ةكرتلا نم ثراو لك بيصن اهب ةيباسحو ةيهقف دعاوق (Kaidah-kaidah fiqh dan cara perhitungan yang dengannya dapat
HASIL PENELITIAN
C. Relevansi Kewarisan Beda Agama yang Ada di Dalam CLD-KHI dengan Masa Sekarang
70 Ibid., 109-110
87
Al-Qur`an dan As-Sunnah, sebagai sumber hukum Islam, menurut para ulama hukum Islam diturunkan kepada manusia dengan memiliki tujuan dan maksud umum, yang disebut sebagai maqasid al-syari’ah.
Ketika menetapkan aturan-aturan hukum dalam Al-Quran dan As-Sunnah, syari’ dengan demikian memiliki maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Maksud dan tujuan syari’ dalam menetapkan setiap aturan-aturan hukum yang ada dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah inilah yang dalam literatur hukum Islam disebut sebagai maqashid al-syariah.
Tujuan hukum Islam yang secara umum berupa mewujudkan kemaslahatan tersebut, setelah diteliti dari aturan-aturan hukum yang ada dalam Al-Quran maupun Sunnah Nabi pada dasarnya ialah hendak memelihara kemaslahatan dari lima aspek pokok (al-kulliyat al-khams) dalam kehidupan manusia, yaitu agama din), jiwa nafs), akal
(al-‘aql), keturunan atau harga diri (al-nasl aw al ‘ird), dan harta (al-mal). Lima hal inilah secara umum yang hendak dipelihara oleh hukum Islam;
memelihara dan menjaga lima hal ini akan mendatangkan maslahah, dan sebaliknya mengabaikan dan merusak lima hal ini akan mendatangkan mafsadah serta menolak mafsadah ialah maslahah.71
Dalam menetapkan hukum, tim CLD-KHI mengubah kerangka berfikir dari teosentrisme ke antroposentrisme, dari elitis ke populis, dari deduktif ke induktif, dan dari eisegese ke exegese. Perubahan dilakukan
71 Wardah Nuroniyah, Konstruksi Ushul Fikih Kompilasi Hukum Islam: Menelusuri Basis Pembaruan Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Ciputat: Cinta Buku Media, 2016), 12-15
88
karena mempertimbangkan realitas kebudayaan masyarakat Indonesia yang berbeda dengan Arab dan Timur Tengah.72 Tim CLD-KHI secara terang-terangan dalam naskah akademiknya menyebutkan bahwa perspektif yang digunakan dalam merumuskan hukum keluarga Islam ialah keadilan gender, pluralisme, hak asasi manusia, dan demokrasi. Menurutnya, pendekatan ini selain akan mengantarkan Syariat Islam menjadi hukum publik yang dapat diterima oleh semua kalangan, juga akan kompatibel dengan kehidupan demokrasi modern.73
Bangsa lndonesia ialah bangsa yang majemuk. Salah satu sisi kemajemukan bangsa Indonesia ialah adanya keragaman agama yang dipeluk dan kepercayaan yang diyakini oleh penduduknya. Dengan kata lain di Indonesia yang hidup dan berkembang ialah agama dan kepercayaan, tidaklah tunggal namun beragam. Ada agama-agama besar seperti lslam, Kristen Katolik, Protestan Hindu, Buddha, Konghucu, bahkan Yahudi.
Kenyataan sosial keagamaan yang demikian sebenarnya telah dipahami para pendiri bangsa: bahwa beragama merupakan hak setiap penduduk dan hak ini harus dijamin oleh Negara. Karena itulah mengapa dalam undang-Undang Dasar 1945 terdapat Pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) yang menyatakan bahwa, "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa," Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
72 Marzuki Wahid, Fiqih Indonesia., 210
73 Ibid., 211
89
masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu74
Pluralisme berasal dari “plural” yang berarti banyak atau lebih dari satu. Kata plural sendiri berakar dari kata latin plus, pluris, yang secara bahasa berarti lebih dari satu. Dan isme berhubungan dengan paham atau aliran. Dengan demikian secara etimologi pluralisme bisa dikatakan sesuatu yang lebih dari satu substansi dan mengacu kepada adanya realitas dan kenyataan.
Apabila agama disandingkan dengan kata pluralisme, maknanya akan berubah menjadi pluralisme agama. Secara terminologi yang khusus istilah pluralisme agama sudah menjadi baku. Sekedar dalam kamus-kamus bahasa saja tidak bisa untuk di rujukkan. Walau terdapat di dalam kamus sikap saling menghormati keunikan masing-masing dan juga sikap toleransi merupakan makna dari pluralisme. Pluralisme agama memandang semua agama setara dengan agama-agama yang lainnya dan terhadap pluralitas agama sebuah paham dan cara pandang semua agama ialah sama.
Kalangan cendekiawan Muslim Indonesia memaknai pluralisme agama secara berbeda-beda, baik sosiologis maupun etnis. Pluralisme agama dalam artian berbeda-beda ialah suatu kenyataan dimaknai sebagai sebuah bentuk secara sosiologis, dalam hal beragama ialah beragam dan plural. Dan tidak dapat dipungkiri karena sudah merupakan kenyataan
74 Julita Lestari, “Pluralisme Agama Di Indonesia: Tantangan dan Peluang Bagi Keutuhan Bangsa” Al-Adyan: Journal of Religious Studies, Vol. 1, No. 1, (2020), 30
90
sosial, bahwa kita memiliki agama yang berbeda-beda. Secara sosiologis adanya pluralisme agama ini merupakan pengakuan yang sederhana, dan tidak mengizinkan pengakuan etika dan kebenaran dari agama lain.75
Berdasarkan penjelasan di atas, maka pluralisme agama menjadi salah satu tolak ukur bagi tim CLD-KHI dalam menetapkan hukum terutama mengenai kewarisan beda agama. Sebagaimana pendapat dari Asgar Ali Engineer dalam konteks pewarisan beda agama, tidak maslahah dalam situasi kekinian. Konsepsi kafir (non-Muslim) sebagaimana dirumuskan para ulama klasik dianggapnya tidak relevan diterapkan dalam kondisi kekinian.
Namun, lima hari setelah diluncurkan pada tanggal 9 Oktober 2004, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat membahas naskah CLD-KHI secara serius di kantornya. Anggota MUI yang hadir dalam rapat itu sepakat menolak CLD-KHI, Mereka menilai CLD-KHI sesat, bid’ah (diversion), taghyir (mengubah keaslian hukum Islam), dan memanipulasi nash-nash al-Quran. Sebagai anggota MUI Pusat bahkan mengusulkan agar lembaga MUI memanggil dan mengadili anggota MUI yang terlibat dalam penyusunan CLD-KHI. Komisi fatwa MUI memutuskan untuk membawa kasus ini kepada Dewan Pimpinan MUI. Tetapi hingga tulisan ini dibuat belum ada informasi keputusan dari Dewan Pimpinan MUI berkaitan CLD-KHI, barangkali tergeser isu penyesatan Jemaat Islam Ahmadiyah yang booming setelah kontroversi CLD-KHI.
75 Ibid., 32-34
91
Meski begitu, MUI mengirimkan surat protes kepada Menteri Agama yang menegaskan pandangannya bahwa isi dari CLD-KHI menyimpang dari ajaran Islam. Supaya tidak menimbulkan gejolak di tengah-tengah masyarakat, dalam surat Nomor B-144/MUI/X/2004, tanggal 12 Oktober 2004 yang ditanda tangani oleh Umar Shihab (Ketua) dan Din Syamsuddin (Sekretaris Jendral) atas nama Dewan Pimpinan MUI, MUI meminta Menteri Agama menarik draft CLD-KHI dan melarang Pokja PUG Depag untuk menyebarluaskannya. Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat, Ali Musthofa Ya’qub, mengatakan dengan nada kesal,
“Seharusnya teman-teman wartawan mencari tahu, bagaimana pemikiran-pemikiran iblis bisa masuk ke Departemen Agama (Depag). Saya tidak habis mengerti bagaimana institusi Agama, seperti Depag, bisa kecolongan pemikiran-pemikiran iblis seperti itu,”
“Ini hukum Iblis, jika diikuti kita bisa murtad,” kata Ali Mustafa Ya’qub. Umar Shihab, salah seorang Ketua MUI Pusat, berpendapat bahwa CLD-KHI selain bertentangan dengan KHI yang sudah menjadi kesepakatan seluruh umat Islam. Tim CLD-KHI bukan hanya menafsirkan, tetapi menyalah artikan al-Qur’an. “Hanya akal-akalan saja,”katanya.
Dien Syamsuddin, Ketua PP Muhammaddiyah, cenderung tidak sepakat dengan CLD-KHI. “CLD-KHI mengandung absurditas,” katanya.
Alasannya, karena CLD-KHI hanya diusulkan oleh kelompok kecil umat, tidak mencerminkan suara mayoritas masyarakat. “Jika CLD-KHI
92
diteruskan, padahal tidak diterima umat Islam, maka itu berarti pemaksaan, bertentangan dengan pluralisme dan sebagai mayoritas,” komentarnya”
Selain MUI, peluncuran CLD-KHI juga menuai kritik dari sejumlah organisasi keislaman dan para pakar hukum. Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), melalui Juru Bicaranya Fauzan al-Anshari, memberikan protes kepada Menteri Agama tentang CLD-KHI. Menurutnya, sebagian besar pasal dalam CLD-KHI bertentangan dengan ajaran Islam dan dapat menimbulkan fitnah yang sangat serius. CLD-KHI dipandang sebagai produk pemikiran yang dipengaruhi oleh filsafat sekuler dan kritik literature.
Hal senada dikatakan oleh Nabilah Lubis, Profesor dari UIN Jakarta.
“CLD-KHI bukan menggunakan pendekatan hukum Islam, namun menggunakan pendekatan ideologi sekuler,” tutur Nabilah. Menurutnya,
“pemikiran CLD-KHI seperti “sel kanker” yang sangat berbahaya karena tampilan dalam wujud cara berpikir atau pandangan ideologis beserta langkah politik praktis untuk menghancurkan keterikatan umat Islam pada al-Qur’an dan al-Hadist.
Lebih dari itu, Huzaemah Tahido Yanggo, A’wan Syuriyah PBNU dan Professor Hukum Islam dari UIN Jakarta, menilai bahwa CLD-KHI bertentangan dengan maqashid al-syari’ah atau penegakkan nilai serta prinsip keadilan sosial, kemaslahatan penegakkan umat manusia, kerahmatan semesta, dan kearifan gender. Artinya, CLD-KHI telah merusak ajaran Islam itu sendiri.
93
“CLD-KHI ini hukumnya wajib dilanggar,” tutur KH Mas Subada, Pengasuh Pesantren Rawdhatul Ulama Pasuruan Jawa Timur, yang bertekad mengganjal CLD-KHI dengan mempengaruhi ulama-ulama yang duduk di DPR. Dalam banyak hal, Subadar tidak sepakat dengan tawaran CLD-KHI.
Salah satunya tawaran batas minimal usia kawin bagi laki-laki dan perempuan ialah 19 tahun. Dia membantah tawaran ini. Dengan mengutip pendapat empat imam mazhab, menurutnya, perempuan yang berusia sehari pun bisa dinikahkan. “Tentu orangtuanya yang menikahinya.” Meski begitu, Subadar sepakat dengan tim CLD-KHI bahwa perkawinan bukan ibadah, tetapi hubungan kemanusiaan biasa. Menurutnya, ini sejalan dengan pandangan empat imam madzhab dalam fikih.
Athia Ali, Ketua Umum Ulama Ummat Islam (FUUI) di Bandung, menolak CLD-KHI dengan alasan bahwa pemikiran CLD-KHI tidak didasarkan kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, tetapi kepada nilai-nilai dari Barat, yakni demokrasi, pluralisme, gender, dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, pemikiran hukum Islam yang dilahirkan ialah cerminan kepentingan Barat dan pantas disebut “komunis” (Kompilasi Hukum Non-Islam).
Hizbut Tahrir menyebut CLD-KHI sebagai kompilasi hukum inkar Syari’at. “Hanya berdasarkan pada gender, demokrasi, pluralisme dan HAM, tidak masuk akal menyebut CLD sebagai hukum Islam. kalau menyebut hukum Islam tentu harus mengacu pada al-Qur’an dan Sunnah.
CLD-KHI bukanlah kompilasi hukum Islam, melainkan kompilasi hukum
94
syetan,” komentarnya. M. Shiddiq al-Jawi, Ketua Lajnah Tsaqaffiyyah HTI Yogyakarta, dalam artikelnya menyebutkan bahwa CLD-KHI lebih mencerminkan dan mengekspresikan ideologi kapitalisme yang kafir.
Dengan kata lain, CLD-KHI ialah alat penjajahan Barat atas umat Islam dalam bidang hukum keluarga.
“Ini ialah bagian dari zionisme internasional yang memang berkeinginan untuk menghancurkan semua agama sebagai rekomendasi Kongres 1947 di Los Angeles,” imbuh Mohammad Thalib, Wakil Amir MMI.
Tidak hanya aktivis organisasi keislaman yang bersuara keras menolak CLD-KHI, Majelis Ilmuwan Muslimah Internasional (Majlis
al-‘Alami lil ’Alimat al-Muslimat Indonesia dalam acara diskusi memperingati ulang tahunnya yang kelima juga mengingatkan agar masyarakat Muslim Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap pemikiran liberal/sekuler atau yang bertentangan dengan ketentuan syariat Islam.
Selain sebagai besar kalangan MUI, MMI, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front pembela Islam (FPI), dan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang secara terang-terangan menolak pemikiran CLD-KHI, juga masuk kedalam kelompok penolak ialah sebagian akademisi, sebagai kalangan pesantren, dan sebagian tim penyusun KHI. Sementara kalangan NU, Muhammadiyah, Persis, al-Washliyah, al-Irsyad, dan lain-lain secara
95
organisatoris tidak memberikan respon secara khusus, kecuali perorangan yang terpilah antara setuju dan tidak setuju dengan CLD-KHI.76
Sebagian besar reaksi dan kritik kelompok penolakan CLD-KHI diungkapkan dengan kalimat yang sangat keras dan menggunakan kata-kata kasar, seperti “hukum iblis”, ”hukum komunis”, “hukum syetan’. Hanya ada satu tanggapan terhadap CLD-KHI yang sistematis dan argumentative, yakni buku setebal 51+x halaman berjudul Kontroversi Revisi Kompilasi Hukum Islam karya Huzaemah Tahido Yanggo.
Dalam buku itu, Huzaemah memberikan ulasan yang cukup akademis dengan mengungkapkan sejumlah argument, baik Al-quran, Hadist, maupun pendapat ulama fiqih. Huzaemah mengungkapkan sejumlah kesalahan CLD-KHI yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan Al-quran dan Hadist serta fikih yang dianut mayoritas Muslim. Berikut catatan Huzaemah atas CLD-KHI:
1. Sudut pandang yang digunakan subjektif, sesuai dengan karakter dan kecenderungan para penulisnya.
2. Sudut pandang gaya bahasa dan ungkapan yang dipakainya terkesan sentimental, sinis, menggugat, arogan dan inkonsisten.
3. Seudut pandang visi dan misi yang dibawa: pluralisme, demokrasi, dan HAM, kesetaran gender, emansipatoris, humanis, inklusif, dan dekonstruksi syariat Islam, dan lain-lain. Pendekatan utama yang dilakukan oleh tim perumus CLD ialah gender, pluralisme, hak asasi
76 Marzuki Wahid, Fiqih Indonesia., 248-253
96
manusia, dan demokrasi, tidak melakukan pendekatan metodologi istinbath hukum Islam, yang disebutkan sendiri oleh tim perumus CLD tersebut, yaitu berdasarkan maqashid al-syariah. Tetapi perumus CLD-KHI justru bertentangan dengan maqashid al-syariah tersebut.
4. Sudut pandang masalah yang dibahas digugat ialah: Pertama, Al-quran dan Hadist disesuaikan dengan rasio dan adat serta kondisi social di masyarakat, Al-quran dan Hadist harus dipahami dari sudut maqashid-nya untuk kemaslahatan, tidak hamaqashid-nya melihat harfiyahmaqashid-nya. Kedua, karya para ulama klasik dituding sangat arabis dan sudah purba, tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Oleh sebab itu harus ditinggalkan. Ketiga, paradigm dan orientasi keberagaman (dari teosentris ke antroposentris). Keempat, problem kemanusiaan dan hubungan antar agama, antara lain nikah beda agama, nikah kontrak, waris beda agama, perwalian anak dari perkawinan beda agama.
5. Kaidah-kaidah yang digunakan: “Yang menjadi perhatian mujtahid dalam mengistinbatkan hukum dari Al-quran dan Hadist ialah pada maqashid yang dikandung nash, bukan pada lafaz atau aksara”. “Boleh menganulir ketentuan-ketentuan nash dengan menggunakan logika kemaslahatan, serta mengamandemen nash-nash (sejumlah ketentuan dogmatika agama) dengan akal/rasio berkenaan dengan perkara-perkara publik.77
77 Huzaemah Tahido Yanggo, Kontroversi Revisi Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta: Adelina, tth), 7-9
97
Dari penjelas di atas, nampaknya banyak sekali penentang terhadap CLD-KHI. Khusus terhadap permasalahan waris beda agama yang dirumuskan dalam Pasal 2 CLD-KHI menjadi salah satu pembahasannya.
Berdasarkan analisis penulis, tolak ukur yang dikemukakan oleh tim CLD-KHI memang telah mempertimbangkan realitas kebudayaan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda, dan seolah-olah relevan dengan kenyataan yang ada di Indonesia. Saling mewarisi antara orang Muslim dan non-Muslim dinilai sebagai bentuk keadilan dan menjaga kerukunan masyarakat yang plural. Namun perlu diketahui bahwa pluralisme di sini ialah tentang keanekaragaman masyarakat Indonesia, baik dari etnis, suku, budaya bahkan agama. Kita dituntut untuk saling menghargai dan toleransi antar sesama bukan mencampur adukkan keberagaman yang ada. Walaupun CLD-KHI menawarkan prinsip kesetaraan gender, demokrasi, pluralisme dan HAM, namun tidak masuk akal jika menyebut CLD-KHI ini sebagai hukum Islam. Kalau menyebut hukum Islam tentu harus mengacu pada Al-quran dan Hadis, dan juga mengacu kepada sesuatu yang telah ditetapkan oleh mayoritas Ulama melalui KHI yang juga diperkuat oleh Imam Mazhab yang empat. Menetapkan non-Muslim berhak menerima warisan bukanlah sesuatu yang bisa diterima, sebab telah keluar dari ketentuan yang telah ditetapkan di dalam Nash dan juga kesepakatan para ulama.
Kemudian, terkait kewarisan beda agama ini, ada pembahasan yang menjadi perdebatan di kalangan ulama, yaitu mengenai kebolehan bagi ahli waris Muslim menerima harta warisan dari muwarris yang non-Muslim.
98
Konsepsi tentang kafir dalam term-term Al-quran, oleh ahli hukum Islam sering disebut sebagai penghalang urusan kewarisan seseorang. Hal ini tidak terlepas dari narasi besar penafsir yang selalu mengaitkan istilah non-Muslim dengan term kafir. Dalam Al-quran menyebutkan banyak term-term kafir atau kufur. Al-quran menempatkan kafir sebagai sentral dari segala kejahatan dan menjadikannya sebagai lawan dari kata iman yang menjadi sumber dari segala kebaikan. Karena posisinya yang sentral dalam Al-quran, pemikiran tentang terminologi kafir sampai sekarang masih terus berkembang, bahkan keberadaannya penting untuk dikaji secara sistematis dan mendalam guna memperoleh pemahaman yang utuh dan komprehensif.
Penafsiran tentang terminologi kafir/kufr dari beberapa intelektual sangat beragam. Buya hamka, misalnya dalam tafsir al-Azhar menafsirkan kafir dengan mengutip QS al-Baqarah: 254, beliau mengatakan:78 “Kafir itu ada yang kafir ingkar kepada Tuhan sama sekali, kafir kepada akhirat.
Tetapi ada lagi kafir dalam pengakuan iman. Dia sembahyang juga, puasa juga tetapi dia menolak ajakan membelanjakan harta pada jalan Allah. Dia bakhil, saku-saku dijahitnya, peti uangnya ditutup, diajak korban pada Allah dia pun malas, bahkan dia pun takut. Akhirnya agamanya mundur, sabilillah tidak berdiri, umat menjadi bodoh hakikat agama tidak tegak lagi. Yang selesai menjadi kusut dan yang jernih menjadi keruh. Siapa yang aniaya
78 Buya Hamka, Tafsir Al-Azhar, Vol. III, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), 15
99
jadinya? Ialah si bakhil tadi karena dia menolak (kufr) pada ketentuan kebenaran”.
Dalam narasi hadis pun, misalnya al-Nawawi ketika menjelaskan hadis tentang iman, juga menyinggung perihal kufr. Al-Nawawi mengatakan bahwa kufr itu ada tiga macam; pertama, meyakini sesuatu yang dengannya ia menjadi kafir, atau mengingkari dengan hatinya sesuatu yang telah diketahui dari agamanya. Kedua, berkata dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang kafir. Ketiga, kufr karena perbuatan seperti melakukan penyembahan berhala. Argumentasi yang dibangun al-Nawawi disandarkan pada surat QS Al-Baqarah: 6.
Dalam konteks hukum hak waris kafir, umumnya ulama di kalangan Hanbaliyah, Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah bersepakat bahwa orang Islam tidak dapat saling mewarisi dengan non-Muslim.79Perbedaan agama menjadi penghalang mendapat warisan. Pendapat ini merupakan pendapat Khulafaur-Rasyidin, para imam empat mazhab (Syafi'i, Hambali, Maliki, dan Hanafi), pendapat kebanyakan ulama, serta yang banyak diikuti umat Islam, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah.80
Para ahli hukum Islam (jumhur ulama) sepakat bahwa orang non Islam (kafir) tidak dapat mewarisi harta orang Islam lantaran status orang non Islam (kafir) lebih rendah.81 Hal ini dijelaskan dalam Firman Allah Swt
79 Muhammad Ulil Abshor, Modernisasi Hukum.,99-101
80 Yusuf Qardhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer, jilid 3, Terj. As'ad Yasin, (Jakarta: Gema Insani Press, 1988), 850
81 Al-Qaradawi, Fatwa-fatwa Kontemporer, Terj. Hadyu Al-Islam Fatawi Mu’asirah, Jilid ke-3, (Gema Insani Press: Jakarta, 2002), 850
100
dalam Surat An-Nisaa’ ayat 141 yang artinya: “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman”
Apabila seorang ahli waris yang berbeda agama beberapa saat sesudah meninggalnya si pewaris, lalu ia masuk Islam, sedangkan harta peninggalan belum dibagi-bagikan maka seorang ahli waris yang baru masuk Islam itu tetap terhalang untuk mewarisi, sebab timbulnya hak mewarisi tersebut ialah sejak adanya kematian orang yang mewariskan, bukan saat kapan dimulainya pembagian harta peninggalan. Padahal pada saat kematian muwarris, ia masih dalam keadaan non-Muslim. Jadi mereka dalam keadaan berlainan agama.82
Kemudian mengenai orang Islam boleh mewarisi harta non-Muslim, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa diantara hal yang menguatkan pendapat orang Islam mewarisi ahli zimmi dan tidak sebaliknya, ialah bahwa yang dipertimbangkan dalam warisan itu ialah berdasarkan pertolongan, sedangkan penghalangnya ialah permusuhan, oleh karena itu sebagian besar Fuqaha mengatakan bahwa seorang kafir dzimmi tidak mewarisi kafir harbi.83
Pendapat lain tentang warisan orang kafir yang diwariskan untuk orang Islam ialah sebagai berikut:
82 M. Moh, Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, (Sinar Grafika: Jakarta, 2009), 78.
83 Al-Qaradawi, Fatwa-fatwa., 855
101
1. Ulama-ulama masyhur dari golongan sahabat, Tabi’in dan imam Mazhab empat berpendapat bahwa orang Islam tidak dapat mempusakai orang kafir dengan sebab apapun. Oleh karena itu suami muslim tidak dapat mewarisi harta istrinya yang kafir kitabiyyah. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid di atas, serta sebuah riwayat menerangkan bahwa ketika Abu Thalib wafat dan meninggalkan 4 orang anak, yakni: Ali, Ja’far, Uqail dan Thalib.
Dimana, Ali dan Ja’far beragama Islam sedangkan Uqail dan Thalib keduanya orang kafir. Rasulullah membagikan harta pusaka Abu Thalib kepada Uqail dan Thalib.84
2. Pendapat fuqaha Imamiyah dari pendapat miaz, Muawiyah, Muhammad Ibn al-Hanafiyyah, Ali Ibn al-Husein dan Sa'id Ibn al-Musayyab mengatakan bahwa larangan mempusakai karena beda agama itu tidak mencakup larangan bagi orang Islam mewarisi kerabatnya non muslim.
Oleh karena itu misalnya bila seorang isteri kafir kitabiyyah wafat, suaminya yang beragama Islam dapat mewarisi harta peninggalannya.
Agama Islam itu tinggi. Ketinggian agama Islam membawa juga ketinggian martabat umatIslam, sehingga mereka dibenarkan mewarisi keluarganya yang tidak beragama Islam, tetapi tidak sebaliknya orang-orang yang tidak beragama Islam dapat mewarisi keluarganya yang beragama Islam.85
84 Ibid., 853
85 Fatchurrahman, Ilmu Waris., 98
102
Semua orang diluar Islam dianggap satu, tidak dibedakan antara ahli kitab dengan non ahli kitab. Oleh karena itu ahli waris yang beragama Kristen, Yahudi, Hindu, dan Budha tidak mewarisi dari orang Islam, begitu juga sebaliknya.86
Seorang ulama kontemporer bernama Yusuf al-Qaradawi menjelaskan dalam bukunya Hadyul-Islam Fatawi Mu’a’sirah bahwa orang Islam dapat mewarisi dari orang non Islam sedangkan orang non Islam itu
Seorang ulama kontemporer bernama Yusuf al-Qaradawi menjelaskan dalam bukunya Hadyul-Islam Fatawi Mu’a’sirah bahwa orang Islam dapat mewarisi dari orang non Islam sedangkan orang non Islam itu