BAB 5 PERKEMBANGAN REALISASI TRANSFER KE DAERAH DAN
5.2 Realisasi Transfer ke Daerah Semester I Tahun 2016
Berdasarkan pagu alokasi yang telah ditetapkan dalam APBNP tahun 2016 dan pola penyaluran yang telah ditetapkan dalam PMK Nomor 48/PMK.07/2016 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, sampai dengan semester I tahun 2016 realisasi Transfer ke Daerah mencapai Rp357.189,1 miliar, atau 49,0 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut secara nominal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah 1,8 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 50,8 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.1 Dana Perimbangan
Dana Perimbangan dalam APBNP tahun 2016 terdiri dari atas Dana Transfer Umum dan Dana Transfer Khusus yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pagu Dana Transfer Umum mencapai Rp494.436,7 miliar, sedangkan pagu Dana Transfer Khusus mencapai Rp211.022,2 miliar. Realisasi Dana Perimbangan sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp348.681,8 miliar, atau 49,4 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut secara nominal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah 2,0 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 51,4 persen dari pagu APBNP tahun 2015. Realisasi penyaluran Dana Perimbangan semester I tahun 2016 tersebut dipengaruhi oleh realisasi penyaluran DBH Pajak dan DBH SDA karena adanya kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyaluran DBH triwulan I tahun 2016 dan mempercepat penyaluran kurang bayar DBH yang telah dianggarkan dalam APBN kepada daerah.
5.2.1.1 Dana Transfer Umum
Anggaran Dana Transfer Umum yang dialokasikan dalam APBNP tahun 2016 sebesar Rp494.436,7 miliar, terdiri atas DBH sebesar Rp109.075,8 miliar dan DAU sebesar Rp385.360,8 miliar. Realisasi penyaluran Dana Transfer Umum sampai dengan semester
I tahun 2016 sebesar Rp277.819,9 miliar, atau 56,2 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi Dana Transfer Umum tersebut lebih tinggi 0,3 persen dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 55,9 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.1.1.1 Dana Bagi Hasil
DBH dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dari pendapatan negara untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pendapatan negara yang dibagihasilkan bersumber dari penerimaan pajak dan PNBP sumber daya alam. Pada tahun 2016, kebijakan DBH antara lain diarahkan untuk melakukan pengalokasikan DBH berdasarkan prinsip by origin, meningkatkan akurasi dan transparansi perhitungan alokasi DBH, mempercepat penyelesaian kurang bayar DBH, dan mengoptimalkan penyerapan DBH dengan memperbaiki ketentuan penggunaan DBH yang penggunaannya diarahkan, seperti DBH Cukai Hasil Tembakau dan DBH SDA Kehutanan Dana Reboisasi.
Realisasi DBH sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp53.630,9 miliar, atau 49,2 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut lebih tinggi 1,2 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 48,0 persen dari pagu APBNP tahun 2015. Realisasi DBH yang lebih tinggi pada semester I tahun 2016 dibandingkan dengan tahun 2015, terutama disebabkan karena adanya kebijakan Pemerintah untuk mempercepat penyaluran DBH reguler triwulan I tahun 2016 dan mempercepat penyaluran kurang bayar DBH yang telah dianggarkan dalam APBN kepada daerah.
5.2.1.1.1.1 Dana Bagi Hasil Pajak
DBH Pajak terdiri atas Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21) dan Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25/29 WPOPDN), Pajak Bumi dan Bangunan Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan (PBB-P3), dan Cukai Hasil Tembakau (CHT). Dalam APBNP tahun 2016, pagu alokasi DBH Pajak mencapai Rp68.619,6 miliar.
Sampai dengan semester I tahun 2016 realisasi DBH Pajak mencapai Rp24.652,5 miliar, atau 35,9 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi DBH Pajak tersebut secara nomimal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah 3,1 persen jika dibandingkan dengan realisasinya dalam periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 39,0 persen dari pagu APBNP tahun 2015. Lebih rendahnya persentase realisasi DBH pajak tersebut dikarenakan pada APBNP tahun 2016 terdapat alokasi kurang bayar DBH tahun 2015 yang akan dibayarkan pada semester II tahun 2016.
5.2.1.1.1.2 Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam
DBH Sumber Daya Alam merupakan bagian daerah yang berasal dari penerimaan SDA kehutanan, mineral dan batubara, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pengusahaan panas bumi. Berdasarkan penerimaan negara dari masing-masing jenis SDA tersebut, dalam APBNP tahun 2016 ditetapkan pagu DBH SDA sebesar Rp40.456,3 miliar.
Realisasi DBH SDA sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp28.978,4 miliar, atau 71,6 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 15,0 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang
I tahun 2016 yang lebih tinggi tersebut antara lain dipengaruhi oleh perbaikan kebijakan penyaluran, yakni dengan memperbesar penyaluran pada triwulan I dan triwulan II masing sebesar 25 persen, dimana pada tahun sebelumnya besaran penyaluran pada triwulan I dan triwulan II masing-masing sebesar 20 persen dari pagu alokasi.
5.2.1.1.2 Dana Alokasi Umum
DAU dialokasikan kepada daerah dengan tujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah. Dalam tahun 2016, DAU dialokasikan sebesar 27,7 persen dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) neto dan ditetapkan secara fi nal dalam APBN. Proporsi DAU ditetapkan dengan imbangan 10 persen untuk provinsi dan 90 persen untuk kabupaten/kota. Pagu alokasi DAU dalam APBNP tahun 2016 mencapai Rp385.360,9 miliar. Sesuai ketentuan dalam PMK Nomor 48/PMK.07/2016 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, DAU disalurkan setiap bulan kepada daerah sebesar seperduabelas dari total alokasi DAU. Realisasi DAU sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp224.189,1 miliar, atau 58,2 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut relatif sama dengan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 58,3 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.1.2 Dana Transfer Khusus
Dana Transfer Khusus merupakan dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kegiatan tertentu yang menjadi urusan daerah dan sejalan dengan prioritas nasional. Dalam APBNP tahun 2016, alokasi Dana Transfer Khusus sebesar Rp211.022,2 miliar, terdiri atas DAK Fisik sebesar Rp89.809,4 miliar dan DAK Nonfi sik sebesar Rp121.212,9 miliar. Realisasi penyaluran Dana Transfer Khusus sampai dengan semester I tahun 2016 sebesar Rp224.189,1 miliar, atau 58,2 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi Dana Transfer Khusus tersebut secara nominal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah 0,2 persen dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 58,3 persen dari pagu APBNP tahun 2015
5.2.1.2.1 Dana Alokasi Khusus Fisik
DAK Fisik dialokasikan untuk membantu daerah dalam mendanai program/kegiatan fi sik yang menjadi kewenangan daerah dan menjadi prioritas nasional, termasuk penyediaan infrastruktur sarana dan prasarana pelayanan dasar publik guna memenuhi Standar Pelayanan Minimum. Pagu alokasi DAK Fisik dalam APBNP tahun 2016 sebesar Rp89.809,4 miliar.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan DAK, sesuai dengan PMK Nomor 48/ PMK.07/2016 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa, telah dilakukan perubahan kebijakan penyaluran DAK Fisik, yakni penyalurannya dilaksanakan berdasarkan kinerja penyerapan dana oleh daerah. Penyaluran DAK Fisik dilaksanakan secara triwulan, yaitu triwulan I sebesar 30 persen, triwulan II dan triwulan III masing-masing sebesar 25 persen, dan triwulan IV sebesar 20 persen. Realisasi DAK Fisik sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp24.895,1 miliar, atau 27,7 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut secara nominal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah 0,2 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 28,0 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.1.2.2 Dana Alokasi Khusus Nonfi sik
DAK Nonfi sik dialokasikan kepada Daerah untuk membantu mendanai kegiatan khusus nonfi sik yang merupakan urusan daerah, terutama terkait dengan pelayanan dasar publik di bidang pendidikan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia. DAK Nonfi sik terdiri atas: 1) Bantuan Operasional Sekolah (BOS), 2) Bantuan Operasional Penyelenggaraan-Pendidikan Anak Usia Dini (BOP-PAUD), 3) Tunjangan Profesi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (TP Guru-PNSD), 4) Dana Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (DTP Guru-PNSD), 5) Dana Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2), 6) Bantuan Operasional Kesehatan dan Keluarga Berencana (BOK dan BOKB), serta 7) Dana Peningkatan Kapasitas Koperasi, UKM, dan Ketenagakerjaan (PK2UKM dan Naker). Pagu alokasi DAK Nonfi sik dalam APBNP tahun 2016 mencapai Rp121.212,9 miliar.
DAK Nonfi sik disalurkan kepada daerah sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Realisasi DAK Nonfi sik sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp45.966,8 miliar, atau 37,9 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut secara nominal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah 6,7 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 44,7 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.2 Dana Insentif Daerah
DID merupakan dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah tertentu berdasarkan kriteria tertentu dengan tujuan untuk memberikan penghargaan atas pencapaian kinerja tertentu. Pada tahun 2016 DID dialokasikan kepada 271 daerah, yang terdiri atas 28 Provinsi, 56 Kota, dan 187 Kabupaten. Pagu alokasi DID dalam APBNP tahun 2016 ditetapkan sebesar Rp5.000 miliar.
Realisasi DID sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp2.905,0 miliar, atau 58,1 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut lebih tinggi 23,3 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 34,8 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.3 Dana Otonomi Khusus dan Dana Keistimewaan Daerah
Istimewa Yogyakarta
Dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi khusus di Provinsi Aceh, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, berdasarkan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua jo. UU Nomor 35 Tahun 2008 dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pemerintah juga mengalokasikan anggaran Dana Otonomi Khusus (Otsus). Alokasi Dana Otsus bagi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat besarnya adalah setara dengan 2 persen dari pagu DAU Nasional, dengan pembagian 70 persen untuk Provinsi Papua dan 30 persen untuk Provinsi Papua Barat. Dana Otsus ini ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan di Provinsi Papua dan Papua Barat. Alokasi Dana Otsus bagi Provinsi Aceh besarnya juga setara dengan 2 persen dari pagu DAU Nasional dan ditujukan untuk pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi rakyat, pengentasan kemiskinan, serta pendanaan bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan. Selain Dana Otsus, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat juga mendapatkan alokasi Dana Tambahan Infrastruktur yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara. Dana Tambahan Infrastruktur diberikan dengan tujuan untuk mempercepat
pembangunan infrastruktur sehingga sekurang-kurangnya dalam 25 (dua puluh lima) tahun seluruh kabupaten/kota, distrik atau pusat-pusat penduduk lainnya terhubungkan dengan transportasi darat, laut, atau udara yang berkualitas.
Sementara itu, Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta dialokasikan berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan D.I. Yogyakarta dalam rangka penyelenggaraan kewenangan keistimewaan D.I. Yogyakarta. Alokasi Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta ditetapkan dalam APBN berdasarkan pengajuan dari Pemerintah Daerah D.I. Yogyakarta serta disesuaikan dengan kondisi keuangan Negara. Pengajuan tersebut terlebih dahulu dibahas dengan Kementerian Dalam Negeri dan K/L terkait.
Dalam APBNP tahun 2016, pagu alokasi Dana Otonomi Khusus dan Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta sebesar Rp18.811,9 miliar. Dari pagu alokasi tersebut, realisasinya sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp5.602,3 miliar atau 29,8 persen. Realisasi tersebut sama dengan yang dicapai pada periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 29,8 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.3.1 Dana Otonomi Khusus
Sampai dengan semester I tahun 2016, realisasi Dana Otonomi Khusus mencapai Rp5.164,3 miliar, atau 28,3 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut secara nominal lebih tinggi, namun secara persentase lebih rendah sebesar 1,7 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 30,0 persen dari pagu APBNP tahun 2015.
5.2.3.2 Dana Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Realisasi Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta sampai dengan semester I tahun 2016 mencapai Rp438,0 miliar, atau 80,0 persen dari pagunya dalam APBNP tahun 2016. Realisasi tersebut lebih tinggi sebesar 55,0 persen dibandingkan realisasinya pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 25,0 persen dari pagu APBNP tahun 2015. Meningkatnya realisasi Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta sampai dengan semester I tahun 2016, antara lain disebabkan karena semakin meningkatnya tingkat penyerapan dan penggunaan Dana Keistimewaan D.I. Yogyakarta.