BAB V SKENARIO KEBIJAKAN DAN HASIL SIMULAS
5.2 Skenario Simulasi
Secara umum, pertumbuhan perekonomian DKI Jakarta menunjukkan perbaikan pada beberapa tahun terakhir. Walaupun demikian, pertumbuhan ekonomi yang terjadi ditengarai belum berupa pertumbuhan yang bersifat pro-poor karena masih tingginya tingkat kesenjangan pendapatan dan tingginya proporsi penduduk miskin.
Beberapa studi empiris memperlihatkan bahwa pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi, sebagaimana juga terjadi di DKI Jakarta, mengakibatkan ketidakmampuan pemerintah menyediakan prasarana dan sarana pelayanan publik yang memadai, diantaranya, dalam bentuk pelayanan kebutuhan air minum. Penduduk masih belum sepenuhnya dapat terlayani kebutuhan air minumnya, khususnya rumah tangga miskin, sehingga sebagian kebutuhan dipenuhi oleh air minum nonperpipaan dan bahkan dari sumber air yang kurang layak, seperti sumur dan sungai yang tercemar.
Pemenuhan kebutuhan air minum penduduk melalui air minum perpipaan khususnya penduduk miskin perkotaan, ditengarai dapat mengurangi beban pengeluaran air minum, beban pengeluaran bagi biaya pengobatan akibat penggunaan air minum yang tidak layak, dan mengurangi jumlah hari nonproduktif. Kondisi ini akan mendorong peningkatan produktivitas dan tabungan penduduk miskin yang mengarah pada meningkatnya pendapatan per kapita dan membaiknya kesenjangan
pendapatan, yang akhirnya berdampak pada peningkatan kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Sebagaimana telah dijelaskan pada bagian terdahulu (Bab I) bahwa investasi, termasuk investasi air minum, baik secara teoritis maupun secara empiris, terbukti mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pemenuhan kebutuhan air minum penduduk perkotaan, khususnya penduduk miskin, dapat meningkatkan kesejahteraan penduduk yang berdampak pada perbaikan distribusi pendapatan. Kombinasi dari investasi air minum dan pemenuhan kebutuhan air minum penduduk miskin perkotaan akan menghasilkan pertumbuhan pro-poor sehingga pembangunan air minum di DKI Jakarta akan dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi penanggulangan kemiskinan di DKI Jakarta. Untuk itu, dalam studi ini akan dilakukan beberapa simulasi secara bertahap untuk mengetahui skenario-skenario pembangunan air minum yang dapat mengarah pada pertumbuhan pro-poor. Langkah pertama adalah mengetahui dampak investasi air minum, baik air minum perpipaan maupun nonperpipaan, terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan (Simulasi I dan II). Jika investasi tersebut menghasilkan pertumbuhan ekonomi pro-poor, simulasi tidak akan dilanjutkan dengan pertimbangan bahwa pembangunan air minum di DKI Jakarta telah sesuai dengan yang diharapkan.
Selanjutnya, jika hasil simulasi menunjukkan bahwa hanya pertumbuhan eko- nomi yang meningkat sementara distribusi pendapatan cenderung memburuk, ditengarai subsidi harga yang diterapkan selama ini menjadi kurang efektif, karena penduduk miskin yang seharusnya mendapat subsidi kemungkinan tidak terlayani sehingga rumah tangga miskin menggunakan air minum nonperpipaan dengan harga yang jauh lebih mahal. Sementara itu, sebagian rumah tangga bukan miskin ditengarai tidak menggunakan sumber air minum perpipaan seperti sumur dalam. Akibatnya, pendapatan rumah tangga miskin cenderung berkurang dan distribusi pendapatan memburuk.
Dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem tarif progresif yang dimaksudkan agar terjadi subsidi silang terhadap rumah tangga miskin ternyata tidak menunjukkan hasil yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian subsidi harga kurang
berhasil dalam membantu rumah tangga miskin. Studi yang dilakukan oleh Rietveld dkk (2000) di PDAM Salatiga juga menunjukkan hal yang sama, yaitu bahwa kontribusi sistem tarif progresif terhadap perbaikan kesenjangan pendapatan tidak signifikan. Hal ini juga berkesesuaian dengan teorema kedua kesejahteraan (the second theorem of welfare) yang mengatakan bahwa pemberian subsidi langsung lebih efisien dari pemberian subsidi harga. Untuk itu, dibutuhkan alternatif lain yang memungkinkan terjadinya pertumbuhan pro-poor, yaitu dengan memberikan subsidi langsung air minum bagi rumah tangga miskin.
Pada skenario berikutnya subsidi akan diberikan dari dua sumber yang berbeda, yaitu dari sumber (i) peningkatan pajak air minum perpipaan (simulasi III) dan (ii) transfer dana pusat atau sumber dana yang berasal dari luar DKI Jakarta (simulasi IV).
Simulasi III dilakukan secara bertahap, yaitu pertama kali dilakukan peningkatan pajak air minum perpipaan. Kemudian, hasil pajak air minum perpipaan tersebut dialokasikan kepada rumah tangga miskin perkotaan. Peningkatan pajak pada awalnya yang tanpa penyediaan subisidi air minum akan menyebabkan menurunnya pertumbuhan ekonomi, tetapi di pihak lain menyebabkan membaiknya distribusi pendapatan. Subsidi air minum yang kemudian disediakan, dari hasil peningkatan pajak, bagi rumah tangga miskin akan menyebabkan membaiknya pertumbuhan ekonomi walaupun belum menjamin akan kembali pada posisi sebelum pengenaan pajak.
Pada kondisi penyediaan dana pusat, diasumsikan dana tersebut merupakan suntikan dana dari luar perekonomian sehingga dampaknya terhadap perekonomian akan berbeda dengan peningkatan pajak air minum perpipaan, terutama tidak akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi.
Pada simulasi sebelumnya telah dilakukan simulasi peningkatan investasi air minum perpipaan (simulasi I), peningkatan investasi air minum nonperpipaan (simulasi II), penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin dari sumber pajak air minum perpipaan (simulasi III), dan penyediaan subsidi bagi rumah tangga miskin dari sumber transfer pemerintah pusat (simulasi IV). Keempat simulasi tersebut memberi gambaran
dampak dari investasi dan subsidi masing-masing terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan.
Jika hasil simulasi awal menunjukkan belum terjadinya pertumbuhan pro-poor, yaitu pertumbuhan ekonomi yang disertai perbaikan distribusi pendapatan, skenario selanjutnya adalah berupa penggabungan antara investasi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan subsidi yang memperbaiki distribusi pendapatan. Skenario penggabungan ini terdiri dari simulasi V yang berupa peningkatan investasi air minum perpipaan sekaligus penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan dan simulasi VI yang berupa peningkatan investasi air minum perpipaan dan penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari dana pusat.
Dengan mempertimbangkan kenyataan adanya kemungkinan keterbatasan dana subsidi sehingga harus diterapkan prioritas penerima subsidi, penerima subsidi dibedakan antara kelompok penerima subsidi pertama adalah kelompok rumah tangga (RT) termiskin, yaitu kelompok RT sangat miskin I (RT I) dan kelompok penerima subsidi kedua adalah seluruh kelompok RT miskin yang merupakan empat kelompok RT dengan penghasilan terendah, yaitu RT sangat miskin I (RT I), RT sangat miskin II (RT II), RT miskin I (RT III), dan RT miskin II (RT IV).
Keseluruhan skenario di atas dilaksanakan secara bertahap melalui beberapa simulasi seperti berikut.
A. Simulasi Investasi
(i) Simulasi I berupa peningkatan investasi air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen.
(ii) Simulasi II berupa peningkatan investasi air minum nonperpipaan masing- masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen.
B. Simulasi Subsidi
(iii) Simulasi III berupa peningkatan pajak air minum sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, dan hasilnya dialokasikan untuk subsidi bagi kelompok rumah tangga miskin.
(iv) Simulasi IV berupa penyediaan dana dari pemerintah pusat masing-masing sebesar nilai peningkatan pajak 10 persen, 25 persen, dan 50 persen.
C. Simulasi Gabungan (investasi dan subsidi)
(v) Simulasi V berupa peningkatan investasi air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, dan penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari hasil peningkatan pajak air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen.
(vi) Simulasi VI berupa peningkatan investasi air minum perpipaan masing- masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen, dan penyediaan subsidi langsung bagi rumah tangga miskin dari dana pusat yang nilainya setara dengan hasil peningkatan pajak air minum perpipaan masing-masing sebesar 10 persen, 25 persen, dan 50 persen.
Keseluruhan skenario dan simulasi tersebut digambarkan selengkapnya pada Gambar 5.1 dan Tabel 5.1.
Gambar 5.1 Bagan Alir Skenario Simulasi
Simulasi I, II Simulasi III Simulasi IV Simulasi V Simulasi VI Pertum- buhan Ekonomi Peru- bahan Rasio Gini Pangsa Penda- dapatan RT Miskin Pertumbuh- an Penda- patan /Ka- pita RT Miskin + - + + Pro-poor + - + - Pro-poor + - - + + + - - dst Peningkatan investasi air minum Dana pusat
Pajak air minum perpipaan Pertumbuh- an ekonomi meningkat ? Subsidi bagi RT miskin Distribusi pendapatan membaik ? Pertum- buhan Pro-poor? Peningkatan Investasi Air Minum Pajak Air Minum Subsidi Bagi RT Miskin Peningkatan Investasi Air Minum Dana Pusat Subsidi Bagi RT Miskin tidak tidak tidak
Tabel 5.1 Skenario Simulasi I dan II
Simulasi Skenario
1.1 1.2 1.3 2.1 2.2 2.3
Investasi air minum perpipaan 10 % 25 % 50 %
Investasi air minum nonperpipaan 10 % 25 % 50 %
Peningkatan pajak Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Tabel 5.2 Skenario Simulasi III
Simulasi Skenario
3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6
Investasi air minum perpipaan
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Tabel 5.3 Skenario Simulasi IV
Simulasi Skenario
4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6
Investasi air minum perpipaan
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak
Dana pemerintah pusat* 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.
Tabel 5.4 Skenario Simulasi V
Simulasi Skenario
5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6
Investasi air minum perpipaan 10% 10% 10% 10% 10% 10%
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I Penerima subsidi RT I – RT IV Lanjutan Tabel 5.4 Simulasi Skenario 5.7 5.8 5.9 5.10 5.11 5.12
Investasi air minum perpipaan 25% 25% 25% 25% 25% 25%
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I
Lanjutan Tabel 5.4
Simulasi Skenario
5.13 5.14 5.15 5.16 5.17 5.18
Investasi air minum perpipaan 50% 50% 50% 50% 50% 50%
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Dana pemerintah pusat Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Tabel 5.5 Skenario Simulasi VI
Simulasi Skenario
6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 6.6
Investasi air minum perpipaan 10% 10% 10% 10% 10% 10%
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak
Dana pemerintah pusat* 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.
Lanjutan Tabel 5.5
Simulasi Skenario
6.7 6.8 6.9 6.10 6.11 6.12
Investasi air minum perpipaan 25% 25% 25% 25% 25% 25%
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak
Dana pemerintah pusat* 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Keterangan : * Dana pemerintah pusat setara dengan nilai peningkatan pajak masing-masing 10%, 25%, 50%.
Lanjutan Tabel 5.5
Simulasi Skenario
6.13 6.14 6.15 6.16 6.17 6.18
Investasi air minum perpipaan 50% 50% 50% 50% 50% 50%
Investasi air minum nonperpipaan
Peningkatan pajak
Dana pemerintah pusat* 10% 25% 50% 10% 25% 50%
Penerima subsidi RT I
Penerima subsidi RT I – RT IV
Gambar 5.2 Bagan Alir Simulasi
SKENARIO INVESTASI SKENARIO SUBSIDI
SIMULASI I dan II SIMULASI III dan IV
SKENARIO GABUNGAN (INVESTASI dan SUBSIDI)
SIMULASI V dan VI
Investasi Subsidi Subsidi Subsidi air minum dari pajak ke RT I ke RT I – RT IV perpipaan air minum/
dana pusat Peningkatan investasi Investasi AM perpipaan 10% - 25% - 50% Investasi AM nonperpipaan Dana pusat/pajak Subsidi RT I 10% - 25% - 50% Subsidi RT I - IV 10% 25% 50% 10% 25% 50%