• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Rekomendasi Lokasi Areal Perluasan TPA Galuga

TPA Galuga merupakan salah satu TPA terbaik yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Bogor dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor. Terkait dengan minimnya lahan dan sulitnya mencari lahan yang baru serta volume produksi sampah yang ditimbulkan perhari semakin meningkat, Pemerintah Kota Bogor sebagai pihak pengelola diprediksi akan memperpanjang pengoperasian TPA Galuga.

Kondisi operasional TPA Galuga yang semula direncanakan menggunakan sistem controlled landfill semakin lama berubah menjadi sistem open dumping. Berkurangnya fasilitas penunjang, sistem pengelolaan sampah baik dari sumber

sampai ke pengolahan (TPA) yang kurang baik, serta minimnya sumber daya manusia (SDM) dan pendananaan menjadi faktor utama perubahan sistem pembuangan di TPA ini. Terlihat, dari gunungan sampah di TPA Galuga yang saat ini telah lebih 10 m dan diperkirakan akan semakin meningkat. Berdasarkan standar pengelolaan TPA secara nasional, gunungan sampah hanya diperbolehkan sampai pada ketinggian 5 m. Apabila gunungan sampah semakin tinggi maka akan rawan terhadap ledakan gas metan (CH4) yang dihasilkan dari tumpukan

sampah. Hal ini tentu akan mengancam keselamatan dan keamanan penduduk sekitar.

Luas areal buangan TPA Galuga yang saat ini mencapai 5 ha. Areal buangan ini dinilai tidak akan mampu lagi untuk menampung sampah baik dari Kota Bogor maupun Kabupaten Bogor dengan daya angkut sampah ke TPA Galuga sebanyak 2.500-3.000 m3/hari. Salah satu bentuk alternatif yang bisa dijalankan adalah perluasan areal TPA terutama pada areal buangan sampah. Selain upaya peningkatan dalam hal pengelolaan sampah secara keseluruhan baik dari tahap pengangkutan sampai ke pengolahan, upaya ini akan bisa mengurangi dampak terhadap pencemaran lingkungan sekitar. Dalam penentuan lokasi-lokasi yang bisa dijadikan sebagai areal perluasan kawasan TPA Galuga yang difokuskan di kawasan sekitar TPA dengan memperhatikan daya dukung lahan dan lingkungan serta tidak mengenyampingkan aspek sosial kehidupan warga setempat khususnya penduduk Desa Galuga.

Analisis dan identifikasi dilakukan di 8 (delapan) titik pengamatan dari kondisi eksisting lahan di Desa Galuga (Gambar 20). Kedelapan titik tersebut diantaranya 4 titik berada di kawasan sekitar TPA Galuga yang berjarak sekitar 40 m. Sedangkan 4 titik lainnya berada relatif jauh dengan rata-rata jarak pengamatan 500 m dari TPA Galuga. Jarak ini cukup mewakili areal wilayah Desa Galuga secara keseluruhan.

Lokasi yang terpilih untuk perluasan TPA merupakan lokasi yang memenuhi syarat ditinjau dari aspek geologi, tanah meliputi sifat tanah, topografi/fisiografi, penggunaan lahan, serta potensi bencana (banjir dan longsor). Berdasarkan hasil evaluasi lahan, TPA Galuga dan kawasan sekitarnya dikategorikan kepada kelas S3 (sesuai marginal) untuk dijadikan sebagai lokasi

TPA. Hal ini mengindikasikan bahwa perluasan TPA bisa dilakukan di kawasan sekitar dengan mempertimbangkan beberapa aspek lain. Daerah atau areal yang bisa dijadikan sebagai areal perluasan TPA Galuga saat ini yang terletak di kawasan sekitar TPA disajikan pada Gambar 21.

Gambar 20. Peta Titik Pengamatan dalam Rekomendasi Perluasan TPA Galuga Perluasan TPA Galuga berjarak 500 m dari seluruh sisi TPA Galuga yang meliputi seluruh wilayah Desa Galuga. Beberapa aspek yang menjadi kajian utama yang diperhatikan dalam upaya penentuan areal perluasan TPA ini meliputi jenis tanah, kemiringan lereng, jaringan jalan, dan penggunaan lahan (persawahan). Salah satu jenis tanah yang ada di sebelah barat Desa Galuga yaitu kompleks aluvial cokelat dan aluvial cokelat kekelabuan (Gambar 11).

Tanah ini dinilai sangat tidak sesuai untuk dijadikan sebagai areal perluasan TPA. Sifat dan karakteristik tanah yang tidak bagus karena kemampuan tanah ini untuk mendekomposisi bahan sampah sangat rendah. Solum tanah yang pendek yang terlihat dari horizonnya serta daya serap tanah terhadap air buangan sampah tidak baik sehingga dapat mencemari lingkungan sekitar.

Gambar 21. Peta Rekomendasi Perluasan Areal TPA Galuga

Pengamatan lapang terhadap karakteristik tanah ini dilakukan pada 2 (titik) pengamatan yaitu T7IPS dan T8IPS dengan jarak antara kedua titik 800 m. Karakteristik tanah kompleks aluvial cokelat dan aluvial cokelat kekelabuan baik sifat kimia maupun sifat fisika tanah disajikan pada Tabel 18 dan Tabel 19, sedangkan profil tanah disajikan pada Lampiran 7. Ketidaksesuaian jenis tanah kompleks aluvial dan aluvial cokelat kekelabuan untuk dijadikan sebagai areal perluasan TPA menyebabkan dilakukannya buffering (area batas) dengan batas jarak 50 m dari kompleks tanah tersebut.

Tabel 18. Sifat Fisika Tanah Kompleks Aluvial Cokelat dan Aluvial Cokelat Kekelabuan Desa Galuga

Pedon Pewakil Simbol horizon Kedalaman Tekstur (%) Warna Pasir Debu Liat

Kompleks aluvial cokelat dan aluvial cokelat kekelabuan

II Ap 0-20 30,05 15,97 53,98 10 YR 3/3

Tabel 19. Sifat Kimia Tanah Kompleks Aluvial Cokelat dan Aluvial Cokelat Kekelabuan Kawasan Desa Galuga

No Nama

pH (1:5) Basa-Basa (me/100g) Jumlah

Basa-basa (me/100g) KTK Tanah (me/100g) KB(%) C- organik (%) N- total (%) H2O KCl K Na Ca Mg 1 T7IPS 5,0 4,6 0,10 0,32 6,39 3,17 9,98 25,34 39,38 2,66 0,24 2 T8IPS 4,6 4,3 0,04 0,27 3,93 1,87 6,12 21,41 28,58 2,36 0,24

Areal perluasan juga dilakukan dengan mempertimbangkan faktor topografi meliputi kemiringan lereng. Penentuan areal perluasan hanya dilakukan di wilayah dengan kemiringan <15 % meliputi kemiringan lereng <8% dan 8- 15%. Kemiringan lereng >15% dinilai tidak sesuai untuk dijadikan areal perluasan dikarenakan fisiografi areal yang cukup terjal dan rentan terhadap (potensi) bencana sehingga wilayah dengan kemiringan lereng tersebut langsung dieliminasi.

Penentuan areal perluasan juga mempertimbangkan aspek jalan meliputi jalan kabupaten yang lebarnya sekitar 7 m dan jalan desa. Pembangunan jalan kabupaten yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah daerah yang berada di sebelah selatan dari TPA Galuga menyebabkan juga dilakukannya buffering

dengan jarak 100 m dari jalan tersebut, sedangkan untuk jalan desa yang berada di sebelah barat TPA dilakukan buffering dengan jarak 5 m.

Buffering juga dilakukan pada aspek penggunaan lahan berupa persawahan. Kawasan persawahan dinilai tidak sesuai untuk areal perluasan karena sifat atau karakteristik tanah yang sudah berubah sehingga tidak bagus untuk lokasi TPA. Dari kondisi eksisting berdasarkan data Citra Quickbird 2010, jarak sawah terdekat dengan TPA Galuga berjarak sekitar 35 m. Berdasarkan hal ini, maka secara keseluruhan buffering dengan areal persawahan dilakukan dengan jarak 35 m.

Lokasi areal perluasan TPA Galuga yang bisa direkomendasikan meliputi kawasan sebelah utara TPA Galuga yang berjarak sekitar 500 m ke arah Desa Cijujung, sebelah tenggara dari TPA Galuga sekitar 400 m ke arah Desa Dukuh. Luas areal TPA Galuga menjadi 21,620 ha. Melalui perluasan ini, luas areal buangan TPA meningkat 16,689 ha dari 4,931 ha areal buangan TPA yang lama. Perluasan sebesar 16,689 ha ini mempengaruhi luasan penggunaan lahan lainnya yang ada di kawasan tersebut, diantaranya: kebun campuran sebesar 0,311 ha,

lahan terbuka sebesar 0,629 ha, kawasan pemukiman sebesar 1,153 ha, vegetasi (pepohonan dan rerumputan) sebesar 15,058 ha, dan lahan yang telah diusahakan/industri rumah tangga setempat sebesar 0,105 ha.

Penentuan lokasi untuk areal perluasan ini dipastikan akan merugikan beberapa pihak seperti pada kawasan pemukiman, lahan yang telah diusahakan/industri rumah tangga, dan kebun campuran. Apabila perluasan ini dilakukan, maka harus dilakukan upaya-upaya untuk meminimalisasi dampak kerugian tersebut seperti biaya pembebasan lahan dengan memberikan uang ganti rugi atau biaya retribusi kerugian, penambahan sarana dan prasarana umum seperti pengalokasian pemukiman baru, dan upaya-upaya alternatif lain juga perlu dilakukan terhadap penduduk sekitar yang mengalami kerugian. Disamping itu, yang paling penting adalah upaya pendekatan dan kerja sama pihak pengelola dengan masyarakat sekitar agar dampak dari perluasan areal TPA Galuga tidak berpengaruh terhadap kelestarian lingkungan sekitar dan kehidupan sosial masyarakat setempat secara keseluruhan.

Dokumen terkait