BAB II : KAJIAN PUSTAKA
D. Relasi yang Sehat dan Tidak Sehat dengan Lawan Jenis
1. Relasi yang Sehat
Relasi para religius yang sehat dengan lawan jenis merupakan salah satu hal yang dapat mendukung karya kerasulan kongregasi. Mereka bisa saling belajar dan melengkapi dalam melaksanakan karya kerasulan kongregasi yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Relasi timbal balik di antara mereka dengan lawan jenis dapat membantu mereka untuk mengembangkan kepribadian dan panggilan mereka (Supratiknya, 1995: 9). Oleh karena itu, betapa pentingnya para religius membangun relasi yang sehat dengan lawan jenis karena mereka terbuka untuk bekerjasama dengan lawan jenis.
Mereka akan mampu menjalin relasi yang sehat dengan lawan jenis apabila mereka telah menerima diri apa adanya, merasa nyaman dengan dirinya dan bahagia dalam menjalani hidup panggilannya (Purwawidyana, 2002: 8). Mereka mempunyai motivasi yang murni dan komitmen yang kuat terhadap pilihan hidup panggilan mereka sebagai seorang religius (Prasetya, 1992: 247 dan Hurlock, 1996: 250). Relasi yang sehat dengan lawan jenis dapat mendewasakan segi afeksi dan seksual mereka (Podimattam, 1985: 59). Kedewasaan seseorang juga mempengaruhi relasinya itu. Mereka yang telah dewasa afeksinya mampu mengutamakan Allah dalam relasi mereka itu (Ridick, 1987: 99). Mereka bertanggungjawab dan mampu mengembangkan hidup panggilan mereka terutama dalam menjalankan karya kerasulan kongregasi yang dipercayakan
kepada mereka masing-masing (Podimattam, 1985: 46). Mereka akan menyadari bahwa seluruh hidupnya hanya untuk Allah dan pelayanan bagi sesama.
Berbagai pengalaman yang mereka alami dalam berelasi dengan lawan jenis itu merupakan pengalaman berarti apabila mereka mampu mengolahnya terus-menerus (Podimattam, 1997: 16). Menurut Robert Kegan, setiap orang selain mempunyai dorongan untuk berelasi dengan orang lain juga mempunyai dorongan untuk independen/otonom (Kwakman, 2007: 1). Kepribadian orang akan berkembang sehat apabila mereka mampu mengintegrasikan kedua dorongan itu. Kemampuan menyeimbangkan antara dorongan untuk membangun relasi dengan orang lain dengan dorongan untuk independen/otonom sangat penting bagi para religius sehingga relasi itu tidak melemahkan otonomi dirinya tetapi semakin menguatkannya. Begitu halnya kemampuan mereka menyeimbangkan antara dorongan untuk membangun relasi dengan lawan jenis dengan dorongan untuk independen/otonom demi komitmen hidup panggilannya sehingga relasi mereka menjadi sehat. Relasi yang sehat dengan lawan jenis dapat menguatkan hidup panggilan mereka masing-masing sebagai seorang religius (Podimattam, 1985: 38-48).
Relasi yang sehat itu semakin memampukan mereka mencintai panggilan dan karya kerasulan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing (Suparno, 2007: 27-29). Mereka semakin mampu mengalami kasih Allah dan membagikan pengalaman kasih itu kepada orang lain dalam karya kerasulan kongregasi supaya orang lainpun mengalami kasih Allah.
Mereka semakin lepas bebas dalam memberikan cinta kepada Allah dan kepada sesama, dengan teman-teman sekomunitas/sekongregasinya maupun dengan orang-orang di luar komunitasnya (Podimattam, 1997: 95). Sebagai orang yang berkaul kemurnian, relasi yang sehat dengan lawan jenis dapat membantu para religius untuk memperkuat penghayatan kaul kemurnian mereka (Suparno, 2003: 361). Purwawidyana menegaskan bahwa salah satu medan untuk terus-menerus mengembangkan kemampuan mengasihi dengan jujur dan benar sesuai dengan kaul kemurnian adalah berelasi yang sehat dengan lawan jenis (2002: 1).
Apabila dalam relasi itu para religius mengalami jatuh cinta, hal itu merupakan hal yang wajar dan sebagai rahmat, seperti dikatakan Podimattam: “In fact, falling in love is an occasion of grace for everyone whether married or celibate (Dalam kenyataannya, jatuh cinta adalah sebuah kesempatan berahmat bagi setiap orang baik yang menikah atau selibat)” (1999: 90). Suparno juga menjelaskan bahwa pengalaman jatuh cinta merupakan saat yang tepat untuk merefleksikan lebih mendalam tentang hidup panggilan (2007: 76). Cinta manusiawi menjadi sarana untuk mengungkapkan hubungan cinta dengan Allah (Prasetya, 1992: 197). Cinta merupakan bagian dari keseluruhan kebutuhan eksistensial manusia. Tanpa cinta pertumbuhan dan perkembangan kemampuan orang akan terhambat (Goble, 1987: 74-76). Orang akan mengalami kebahagiaan apabila mereka mampu mencintai dan mengalami dicintai (Podimattam, 1985: 14). Ridick menjelaskan bahwa cinta yang perlu dikembangkan oleh para religius adalah cinta yang radikal artinya orang menjadi bebas memberikan diri
secara total kepada Allah. Mereka mencintai orang lain dengan hati seperti Hati Yesus yang mencintai dan mencintai Yesus dalam sesama (1987: 83-88).
Pengalaman cinta itu dapat membantu para religius untuk menghayati seksualitasnya secara tepat. Seksualitas sebagai anugerah yang diberikan oleh Allah kepada setiap orang (Agudo, 1988: 95). Rolheiser menjelaskan:
“Seksualitas adalah energi dalam diri kita, yang mendorong kita untuk dapat mencintai, berkomunikasi, membangun persahabatan, gembira, mempunyai
afeksi, compassion, membangun intimacy dan berelasi dengan diri sendiri,
orang lain, alam dan Tuhan” (Suparno, 2007: 19).
Suparno menegaskan bahwa seksualitas merupakan energi yang membuat orang menjadi manusia secara utuh (2006: 36). Seksualitas memotivasi orang untuk saling melengkapi dalam berelasi dengan orang lain (Prasetya, 1993: 234). Para religius tidak bisa meninggalkan seksualitasnya sebagai seorang perempuan atau laki-laki. Relasi yang sehat dengan lawan jenis dapat membantu para religius mempersembahkan hidupnya hanya kepada Allah dan setia dalam menjalani hidup panggilan mereka masing-masing (Podimattam, 1997: 100). Prioritasnya semata-mata demi kerajaan Allah (Hadiwardoyo, 2003: 375). Para religius bisa mengalami jatuh cinta, tetapi mereka tetap perlu menyadari akan komitmen panggilannya sebagai seorang religius. Kematangan seksual sangat penting bagi para religius dalam berelasi itu (Sunarka, 2003: 353 dan Prasetya, 1996: 67). Relasi mereka dengan lawan jenis tidak eksklusif. Relasi mereka akan berhenti pada tataran cinta persahabatan. Dalam relasi mereka tidak diperkenankan
ada perwujudan ungkapan afeksi yang erotis supaya relasinya menjadi sehat.
Podimattam menjelaskan beberapa pedoman yang perlu diperhatikan supaya orang dapat membangun relasi yang sehat dengan lawan jenis (1985: 29-84). Hal itu diuraikan sebagai berikut:
a. Pribadi
Secara pribadi, pedoman yang perlu diperhatikan supaya orang dapat membangun relasi yang sehat dengan lawan jenis adalah:
1) Memiliki Kedewasaan Afektif dan Seksual yang Cukup
Relasi para religius yang sehat dengan lawan jenis ditentukan oleh kedewasaan afektif dan seksualnya. Relasi itu dibangun berdasarkan cinta yang murni dan nilai-nilai panggilan yang dihayatinya. Relasi itu sebagai anugerah Tuhan dalam usaha menghayati hidup panggilan mereka. Mereka menyadari bahwa seluruh hidupnya hanya dipersembahkan kepada Allah melalui kaul-kaul yang telah diikrarkan. Sebagai orang yang berkaul-kaul kemurnian, mereka bersikap dewasa dan bijaksana mengolah berbagai gejolak seksual yang dialaminya. Sangat penting bagi mereka menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk seksual supaya mereka mampu menghayati seksualitasnya secara benar. Apabila mengalami jatuh cinta dan atau dijatuhi cinta, mereka menyadari dan menerima akan berbagai gejolak emosi dan seksual yang dialaminya itu dengan jujur dan tetap menyadari akan komitmen hidup pangilannya. Relasi cinta mereka akan berhenti pada tataran persahabatan sehingga tidak
akan pernah ada ungkapan afeksi yang erotis. Penting bagi mereka untuk mampu menjaga jarak dalam menjalin relasi itu. Pengalaman-pengalaman dalam berelasi dengan lawan jenis direfleksikan dengan tekun sehingga pengalaman itu dapat mendewasakan afeksi dan seksualnya sebab kedewasaan itu membutuhkan waktu dan usaha terus-menerus.
2) Disiplin dalam Hidup Doa
Relasi para religius dengan lawan jenis ditopang oleh semangat doanya yang mendalam dan membiarkan diri dituntun oleh Roh Kudus. Relasi intim dengan Allah menjadi pusat dalam hidupnya dan menjadi sumber dalam berelasi dengan lawan jenis. Relasi mereka dengan lawan jenis menjadi perluasan dari relasinya yang intim dengan Yesus Kristus yang telah memanggilnya. Sangat penting bagi mereka terus-menerus berjuang menjadi pribadi pendoa yang mendalam dengan tekun menjalankan latihan-latihan rohani, antara lain: doa pribadi, doa komunitas, meditasi, kontemplasi, rekoleksi, retret dan mengolah diri secara terus-menerus. Hal itu perlu dilakukan supaya mereka mantap dalam menghayati hidup panggilannya. Relasinya dengan lawan jenis semakin memperkuat penghayatan kaul kemurniannya sehingga mereka mampu memberikan diri secara total kepada Allah.
3) Waspada akan Resiko-resikonya
Para religius yang telah memiliki kedewasaan afektif dan seksual akan waspada dalam menjalin relasi dengan lawan jenis
sebab relasi itu tetap beresiko terutama apabila di antara mereka telah terjadi saling jatuh cinta. Apabila relasi itu semakin berkembang, keinginan yang lebih mendalam bisa mengarahkan mereka pada keinginan akan persatuan akhir dari badan dan jiwa yaitu perkawinan. Resiko akan kehilangan panggilan selibatnya adalah salah satu resiko dalam relasi itu. Cinta dapat membawa seseorang untuk mengingkari hidup selibatnya apabila hal itu tidak diolahnya secara dewasa. Pengalaman jatuh cinta sesungguhnya merupakan pengalaman berharga yang perlu disyukuri dan dimaknai. Kejujuran untuk menyadari, mengakuinya dan bijaksana dalam mengolahnya menjadi sangat penting. Para religius perlu mewaspadai akan resiko yang mungkin terjadi itu sehingga relasi yang dibangun dengan lawan jenis tidak eksklusif. Mereka perlu tetap menyadari secara terus-menerus komitmen panggilannya bahwa hidupnya hanya dipersembahkan bagi Allah sehingga pengalaman relasinya dengan lawan jenis menjadi sarana untuk semakin memperkuat hidup panggilan mereka sebagai seorang religius.
b. Hidup Komunitas
Dalam hidup komunitas, pedoman yang perlu diperhatikan supaya orang dapat membangun relasi yang sehat dengan lawan jenis adalah relasinya membangun persekutuan. Relasi dengan lawan jenis yang dibangun para religius semakin mempersatukan mereka dengan teman-teman sekomunitasnya. Relasi itu membantu mereka untuk semakin
mampu membangun persaudaraan dan kekeluargaan yang sejati dengan teman-teman sekomunitasnya. Relasi mereka dengan komunitasnya menjadi semakin dekat, hangat dan penuh kegembiraan. Hidup komunitas menjadi tempat bagi mereka untuk saling berbagi, terutama berbagi pengalaman hidup yang mereka alami masing-masing. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam komunitas menjadi kekayaan yang semakin memampukan mereka untuk saling memahami dan menerima apa adanya antara yang satu dengan yang lain.
c. Hidup Karya Kerasulan
Dalam hidup karya kerasulan, pedoman yang perlu diperhatikan supaya orang dapat membangun relasi yang sehat dengan lawan jenis adalah:
1) Relasinya Terbuka bagi Orang Lain
Cinta para religius adalah cinta yang terbuka bagi banyak orang. Walaupun di antara mereka sudah saling dekat, mereka tetap terbuka untuk menjalin relasi secara dekat pula dengan orang lain. Relasi dengan lawan jenis akan tetap sehat apabila mereka tetap membangun relasi yang dekat pula dengan orang lain. Relasi itu sebagai perluasan dari relasinya yang intim dengan Tuhan. Semakin banyak teman yang terlibat dalam kehidupan selibat, semakin sehatlah relasi mereka. Cinta bagi para religius adalah cinta yang terbuka yang memungkinkan mereka berelasi dengan banyak orang. Melalui relasi itu mereka menjadi semakin berkembang dalam kepribadian dan hidup panggilannya.
2) Relasinya Demi Kesejahteraan Orang Lain
Para religius membangun relasi dengan lawan jenis demi pelayanan bagi sesama yang membutuhkannya. Orientasi relasi itu adalah kesejahteraan orang-orang yang dilayaninya. Relasi itu memberi semangat untuk semakin bertanggungjawab dalam melaksanakan tugas perutusan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Mereka semakin terdorong untuk mengembangkan karya kerasulan kongregasi yang dipercayakan kepada mereka. Maka, penting bagi mereka untuk saling bekerjasama dan menghormati sehingga mereka bisa saling melengkapi dalam mewartakan kasih Allah supaya semakin banyak orang mengalami dikasihi Allah. Dengan demikian, orang-orang yang dilayani dapat mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.
Dari hal-hal yang telah diuraikan tersebut semakin jelas bahwa relasi yang sehat dengan lawan jenis seperti itu perlu dikembangkan oleh para suster PBHK. Relasi yang sehat itu dapat mendukung realisasi karya kerasulan kongregasi PBHK sebab dalam setiap karya kerasulan kongregasi mereka terbuka untuk berelasi dengan lawan jenis. Masa pembinaan yang efektif untuk mengembangkan relasi itu adalah pada masa pembinaan yuniorat sebab pada masa ini para suster yunior PBHK sedang dalam tahap belajar bertanggungjawab menjalankan tugas di bidang-bidang karya kerasulan kongregasi.