LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 30
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
Akuntabilitas kinerja menggambarkan capaian kinerja sasaran atas Perjanjian Kinerja (PK) Pemerintah daerah kabupaten Semarang. Perjanjian Kinerja tersebut merupakan prasyarat untuk melakukan pengukuran kinerja dan merupakan target kinerja yang harus dicapai sebagai wujud komitmen dari pimpinan dan seluruh anggota organisasi. Selanjutnya dilakukan pengukuran kinerja yang merupakan perbandingan antara target kinerja (performance plan) yang telah ditetapkan dengan realisasinya (performance result) untuk mengetahui celah kinerja (performance gap). Atas celah tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui penyebab keberhasilan dan kegagalannya. Jika berhasil akan menjadi dasar dalam penetapan target tahun berikutnya, dan jika gagal akan menjadi bahan perbaikan untuk peningkatan kinerja di masa datang (performance improvement).
Untuk lebih menggambarkan keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan sasaran maka digunakan skala pengukuran sebagai berikut :
Skala Kategori
Lebih dari 100% Sangat Berhasil/sangat baik 75 s/d 100% Cukup Berhasil/cukup baik
55 s/d 75% Kurang Berhasil/kurang baik Kurang dari 55 Tidak Berhasil/tidak baik
A. CAPAIAN KINERJA IKU
Perjanjian kinerja tahun 2014 Pemerintah daerah Kabupaten Semarang yang disusun pada awal tahun 2014 memasukkan perjanjian kinerja pencapaian IKU Pemerintah Kabupaten Semarang. Oleh karena itu laporan kinerja tahun 2014 menyajikan capaian kinerja yang mendukung pencapaian IKU Pemerintah Daerah Kab.Semarang tahun 2014 adalah sebagai berikut :
Tujuan 1
Meningkatnya Derajat Kesehatan Masyarakat 1. Sasaran 1 :
Terpenuhinya jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014 Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin
Prosentase pelayanan
Jamkesmas % 18.91 45.72 39.22 207.40
Prosentase Pelayanan
Jamkesda % 9.97 21.86 30.75 308.42
Prosentase Pelayanan
Puskesmas kepada Maskin % 28,94 46,56 43.28 149,5
Rata – Rata Capaian Kinerja IKU 221,7
Rata Rata Capaian Kinerja Terpenuhinya jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin pada tahun 2014 sebesar 221,7 % atau sangat baik. Keberhasilan capaian kinerja tersebut ditunjukkan oleh capaian Indikator Kinerja yang telah memenuhi target.
Faktor-faktor pendukung tercapainya sasaran Terpenuhinya jaminan kesehatan bagi masyarakat
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 31
miskin pada tahun 2014 antara lain :
1. Dana untuk memenuhi kebutuhan obat baik esensial maupun generic tersedia dengan cukup. Sumber anggaran untuk memenuhi kebutuhan obat pada tahun 2014 sebagian besar berasal dari dana alokasi khusus bidang kesehatan sub bidang pelayanan kefarmasian, BPJS dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.
2. Pengawasan obat pada sarana distribusi obat terlaksana seratus persen karena ada komunikasi yang baik antara dinas kesehatan dengan pemilik sarana apotek maupun apoteker penanggung jawab apotek.
Prosentase pelayanan jamkesmas dan jamkesda terlaksana di atas target kinerja disebabkan karena :
1. Adanya program Jaminan Kesehatan Nasional yang diperluas dengan Jamkesda Integrasi ke BPJS. UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional mengamanatkan Jaminan Sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui suatu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Semarang terdiri dari quota Jaminan Kesehatan Masyarakat sebesar 270.834 orang yang secara otomatis menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional ditambah dengan Jamkesda integrasi yaitu peserta Jaminan Kesehatan Daerah yang didaftarkan menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional yang ditetapkan dengan Keputusan Bupati Semarang sebesar 13.003 orang. Jamkesda integrasi terdaftar sebagai Peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Semarang.
2. Adanya kerjasama yang baik dengan Rumah Sakit di Kabupaten Semarang maupun luar Kabupaten Semarang.
3. Terjangkaunyajarak fasilitas kesehatan. Dinas Kesehatan telah merealisasikan pembangunan 5 unit PKD (Pos Kesehatan Desa), 2 Rumah Dinas tenaga medis, 1 Rumah Dinas tenaga paramedis dan 5 unit ambulance Puskesmas serta alat kesehatan di 26 Puskesmas. Gambaran jumlah sarana kesehatan di Kabupaten Semarang pada tahun 2014 adalah sebagai berikut :
Tabel III.1.a Fasilitas Kesehatan
Kabupaten Semarang Tahun 2010-2014
FASILITAS 2010 2011 2012 2013 2014
Posyandu 1612 1625 1.626 1.636 1645
Polindes 25 27 27 21 21
PKD 152 152 155 157 157
Puskesmas a. Induk :
Perawatan 12 12 12 12 12
Non perawatan 14 14 14 14 14
b. Pembantu 68 68 68 68 68
c. Keliling 45 45 38 34 41
d. BP/klinik 67 69 68 70 23
Rumah Sakit Umum Daerah
Tipe C 2 2 2 2 2
Rumah Sakit Umum Swasta
Tipe C 1 1 1
Tipe D 1 2 1 1 1
Apotek 57 64 73 77 79
Sumber Data Dinas Kesehatan Tahun 2014
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 32
Rata-rata capaian kinerja pada sasaran Terpenuhinya jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin tidak dapat dibandingkan dengan rata-rata capaian tahun sebelumnya karena perbedaan pengelompokkan indikator kinerja.
Terjadi penurunan kunjungan Jamkesmas (peserta BPJS PBI) dari tahun 2013 sebesar 12.513 yaitu dari 123.830 menjadi 111.317 kunjungan. Demikian pula pelayanan kesehatan pasien miskin melalui kegiatan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) pada tahun 2014 telah melayani sebanyak 11.517 pasien, angka ini meningkat sebesar 3.209 apabila dibandingkan dengan tahun 2013 dimana tahun 2013 melayani sebanyak 8.308 pasien.
Sampai dengan tahun 2014, capaian kinerja Indikator Kinerja Prosentase Pelayanan Jamkesmas dan Jamkesda telah mencapai 39.22% dan 30.75 %. Capaian tersebut telah melampaui target pada akhir periode RPJMD sebesar 17,05% dan 4,78%. Jumlah pasien miskin yang telah mendapatkan pelayanan kesehatan melalui jamkesmas di Puskesmas mencapai 111.317 kunjungan atau 39.22% dari 283.829 jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Semarang dan jumlah masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan melalui Jamkesda sebesar 11.517 kunjungan atau 30.75% dari jumlah masyarakat miskin di Kabupaten Semarang.
Meskipun kategori rata-rata capaian indikator kinerja Pemerintah Daerah sangat baik, namun, masih terdapat indikator kinerja yang belum dapat memenuhi target, yaitu Rasio Puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk. Tidak maksimalnya capaian indikator kinerja tersebut karena adanya regulasi baru terkait dengan perijinan klinik yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 56 Tahun 2014. Di dalam Permenkes tersebut mengatur bahwa semua fasilitas kesehatan yang masih berstatus Balai Pengobatan /Rumah Bersalin harus berubah menjadi klinik. Pada tahun 2014 dari 69 (enam puluh Sembilan) fasilitas kesehatan tingkat pertama milik swasta ( Balai Pengobatan/Rumah bersalin) yang telah mengajukan ijin klinik baru sejumlah 23 klinik.
Jika dibandingkan dengan target kinerja SPM Bidang Kesehatan, maka capaian indikator kinerja Prosentase Pelayanan Puskesmas Kepada Masyarakat Miskin Kabupaten Semarang sebesar 43,28 % atau 122.834 kunjungan pasien dengan menggunakan jamkesmas dan jamkesda tersebut jauh melebihi standar SPM Bidang Kesehatan Kabupaten yang pada tahun 2014 ditarget hanya 39,21 % dengan 111.317 pasien masyarakat miskin dari 283.837 orang kategori miskin yang dilayani di puskesmas.
2. Sasaran 2 :
Meningkatnya akses kesehatan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Rasio posyandu (per satuan balita) % 22 29.09 22.93 104.23 2 Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per
satuan penduduk % 0.38 0.37 0.30 78.95
3 Rasio Rumah Sakit per satuan
penduduk % 0.004 0.004 0.004 100
4 Rasio dokter persatuan penduduk % 0.3 0.31 0.39 130 5 Rasio tenaga medis persatuan
penduduk % 0.3 0.31 0.39 130
6 Cakupan pelayanan puskesmas % 18.91 45.72 39.22 207.4 7 Prosentase Desa/Kelurahan Universal % 100 100 100 100
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 33
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
Child Immunization
8 Prosentase jumlah indicator kinerja SPM Pelayanan Kesehatan yang memenuhi target RPJMD
%
100 77,22 87,5 87.5
Rata – Rata Capaian Kinerja 117,26
Rata Rata Capaian Kinerja Meningkatnya akses kesehatan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas pada tahun 2014 sebesar 117,26 % atau SANGAT BAIK. Keberhasilan capaian kinerja tersebut ditunjukkan oleh capaian 7 (tujuh) Indikator Kinerja yang telah memenuhi target.
Pada tahun 2014 di Kabupaten Semarang terdapat 4 unit Rumah sakit, yang terdiri dari 2 rumah sakit pemerintah yaitu RSUD Ungaran dan RSUD Ambarawa, dan 2 rumah sakit swasta yaitu RS Bina kasih dan RS Ken Saras. Rasio rumah sakit di Kabupaten Semarang sebesar 0,004 per 1000 penduduk. Jumlah puskesmas tahun 2014 di Kabupaten Semarang sebanyak 26 puskesmas yang tersebar di 19 kecamatan, dengan jumlah puskesmas perawatan sebanyak 12 puskesmas dan non perawatan sebanyak 14 puskesmas. Puskesmas pembantu sebanyak 68 unit, Pos Kesehatan Desa (PKD) sebanyak 157 unit, polindes sebanyak 27 unit. Jumlah klinik sebanyak 23 unit menurun dibandingkan dengan tahun 2013 sebanyak 59 unit (termasuk Balai Pengobatan dan Rumah Bersalin). Hal ini disebabkan karena pada Tahun 2014 Kementrian Kesehatan RI mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 56 Tahun 2014 tentang Klinik dimana semua fasilitas kesehatan yang masih berstatus Balai Pengobatan/Rumah Bersalin harus berubah menjadi klinik.
Total jumlah puskesmas, pustu, PKD, polindes, dan klinik sebanyak 295 unit, bila dibandingkan dengan jumlah penduduk 2014 sebanyak 989.399 jiwa diperoleh angka rasio sebesar 0,30 per 1000 penduduk atau 3 per 10.000 penduduk. Rasio tersebut sudah memenuhi standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dimana rasio puskesmas, poliklinik dan pustu persatuan penduduk adalah 1 fasilitas kesehatan per 10.000 penduduk. Cakupan puskesmas sebesar 136,84% dan cakupan pustu sebesar 28,94%.
Cakupan rawat jalan di Puskesmas Kabupaten Semarang menunjukkan trend kenaikan dari tahun 2013 sebesar 34,29% menjadi 102,58% di tahun 2014,dan persentase cakupan rawat jalan di Kabupaten Semarang di tahun 2014 sudah di atas target nasional sebesar 15%.
Pelayanan kesehatan di puskesmas dan jejaringnya yang bebas biaya dan mudah diakses sehingga tingkat kunjungan di puskesmas cenderung mengalami peningkatan.
Faktor-faktor pendukung tercapainya sasaran Terpenuhinya jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin pada tahun 2014 antara lain :
1. Dana untuk memenuhi kebutuhan obat baik esensial maupun generic tersedia dengan cukup. Sumber anggaran untuk memenuhi kebutuhan obat pada tahun 2014 sebagian besar berasal dari dana alokasi khusus bidang kesehatan sub bidang pelayanan kefarmasian, BPJS dan anggaran pendapatan dan belanja daerah.
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 34
2. Pengawasan obat pada sarana distribusi obat terlaksana seratus persen karena ada komunikasi yang baik antara dinas kesehatan dengan pemilik sarana apotek maupun apoteker penanggung jawab apotek.
Kematian Bayi telah melampaui target RPJMN, sedangkan AKI masih dibawah target RPJMN. Persentase neonatus resiko tinggi dengan komplikasi yang ditangani telah melampaui target RPJMD Provinsi, sedangkan Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan dan Cakupan kunjungan bayi masih di bawah target RPJMD Provinsi.
Berikut merupakan capaian SPM Pelayanan Kesehatan Kabupaten Semarang apabila dibandingkan dengan target RPJMD tahun 2014 :
Tabel III.1.b
Capaian SPM Pelayanan Kesehatan Tahun 2014 dengan Target RPJMD Tahun 2014
No Indikator
Target RPJMD
Tahun 2014
2013 2014
1 Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.
90 94.32 93.72
Cakupan kunjungan bayi. 90 84.33 98.60
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI).
100 100 100
Cakupan Balita gizi buruk mendapat perawatan
100 100 100
Cakupan Penemuan dan penanganan penderita penyakit
Penemuan Pasien Baru TB BTA
Positif 60 25.52 17.87
Penderita DBD yang Ditangani 100 100 100 2 Cakupan pelayanan kesehatan rujukan
pasien masyarakat miskin.
Jamkesmas 18,91 45,72 39,22
Jamkesda 9,97 18,72 30,75
Sedangkan untuk capaian Prosentase jumlah indicator kinerja SPM Pelayanan Kesehatan yang memenuhi target RPJMD pada tahun 2014 adalah 87,5 atau 7 indikator dari 8 Indikator yang tercantum dalam RPJMD telah melampaui target dan yang belum mampu mencapai target adalah indicator Cakupan Penemuan dan penanganan penderita penyakit untuk Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif baru tercapai 188 pasien baru TB BTA positif yang ditemukan dan diobati dari 1052 perkiraan pasien baru TB BTA positif hal ini disebabkan Jumlah penderita baru TBC BTA (+) yang ditemukan dan diobati sebanyak 188 kasus, dengan cakupan CDR (case detection rate) sebesar 17,87% (188 orang jumlah BTA positif / 1.052 orang jumlah penduduk perkiraan BTA positif).
Cakupan penemuan penderita TBC BTA (+) meningkat dibanding tahun 2013 sebesar 15,11%. Persentase kesembuhan penderita TBC BTA (+) tahun 2014 sebesar 97,38% (jumlah pasien TB yang sembuh 186, dibagi jumlah pasien yang diobati 191 pasien), angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 dimana angka kesembuhan sebesar 87,6%. Peningkatan persentase kesembuhan penderita TBC BTA (+) bisa tercapai berkat kesadaran masyarakat
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 35
yang secara konsisten menjalani proses pengobatan sesuai standar pengobatan penyakit TBC dengan pendampingan dari pengawas minum obat (PMO).
3. Sasaran 3 :
Terwujudnya pola hidup bersih dan sehat pada masyarakat
No Indikator Kinerja Utama Sat Target Realisasi %
2013 2014 1 Rata rata Angka Harapan Hidup
pertahun /kh 72.4 72,6 72,92 100,58
2 Rata Rata Angka Kematian Bayi /kh 8.06 11,95 10,25 127 3 Rata Rata Angka Kematian Ibu /kh 107 120,22 144,31 134,9 4 Rata Rata Angka Kematian Balita /kh 10 13,44 10,90 109
5 Cakupan Desa Siaga Aktif % 100 100 100 100
Rata –Rata capaian kinerja 114,3
Rata – rata capaian kinerja Pemerintah Kabupaten Semarang dalam mewujudkan sasaran pola hidup bersih dan sehat pada masyarakat pada tahun 2014 adalah sebesar 114,3
% atau Sangat Baik Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh capaian 5 indikator kinerja yang telah dapat memenuhi target. Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014,
Angka Kematian Bayi (AKB) di tahun 2014 sebesar 10,25 per 1000 kelahiran hidup.
Angka ini menurun dibandingkan kondisi di tahun 2013 dimana AKB sebesar 11,95 per 1000 kelahiran hidup. Jumlah kasus kematian bayi usia 0-1 tahun di tahun 2014 sebanyak 142 kasus.
Jumlah ini menurun dibandingkan jumlah kematian bayi di tahun sebelumnya, dimana di tahun 2013 jumlah bayi meninggal sebanyak 169 kasus.Dari 142 kasus kematian bayi di tahun 2014, penyebab terbesar adalah BBLR 40,14% dan asfiksia 21,83%, sedangkan sisanya disebabkan penyakit infeksi, aspirasi (tersedak), kelainan kongenital (kelainan bawaan), illeus, diare, pneumonia, dan lain-lain.
Bila dilihat dari umur kematian bayi, terbanyak pada usia 0-7 hari yaitu sebesar 73,94%
(105 bayi), usia 29 hari-1 tahun sebesar 20,42% (29 bayi) dan usia 8-28 hari sebesar 5,63% (8 bayi).
Tabel III.1.c
Data Kematian Bayi Tahun 2014 No Penyebab
Kematian Bayi Jumlah bayi meninggal
berdasarkan usia kematian Jumlah % Penyebab 0-7 hari 8-28 hari 29 hari-1
tahun
1 BBLR 55 2 0 57 40,14
2 Asfiksia 29 2 0 31 21,38
3 Infeksi 4 0 0 4 2,82
4 Aspirasi 6 1 4 11 7,75
5 Kelainan congenital 5 2 0 7 4,93
6 Illeus 0 0 3 3 2,11
7 Diare 0 0 5 5 3,52
8 DBD 0 0 0 0 0
9 Pneumonia 0 0 1 1 0,70
10 Lain-lain 6 1 16 23 16,20
Jumlah 105 8 29 142 100
Prosentase kematian bayi
berdasar usia 73,94 5,63 20,42 100
Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2014
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 36
Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2014 sebesar 144,31 per 100.000 kelahiran hidup.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 dimana AKI di tahun 2013 sebesar 120,22 per 100.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu hamil/bersalin/nifas pada tahun 2014 sebanyak 20 orang dan di tahun 2013 sebanyak 17 orang.Dari 20 kematian ibu, penyebab kematian terbesar adalah kasus perdarahan sebanyak 8 kasus, hipertensi dalam kehamilan 5 kasus, emboli air ketuban 2 kasus, encepalitis 1 kasus, cardiomyopatipost partum1 kasus, Sepsis 1 kasus, penyakit jantung 1 kasus dan infeksi an aerob 1 kasus.
Dalam rangka peningkatan kesehatan ibu, beberapa upaya telah dilakukan di tahun 2014, antara lain:
a. Peningkatan kualitas SDM dengan mengikutsertakan bidan pada Pelatihan Penanganan Gawat Darurat Obstetri dan Neonatal, Pelatihan Asuhan Persalinan Normal, dan Pelatihan Clinical Instructur.Serta peningkatan kompetensi bidan dengan kasus kematian ibu melalui magang di Rumah Sakit Umum Daerah.
b. Peningkatan Manajemen dengan melaksanakan jejaring ibu bayi selamat dan Maternal Mortality Meeting (M3) di tingkat kecamatan dan tingkat desa.Jejaring ibu bayi selamat adalah suatu kegiatan pelayanan kesehatan yang melibatkan semua elemen terkait untuk menyelamatkan ibu hamil, bersalin, dan nifas, beserta bayinya dengan membentuk kemitraan. Strategi yang diterapkan dalam kegiatan jejaring ibu bayi selamat antara lain mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada secara komprehensif, efektif, dan efisien, mengoptimalkan peran seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung program, dan membangun kemitraan dengan membentuk jejaringkomunikasidan informasi yang efektif- efisien. Dalam jejaring ibu bayi selamat kegiatan yang dilaksanakan antara lain deteksi dini ibu hamil resiko tinggi, perencanaan persalinan utamanya yang beresiko, penanganan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal, menyusun dan memberlakukan protap rujukan, menentukan jejaring rujukan dengan rumah sakit, danmemanfaatkan teknologi informasi untuk pelaksanaan program.
Angka Kematian Balita (AKABA) umur 0-5 tahun di tahun 2014 sebesar 10,99 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menurun jika dibandingkan tahun 2013 dimana AKABA di tahun 2013 sebesar 13,44 per 1.000 kelahiran hidup.Jumlah balita0-5 tahun yang meninggal di tahun 2014 sebanyak 151 balita, menurun dibandingkan tahun 2013 dimana jumlah balita meninggal sebanyak 190 balita. Sedangkan kematian balita berumur 1-5 tahun yang meninggal pada tahun 2014 sebanyak 9 balita, menurun dibandingkan tahun 2013 sebanyak 20 balita. Penyebab kematian 9 balita usia 1-5 tahun antara lain: diare 1 balita, gizi buruk 1 balita, gizi buruk dengan down syndrome 1 balita, leukemia 1 balita, kejang demam 1 balita, kecelakaan 1 balita, kelainan jantung bawaan 2 kasus dan kanker lidah 1 balita.
4. Sasaran 4 :
Meningkatnya sanitasi lingkungan dan terpenuhinya kebutuhan air bersih
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Prosentase rumah tangga yang
menggunakan air bersih % 90,01 89,75 82,90 92,10 2 Persentase penduduk berakses air minum % 83,12 79,29 82,9 99,74
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 37
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
3 Cakupan Lingkungan Sehat dan aman yang didukung dengan Prasarana, Sarana dan Utilitas umum
% 73,25 73,25 75,58 103,18
4 Persentase rumah tinggal bersanitasi % 76.23 47,60 76,88 100,85 5 Persentase luas permukiman yang tertata % 49,5 48,64 50,40 97,94
Rata – Rata Capaian Kinerja 98,77
Rata – rata capaian kinerja pada sasaran Meningkatnya sanitasi lingkungan dan terpenuhinya kebutuhan air bersih pada tahun 2014 adalah sebesar 98,77 % atau Cukup Baik. Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh capaian 5 indikator kinerja yang telah dapat memenuhi target. Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014, peningkatnya sanitasi lingkungan dan terpenuhinya kebutuhan air bersih. Prosentase rumah tangga bersanitasi mencapai 76,88% mengalami kenaikan sebesar 29,28% dari tahun 2013 bahkan melebihi target yang ditetapkan yaitu sebesar 76,23%. Prosentase penanganan sampah juga mengalami kenaikan dari 79,55% pada tahun 2013, tahun 2014 mencapai 80,96%.
Terkait Cakupan sarana air bersih mengalami penurunan dari tahun 2013 sebesar 88,58%, menjadi 81,79% di tahun 2014. Angka ini belum memenuhi target 92% dan menurun capaiannya apabila dibandingkan cakupan tahun 2013. Hal ini disebabkan karena:
a. Sebaran sarana air bersih di Kabupaten Semarang belum merata;
b. Masih banyak daerah-daerah karena letak geografis yang sulit meningkatkan cakupan air bersihnya (Kecamatan Suruh, Bancak, Bringin dan Susukan);
c. Banyak bangunan sarana air bersih yang sudah tua dan berlumut sehingga menyebabkan kualitas air menurun (air menjadi berbau).
Cakupan pengawasan sanitasi Tempat Tempat Umum (TTU), industri, Tempat Pengelolaan Makanan (TPM), Tempat Penyimpanan dan Pengelolaan Pestisida (TP3) mengalami peningkatan dari tahun 2013 sebesar 80,45%, menjadi 88,30% di tahun 2014. Angka tersebut sudah memenuhi target yang diharapkan.
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Meningkatnya sanitasi lingkungan dan terpenuhinya kebutuhan air bersih adalah sebagai berikut :
a. Kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih, nyaman dan layak huni.
b. Komunikasi, kerjasama dan koordinasi antara beberapa pihak yang terkait (pemerintah, pelaksana dan warga masyarakat) terhadap program yang dilaksanakan
5. Sasaran 5 :
Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui, anak balita serta anak sekolah dasar No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Prosentase balita gizi buruk mendapat
perawatan % 100 100 100 100
2 Persentase pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga miskin
% 100 0 0 0
Rata – Rata Capaian Kinerja % 50
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 38
Rata Rata Capaian Kinerja Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui, anak balita serta anak sekolah dasar pada tahun 2014 sebesar 50 % atau Kurang Baik.
Keberhasilan capaian kinerja tersebut ditunjukkan oleh capaian 2(dua) Indikator Kinerja yang satu telah memenuhi target sedangkan lainnya belum.
Faktor-faktor pendukung tercapainya sasaran Terpenuhinya kebutuhan gizi ibu hamil dan menyusui, anak balita serta anak sekolah dasar pada tahun 2014 antara lain:
Penurunan Angka Kematian Balita disebabkan karena meningkatnya pelayanan kesehatan anak balita sesuai standar dengan menggunakan algoritma MTBS yang berdampak terdeteksinya penyakit infeksi dan penyakit menular secara dini.
Meskipun kategori capaian kinerja IKU Pemerintah Daerah sangat baik, namun masih terdapat 1 indikator kinerja yang belum dapat memenuhi target, yaitu Persentase pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 741 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal yang kemudian dijabarkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828 Tahun 2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota, Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin adalah pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan dari keluarga miskin selama 90 (Sembilan puluh) hari. Makanan pendamping ASI yang dimaksud dalam indikator SPM ini adalah Makanan Pendamping ASI pabrikan berupa bubuk instan untuk bayi usia 6-11 bulan dan biskuit untuk anak usia 12-24 bulan. Di Kabupaten Semarang belum ada pengadaan Makanan Pendamping ASI pabrikan sehingga untuk indikator Persentase pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin capaiannya adalah 0 % Makanan pendamping ASI yang diberikan di wilayah Kabupaten Semarang berbentuk Makanan Pendamping ASI lokal.
5. Sasaran 6 :
Terwujudnya norma keluarga kecil yang berkualitas dan sejahtera
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Rasio Akseptor Keluarga
Berencana % 107 83,42 80,09 74,85
2 Rata rata jumlah anak per
keluarga Per klrg 3,1 3,34 3,37 108,71
3 Prosentase Keluarga Sejahtera Kat. I % 22 24,88 18,63 84,68 4 Prosentase Keluarga Pra
Sejahtera % 20 22,76 25,63 78,03
Rata Rata Capaian 86,6
Rata-rata capaian kinerja IKU yang menggambarkan sasaran strategis Pemerintah Daerah terkait urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera adalah sebesar 86,6 % atau dalam kategori Baik. Keberhasilan capaian kinerja tersebut ditunjukkan oleh capaian rata-rata target terhadap sasaran dalam tujuan 1 meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat pada sasaran 1.6 yaitu terwujudnya norma keluarga kecil yang berkualitas dan sejahtera dimana hanya 1 indikator yang dapat memenuhi target. Capaian kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014, Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) tahun 2014 sejumlah 186.112. Peserta KB aktif
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 39
sejumlah 154.788 peserta, sedangkan jumlah peserta KB baru mengalami penurunan yang sebelumnya tahun 2013 berjumlah 24.075 pada tahun 2014 menjadi 23.513 akseptor. Total Fertility Rate (TFR) tahun 2013 sebanyak 1,95 pada tahun 2014 menjadi 1,95.
Pada tahun 2014 telah ditetapkan sasaran peserta KB baru sebesar 29.360 akseptor, sedangkan realisasinya jauh dari target yaitu hanya mencapai 23.513 akseptor atau 80,09%. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab rendahnya capaian akseptor baru diantaranya:
a. Terbatasnya frekuensi pelayanan KB di KKB, dalam hal ini Puskesmas sebagai pemberi pelayanan KB membatasi jumlah pelayanan MKJP dalam 1 minggu hanya memberi pelayanan KB sebanyak 1 hari saja. Selain itu puskesmas juga membatasi untuk pelayanan MKJP maksimal 5 orang dalam 1 hari.
b. Diterapkannya SOP standard pelayanan KB yang bermutu, sehingga pelayanan KB berorientasi kepada kualitas pelayanan dan bukan pada kuantitas pelayanan.
c. Tidak dianjurkannya pelayanan KB yang bersifat massal (safari KB).
Sedangkan terkait Kondisi kependudukan saat ini, jumlah keluarga di Kabupaten Semarang tahun 2014 sebanyak 286.016 KK terdiri dari pra KS berjumlah 73.465 KK sedangkan di tahun 2013 keluarga pra sejahtera sebesar 64.201 atau terjadi peningkatan sebesar 9.264 KK atau sebesar 14,42%. Keluarga Sejahtera I berjumlah 53.114 KK,Keluarga Sejahtera II 69.526 KK. Keluarga Sejahtera III 83.716 KK, Keluarga Sejahtera III plus 6.195 KK.
Berdasarkan hasil pendataan tersebut terlihat bahwa 25,63% dari jumlah KK yang ada masih memerlukan penanganan tersendiri,sesuai dengan kewenangan menangani masalah kemiskinan. Terjadinya peningkatan jumlah keluarga Pra sejahtera pada tahun 2014 dimungkinkan disebabkan oleh beberapa hal antara lain variabel pada sebagaian luas lantai rumah masih tanah, pasangan usia subur yang mempunyai 2 (dua) anak lebih tidak menggunakan alat kontrasepsi dan luas lantai rumah paling kurang 8 m2 untuk setiap penghuni rumah. Sesuai dengan konsep pendataan keluarga (21 variabel penentu tahapan keluarga) apabila salah satu saja variabel dalam pentahapan keluarga sejahtera tidak terpenuhi maka akan jatuh pada tahapan yang lebih rendah
Tabel III.1.d
Tahapan Keluarga Sejahtera Tahun 2013-2014
No Uraian 2013 2014
KK % KK %
1 Keluarga Pra Sejahtera 64.201 22,76 73.465 25,69 2 Keluarga Sejahtera I 70.204 24,89 53.114 18,57 3 Keluarga Sejahtera II 57.380 20,34 69.526 24,30 4 Keluarga Sejahtera III 82.662 29,30 83.716 19,27 5 Keluarga Sejahtera III plus 7.649 2,71 6.195 2,17 Jumlah 282.096 100,00 286.016 100,00 Sumber:Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan tahun 2014
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran pemerintah daerah terkait urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera adalah sebagai berikut :
1. Komitmen dari seluruh jajaran mulai dari pengambil kebijakan sampai lini lapangan dalam penggerakan program Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera semakin meningkat.
2. Peran serta Institusi Masyarakat Pedesaan khusunya, Pembantu Pembina KB Desa (PPKBD), Sub PPKBD, Kelompok KB Desa, PIK Remaja, Kelompok Tri Bina plus maupun
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 40
unsur masyarakat lainnya.
3. Dukungan sarana dan prasarana operasional.
Disamping keberhasilan tersebut, masih terdapat indikator kinerja yang belum dapat memenuhi target, yaitu Rasio Akseptor KB yang capaian kinerjanya sebesar 74,85% dari target sebesar 107%. Tidak maksimalnya capaian indikator kinerja tersebut karena masih banyaknya pasangan usia subur yang tidak ber KB karena alasan ingin anak segera dan ingin anak lagi tetapi ditunda.
Apabila dibandingkan dengan capaian kinerja IKU pada tahun 2013 maka capaian kinerja IKU pada tahun 2014 mengalami penurunan karena ada beberapa IKU yang tidak tercapai.
Apabila dibandingkan dengan target kinerja akhir tahun periode RPJMD, maka beberapa capaian kinerja IKU telah melampaui/telah dapat memenuhi, yaitu prosentase keluarga sejahtera I (satu). Namun, dengan memperhatikan kecenderungan kenaikan capaian kinerja IKU 2014 maka target kinerja akhir tahun periode RPJMD IKU 2015 diperkirakan dapat tercapai sedangkan apabila dibandingkan dengan pencapaian SPM Pelayanan Kesehatan pada indicator peserta KB aktif sebesar 70 % pada Tahun 2015 maka capaian Pemerintah Kabupaten semarang tahun 2014 telah melampaui target dengan capaian kinerja sebesar 83,17 % atau 154.788 Peserta Aktif dari 186.112 Pasangan usia subur.
6. Sasaran 7:
Terwujudnya sarana dan prasarana kesehatan di wilayah selatan No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian tujuan 2014 (%)
1 prosentase tahapan pendirian Rumah
Sakit % 80 0 0 0
Rata – Rata Capaian Kinerja 0
Rata-rata capaian kinerja IKU yang menggambarkan sasaran strategis Pemerintah Daerah terkait Terwujudnya sarana dan prasarana kesehatan di wilayah selatan sebesar 0 % atau tidak berhasil Ketidakberhasilan capaian kinerja tersebut faktor – faktor sebagai berikut : a. Belum adanya studi kelayakan untuk pembangunan rumah sakit di Tengaran.
b. Belum adanya dokumen perencanaan yang memuat :
1) Rencana anggaran yang dibutuhkan untuk pembangunan termasuk kelengkapan sarana prasarana rumah sakit yang memuat : besarnya anggaran yang dibutuhkan dan sumber anggaran yang akan digunakan;
2) Tatacara rekruitmen SDM Rumah Sakit;
3) Rencana penganggaran baik gaji pegawai maupun belanja operasionalnya.
Dengan latar belakang permasalahan yang dikemukan diatas pada tahun 2014, pemerintah kabupaten semarang menupayakan untuk memenuhi pelayanan kesehatan di wilayah selatan, dengan mengembangkan sarana pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas tengaran sebagai puskesmas plus atau diharapkan setara dengan Rumah sakit type D dengan kelengkapan fasilitas yang memadai antara lain :
a. Ketersediaan ruang pelayanan dan Ruang rawat inap yang lebih lengkap dengan gedung menjadi 2 lantai.
b. Ketersediaan alat alat medis penunjang pelayanan kesehatan yang lebih lengkap.
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 41
c. Peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan penambahan jumlah dokter spesialis yang bertugas di puskesmas tersebut.
Sehingga walaupun secara penganggaran atau pencapaian target RPJMD,progress indicator kinerja utama dimaksud tidak tercapai tetapi pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan masyarakat untuk wilayah selatan diharapkan dapat dipenuhi dengan kinerja diatas.
TUJUAN 2
Mewujudkan masyarakat cerdas,Kreatif,berbudaya,berkarakter dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi dan Ketaqwaan
1. Sasaran 1 :
Meningkatnya akses pelayanan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing pada semua jenjang pendidikan
R
ata rata capaian kinerja IKU Pemerintah Daerah dimana pengumpulan data kinerjanya menjadi tanggungjawab Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Semarang adalah sebesar 106,77% atau sangat baik. Keberhasilan capaian kinerja tersebut ditunjukkan oleh capaian 23 IKU yang memenuhi target. Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014 pelayanan pendidikan di Kabupaten Semarang secara umum telah melampaui dari target yang ditentukan.
Tercapainya APK APM yang lebih dari 100% menunjukkan bahwa kesadaran untuk berpendidikan di masyarakat tinggi. Tercapainya APK PAUD 47,18% dapat diartikan bahwa sejumlah 47,18% dari jumlah penduduk usia 0-6 tahun telah terlayani di lembaga Pendidikan Anak usia Dini (PAUD. APM SD sejumlah 95,15% menunjukkan bahwa sejumlah 95,15%
penduduk berusia 7-12 tahun telah terlayani di Sekolah Dasar, APM SMP sebesar 81,80%
menunjukkan bahwa sejumlah 81,80% dari penduduk usia 13-15 telah terlayani di jenjang SMP, sedangkan APM SMA/SMK sejumlah 40,10 % menunjukkan bahwa sejumlah 40,10%
No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014 Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Angka Partisipasi PAUD % 39.36 44.90 47.18 119.87 2 Angka Partisipasi Murni (APM)
SD/MI % 95.11 95.09 95.15 100.04
SMP/MTs % 81.78 81.75 81.80 100.02
SMA/SMK/MA % 39.90 40.05 40.10 100.50
3 Angka Partisipasi Kasar (APK)
SD/MI % 104.95 105.02 105.00 100.05
SMP/MTs % 96.00 95.95 96.00 100.00
SMA/SMK/MA % 51.00 57.32 58.64 114.98
4 Angka Putus Sekolah
SD/MI % 0.11 0.10 0.10 110.00
SMP/MTs % 0.45 0.51 0.41 109.76
SMA/SMK/MA % 0.75 0.85 0.75 100.00
5 Angka Melanjutkan dari SD/Mi ke
SMP/MTs % 91.50 92.53 91.66 100.17
Angka Melanjutkan dari SMP/MTs
ke SMA/MA/SMK % 60.80 74.88 75.11 123.54
Angka Melek Huruf usia > 15 th % 99.97 99.88 99.97 100.00
Rata-rata Capaian Kinerja IKU 106.77
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 42
penduduk usia 16-18 telah terlayani di jenjang pendidikan menengah. Angka Kelulusan dari jenjang SD sampai SMA/SMK telah mencapai di atas 90%, dapat diartikan bahwa di atas 90%
peserta didik lulus sekolah di semua jenjang pendidikan.
angka putus sekolah tahun 2014 dicapai lebih tinggi dari yang ditargetkan. Pada jenjang SD/MI tercapai sebesar 0,10 atau 106,92% dibandingkan dengan target sebesar 0,11 dan jenjang SMP/MTs sebesar 0,41 atau 111,08% dari target 0,45 karena adanya program pemberian beasiswa untuk siswa miskin/tidak mampu serta program pemberian BOS dan BOSDA untuk semua siswa. Demikian pula pada jenjang SMA/MA/SMK angka putus sekolah menunjukkan tercapainya target tahun 2014 sebesar 0,75 atau 100% dari target 0,75 karena mulai tahun 2014 pemberian Dana Operasional Sekolah (BOS) sudah dilaksanakan penuh dan adanya program bea siswa kurang mampu baik dari APBD kabupaten, bantuan Provinsi dan APBN.
Angka melanjutkan SD/MI ke SMP/MTs sejumlah 91,66 menunjukkan bahwa sejumlah 91,66% lulusan SD/MI menerukan sekolah ke jenjang SMP/MTs. Angka melanjutkan SMP/MTS ke SMA/SMK sejumlah 75.10 menunjukkan bahwa sejumlah 75,10% lulusan SMA/MTs melanjutkan ke jenjang SMA/SMK.
Angka melek hurus sebesar 99,97 mencerminkan bahwa sejumlah 99, 97% penduduk usia di atas 15 tahun bisa membaca dan menulis.
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Mewujudkan masyarakat cerdas, kreatif, berbudaya, berkarakter dan menguasai ilmu pengetahuan tehnologi dan ketagwaan, adalah sebagai berikut :
a. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan dan kebudayaan semakin meningkat b. Adanya Dana Alokasi khusus Bidang Pendidikan untuk SD, SMP, SMA/SMK pada tahun
2014 untuk rehabilitasi ruang kelas, pemenuhan sarana prasarana dan peningkatan mutu pendidikan sejumlah Rp. 27.526.350.000 sangat mendukung proses pembangunan pendidikan di Kabupaten Semarang
c. Adanya dana bantuan keuangan bidang pendidikan sejumlah Rp. 14.236.215.000 untuk Program Pendidikan Anak Usia Dini, program Wajib Belajar Sembilan Tahun, Program Pendidikan Menengah, program Pendidikan Non Formal, Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Program Manajemen Pelayanan Pendidikan sangat mendukung pelaksanaan kegiatan pelayanan pendidikan
d. Adanya Program Bantuan Operasional Sekolah untuk siswa SD, SMP, SMA dan SMK sangat membantu operasional kegiatan belajar mengajar di sekolah.
e. Adanya program bea siswa kurang mampu baik dari APBD kabupaten, bantuan Propinsi dan APBN.
Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan pendidikan di Kabupaten Semarang mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu. Dari 33 indikator sebanyak 5 indikator mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan :
a. Menurunnya APK SD sebesar 0,02 ini dikarenakan jumlah siswa SD/MI di Kabupaten Semarang pada tahun pelajaran 2014 mengalami penurunan sebanyak 518 siswa atau 0,53%
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 43
b. Untuk jenjang SMA/SMK ada penurunan angka kelulusan sebesar 0,01 dari tahun sebelumnya karena adanya kebijakan nasional bahwa prosentase soal yang dikatagorikan sulit naik 10%
c. Angka ketersediaan sekolah SMP/MTs mengalami penurunan sebesar 0,02 karena tiadk adanya penambahan sekolah baru, sedangkan jumlah penduduk usia 13-15 tahun mengalami peningkatan
d. Angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs mengalami penurunan sebesar 9,87 dikarenakan jumlah siswa baru Tk 1 berkurang sebanyak 168 siswa, sedangkan jumlah lulusan SD/MI hanya mengalami penurunan sebanyak 34 siswa
Apabila dibandingkan dengan capaian indikator kinerja tingkat Propinsi dan nasional, masih ada beberapa indikator yang masih dibawah capaian tingkat Propinsi dan nasional sebagai berikut :
Tabel III.2.a
Capaian Kinerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dibandingkan dengan Realisasi Provinsi dan Nasional
A
ss um be r da t a : Di na s
Psumber dinas pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2014
apabila dibandingkan dengan capaian tingkat Propinsi maupun nasional beberapa indikator lebih tinggi, ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan dai Kabupaten Semarang sudah cukup baik. APK disemua jenjang pendidikan lebih rendah dibandingkan capaian Propinsi dan Nasional. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan masih perlu ditingkatkan.
Angka Partisipasi PAUD selama 4 (empat tahun ) terakhir mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Ini berarti bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini mengalami peningkatan. Rata-rata capaian kinerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam Angka Pertisipasi PAUD sejumlah 119,87% atau sangat baik. Keberhasilan tersebut ditunjukkan
Urusan Dan Indikator Sat Capaian 2014
Capaian Prop. Jateng tahun 2013
Capaian Nasional tahun 2013 A. Pendidikan
1 Angka Partisipasi PAUD % 47.18 70.55 68.10
2 Angka Partisipasi Murni (APM)
SD/MI % 95.15 98.60 86,03
SMP/MTs % 81.80 65,10
SMA/SMK/MA % 40.10
3 Angka Partisipasi Kasar (APK)
SD/MI % 105.00
SMP/MTs % 96.00 100.50 77,58
SMA/SMK/MA % 58.64 70.00 81.26
4 Angka Putus Sekolah
SD/MI % 0.10 0.12 0.47
SMP/MTs % 0.41 0.22 1.57
SMA/SMK/MA % 0.75 0.07
5 Angka Melanjutkan dari SD/Mi ke
SMP/MTs % 91.66 99.50
6 Angka Melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/MA/SMK
% 75.11 93.17
7 Angka Melek Huruf usia > 15 th % 99.97 99.86 95.97
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 44
oleh capaian APK PAUD yang telah dapat memenuhi target. Capaian kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014 sejumlah 47,18% penduduk usia 0-6 tahun telah terlayani di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini.
2. Sasaran 2 :
Meningkatnya jumlah dan kualitas pendidikan baik formal maupun non formal No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Prosentase Ruang kelas sekolah dasar yang sesuai standar ketentuan
% 82.23 95.57 91.18 110.88 2 Prosentase Ruang kelas Sekolah
menengah yang sesuai standar ketentuan % 89.75 86.6 97.41 108.53 3 Prosentase Ruang kelas sekolah menengah
atas dan Kejuruan yang sesuai standar ketentuan
% 99.04 99.97 99.96 100.93
4 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah
SD/MI % 0.78 0.74 0.75 96.15
SMP/MTs % 0.31 0.30 0.28 90.32
SMA/SMK/MA % 0.15 0.15 0.15 100.00
5 Prosentase Angka Kelulusan
- SD/MI % 99.97 100.00 100 100.03
- SMP/MTs % 99.60 99.91 99.99 100.39
- SMA/SMK/MA % 99.04 99.97 99.96 100.93
Rata – Rata Capaian Kinerja 100.9
Rata – rata capaian kinerja dalam Meningkatnya jumlah dan kualitas pendidikan baik formal maupun non formal adalah sebesar 100.9 % atau SANGAT BAIK. Hal tersebut ditunjukkan oleh capaian 5 (lima) indikator kinerja yang telah dapat memenuhi target.
Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014, capaian ruang kelas sesuai standar mencerminkan bahwa kondisi ruang kelas di semua jenjang pendidikan lebih dari 90% telah memenuhi standar.
Sedangkan untuk angka kelulusan Pendidikan Khusus mencapai 100% atau kategori sangat baik. Dilihat dari capaian tahun lalu tidak mengalami penurunan, dilihat dari target RPJMD juga telah memenuhi. Capaian ini sama dengan capaian angka kelulusan Pendidikan Khusus tingkat Propinsi. Hal ini didukung oleh adanya bantuan secara langung dari Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah, seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel III.2.b
Tingkat Kelulusan pada Pendidikan Dasar,Pertama Dan Menengah No. Jenjang /Indikator Kinerja 2012/2013 2013/2014 +/(-)
I. SD/MI/SDLB
1 Tingkat Kelulusan 100 100 0,00
2 Nilai US 7,64 7,48 (0,16)
II. SMP/MTs/SMPLB
1 Tingkat Kelulusan 99.91 99,99 0.08
2 Nilai UN 7.35 6,69 (0,66)
III. SMA/MA/SMK/SMALB
1 Tingkat Kelulusan 99,97 99,96 100
2 Nilai UN 7.65 6,51 (1,14)
Sumber: Dinas Pendidikan & KebudayaanKab Semarang, Tahun 2014
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 45
Dari data tersebut di atas, nilai ujian nasional menunjukkan adanya penurunan pada semua jenjang pendidikan. Untuk jenjang SD/MI,SMP/MTs,SMA/SMK/MA mengalami penurunan karena adanya kebijakan nasional bahwa prosentase soal yang dikategorikan sulit naik 10% dan pernurunan paling besar pada satuan pendidikan SMP Terbuka dan MA sehingga nilai ujian nasional mengalami penurunan.Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya koordinasi lebih intensif dalam peningkatan mutu dengan Kementrian Agama,peran serta antara siswa, guru, orang tua,sekolah serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Meningkatnya jumlah dan kualitas pendidikan baik formal maupun non formal, adalah sebagai berikut :
a. Adanya program Bantuan Operasional Sekolah dari Pemerintah Pusat dan Propinsi yang bertujuan meringankan masyarakat terhadap beban pembiayaan pendidikan sehingga memperluas akses pendidikan dasar.
b. Adanya beasiswa untuk siswa kurang mampu dari Pemerintah Daerah, Propinsi maupun pusat sehingga mampu menekan angka putus sekolah terutama bagi siswa dari keluarga tidak mampu.
Tabel III.2.c
Capaian Kinerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Dibandingkan dengan Realisasi Provinsi dan Nasional
3. S a
saran 3 :
Tersedianya tenaga pendidikan dan tenaga kependididkan yang memenuhi kompetensi yang memiliki intellengence quotient (daya tangkap),emotional quotient (kecerdasan emosional),spiritual quotient (kecerdasan spiritual)
No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014 Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Guru yang berpendidikan S1/D-IV
TK/RA, SD/MI % 52.00 65.14 73.76 141.85
SMP/MTs % 90.00 88.82 90.37 100.41
SMA/MA/SMK % 97.00 97.43 97.66 100.68
2 Prosentase Guru bersertifikat pendidik
- SD/MI % 72.00 47.74 60.83 84.49
- SMP/MTs % 74.00 58.95 60.49 81.74
- SMA/SMK/MA % 78.00 38.46 38.51 49.37
3 Jumlah tenaga pendidik yang
mengikuti diklat org 6.901 4.210 5.229 75,78
Rata – Rata Capaian Kinerja 72,8
Urusan Dan Indikator Sat Capaian 2014
Capaian Prop.
Jateng tahun 2013
Capaian Nasional tahun
2013 A. Pendidikan
1 Angka Kelulusan
SD/MI % 100.00 99.98 99.50
SMP/MTs % 99.99 99.77
SMA/SMK/MA % 99.96 99.86
2 Ruang kelas SD/MI sesuai standar % 91.18 94.78 3 Ruang kelas SMP/MTs sesuai standar % 97.41 96.79 4 Ruang kelas SMA/SMK sesuai standar % 97.98 90.00
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 46
Rata – rata capaian kinerja dalam Tersedianya tenaga pendidikan dan tenaga kependididkan yang memenuhi kompetensi yang memiliki intellengence quotient (daya tangkap),emotional quotient (kecerdasan emosional),spiritual quotient (kecerdasan spiritual) adalah sebesar 72,8 % atau Kurang . Hal tersebut dilihat dari capaian 3 (dua) indikator kinerja yang tidak dapat memenuhi target. Capaian kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014,
Jumlah guru berkualifikasi pendidik S1/DIV memenuhi target RPJMD. Guru TK/RA, SD/MI berkualifikasi S1/D4 sebanyak 73,76% dapat di artikan bahwa 73,76% dari 8.688 guru TK/RA, SD/MI atau sejumlah 6.408 guru telah berkualifikasi S1/D4, untuk SM/MTS sebesar 90,37% dari 2.689 guru atau sejumlah 2.430 guru telah berkualifikasi S1/D4 dan untuk jenjang SMA/MA/SMK sejumlah 97,66% dari 2.006 guru atau sejumlah 1.959 guru telah berpendidikan S1/D4
Apabila dibandingkan dengan capaian guru berkualifikasi pendidik S1/D4 Kabupaten Semarang lebih tinggi daripada capaian propinsi dan nasional. Tercapainya indikator ini didukung dengan adanya bantuan keuangan untuk guru yang belum memenuhi kualifikasi S1/DIV. Apabila dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, indikator-indikator sasaran ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya tetapi apabila dibandingkan dengan target akhir tahun RPJMD indikator untuk kualifikasi pendidik S1/D4 telah terlampaui.
Sedangkan capaian angka sertifikasi pendidik untuk jenjang SD sejumlah 3.267 dari 5.371 guru atau 60, 83% telah bersertifikat pendidik, untuk jenjang SMP sejumlah 1.225 dari 2.025 guru atau 60.49% telah bersertifikat pendidik, dan untuk jenjang SMA/SMK sejumlah 737 dari 1.914 guru atau 38.51% telah bersertifikat pendidik dilihat dari capaian tersebut,total 9310 orang Jumlah tenaga pendidik yang telah mengikuti diklat peningkatan kompetensi guru pada tahun 2014 adalah 5.229 atau hanya 56,1 % namun capaian ini meningkat sebesar 1.019 guru atau 24,2 % apabila dibandingkan dengan capaian tahun 2013.
Sedangkan untuk pencapaian SPM Pendidikan yang menargetkan setidaknya terdapat 35 % dari keseluruhan guru telah memiliki sertifikat kependidikan telah melampui target.
Disamping keberhasilan tersebut, namun masih terdapat indikator kinerja yang belum dapat memenuhi target, yaitu Prosentase Guru bersertifikat pendidik SMA/SMK/MA yang capaian kinerjanya sebesar 43,37% dari target sebesar 78,00%. Tidak maksimalnya capaian indikator kinerja tersebut sebagaimana seperti yang ditargetkan RPJMD karena proses sertifikasi tenaga pendidik yang sebelumnya dengan metode portofolio, apabila tidak lulus baru mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru) namun saat ini semua harus melalui metode PLPG dan didahului dengan uji kompetensi awal (UKA) secara online, sehingga jumlah guru yang lulus sertifikasi tidak bisa sesuai dengan target namun hal ini lebih disebabkan karena kurangnya sosialisasi terkait penerapan sistem penilaian baru kepada pada peserta sertifikasi. Dan proses sertifikasi setiap tahun metodenya semakin sulit sehingga menuntut peningkatan kompetensi dan kapasitas sumber daya manusia yang mampu beradaptasi mengikuti perkembangan dan tuntutan dunia pendidikan secara aktif
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 47
4. Sasaran 4 :
Tersedianya sekolah sekolah kejuruan yang sinergi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industry
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Prosentase kurikulum pendidikan kejuruan
yang berbasis industri % 100 100 100 100
2 Prosentase ketersediaan laboratorium
industri pada persekolahan % 100 95,1 95,1 95,1
Rata – Rata Capaian Kinerja 97,5
Rata – rata capaian kinerja dalam adalah sebesar 97,5 % atau baik Hal tersebut ditunjukkan oleh capaian 2 (dua) indikator kinerja yang telah dapat memenuhi target. Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014, dari 41 Sekolah Menengah Kejuruan telah menerapkan kurikulum pendidikan berbasis industri namun hanya 39 sekolah menengah Kejuruan yang memiliki laboratorium industri, namun apabila dibandingkan dengan tahun 2013, capaian ini meningkat 3 sekolah atau 8,3 % dan 13,8 % untuk capaian SMK yang sudah menerapkan kurikulum berbasis industri.
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran tersedianya sekolah sekolah kejuruan yang sinergi dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan respon Sekolah Menengah Kejuruan sehingga mempunyai prospektif sebagai pendidikan yang mampu diberdayakan dan berkelanjutan.
2. Terwujudnya pembangunan sistem manajemen mutu dan peningkatan standar kualifikasi lulusan;
3. Peningkatan kerjasama dengan pihak industri untuk bisa terlibat dalam evaluasi kualitas pendidikan;
4. Meningkatnya fasilitasi dalam pemberian pelatihan dan penngkatan kuaitas serta kompetensi tenaga pendidik
5. Sasaran 5 :
Tersedianya tenaga kerja terampil dan berkualitas sesuai kebutuhan serta memiliki daya saing No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Prosentase Tenaga Kerja yang Mendapatkan Pelatihan Berbasis Kompetensi
%
70 63 70 100
Rata – Rata Capaian Kinerja 100
Rata – rata capaian kinerja Pemerintah Kabupaten Semarang dalam Tersedianya tenaga kerja terampil dan berkualitas sesuai kebutuhan serta memiliki daya saing pada tahun 2014 adalah sebesar 100 % atau baik. Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh capaian satu indikator kinerja yang telah dapat memenuhi target. Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014, dari 46 orang pendaftar pelatihan dengan basis masyarakat hanya 32 orang atau 70 % yang dapat diterima mengikuti pelatihan kerja, capaian ini meningkat dibandingkan
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 48
dengan realisasi jumlah pendaftar yang diterima mengikuti pelatihan pada tahun 2013 yang sebesar 63 % namun dari segi jumlah peserta berkurang karena hanya mampu mengakomodir 32 orang, jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan tahun 2013 dengan kuota 100 orang,berikut merupakan daftar capaian dinas sosial tenaga kerja dan transmigrasi kabupaten semarang dalam memfasilitasi peningkatan kualitas sumber daya ketenagakerjaan melalui pelatihan :
Tabel III.2.d
Jumlah tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan Tahun Tenaga kerja yang
dilatih
Pendaftar pelatihan tenaga kerja
2011 324 540
2012 368 600
2013 100 160
2014 32 46
Sumber dinas sosial tenaga kerja dan transmigrasi tahun 2014
Selama Tahun 2014 telah dilaksanakan pelatihan-pelatihan dalam rangka menyediakan tenaga kerja yang kompeten dan produktif sesuai dengan pasar kerja nasional dan luar negeri sebagaimana tabel berikut:
Tabel III.2.e
Jenis Dan Jumlah Peserta Pelatihan Yang Dilaksanakan Dinas
No Pelatihan Ketrampilan Satuan 2013 2014
1 Menjahithigh speed Orang 60 72
2 Mekanik sepeda motor Orang 100 0
3 Mekanik mobil Orang 0 0
4 Las listrik/karbit Orang 40 0
5 Bordir Orang 20 20
6 Sablon Orang 40 0
7 Potong rambut Orang 0 0
8 Pembuatan rambut palsu/Wig Orang 20 40
9 Aneka kerajinan (pembuatan boneka) Orang 0 0
10 Tata rias pengantin Orang 0 0
11 Pembuatan jamur Orang 0 20
12 Aneka makanan Kecil Orang 0 0
13 Service HP Orang 0 20
Sumber dinas sosial tenaga kerja dan transmigrasi tahun 2014
Dengan melihat tabel diatas bahwa jumlah pelatihan-pelatihan yang dilaksanakan pada Tahun 2014 ada beberapa pelatihan yang mengalami peningkatan dibanding tahun 2013 contohnya pelatihan ketrampilan menjahit high speed, pelatihan pembuatan rambut palsu/wig, pelatihan pembuatan jamur dan Service HP. Hal ini yang banyak diminati oleh masyarakat Kabupaten Semarang
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Tersedianya tenaga kerja terampil dan berkualitas sesuai kebutuhan serta memiliki daya saing adalah sebagai berikut
a. Peningkatan sarana prasarana pelatihan kerja yang memadai.
b. Pemenuhan instruktur kerja yang berkompeten dibidangnya.
c. Peningkatan kualitas materi pelatihan melalui kerjasama aktif dengan perusahaan perusahaan serta sektor usaha yang membutuhkan tenaga kerja
Namun, dengan memperhatikan kecenderungan kenaikan capaian kinerja IKU Prosentase
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 49
Tenaga Kerja yang Mendapatkan Pelatihan Berbasis Kompetensi maka target kinerja akhir tahun periode RPJMD dan SPM tingkat nasional Bidang ketenagakerjaan sebesar 75 % diperkirakan indikator kinerja Prosentase Tenaga Kerja yang Mendapatkan Pelatihan Berbasis Kompetensi dapat tercapai karena pada akhir tahun 2014 capaian kinerja tersebut sudah mencapai 70 %.
6. Sasaran 6 :
Tumbuhnya sikap dan perilaku kewirausahaan masyarakat sehingga mampu menciptakan lapangan kerja.
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014 Realisasi Capaian (%) 2013 2014
1 Jumlah industri Rumah Tangga 10.368 10.368 10.368 101 2 Jumlah Industri Kecil Menengah 1.505 1.505 1.531 100 3 Jumlah Tenaga Kerja Sektor
Industri 102.534 102.534 102.864 100.3
Rata – Rata Capaian Kinerja 100
Rata – rata capaian kinerja Pemerintah Daerah dalam Tumbuhnya sikap dan perilaku kewirausahaan masyarakat sehingga mampu menciptakan lapangan kerja pada tahun 2014 adalah sebesar 100% atau baik Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh capaian 3 (tiga) indikator kinerja yang telah dapat memenuhi target. Keberhasilan kinerja tersebut mencerminkan bahwa pada tahun 2014, sebagai upaya menumbuhkan sikap dan perilaku kewirausahaan masyarakat, jumlah industri kecil Menengah di kabupaten semarang bertambah 26 unit dibandingkan dengan ketersediaanya pada tahun 2013 sedangkan industri kecil menengah tidak mengalami penambahan unit usahanya.
Pertumbuhan industri diukur dari penerbitan Tanda Daftar Industri (TDI) Badan Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu dan pada tahun 2014 ini hanya diterbitkan sebanyak38 buah TDI baru. Pertumbuhan industri di Kabupaten Semarang hanya mencapai 2,30% dari target 6,77% yang telah ditetapkan. Sedangkan bila dibandingkan dengan capaian tahun 2013 yang mencapai 2,60%, pertumbuhan industri Tahun 2014 menurun sebesar 11,56%. Kurangnya pencapaian target pertumbuhan industritahun 2014 ini disebabkan adanya salah satu persyaratan TDIyang harus melampirkan IMB, HO, dan UKL/UPL, sehingga banyak pengusaha Industri Kecil yang tidak mampu mengurus TDI. Padahal sesuai dengan Perda No. 4 Tahun 2004 dan Peraturan Menteri Perindustrian No.41/M-IND/PER/6/2008 Tahun 2008, hal ini tidak dipersyaratkan. Pada Tahun 2014 ini hanya diterbitkan sebanyak38 buah TDI baru.
Tabel III.2.f
Industri Kecil di Kabupaten Semarang
No Jenis Produksi unit
1 Industri Makanan /Minuman 554
2 Industri Kayu 119
3 Industri Logam 98
4 Industri KainTenun 3
5 Industri Gerabah dll 14
6 Industri pengolahan kulit 8
7 Industri Furniture 201
8 Industri percetakan 56
Sumber Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan tahun 2014
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 50
Terkait penyerapan tenaga kerja sektor industri di Kabupaten Semarang meningkat 0,32 % pada tahun 2014 dibandingkan dengan penyerapan tahun 2013 yang terdata sebanyak 102.534 orang tenaga kerja.
Tabel III.2.g
Penyerapan Tenaga Kerja pada sektor Industri di Kabupaten Semarang
No Jenis industri orang
1 Industri Kecil 12.049
2 Industri Besar 72.290
3 Industri Industri Rumah Tangga 18.525 Sumber Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan tahun 2014
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Tumbuhnya sikap dan perilaku kewirausahaan masyarakat sehingga mampu menciptakan lapangan kerja adalah sebagai berikut :
1. Meningkatnya orientasi dalam berinovasi masyarakat untuk menciptakan peluang usaha 2. Fasilitasi dari pemerintah daerah dalam mengembangkan kreatifitas usaha melalui
pembinaan dan pameran produk industi local
3. Pemberian modal usaha bagi industri rumah tangga serta pelaksanaan fasilitasi terhadap pemasaran produk serta kerjasama usaha.
7. Sasaran 7 :
Terwujudnya sinergitas antara pemerintah, lembaga social kemasyarakatan dan keagamaan dalam pendidikan budi pekerti, budaya dan agama
No Indikator Kinerja Utama Sat Target 2014
Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Cakupan ketersediaan sarana dan prasarana
pertunjukan kesenian ged 1 1 1 100
2 Cakupan pembinaan organisasi kesenian grup 1132 1639 1132 100
3 Jumlah Organisasi Kepemudaaan kel 17 27 21 124
4 Jumlah Organisasi Olahraga kel 140 198 154 19
5 Jumlah pencapaian prestasi olahraga tingkat
provinsi Kejua
raan 12 12 12 100
6 Jumlah pencapaian prestasi Olah raga
tingkat nasional Kejua
raan 6 6 6 100
Rata – Rata Capaian Kinerja 90,5
Rata-rata capaian sasaran Terwujudnya sinergitas antara pemerintah, lembaga social kemasyarakatan dan keagamaan dalam pendidikan budi pekerti, budaya dan agama
Tahun 2014 adalah sebesar 90,5% atau Cukup Baik. Capaian kinerja tersebut ditunjukkan oleh 6 capaian IKU.
Faktor – faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Terwujudnya sinergitas antara pemerintah, lembaga social kemasyarakatan dan keagamaan, adalah sebagai berikut :
a. Target kinerja yang dicapai adalah target peran serta OKP/KWP yang mengikuti kegiatan event Nasional, Provinsi dan Kabupaten. Capaian tahun 2014 terjadi peningkatan dari target 17 tercapai 21, hal tersebut karena adanya event di tingkat Provinsi yang banyak
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 51
melibatkan OKP/KWP, jika dibandingkan tahun 2013 terjadi penurunan karena kapasitas kegiatan tahun 2013 lebih banyak dari tahun 2014.
b. Prestasi Olah Kabupaten Semarang mengalami peningkatan dibanding tahun 2013.
Kejuaran yang diikuti antara lain Pekan Olah Raga Pelajar Daerah (POPDA), Pekan Olah Raga Pelajar Nasional (POPNAS), Kejuaraan Daerah (Kejurda) maupun Kejuaran Nasional (Kejurnas) dan kejuaraan Internasional. Jumlah total medali yang diperoleh : Tahun 2013 berjumlah 175 medali, terdiri dari 48 medali emas, 55 medali perak dan 72 medali perunggu. Dibandingkan tahun 2012 yang memperoleh 163 medali, sedangkan Tahun 2014 perolehan medali sebanyak 2014 mengalami kenaikan sebesar 116%
c. Jumlah klub olahraga pada Tahun 2014 mengalami peningkatan sebanyak 850 klub olahraga dibandingkan Tahun 2013, yakni dari 323 meskipun untuk sementara target tahun 2014 belum terpenuhi karena masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk melakukan olah raga terutama olah raga berprestasi, sehingga memperlambat terbentuknya klub-klub berbagai cabang olah raga yang berpengaruh pada kurang terpenuhinya target, akantetapipeningkatanjumlah club sudah sangat pesat karena terstrukturdimasing-masing cabangolah raga mencoba untuk bersosialisasi sampai ke level bawah.
Disamping keberhasilan tersebut, masih terdapat indikator kinerja yang belum dapat memenuhi target, seperti :
a.
Jumlah organisasi Pemuda tahun 2013 menurut data berjumlah 46 organisasi terdiridari 27 Organisasi Kelompok Kepemudaan (OKP) dan 19 Kelompok Wirausaha Pemuda (KWP).Jumlah Organisasi tahun 2014 sebanyak 21 organisasi mengalami penurunan sebanyak 6 organisasi, jika dibandingkan tahun 2013, hal tersebut disebabkankarena OKP belum menyesuaikan Undang-undang nomor 40 tentang Kepemudaan, kurang aktif pindah diluar Kabupaten Semarang sehingga organisasi kelompok Kepemudaan (OKP) kurang berkembang.
Tabel III.2.h
Jumlah Organisasi Kepemudaan Kabupaten Semarang Tahun 2013 – 2014
NO ORGANISASI TAHUN
2013 2014
1 GP ANSOR 1 1
2 DPD PEMUDA MUHAMMADIYAH 1 1
3 DPD NASYIATUL AISYIAH 1 1
4 PC IPNU 1 1
5 PC IPPNU 1 1
6 PEMUDA PANCA MARGA 1 1
7 PEMUDA PANCASILA 1 1
8 DPD AMPI 1 -
9 DPC GM FKPPI 1 1
10 DPC PEMUDA KA’BAH 1 1
11 Gerakan Muda Pembangunan Indonesia 1 1
12 AMPG 1 1
13 BM PKPI 1 1
14 BM Penegak Keadilan 1 -
15 BM PAN 1 1
16 Satuan Pelajar & Mahasiswa Pemuda Pancasila 1 -
17 Fatayat 1 1
18 Pemuda Persatuan 1 -
19 Pemuda Katholik 1 1
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 52
NO ORGANISASI TAHUN
2013 2014
20 Taruna Merah Putih 1 -
21 Banteng Muda Indoensia 1 1
22 Badan Koordinasi Remaja Masjid 1 1
23 Ikatan Pelajar Muhammadiyah 1 1
24 Garda bangsa 1 1
25 Gema MKGR 1 1
26 GM Kosgoro 1 1
27 MAPANCAS 1 -
JUMLAH 27 21
Sumber data :Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Tahun 2014 Tabel III.2.i
Daftar Kelompok Pemuda Produktif (KUPP) Kabupaten Semarang Tahun 2014
No Nama KUPP Jenis Usaha Alamat
1 “Syarina Production“ Kerajinan Enceng Gondok Ds. Kebondowo Kec.
Banyubiru
2 “Bangkit“ Budidaya Jamur Kuping Dsn. Sedono Genting Kec.Jambu
3 “Melati Muda Tani“ Budidaya Ikan Kel. Kupang Kec.Ambarawa 4 “Tri Karya“ Pembibitan Ikan Lele RT.5/RW.2 Dsn Samban Kec.
Bawen 5 “Taruna Karya
Mandiri“ Jasda Komputer Jln. Moh yamin RT.4/RW 1 Kec, Ungaran Barat
6 “Ungaran Barat” Otomotif Perbengkelan Karang Taruna Kec. Ungaran Barat
7 “Mekar Jaya” Konveksi/Garmen Pendem RT4/RW3 Kec.Bandungan 8 “Arisda” Tanaman Hias bunga
potong Kel.Bandungan
9 “Nyi Ageng
Pandanaran” Batik Ds. Gemawang Kec.Jambu
10 “Alam Cipta Karya “ Kerajinan Ds. Kuwarasan Kec.Jambu 11 “Wirausaha Cinta
Karya”
Pengolahan Sabun Susu Herbal
Ds. Wates Kec. Getasan 12 “Mina Sejahtera Perikanan Air Tawar Ds. Mlilir Kec. Bandungan 13 “Khanza” Bengkel AC dan Power
Steering Jl. Diponegoro no.52 Ungaran Sumber data :Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Tahun 2014
Dengan adanya Kelompok Usaha Pemuda Produktif ini diharapkan dapat meningkatan kemampuan wirausaha mandiri dikalangan generasi muda dalam kegiatan perekenomian masyarakat, dan generasi dalam pengembangan produk-produk olahan dan karya pemuda.
Jumlah organisasi olah raga di Kabupaten Semarang tahun 2014 sebanyak 27organisasi mengalami penurunan dibandingkan tahun 2013, target untuk tahun 2014 adalah 140 organisasi.
Hal ini karena organisasi yang masih aktif sebanyak 27 cabang olah raga yang tergabung dalam KONI. Pada tahun 2014 telah diberikan stimulan bantuan hibah pada masyarakat dibidang keolahragaanmelalui KONI Kabupaten Semarang.
LAPORAN KINERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014
| 53
Tabel III.2.j
Organisasi Olah Raga Kabupaten Semarang Tahun 2013 – 2014
No Uraian Tahun
2013 2014
1 Anggar 1 1
2 Angkat Besi 1 1
3 Atletik 7 1
4 Gerak Jalan 6 1
5 Balap Sepeda - -
6 BaseBall/Softball 1 1
7 Bola Basket 9 1
8 Billyard 6 1
9 Bola Volley 20 1
10 Bulu Tangkis 7 1
11 Catur 6 1
12 Tenis Lapangan 4 1
13 Menembak 2 1
14 Sepak bola 25 1
15 Tenis meja 4 1
16 Karate 34 1
17 Taekwondo 60 1
18 Judo 1 1
19 Balap Motor - 1
20 Tinju - 1
21 Drumband - 1
22 Pencak Silat - 1
23 Sepak Takraw - 1
24 Renang - 1
25 Sepatu Roda 1 1
26 Dansa 1 1
27 Wushu 1 1
28 Senam 1 1
Sumber data :Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Tahun 2014
TUJUAN 3
Meningkatnya kegiatan Usaha Daerah Dengan Memanfaatkan Sumber Daya Local
1. Sasaran 1 :
Terwujudnya sentra/klaster usaha skala umkm dengan produk khas daerah yang memiliki daya saing
No Indikator Kinerja Utama Sat Target
2014 Realisasi Capaian 2013 2014 (%)
1 Jumlah UMKM yang aktif unit 26.561 26.757 63.146 237.7 2 Jumlah sentra /klaster skala UMKM % 8.302 7.756 7.278 114,1
Rata – Rata Capaian Kinerja 175,9
Rata – rata capaian kinerja Terwujudnya sentra/klaster usaha skala umkm dengan produk khas daerah yang memiliki daya saing pada tahun 2014 adalah sebesar 95,78% atau cukup baik.
Faktor– faktor yang mendukung keberhasilan capaian kinerja sasaran Terwujudnya sentra/klaster usaha skala umkm dengan produk khas daerah yang memiliki daya saing adalah sebagai berikut :