• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekonstruksi Kurikulum Perguruan Tinggi Berbasis KKNI Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelit (Halaman 47-51)

Pendahuluan

Salah satu tantangan terbesar Perguruan Tinggi (PT) adalah pengakuan lulusan PT baik di tingkat nasional maupun internasional. Tantangan ini didasarkan pada era globalisasi yang tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, seperti ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN-MEA). Dimana pengakuan lulusan didasarkan pada kompetensi masa depan yang menjadi dasar persaingan global, seperti, kesiapan untuk bekerja, kemampuan hard skill maupun softskill, dan sebagainya.

Perguruan Tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tinggi, seharusnya menangkap tantangan ini yang didasarkan pada kekuatan, peluang dan ancaman baik dari internal maupun eksternal. Tantangan bagi PT adalah menyiapkan lulusannya untuk dapat bersaing di era globalisasi. Salah satu upaya untuk dapat bersaing di era ini adalah capaian pembelajaran (learning outcome) lulusan PT harus sesuai dengan Standar Nasional PT dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia / International Qualification Framework (IQF) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, khususnya tentang daya saing lulusan dan inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Artinya, secara nasional memperoleh kesetaraan pengakuan lulusan (oleh dunia kerja) dengan lulusan perguruan tinggi, dan secara internasional memperoleh kesetaraan pengakuan lulusan PT (SDM) dengan SDM global/ASEAN. Oleh karena itu kebijakan pendidikan berkenaan dengan learning outcome lulusan PT yang dituangkan dalam KKNI dan SNPT memberikan tantangan dan peluang bagi PT untuk mewujudkan tantangan tersebut, karena KKNI sebagai penyetara kualifikasi.

Sejalan dengan tantangan di atas, maka kurikulum sebagai dokumen perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran mempunyai posisi strategis. Perumusan kurikulum yang dapat menghasilkan lulusan sesuai dengan KKNI menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda agar lulusan PT dapat bersaing di dunia kerja, baik di tingkat nasional maupun internasional khususnya menghadapi MEA. Rekonstruksi kurikulum tersebut menjadi sangat penting dan segera dilakukan mengingat masyarakat Indonesia memasuki MEA.

Perkembangan Kurikulum PT di Indonesia

Menurut UUSPN Nomor 20 Tahun 2003, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Demikian juga kurikulum pendidikan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar di perguruan tinggi (SK Mendiknas 232/U/2000). Di dalam standar isi Pendidikan Tinggi dinyatakan bahwa sebuah kurikulum suatu program studi harus memuat empat elemen pokok yaitu (1) tujuan (komptensi/LO), (2) isi dan bahan pelajaran, (3) cara, dan (4) kegiatan pembelajaran, yang implementasi dan realisasinya diwujudkan dalam mata kuliah program studi (BSNP, 2011).

Perkembangan kurikulum PT dapat diklasifikasikan ke dalam tiga basis. Pertama, kurikulum berbasis isi (KBI) yaitu kurikulum nasional yang dituangkan dalam Kepmen 056/U/1994 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. KBI mengutamakan penguasaan IPTEK dan belum memuat rumusan kemampuan lulusan secara eksplisit. Pada KBI menetapkan beban sks wajib sebanyak 100-110 sks dari 160 sks untuk program studi strata 1 dalam kelompok MKU (Mata Kuliah Umum), MKDK (Mata Kuliah Dasar Keahlian), dan MKK (Mata Kuliah Keahlian); Kedua, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang berorientasi pada kompetensi global yang dinamakan kurikulum inti dan institusional tertuang dalam Kepmen 232/U/2000 dan Kepmen 045/U/2002 yang di dalamnya dikelompokkan ke dalam MPK (Matakuliah Pengembangan Kepribadian), MKK (Matakuliah Keilmuan dan Keterampilan), MKB (Matakuliah Keahlian Berkarya), MPB (Matakuliah Perilaku Berkarya), dan MBB (Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat); Ketiga, kurikulum pendidikan tinggi yang berbasis pada capaian pembelajaran (CP) KKNI (KPT)yang tertuang dalam UU Nomor 12 Tahun 2012 dan Permendikbud Nomor 049 Tahun 2014 tentang SNPT. Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang kualifikasi kompetensi lulusan perguruan tinggi yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang tertuang dalam Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 selanjutnya menjadi acuan pokok dalam penetapan kompetensi lulusan pendidikan akademik, vokasi dan profesi. Penetapan kompetensi lulusan diatur dan dijabarkan dalam rumusan capaian pembelajaran diatur dalam Permenristekdikti No. 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) dalam bentuk rumusan capaian pembelajaran.

Rekonstruksi Kurikulum PT

Rekonstruksi kurikulum merupakan keharusan bagi Program Studi agar supaya lulusannya dapat bersaing di era globalisasi. Pertanyaan mendasar adalah program studi sudah menggunakan kurikulum berbasis kompetensi (KBK)? Program Studi yang telah memberlakukan KBK akan lebih mudah merekonstruksi kurikulum, karena langkah penyusunan kurikulum merupakan rekonstruksi instrumen kurikulum yang sudah dijalankan dengan melakukan penyesuaian dengan SNPT dan KKNI yang wajib mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi yang terdapat dalam SNPT.

Pada kurikulum Program Studi sedikitnya harus memuat profil lulusan, capaian pembelajaran, bahan kajian, matakuliah beserta bobot sks dan sebaran matakuliah dalam semester, serta rencana pembelajaran. Program Studi wajib memperhatikan level capaian pembelajaran (CP) dalam KKNI sehingga CP yang dihasilkan dalam proses pembelajaran dengan mengacu pada kurikulum yang sedang diberlakukan tidak lebih rendah dari Standar Kompetensi Lulusan dalan SNPT. Pembeda utama dari KBK dan KPT adalah pada kompetensi lulusan (KBK) dan capaian pembelajaran (KPT). Kompetensi lulusan pada KBK dibagi ke dalam kompetensi utama, kompetensi pendukung dan kompetensi lainnya yang mengacu pada tiga ranah kompetensi menurut Bloom yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan capaian pembelajaran pada KPT adalah pengetahuan, sikap, keterampilan khusus dan umum.

Langkah-langkah Rekonstruksi Kurikulum

Langkah-langkah rekonstruksi KPT terdiri atas 6 tahapan dengan memperhatikan data masukan dan sumber rujukan. Adapun kelima tahapan adalah menentukan profil lulusan, menentukan capaian pembelajaran, memilih dan merangkai bahan kajian, menyusun matakuliah beserta bobot sks dan sebaran matakuliah dalam semester, serta rencana pembelajaran. Uraian berikut mengambarkan tahapan rekonstruksi program studi.

1. Menentukan Profil Lulusan

Program studi didirikan atas dasar kebutuhan masyakarat terhadap lulusannya. Oleh karena itu profil program studi harus mengacu kepada Visi dan Misi Program Studi.

Profil lulusan adalah jawaban atas pertanyaan, "Program Studi akan menghasilkan lulusan seperti apa?". Profil lulusan dapat berupa profesi dan/atau “peran” yang dapat dilakukan oleh lulusan Program Studi di masyarakat. Peran lulusan di masyarakat dapat dilihat berdasar kepada suatu profesi, atau jenis pekerjaan atau bentuk kerja yang bisa digunakan dalam beberapa bidang yang lebih umum yang dicanangkan dan/atau digeluti oleh lulusan Program Studi.

Profil lulusan didasarkan pada analisis perkembangan keilmuan dan keahlian serta kebutuhan pasar dan stakeholder dengan memperhatikan masukan dari asosiasi dan stakeholder. Penentuan profil lulusan dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya kesepakatan asosiasi program studi sejenis, tracer study, identifikasi kebutuhan pasar terhadap lulusan. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data masukan profil lulusan ini melalui seminar, lokakarya, focus group discussion dan yang sejenis, penyebaran angket bagi alumni, asesmen kebutuhan pasar, dan sebagainya yang relevan.

Profil lulusan yang dapat bersaing di era globalisasi, seperti pada masyarakat ekonomi ASEAN misalnya, menuntut program studi betul-betul cermat dalam mengidentifikasi kebutuhan lulusan tidak hanya di level nasional tetapi juga di level internasional.

Pernyataan profil tidak boleh keluar dari bidang keilmuan/keahlian dari program studinya. Profil merupakan peran dan fungsi lulusan bukan jabatan ataupun jenis pekerjaan, namun dengan mengidentifikasi jenis pekerjaan dan jabatan dapat membantu menentukan profil lulusan. Misal, profil lulusan pendidikan matematika adalah pendidik, peneliti bidang pendidikan matematika, dan edupreneur, dsb.

Secara umum Deskripsi Kemampuan Level 6 (Strata 1) dalam KKNI adalah sebagai berikut:

a. Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan IPTEKS pada bidangnya dalam penyelesaian masalah serta mampu beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi. b. Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum dan konsep teoritis

bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural.

c. Mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok.

d. Bertanggung jawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

2. Menentukan Capaian Pembelajaran

Dasar yang digunakan dalam menetapkan capaian pembelajaran adalah KKNI dan SN Dikti. Capaian pembelajaran dalam KKNI meliputi: sikap dan tata nilai, kemampuan, pengetahuan dan tanggungjawab/hak/wewenang. Empat rumusan capaian pembelajaran dalam KKNI merupakan alat ukur atas internalisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan seseorang yang diperoleh melalui jenjang akademik formal, informal, non formal dan/atau pengalaman kerja. Capaian pembelajaran dalam KKNI sejalan dengan kompetensi menurut UNESCO yaitu learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together.

Mengacu pada deskripsi rumusan capaian pembelajaran dalam KKNI, rumusan capaian pembelajaran dalam Standar Kompetensi Lulusan (CP SKL) SNPT dinyatakan dalam 3 rumusan yaitu: pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang terbagi atas keterampilan umum dan keterampilan khusus. Capaian pembelajaran baik pada KKNI dan SNPT dapat dibuat kesetaraannya sehingga akan memudahkan dalam memerakan capaian pembelajaran.

Secara umum perumusan parameter capaian pembelajaran disajikan dalam Gambar 1 berikut.

Sumber: Panduan KPT Dikti

Pengetahuan, sikap dan tata nilai, keterampilan umum dan keterampilan khusus disebaiknya dirumuskan konsorsium Program Studi sejenis dengan mengacu pada unsur kemampuan kerja dan dalam standar isi SNPTi dan deskripsi KKNI. Sikap dan tata nilai lulusan program studi merupakan kompetensi ranaf afektif yang dapat disetarakan dengan softskill lulusan. Sikap dan tata nilai merupakan dampak dari pembelajaran, artinya kemampuan ini dapat diperoleh melalui proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di luar kelas atau dampak dari kegiatan kemahasiswaan yang diikuti. Ketercapaian penanaman sikap dan tata nilai dapat selama proses pembelajaran dan/atau di akhir semester melalui observasi atau instrumen pengukuran yang tepat. Program studi dan/atau perguruan tinggi dapat menambahkan sikap dan tata nilai sesuai dengan ciri dan kekhasan perguruan tinggi yang dapat membedakan dengan perguruan tinggi lain.

Unsur pengetahuan dalam KKNI dan SNPT dapat disetarakan dengan kompetensi ranah kognitif. Misal, penguasaan pengetahuan pada program akademik Sarjana Strata 1 (S1) adalah menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan dan keterampilan tertentu secara umum dan konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan keterampilam tersebut secara mendalam setara dengan level 6 KKNI. Dalam proses pembelajaran tingkat penguasaan pengetahuan dapat diwujudkan dalan tingkatan kognitif Anderson mulai dari yang terendah yaitu mengehaui sampai mencipta.

Pada keterampilam umum lulusan perguruan tinggi dituangkan dalam Lampiran Permenristyekdikti Nomor 44 Tahun 2015. Terdapat 9 keterampilan umum lulusan Sarjana atau

level 6 KKNI. Misal, keterampilan umum 1 yaitu “Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis,

sistematis, dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora yang sesuai dengan bidang

keahliannya”. Demikian pula pada keterampilan khusus. Program studi harus mengembangkan

capaian pembelajaran dengan menggunakan kata-kata kunci atau kata kerja operasional yang dapat diukur dan dicapai. Misalnya pada strata 1 atau level 6 KKNI kata-kta kunci yang dapat digunakan dalam mengembangkan capaian pembelajara adalah mengaplikasikan, mengkaji, membuat desain, memanfaatkan IPTEKS dalam menyelesaikan masalah prosedural.

Penyusunan capaian pembelajaran didasarkan pada profil yang telah ditetapkan sebelunya. Rumusan capaian pembelajaran diturunkan dari profil lulusan, dimana hubungannya digambarkan dalam Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Rumusan Capaian Pembelajaran

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelit (Halaman 47-51)