• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

D. Relasi yang Sehat dan Tidak Sehat dengan Lawan Jenis

2. Relasi yang Tidak Sehat

Relasi para religius yang tidak sehat dengan lawan jenis dapat menghambat karya kerasulan kongregasi yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Mereka menjadi tidak mampu menghayati hidup panggilan dan perutusannya. Relasi yang tidak sehat itu terungkap dalam sikap menghindari relasi dengan lawan jenis (Suparno, 2007: 11-12). Podimattam mengatakan: “… belief that a celibate needs no dialogue with the complementary sex is misplaced (… kepercayaan bahwa seorang selibat tidak membutuhkan hubungan dialogal dengan lawan jenisnya adalah keliru)” (1997: 17). Suparno menegaskan bahwa apabila seorang biarawan-biarawati menghindar, membenci, merasa takut, alergi, bersikap dingin, tidak mau bekerjasama dan menganggap lawan jenis sebagai pengganggu hidup panggilannya, berarti relasi mereka dengan lawan jenis itu tidak sehat (2004: 37-38). Relasi itu dapat mengancam penghayatan kaul kemurnian, karena itu relasi dengan lawan jenis harus dihindari (Podimattam, 1997: 85). Bentuk relasi yang tidak sehat itu menunjukkan penghayatan seksualitas yang salah. Mereka tidak mampu menghayati seksualitasnya secara benar dalam hidup panggilannya. Mereka menghayati bahwa seksualitas merupakan hal yang jelek, tabu dan harus ditinggalkan karena hal itu hanya sebagai penghambat untuk menjadi seorang religius yang baik (Suparno, 2007: 18). Oleh karena itu, mereka merasa takut dan menghindari relasi dengan lawan jenis.

Menurut Suparno, apabila para religius merasa takut dalam berelasi dengan lawan jenis disebabkan oleh beberapa hal (2007: 81-83), yaitu:

a. Orang mempunyai anggapan yang keliru tentang hidup membiara. Mereka berpandangan bahwa mereka tidak boleh bergaul dan bekerjasama dengan lawan jenis karena mereka ingin menghayati kaul kemurnian secara lebih baik. Lawan jenis dianggap sebagai pengganggu panggilan dan menyulitkan dalam menghayati kaul kemurnian.

b. Orang merasa takut dan minder terhadap lawan jenis. Hal itu dipengaruhi oleh pengalamannya ketika masih kecil di rumah tidak dibiasakan bergaul dengan lawan jenis atau dilarang orang tuanya untuk bergaul dengan lawan jenis, selain orang tuanya sendiri. Akibatnya, orang itu kurang percaya diri bila berhadapan dengan lawan jenis. Orang itu merasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri maka menjadi tidak nyaman dalam berelasi dengan lawan jenis.

c. Orang pernah mengalami trauma, pengalaman tidak enak, pengalaman dilukai oleh lawan jenis dalam sejarah hidupnya. Orang yang pernah mengalami pengalaman seperti itu sering menjadi tidak suka bertemu dan berelasi dengan lawan jenis. Mereka merasa takut jangan-jangan pengalaman itu akan terulang lagi.

d. Orang pernah mengalami tidak dicintai oleh orang tua lawan jenis di masa lalunya. Pengalaman itu belum selesai diolah atau bahkan ditekan di bawah sadarnya sehingga hal itu menghambat relasinya dengan orang lain, termasuk dengan lawan jenis. Mereka merasa tidak nyaman dalam berelasi dengan lawan jenis.

e. Orang merasa takut dinilai jelek oleh orang lain, terutama oleh teman sekongregasinya: takut ditolak, takut dipermalukan dan takut resiko.

Penilaian orang lain terutama teman-teman sekongregasinya seolah-olah menjadi penentu dalam hidupnya sehingga relasinya dengan lawan jenis diliputi oleh perasaan cemas.

Relasi para religius yang tidak sehat dengan lawan jenis lainnya terungkap dalam sikap terlalu melekat dan berani dalam menjalin relasi dengan lawan jenis (Suparno, 2007: 11). Mereka menganggap bahwa relasi mereka itu adalah segala-galanya sehingga relasi yang mereka bangun cenderung mengarah ke relasi yang eksklusif (Podimattam, 1985: 76 dan Suparno, 2003: 3). Relasi yang mereka bangun itu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan psikologis tertentu, antara lain: kebutuhan akan kehangatan, diterima, diperhatikan, keakraban, kasih sayang dan kenikmatan seksual (Prasetya, 1992: 197). Apabila mereka mengalami berbagai emosi dan gejolak seksual, hal itu menuntut untuk dipenuhi. Orientasi relasi mereka dengan lawan jenis untuk memuaskan dirinya sendiri. Dalam relasi mereka itu ada sikap mendewakan seksualitasnya sehingga mereka tidak bisa menghayati seksualitasnya secara benar. Mereka cenderung lupa bahwa dirinya adalah seorang religius yang berkaul (Suparno, 2007: 12).

Menurut Suparno, para religius terlalu melekat dan berani dalam berelasi dengan lawan jenis disebabkan oleh dua (2) hal (2007: 73-76), yaitu:

a. Orang mempunyai motivasi panggilan yang tidak murni dan kurang tekun dalam memurnikannya. Motivasi panggilan selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu. Berbagai pengalaman hidup yang dialami sangat

mempengaruhi motivasi panggilannya itu, begitu halnya pengalamannya dalam berelasi dengan lawan jenis. Pengalaman mereka dalam berelasi itu bisa merubah motivasi panggilannya sehingga mereka menjadi tidak bertanggungjawab dan mengingkari komitmen hidup panggilannya.

b. Orang mempunyai anggapan yang keliru tentang jatuh cinta. Mereka menganggap bahwa apabila mereka mengalami jatuh cinta maka mereka harus keluar dari hidup membiara dan menikah. Pengalaman jatuh cinta menjadi segala-galanya maka pengalaman itu harus dilanjutkan dalam perkawinan. Pengalaman jatuh cinta sangat mengganggu mereka, antara lain: merasa gelisah dan bingung, menjadi sangat tergantung, selalu ingin bersama, tidak dapat dipisahkan lagi, selalu melamun dan memikirkan serta mempunyai anggapan bahwa tidak dapat hidup lagi tanpa orang yang dicintainya itu. Oleh karena itu, apabila mengalami jatuh cinta maka mereka dengan cepat mengambil keputusan untuk keluar dari hidup membiara dan mengekalkan hubungan mereka itu dalam bentuk ikatan perkawinan.

Orang-orang yang demikian menunjukkan bahwa mereka belum memiliki kedewasaan afektif, kedewasaan seksual dan komitmen panggilannya masih lemah. Mereka belum bahagia dengan dirinya sendiri dan belum mantap dengan pilihan hidup panggilannya. Motivasi hidup panggilan mereka juga belum kuat karena masih dikuasai oleh pergumulan dengan dirinya sendiri sehingga mereka mengalami kesulitan dalam

berelasi dengan lawan jenis. Oleh karena itu, relasinya dengan lawan jenis menjadi tidak sehat.

Relasi yang tidak sehat dengan lawan jenis seperti itu dapat menghambat perkembangan kepribadian dan panggilan hidup para suster PBHK. Mereka akan terhambat dalam melaksanakan setiap karya kerasulan kongregasi yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Kongregasi PBHK tidak mengharapkan relasi yang tidak sehat dengan lawan jenis melainkan mengharapkan relasi yang sehat demi mewujudkan visi dan misi kongregasi. Masa pembinaan yang efektif untuk mengembangkan relasi yang sehat itu adalah pada masa pembinaan yuniorat sebab pada masa ini para suster yunior PBHK sedang dalam tahap belajar berkarya di bidang-bidang karya kerasulan kongregasi dan terbuka untuk berelasi dengan siapapun juga, termasuk dengan lawan jenis.

Dokumen terkait