Periode 2019–2021
Sumber Data: Perjanjian Kinerja 2018–2019, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2015–2019, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024, SKAP 2018–2020 dan PK2021
Lebih lanjut, jika dilihat pada grafik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tahun 2021 berdasarkan capaian TFR dari hasil PK21 mengalami kenaikan dibandingkan dengan capaian TFR tahun 2020 dari hasil SKAP 2020, maka TFR pada tahun 2021 belum dapat mencapai target yang ditetapkan pada Perjanjian Kinerja 2021. Adapun kenaikan TFR sebesar 0,11 point salah satunya akibat dari dampak Pandemi COVID-19 yang masih membatasi kegiatan tatap muka baik itu penggerakan dan KIE di lini lapangan maupun pelayanan KB di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Akan tetapi, secara optimal telah dilakukan upaya–upaya untuk mengantisipasi dampak tersebut agar mendorong pencapaian TFR pada tahun 2021 ini, selaras dengan strategi yang dicantumkan pada dokumen Pohon Kinerja.
Berikut kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan:
a) Promosi pendewasaan usia kawin pertama dan kesehatan reproduksi remaja melalui Program Generasi Berencana (GenRe) dengan capaian sebesar 20,5 per 1.000 kelahiran dari target 21 per 1.000 kelahiran pada tahun 2021 (Metadata BKKBN Tahun 2021). Diharapkan dengan meningkatnya usia kawin pertama wanita, maka akan mempersingkat masa fertilitasnya;
b) Peningkatan akses Pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi melalui penguatan tempat Pelayanan KB (Fasilitas Kesehatan/Faskes KB dan Faskes Jejaring) sebanyak 3.698 se-Provinsi Sumatera Selatan sehingga peserta KB mendapatkan jaminan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi (Statistik Rutin, 2021);
53
c) Promosi Program Genre yang meliputi penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja dan pendewasaan usia kawin pertama dilakukan pada sasaran kelompok Pusat Informasi Konseling (PIK) Remaja, kelompok Bina Keluarga Remaja (BKR), serta masyarakat yang peduli remaja baik secara langsung maupun dengan memanfaatkan jejaring media sosial. (Laporan Pro PN Remaja, 2021);
d) Meningkatnya komitmen tenaga pendidik dan masyarakat atas pentingnya pendidikan kependudukan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya kualitas Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang telah dibentuk di 17 Kabupaten/Kota serta inisiatif strategis masyarakat di kampung KB melalui kegiatan “Taruna Kencana” yang melibatkan pemuda pemudi karang taruna untuk berpartisipasi aktif dalam mengedukasi teman sebayanya mengenai program Bangga Kencana di desa tersebut (Laporan Kegiatan Sub Bidang Pendidikan Kependudukan, 2021); dan
e) Promosi dan KIE tentang Isu Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga, melalui berbagai media, tenaga lini lapangan yang melibatkan stakeholder dan mitra kerja. Menurut hasil Capaian iBangga sebesar 52,86 ini termasuk dalam kategori “Berkembang”, artinya Provinsi Sumatera Selatan sudah berada pada level cukup baik dalam pembangunan keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh masyarakat sudah paham dan peduli terhadap 4 (empat) komponen isu kependudukan, yaitu isu kuantitas penduduk, kualitas penduduk, mobilitas penduduk, dan isu dampak lingkungan jika dikaitkan dengan masalah kependudukan.
54
Gambar 3.1 Dokumentasi Kegiatan Program Bangga kencana
Pencapaian TFR di Provinsi Sumatera Selatan ini merupakan upaya kerjasama banyak pihak mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota hingga ke tenaga lini lapangan. Selain itu, partisipasi aktif mitra kerja, baik dari organisasi profesi, tokoh masyarakat, tokoh agama serta masyarakat secara umum merupakan kunci dari keberhasilan penurunan TFR ini. Berikut data perbandingan capaian TFR Provinsi Sumatera Selatan dibandingkan dengan TFR nasional.
Grafik 3.2 Perbandingan Capaian TFR Sumatera Selatan Terhadap Capaian TFR Nasional Periode 2018–2020
Sumber Data : SKAP, 2018–2020, PK2021
55
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa nilai TFR Provinsi Sumatera Selatan lebih rendah dari nilai TFR Nasional selama periode 2019 - 2020 dan lebih tinggi dari nilai TFR Nasional tahun 2021. Dalam upaya penurunan nilai TFR dilakukan penajaman intervensi Program Bangga Kencana di Provinsi Sumatera Selatan secara signifikan. Berikut kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk mendukung penurunan TFR pada tahun 2021:
a) Pelayanan KB yang merata dan berkualitas, baik pelayanan rutin yang diberikan di fasilitas kesehatan maupun Pelayanan KB momentum, seperti Pelayanan KB Serentak (GERTAK) Sejuta Akseptor pada momentum Hari Keluarga Nasional XXVIII (HARGANAS ke-28) yang menghasilkan 61.742 akseptor, Pelayanan KB Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) serentak menggunakan dana penggerakkan Dana Alokasi Khusus Bantuan Operasional Keluarga Berencana (DAK BOKB) menghasilkan 261 akseptor IUD dan 5.556 akseptor Implan maupun Pelayanan KB momentum yang berkolaborasi dengan organisasi profesi tenaga kesehatan lainnya, misalnya Pelayanan KB dalam rangka bulan unmetneed yang dipelopori oleh Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2021 (Laporan Bidang KBKR, 2021);
b) Jaminan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi (Alokon) di gudang provinsi, gudang kabupaten/kota, sampai dengan tingkat fasilitas kesehatan di lini lapangan; dan
c) Penguatan KB Pasca Persalinan (KB PP) melalui Pembinaan Model Pelayanan KB Pasca Persalinan pada tenaga kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan lanjutan dan juga di Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) serta tidak hanya menjadikan KB PP sebagai Pelayanan KB rutin, tetapi juga sebagai salah satu target dalam Pelayanan KB momentum serta diberikan reward berupa sertifikat bagi akseptor yang melakukan KB PP. Hal ini dilakukan agar pengelola Program Bangga Kencana di tingkat Kabupaten/Kota dapat memberikan perhatian lebih dengan jenis pelayanan KB seperti ini.
Dengan tercapainya target TFR ini, maka dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Provinsi Sumatera Selatan adalah semakin baiknya kondisi sosial ekonomi masyarakat. Salah satu indikator sosial ekonomi yang dapat menggambarkan dampak dari penurunan TFR adalah meningkatnya angka
56
partisipasi sekolah anak antara tahun 2018 dan 2019. Berikut tabel yang dapat menggambarkan kondisi tersebut.
Tabel 3.2 Angka Partisipasi Sekolah Menurut Umur Tahun 2019 dan 2020
No Usia 2019 2020
1 7–12 99,71 99,71
2 13–15 94,51 94,61
3 16–18 70,29 70,91
4 19–24 18,07 18,45
Sumber Data: Sumsel dalam angka, 2021
Selain berpengaruh kepada angka partisipasi sekolah, penurunan TFR juga berpengaruh kepada status kesehatan di suatu wilayah. Berikut disampaikan grafik penurunan angka kematian anak di Provinsi Sumatera Selatan.
Grafik 3.3 Angka Kematian Anak di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 - 2012
Sumber Data : SDKI, 2002 - 2012
A.1.2. Angka Prevalensi Kontrasepsi Modern (Modern Contraceptive Prevelance Rate/mCPR)
Persentase Pemakaian Kontrasepsi Cara Modern atau Modern Contraceptive Prevalence Rate/mCPR adalah persentase Pasangan Usia Subur (PUS) yang sedang menggunakan alat/cara KB modern berupa Sterilisasi Wanita (MOW), Sterilisasi Pria (MOP), Pil, IUD, Suntik, Implan, dan Kondom.
57 a) Analisis Pencapaian mCPR 2021
Pada tahun 2021, capaian mCPR Provinsi Sumatera Selatan lebih rendah jika dibandingkan dengan target Perjanjian Kinerja, artinya Provinsi Sumatera Selatan belum memenuhi target yang ditetapkan. Berikut tabel capaian mCPR Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021.
Tabel 3.3 Pencapaian Pemakaian Kontrasepsi Cara Modern (mCPR) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase Status Capaian
1 Meningkatnya Angka Prevalensi Kontrasepsi Modern
Angka Prevalensi Kontrasepsi Modern (Modern Contraceptive Prevelance Rate/mCPR)
65,69 60,7 92
Sumber Data: Perjanjian Kinerja 2021, Pendataan Keluarga 21
b) Analisis Trend Pencapaian mCPR 2019-2021
Jika dibandingkan dengan realisasi capaian pemakaian kontrasepsi modern (mCPR) antara tahun 2019–2021, maka dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan yang cukup signifikan terkait penggunaan kontrasepsi modern.
Berikut grafik trend capaian mCPR jika dibandingkan target renstra dan target Perjanjian Kinerja periode 2019 sampai dengan 2021.
Grafik 3.4 Pencapaian Pemakaian Kontrasepsi Cara Modern (mCPR) pada Pasangan Usia Subur di Provinsi Sumatera Selatan Periode 2019–2021
Sumber Data : Perjanjian Kinerja 2020-2021, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2015–2019, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan SKAP 2019-2020, dan PK 21
58
c) Upaya yang dilakukan dalam Peningkatan mCPR
Berdasarkan grafik trend capaian mCPR, terjadi peningkatan penggunaan kontrasepsi cara modern. Pencapaian tersebut diperoleh dengan melakukan upaya–upaya secara optimal untuk menjamin seluruh PUS yang ingin ber-KB terlayani dengan baik. Berikut kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada tahun 2021:
1) Memastikan ketersediaan kontrasepsi baik secara kuantitas maupun kualitas guna mencukupi kebutuhan melalui:
a) Pengadaan Alokon sebanyak 52.000 strip Pil KB Progestin, 66.650 set Implan, 12.061 gross Kondom, 13.925 set IUD, 731.400 vial Suntik KB 3 Bulan, 182.800 Pil KB Kombinasi, 182.800 vial Suntik KB Kombinasi 1 ml, dan 5.750 set Implan 1 Batang serta Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) pendamping Alokon untuk mendukung tenaga kesehatan dalam melayani akseptor KB di fasilitas pelayanan kesehatan (Laporan Pengadaan Alokon dan BMHP, 2021);
b) Penyediaan dukungan distribusi Alokon dari gudang provinsi ke gudang 17 kabupaten/kota dan memastikan dana distribusi Alokon dari gudang kabupaten/kota ke 3.698 faskes melalui dana Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) dengan dana sebesar Rp 1.157.590.600 termasuk juga dengan biaya pengepakan (Laporan Aplikasi MORENA Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan TW IV, 2021).
2) Meningkatkan upaya Advokasi dan Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) melalui berbagai media guna mengoptimalkan pencapaian program serta melibatkan stakeholder dan mitra kerja secara aktif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap kontrasepsi modern;
3) Penguatan kinerja 423 Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)/Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 1.591 PLKB non PNS, serta revitalisasi sebanyak 3.173 kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) dan 13.775 kader Sub-PPKBD di 17 kabupaten/kota se-Provinsi Sumatera Selatan untuk melakukan penjangkauan kepada masyarakat melalui mekanisme operasional lini lapangan dengan memanfaatkan jejaring media sosial maupun kunjungan
59
tatap muka dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, terutama untuk mencegah ledakan penduduk akibat pembatasan aktivitas kegiatan di masa pandemi COVID-19 (Data Statistik Rutin, Tabel 1 Desember 2021); dan
4) Mengoptimalkan peran 20 orang motivator KB Pria yang tersebar di 17 kabupaten/kota dan 4 Kelompok KB Pria yang aktif di Kabupaten Muara Enim, Kota Lubuk Linggau, Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Banyuasin untuk mensosialisasikan KB Pria di wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Laporan Subbid Bina Kesertaan KB Jalur Wilayah dan Sasaran Khusus, 2021).
A.1.3. Persentase Kebutuhan Ber-KB yang Tidak Terpenuhi (Unmet Need)
Kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmetneed) merupakan suatu kondisi pada PUS yang tidak menggunakan alat/cara kontrasepsi, namun menginginkan penundaan kehamilan (penjarangan) atau berhenti sama sekali (pembatasan).
a) Analisis Pencapaian Unmetneed 2021
Pada tahun 2021, capaian unmetneed Provinsi Sumatera Selatan lebih rendah jika dibandingkan dengan target Perjanjian Kinerja, artinya Provinsi Sumatera Selatan belum memenuhi target yang ditetapkan. Berikut tabel capaian unmetneed Provinsi Sumatera Selatan tahun 2021.
Tabel 3.4 Pencapaian Persentase Kebutuhan Ber-KB yang Tidak Terpenuhi (Unmetneed) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase Status Capaian
1 Menurunnya kebutuhan ber-
KB yang tidak terpenuhi
Persentase kebutuhan ber-KB
yang tidak terpenuhi (Unmetneed)
7,7 15,1 50,99
Sumber Data: BKKBN, 2021 (Hasil Pendataan Keluarga 2021)
b) Analisis Trend Pencapaian Unmetneed 2019-2021
Selanjutnya, realisasi capaian persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmetneed) oleh Provinsi Sumatera Selatan pada periode tahun 2019
60
sampai dengan tahun 2021 dibandingkan dengan target Perjanjian Kinerja yang harus dicapai adalah sebagai berikut:
Grafik 3.5 Pencapaian Unmetneed di Provinsi Sumatera Selatan Periode 2019–2021
Sumber Data : Perjanjian Kinerja 2019–2020, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2015–2019, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 , SKAP 2018–2020 dan Pendataan Keluarga Tahun 2021
Berdasarkan grafik di atas, diketahui bahwa terdapat perbedaan target kinerja pada tahun 2019, sedangkan target kinerja pada tahun 2020 dan tahun 2021 memiliki nilai yang sama. Adapun target persentase unmetneed di Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan target Rencana Strategi (Renstra) dan Perjanjian Kinerja antara tahun 2019 sampai dengan 2021 tidak terpenuhi. Sehingga, berdasarkan data SKAP dan Pendataan Keluarga 2021, capaian persentase unmetneed di Provinsi Sumatera Selatan untuk tahun 2019 sampai dengan 2021 masih berada dibawah rata-rata nasional.
c) Hambatan dan Permasalahan
Penyebab masih belum berhasilnya Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan menurunkan persentase unmetneed antara lain:
1. Belum tersedianya data PUS unmeetneed by name by address di Kabupaten/Kota sehingga intervensi secara langsung penurunan unmeetneed yang tepat sasaran masih sulit dilakukan;
2. Dari sisi kelembagaan Organisasi Perangkat Daerah Bidang Keluarga Berencana (OPD KB) Kabupaten/Kota, di Provinsi Sumatera Selatan sebagian besar Dinas Pengendalian Penduduk Kabupaten/Kota masih bergabung dengan urusan bidang lain seperti Pemberdayaan Masyarakat, Pemberdayaan Perempuan, dan sebagainya. Sehingga kapasitas dinas yang belum utuh
61
memiliki keterbatasan dalam hal Sumber Daya Manusia (SDM), penganggaran, dan pengelolaan Program Bangga Kencana;
3. Masih tingginya persepsi yang salah tentang kontrasepsi yang memberi rasa takut akibat efek samping penggunaan alokon. Berdasarkan hasil Pendataan Keluarga Tahun 2021, diketahui 47,5% PUS yang tidak ber-KB (kecuali dengan alasan kesehatan, ingin hamil, infertilitas, dan menopause) tidak mau menggunakan alokon dengan alasan takut akan efek samping; dan
4. Belum dilakukannya pemetaan lokus–lokus unmetneed di Provinsi Sumatera Selatan sehingga upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka unmetneed belum maksimal.
Kedepannya, Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan masih perlu melakukan upaya yang lebih fokus lagi dalam penurunan persentase unmetneed, karena dalam periode 3 (tiga) tahun berturut–turut persentase unmetneed masih terus meningkat meskipun angkanya masih di bawah rata–rata angka capaian nasional.
Berdasarkan hasil SKAP dan Pendataan Keluarga 2021, rata-rata unmetneed nasional berada pada angka 12,50% di tahun 2019 kemudian meningkat menjadi 13,40% di tahun 2020 dan kembali meningkat menjadi 18% di tahun 2021. Capaian persentase unmetneed di Provinsi Sumatera Selatan masih rendah dibandingkan dengan rata-rata capaian nasional. Berikut data perbandingan capaian unmetneed Provinsi Sumatera Selatan dibandingkan dengan unmetneed nasional.
Grafik 3.6 Perbandingan Pencapaian Unmetneed Provinsi Sumatera Selatan dan Nasional Periode 2019–2021
Sumber Data: SKAP, 2018–2020 dan Pendataan Keluarga 2021
62
d) Upaya yang dilakukan dalam menurunkan Unmetneed
Meskipun angka unmetneed di Provinsi Sumatera Selatan semakin meningkat selama periode 2019 sampai dengan 2021, telah dilakukan upaya-upaya strategis untuk menurunkan angka unmetneed tersebut. Berikut kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan:
1. Mengidentifikasi peta kerja unmeetneed provinsi Sumatera Selatan;
2. Pendataan PUS yang belum ber KB melalui Pendataan Keluarga Tahun 2021;
3. Memberikan intervensi, konseling, dan penggerakkan pada PUS yang belum ber-KB untuk segera mendapatkan Pelayanan KB;
4. Melakukan Pelayanan KB agar mudah dijangkau melalui kegiatan Pelayanan KB rutin maupun momentum;
5. Melakukan sosialisasi tentang KB KR kepada masyarakat melalui berbagai media salah satunya memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang penggunaan alat/cara kontrasepsi termasuk efek samping/dampak terhadap kesehatan melalui media sosial maupun media offline;
6. Memfasilitasi kegiatan Pelayanan KBKR salah satunya dengan pemanfaatan media sosial dan membuka layanan hotline Halo Dokter dan Halo PKB sebagai sarana konsultasi mengenai alat/cara kontrasepsi melalui WhatsApp;
7. Menjamin ketersediaan alokon di provinsi Sumatera Selatan dengan melakukan pemantauan dan distribusi rutin melalui aplikasi SIRIKA;
8. Mengupayakan agar metode/cara kontrasepsi tradisional dapat masuk dalam pelaporan sebagai salah satu metode/cara kontrasepsi;
9. Melibatkan Tokoh Agama (Toga) dan Tokoh Masyarakat (Toma) dalam memberikan penjelasan mengenai keluarga berencana;
10. Penguatan KIE kepada ibu hamil oleh kader, PPKBD, dan sub-PPKBD tentang perencanaan penggunaan kontrasepsi pasca persalinan melalui pelayanan BOKB.
63
A.1.4. Angka Kelahiran Remaja Umur 15-19 Tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR 15-19)
Undang-Undang Perkawinan Nomor 16 tahun 2019 menetapkan usia kawin pertama bagi perempuan adalah minimal 19 tahun, dari sebelumnya 16 tahun berdasarkan UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Meningkatnya usia kawin pertama dari 16 tahun menjadi 19 tahun harus dikawal secara sungguh- sungguh dikarenakan BKKBN menginginkan agar wanita bisa menikah minimal pada usia 21 tahun. Semakin dewasa usia kawin bagi perempuan, maka semakin pendek usia subur bagi seorang wanita. Untuk itu program-program untuk remaja melalui Program Generasi Berencana (GenRe) perlu terus digalakkan melalui berbagai jalur baik formal maupun non formal. Melalui Program GenRe diharapkan pengetahuan dan wawasan generasi muda tentang kesehatan reproduksi semakin baik yang pada gilirannya akan mempengaruhi perilaku remaja dalam menjaga kesehatan reproduksinya. Kegagalan Program Genre akan berdampak pada tingginya kelahiran pada wanita usia muda (15-19 tahun).
Angka kelahiran menurut umur (ASFR) merupakan banyaknya jumlah kelahiran per 1.000 wanita pada kelompok usia tertentu antara 15-49 tahun. ASFR merupakan indikator kelahiran yang memperhitungkan perbedaan fertilitas dari Wanita Usia Subur (WUS) menurut umurnya. Pengetahuan tentang ASFR ini berguna untuk Pelaksanaan Program KB dan Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
a) Analisis Pencapaian ASFR 2021
Pada tahun 2021, capaian ASFR Provinsi Sumatera Selatan melebihi target Perjanjian Kinerja, artinya Provinsi Sumatera Selatan belum dapat memenuhi target yang ditetapkan. Berikut tabel capaian ASFR Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021.
Tabel 3.5 Pencapaian Angka Kelahiran Remaja Umur 15-19 Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No. Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase Status Capaian
1 Menurunnya angka kelahiran remaja
Angka kelahiran remaja umur 15-19 tahun (Age Specific Fertility Rate/ASFR 15-19)
26 28.20 92,2
Sumber Data: Perjanjian Kinerja 2021, dan Pendataan Keluarga 21
64
b) Grafik Trend Capaian ASFR 2019-2021
Berikut data realisasi capaian angka kelahiran remaja umur 15-19 tahun Provinsi Sumatera Selatan periode tahun 2019 sampai dengan 2021 dibandingkan dengan target Perjanjian Kinerja yang harus dicapai sebagai berikut:
Grafik 3.7 Pencapaian Angka Kelahiran Remaja Umur 15-19 tahun (ASFR) Provinsi Sumatera Selatan Periode 2019–2021
Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2021 menunjukkan angka 28 per 1.000 kelahiran hidup pada perempuan remaja usia 15-19 tahun. Melalui grafik di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan Angka kelahiran menurut kelompok umur 15-19 tahun/Age Specific Fertility Ratio (ASFR) 15-19 tahun pada tahun 2021 jika dibandingkan dengan Tahun 2020. Jika dibandingkan dengan capaian nasional Angka kelahiran menurut kelompok umur 15-19 tahun/Age Specific Fertility Ratio (ASFR) di Provinsi Sumatera Selatan masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari hasil capaian Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan jika dibandingkan dengan target nasional pada grafik berikut:
Grafik 3.8 Perbandingan ASFR Remaja Usia 15-19 Tahun Sumatera Selatan Terhadap Capaian ASFR Nasional Periode 2019–2021
Sumber Data: SKAP, 2018–2020, dan PK 21
Sumber Data : Perjanjian Kinerja 2019-2021, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2015–2019, Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024, SKAP 2019–2021, dan Pendataan Keluarga 21
65 c) Hambatan dan Permasalahan
Capaian ASFR di Sumatera Selatan masih cukup tinggi dapat disebabkan oleh terjadinya pandemi Covid 19 yang berpengaruh pada jumlah siswa putus sekolah perempuan di Provinsi Sumatera Selatan yaitu pada Tahun Ajaran 2019/2020 mencapai angka 1.174 anak. Selain itu, persentase penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan relatif cukup besar yaitu sebesar 12,66% (Sumsel dalam angka, 2020). Kemiskinan juga menjadi faktor penyebab terjadinya pernikahan dini.
Mengingat pencapaian indikator ini merupakan hasil dari pelaksanaan program antara lain melalui Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dan Kesehatan Reproduksi pada remaja, maka tentunya upaya pernikahan dini harus selalu digaungkan. Jika dilihat lebih jauh lagi tentunya hal ini dikhawatirkan berpengaruh pada Angka Kelahiran Remaja umur 15-19 tahun (ASFR) menjadi terus meningkat.
Padahal, salah satu faktor penyebab masih tingginya Angka Kematian Ibu Dan Bayi adalah Angka Kelahiran pada Remaja (15-19) tahun. Berbagai kajian menyebutkan bahwa ibu yang melahirkan pada umur muda akan mengalami berbagai kesulitan dalam proses melahirkan.
d) Upaya yang Dilakukan dalam Menurunkan ASFR
Dalam rangka menurunkan angka ASFR, maka perlu dilakukan upaya oleh berbagai pihak terutama memberikan akses pendidikan dan pekerjaan kepada wanita. Program GenRe bagi remaja perlu terus digaungkan kepada para remaja dengan memanfaatkan kelompok PIK Remaja baik PIK Remaja pada basis sekolah, kampus, pondok pesantren maupun basis komunitas (remaja masjid, karang taruna, dan lain sebagainya) melalui kegiatan-kegiatan yang ramah remaja yang bertujuan untuk mendapatkan informasi kesehatan reproduksi demi membantu menurunkan angka kehamilan dan kelahiran remaja. Adapun kegiatan yang telah dilakukan guna mendukung pencapaian target ASFR pada tahun 2021, sebagai berikut:
1. Penguatan peran PIK Remaja dan BKR dalam edukasi kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja putri sebagai calon ibu melalui kegitan Proyek Prioritas Nasional (Pro PN) dengan sasaran 1.203 kelompok PIK-R dan BKR;
2. Menyediakan materi dan media KIE Generasi Berencana untuk kelompok PIK-R dan BKR;
66
3. Menyediakan pembiayaan operasional untuk kelompok kegiatan di kampung KB melalui Dana Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) di 17 kabupaten/kota se-Provinsi Sumatera Selatan;
4. Meningkatkan upaya kerjasama pendidikan kependudukan melalui jalur formal, non formal dan informal di 17 kabupaten/kota se-Provinsi Sumatera Selatan.
Inovasi pada tahun 2021 melalui kegiatan kerjasama pendidikan kependudukan jalur informal dengan melibatkan remaja di desa Kampung KB diharapkan dapat mendekatkan Program Bangga Kencana kepada masyarakat di Kampung KB;
5. Sosialisasi dan promosi Program Generasi Berencana bersama mitra kerja di daerah yang rentan perilaku beresiko remaja dan suku anak dalam. Serta, edukasi secara online melalui konten edukasi dan webinar dengan sasaran remaja dan orangtua yang mempunyai anak remaja.
A.1.5. Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga)
Indeks pembangunan keluarga (iBangga) merupakan indeks pengukuran kualitas keluarga yang ditujukan melalui tiga dimensi yaitu dimensi ketentraman, kemandirian, dan kebahagiaan keluarga. Hasil pengukuran iBangga adalah status capaian pelaksanaan pembangunan keluarga di suatu wilayah yang diklasifikasikan menjadi tangguh, berkembang, dan rentan.
a) Analisis Pencapaian iBangga 2021
Pada tahun 2021, capaian iBangga Provinsi Sumatera Selatan telah melebihi dari target yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja. Berikut tabel capaian iBangga Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021.
Tabel 3.6 Pencapaian Angka Indeks Pembangunan keluarga (iBangga) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase Status Capaian 1 Meningkatnya
Indeks Pembangunan Keluarga
Indeks Pembangunan Keluarga (IPK)/iBangga
52,47 52,86 100,74
Sumber Data: Metadata BKKBN Tahun 2021
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diketahui capaian Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2021 atas indeks ini sudah sangat baik.
67
Capaian iBangga sebesar 52,86 ini termasuk dalam kategori “Berkembang”, artinya Provinsi Sumatera Selatan sudah berada pada level cukup baik dalam hal pembangunan keluarga.
b) Analisis Trend Pencapaian iBangga 2020-2021
Jika dibandingkan dengan tahun 2020, pencapaian tahun ini menunjukkan peningkatan hasil yang lebih baik. Berikut grafik perbandingan realisasi dan capaian iBangga dua tahun terakhir.
Grafik 3.9 Perbandingan Realisasi dan Capaian iBangga Tahun 2020 – 2021
Sumber Data: Metadata BKKBN Tahun 2021
Pencapaian iBangga tahun 2021 mengalami peningkatan sebesar 8,37%
dibandingkan tahun 2020. Adanya kenaikan nilai iBangga dari 47,21 menjadi 52,86 di Sumatera Selatan meskipun masih dalam kategori yang sama yaitu berkembang.
c) Analisis Capaian iBangga 2021 terhadap Target Renstra 2024
Adapun jika dibandingkan dengan target Renstra tahun 2024, maka capaian Provinsi Sumatera Selatan saat ini masih di bawah target. Berikut grafik perbandingan hasil capaian iBangga terhadap target Renstra 2024:
Grafik 3.10 Trend Capaian iBangga terhadap Target Renstra 2024
Sumber Data : Metadata BKKBN Tahun 2021
68
Grafik diatas menunjukkan trend kenaikan nilai iBangga dari tahun 2020 hingga tahun 2021, namun nilai ini memang masih belum mencapai target Renstra 2024. Persentase capaian tahun 2021 terhadap target Renstra 2024 yaitu sebesar 90,82%. Hal ini memberikan gambaran bahwa selama 3 (tiga) tahun kedepan masih perlu upaya dari Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan untuk meningkatkan nilai iBangga sebesar 5,34 untuk mencapai target Renstra 2024 yaitu sebesar 58,2.
d) Analisis Capaian iBangga 2021 terhadap terhadap Target Nasional
Adapun jika dibandingkan dengan capaian nasional, maka capaian Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan tahun 2021 masih di bawah rata-rata capaian nasional dan target nasional dengan persentase sebesar 96,10% terhadap target nasional. Berikut grafik perbandingan hasil capaian iBangga tahun 2021 terhadap capaian dan target nasional:
Grafik 3. 11 Perbandingan Capaian iBangga Provinsi Sumatera Selatan Terhadap Capaian dan Target Nasional Tahun 2021
Sumber Data : Metadata BKKBN Tahun 2021
e) Upaya yang Dilakukan dalam Peningkatan iBangga
Berbagai kegiatan yang telah dilakukan Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan yang bekerjasama dengan stakeholder lainnya guna mendukung capaian iBangga pada tahun 2021, yaitu:
a) Peningkatan kualitas hidup anak melalui kegiatan Proyek Prioritas Nasional untuk penurunan stunting pada kegiatan Promosi dan KIE 1000 Hari
69
Pertama Kehidupan bagi ibu dan keluarga yang memiliki Bayi di bawah usia Dua Tahun (Baduta) telah dilakukan terhadap 114.289 keluarga di Provinsi Sumatera Selatan. Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pengasuhan anak, salah satu kegiatan yang telah dilakukan yaitu Orientasi 1000 HPK tingkat desa dengan sasaran adalah ibu hamil, ibu yang memiliki BADUTA, Bidan Desa, serta kader kelompok Bina Keluarga Balita (BKB);
b) Peningkatan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan gizi sebagai sarana penyiapan remaja tersebut menjadi orang tua di masa yang akan datang dilakukan melalui kegiatan penguatan peran PIK Remaja dan Bina Keluarga Remaja (BKR) dalam edukasi Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) sebanyak 1.203 kelompok PIK R dan BKR.
Penguatan peran PIK Remaja dengan melibatkan Forum GenRe Sumatera Selatan turut serta meningkatkan keberhasilan program dari, oleh, dan untuk remaja ini. Pembinaan ketahanan remaja yang dilakukan dengan pendekatan dari sisi keluarga yang mempunyai anak remaja melalui kelompok BKR bertujuan agar terjadi kesamaan persepsi dan informasi antara orangtua dan remaja sehingga memudahkan bagi orangtua dalam mendampingi tumbuh kembang remaja;
c) Peningkatan kemandirian lansia dilakukan melalui penguatan pelayanan ramah lansia melalui 7 (tujuh) dimensi lansia tangguh dan pendampingan Perawatan Jangka Panjang (PJP) bagi lansia. Pembinaan terhadap keluarga yang mempunyai lansia juga dilakukan terhadap 262 kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL); dan
d)Peningkatkan kesejahteraan keluarga dilakukan melalui kegiatan Pemberdayaan Ekonomi Keluarga bagi Keluarga Akseptor KB Lestari MKJP dan Keluarga Akseptor KB Mandiri MKJP di Kampung KB Percontohan di 17 Kabupaten/Kota. Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan bekerjasama Badan Pengurus Daerah Asosiasi Kelompok Usaha Pemberdayaan Perekonomian Keluarga Akseptor (BPD AKU) Provinsi Sumatera Selatan menggerakkan ekonomi keluarga dengan berbagai macam upaya antara lain pembinaan, sosialisasi maupun menjembatani antar anggota UPPKA dengan dinas atau mitra lainnya.
70
iBangga merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas keluarga. Kondisi capaian iBangga Provinsi Sumatera Selatan pada klasifikasi “berkembang” memberikan gambaran peran dan fungsi keluarga di masyarakat telah semakin baik. Namun demikian, perlu adanya upaya yang optimal untuk meningkatkan nilai iBangga di Provinsi Sumatera Selatan antara lain dengan meningkatkan kualitas pembinaan kelompok kegiatan BKB, BKR, BKL, PIK Remaja serta UPPKA melalui peningkatan kapasitas tenaga penyuluh dan kader serta mitra kerja terkait dalam hal pembinaan ketahanan keluarga.
f) Analisis Manfaat iBangga bagi Masyarakat
Indikator iBangga diperlukan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan/program/kegiatan pembangunan keluarga di Provinsi Sumatera Selatan. Hasil iBangga dengan metode scoring dapat dimanfatkan untuk pemetaan keluarga sampai pada satuan unit terkecil di masyarakat, yaitu sampai level keluarga. Hasil perhitungan iBangga juga memberikan ruang untuk perumusan kebijakan yang berbeda sesuai kategori keluarga dalam upaya mewujudkan ketahanan keluarga.
A.1.6. Median Usia Kawin Pertama Perempuan (MUKP)
Median Usia Kawin Pertama (MUKP) adalah median usia saat pertama kali kawin pada wanita usia 15-49 tahun yang berstatus kawin (menikah) atau pernah kawin. Median usia kawin pertama menunjukkan sebanyak 50 persen dari seluruh wanita usia 15-49 tahun sudah melakukan perkawinan pada usia tertentu.
a) Analisis Pencapaian MUKP Tahun 2021
Berikut tabel capaian Median Usia Kawin Pertama Perempuan (MUKP) Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021.
71
Tabel 3.7 Pencapaian Median Usia Kawin Pertama Perempuan Umur 15–49 Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase Status Capaian
1 Meningkatnya Median Usia Kawin Pertama Perempuan
Median Usia Kawin Pertama Perempuan (MUKP) umur 25-49 tahun
21 20,5 97,61
Sumber Data : Metadata BKKBN Tahun 2021
Berdasarkan tabel diatas, diketahui bahwa capaian MUKP Provinsi Sumatera Selatan sudah baik, namun masih belum mencapai target yang ditetapkan dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2021 yaitu 21 tahun.
b) Analisis Trend Pencapaian MUKP Tahun 2019-2021
Adapun jika dibandingkan dengan realisasi dan capaian selama 3 (tiga) tahun terakhir, hal ini mengalami peningkatan sebagaimana yang bisa dilihat dalam grafik sebagai berikut.
Grafik 3.12 Pencapaian MUKP
Provinsi Sumatera Selatan Periode Tahun 2019-2021
Sumber Data : Metadata BKKBN Tahun 2021
Kenaikan capaian MUKP pada Wanita usia 15-19 tahun ini menunjukkan keberhasilan program pembinaan ketahanan remaja yang sudah dilakukan di Provinsi Sumatera Selatan. Sejak tahun 2021 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan menerapkan prinsip Meaningfull Youth Participation (MYP) dimana remaja dalam hal ini remaja GenRe dilibatkan bukan hanya sebagai objek tetapi sebagai
72
subjek dalam pelaksanaan Program Bangga Kencana, sehingga pelibatan Forum GenRe Sumatera Selatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga monitoring dan evaluasi terhadap implementasi Program GenRe di Sumatera Selatan.
c) Analisis Capaian MUKP Tahun 2021 terhadap Target Renstra 2024
Adapun trend realisasi capaian angka MUKP umur 15-49 tahun Provinsi Sumatera Selatan periode tahun 2019 - 2021 dibandingkan dengan target rencana strategis yang harus dicapai sebagai berikut:
Grafik 3.13 Pencapaian MUKP Provinsi Sumatera Selatan Periode Tahun 2019 - 2021 terhadap Target Renstra 2024
Sumber Data : Metadata BKKBN Tahun 2021
Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa terjadi trend kenaikan capaian MUKP yang semakin mendekati target rencana strategi. Secara persentase dapat diketahui bahwa capaian MUKP tahun 2021 sudah mencapai 97,61%
terhadap target Renstra 2024.
d) Analisis Capaian MUKP Tahun 2021 terhadap Target Nasional
Sejalan dengan capaian terhadap target Renstra 2024, capaian MUKP tahun 2021 Provinsi Sumatera Selatan jika dibandingkan dengan target nasional sebesar 22 tahun, maka sudah tercapai 93,18% dan masih berada di bawah capaian nasional.
Berikut ini data perbandingan capaian MUKP Provinsi Sumatera Selatan dibandingkan dengan capaian dan target MUKP nasional:
73
Grafik 3.14 Capaian MUKP Provinsi Sumatera Selatan Terhadap Capaian dan Target Nasional Tahun 2021
Sumber Data : Metadata BKKBN Tahun 2021
Meskipun perkembangan nilai MUKP mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, namun masih perlu upaya untuk mengoptimalkan kegiatan pembinaan ketahanan remaja ini mengingat kondisi saat ini masih belum mencapai target yang telah ditetapkan, baik target dalam Perjanjian Kinerja tahun 2021 maupun target rencana strategi.
e) Analisis Tantangan dan Upaya dalam Peningkatan MUKP
Adapun tantangan-tantangan dalam upaya peningkatan MUKP sebagian besar dikarenakan kondisi remaja saat ini antara lain:
a) Pengetahuan remaja tentang resiko menikah muda masih relatif rendah sehingga bisa menjadi salah satu penyebab pernikahan dini dan membuat MUKP relatif rendah. Data SKAP 2019 menunjukkan persentase remaja belum kawin umur 10-24 tahun yang mengetahui resiko menikah usia muda adalah 42,8 %, sedangkan yang tidak tahu sebesar 57,2 %;
b) Indeks pengetahuan remaja belum kawin umur 10-24 tahun tentang kesehatan reproduksi remaja di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 43,9. Hal ini menunjukkan bahwa remaja di Provinsi Sumatera Selatan cenderung belum banyak mendapatkan informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (SKAP, 2019);
c) Persentase remaja yang belum kawin usia 10-24 tahun yang belum pernah memperoleh/mendengar/melihat/membaca informasi berkaitan dengan PIK-R sebesar 94,5% (SKAP, 2019);
d) Persentase penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan relatif cukup besar yaitu sebesar 12,66% (Sumsel dalam angka, 2020). Cohen (2004) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
74
pernikahan dini. Pertama, faktor ekonomi yang merupakan latar belakang terjadinya pernikahan dini pada masyarakat yang tergolong menengah ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa kemiskinan menjadi faktor menurunnya MUKP; dan
e) Rata-rata lama sekolah di Provinsi Sumatera selatan hanya sebesar 8,48.
Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah di Provinsi Sumatera Selatan hanya sampai bangku SMP. (Sumsel dalam Angka, 2020). Padahal menurut teori dari Roumli & Anna (2009), semakin rendah tingkat pendidikan, semakin mendorong pernikahan dini. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan menjadi faktor menurunnya MUKP.
Berbagai upaya strategis yang telah dilakukan Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan untuk mendorong pencapaian MUKP tahun 2021 antara lain:
a) Penyebarluasan materi kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja, termasuk tentang pencegahan stunting melalui kegiatan PIK-R dan kelompok BKR serta melalui konten edukasi yang di share di media sosial;
b) Promosi Program GenRe yang meliputi penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja dan pendewasaan usia kawin pertama dilakukan pada sasaran kelompok PIK Remaja, kelompok BKR, serta masyarakat yang peduli remaja baik secara langsung maupun dengan memanfaatkan jejaring media sosial.
c) Kerjasama lintas sektor dengan melibatkan stakeholder dan mitra kerja dalam upaya pembinaan ketahanan remaja baik dengan instansi pemerintahan, organisasi kepemudaan, maupun lembaga sosial yang peduli remaja.
d) Promosi dan KIE tentang isu Bangga Kencana terutama tentang kependudukan di berbagai media dengan melibatkan stakeholder dan mitra kerja.
f) Analisis Manfaat Pencapaian MUKP bagi Masyarakat
Indikator capaian MUKP memberikan masukan terhadap kebijakan penundaan usia perkawinan muda di kalangan masyarakat. Perkembangan MUKP menggambarkan pola perubahan fertilitas yang terjadi saat ini. Dengan adanya pemantauan indikator ini, dapat menghasilkan strategi Advokasi dan KIE dalam upaya mempertahankan MUKP dan penurunan ASFR kelompok 15-19 tahun.
75
A.1.7. Bidang Dalduk Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan
Secara keseluruhan, pencapaian indikator kinerja kegiatan Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan telah mencapai target yang ditetapkan pada Tahun 2021. Realisasi capaian kinerja Bidang Dalduk dari rencana kinerja yang telah ditetapkan dalam Rencana Strategi Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2020 – 2024 adalah sebagai berikut:
Tabel 3.8 Target Renstra Bidang Pengendalian Penduduk Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024
Sasaran Kegiatan Indikator Kinerja Kegiatan Target Realisasi % Target terhadap Realisasi
Meningkatnya Pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana di seluruh tingkatan wilayah
Persentase pemerintah daerah yang menyusun GDPK dalam penetapan parameter
kependudukan pada perencanaan
pembangunan daerah
100% Prov &
24% kab/kota 100% Prov &
26,6%
kab/kota
111%
Persentase Rumah Data Kependudukan
Paripurna yang terbentuk di Kampung KB
60% 11% 18,33%
Persentase Kelompok Kerja Bangga Kencana Provinsi dan Kab/Kota yang efektif
100%
Prov &
kab/kota 18%
100%
Prov &
100%
kab/kota
100%
Cakupan implementasi pendidikan
kependudukan di provinsi
3 3 100%
Persentase pemerintah daerah yang
melaksanakan Sistem Peringatan
Dini Pengendalian Penduduk
100%
Prov &
18%
kab/kota
100%
Prov &
76,47%
kab/kota
100% &
425%
kab/kota
Persentase Kampung KB yang melaksanakan penanganan terpadu isu kependudukan
59 74,04 125%
76
Berdasarkan dari tabel di atas, terdapat 1 (satu) sasaran yang terbagi ke dalam 6 (enam) indikator kinerja. Pada tahun 2021, secara umum seluruh indikator kinerja telah memenuhi target yang ditetapkan. Terdapat 4 (empat) indikator kinerja yang pencapaiannya sudah melampaui target yang telah ditetapkan. Sementara ada 1 (satu) indikator kinerja yang belum mencapai target pencapaian, yaitu indikator
“Persentase Rumah Data Kependudukan Paripurna yang terbentuk di Kampung KB”.
Adapun uraian masing-masing capaian indikator kinerja Bidang Pengendalian Penduduk adalah sebagai berikut:
1. Persentase Pemerintah Daerah yang Memanfaatkan Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) dalam Penetapan Parameter Kependudukan pada Perencanaan Pembangunan Daerah
Indikator kinerja ini merupakan Indikator Kinerja Kegiatan Sub Bidang Penetapan Parameter Kependudukan, memiliki target persentase pemerintah daerah yang memanfaatkan GDPK dalam penetapan parameter kependudukan pada perencanaan pembangunan daerah berupa penyusunan dokumen GDPK.
Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) merupakan arahan kebijakan yang dituangkan dalam program 5 (lima) tahunan pembangunan kependudukan lndonesia untuk mewujudkan target pembangunan kependudukan.
Berpedoman pada target Rencana Strategi Program Bangga Kencana Tahun 2020–2024 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, tahun 2021 realisasi yang dicapai sudah sangat bagus yaitu 100% Provinsi & 26,6%
kabupaten/kota yang melaporkan telah menyusun GDPK.
Tabel 3.9 Pencapaian Cakupan Penyusunan GDPK 5 Pilar Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No IKK Target Realisasi Persentase Status
Capaian 1 Cakupan Penyusunan
GDPK 5 Pilar Kabupaten/Kota di Provinsi
100% Prov & 24%
kab/kota 100% Prov &
26,6% kab/kota 111
Sumber Data : Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan e-monev DITRENDUK, Desember 2021
77
Selanjutnya, data realisasi capaian dokumen GDPK 5 pilar kabupaten/kota periode laporan tahun 2020 sampai dengan 2021 dibandingkan dengan target Rencana Strategi yang harus dicapai sebagai berikut:
Grafik 3.15
Capaian Realisasi Dokumen GDPK 5 Pilar Kabupaten/Kota
Sumber Data : Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan e-monev DITRENDUK 2020-2021
Dengan memperhatikan karakteristik persoalan kependudukan yang cenderung jangka panjang pada setiap wilayah serta mempertimbangkan sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah, maka suatu Grand Design Pembangunan Kependudukan dinilai berpotensi menjadi landasan penanganan persoalan kependudukan yang terencana, sistematis dan berkesinambungan. GDPK diharapkan dapat digunakan oleh pemangku kebijakan sebagai acuan perencanaan pembangunan kependudukan di semua tingkatan wilayah. Pembangunan kependudukan merupakan upaya mewujudkan sinergi, sinkronisasi, dan harmonisasi pengendalian kuantitas, peningkatan kualitas, pembangunan keluarga, penataan persebaran dan pengarahan mobilitas, serta penataan administrasi kependudukan. Grand Design Pembangunan Kependudukan (GDPK) terdiri atas 5 (lima) pilar, yaitu (1) Pilar Pengendalian Kuantitas Penduduk, (2) Pilar Peningkatan Kualitas Penduduk, (3) Pilar Pembangunan Keluarga, (4) Pilar Penataan Persebaran dan Pengaturan Mobilitas Penduduk, serta (5) Pilar Penataan Data dan Administrasi Kependudukan.
Provinsi Sumatera Selatan saat ini hanya berupa dokumen GDPK 1 pilar yang mana untuk GDPK 5 pilar masih dalam tahap penyusunan dari Bappeda Provinsi. Dokumen GDPK 5 pilar tingkat kabupaten/kota terlapor untuk tahun 2020 sebanyak 2 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Musi Banyuasin dan Kota
78
Palembang. Sedangkan dokumen GDPK 5 pilar tingkat kabupaten/kota terlapor untuk tahun 2021 sebanyak 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banyuasin, Kabupaten PALI, Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam. Dalam pemanfaatannya dokumen GDPK ini masih dalam tahap legalitas, berdasarkan hasil fasilitasi yang dilakukan subbid penetapan parameter kependudukan bersama kabupaten/kota untuk Kota Palembang masih dalam proses penyusunan Perda GDPK dan Kabupetan Banyuasin telah dilegalitaskan dalam Peraturan Bupati. Sedangkan dokumen GDPK 5 Pilar di Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten PALI, Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam masih belum disusun legalistasnya. Maka sehubungan dengan legalitas dokumen GDPK 5 pilar, perlu adanya fasilitasi pertemuan dengan tim penyusun GDPK 5 pilar karena kunci penting dalam pemanfaatan dokumen GDPK adalah terletak pada proses penyusunannya yang melibatkan lintas sektor dan juga adanya legalitas yang disahkan oleh kepala daerah agar memiliki landasan hukum resmi yang diakui ditingkat daerah.
2. Persentase Rumah Data Kependudukan Paripurna yang Terbentuk di Kampung KB
Indikator kinerja ini merupakan Indikator Kinerja Kegiatan Subbid Penetapan Parameter Kependudukan, memiliki target Persentase Rumah Data Kependudukan Paripurna yang terbentuk di Kampung KB. Rumah Data Kependudukan sebagai kelompok kegiatan masyarakat yang berfungsi sebagai pusat data dan informasi kependudukan di tingkat mikro menjadi krusial peranannya untuk memenuhi kebutuhan akan data dan informasi keluarga dalam pembangunan di Kampung KB pada khususnya dan Desa pada umumnya. Jangkauan Rumah Data Kependudukan bertugas melakukan penyediaan data level mikro atau setingkat desa berbasis data keluarga dan data pembangunan desa. Rumah Data Kependudukan menghasilkan output data kependudukan, keluarga, kesejahteraan keluarga dan perlindungan sosial, dan data pembangunan desa secara terintegrasi dan memanfaatkan teknologi informasi. Sedangkan penerima manfaat dari pengembangan Rumah Data Kependudukan adalah stakeholder pembangunan baik pada level desa, Kabupaten/Kota, provinsi maupun nasional. Data yang dihasilkan pada level mikro serta mempunyai verifikasi yang ketat sesuai dengan prosedur dalam
79
menghasilkan data dan melibatkan masyarakat dalam prosesnya akan meningkatkan akurasi sasaran program-program pembangunan pemerintah maupun kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan yang dilakukan oleh pihak swasta maupun BUMN, serta menggambarkan kebutuhan real intervensi pembangunan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Berpedoman pada target Rencana Strategis Program Bangga Kencana Tahun 2020–2024 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, tahun 2021 realisasi yang dicapai masih belum mencapai target yaitu 11% dari seluruh Rumah DataKu di Kampung KB.
Tabel 3.10 Pencapaian Cakupan Rumah Data Kependudukan Paripurna yang Terbentuk di Kampung KB Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No IKK Target Realisasi Persentase Status
Capaian
1 Cakupan Rumah Data Kependudukan Paripurna yang terbentuk di
Kampung KB
60% 11% 18,33
Sumber Data : Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan e-monev DITRENDUK, Desember 2021
Dilihat dari cakupan persentase Rumah Data Kependudukan Paripurna yang terbentuk di Kampung KB yang masih kurang, akan tetapi capaian realisasi Rumah DataKu Paripurna di Kampung KB Percontohan sebesar 100%
dari 18 Kampung KB Percontohan Provinsi Sumatera Selatan. Selanjutnya, berikut data realisasi capaian Rumah DataKu klasifikasi paripurna di Kampung KB periode laporan tahun 2020 sampai dengan 2021 dibandingkan dengan target renstra yang harus dicapai.
Grafik 3.16
Capaian Realisasi Rumah DataKu Klasifikasi Paripurna di Kampung KB
Sumber Data : Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan e-monev DITRENDUK 2020-2021
80
Rumah Data Kependudukan penting untuk didirikan di kampung- kampung KB, karena tujuan pembentukan Rumah Data Kependudukan dan Informasi Keluarga adalah untuk menyediakan data dan analisis kependudukan untuk Kampung KB dan lintas sektor dalam rangka meningkatkan sinergitas pelaksanaan program Bangga Kencana dengan program pembangunan sektor lainnya di Kampung KB. Selain itu, dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan Rumah Data Kependudukan akan meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya data dan informasi untuk peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku. Kendala yang dihadapi dalam mencapai klasifikasi paripurna kurangnya pemahaman pembina dan pokja Rumah DataKu dalam mengelola data, sehingga penyajian jenis data sering tidak ada. Padahal indikator klasifikasi paripurna selain pokja mendapatkan subtansi materi pengelolaan, pengolahan dan analisis data juga dengan cara meningkatkan Ketersediaan Data (minimal 4 jenis data), melengkapi Sarana Prasarana (minimal 3 sarana dan prasarana), penyajian data dalam bentuk buku data dan tabel data/infografis, serta berusaha meningkatkan pemanfaatan data yang terdapat pada Rumah DataKu. Upaya yang dilakukan tidak hanya menunggu bimbingan teknis dari provinsi, tetapi dengan dilakukan bimbingan teknis dengan pokja Rumah DataKu pada saat pertemuan rutin di Kampung KB oleh pembina Kampung KB kecamatan di seluruh kabupaten/kota. Pokja Rumah DataKu juga harus melakukan update data setiap bulannya, sehingga dapat menyediakan data publik dalam bidang kependudukan di Kampung KB yang valid, terpercaya, dan selalu terbarukan bagi masyarakat umum.
1) Persentase Kelompok Kerja Bangga Kencana Provinsi dan Kab/Kota yang Efektif
Indikator kinerja ini merupakan Indikator Kinerja Kegiatan Sub Bidang Penetapan Parameter Kependudukan, memiliki target persentase Kelompok Kerja Bangga Kencana Provinsi dan Kab/Kota yang efektif. Kelompok Kerja (Pokja) Bangga Kencana merupakan kelompok kerja yang beranggotakan perwakilan dari berbagai lintas sektor (pemerintah - non pemerintah) dan memiliki kepentingan dalam mewujudkan arah pembangunan pemerintahan daerah dengan mengusung isu-isu strategis dan pencapaian target program
81
Bangga Kencana. Pembentukan berbagai Pokja tersebut di daerah sudah dimulai kurang lebih 5 tahun terakhir, dengan berbagai macam nama seperti Pokja Advokasi, Pokja Kampung KB, Pokja Kependudukan dan lain sebagainya.
Pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang telah membentuk Pokja Advokasi atau Pokja Kampung Keluarga Berkualitas atau Pokja Kependudukan, pada dasarnya tidak perlu membentuk Pokja baru dengan nama Pokja Bangga Kencana. Pembentukan Pokja baru dengan nama Pokja Bangga Kencana diutamakan bagi daerah yang memang belum memiliki pokja-pokja tersebut diatas. Meskipun demikian, jika masa berlaku SK Pembentukan Pokja yang sudah terbentuk sudah berakhir, jika SK Pembentukan Pokja tersebut akan diperbaharui diharapkan nama Pokja disesuaikan menjadi Pokja Bangga Kencana.
Berpedoman pada target Rencana Strategis Program Bangga Kencana Tahun 2020–2024 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, tahun 2021 realisasi yang dicapai sudah sangat bagus yaitu 100% Provinsi & 100%
kabupaten/kota yang melaporkan telah memiliki Pokja Kampung KB tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Selain itu, pokja Kependudukan berupa pokja tim penyusun GDPK di 1 provinsi dan 6 kabupaten/kota
Tabel 3.11 Pencapaian Kelompok Kerja Bangga Kencana Provinsi dan Kabupaten/Kota yang efektif di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No IKK Target Realisasi Persentase Status
Capaian 1 Cakupan Kelompok
Kerja Bangga Kencana Provinsi dan Kab/Kota yang efektif
100% Prov &
18% kab/kota 100% Prov &
100%
kab/kota
100
Sumber Data : Rencana Strategi Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan monev g-form DITJAKDUK, Desember 2021
Selanjutnya, data cakupan Pokja Kampung KB dan Pokja Kependudukan tingkat provinsi dan kabupaten/kota sampai dengan tahun 2021 sebagai berikut:
82
Grafik 3.17 Cakupan Pokja Kampung KB dan Pokja Kependudukan tingkat provinsi dan kabupaten/kota
Sumber Data : Renstra Perwakilan BKKBN Provinsi Sumsel 2020–2024 dan monev g-form DITJAKDUK, Desember 2021
Bangga Kencana adalah program strategis berdimensi lintas sektor yang dapat dijadikan sebagai program prioritas pembangunan di daerah.
Keberhasilan pencapaian program Bangga Kencana akan membantu sektor pembangunan lain dalam mencapai tujuan pembangunan secara menyeluruh, sebaliknya kegagalan dalam mencapai hal tersebut akan membuat sektor pembangunan lain sulit untuk mencapai tujuannya. Maka dari itu Pokja Bangga Kencana harus menjadi pokja yang mampu mengelola seluruh kebutuhan advokasi yang menjadi poin penting dalam mencapai tujuan dari program Bangga Kencana BKKBN.
Revitalisasi program Bangga Kencana sangat penting untuk dilakukan mengingat selama beberapa dasawarsa terakhir mengalami kemunduran.
Pokja Bangga Kencana dikembangkan sebagai upaya untuk menumbuhkan dan memperkuat komitmen pemerintah daerahnya untuk menjadikan Bangga Kencana sebagai program prioritas pembangunan daerah melalui kebijakan, alokasi anggaran dan program. Keberadaan Pokja Bangga Kencana yang efektif merupakan salah satu strategi BKKBN guna menunjang pencapaian program Bangga Kencana dan program pembangunan sektor terkait lainnya di seluruh tingkatan wilayah sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat Indonesia.
2) Cakupan Implementasi Pendidikan Kependudukan di Provinsi Dalam rangka mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan di Tahun 2021, maka salah satu indikator kinerja kegiatan yang ada di Bidang Pengendalian Penduduk, khususnya di Subbidang Kerjasama Pendidikan Kependudukan adalah
83
terlaksananya implementasi Kerjasama Pendidikan Kependudukan di 3 (tiga) jalur, yaitu jalur formal, non formal, dan informal.
Berpedoman pada target Rencana Strategi Program Bangga Kencana Tahun 2020–2024 Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, telah dicapai 100% Kerjasama Pendidikan Kependudukan di 3 (tiga) jalur tersebut, yaitu:
Tabel 3.12
Pencapaian Cakupan Implementasi Kerjasama Pendidikan Kependudukan di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2021
No IKK Target Realisasi Persentase Status Capaian
1 Cakupan Implementasi Kerjasama Pendidikan Kependudukan di Provinsi
3 Jalur 3 Jalur 100
Sumber Data : Monev G-Form Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan, Desember 2021
Lebih rinci lagi, jika dibandingkan dengan capaian antara tahun 2019- 2021, maka selama 3 tahun berturut–turut diketahui bahwa capaian implementasi kerjasama Pendidikan kependudukan secara konsisten mencapai 100% setiap tahunnya dengan rincian sebagai berikut:
Grafik 3.18
Capaian Cakupan Implementasi Kerjasama Pendidikan
Kependudukan di Provinsi Sumatera Selatan antara tahun 2019 – 2021 dibandingkan dengan Target Renstra Program Bangga Kencana 2020 – 2024
Sumber : Monev G-Form Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan, Desember 2021
Merujuk kepada dokumen Petunjuk Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan Jalur Formal, Non Formal dan Informal Tahun 2019, diketahui untuk capaian jalur formal outputnya merupakan terbentuknya Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), Jalur Non Formal outputnya berupa terintegrasinya Materi Kependudukan di Balai Diklat ASN dan Gugus Depan Pramuka di
84
Sekolah, dan Jalur Informal outputnya berupa aktifnya masyarakat peduli kependudukan di Kampung KB melalui Pojok Edukasi Kependudukan (PESAT). Oleh karena itu, berikut disampaikan grafik rincian capaian implementasi Kerjasama Pendidikan Kependudukan di masing-masing jalur, yaitu:
Grafik 3.19
Capaian Cakupan Implementasi Kerjasama Pendidikan Kependudukan
Jalur Formal, Non Formal dan Informal di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2019–2021
Sumber Data : Monev G-Form Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan, Desember 2021
Keberhasilan pencapaian implementasi Kerjasama Pendidikan kependudukan di tahun 2021 karena didukung oleh komitmen dari stakeholder dan mitra kerja terkait. Hal ini dibuktikan dengan 3 (tiga) sekolah di Wilayah Provinsi Sumatera Selatan berhasil menjadi Sekolah Siaga Kependudukan Paripurna di Tingkat Nasional dan Menjadi Nominasi Terbaik pada Lomba Sekolah Siaga Kependudukan Paripurna Tingkat Nasional Tahun 2021, yaitu SMP Negeri 8 Palembang, SMA Negeri 1 Talang Ubi, dan SMA Negeri 2 Prabumulih.
Upaya meningkatkan implementasi Kerjasama Pendidikan kependudukan di 3 (tiga) jalur ini merupakan strategi yang sangat efektif guna mengedukasi generasi muda baik melalui sekolah, kegiatan kesiswaan maupun kelompok-kelompok kegiatan informal mengenai permasalahan kependudukan di sekitarnya, serta bagaimana berperan dan berperilaku sesuai dengan wawasan kependudukan. Harapannya, generasi muda menjadi Agent of Change di masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan berwawasan kependudukan, sehingga kehidupan generasi sekarang peduli dengan kondisi