BAB IV RELEVANSI KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT
B. Relevensi Konsep Pendidikan Islam Menurut KH Ilyas
6. Relevensi Metode Pendidikan
Untuk mendesain pembelajaran agama Islam yang menarik maka dibutuhkan metode yang disesuaikan dengan materi pembelajaran. Metode pendidikan yang digunakan KH Ilyas menggunakan metode yang biasa dilakukan oleh tokoh pendidikan Islam yang lain yaitu metode pemberian tugas, metode ceramah, metode keteladanan, metode tanya jawab, dan lain sebagainya. Sesuai adat Jawa yang masih kental dengan adat sopan santun maka pola dakwah yang digunakan KH Ilyas dengan menekankan pada pemberian keteladanan dari pada
mauidzoh khasanah, dengan pola ini lambat laun masyarakat akan
segan dengan kharisma yang dimiliki pada diri beliau. Pola yang diberikan beliau selalu disesuaikan dengan kondisi masyrakat sekitar (Saifuddin, 2017:158). Sedangkan metode pendidikan kontemporer menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam bahwasanya metode pendidikan Islam yang digunakan saat ini oleh para pendidik itu merupakan hasil dari metode yang dikembangkan oleh orang barat, metode yang diterapkan itu misalnya, metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, dan lain sebagainya (Tafsir, 1994:131). Dan metode yang bagus digunakan pada saat ini adalah metode keteladanan, karena pada dasarnya metode
ini mampu mengajak minat peserta didik untuk melakukan apa yang yang dilakukan oleh gurunya. Dapat disimpulkan bawa metode pendidikan Islam yang digunakan KH Ilyas tersebut senada dengan metode yang digunakan pada zaman kontemporer ini, akan tetapi ada sedikit perbedaan bahwasanya metode pendidikan Islam kontemporer itu ada yang mengadopsi dari sistem pendidikan diluar pendidikan Islam (pendidikan umum).
Dari pemikiran pendidikan di atas, dapat diambil catatan penting tentang pemikiran beliau. Bahwa tujuan, metode, dan materi yang diberikan oleh KH Ilyas kepada santri-santrinya sangat relevan untuk diterapkan dalam model pendidikan seperti sekarang ini. Itu artinya KH Ilyas memang memahami konsep pendidikan baik secara teoritis maupun praktis sehingga pemikiran yang dikemukakan beliau tidak hanya berlaku pada masanya, melainkan jauh melampaui masa tersebut. Sedangkan materinya fleksibel sesuai dengan kebutuhan zaman, tentu dengan mengadakan modifikasi yang sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pemaparan dan analisis ini, penulis dapat menghasilkan beberapa item kesimpulan yaitu:
1. Konsep pendidikan Islam yang diterapkan KH Ilyas yaitu: (1) pengertian pendidikan Islam adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi untuk menentukan arah pandangan tentang pendidikan manusia yang berfungsi sebagai pengemban amanah khalifatullah fil
ard. (2) Tujuan pendidikan Islam adalah mencari kebahagiaan dunia,
mencari kebahagiaan kehidupan akhirat. (3) Materi pendidikan Islam yang diterapkan ialah materi tentang AlQuran dengan tajwid dan tafsirnya, akidah dan ilmu kalam, fikih dan ushul fikih, bahasa arab dengan ilmu nahwunya, tarikh, dan lain sebagainya, beliau juga mengajarkan tentang tauhid dan akhlak dimana beliau menggunkan dua hal tersebut sebagai patokan utama dalam mengarungi kehidupan di dunia. (4) metode yang digunakan adalah metode yang biasa dilakukan oleh tokoh pendidikan Islam yang lain yaitu metode pemberian tugas, metode ceramah, metode keteladanan, metode tanya jawab, dan lain sebagainya.namun dalam berdakwah beliau menggunakan metode keteladanan, manusia adalah makhluk yang berakal sehingga dalam pemberian ajaran kepada orang lain perlu
adanya sebuah contoh dan bukan hanya menggunakan omongan semata.
2. Relevansi pemikiran pendidikan Islam menurut KH Ilyas terhadap konsep pendidikan Islam kontemporer, jika dikaitkan keduanya memiliki hubungan bahwa pendidikan Islam memberi bimbingan kepada manusia sesuai dengan syariat Islam yang terdapat di dalam AlQuran dan Hadis dan tetap mengikuti perkembangan zaman. Materi yang digunakan mencangkup materi tentang akidah, ibadah, akhlak, pembelajaran mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi serta ilmu- ilmu umum lainnya. Selain itu ada juga yang berbeda antara pendidikan Islam menurut KH Ilyas terhadap pendidikan Islam kontemporer yaitu jika pendidikan Islam menurut KH Ilyas hanya menekankan pembelajaran yang berbau agama saja dan saat mencari materi harus belajar dengan gurunya langsung, sedangkan pendidikan Islam kontemporer lebih menekankan pada ilmu lainnya seperti ilmu tentang teknologi dan ilmu umum lainnya, dan sekarang ini karena dengan tersedianya internet bisa dengan mudah mengakses materi sesuai dengan yang diinginkan.
B. Saran-saran
Dari kesimpulan di atas, perlu kiranya peneliti memberikan saran kepada: 1. Bagi pendidik
Mempertajam kemampuan pribadi dengan mengambil contoh dari para kiai yang sudah terbukti mampu menghasilkan para pendidik-pendidik baru didaerahnya.
2. Bagi masyarakat
Manusia sebagai makhluk sosial di wajibkan untuk selalu berinteraksi dengan orang lain untuk mendapatkan sebuah ilmu, sehingga nantinya kita tidak terjebak pada kebodohan-kebodohan yang cenderung tidak bisa mengikuti perkembangan zaman yang semakin mengglobal. 3. Bagi peneliti
Penulis bisa menerapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan mempunyai karakter yang mulia.
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. (1987). Ilmu Pendidikan Islam 1. salatiga: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo.
Achmadi. (1992). Islam Sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media.
Al-Djamali, F. (1988). Menerabas Krisis Pendidikan Dunia Islam. Jakarta: Golden Terayon Press.
An-Nahlawi, A. (1995). Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Mayarakat.
Jakarta: Gema Insani Press.
Arief, A. (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Arifin, H.M (1987). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, M. (1991). Ilmu Pendidikan Islam . Jakarta : Bumi Aksara.
Darajat, Z. (2011). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Hadi, S. (1990). Metodologi Reserch Indeks. Yogjakarta: Gadjah Mada.
Hadi, S. (1990). Metodologi Resersh II. Yogjakarta: Andi Offset.
Hamalik, O. (1982). Penagajaran Unit. Bandung: Alumni.
Idi dan Suharto. (2006). Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Khamim, S. (2017). KH Ilyas Kalipahing (Pejuang Tarbiyah). Semarang: Formaci.
Langgulung, H. (1986). Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Mansur. (2001). Diskursus Pendidikan Islam. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.
Marimba, D. A. (1980). Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al- Ma'rif.
Meleong, L. (1997). Analisis Kualitatif. Jakarta: Rhineke Cipta.
Mohammad, N. (1998). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Mufron, A. (2013). Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Aura Pusaka.
Mujtahid. (2011). Reformulasi Pendidikan Islam. Malang: UIN-Maliki Press. Nata, A. (2013). Kapita Selekta Pendidikan Islam:Isu-isu Kontemporer tentang
Pendidikan Islam. Jakarta: Rajawali Press.
Noarapast, K. B. (2016). Pendidikan Islam Wacana Alternatif. Jakarta: Citra.
Ramayulis. (2006). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
RI, D. A. (2003). Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Sembodo, A. W. (2003). Kajian Filsafat Pendidikan Barat dan Islam. Jakarta: Nimas Multima.
Sudjana, N. (1995). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Tafsir, A. (1994). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tafsir, A. (1996). Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Uhbiyati, N. (2013). Dasar-dasar Ilmu Pendidikan Islam. Semarang: PT Pustaka Rizki.
Wawancara dengan Ibu Nyai Maisun sebagai salah satu menantu dari keluarga KH Ilyas, tanggal 29 Maret 2018.
Wawancara dengan Kiai Agus Basari Ilyas sebagai putra bungsu KH Ilyas dari istri kedua 29 Maret 2018.
Wawancara dengan K.Hadi Masykur sebagai salah satu santri KH.Ilyas 30 Maret 2018.
Wawancara mbah Nafisah sebagai salah satu murid pengajian selapanan KH Ilyas, 5 Desember 2017.
Wawancara K. Daldiri sebagai salah satu santri KH.Ilyas yang sekarang juga meneruskan dakwah beliau, 30 Maret 2018.
Wawancara dengan mas Hasan sebagai salah satu santri di pondok pesantren Fatkhul Mubarok, tanggal 29 Maret 2018
Gambar Dokumentasi
Pondok Putra
Masjid di area pondok (masjid Fathul Mubarok) jamaahnya hanya santri pondok
Masjid Kalipahing sekaligus tempat makam KH Ilyas (Masjid Baiti makmum) masjid umum di desa kalipahing jaraknya sekitar 300 meter
Sekolah yang dulu di bangun KH Ilyas dan sekarang telah direnovasi