• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III Akuntabilitas Kinerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab III Akuntabilitas Kinerja"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

A. PENGUKURAN CAPAIAN KINERJA 2014

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 ini disusun untuk mengukur tingkat keberhasilan atau kegagalan dalam pelaksanaan kegiatan yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014dan Renstra Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014.

Pengukuran tingkat capaian kinerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tahun 2014dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014dengan realisasinya.

Untuk mengetahui tingkat ketercapaian target kinerja, di bawah ini akan disajikan capaian kinerja atas sasaran/target yang telah ditetapkan awal Tahun 2014. Secara umum capaian kinerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memuaskan dan disajikan pula informasi kinerja pembangunan pendidikan lainnya yang telah dicapai Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur sampai dengan tahun 2014 sebagai berikut:

SASARAN STRATEGIS 1 :

Meningkatnya aksesbilitas dan kualitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah dan Pendidikan Luar Biasa Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi Target Realisasi %

Capaian 1) APK PAUD (3-6 tahun) 61.80 66,52 71,66 76,66 78,54 102,46

2) Rasio jumlah pendidik dengan Peserta Didik PAUD

8.07 9.13 16,04 16,05 16,07 100,13

3) Angka Partisipasi Kasar (APK)

- (SD/MI Paket A) 112,67 112,69 112.70 112.71 112.72 100,01

- (SMP/MTs/Paket B) 102,12 102,15 102.22 102.25 102.85 100,59

Bab III Akuntabilitas Kinerja

(2)

Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi Target Realisasi %

Capaian 4) Angka Partisipasi Murni

(APM)

- (SD/MI Paket A) 97,16 97,23 97,83 97.87 98 100,14

- (SMP/MTs/Paket B) 85,96 86,07 86,36 86.41 87.60 101,38

5) Angka Putus Sekolah

- (SD/MI) 0,18 0,13 0,12 0.11 0.10 110,00

- (SMP/MTs) 0,40 0,39 0,37 0.35 0.35 100,00

6) Angka Mengulang

- (SD/MI) 2,59 2,13 1,93 1.50 1.69 88,75

- (SMP/MTs) 0,20 0,15 0,14 0.10 0.13 76,92

7) Angka Kelulusan (AL)

- (SD/MI) 99,45 99,91 99,92 99.93 99.93 100,00

- (SMP/MTs) 98,31 98,88 98,99 99.00 99.03 100,03

8) Angka Melanjutkan (AM)

dari SD/MI ke SMP/MTs 98,67 98,85 98,92 98.95 98.96 100,00 9) Rasio siswa/kelas

- (SD/MI) 23 23 23 23 24 95,83

- (SMP/MTs) 35 30 30 28 30 93,33

10) Rasio siswa per guru

- (SD/MI) 13 13 13 15 15 100,00

(3)

Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi Target Realisasi %

Capaian 11) Jumlah Rintisan Sekolah

Berstandar Internasional (RSBI)

- (SD) 21 24 24 - - -

- (SMP) 66 66 66 - - -

12) Sekolah yang menerapkan pendidikan dan

pengembangan seni tradisi

- (SD/MI) 9,09 0 16,67 10 35 350,00

- (SMP/MTs) 13,3 0 41,17 3 45 1.500,00

13) Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang

SMA/MA/SMK/SMALB/Pak et C

73,78 74,21 78,21 78.72 78.23 99,37

14) Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang

SMA/MA/SMK/ SMALB/Paket C

54,97 55,94 59,78 60.51 65.78 108,70

15) Angka Putus Sekolah

jenjang SMA/MA 0,83 0,80 0,68 0.66 0.65 101,53

16) Angka Kelulusan (AL)

SMA/MA/SMK 97,73 98,14 98,27 98.28 98.52 100,25

17) Angka mengulang jenjang

SMA/MA/SMK 0,19 0.19 0,17 0.18 0.15 120,00

18) Angka Melanjutkan (AM)

dari SMP/MTs ke SMA/MA 87,69 87,78 87,89 87.92 88.36 100,50

19) Rasio jumlah siswa SMA:SMK 46.69: 53.31 46.87: 53.13 39.96: 60.04 40.00: 60.00 39,99:60,01 100,03

(4)

Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi Target Realisasi %

Capaian 20) Rasio siswa/kelas

(SMA/SMK) 36 33 33 33 24 137,50

21) Rasio siswa per guru

SMA/SMK 12 12 12 15 15 100,00

22) Jumlah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI/SBI) jenjang SMA/SMK 59 69 69 - - - 23) Sekolah jenjang SMA/MA/SMK yang menerapkan pendidikan dan pengembangan seni tradisi

8,3 0.00 38.46 3 40 1.333,34

24) Persentase sekolah

berakreditasi 51.00 63.00 65,00 84.75 68,86 81,25

25) Persentase penduduk miskin yang bisa bersekolah 73.79 73,03 72.15 73,05 72,97 99,89 26) Jumlah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi 223 382 458 1.000 850 85,00 SASARAN STRATEGIS2

Menurunnya buta aksara penduduk di atas usia 15 tahun

Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi/ Capaian Target Realisasi %

Capaian

1) Angka Melek Huruf usia

(5)

SASARAN STRATEGIS3

Meningkatnya mutu pendidik dan tenaga kependidikan

Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi/ Capaian Target Realisasi %

Capaian 1) Persentase pendidik &

tenaga kependidikan berkualifikasi akademik minimal S1/D4

69.19 71.3 75.51 78.49 83,02 105,78

2) Persentase pendidik & tenaga kependidikan bersertifikat profesi

13,98 21,41 30,92 66.21 35,10 53,01

SASARAN STRATEGIS4

Terwujudnya fasilitasi hasil karya cipta pendidikan tinggi

Indikator Kinerja

2011 2012 2013 2014

Realisasi/ Capaian Target Realisasi %

Capaian 1) Jumlah hasil karya cipta

mahasiswa yang dihasilkan 2 2 10 10 10 100,00

B. ANALISA CAPAIAN KINERJA TAHUN 2014

Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah menetapkan 8 (delapan) program prioritas dan 5 (lima) program penunjang sebagaimana tercantum dalam perencanaan kinerja. Program - program utama pembangunan pendidikan yang dilaksanakan di Jawa Timur meliputi:

1. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

2. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajardikdas 9 tahun) 3. Program Pendidikan Menengah (Dikmen)

4. Program Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) 5. Program Pendidikan Luar Biasa (PLB)

(6)

7. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan 8. Program Pendidikan Tinggi (Perti)

Sebagai perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur memiliki kewajiban memenuhi target kinerja sasaran strategis dengan indikator kinerja utama sebagai tolok ukur capaian program yang telah ditetapkan. Ketercapaian indikator kinerja tersebut diharapkan dapat berkontribusi terhadap pencapaian tujuan dan sasaran strategis yang telah ditetapkan dalam Renstra Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 – 2014. Berikut disajikan tingkat ketercapaian indikator kinerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Tahun 2014 berdasarkan sasaran strategis.

SASARAN STRATEGIS 1:

Meningkatkan aksesbilitas dan peningkatan kualitas pendidikan anak

usia dini (PAUD), pendidikan dasar (Dikdas), pendidikan menengah

(Dikmen) dan pendidikan luar biasa (PLB)

Pencapaian target kinerja atas sasaran tersebut adalah sebagai berikut:

INDIKATOR KINERJA

Target Realisasi/Capaian

% Capaian

2014 2011 2012 2013 2014

1. APK PAUD (3-6 tahun) 76,66 61.80 66,52 71,66 78,54 102,46

2. Rasio jumlah pendidik dengan Peserta Didik PAUD 16,05 8.07 9.13 16,04 16,07 100,13 3. Angka Partisipasi Kasar (APK) - (SD/MI Paket A) 112.71 112,67 112,69 112,70 112,72 100,01 - (SMP/MTs/Paket B) 102.25 102,12 102,15 102,22 102,85 100,59

(7)

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian % Capaian 2014 2011 2012 2013 2014 4. Angka Partisipasi Murni (APM) - (SD/MI Paket A) 97.87 97,16 97,23 97,83 98 100,14 - (SMP/MTs/Paket B) 86.41 85,96 86,07 86,36 87,60 101,38

5. Angka Putus Sekolah

- (SD/MI) 0.11 0,18 0,13 0,12 0,10 110,00 - (SMP/MTs) 0.35 0,40 0,39 0,37 0,35 100,00 6. Angka Mengulang Jenjang SD/MI - (SD/MI) 1.50 2,59 2,13 1,93 1,69 88,75 - (SMP/MTs) 0.10 0,20 0,15 0,14 0,13 76,92

7. Angka Kelulusan (AL)

- (SD/MI) 99.93 99,45 99,91 99,92 99,93 100,00

- (SMP/MTs) 99.00 98,31 98,88 98,99 99,03 100,03

8. Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs

98.95 98,67 98,85 98,92 98,96 100,00

9. Rasio siswa/kelas

- (SD/MI) 23 23 23 23 24 95,83

- (SMP/MTs) 28 35 30 30 30 93,33

10. Rasio siswa per guru

- (SD/MI) 15 13 14 13 15 100,00

(8)

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian % Capaian 2014 2011 2012 2013 2014 11. Jumlah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) - (SD) - 21 24 24 - - - (SMP) - 66 66 66 - - 12. Sekolah yang menerapkan pendidikan dan pengembangan seni tradisi - (SD) 10 9.09 0 16.67 35 350,00 - (SMP) 3 13.3 0 41.17 45 1500,00 13. Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SMA/MA/SMK

78.72 73,78 74,21 78,21 78,23 99,37

14. Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SMA/MA/SMK/Paket C

60.51 54,97 55,94 59,78 65,78 108,70

15. Angka Putus Sekolah

jenjang SMA/MA 0.66 0,83 0,80 0,68 0,65 101,53 16. Angka Kelulusan (AL)

SMA/MA/SMK 98.28 97,73 98,14 98,27 98,52 100,25 17. Angka mengulang jenjang SMA/MA/SMK 0.18 0,19 0.19 0,17 0,15 120,00 18. Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/MA 87.92 87,69 87,78 87,89 88,36 100,50 19. Rasio siswa/kelas (SMA/SMK) 33 36 33 33 24 137,50

20. Rasio siswa per guru

SMA/SMK 15 12 12 12 15 100,00 21. Rasio jumlah siswa

(9)

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian % Capaian 2014 2011 2012 2013 2014 22. Jumlah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) jenjang SMA/SMK - 59 69 69 - - 23. Sekolah jenjang SMA/MA/SMK yang menerapkan pendidikan dan pengembangan seni tradisi 3 8.3 0 38.46 40 1.333,34 24. Persentase sekolah berakreditasi 84.75 51.00 63.00 65.00 68,86 81,25 25. Persentase penduduk miskin yang bisa bersekolah 73,05 73.79 73.03 72.15 72,97 99,89 26. Jumlah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusi 1.000 223 382 458 850 85,00

Sasaran strategis ini didukung oleh beberapa program, di antaranya:

a. Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pagu anggaran Program Pendidikan Anak Usia Dini sebesar Rp. 19.336.621.850,- dengan realisasi sebesar Rp. 18.536.353.811,- (95,86%). Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dimaksudkan untuk mengoptimalkan perkembangan kapabilitas kecerdasan anak. Program pendidikan ini bukan hanya sekedar untuk memberikan pengalaman belajar, tetapi dimaksudkan untuk menyiapkan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sejak usia dini.

Program PAUD bertujuan agar semua anak usia dini, laki laki maupun perempuan, terutama yang berasal dari keluarga miskin, memiliki kesempatan tumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimiliki dan tahap perkembangan atau tingkat usia mereka, sebagai persiapan mengikuti pendidikan jenjang sekolah dasar.

Program ini dititikberatkan pada peningkatan akses dan pelayanan pendidikan melalui jalur formal, seperti Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA),

(10)

dan bentuk lain yang sederajat; juga jalur pendidikan non-formal berbentuk Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat; serta informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dalam rangka membina, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal agar memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Pencapaian target kinerja atas program ini adalah sebagai berikut :

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian % Capaian 2014 2011 2012 2013 2014 1. APK PAUD (3-6 tahun) 76,66 61,80 66,52 71,66 78,54 102,46 2. Rasio jumlah pendidik dengan Peserta Didik PAUD

16,05 8.07 9.13 16,04 16,07 100,13

Berdasarkan kondisi data kinerja sasaran PAUD di atas, dapat kita lihat perkembangannya dari tahun ke tahun persentasenya semakin meningkat.Di tahun 2013APK PAUD mencatat perkembangan yang menggembirakan yaitu sebesar 71,66%, dan meningkat di tahun 2014sebesar 78,54%.

Pencapaian APK PAUD pada tahun 2013 yang melampaui target menunjukkan bahwa semakin banyak anak usia 3 – 6 tahun yang terlayani oleh PAUD melalui jenjang formal (TK) maupun nonformal (KB, TPA, SPS). Capaian Kinerja di atas dicapai melalui berbagai kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di antaranya sebagai berikut:

1. Kegiatan : Perluasan dan peningkatan Mutu TK/RA (067) 2. Kegiatan : Manajemen pendidikan TK/RA (068)

3. Kegiatan : Perluasan dan peningkatan mutu PAUD (069) 4. Kegiatan : Pengembangan manajemen PAUD (076)

Jumlah peserta didik Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) pada tahun 2012 973.497 orang meningkat menjadipada tahun 2013 jumlah siswa meningkat pesat menjadi 1.410.568 orang dan kembali meningkat menjadi 1.410.571 orang pada tahun 2014.Adapun jumlah lembaga, kelas dan

(11)

guru TK terus mencatatkan perkembangan yang menggembirakan dari tahun ke tahun seperti rincian tabel berikut:

Tabel 5

Perkembangan pendidikan formal pada jenjang TK/RA Tahun 2012– 2014

No. Komponen Satuan 2012 2013 2014 1 Pend Usia 4-6 tahun

Pend Usia 3-6 tahun

Orang Orang 1.973.323 - - 2.423.240 2.454.652 2 Siswa a. TK b. RA Orang Orang Orang 973.497 754.094 219.403 1.410.568 929.721 480.847 1.410.571 929.724 480.847 3 Guru a. TK b. RA Orang Orang Orang 86.432 70.121 16.311 98.548 70.418 28.130 99.758 70.418 29.340 4 Lembaga a. TK b. RA Lembaga Lembaga Lembaga 22.347 17.691 4.656 23.940 18.217 5.723 26.984 20.170 6.814 5 Kelas a. TK b. RA Kelas Kelas Kelas 55.286 46.162 9.124 63.611 48.731 14.880 67.377 48.731 18.646

Sumber : Data Pokok dan Profil Pendidikan 2011/2012 – 2013/2014Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Jumlah penduduk usia Taman Kanak-Kanak yaitu usia 4 - 6 tahun di Provinsi Jawa Timur (menurut BPS) menunjukkan peningkatan dari1.973.323 orang pada tahun 2012, sedangkan untuk pengukuran di tahun 2013, tolok ukur dari BPS telah berubah dari jumlah penduduk usia 4-6 menjadi jumlah penduduk usia 3-6 tahun sebanyak 2.423.240 orang dan meningkat lagi menjadi 2.454.652 orang pada tahun 2014.

Berbagai kegiatan untuk mendukung keberhasilan Program Pendidikan Anak Usia Dini juga terlaksana, di antaranya Workshop Pembelajaran Terpadu di TK, Workshop Pembelajaran Berbasis sekolah di TK, Workshop Pengembangan pembelajaran berbasis kecerdasan jamak di TK, Workshop pengembangan kepribadian melalui life skill di TK, Semiloka Penguatan

(12)

Pembelajaran di TK, Bimbingan teknis pengembangan kurikulum TK, Rakor Evaluasi Peningkatan mutu TK/RA, Sosialisasi Hibah dan Monev pembangunan/rehabilitasi Gedung TK/RA.

Dalam mengasah keterampilan peserta didik dan tenaga pendidik juga diselenggarakan kegiatan lomba – lomba yang meliputi Lomba Bina Kreatifitas Anak TK dalam Rangka HAN, Lomba Lingkungan Sekolah Sehat TK.

Selain itu, peningkatan kualitas pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini juga diupayakan dicapai melalui pelaksanaan Rakor Tiga Komponen Pendidikan TK (Dinas Pendidikan Kab/Kota, GOPTKI, dan IGTKI) untuk menunjang kinerja Manajemen Program PAUD yang baik.

Meskipun target kinerja yang ditetapkan sudah terlampaui, namun dalam proses pencapaiannya terdapat beberapa permasalahan yang perlu diantisipasi di tahun mendatang, antara lain:

1. Data dari Kabupaten/Kota kurang lengkap 2. Kurangnya fasilitas belajar

3. Kurangnya koordinasi antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

4. Jumlah Guru PAUD dengan kuota kegiatan peningkatan mutu pendidik PAUD masih belum terpenuhi.

5. Belum semua Kab/Kota memanfaatkan alumni peserta workshop di provinsi maupun nasional untuk mengembangkan kompetensi yang diperolehnya dalam meningkatkan mutu pembelajaran di daerahnya.

Upaya pemecahan masalah yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Data dari Kabupaten/Kota lebih dilengkapi

2. Menambah fasilitas edukasi untuk lembaga PAUD

3. Melakukan Koordinasi lebih lanjut antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah agar tercipta sinkronisasi koordinasi sehingga dapat membuat perencanaan program yang lebih matang.

4. Merekrut beberapa orang per Kab/Kota untuk mengikuti pelatihan peningkatan mutu pendidikan PAUD.

(13)

b. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun (1.01.16)

Pagu anggaranprogram Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun sebesarRp. 61.827.906.380,- dengan realisasiRp. 54.608.840.832,- (88,32%). Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur formal maupun non formal yang mencakup SD termasuk SDLB, MI dan Paket A serta SMP, MTs dan Paket B. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan mutu sarana prasarana sebagai tempat pembelajaran yang kondusif bagi siswa dan guru.

Sasaran program ini adalah seluruh anak usia 7 – 15 tahun baik laki – laki maupun perempuan agar dapat memperoleh pendidikan, setidak – tidaknya sampai jenjang sekolah menengah pertama atau yang sederajat.

Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahundimaksudkan untuk menuntaskan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun, dengan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan dan pemerataan pendidikan dasar SMP/MTs, termasuk Paket B.Program ini dititikberatkan untuk meningkatkan angka lulusan SD/MI/Paket A untuk melanjutkan ke jenjang SMP/MTs/Paket B, disertai upaya menurunkan angka putus sekolah dan mengulang kelas di kalangan peserta didik SMP/MTs/Paket B, sehingga seluruh penduduk usia 13-15 tahun dapat menyelesaikan, setidaknya, pendidikan pada jenjang menengah pertama.

Pencapaian target kinerja atas program ini adalah sebagai berikut :

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian % Capaian 2014 2012 2013 2014 3. Angka Partisipasi Kasar (APK) - (SD/MI/Paket A) 112.71 112,69 112,70 112,72 100,01

(14)

- (SMP/MTs/Paket B) 102.25 102,15 102,22 102,85 100,59 4. Angka Partisipasi Murni (APM) - (SD/MI Paket A) 97.87 97,23 97,83 98 100,14 - (SMP/MTs/Paket B) 86.41 86,07 86,36 87,60 101,38

5. Angka Putus Sekolah

- (SD/MI) 0.11 0,13 0,12 0,10 110,00 - (SMP/MTs) 0.35 0,39 0,37 0,35 100,00 6. Angka Mengulang Jenjang SD/MI - (SD/MI) 1.50 2,13 1,93 1,69 88,75 - (SMP/MTs) 0.10 0,15 0,14 0,13 76,92

7. Angka Kelulusan (AL)

- (SD/MI) 99.93 99,91 99,92 99,93 100,00

- (SMP/MTs) 99.00 98,88 98,99 99,03 100,03

8. Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs

98.95 98,85 98,92 98,96 100,00

9. Rasio siswa/kelas

- (SD/MI) 23 23 23 24 95,83

- (SMP/MTs) 28 30 30 30 93,33

10. Rasio siswa per guru

(15)

- (SMP/MTs) 15 12 12 12 125,00 11. Jumlah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) - (SD) - 24 24 - - - (SMP) - 66 66 - - 12. Sekolah yang menerapkan pendidikan dan pengembangan seni tradisi - (SD) 10 0 16,67 35 350,00 - (SMP) 3 0 41,17 45 1500,00

Data tersebut di atas menunjukkan bahwa secara umum capaian indikator kinerja program Pendidikan Dasar telah tercapai, seperti meningkatnya nilai Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014.

97,08 97,16 97,23 97,83 98 96,6 96,8 97 97,2 97,4 97,6 97,8 98 98,2 2010 2011 2012 2013 2014

APM SD/SDLB/MI/Paket A Jawa Timur

(16)

2010 2011 2012 2013 2014 APK SD/SDLB/MI/Paket A 112,53 112,67 112,69 112,7 112,72 112,4 112,45 112,5 112,55 112,6 112,65 112,7 112,75

APK SD/SDLB/MI/Paket A Jawa Timur

0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014 0,2 0,18 0,13 0,12 0,1 2,61 2,59 2,13 1,93 1,69 99,38 99,45 99,91 99,92 98,52

Angka Putus Sekolah, Angka Mengulang dan

Angka Kelulusan jenjang SD/MI Jawa Timur

Angka Putus Sekolah Angka Mengulang Angka Kelulusan

(17)

102,11 102,12 102,15 102,22 102,85 101,6 101,8 102 102,2 102,4 102,6 102,8 103 2010 2011 2012 2013 2014

APK SMP/MTs/SMPLB/Paket B Jawa Timur

APK SMP/MTs/SMPLB/Paket B 85,94 85,96 86,07 86,36 87,6 85 85,5 86 86,5 87 87,5 88 2010 2011 2012 2013 2014

APM SMP/MTs/SMPLB/Paket B Jawa Timur

APM

(18)

Dapat kita lihat partisipasi orang tua untuk menyekolahkan anak usia 7 -12 tahun ke jenjang SD/MI yang menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dari tahun ke tahun. Di tahun 2011APK jenjang SD/MI mencapai 112,67% kemudian mengalami peningkatan sebesar 112,69% di tahun 2012, hinggamencapai 112,70% di tahun 2013 dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2014 sebesar 112,72%. APK jenjang SMP/MTs dapat kita lihat persentase capaiannya di tahun 2011 persentasenya sebesar 102,12%, kemudian bertambah di tahun 2012 sebesar 102,15%, kembali mengalami peningkatan di tahun 2013 menjadi sebesar 102,22% dan pada tahun 2014 nilainya menjadi sebesar 102,85%.

Berikutnya,indikator kinerja Angka Partisipasi Murni (APM) Jenjang SD/MI dari 97,08% di tahun 2010, meningkat menjadi 97,16% di tahun 2011 dan selanjutnya naik kembali menjadi 97,23% di tahun 2012, kemudian meningkat terus di tahun 2013 menjadi 97,83%, dan terjadi peningkatan kembali menjadi sebesar 98% di tahun 2014.

Indikator Kinerja selanjutnya adalah APM jenjang SMP/MTs dari 85,94% di tahun 2010, menjadi 85,96% di tahun 2011 dan meningkat menjadi 86,07% di tahun 2012, selanjutnya naik kembali menjadi 86,36% di tahun 2013, kemudian meningkat kembali menjadi sebesar 87,60% pada tahun 2014. APM adalah

Angka Putus Sekolah Angka Mengulang Angka Kelulusan 0 50 100 2010 2011 2012 2013 2014 0,41 0,4 0,39 0,37 0,35 0,21 0,2 0,15 0,14 0,13 98,01 98,31 98,88 98,99 99,03

Angka Putus Sekolah, Angka Mengulang dan

Angka Kelulusan jenjang SMP/MTs Jawa

Timur

(19)

penghitungan dari jumlah siswa usia 13-15 tahun dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 13-15 tahun, berarti kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di jenjang SMP/MTs secara tepat waktu mengalami peningkatan.

Dari data perkembangan APK dan APM tersebut, menunjukkan pula bahwa Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun Jawa Timur sangat efektif dan signifikan terhadap kenaikan angka melanjutkan dari SD ke SMP, hal ini tidak sia-sia bila program sharing bantuan operasional sekolah dari pemerintah Jawa Timur sebagai pendamping Bantuan Operasional (BOS) Nasional yang tetap dipertahankan kelanjutannya demi penuntasan wajib belajar 9 tahun.

Selain itu, hal tersebut menunjukkan bahwa Program Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun berjalan sesuai dengan harapan. Bahkan dapat dikatakan bahwa Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di Provinsi Jawa Timur telah tuntas paripurna, sehingga bisa dilanjutkan dengan Program Rintisan Wajib Belajar Pendidikan Menengah 12 Tahun yang sebenarnya di Provinsi Jawa Timur telah dimulai pada tahun 2008.

Indikator kinerja berikutnya adalah Angka Putus Sekolah. Pada jenjang SD/MI dari 0,20% di tahun 2010 menurun menjadi 0,18% di tahun 2011dan menurun menjadi 0,13% di tahun 2012, menurun kembali menjadi sebesar 0,12% di tahun 2013, di tahun 2014 angka putus sekolah menjadi sebesar 0,10%.Sementara itu, Angka Putus Sekolah jenjang SMP/MTs dari 0,41% di tahun 2010 menjadi 0,40% di tahun 2011 menurun menjadi 0,39% di tahun 2012, menurun kembali menjadi sebesar 0,37% Di tahun 2013, dan pada tahun 2014 angka putus sekolah jenjang SMP/MTs menjadi sebesar 0,35%. Terjadinya penurunan Indikator Angka Putus Sekolah jenjang SD/MI dan SMP/MTs di Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa semakin sedikitnya murid yang putus sekolah, menandakan bahwa pembangunan pendidikan telah berjalan dengan baik.

Indikator selanjutnya adalah menurunnya Angka Mengulang Kelas pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs. Dapat dilihat dari indikator Angka Mengulang Jenjang SD/MI sebesar 2,61% di tahun 2010 menurun menjadi 2,59% di tahun 2011, kembali terjadi penurunan di tahun 2012 menjadi 2,13% dan penurunan angka persentase menjadi sebesar 1,93% di tahun 2013 kembali terjadi penurunan pada

(20)

tahun 2014 sehingga mencapai angka 1,69%. Sedangkan untuk indikator Angka Mengulang jenjang SMP/MTs dari 0,21% di tahun 2010 menurun menjadi 0,20% di tahun 2011, menurun kembali menjadi 0,15% di tahun 2012, menurun menjadi sebesar 0,14% di tahun 2013 dan kembali terjadi penurunan pada tahun 2014 menjadi 0,13%. Hal ini mengindikasikan bahwa dari tahun ke tahun kualitas kepengajaran guru dalam mendongkrak prestasi siswa semakin meningkat sehingga berdampak pada menurunnya jumlah siswa yang tidak naik kelas atau tidak lulus.

Peningkatan kualitas hasil belajar diukur dengan meningkatnya persentase siswa yang lulus evaluasi belajar dengan indikator Angka Kelulusan (AL) SD/MI yang mencapai 99,38% di tahun 2010, lalu meningkat menjadi 99,45% di tahun 2011 kemudian meningkat menjadi 99,91% di tahun 2012, meningkat kembali menjadi 99,92% di tahun 2013 dan meningkat kembali menjadi 99,93% pada tahun 2014. Pada jenjang SMP/MTs, Angka Kelulusan (AL) mencapai 98,01% di tahun 2010, meningkat di tahun 2011 menjadi 98,31% dan naik lagi menjadi 98,88% di tahun 2012 dan mengalami peningkatan menjadi sebesar 98,99% di tahun 2013, kemudian meningkat kembali menjadi 99,03% pada tahun 2014.

Selanjutnya adalah indikator kinerja Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs, di tahun 2010 persentasenya sebesar 98,61% meningkat menjadi 98,67% di tahun 2011 dan mengalami penurunan di tahun 2012 menjadi sebesar 98,85%, sementara di tahun 2013 meningkat menjadi sebesar 98,92%, kemudian pada tahun 2014 meningkat kembali menjadi sebesar 98,96%.

Rasio siswa/kelas (SD/MI) di tahun 2010 menunjukkan angka 22 sedangkan pada tahun 2011, 2012 dan 2013 persentase menunjukkan angka 23 dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 24.Indikator kinerja selanjutnya adalah Rasio Siswa/Kelas (SMP/MTs). Pada tahun 2010 dan 2011 menunjukkan angka 35 sedangkan pada tahun 2012, 2013 dan 2014rasio siswa/kelas menunjukkan angka 30. Hal ini menunjukkan bahwa semakin hari jumlah murid yang belajar diruang kelas semakin sedikit dan tidak berdesak-desakan. Dengan semakin menurunnya rasio siswa/kelas, maka semakin banyak ruang kelas baru yang dibangun di sekolah-sekolah di provinsi Jawa Timur.

(21)

Capaian Kinerja di atas dicapai melalui Program / Kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di antaranya sebagai berikut:

1. Kegiatan : Perluasan dan peningkatan mutu pendidikan SD/MI (083) 2. Kegiatan : Perluasan kesempatan belajar SMP/MTs di Jawa Timur (084) 3. Kegiatan : Peningkatan Manajemen Pendidikan SMP/MTs di Jawa Timur

(086)

4. Kegiatan : Peningkatan mutu pendidikan SD/SMP melalui pendidikan jarak jauh (087)

5. Kegiatan : Peningkatan mutu SMP/MTs dan Sekolah Berwawasan Lingkungan (097)

6. Kegiatan : Pengembangan dan peningkatan mutu kesenian pendidikan dasar (098)

Pada jenjang pendidikan SD/MI pada kurun waktu tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 terjadi peningkatan jumlah penduduk usia sekolah 7-12 tahun, APK, APM dan jumlah lulusannya, seperti rincian tabel berikut:

Tabel 6

Perkembangan pendidikan pada jenjang SD/MI Tahun 2012– 2014

No. Komponen Satuan 2012 2013 2014

1 Pend Usia 7-12 tahun Orang 3.806.927 4.055.766 3.977.011

2 Siswa Baru Tingkat I Orang 681.039 724.682 789.141

a. SD Orang 532.787 574.790 632.876

b. MI Orang 148.252 149.892 156.265

3 Siswa Orang 4.211.803 4.492.919 4.439.255

a. SD Orang 3.384.692 3.647.919 3.578.885

b. MI Orang 827.111 845.000 860.370

4 Siswa Usia 7-12 tahun Orang 3.651.583 3.918.580 3.864.973

a. SD Orang 2.919.676 3.148.917 3.093.793 b. MI Orang 731.907 769.663 771.180 5 Lulusan Orang 645.296 647.412 631.898 a. SD Orang 522.608 524.182 513.109 b. MI Orang 122.688 123.230 118.789 6 Guru Orang 291.461 345.609 329.235 a. SD Orang 214.891 264.869 247.978 b. MI Orang 76.570 80.740 81.257 7 Sekolah Lembaga 26.554 27.066 26.795 a. SD Lembaga 19.734 19.900 19.629

(22)

b. MI Lembaga 6.820 7.166 7.166

8 Ruang Kelas R.Kelas 174.514 181.504 221.224

a. SD R.Kelas 133.174 138.780 175.795

b. MI R.Kelas 41.340 42.724 45.429

Sumber : Data Pokok dan Profil Pendidikan 2011/2012 – 2013/2014Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia 7 -12 tahun dan lulusan mengalami penurunan.

Jumlah penduduk usia 7 – 12 tahun menurundari tahun 2012 sebanyak 3.806.927 orang meningkat menjadi sebanyak 4.055.766 orang di tahun 2013 dan menurun menjadi 3.977.011 orang pada tahun 2014.Jumlah lulusan pada tahun 2012 645.296 orang dan meningkat menjadi 647.412 orang di tahun 2013, tetapi mengalami penurunan pada tahun 2014 menjadi sebesar 631.898 orang.

Adapun jumlah siswapada tahun 2012 sebanyak 4.211.803 orang, dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 4.492.919 orang, tetapi mengalami penurunan menjadi sebanyak 4.439.255 orang pada tahun 2014. Jumlah guru yang pada tahun 2012 sebanyak291.461 orang, mengalami peningkatan pada tahun 2013 menjadi sebanyak 345.609 guru, dan pada tahun 2014 jumlah guru mengalami penurunan menjadi 329.235 orang dikarenakan banyaknya sekolah yang mengalami merger, dan juga banyaknya Guru Tidak Tetap yang dikurangi karena untuk memenuhi kuota Guru PNS dan Guru Tetap Yayasan yang akan mengikuti sertifikasi.

Sebaliknya, peningkatankonstan terjadi pada jumlah lembaga sekolah yang berjumlah 26.554 pada tahun 2012, meningkat pada tahun 2013 menjadi sebanyak 27.066 dan pada tahun 2014 mengalami penurunan jumlah lembaga sekolah menjadi sebanyak 26.795.Serta ruang kelas yang berjumlah 174.514 pada tahun 2012 meningkat di tahun 2013 menjadi sebanyak 181.504, sedangkan pada tahun 2014 jumlah ruang kelas meningkat menjadi sebanyak 221.224. Hal ini disebabkan bertambahnya gedung sekolah baru dan direhabilitasinya ruang kelas yang rusak. Dengan demikian, diharapkan dapat mengakibatkan daya tampung siswa per kelas lebih kecil, dari semula 40 siswa per kelas menjadi 20 – 30 siswa. Kecilnya daya tampung siswa per kelas akan mengakibatkan proses belajar mengajar di kelas menjadi lebih kondusif.

(23)

Jika membandingkan kondisi SD dengan kondisi MI pada tahun 2012, maka terdapat perbedaan yang cukup signifikan yaitu jumlah siswa SD dibanding MI berkisar 4 : 1, sedangkan jumlah guru berkisar 2 : 1, perbandingan jumlah lembaga berkisar 2 : 1, sedangkan jumlah ruang kelasnya berkisar 3 : 1.

Hal ini terlihat di semua data yang ada, jumlah lembaga SD sebesar 19.629 lembaga, dengan jumlah siswa sebanyak 3.578.885 siswa, ruang kelas sebanyak 138.438 ruang dan ditangani oleh guru sebanyak 220.478 orang. Sedangkan untuk jumlah lembaga MI sebanyak 7.166 lembaga dengan jumlah siswa 860.370, sedangkan ruang kelas sebanyak 47.268 ruang dan tenaga guru yang mengajar sebanyak 81.257 guru.

Bila ditinjau dari status sekolah, jumlah sekolah negeri lebih banyak di SD jika dibandingkan dengan MI. Sebaliknya, jumlah madrasah swasta lebih banyak di MI jika dibandingkan dengan SD. Hal ini disebabkan karena MI lebih banyak dibangun oleh yayasan swasta, sedangkan SD lebih banyak dibangun oleh pemerintah melalui program bantuan pembangunan Sekolah.

Tabel 7

Perkembangan pendidikan pada jenjang SMP/MTs Tahun 2012 - 2014

No. Komponen Satuan 2012 2013 2014

1 Pend Usia 13-15 tahun

Orang 1.933.845 1.849.207 1.833.603

2 Siswa Baru Tingkat I Orang 632.005 610.246 733.196

a. SMP Orang 452.105 436.089 521.035 b. MTs Orang 179.900 174.157 212.161 3 Siswa Orang 1.853.100 1.827.277 1.844.571 a. SMP Orang 1.343.764 1.306.418 1.306.672 b. MTs Orang 509.336 520.859 537.899 4 Siswa Usia 13-15 tahun Orang 1.575.759 1.562.574 1.576.863 a. SMP Orang 1.165.415 1.146.051 1.148.070 b. MTs Orang 410.344 416.523 428.793

(24)

5 Lulusan Orang 579.604 582.796 582.867 a. SMP Orang 426.451 427.840 427.866 b. MTs Orang 153.153 154.956 155.001 6 Guru Orang 156.365 161.409 165.087 a. SMP Orang 98.806 101.001 101.896 b. MTs Orang 57.559 60.408 63.191 7 Sekolah Lembaga 6.996 7.200 7.331 a. SMP Lembaga 3.983 4.068 4.198 b. MTs Lembaga 3.013 3.132 3.133

8 Ruang Kelas R.Kelas 77.836 62.347 71.644

a. SMP R.Kelas 62.170 44.765 55.181

b. MTs R.Kelas 15.666 17.582 16.463

Sumber : Data Pokok dan Profil Pendidikan 2011/2012 –2013/2014Dinas Pendidikan Jawa Timur.

Selama jangka waktu 2012 – 2014, terjadi sedikit penurunan pada jumlah penduduk usia 13 – 15 tahun, yaitu dari 1.933.845 orang pada tahun 2012, dan di tahun 2013 menjadi sebanyak 1.849.207 orang berkurang lagi menjadi 1.833.603 orang pada tahun 2014. Namun, penurunan yang terjadi pada jumlah penduduk usia 13 – 15 tahun tidak berpengaruh pada jumlah siswa, yang pada tahun 2012 jumlahnya1.853.100 siswa, tetapi menurun di tahun 2013 menjadi sebanyak 1.827.277 orang, dan pada tahun 2014 jumlahnya meningkat menjadi 1.844.571 siswa.

Jumlah sekolah juga meningkat baik lembaga SMP yaitu sebanyak 3.983lembaga pada tahun 2012menjadi 4.068lembaga pada tahun 2013 dan meningkat kembali menjadi sebanyak 4.198 lembaga di tahun 2014, begitu juga dengan MTs yang semula pada tahun 2012 sejumlah 3.013 lembaga menjadi 3.132lembaga pada tahun 2013 dan meningkat kembali menjadi sebanyak 3.133 lembaga pada tahun 2014.

Di samping itu, jumlah guru pun menunjukkan peningkatan yang terus menerus. Pada tahun 2012, jumlah guru yang mengajar di SMP/MTs sebanyak 156.365orang meningkat menjadi 161.409orang pada tahun 2013 dan meningkat kembali pada tahun 2014 menjadi sebesar 165.087.Jumlah lulusan di jenjang SMP/MTs juga meningkat dari sejumlah 579.604 siswa pada tahun 2012 menjadi

(25)

582.796 pada tahun 2013 dan meningkat kembali menjadi 582.867 siswa di tahun 2014.

Di lain pihak, perkembangan jumlah ruang kelas di jenjang SMP/MTs menunjukkan penurunan dari 77.836 ruang pada tahun 2012 menjadi sebanyak 62.347 ruang di tahun 2013 dan 71.644 ruang kelas pada tahun 2014 dengan rincian 55.181 terdapat pada jenjang SMP dan MTs sebanyak 16.463 ruang kelas. Berbagai kegiatan untuk menunjang kompetensi guru dan siswa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di jenjang SD/MI juga diselenggarakan, di antaranya adalah bantuan perbaikan ringan sekolah SD/MI swasta kepada 175 lembaga di 38 kab/kota dalam upaya optimalisasi kelas dan peningkatan daya tampung sekolah,berbagai kegiatan workshop untuk meningkatkan kualitas Guru SD/MI seperti Workshop Manajemensarana prasarana, workshop pengembangan calistung kelas rendah, workshop pengembangan pakem, workshop pengembangan akreditasi, workshop pengembangan mapel Bahasa Indonesia, workshop pengembangan pembelajaran ekstrakurikuler, rakor dan evaluasi program tengah tahun, pembuatan SKHUS, Bimtek Implementasi kurikulum SD, Pemetaan Pelaporan hasil ujian sekolah.

Untuk jenjang SMP/MTs, dalam rangka mendukung suksesnya program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun kegiatan yang dilaksanakan diantaranya adalah, Kegiatan Pengolahan Pendataan, Kegiatan Pelatihan kurikulum yang diikuti oleh siswa, guru dan kepala sekolah, Kegiatan Lomba tingkat Provinsi dan tingkat nasional dengan tema sekolah berwawasan lingkungan.

Di bidang Kesenian, kegiatan yang dilaksanakan untuk menunjang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar antara lain, Lokakarya / workshop / Dialog Seni, Apresiasi Seni Tradisi Bagi Peserta Didik, Pergelaran Seni Pertunjukan Padang Rembulan, Seleksi Siswa Berprestasi Bidang Seni, Festival / Lomba Seni Hari Anak, Pengenalan Media Kesenian Untuk Membentuk Karakter Bagi Peserta Didik, Pekan Seni Pelajar Se Jawa Timur.

Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan dasar juga terus menerus digalakkan. Salah satunya dengan menyelenggarakan rapat

(26)

koordinasi peningkatan mutu pendidikan TK, SD, dan PK, pembinaan UKS SD/MI, pelaksanaan Tes Kemampuan Dasar, Lomba Bina Kreatifitas Dalam Rangka HAN SD/MI, Workshop Pengembangan Mapel MIPA SD, Workshop Pendidikan Karakter di SD, Workshop Pengembangan Penilaian Pendidikan SD, Workshop Pengembangan Akreditasi di SD, Workshop Pengembangan Manajemen Gugus di SD, Workshop Pembelajaran Calistung Kelas Rendah di SD. Untuk menjaga kelancaran jalannya penyelenggaraan Ujian Nasional, diadakan pendataan lembaga dan calon peserta UN SD/MI, penyusunan kisi – kisi ujian sekolah SD/MI, sosialisasi pelaksanaan UN SD/MI dan pelaksanaan UN SD/MI dan SDLB.

Meskipun sebagian besar target kinerja yang ditetapkan telah tercapai bahkan realisasinya melampaui target, namun masih ditemui beberapa permasalahan sebagaimana berikut:

1. Peserta kegiatan yang telah ditetapkan ada yang tidak hadir dalam pelaksanaan kegiatan.

2. Adanya perubahan harga pasar

3. Masih rendahnya tingkat penguasaan IT dan Multimedia

4. Terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dan lokasi sekolah yang secara geografis sulit dijangkau

5. Belum semua Kab/Kota memanfaatkan alumni peserta workshop di provinsi maupun nasional untuk mengembangkan kompetensi yang diperolehnya dalam meningkatkan mutu pembelajaran didaerahnya.

Upaya pemecahan masalah yang diambil adalah sebagai berikut:

1. Ditekankan kepada dinas Kab/Kota agar peserta yang diundang diwajibkan datang.

2. Berusaha agar pengaturan akuntansi sesuai

3. Meningkatkan kompetensi guru dan tenaga administrasi agar semakin menguasai IT dan multimedia.

4. Perbaikan fisik dan infrastruktur SD/MI beserta penambahan sarana penunjang pembelajaran (Perpustakaan, laboratorium Bahasa dan Komputer/Multimedia, Ruang Usaha Kesehatan Sekolah, ruang

(27)

Ekspresi/kreasi siswa dan lain-lain dalam rangka peningkatan mutu proses dan Output pembelajaran.

5. Meningkatkan kompetensi Kepala Sekolah (SD/MI) dalam upaya penguatan akuntabilitas dan pencitraan publik terhadap penyelenggaraan pendidikan.

c. Program Pendidikan Menengah (1.01.17)

Pagu anggaran Program Pendidikan Menengah sebesarRp. 100.583.884.620,- dengan realisasiRp. 93.036.971.267,- (92,50%). Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan menengah yang bermutu dan terjangkau bagi penduduk laki – laki dan perempuan melalui jalur formal maupun nonformal, yang mencakup SMA, SMK, MA dan Paket C. Serta penguatan pendidikan vokasional baik melalui sekolah/madrasah umum maupun kejuruan dan pendidikan non formal guna mempersiapkan lulusan yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi untuk masuk dunia kerja. Selain itu, tujuan program ini adalah untuk meningkatkan mutu sarana prasarana sebagai tempat pembelajaran yang kondusif bagi siswa dan guru.

Sasaran program ini adalah lulusan sekolah menengah pertama yang meningkat secara signifikan sebagai dampak positif pelaksanaan Wajar Dikdas 9 Tahun. Pencapaian target kinerja atas program ini adalah sebagai berikut :

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian %

Capaian

2014 2011 2012 2013 2014

13. Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SMA/MA/SMK

78.72 73,78 74,21 78,21 78,23 99,37

14. Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SMA/MA/SMK/Paket C

60.51 54,97 55,94 59,78 65,78 108,70

15. Angka Putus Sekolah jenjang SMA/MA

0.66 0,83 0,80 0,68 0,65 101,53

16. Angka Kelulusan (AL) SMA/MA/SMK 98.28 97,73 98,14 98,27 98,52 100,25 17. Angka mengulang jenjang SMA/MA/SMK 0.18 0,19 0.19 0,17 0,15 120,00 18. Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/MA 87.92 87,69 87,78 87,89 88,36 100,50

(28)

19. Rasio siswa/kelas (SMA/SMK)

33 36 33 33 24 100,00

20. Rasio siswa per guru

SMA/SMK 15 12 12 12 15 125,00 21. Rasio jumlah siswa

SMA:SMK 40.00: 60.00 46.69: 53.31 46.87: 53.13 39.96: 60.04 39,99: 60,01 100,03 22. Jumlah Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) jenjang SMA/SMK - 59 69 69 - - 23. Sekolah jenjang SMA/MA/SMK yang menerapkan pendidikan dan pengembangan seni tradisi 3 8.3 0 38.46 40 1.333,34

Capaian kinerja di atas menunjukkan bahwa secara umum target kinerja program Pendidikan Menengah telah tercapai. Dikarenakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah melaksanakan program dan kegiatan dengan sebaik-baiknya.

73,7 73,78 74,21 78,21 78,23 71 72 73 74 75 76 77 78 79 2010 2011 2012 2013 2014

APK SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C Jawa

Timur

APK

SMA/MA/SMK/SMALB/Pake t C

(29)

53,37 54,97 55,94 59,78 65,78 0 10 20 30 40 50 60 70 2010 2011 2012 2013 2014

APM SMA/MA/SMK/SMALB/Paket C Jawa

Timur

APM SMA/MA/SMK/SMALB/Pake t C 0 20 40 60 80 100 2010 2011 2012 2013 2014 0,84 0,83 0,8 0,68 0,65 0,2 0,19 0,19 0,17 0,15 97,45 97,73 98,14 98,27 98,52

Angka Putus Sekolah, Angka Mengulang, dan

Angka Kelulusan jenjang SMA/MA/SMK Jawa

Timur

Angka Kelulusan Angka Mengulang Angka Putus Sekolah

(30)

Indikator Kinerja Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SMA/MA/SMK, angka menunjukkan persentase capaian sebesar 73,70% di tahun 2010, meningkat menjadi sebesar 73,78% dan terus meningkat di tahun 2012 menjadi 74,21%, dan kembali mengalami peningkatan di tahun 2013 sebesar 78,21% dan meningkat lagi pada tahun 2014 menjadi 78,23%. Peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) jenjang SMA/MA/SMK didukung dengan semakin banyaknya orangtua siswa usia sekolah yang sadar akan pentingnya bersekolah bagi anak – anak mereka.

Indikator Kinerja Angka Partisipasi Murni (APM) jenjang SMA/MA/SMK/Paket C dari 53,37% di tahun 2010, meningkat menjadi 54,97% di tahun 2011, dan mengalami peningkatan capaian pada tahun 2012 menjadi 55,94% meningkat lagi di tahun 2013 sebesar 59,78% kemudian meningkat lagi menjadi 65,78% pada tahun 2014.

Menurunnya angka putus sekolah pada jenjang SMA/MA diukur dengan Indikator Kinerja Angka Putus Sekolah jenjang SMA/MA dari 0,84% di tahun 2010, menjadi 0,83% di tahun 2011, menjadi 0,80% di tahun 2012, menjadi 0,68% di tahun 2013 dan kembali mengalami penurunan, dengan persentase sebesar 0,65% di tahun 2014.

Indikator Kinerja Angka Kelulusan (AL) SMA/MA/SMK dari tahun 2010 capaiannya sebesar 97,45% meningkat menjadi 97,73% di tahun 2011, kemudian di tahun 2012 meningkat menjadi 98,14%, di tahun 2013 meningkat menjadi 98,27%, kemudian meningkat lagi menjadi 98,52% pada tahun 2014.Angka kelulusan menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun mengindikasikan bahwa program pembangunan pendidikan yang telah direncanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur telah berjalan dengan baik.

Menurunnya angka mengulang kelas pada jenjang SMA/SMK terlihat dari capaian di tahun 2010 sebesar 0,20%, dan angkanya menurun menjadi 0,19% di tahun 2011 dan tahun 2012, menurun lagi di tahun 2013 menjadi sebesar 0,17% kemudian kembali mengalami penurunan pada tahun 2014 menjadi sebesar 0,15%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pengajaran guru di jenjang

(31)

SMA/MA/SMK semakin baik sehingga siswa yang mengulang kelas semakin sedikit.

Indikator kinerja selanjutnya adalah Rasio siswa per guru jenjang SMA/SMK, dari tahun 2010 rasionya sebesar 13, lalu menurun menjadi 12 di tahun 2011, 2012, 2013, hingga pada tahun 2014. Adapun rasio siswa/kelas jenjang SMA/MA/SMK di tahun 2010 menunjukkan angka 37 sedangkan pada tahun 2011 menurun menjadi 36, dan pada tahun 2012 hingga 2014 persentase menunjukkan angka yang sama yakni 33. Hal ini menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah murid yang belajar diruang kelas semakin sedikit dan tidak berdesak-desakan.

Dalam rangka mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja terampil dan memperhatikan kemampuan serta kondisi ekonomi masyarakat, pengembangan pendidikan di Jawa Timur harus diimbangi dengan SMK yang berbasis keunggulan lokal. Jumlah SMK harus ditingkatkan. Adapun pencapaian di tahun 2014, rasio siswa SMA : SMK adalah sebesar 42,33 : 57,66.Namun demikian, dengan pertimbangan bahwa pendirian dan pembiayaan SMK lebih mahal daripada SMA, pemerintah daerah harus mengalokasikan sumber dana untuk menopang SMK. Hal itu membutuhkan komitmen para Kepala Daerah dalam mengalokasikan sumber dana.

Capaian Kinerja di atas dicapai melalui Program Kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, diantaranya sebagai berikut:

1. Kegiatan : Rehabilitasi Sedang/Berat Bangunan Sekolah (041)

2. Kegiatan : Peningkatan pengelolaan manajemen pendidikan dan pelatihan (075)

3. Kegiatan : Bantuan Operasional SMA Olah Raga Sidoarjo (078) 4. Kegiatan : Peningkatan manajemen pendidikan SMK (082) 5. Kegiatan : Peningkatan manajemen pendidikan SMK (082)

6. Kegiatan : Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan SMK (083)

7. Kegiatan : Penunjang perluasan dan peningkatan mutu pendidikan melalui UPT - TEKKOMDIK (084)

8. Kegiatan : Peningkatan mutu SMA menuju Sekolah Berstandar Internasional (100)

(32)

9. Kegiatan : Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan SMA serta Sekolah Berwawasan Lingkungan di Jawa Timur (101)

10. Kegiatan : Pengembangan dan peningkatan mutu kesenian pendidikan menengah (104)

11. Kegiatan : Peningkatan Mutu Pendidikan SMA (105)

12. Kegiatan : Perluasan dan peningkatan mutu pendidikan kejuruan melalui UPT PPPK (125)

13. Kegiatan : Pelatihan peningkatan kompetensi Guru/Siswa SMK (126)

Pada jenjang pendidikan SMA/MA/SMK pada kurun waktu tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 terjadi peningkatan angka APK, APM, jumlah penduduk usia sekolah, jumlah siswa, jumlah lulusan, jumlah lembaga beserta ruang kelas, dan jumlah gurunya, seperti rincian tabel berikut:

Tabel 8

Perkembangan pendidikan pada jenjang SMA/MA/SMK Tahun 2012 –2014

No. Komponen Satuan 2012 2013 2014 1 Pend Usia 16-18 tahun Orang 1.810.625 1.742.716 1.763.129

2 Siswa Baru Tingkat I Orang 473.480 463.162 486.769

a. SMA Orang 170.940 156.385 164.536 a. MA Orang 89.911 87.414 92.854 b. SMK Orang 212.629 219.363 229.379 3 Siswa Orang 1.300.503 1.312.856 1.348.733 a. SMA Orang 495.317 464.721 438.140 a. MA Orang 243.517 245.888 253.124 b. SMK Orang 561.430 601.879 657.469

c. SMA TERBUKA Orang 239 368 368

4 Siswa Usia 16-18 tahun Orang 987.157 1.021.858 1.138.696

a. SMA Orang 383.558 368.039 370.682

a. MA Orang 179.222 178.825 188.453

(33)

5 Lulusan Orang 384.974 388.439 410.959 a. SMA Orang 158.469 157.717 164.897 c. MA Orang 61.924 57.291 66.058 d. SMK Orang 164.581 173.431 180.004 6 Guru Orang 114.353 122.791 133.701 a. SMA Orang 39.236 39.955 40.350 b. MA Orang 29.828 30.813 39.228 c. SMK Orang 45.289 52.023 54.123 7 Sekolah Lembaga 3.928 4.101 4.300 a. SMA Lembaga 1.285 1.324 1.347 a. MA Lembaga 1.294 1.320 1.339 b. SMK Lembaga 1.349 1.457 1.614

8 Ruang Kelas R.Kelas 36.231 37.217 39.032

a. SMA R.Kelas 14.406 14.139 14.905

b. MA R.Kelas 7.588 8.221 8.523

c. SMK R.Kelas 14.237 14.857 15.604

Sumber : Data Pokok Pendidikan 2011/2012–2013/2014 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

Pada kurun waktu tahun 2012 - 2014, terjadi penurunan pada jumlah penduduk usia 16-18 tahun yakni sebesar 1.810.625 pada tahun 2012 pada tahun 2013 terjadi penurunan menjadi sebesar 1.742.716 orang dan menurun kembali menjadi 1.763.129 orang pada tahun 2014. Walaupun terjadi fluktuasi pada jumlah siswa SMA dan SMK, namun jumlah siswa jenjang SLTA secara keseluruhan meningkat dari 1.300.503 pada tahun 2012 menjadi 1.312.856 orang pada tahun 2013 dan meningkat lagi menjadi 1.348.733 siswa pada tahun 2014 yang berdampak pada peningkatan APK SLTA yang mencapai 74,21 pada tahun 2012 dari 78,21 di tahun 2013 dan meningkat lagi menjadi 78,23 pada tahun 2014.

Di sisi lain, peningkatan juga terjadi pada jumlah guru SMA yang pada tahun 2012 sebanyak39.236 orang, menjadi 39.955 orang di tahun 2013 kemudian meningkat kembali pada tahun 2014 menjadi 40.350 orang. Demikian pula dengan guru MA yang meningkat dari 29.828 orang pada tahun 2012 menjadi 30.813 orang di tahun 2013 dan meningkat kembali menjadi sebanyak 39.228 orang pada tahun

(34)

2014dan guru SMK dari 45.289 orang di tahun 2012 meningkat menjadi 52.023 orang di tahun 2013 dan kembali meningkat menjadi 54.123 orang pada tahun 2014.

Peningkatan konstan juga terjadi pada jumlah sekolah dan jumlah ruang kelas secara keseluruhan. Hal ini disebabkan adanya program pembangunan unit sekolah baru dan ruang kelas baru serta rehabilitasi ruang kelas untuk memperluas daya tampung lembaga jenjang pendidikan menengah sesuai dengan prioritas pembangunan pendidikan di Jawa Timur. Selain itu, program pembangunan ini juga memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik dari berbagai golongan masyarakat yang berbeda baik secara sosial, ekonomi, gender, lokasi tempat tinggal dan tingkat kemampuan intelektual serta kondisi fisik. Dampaknya, peningkatan konstan terjadi pada APK dan APM yang menunjukkan bahwa Program Rintisan Wajib Belajar Pendidikan Menengah (Wajar Dikmen) 12 Tahun menunjukkan keberhasilan.

Kegiatan yang mendukung berjalannya Program Pendidikan Menengah yang dilaksanakan adalah, O2SN SMA, FLS2N SMA, Lomba Cerdas Cermat UUD NRI, OSN SMA, Pengerahan Siswa dalam rangka Upacara Bendera, Verifikasi Bantuan Hibah, Evaluasi Program Anti KKN, Pembinaan MOS SMA, Peningkatan Mutu Guru Mapel SMA, Bimbingan Teknis KTSP Tim Pengembang Kurikulum, Sosialisasi Pendataan Calon Peserta UN SMA/MA, Sosialisasi Ujian Nasional, Sosialisasi dan aplikasi software ujian sekolah (Pengenalan software), Pengolahan hasil UN, Penyusunan Pedoman Teknis (Domnis), Lomba Debat Bahasa Inggris, Workshop penanggulangan HIV AIDS, Implementasi Kurikulum Tahun 2013, Pembinaan Guru Pembina OSN, Peningkatan Mutu Guru SSN, Workshop Petugas Lab. Fisika, Kimia & Biologi SMA, Workshop Peningkatan Mutu Guru BK, Workshop Peningkatan Mutu Guru Olahraga, Workshop Peningkatan Mutu Manajemen SSN, Workshop Petugas Perpustakaan, Workshop Petugas Tata Usaha Sekolah, Workshop Pendataan Calon Peserta UN SMA/MA, Koordinasi Penyusunan Program Pendidikan Menengah Pertama dan Pendidikan Menengah Atas.

Hasil pelaksanaan program/kegiatan yang dilaksanakan diantaranya adalah Pembuatan/Penerbitan Majalah Pendidikan, Penyelenggaraan Sistem Informasi

(35)

dan Komunikasi, Monitoring, Evaluasi dan Konsultasi di Dinas Kab/ Kota se-Jatim, Pemberdayaan Media Pendidikan bagi guru, Pemanfaatan Media Komputer untuk pendidikan sebanyak 3 kali yang diikuti oleh 76 orang Guru atau TU SMP/MTs, Pendidikan Jarak Jauh di Jawa Timur bagi daerah terpencil atau daerah yang sulit dijangkau, Olimpiade TIK Pendidikan, Produksi Media VCD pembelajaran sebanyak 10 Program berupa Master DVD, Penyelenggaraan Radio Pendidikan, Penyelenggaraan Drama Sekolah 1 kali untuk siswa SMP dan SMA, Workshop penyusunan program di Tekkomdik, dan Penggandaan CD audio lagu dan budaya.

Selain itu juga diadakan perawatan, perbaikan dan pengadaan alat – alat bengkel mesin dan CNC serta sarana pendukung Pendidikan dan Pelatihan lainnya yang berada di UPT PPPK (Pelatihan dan Pengembangan Pendidikan Kejuruan) sesuai standar ISO 9001 : 2008.

Untuk mewadahi potensi siswa yang berbakat dan minat khusus misalnya olahraga atau memiliki kecerdasan kinestetik yang tinggi maka dimulai tahun pembelajaran 2009/2010 di Jawa Timur diselenggarakan SMA Negeri Olahraga (SMANOR) yang lokasinya di kecamatan Buduran, Sidoarjo. Di sinilah terselenggaranya pembinaan dan pembibitan atlit berprestasi di cabang olahraga gulat sebanyak 28 atlit, judo sebanyak 13 atlit, pencak silat sebanyak 23 atlit, atletik sebanyak 21 atlit, renang/selam sebanyak 11 atlit, sepak takraw 27 atlit, panjat tebing sebanyak 8 atlit, karate sebanyak 16 atlit dan voli pantai sebanyak 15 atlit, melalui penjaringan atlit masing – masing cabor dan pelaksanaan try out. Walaupun sebagian besar target kinerja telah terpenuhi dan bahkan terlampaui, beberapa permasalahan terkait dengan pelaksanaan Program Pendidikan Menengah masih muncul, antara lain:

1. Undangan kegiatan seringkali tidak sampai ke sekolah, sehingga sekolah banyak yang tidak mengikuti kegiatan yang diadakan;

2. Kurangnya Sarana prasarana akademik dan kepelatihan olahraga prestasi; 3. Kurangnya Volume Try Out atau uji tanding ke luar provinsi atau luar negeri; 4. Tenaga pelatih dan administrasi masih banyak tenaga kontrak (outsorcing). Adapun upaya pemecahan masalah yang dilaksanakan antara lain:

(36)

1. Melakukan Koordinasi antara sekolah dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;

2. Mengupayakan tempat latihan diluar arena UPT SMANOR Jatim, khususnya cabang olahraga selam, renang dan atletik;

3. Memotivasi para atlit untuk menambah sendiri jam latihan;

4. Meningkatkan kinerja pelatih dan mengevaluasi program kepelatihan secara berkelanjutan.

d. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan (1.01.22)

Pagu Anggaran Program Manajemen Pelayanan Pendidikan sebesarRp. 60.940.420.000,- dengan realisasiRp. 56.909.605.573,- (93,39%). Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pendidikan serta mutu pelayanan pendidikan bagi masyarakat luas, yang meliputi penyediaan informasi pendidikan, penyediaan bantuan keuangan untuk penyelenggaraan pendidikan, bantuan sarana prasarana dan fasilitasi Dewan Pendidikan.

Sasaran dari program ini adalah siswa dari keluarga kurang mampu pada jenjang SMA dan Community College, lembaga dan tenaga pendidik pada Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional serta masyarakat umum.

Pencapaian target kinerja atas program ini adalah sebagai berikut :

INDIKATOR KINERJA Target Realisasi/Capaian %

Capaian 2014 2011 2012 2013 2014 24. Persentase sekolah berakreditasi 84.75 51.00 63.00 65.00 68,86 81,25 25. Persentase penduduk miskin yang bisa bersekolah

73,05 73.79 73.03 72.15 72,97 99,89

Capaian Kinerja di atas dicapai melalui Program Kegiatan di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, diantaranya sebagai berikut:

1. Kegiatan : Pelaksanaan Kerjasama secara kelembagaan di bidang pendidikan (002)

(37)

3. Kegiatan : Fasilitas pengembangan pendidikan yang berkaitan dengan masalah pembangunan (011)

4. Kegiatan : Fasilitas Dewan Pendidikan Jawa Timur (012)

5. Kegiatan : Penerapan sistem informasi pendidikan melalui pendataan (014) 6. Kegiatan : Monev dan Pengembangan Pengawasan Pendidikan (015) 7. Kegiatan : Sinkronisasi dan koordinasi Bidang Pendidikan (016)

8. Kegiatan : Sosialisasi dan Advokasi Peraturan di Bidang Pendidikan (017) 9. Kegiatan : Peningkatan SDM dan Pengembangan sarana dan prasarana

perkantoran (020)

10. Kegiatan : Pengembangan Pendidikan di Daerah Terpencil di Jawa Timur (021)

11. Kegiatan : Program Akreditasi Sekolah (022)

12. Kegiatan : Pengembangan dan Fasilitasi Program Pendidikan (025) 13. Kegiatan : Pengembangan sarana dan prasarana pendidikan (026) 14. Kegiatan : Bantuan Operasional Sekolah (BOS SLTA) (033)

15. Kegiatan : Rintisan Wajar Pendidikan 15 Tahun Jawa Timur (034) 16. Kegiatan : Peningkatan operasional ICT (036)

17. Kegiatan : Pengawasan BOS Pendidikan Dasar dan Menengah (037)

Hasil pelaksanaan program/kegiatan diantaranya adalah sebagai berikut:

 Tersedianya data dan informasi pendidikan dari Triwulan I sampai Triwulan IV pada 10 Unit Kerja Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur;

 Semua komponen yang terkait dengan proses pengelolaan pendidikan memahami tentang arti pentingnya data dan informasi;

 Sistem penyimpanan arsip data dan informasi mengarah ke informasi teknologi;

 Dapat mendayagunakan database pendidikan persekolahan sebagai bentuk analisis dan sebagai pendukung dalam perencanaan pendidikan pada satuan pendidikan;

 Sumber Daya Manusia pendataan pendidikan mampu menguasai dan memanfaatkan Pangkalan Data dan Informasi Teknologi Informasi;

(38)

 Penguatan dan meningkatnya fasilitasi program pendidikan untuk perwujudan pemahaman masyarakat terhadap perkembangan pendidikan terkini.

Pengelolaan dan pemutakhiran data pendidikan sangatlah penting dalam upaya mewujudkan tata kelola pendidikan yang baik. Hal ini dilakukan dengan melakukan pendataan secara berkala melalui kerjasama dengan petugas pendataan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk menyusun Profil Pendidikan Kabupaten/Kota tahun 2014.

Selain itu, untuk memastikan terlaksananya penguatan tata kelola dan akuntabilitas lembaga, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur melakukan perbaikan manajemen kinerja pembangunan pendidikan sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas dan kredibilitas instansi. Aktualisasi dari perbaikan manajemen ini adalah diterapkannya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) pada Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur melalui evaluasi dan pelaporan kinerja program/kegiatan secara berkala (bulanan, triwulanan, dan tahunan) serta penyusunan LAKIP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tahun 2014.

Sebagai bentuk penjaminan mutu pendidikan, diadakan akreditasi sekolah/madrasah untuk mengidentifikasi sekolah/madrasah yang bermutu dan sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada tahun 2014. Hingga tahun 2014, terdapat 44.244lembaga yang telah diakreditasi. Adapun rincian jumlah lembaga per jenjang pendidikan dapat dilihat pada gambar berikut:

(39)

Indikator selanjutnya adalah persentase penduduk miskin yang dapat mengakses pendidikan. Program prioritas yang dijalankan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur juga membantu untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Timur, dengan kondisi geografis dan kondisi ekonomi yang berbeda-beda di Provinsi Jawa Timur ini, tentunya masih banyak masyarakat yang ekonominya masih lemah, sehingga banyak masyarakat yang tidak bisa merasakan bangku sekolah. Selain BOS (Bantuan Operasional Sekolah) untuk jenjang SD dan SMP, pemerintah juga memberikan Bantuan Operasional Sekolah untuk jenjang SLTA, yang pada tahun 2008 disebut sebagai Bantuan Khusus Siswa Miskin dan pada tahun 2009 berganti nama menjadi BOS SLTA. Bantuan untuk siswa miskin juga diberikan melalui penyaluran ke madrasah diniyah, yang diharapkan agar biaya pendidikan diharapkan menjadi jauh lebih murah tetapi tetap berkualitas, tetapi dengan adanya bantuan ini, tidak lantas menutup kesempatan bagi pihak lain atau orang tua siswa untuk tetap berpartisipasi dalam memberikan bantuan dan sumbangan kepada sekolah.

TK; 7.948 RA; 2.496 SD; 18.437 MI; 5.438 SMP; 2.757 MTs; 1.575 SMA; 1.427 MA; 1.181 SMK; 2.809 SLB; 176

JUMLAH SEKOLAH/MADRASAH YANG TELAH

TERAKREDITASI TAHUN 2014

(40)

Berikut disajikan tabel rincian siswa yang mendapatkan Bantuan BPPDGS (Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru Swasta) untuk penyetaraan jenjang SD dan SMP serta BKSM (BOS SLTA):

Tabel 9

Rincian Siswa Penerima Bantuan Berdasarkan Jenjang Pendidikan Di Provinsi Jawa Timur

TAHUN

BPPDGS BKSM (BOS

SLTA) JUMLAH SISWA SELURUHNYA SD SMP SMA/SMK 2010 753.565 147.377 84.784 985.726 2011 863.712 183.473 122.500 1.169.685 2012 1.125.591 237.207 112.500 1.475.298 2013 849.115 176.606 77.820 1.103.541 2014 865.440 202.331 77.820 1.145.591

Keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat dari beberapa indikator pemerataan pendidikan, seperti Angka Partisipasi Kasar (APK), Angka Partisipasi Murni (APM), Rasio Siswa, guru, kelas, sekolah dan lainnya.

Tabel 10

Indikator Pemerataan Pendidikan Tahun 2013/2014 No Indikator SD + MI SMP + MTs SM + MA 1. APK 112,72 102,85 78,23 2 APM 98 87,60 65,78 3 Rasio -Siswa/sekolah 166 252 314 -Siswa/Kelas 24 30 24 - Kelas/R.Kelas 1,02 0,98 1,01 - Siswa/Guru 15 12 15

4 Akses Masuk ke Sekolah

- Angka Melanjutkan - 98,96 88,36

(41)

Makin tinggi jenjang pendidikan makin rendah APK. Tingginya APK di tingkat SD+MI yaitu sebesar 112,72 adalah karena banyaknya siswa usia diluar usia sekolah yang diprasyaratkan dijenjang tersebut. Sementara APK di tingkat SLTP+MTs sebesar 102,85 sedangkan untuk jenjang SMA+SMK+MA sebesar 78,23. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jenjang SD+MI mempunyai APK yang lebih baik dibandingkan dengan tingkat lainnya.

Sementara itu, APM yang tertinggi terdapat di tingkat SD+MI yaitu 98 dan yang terendah di tingkat SMA+MA+SMK yaitu 60,78. Berdasarkan APM dapat diketahui bahwa pada tingkat SD+MI anak usia sekolah yang bersekolah lebih banyak dibandingkan dengan tingkat lainnya. Hal ini menunjukkan kinerja yang paling baik terdapat di tingkat SD+MI.

Indikator berikutnya membicarakan tentang rasio siswa per sekolah, siswa per kelas, kelas per ruang kelas, siswa per guru dan kelas per guru. Pada tabel di atas ternyata makin tinggi jenjang pendidikan makin padat sekolah yang diperlihatkan dari Rasio Siswa/Sekolah. Hal ini wajar karena jangkauan anak pada jenjang yang tinggi makin luas sehingga Rasio Siswa/Sekolah di SMA+MA+SMK paling tinggi 324 sedangkan yang terkecil adalah SD+MI sebesar 166 sedangkan pada jenjang SMP+MTs sebesar 252. Hal ini juga berarti makin sedikit sekolah pada jenjang yang makin tinggi (SM+MA+SMK) dan makin banyak sekolah pada jenjang yang makin rendah (SD+MI).

Hal yang sama juga berlaku untuk kepadatan kelas. Ternyata, makin tinggi jenjang pendidikan, makin padat suatu kelas yang ditandai dengan Rasio Siswa/Kelas yang mendekati standar ideal (32), yaitu yang terbesar SMP+MTs (30), sedangkan SD+MI dan SMA+MA+SMK (24). Dengan demikian, di SMP+MTs penggunaan kelas yang ada lebih efisien daripada di SD+MI dan SMA+MA+SMK.

Dalam hal pemanfaatan ruang kelas, ternyata SMP+MTs yang paling sedikit. Ini dapat dilihat dari Rasio Kelas/Ruang Kelas SMP+MTs sebesar 0,98 dan SMA+MA+SMK sebesar 1,01dan yang tertinggi SD+MI sebesar 1,02. Hal ini menunjukkan bahwa di SMP+MTs telah kelebihan ruang kelas, sedangkan di

(42)

SM+MA+SMK dan SD+MI masih memerlukan ruang kelas tambahan agar tidak ada ruang kelas yang digunakan lebih dari sekali.

Dari segi guru, ternyata makin tinggi jenjang pendidikan tidak berbanding lurus dengan makin tingginya kebutuhan guru per siswa. Rasio Siswa/Guru sebesar 15 di SD+MI dan SMA+MA+SMK, dan sebesar 12 pada jenjang SMP+MTs. Besarnya rasio siswa per guru ini menunjukkan kurangnya guru di tingkat tersebut. Sebaliknya, rasio terkecil menunjukkan cukupnya guru di tingkat tersebut.

Dalam hal Angka Melanjutkan, ternyata SMP memiliki akses masuk ke sekolah paling tinggi (angka melanjutkan sekolah dari SD+MI ke SMP+MTs) yaitu sebesar 98,96. Sementara itu, Angka Melanjutkan (AM) Ke SMA+MA+SMK sebesar 88,36. Besarnya Angka melanjutkan dari SD+MI ke SMP+MTs (AM ke SMP+MTs) ini disebabkan adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan untuk masa depan disamping adanya kebijakan Pemerintah terhadap pendidikan gratis bagi SD+MI dan SMP+MTs.

Selain indikator pemerataan pendidikan, keberhasilan pembangunan pendidikan juga dapat dilihat dari indikator peningkatan mutu pendidikan.

Tabel 11

Indikator Mutu Pendidikan Tahun 2013/2014 No Indikator SD + MI SMP + MTs SM + MA + SMK 1. Rata-Rata UN Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Matematika IPA Bahasa Inggris Jurusan : IPA Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Fisika Kimia Biologi IPS 7,68 7,47 7,88 7,56 7,15 7,61 7,52 7,80 7,58 7,87 8,08 7,65 7,76

(43)

Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Ekonomi Sosiologi Geografi BAHASA Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Sastra Antropologi Bahasa Asing AGAMA Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Matematika Ilmu Tafsir Ilmu Hadis Fiqih 7,39 7,30 7,49 7,70 7,66 7,45 7,52 7,01 7,35 7,73 7,46 8,10 7,43 7,03 7,04 7,94 7,95 7,62

2. Angka Putus Sekolah 0,10 0,35 0,65

3. Angka Mengulang 1,69 0,13 0,15

4. Angka Lulusan 99,93 99,03 98,52

5. Angka Kelayakan Guru Mengajar

a. Layak 85,83 95,75 94,39

b.Tidak Layak 14,17 4,25 5,61

6. Persentase Kondisi Ruang Kelas

a. Baik 94,32 90,66 91,32

b.Rusak Ringan 2,80 6,42 6,44

c. Rusak Berat 2,89 2,92 2,24

7. Persentase Fasilitas Sekolah

a.Perpustakaan 98,81 88,36 86,82

b.Ruang OR 94,31 88,19 72,01

c.UKS 92,86 90,27 89,62

d.Laboratorium - 88,38 93,82

e. Ruang Komputer 91,94 91,76 93,05

Sumber : Profil Pendidikan 2013/2014 Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan indikator mutu pendidikan yaitu rata – rata UN, angka mengulang, angka putus sekolah, dan angka lulusan, dapat dilihat bahwa rata – rata UN SD+MI untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia7,68 mata pelajaran Matematika 7,47 dan mata pelajaran IPA rata-ratanya sebesar 7,88.

Untuk Angka Putus Sekolah (APS) semakin tinggi jenjang pendidikan semakin tinggi pula angka putus sekolahnya, yaitu di SD 0,10, SMP 0,35 dan SM 0,65. Besarnya Angka Putus Sekolah di SM karena semakin tinggi jenjang sekolah semakin banyak anak rawan putus sekolah. Padahal makin kecil APS makin baik

Gambar

Tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia 7  -12 tahun dan lulusan  mengalami penurunan

Referensi

Dokumen terkait

Apa Stat Apa Status gaji Manaj us gaji Manajer pengi er pengisia sian n dan pen dan pengep gepaka akan, Manaj n, Manajer er Uru Urusan Umum san Umum (pakai Comparaso)..

Diagram ini dibuat untuk rancangan atau desain sistem pengendalian pada PLC yang kemudian diagram Ladder ini dibuat dalam data mnemonic untuk ditransfer ke CPU PLC melalui

Peningkatan produksi dan mutu benih botani (True Shallot Seed) Bawang Merah (Allium cepa var. Ascalonicum) dengan BAP dan Boron, serta serangga penyerbuk.. Institut

Peran pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Khususnya Badan Pemberdayaan Masyarakat dalam Melaksanakan Program Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Perdesaan

Struktur modal terbaik adalah struktur modal yang dapat memaksimumkan nilai perusahaan atau harga saham, sehingga perusahaan yang memiliki struktur modal yang baik

Strategi Pemasaran produk Kredit Konsumer yang digunakan untuk memenuhi target perusahaan menggunakan Bauran Pemasaran 4 P yaitu Product ( Produk ) ditujukan debitur yang

SeCube merupakan sistem keamanan penitipan barang (loker) masjid dengan memanfaatkan smartphone sebagai pengakses loker dengan scan QRCode, NodeMCU sebagai

Penggunaan Activator ini berhubungan dengan organisme yang membantu dalam proses pengomposan. Dengan adanya activator dalam proses pengomposan akan mempercepat