• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SKENARIO KEBIJAKAN DAN HASIL SIMULAS

6.2 Rekomendasi

Investasi air minum perpipaan yang tidak mendorong pertumbuhan pro-poor dapat diartikan bahwa pembangunan air minum di DKI Jakarta belum sepenuhnya memberi perhatian terhadap penyediaan air minum bagi penduduk miskin. Untuk itu, diperlukan beberapa langkah nyata yang dapat mendorong peningkatan layanan bagi penduduk miskin sebagai berikut.

a. Pemerintah daerah sebaiknya menjadikan ketersediaan air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan di DKI Jakarta. Untuk itu, dalam setiap kontrak atau pemberian konsesi penyediaan air minum di DKI Jakarta kepada pihak lain perlu dengan jelas mencantumkan klausul peningkatan akses air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu indikator kinerja.

b. Menjadikan peningkatan akses air minum bagi penduduk miskin sebagai salah satu target dalam strategi penanganan kemiskinan di DKI Jakarta.

c. Memperkenalkan program penyediaan air minum yang pro-poor di DKI Jakarta. Diantaranya dengan memperkenalkan program pembangunan air minum yang berbasis masyarakat. Pembangunan fasilitas air minum yang berasal dari sumber subsidi sebaiknya dikelola berbasis masyarakat.

d. Penerapan tarif yang menerapkan prinsip subsidi silang bagi pelanggan air minum perpipaan di DKI Jakarta menjadi kurang tepat ketika masih relatif banyaknya penduduk miskin yang belum terlayani. Di pihak lain, porsi pelanggan rumah tangga menengah dan rumah tangga pendapatan tinggi yang dominan menjadikan tarif dasar yang murah menjadi salah sasaran. Penerapan pajak air minum perpipaan pada pelanggan air minum perpipaan dan kemudian menyalurkan kembali dalam bentuk subsidi dapat menjadi salah satu cara membantu meningkatkan jangkauan pelayanan bagi penduduk miskin yang belum terlayani air minum perpipaan. Hal ini juga sesuai dengan prinsip ekonomi bahwa pemberian subsidi langsung lebih baik dari pemberian subsidi tarif.

Walaupun demikian, berdasar pengalaman empiris, kebijakan subsidi bahkan jika bukan dalam bentuk tunai, pada kenyataannya sulit dilaksanakan tanpa terjadinya kebocoran. Sebagai ilustrasi, ketika dikembangkan penyediaan air minum bagi warga miskin di kawasan kumuh maka tidak dapat dihindari bahwa penduduk yang bukan miskin juga dapat menikmati fasilitas tersebut.

e. Terdapatnya kendala regulasi42 bagi penyedia air minum perpipaan untuk melayani penduduk miskin terutama yang bertempat tinggal di daerah permukiman kumuh dan liar dapat disikapi oleh pemerintah daerah dengan menyediakan/memperbanyak sumber air minum seperti hidran umum, dan kios air. Khususnya penyediaan hidran umum pada lebih banyak tempat akan dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh penduduk miskin, baik melalui makin banyaknya kesempatan mendapatkan air minum sehingga mengurangi biaya kesempatan maupun kemungkinan menjadi lebih murahnya harga air minum nonperpipaan. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar sumber air minum nonperpipaan di DKI Jakarta berasal dari air minum perpipaan.

f. Investasi air minum nonperpipaan walaupun tidak berdampak pada perbaikan distribusi pendapatan, yang ditengarai disebabkan oleh harga air yang relatif masih jauh lebih mahal dari air minum perpipaan, tetapi dengan bentuk layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti jumlah dan waktu pembayaran yang fleksibel, mengurangi waktu antri di kran umum, penyedia air minum nonperpipaan tetap dapat menjadi alternatif.

Selain itu, beberapa kendala lain yang harus diantisipasi dalam mengembangkan air minum nonperpipaan diantaranya, yaitu (i) aspek legal. Air minum nonperpipaan belum mempunyai dasar hukum yang pasti. Kondisi ini menjadikan investasi air minum perpipaan bersifat sementara sehingga air minum nonperpipaan menjadi sekadar pelengkap dari sistem air minum perpipaan. Kondisi ini berbeda dengan beberapa kota besar dunia seperti New Delhi, dan Ho Chi Minh, (ii) peraturan pemerintah khususnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 16 Tahun 2005 tidak secara jelas mengatur tentang penyediaan air minum nonperpipaan, (iii) tidak tersedianya sumber dana yang memadai, dan (iv) harga air minum nonperpipaan yang relatif mahal.

Kondisi di atas menjadi faktor kendala berkembangnya sistem air minum nonperpipaan sebagai alternatif penyedia air minum. Sementara berdasar prediksi,

42

Pelayanan air minum dan fasilitas lainnya seperti listrik, dan telepon pada lokasi permukiman liar

cenderung dihindari oleh pemerintah daerah. Hal ini untuk mencegah timbulnya pandangan bahwa penyediaan fasilitas tesebut akan meresmikan status permukiman liar tersebut.

sistem air minum perpipaan baru akan menjangkau seluruh penduduk di DKI Jakarta pada tahun 2022. Sebelum waktu tersebut, kebutuhan air minum dapat dipenuhi oleh sistem air minum nonperpipaan dengan berbagai bentuknya.

Terkait dengan itu, pemerintah daerah perlu membuat regulasi untuk memberi kepastian hukum beroperasinya sistem penyedia air minum nonperpipaan. Regulasi tersebut sebaiknya mengatur semua pihak baik penyedia, pemerintah, dan masyarakat sebagai konsumen. Di dalam regulasi tersebut, bentuk kerjasama antara pemerintah, penyedia air minum perpipaan dengan penyedia air minum nonperpipaan perlu diatur secara jelas. Tersedianya regulasi yang jelas menjadikan penyedia air minum nonperpipaan dapat mempunyai akses ke sumber pendanaan.

Hal lain yang perlu ditangani menyangkut relatif lebih mahalnya tarif air mi-num nonperpipaan dibanding air minum perpipaan. Untuk itu, dibutuhkan langkah yang nyata dari pemerintah daerah, yaitu (i) penyediaan sumber air minum dengan harga beli murah bagi penyedia skala kecil. Mempertimbangkan sebagian terbesar sumber air penyedia air minum skala kecil di DKI Jakarta berasal dari air minum per-pipaan, yaitu bersumber dari kran umum, sehingga sebaiknya sistem tarif yang dite-rapkan di kran umum adalah tarif flat43. Akibatnya, harga jual dari penyedia air skala kecil akan lebih murah, tetapi dengan marjin keuntungan yang relatif sama, (ii) pe-nyediaan kran umum yang lebih banyak sehingga dapat menekan biaya pembelian air dari penyedia air minum non perpipaan.

i. Menghadapi kendala banyaknya penduduk yang bermukim di permukiman liar, direkomendasikan agar penyediaan air minum dilakukan melalui pembangunan kran umum atau kios air yang dikelola oleh komunitas lokal. Kran umum atau kios air ini mendapat air dari penyedia air minum perpipaan. Hal ini dapat membantu mengurangi tingginya harga air yang diperoleh masyarakat melalui penjual air keliling. Semakin banyak kran umum atau kios air yang tersedia maka semakin rendah harga dasar dari penjual air keliling.

j. Salah satu kendala penduduk miskin perkotaan dalam mendapatkan akses air minum adalah biaya pemasangan yang tidak terjangkau karena harus dibayar

43

DKI Jakarta menggunakan sistim tarif progresif sehingga tarif flat ditetapkan berdasar tarif pada

sekaligus. Sebagai jalan keluarnya, biaya pemasangan air minum dapat dibayar dalam jangka waktu panjang sampai dua tahun sehingga memungkinkan penduduk miskin untuk menjadi pelanggan air minum. Cara lain adalah berupa penyediaan subsidi dari pemerintah lokal kepada penduduk melalui penerapan abonemen pada pelanggan setiap bulan dan hasilnya dialokasikan untuk subsidi biaya pemasangan bagi penduduk miskin.

k. Subsidi langsung lebih baik dari subsidi tarif, sehingga jika subsidi menjadi salah satu pilihan sumber dana penyediaan air minum bagi penduduk miskin, beberapa sumber dana yang dapat digunakan, yaitu sumber dana dari pemerintah pusat dan perusahaan swasta. Penyediaan dana oleh pemerintah pusat dapat berupa dana alokasi khusus (DAK). Selain itu, keberadaan perusahaan besar juga dapat dimanfaatkan untuk membantu memberi subsidi bagi penduduk miskin, baik dalam bentuk subsidi langsung, subsidi pemasangan sambungan, bahkan pembangunan jaringan. Dana perusahaan besar biasanya secara khusus disediakan dan diberi label corporate social responsibility (CSR).

Dalam dokumen DAMPAK INVESTASI AIR MINUM TERHADAP PERT (1) (Halaman 189-193)

Dokumen terkait