• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan beberapa hal agar menjadi pertimbangan dan perhatian bersama:

1. Akuntan Publik Muslim

Sebagai seorang muslim yang berprofesi harus menunjukkan bagaimana kesempurnaan Islam. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara saling menguatkan dan mengingatkan antar sesama muslim, bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap perilaku hambanya. Dengan demikian diharapkan akan muncul rasa mawas diri, yang dapat meminimalisir tindakan tercela dalam profesi akuntan publik.

2. Kantor Akuntan Publik

Sebagai unsur yang sangat penting dalam membentuk kualitas pribadi para auditor yang ada di dalamnya, diharapkan dapat menjaga nilai-nilai I slam pada pekerjaan dengan memperbanyak kegiatan keagamaan, dan membiasakan berhenti bekerja ketika adzan berkumandang untuk segera sholat berjama’ah sebagaimana yang dilakukan oleh kantor akuntan publik yang menjadi situs penelitian. Hal tersebut sangat positif, dan diharapkan dapat menjadi benteng sebagai pengingat diri ketika menghadapi berbagai tekanan pekerjaan. Tidak hanya itu, kantor akuntan publik juga diharapkan dapat menjadi wadah yang mengingatkan bahwa mengejar unsur duniawi adalah untuk kepentingan akhirat sebagai kehidupan yang kekal.

3. Penelitian Tasawuf Berikutnya

Bagi peneliti yang menjadikan tasawuf sebagai pendekatan penelitian, diharapkan dapat lebih dalam dan lebih banyak lagi aspek tasawuf yang digali tidak hanya konsep sabar. Agar penelitian dapat lebih mendalam, peneliti dapat melakukan magang untuk menjalin kedekatan yang natural dengan informan. Sehingga, informasi yang didapat akan lebih banyak, serta aspek tasawuf yang diteliti akan dapat dalam.

4. Penelitian Akuntan Publik Berbasis I slam

Hasil penelitian sebagai dasar informasi untuk membuat suatu kebijakan diharapkan dapat lebih diperhatikan. Topik penelitian mengenai akuntan publik berbasis agama I slam diharapkan dapat lebih banyak lagi diangkat. Sehingga, data mengenai bagaimana pentingnya

I slam dalam profesi ini dapat lebih beragam dan semakin banyak referensi sebagai informasi dasar untuk membuat sebuah regulasi. 5. Stakeholder seperti, I katan Akuntan I ndonesia (IAI ) dan I katan Akuntan

Publik I ndonesia (IAPI )

Sebagai stakeholder pembuat kebijakan untuk mengatasi berbagai problematika yang ada, diharapkan tidak hanya mengutamakan unsur-unsur teknis dalam pelaksanaan audit sebagai solusi masalah tersebut. Mulailah merubah pola pikir dan sudut pandang, bahwa agama I slam dapat menjadi solusi dalam mengatasi berbagai persoalan moral, etika, dan sebagainya yang kini membelit profesi akuntan publik.

DAFTAR PUSTAKA

Abdalati, Hammudah, 1983, I slam Suatu Kepastian, Media Da’wah, Jakarta Pusat.

Adi Nugroho, dan Anis Chariri, 2012, Studi Fenomenologi Tentang Peran Akuntan Dalam Masyarakat: “Melayani Kepentingan Publik atau Kepentingan Klien?”, E-journal Undip, Vol. 1, No. 1, 1-8.

Aji Dedi Mulawarman, 2010, Integrasi Paradigma Akuntansi: Refleksi atas Pendekatan Sosiologi Dalam Ilmu Akuntansi, Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Vol. 1, No. 1, April 2010.

Al-Attas, Syed Muhammad Al-Naquib, 1981, I slam dan Sekularisme, Pustaka, Bandung.

Alteer, Ahmed Mohamed, dan Mesbah Mohamed Ben Taher, 2015, Religiosity and Ethical Decision Sensitivity in Auditing Profession, Journal of Economics and Business Studies, No. 1, June 2015.

Ari Kristin Prasetyoningrum, 2010, Analisis Pengaruh Faktor Ekonomi dan Religiusitas Terhadap Persepsi Supervisor dan Manajer Mengenai I ndependensi Dewan Pengawas Syariah, Jurnal Pemikiran dan Penelitian Ekonomi I slam, Nomor I I , Edisi I I , November, 2010.

Azhari Mayondhika, 2012, Skripsi: Hubungan Antara Komitmen Beragama dan Kesediaan Berkorban Untuk Agama, Universitas I ndonesia, Depok

Bagir, Haidar, 2011, Pengalaman Religius, Kanz Philosophia Journal of Philosophy and Mysticism, Vol.1 , No.1, Agustus-November 2011.

Creswell, John W, 2014, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Dea Devita Murti, dan M. Nur A Birton, 2016, Sepasang Sayap Akuntabilitas Keuangan Pondok Pesantren Modern, Konferensi Ilmiah Akuntansi (KI A) I V. Departemen Agama RI , 2010, Al-Qur’an Tajwid dan Terjemah, Dipenogoro,

Bandung.

Didin Saefuddin Buchori, 2012, Metodologi Studi Islam, Serat Alam Media, Tangerang Selatan.

Djamaludin Ancok, dan Fuad Nashori Suroso, 1995, Psikologi I slam: Solusi Atas Problem-problem Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Dwi Rahmawati, 2010, Skripsi: Perbedaan Tingkat Religiusitas Pada Mahasiswa Fakultas Keagamaan dan Non Keagamaan di UI N Syarif Hidayatullah Jakarta, UI N Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Fajar Kurniawan, dan Retno Dwiyanti, 2013, Hubungan Religiusitas Dengan Kontrol Diri Pada Anggota I ntelkam Polres Cilacap, Psycho I dea, Tahun 11, No.1, I SSN:1693-1076.

Harun Nasution, 1985, I slam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Universitas I ndonesia Press, Jakarta.

Hawwa, Sa’id bin Muhammad Daib, 1998, Menyucikan Jiwa: Konsep Tazkiyatun Nafs Terpadu, Robbani Press, Jakarta.

http:/ / kbbi.web.id

http:/ / www.hukumonline.com/ berita/ baca/ hol3732/

font-size1- colorff0000bskandal-penyuapan-pajakbfontbr-kantor-akuntan-kpmg-indonesia-digugat-di-as, tanggal 25 Maret 2016.

https:/ / quran.com/

Jalaluddin, 2010, Psikologi Agama, Rajawali Pers, Jakarta.

Koran Tempo, Judul Artikel: “Kasus I ndia’s Enron Mulai Diadili”, Rabu, 3 November 2010.

Lexy J Moleong, 2015, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Listya Kanda Dewi, 2013, Akuntan Publik Dalam Penegakan Kode Etik Profesi, Jurnal I lmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya, Vol. 1, No. 2.

M. Abdul Mujieb, Ahmad I smail, dan Syafi’ah, 2009, Ensiklopedia Tasawuf I mam Al-Ghazali, Hikmah, Jakarta Selatan.

M. Solihin, dan Rosihon Anwar, 2014, I lmu Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung. Majalah Akuntan: Akuntan Penyebab Krisis?, Agustus-September 2015: 8.

Maryati, dan M. I rfan Tarmizi, 2015, Pemahaman dan Persepsi Etis Akuntan Pajak Tentang Tax Avoidance dan Tax Evasion, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) 18.

Mawdudi, Syed Abul A’ Ala, 1996, I slamic Way Of Life, King Fahd National Library.

Nata, Abuddin, 2014, Metodologi Studi I slam, Rajawali Pers, Jakarta.

Natalia Paranoan, 2015, Riset Non Positistik Akuntansi Dalam Tiga Paradigma: I nterpretif, Kritis, dan Posmodernisme, Jurnal I lmiah Akuntansi dan Bisnis, Vol. 10, No. 1, Januari 2015.

Nottingham, Elizabeth K, 2002, Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama, Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Nur Ahmad, 2014, Konseling Agama: Terapi Terhadap Pengidap Penyakit Manusia Modern, Jurnal Bimbingan Konseling I slam, Vol. 5, No. 1, Juni 2014.

Nur Alimin Azis, Yenni Mangoting, dan Novrida Qudsi Lutfillah, 2015, Memaknai I ndependensi Auditor Dengan Keindahan Nilai-nilai Kearifan Lokal Siri’Na Pacce, Jurnal Akuntansi Multiparadigma (JAMAL), Vo. 6, No. 1, 1-174, I SSN:2086-7603, e-ISSN:2089-5879

Omer, Thomas C, Nathan Y. Sharp, dan Dechun Wang, 2015, The I mpact of Religion on the Going Concern Reporting Decisions of Local Audit Practice Offices, Journal of Business Ethics, No. 2759403.

Safrilsyah, Rozumah Baharudin, dan Nurdeng Duraseh, Religiusitas Dalam Perspektif Islam: Suatu Kajian Psikologi Agama, Substantia, Vol. 12, No. 2, Oktober, 2010.

Samsul Munir Amin, 2015, I lmu Tasawuf, Amzah, Jakarta.

Sari Astuti, 2008, Skripsi: Hubungan Antara Religiusitas dan Perilaku Seksual Pranikah Pada Remaja Yang Beragama I slam, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Sofyan S. Harahap, 2011, Etika Bisnis Dalam Perspektif I slam, Salemba Empat, Jakarta.

Sukrisno Agoes, 2012, Auditing, Salemba Empat, Jakarta.

Thouless, Robert H, 1979, An I ntroduction to the Psychology of Religion, 3rd Edition, Cambridge University Press, USA.

Tina Afiatin, 1998, Religiusitas Remaja: Studi Tentang Kehidupan Beragama Di Daerah I stimewa Yogyakarta, Jurnal Psikologi, No. 1, 55-64.

Undang-undang Republik I ndonesia Nomor 5 Tahun 2001 tentang Akuntan Publik William Jeffersen Wiratama, dan Ketut Budhiarta, 2015, Pengaruh I ndependensi, Pengalaman Kerja, Due Professional Care dan Akuntabilitas Terhadap Kualitas Audit, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 10.1, 91-106, I SSN:2302-8578.

Yunita Sari RD, Akbar Fajri S, dan Tanfidz Syuriansyah, 2012, Religiusitas Pada Hijabers Community Bandung, Jurnal Psikologi Prosiding SnaPP2012: Sosial, Ekonomi, Humaniora.

LAMPI RAN 1

LAMPI RAN 2 DATA DI RI I NFORMAN

DATA DI RI I NFORMAN I nforman 1 Nama : Guntur Pengalaman : 2 Tahun Jabatan : Supervisor I nforman 2 Nama : Sidik Pengalaman : 2 Tahun Jabatan : Supervisor I nforman 4 Nama : Deri Pengalaman : - Jabatan : Partner I nforman 3 Nama : Andi Pengalaman : 7 Tahun

LAMPI RAN 3

TRANSKRI P WAW ANCARA

I nforman 1

Nama Samaran : Guntur Pengalaman : 2 Tahun Jabatan : Supervisor Wawancara 1

Tanggal : Senin, 26 Desember 2016

Jam : 13.31 WI B

Annisa : Assalamualaikum mas. Terima kasih, sudah bersedia jadi informan saya. Langsung aja ya mas, dulunya konsentrasi kuliahnya apa mas?

Guntur : Saya jurusannya akuntansi keuangan. Annisa : Terus, mas udah berapa lama jadi auditor?

Guntur : Sekarang sudah 2 tahun, dari 2014 bulan Oktober.

Annisa : Suka duka nya, sejauh ini 2 tahun menjadi auditor itu enak ga mas?

Guntur : Emmm. Ya menurut saya enak gitu kan, karena bukan pekerjaan rutinitas setiap hari yang ga ada endingnya gitu. Kalo ini ada endingnya gitu, kalo auditor. Ketika kita lapangan sudah selesai, ya sudah kita ganti laporan yang baru, atau klien yang baru. Tetapi ketika pekerjaan lain kan seperti contoh akuntansi, sampai kapanpun ya ga ada selesainya itu mah. 31 desember udah harus mulai lagi nanti 1 januari nya bikin laporan keuangan. Annisa : Kalo boleh tau, jabatan mas nya di KAP ini apa?

Guntur : Supervisor.

Annisa : I tu tugasnya apa aja mas?

Guntur : Tugasnya ya pertama ya, pegang satu akun atau satu perusahaan lah gitu. Ya nanti dibantu sama junior-junior auditor dalam ke lapangannya.

Annisa : Menjadi Supervisor mas, tantangannya apa aja sih mas?

Guntur : Tantangannya ya, kita harus lebih bekerja sama gitu. Karena kita punya rekan tim ya dalam mengerjakan satu laporan ini. Jadi, kita perlu saling berkoordinasi gitu sama yang dibawah kita. Annisa : Sering turun ketemu klien juga ga?

Guntur : Sering, hampir semuanya ikut turun. Karena sebelumnya saya pekerja lapangan.

Annisa : Nah, selama menjadi auditor dan bertemu klien, ada yang suka aneh gitu ga mas kliennya? maksudnya tantangannya itu gimana?

Guntur : Macem-macem klien nya tuh. Pertama, ada yang suka gitu diaudit, ada yang ga suka saat diaudit. Karena kan audit ini kan tuntutan perusahaan, bukan seorang yang ingin di audit itu kan. Makanya kadang-kadang ada yang bete, ada yang acuh tak acuh gitu ketika proses auditnya.

Annisa : Mereka tuh betenya kenapa mas?

Guntur : Karena menambah pekerjaan mereka. Pekerjaan mereka biasanya menginput urusan perusahaan, tapi ini dia harus menyiapkan data-data untuk kebutuhan auditor untuk diperiksa. I tu kan membutuhkan waktu yang ekstra dalam pekerjaan dia. Annisa : Terus, masnya muslim agamanya I slam..

Guntur : Alhamdulillah ana muslim.

Annisa : Selama menjadi auditor yang beragama I slam nih mas, seberapa penting agama buat mas nya terkait sama profesi ini?

Guntur : Kalo sebagai muslim tuh sangat penting, sangat penting karena pekerjaan ini tidak terlepas dari Islam. Karena I slam itu mengatur seluruh aspek kehidupan. Dari kita makan, minum, ke kamar mandi, berpolitik, berbudaya, apalagi bekerja gitu kan, dan bekerja itu kan harus sesuai dengan apa yang diajarkan. Jadi pentingnya I slam itu, karena I slam mengatur halal dan haramnya dalam beribadah, dalam bekerja, dalam muamalat. Makanya dalam seorang auditor pun, itu sangat penting aspek keislaman itu.

Annisa : Secara spesifik, apa aja mas? Tadi itu kan secara I slam dalam seluruh aspek kehidupan. Profesi auditor itu sendiri?

Guntur : Spesifiknya ya, kita dalam bekerja itu harus ya jujur aja gitu lebih jujur, lebih ke apa adanya. Kalo memang, jadi kita membuat sesuatu tuh ya sesuai dengan prosedur gitu. Misalnya memang ada sesuatu yang tidak sesuai dengan prosedur, nah itu bisa dibicarakan lagi sama si kliennya, gimana? kalo dari kita seperti ini gitu kan. Nanti pemangku kebijakan kan bukan di seorang auditor, tetapi di seorang yang signing atau penandatangan yaitu akuntan publiknya itu. Kalo kita ya auditor bekerja sebagai pekerja aja, nanti kan keputusan pengambil keputusan dalam pengambilan opini kan bukanlah diauditor, auditor hanya bekerja aja.

Annisa : Tadi mas sudah jelaskan bahwa menjadi auditor diperlukan kejujuran, dan kejujuran itu diajarkan dalam I slam. Kalo seandainya I slam itu tidak dijadikan landasan bagi seorang auditor, apa yang terjadi?

dasarnya dia mencari keridhoan Allah SWT dalam bekerja dan mencari nafkah yang halal otomatis prosesnya pun akan sesuai gitu. Jadi, jujur tuh udah bagian dari I slam.

Annisa : Dan mas sendiri jadi auditor karena melihat aspek itu juga, atau gimana?

Guntur : Engga. Ya saya sebagai auditor pertama, karena ga sengaja diajak bekerja. Setelah jadi auditor itu kan melihat, melihat pekerjaan-pekerjaan yang ada di sebuah perusahaan itu, nah itu banyak tekanan, banyak yang istilahnya membuat mendorong kita sebagai pekerja tuh malah jadi tidak jujur gitu. Membuat laporan keuangan untuk pajak beda, untuk internal beda, untuk ini beda gitu kan. Nah itu tidak bisa kita pungkiri, memang banyak perusahaan-perusahaan yang seperti itu. Karena laporan keuangan itu, hasil laporan keuangan itu untuk kepentingan si pembaca, ya seperti itu gitu. Kalo nyambungnya sama auditor, auditor hanya membuat sebuah opini apakah laporan yang disajikan oleh si klien ini sudah sesuai belum dengan standar akuntansi keuangan. Bisa itu berupa PSAK atau bisa berupa itu ETAP.

Annisa : Sejauh ini, selama mas jadi auditor disini terkait praktek beribadah beragama itu seperti apa?

Guntur : Alhamdulillah. Makanya kenapa saya jadi auditor, terutama disini. Karena disini, alhamdulillah temen-temennya muslim semua. Terus yang kedua, mereka mau gitu ketika diajak sesuatu ibadah yang sunnah atau sesuatu yang wajib mau bareng-bareng. Ayu gitu, misalnya sholat berjama’ah, mau. Diajak ayu sholat di masjid, ternyata sekarang mulai sedikit-sedikit mau. Jadi tambah betah aja gitu kan. Nah memang maaf, sebelum-sebelumnya ada aga pemisahan antara agama dan pekerjaan. Tapi kan sedikit demi sedikit itu diperbaiki, dengan menambahnya wawasan kita terhadap agama dalam hal risiko-risiko juga dalam pekerjaan. Annisa : Kenapa mas melakukan itu? Karena merasa tanggung jawab,

atau karena terbentuk dari lingkungan-lingkungan juga?

Guntur : I tu sebuah kewajiban kita sebagai seorang muslim, ya harus sholat gitu kan ibadah terutama. I badah itu kan banyak. Bekerja itu ibadah, menolong orang itu ibadah. Tetapi tidak semua itu ibadah, seperti menolong orang untuk menuangkan minuman keras. Jadi, ibadah itu sesuatu yang diperintahkan oleh suatu zat yang maha benar. Baik belum tentu benar. Tapi kalo benar insya Allah, pasti baik.

Annisa : Praktik beribadah yang mas lakukan selama menjadi auditor, apa aja mas?

Guntur : Kalo disini biasanya ada kajian, kalo abis maghrib. Karena berhubung si bosnya lagi sibuk, jadi agak kurang. Biasanya ada

setiap abis maghrib, baca Al-Qur’an dengan artinya dikaji artinya berdasarkan tafsir.

Annisa : Terus saya juga tadi liat, pas adzan dzuhur yang cowok itu langsung sholat bareng-bareng ke masjid. Emang budayanya kaya gitu saling ngingetin satu sama lain, atau gimana?

Guntur : I tu sih baru dimulai 1 atau 2 bulan ini. Dulu biasanya kita sering jama’ah di tempat sholat yang dibelakang, kalo sekarang jama’ahnya di masjid.

Annisa : Saya juga denger mas, kalo disini saling ngingetin satu sama lain. Ga ada pemisahan antara agama dan pekerjaan.

Guntur : I ya disini saling ngingetin, jangan kaya gitu. Kaya ada suatu hal yang menyimpang dari prosedur audit.

Annisa : Misalnya mas?

Guntur : Misalnya, si klien mintanya begini nih ada pesanan gitu kan, gabisa gitu kaya gitu. Kita saling ngingetin, jangan. Karena pertama, itu risiko. Risiko pekerjaan sebagai akuntan publik namanya bakal tercoreng gitu. Dan kita bakal diperiksa oleh BPK, OJK atau oleh auditor bank. Tapi yang lebih penting lagi, kita bakal diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban setiap apa yang diperbuat oleh kita. Kaya kita berpakaian, kalo pakaian nya tidak sesuai dengan syariat, kan kita akan dimintai pertanggung jawaban, kan diperintahkan.

Annisa : Apa manfaatnya? Dampaknya melakukan praktik beragama terhadap profesi mas nya? Seperti sholat berjama’ah yang tadi mas nya bilang.

Guntur : Pertama gini, ketika kita sering berjama’ah di masjid otomatis kan bekerja pun jadi jama’ah, saling mengingatkan. I tu kan fungsi sholat berjama’ah untuk menjalin kedekatan, ukhuwah, saling mengingatkan. Otomatis dalam beribadah seperti itu, nanti berdampak baik dengan pekerjaan kita. Emang ada hal-hal buruk yang sering saya lakukan, pertama tidur. Karena gatau ya dalam 2 bulan ini saya sering ketiduran. Ya sekitar jam 9 jam 10 tidur, ya 20 menit, 10 menit gitu kan. Tergantung, bisa 2 kali 3 kali tidur. Tapi karena pekerjaan ini dituntut oleh namanya waktu penyelesaian, dan hasil. Bukan..

Annisa : Proses mas?

Guntur : Proses tetep, maksudnya ada targetnya gitu kan. Makanya beda sama seorang accounting dimana hasil harus ada, pekerjaan ada terus tuh.

Annisa : Gimana seharusnya seorang muslim menempatkan agama dalam profesi auditor, mas?

Guntur : Ketika kita mengejar materi, otomatis kadang-kadang ga memikirkan namanya halal haram. Tetapi kalo kita

mendahulukan agama, kita akan melihat aspek itu. Kalo dikasih besar ya Alhamdulillah, kalo dikasih kecil ya syukur-syukurin. Annisa : Tapi pernah ga ditawarin, maksudnya nih klien maunya abcdefg. Guntur : Ada. Ditawarin apa nih?

Annisa : Maksudnya, saya maunya gini gini gini kalo misalnya kamu berani ngelolosin apa yang saya mau.

Guntur : Engga sih. Meskipun dia minta, tapi ga ada penambahan uang. ‘Nanti saya kasih deh segini’, engga.

Annisa : Tapi mas Guntur turutin permintaan dia ga? Ada atau tanpa ada itu dari mereka? Jika permintaannya itu melanggar.

Guntur : Kalo yang saya audit sih dibilang melanggar ya gimana ya, kan kalo ketika minta pendapat itu kan beda ya. Kalo saya sih, maunya klien gimana, ya gitu diikutin aja dulu.

Annisa : Terus?

Guntur : Kan sebuah proses kan, diikutin aja dulu. Nah tapi nanti diendingnya kita benerin, jadi itu salah satu strategi si auditor di luar prosedur untuk mengungkapkan data-data yang ada dalam klien itu. Kan klien pun ga semuanya go public, kan ada klien yang istilahnya punya pribadi, atau ya punya keluarga. Nah itu macem-macem deh permintaannya, tetapi kita sebagai auditor memberitahu sesuai dengan prosedur. Kan prosedur audit kan jelas, ya kita lakuin itu, seperti itu.

Annisa : Oke cukup. Terima kasih mas. Wassalamualaikum

Wawancara 2

Tanggal : Selasa, 3 Januari 2017

Jam : 13.11 WI B

Annisa : Kemarin kan mas Guntur bilang, kalo bekerja itu kan harus sesuai dengan apa yang diajarkan dalam I slam. Nah yang diajarkan dalam I slam itu seperti apa mas?

Guntur : Apa yang diajarkan I slam itu, sesuai tuntutan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Jadi, apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari itu, ya sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh rasul gitu, kalo bisa. Karena tiada lagi suri tauladan kita yang harus patut kita tauladani yaitu beliau, rasulullah Nabi Muhammad SAW. Nah, yang I slam ajarkan itu bagaimana kita taat kepada Allah dalam hal larangannya dan perintahnya seperti itu. Contoh, ketika kita diperintahkan untuk berpuasa pada bulan puasa, kan itu ada ayatnya. Berarti kita diperintahkan sesuai dengan Al-Qur’an dong, contoh ayat 183 dalam Al-Baqarah. Hai

orang-orang yang beriman diperintahkan oleh kamu untuk berpuasa atau diwajibkan oleh kamu untuk berpuasa. Tetapi di ayat sebelumnya ada di ayat 178, kita itu dihadapkan dengan ayat yang artinya, hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu untuk melakukan qishas atau hukuman balas atas sesuatu yang dilakukannya. Contoh, ketika orang mencuri ya harus dipotong tangannya. Ketika orang itu membunuh, itu berarti harus dibunuh lagi, tetapi kenapa yang 183 ini dilaksanakan tetapi 178 ini tidak dilaksanakan pada saat ini? Berarti kan kita meyakini sebagian isi Al-Qur’an, tetapi tidak meyakini sebagian yang lain, itu masih banyak hal-hal yang lain. Seperti beribadah, kita diperintahkan untuk sholat, puasa, zakat, sedekah kita lakukan, tetapi ketika perihal riba gitu kan yang menyangkut larangan Allah, pacaran, mendekati zinah, tetapi kita masih melakukannya gitu. Berarti apa, tidak menaati apa yang diperintahkan oleh Allah gitu kan. Bukan berarti saya mengatakan saya orang yang benar, tetapi pengalaman. Ternyata apa yang dilarang oleh Allah tuh untuk kebaikan kita juga, banyak ayat yang memerintahkan sesuatu, tetapi lebih banyak lagi yang melarang akan sesautu.

Annisa : Kalo contohnya sendiri mas, dalam bekerja menjadi auditor? Atas apa yang mas nya alami, larangan dan perintahnya yang tadi mas nya udah jelasin itu.

Guntur : Hukum bekerja itu kan mubah. Hukum asal bekerja itu kan mubah, asal tidak ada unsur-unsur yang mengharamkannya. Contoh, kita bekerja sebagai pekerja pabrik sepatu, tugas kita mengesol sepatu atau mengelem sepatu itu boleh. Nah, tapi ketika kita bekerja di pabrik bir jelas-jelas ga boleh, kenapa? karena produknya haram. Jelas-jelas produknya haram berarti kita mengiyakan produk tersebut di konsumsi oleh khalayak banyak, sedangkan I slam mengajarkan bahwa khamar itu haram gitu kan. Nah sama seperti auditor, berarti hukum bekerja sebagai audit itu mubah, boleh. Kenapa? karena kita menggunakan jasa memeriksa laporan keuangan. Sudah sesuai kah dengan peraturan SAK yang telah dibuat oleh I AI atau I API ?

Dalam dokumen POTRET RELIGIUSITAS AKUNTAN PUBLIK DALAM (Halaman 90-135)

Dokumen terkait