a. Definisi Religiusitas
Religiusitas adalah terjemahan dari kata religiosity (bahasa I nggris). Kata religiosity sendiri berasal dari kata religi (bahasa Latin) yang berarti agama (Astuti, 2008). Oleh karena itu, istilah religiusitas tidak dapat dilepaskan dari agama.
Menurut Safrilsyah, dkk (2010) religiusitas diartikan sebagai nilai-nilai agama yang telah masuk ke dalam diri manusia. Sedangkan Ancok dan Suroso (1995:6) mengartikan religiusitas adalah keberagamaan yang diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia yang dapat dilihat oleh mata (tampak) maupun yang tidak tampak yang terjadi dalam hati manusia yang menyangkut ibadah maupun aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Mayondhika (2012) mendefinisikan religiusitas sebagai komitmen beragama. Sementara itu, Afiatin (1998) mengatakan bahwa religiusitas tidak hanya seseorang melakukan praktek beribadah saja tetapi juga ketika melakukan aktivitas kehidupan lainnya.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa religiusitas merupakan internalisasi nilai-nilai agama yang terwujud dalam berbagai sisi kehidupan pemeluknya sebagai bentuk komitmen atas ajaran agamanya.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Religiusitas
Keberadaan religiusitas dalam pribadi seseorang tidaklah datang begitu saja, melainkan berkembang dan membutuhkan
proses (Yusuf, 2003 dalam Rahmawati, 2010). Thouless (1979:15-19) menjelaskan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi religiusitas seseorang, diantaranya:
1) Faktor sosial
Faktor sosial mencakup seluruh pengaruh sosial dalam perkembangan religiusitas seseorang, seperti pendidikan dari orang tua, tradisi sosial, serta tekanan dari lingkungan sosial yang berasal dari sikap dan pendapat yang disetujui oleh suatu lingkungan.
2) Faktor pengalaman
Maksud dari faktor pengalaman ini adalah bahwa religiusitas berasal dari apa-apa yang selama ini telah dialami oleh seseorang, seperti mengalami konflik moral, mengalami bahwa setiap orang membutuhkan kebaikan, keindahan, dan harmoni dalam hidupnya, serta mengalami akan adanya kehadiran Tuhan.
3) Faktor kebutuhan
Bahwa religiusitas seseorang dapat muncul karena adanya kebutuhan akan hal keselamatan, cinta, harga diri, dan persiapan akan datangnya kematian.
4) Faktor intelektual
Faktor intelektual terkait dengan kemampuan proses penalaran verbal dan pengetahuan dalam diri seseorang.
c. Dimensi Religiusitas
Glock dan Stark (1965) dalam Sari, dkk (2012) membagi religiusitas ke dalam lima dimensi, yaitu dimensi ideologis (keyakinan), dimensi ritualitas (praktek keagamaan), dimensi eksperensial (penghayatan), dimensi intelektual (pengetahuan), dan dimensi konsekuensial (pengamalan). Menurut Ancok dan Suroso (1995:80-82) dalam I slam kelima dimensi tersebut dapat disejajarkan dengan:
1) Akidah
Akidah atau dimensi keyakinan menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan muslim terhadap kebenaran ajaran agamanya khususnya yang bersifat fundamental dan dogmatik. Dimensi keyakinan ini menyangkut rukun iman yang 6 (enam) yaitu iman kepada Allah SWT, iman kepada malaikat Allah SWT, iman kepada Nabi/ Rasul Allah SWT, iman kepada kitab-kitab Allah SWT, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada qadha dan qadar.
2) Syariah
Syariah atau dimensi peribatan atau praktek agama merupakan dimensi yang terkait pada kepatuhan muslim dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual yang disuruh dan dianjurkan oleh agamanya. Adapun praktek agama tersebut ialah pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Qur’an, do’a, zikir, ibadah kurban, i’tikaf, dan sebagainya.
3) Penghayatan
Penghayatan atau dimensi eksperensial menunjuk pada bagaimana muslim merasakan dan mengalami perasaan-perasaan dan pengalaman-pengalaman religius. Dalam I slam, dimensi ini terwujud dalam perasaan dekat dengan Allah SWT, perasaan doa-doanya sering terkabul, perasaan bersyukur kepada Allah SWT, perasaan tergetar ketika mendengar adzan atau ayat-ayat Al-Qur’an, dan lain-lain.
4) I lmu
I lmu atau dimensi pengetahuan merupakan pengetahuan dan pemahaman muslim terhadap ajaran-ajaran agamanya terutama ajaran-ajaran pokok yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.
5) Akhlak
Akhlak atau dimensi pengamalan menunjuk pada perilaku muslim yang dimotivasi oleh ajaran-ajaran agamanya. Dimensi ini adalah tentang bagaimana individu berelasi dengan urusan dunianya terutama dengan manusia lain (Habluminannas). Akhlak mencerminkan perilaku yang sesuai dengan norma-norma I slam seperti, bekerjasama, suka menolong, memaafkan, berperilaku jujur, menjaga amanat, tidak korupsi, tidak mencuri, dan lain-lain.
Berdasarkan aspek-aspek tersebut, Islam mengajarkan bahwa seorang muslim tidak boleh berhenti pada hubungannya dengan Allah SWT saja, tetapi juga harus terus mengamalkan apa yang
telah diajarkan I slam ke dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, tercipta hubungan yang baik antar manusia dengan manusia, dan manusia dengan makhluk lainnya.
d. Pengalaman Religius
Pengalaman religius merupakan gabungan antara pengalaman dan religius. Menurut Kamus Besar Bahasa I ndonesia, pengalaman adalah yang pernah dialami dalam arti dijalani, dirasai, ditanggung, dan sebagainya. Sedangkan, religius dalam Kamus Besar Bahasa I ndonesia diartikan sebagai sesuatu yang bersifat keagamaan. Oleh karena itu, pengalaman religius adalah yang pernah dialami terkait dengan hal-hal yang bersifat keagamaan. Menurut Bagir (2011) pengalaman religius adalah pengalaman akan kesadaran atas kehadiran yang I lahi. Dalam hal religiusitas akuntan publik, melalui pengalaman religius dapat diketahui bagaimana nilai-nilai agama dapat masuk, meresap dan kemudian berdampak pada individu dalam profesi tersebut.
Pengalaman religius dalam I slam dikenal dengan istilah tasawuf. Kesadaran atas kehadiran Allah SWT dalam berbagai aktivitas sehari-hari umat muslim merupakan ranah pembahasan tasawuf.
Tasawuf adalah falsafah hidup yang dimaksudkan untuk meningkatkan jiwa seorang manusia secara moral lewat latihan-latihan praktis tertentu (Buchori, 2012:111). Definisi tasawuf secara istilah sangatlah beragam, namun yang banyak diakui adalah kata shuf yang berarti bulu domba atau wol. Definisi tersebut muncul
bahwa berdasarkan sejarah para sufi (sebutan bagi mereka yang melakukan amalan tasawuf) memakai pakaian wol, walaupun tidak setiap kaum sufi memakai pakaian wol (Solihin dan Anwar, 2014:13). Namun, disebutkan dalam literatur lain bahwa kain wol yang dipakai adalah wol kasar, bukan wol halus sebagaimana kain wol sekarang, dan pada masa itu memakai wol kasar adalah simbol kesederhanaan (Amin, 2015:4).
Al-Jurairi dalam Solihin dan Anwar (2014:14) memaknai tasawuf sebagai masuk ke dalam segala budi (akhlak) yang mulia dan keluar dari budi pekerti yang rendah. Sementara, Al-Junaidi menjelaskan tasawuf adalah membersihkan hati dari apa saja yang mengganggu perasaan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal (instink) kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, bergantung pada ilmu-ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada semua orang, memegang teguh janji dengan Allah SWT dalam hal hakikat, dan mengikuti contoh Rasululullah dalam hal syariat. Munculnya tasawuf diilhami dari pola kehidupan Nabi Muhammad SAW yang semasa hidupnya sederhana, zuhud, tawadhu’, ridha, dan lain-lain (Buchori, 2012).
Solihin dan Anwar (2014) menjelaskan dasar-dasar tasawuf bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an merupakan kitab Allah SWT yang didalamnya terkandung ajaran-ajaran I slam tentang aqidah, syari’ah, dan mu’amalah. Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang
berbicara tentang tasawuf diantaranya Q.S At-Tahrim ayat 8 yang artinya “...bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya...”, dan Q.S An-Nisa’ ayat 77 yang artinya “...Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sementara, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa...”. Sedangkan, salah satu hadits yang membahas tentang tasawuf adalah H.R I bnu Majah, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “zuhudlah terhadap dunia maka Allah SWT akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di tangan orang lain maka mereka akan mencintaimu.”
Tasawuf dimaksudkan agar nilai-nilai I slam dapat melekat ke dalam pribadi seorang muslim. Sehingga dalam menjalankan berbagai aktivitasnya, seorang muslim dapat benar-benar lillahi ta’ala. Dalam Amin (2015:22) tasawuf dalam kajian akademik dibagi menjadi tiga bagian yaitu tasawuf akhlaki yang menjadikan akhlak (tingkah laku) sebagai pembahasan utama, tasawuf amali yang membahas tentang cara mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dikonotasikan sebagai tarekat, dan tasawuf falsafi yang membahas tasawuf secara filsafat yakni disertai dengan ungkapan-ungkapan dalam bahasa filsafat.