Rencana Penataan Kawasan Perencanaan
7.2. Rencana Sistem Sirkulasi dan Parkir
7.2.1. Rencana Alur Sirkulasi & Parkir
Tujuan perencanaan alur sirkulasi dan parker adalah menciptakan sisem transportasi yang selain nyaman dan aman juga efisien dan efektif. Rcana sirkulasi dan parkir harus dibuat dengan memperhatikan kondisi sirkulasi termasuk moda transportasi existing Moda transportasi eksisting yang mempengaruhi kondisi sirkulasi dan parkir dalam kawasan perencanaan adalah angkutan umkum baik roda empat maupun roda dua,.
Akses kekawasan pasar selama ini menggunakan beberapa entrance yaitu :
1. dari arah Utara melalui jalan Cut nyak dien 2. dari arah Selatan melalui jalan Pramuka 3. Dari arah Timur melalui jalan kolektor 1 4. dsari arah Barat melalui jalan kolektor 2
Adapun rencana pengembangan sistem sirkulasi dan parkira dalam kawasan perencanaan dapat dibuat dalam beberapa alternatif Alternatif pertama
7.2.2. Rencana Jaringan Jalan 7.2.3. Rencana Jalur Pedestrian
7.3. Rencana Sistem Utilitas
7.3.1. Rencana Jaringan Air Bersih
7.3.2. Rencana Penanganan Air Limbah dan Sampah 7.3.3. Rencana Jaringan Drainase
7.4. Rencana Pengendalian Bangunan dan Lingkungan
7.4.1. Rencana Figure Ground
7.4.2. Rencana KDB/KLB, Sempadan dan Ketinggian Bangunan 7.4.3. Rencana Tata Massa Bangunan
7.4.4. Rencana Signage
7.4.5. Rencana Street Furniture & Accessories Taman 7.5. Design Guidelines
6.1. Konsep Land Use dan Space Use
Land Use dan Space Use diatur pengembangannya berdasarkan Sub Kawasan/Blok Analisis yang telah ditetapkan sebelumnya. Berikut ini adalah Konsep Pengembangan Blok-blok Analisisnya.
BLOK
ANALISIS Land Use Space Use
BLOK 1 Permukiman Perdagangan
Umum
Pergudangan
Street Scape di kawasan ini
terbentuk oleh bangunan pertokoan dan jasa publik lain yang ada di sepanjang koridor Jalan Pramuka. Lebar badan jalan dan penataan pedestrian yang telah dibuat dengan cukup baik meskipun pada satu sisi jalan saja telah membentuk
street scape yang cukup
menarik
Pengembangan Sub Kawasan ini sebagai area buffer sekaligus pengantar untuk masuk ke dalam kawasan perdagangan dapat dilakukan melalui pengembangan fungsi-fungsi
bangunan yang telah ada dan membersihkannya dari aktivitas-aktivitas ikutan yang menghalangi pandangan ke
street scape yang telah
terbentuk.
Bangunan-bangunan
permukiman dan pergudangan dalam Blok ini dikembangkan sebagai fungsi pendukung dari kegiatan perdagangan barang dan jasa yang berlangsung di koridor Jalan Pramuka.
BLOK 2 Perhotelan Pendidikan Peribadatan Permukiman
Koridor Jalan I.J. Kasimo dalam Blok ini memiliki visualisasi yang lebih “renggang” dibandingkan kawasan lainnya. Ini bermanfaat sebagai kawasan penyeimbang terhadap kawasan di sekitarnya yang lebih padat.
Kepadatan visual yang rendah di kawasan ini mendukung keberadaan fungsi yang bersifat rekreatif dengan volume aktivitas sedang sampai rendah seperti perhotelan, restoran, serta fasilitas perdagangan lain yang memiliki unsur rekreatif di dalamnya seperti kafe atau arena bermain anak-anak. BLOK 3 Pasar Terminal Perdagangan Grosir Permukiman Pergudangan
Area pasar perlu dikembangkan dengan fungsionalisasi secara optimal semua space yang ada dengan mempertimbangkan efisiensi aksesibi-litas serta aspek ekonomi dari space dalam kawasan ini.
Area yang ditempati oleh Terminal dapat dikembangkan sebagai area entrance ke wilayah pasar sekaligus mewadahi fungsi parkir dan sirkulasi tanpa mengabaikan nilai ekonomis space dengan cara mengembangkan
pembangunan yang bernilai ekonomis tinggi.
Koridor Jalan Adam Malik selama ini telah berkembang
dari area permukiman menjadi area perdagangan. Kondisi ini merupakan akibat dari adanya fungsi perdagangan yang menjadi “magnet” yang kuat
pengaruhnya dalam
perkembangan kawasan ini. Sesuai kondisi tersebut, kawasan ini dapat dikembangkan sebagai area perdagangan grosir dan umum.
BLOK 4 Permukiman Peribadatan Pendidikan Jalur hijau
Area ini didominasi oleh permukiman yang bertumbuh dengan sangat pesat. Beberapa fungsi lain merupakan fungsi pendukung yang memenuhi kebutuhan yang tumbuh dari area permukiman.
Area ini dilintasi oleh Jalur sungai yang cukup panjang sehingga dengan sendirinya dilintasi pula oleh jalur hijau yang telah ditetapkan di sepanjang area tepi sungai. Pembebasan area tepi sungai dari segala macam bentuk bangunan terutama hunian mutlak diperlukan sebagai upaya memelihara keseimbangan alam dan mencegah penggunaan sungai sebagai tempat pembuangan sampah baik domestik maupun industri.
BLOK 5 Permukiman
Perkantoran Street scape di area ini yaitu disepanjang koridor Jalan Cut Nya Dien perlu dikembangkan dengan optimal untuk menciptakan townscape yang menjadi elemen pembentuk citra Kota Atambua secara keseluruhan.
Lebar badan jalan yang cukup memadai perlu dilengkapi dengan adanya asesories jalan yang mendukung serta jalur pedestrian yang selain fungsional juga dapat menjadi pendukung terbentuknya street
Keberadaan Rumah Jabatan Bupati adalah salah satu focal
point di kawasan ini yang perlu
didukung dengan keberadaan bangunan lain dengan massa yang cenderung lebih besar secara horisontal dibandingkan massa dalam kawasan/Blok lain.
Ada 3 daerah kepadatan dalam kawasan ini, yaitu kepadatan rendah, kepadatan sedang dan kepadatan tinggi.
1. daerah kepadatan tinggi
Pada daerah ini terjadi pemusatan aktivitas yang berlebihan. Untuk mensupport aktivitas di daerah ini dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Di daerah ini diperlukan pula KDB dan KLB yang tinggi sehingga space yang ada mampu menampung aktivitas yang berlangsung. Dalam kawasan perencanaan, daerah kepadatan tinggi berada pada Blok 3, khususnya di area pasar serta pada Blok 1 di sebagian koridor Jalan Pramuka.
2. daerah kepadatan sedang
Daerah kepadatan sedang merupakan daerah dengan tingkat aktivitas sedang. Agar aktivitas dapat berlangsung dengan lancar pada daerah ini dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang sesuai dengan jenis aktivitas yang berlangsung. Daerah kepadatan sedang umumnya memiliki potensi untuk berkembang menjadi daerah kepadatan tinggi baik secara insidentil maupun tetap sehingga sarana dan prasarana yang tersedia harus mengantisipasi hal tersebut.
Pada kawasan perencanaan ini, sebagian besar areanya yaitu pada Blok 1, 2, 3 dan 4 merupakan area tingkat kepadatannya adalah variasi antara kepadatan sedang dengan kepadatan tinggi maupun rendah. Misalnya, pada Blok 2 merupakan campuran antara kepadatan sedang yaitu yang berada di ruas Jalan I.J. Kasimo bagian selatan, dan kepadatan rendah pada area lainnya dalam Blok ini. Pada Blok 3, terjadi variasi antara daerah berkepadatan tinggi di area
pasar dan sekitarnya sedangkan selebihnya adalah daerah berkepadatan sedang.
3. daerah kepadatan rendah
Daerah kepadatan rendah adalah daerah dengan pembangunan yang dibatasi. Di kawasan perencanaan, daerah kepadatan rendah adalah daerah yang karena fungsinya diharapkan memiliki citra visual yang baik. Karena itu pada daerah ini KDB dan KLB ditetapkan rendah sehingga dapat menjadi elemen pembentuk town scape yang sesuai dengan citra visual kota yang diinginkan.
Selain itu daerah kepadatan rendah juga ditempatkan pada area-area konservasi alam sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan ekosistem yang diakibatkan oleh pembangunan yang berlebihan. Daerah kepadatan rendah terdapat pada Blok 5 yaitu koridor Jalan Cut Nya Dien yang merupakan street scape pembentuk citra visual Kota Atambua serta di Blok 1 dan 4 yang dilintasi aliran sungai merupakan area konservasi yang dalam RDTR Kota Atambua telah ditetapkan sebagai jalur hijau.
Gambar VI-1 Peta Daerah Kepadatan
6.2. Konsep Penzoningan
Konsep penzoningan dimaksudkan untuk memberikan arahan struktur pembentukan kawasan serta jaringan penghubungnya dengan memperhatikan kondisi eksisting serta kecenderungan perkembangannya.
Kawasan perencanaan yang tercakup dalam penyusunan RTBL ini dalam sudut pandang elemen citra kota terdiri atas beberapa bagian yang memiliki karakter distrik. Distrik adalah suatu area/kawasan yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan area yang lain. Kawasan perencanaan ditandai secara khas oleh obyek fisik pasar yang merupakan pusat perkembangan dari suatu distrik yang secara khas mewadahi aktivitas perdagangan. Di samping distrik tersebut, terdapat pula area lain yang mewadahi tipe aktivitas yang berbeda yaitu yang mengarah ke aktivitas permukiman dan perkantoran. Area ini terletak di sepanjang koridor Jalan Cut Nya Dien atau pada Blok Analisis 5.
Secara garis besar, area-area dalam Kawasan perencanaan memiliki 2 macam karakter fungsi yaitu kawasan perdagangan dan kawasan non perdagangan. Ketiga karakter kawasan ini dihubungkan oleh linkage yang secara gradual dipengaruhi oleh karakter kawasan di sekitarnya. Pada masing-masing karakter fungsi tersebut terdapat sejumlah elemen yang membentuk citra kawasan perencanaan ini, yaitu :
1. kawasan perdagangan
pasar yang terletak di Jalan Adam Malik
pusat perdagangan umum yang berkembang di sepanjang koridor Jalan Adam Malik
pusat perdagangan umum dan layanan publik yang terletak di sepanjang koridor Jalan Pramuka
2. Kawasan non perdagangan
Permukiman dan perkantoran yang terletak di sepanjang Jalan Cut Nya Dien.
Gambar VI-2 Penzoningan
6.3. Konsep Sirkulasi dan Parkir
Kelancaran arus sirkulasi adalah aspek penting bagi berlangsungnya fungsi suatu lingkungan. Dalam kawasan perencanaan, terutama di wilayah perdagangan kelancaran sirkulasi mutlak dibutuhkan untuk mendukung efisiensi kegiatan yang tentunya berpengaruh pada aspek ekonomis dari semua kegiatan yang ada.
Arus sirkulasi menurut moda-nya terbagi atas sirkulasi pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Peralihan dari satu moda transportasi ke moda transportasi yang lain harus diatur dengan baik sehingga tidak menghambat kelancaran arus sirkulasi secara keseluruhan.
Sirkulasi masuk dan keluar kawasan perencanaan dengan menggunakan kendaraan bermotor meliputi kendaraan pribadi dan kendaraan umum, baik roda dua maupun roda empat. Arus sirkulasi pada area pasar dapat diatur berupa sirkulasi satu arah mengingat padatnya arus lalu lintas di lokasi ini, sedangkan dibagian lain kawasan dapat diatur dua arah terutama di ruas jalan Cut Nya Dien yang sudah memiliki pembatas jalur.
6.4. Konsep Signage & Iklan
Signage dapat menjadi bantuan yang sangat bermanfaat bagi kelancaran pergerakan orang dalam suatu lingkungan. Di pihak lain, signage yang tidak dirancang dan diatur dengan baik akan berfungsi sebaliknya yaitu mempersulit pergerakan orang dalam lingkungan.
Signage dalam kawasan ini terbagi atas dua bagian yaitu yang berkaitan dengan pengaturan lalu lintas atau tanda lalu lintas serta petunjuk letak suatu tempat/gedung. Signage harus cukup jelas, baik dari segi perletakan maupun dari desainnya.
Signage yang berupa tanda lalu lintas, harus dibuat desainnya sesuai dengan standard yang telah ditetapkan. Perletakannya selain perlu diatur sesuai standar, juga penting untuk diperhatikan adanya area bebas di sekitar signage yang memungkinkan pengamatan visual yang cukup baik bagi pemakai jalan.
atau bangunan. Perletakan signage ini biasanya di posisi-posisi yang menarik secara visual, misalnya di tepi jalan, di pintu masuk jalan/gang atau di persimpangan/perpotongan jalan. Signage jenis ini seringkali digabungkan dengan iklan sebagai upaya untuk menarik pengamat terhadap produk yang diiklankan. Adanya sifat komersial dari iklan menyebabkan adanya kecenderungan untuk melakukan desain yang berlebihan, baik dari segi dimensi, bentuk, konten, maupun tata letak. Kecenderungan ini penting untuk diperhatikan agar keberadaan signage tidak menciptakan polusi visual yang mengganggu pembentukan street scape yang baik.
Keberadaan iklan dalam bentuk papan baik tersendiri maupun digabung dengan signage serta dalam bentuk spanduk atau lainnya adalah konsekuensi dari dinamika perkembangan kota dan aktivitas perdagangan barang dan jasa yang biasanya cukup ramai dalam kota yang berkembang pesat. Kota tanpa iklan memberi kesan statis dan tidak menarik, namun jika iklan yang ada berlebihan baik dalam desain maupun kuantitas, maka akan sangat mengurangi nilai estetika pada townscape dari kota yang bersangkutan. Kuantitas yang dimaksud dalam hal ini bukan saja menyangkut jumlah secara nominal namun berkaitan pula dengan kepadatan dalam hal tata letak. Iklan yang diletakkan dalam jumlah banyak pada suatu area yang relatif sempit, selain kurang estetis juga berpotensi menimbulkan gangguan pada arus sirkulasi. Desain iklan dapat dipadukan dengan street furniture lain seperti tempat sampah, pot bunga, halte, lampu jalan/pedestrian dan sebagainya. Hal ini dapat merupakan penyelesaian kreatif yang menguntungkan berbagai pihak.
6.5. Konsep Pengembangan Sarana dan Prasarana
6.5.1. Air Bersih
Pelayanan kebutuhan air bersih di kawasan ini selama ini telah dilakukan oleh PDAM setempat. Jaringan pipa distribusi air bersih milik PDAM telah tersedia di kawasan ini. Namun selama ini kebutuhan air bersih belum terlayani dengan baik karena
kurangnya volume air yang dialirkan dibandingkan dengan kebutuhan yang terus berkembang.
Suplai air bersih ke kawasan ini dapat tetap dilakukan oleh PDAM. Kekurangan dari suplai air bersih PDAM dapat diatasi dengan membuat sistem penampungan yang cukup baik secara kualitas maupun kuantitas. Sistem penampungan dengan memakai tandon bawah dan atas diharapkan dapat menjadi wadah penyimpanan cadangan air bersih sehingga dapat mengatasi kekurangan air ketika suplai air PDAM berkurang atau terhenti untuk sementara. Di samping itu perlu dipikirkan sumber air alternatif seperti sumur, baik berupa sumur gali maupun sumur bor. 6.5.2. Persampahan
Pada kawasan perencanaan, jenis sampah yang dihasilkan berupa sampah rumah tangga dan sampah industri. Sampah rumah tangga dihasilkan oleh area pemukiman yang berada dalam kawasan ini, sedangkan sampah industri adalah sampah yang dihasilkan oleh kegiatan perdagangan yang banyak dilakukan dalam kawasan ini.
Sistem penanganan sampah di kawasan perencanaan saat ini telah ditangani oleh dinas kebersihan setempat. Mengingat pentingnya penanganan masalah persampahan dan keterbatasan kemampuan pemerintah, maka direncanakan penanganan sampah yang berbasis masyarakat. Sistem penanganan sampah berbasis masyarakat adalah sebagai berikut :
a. pemilahan sampah
pada tahap ini, masyarakat akan melakukan proses pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Jadi sejak mengumpulkan sampah yang dihasilkannya, masyarakat sudah melakukannya secara terpisah. Sampah organik dikumpukan pada tempat yang terpisah dari sampah anorganik.
pembuangan sampah dari rumah ke Tempat Penampungan Sementara (TPS). Jika sampah dibuang sendiri ke TPS, maka diperlukan dua jenis tempat sampah untuk masing-masing jenis sampah. Bila pembuangan sampah ke TPS menggunakan gerobak , maka dibutuhkan dua gerobak yang berbeda atau gerobak yang dimodifikasi sehingga terdapat wadah terpisah bagi kedua jenis sampah tersebut.
b. pemanfaatan sampah
Pada tahap ini masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan sampah yang masih dapat digunakan. Dengan teknologi sederhana yang didukung oleh kreativitas diharapkan masyarakat dapat mendaur ulang sampah yang ada menjadi barang yang bermanfaat.
Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah non organik dapat diolah menjadi berbagai benda seperti perlengkapan rumah tangga, hiasan dinding, dan sebagainya. Jika tidak dapat dikerjakan sendiri oleh masyarakat maka sampah juga dapat dijual kepada pemulung.
Setelah proses pemilahan dan daur ulang sampah, maka sampah yang masih tersisa dan tak dapat dimanfaatkan akan diangkut ke lokasi TPs maupun TPA yang tersedia.
Adapun sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam sistem persampahan dalam kawasan perencanaan adalah :
1. pada tiap rumah/bangunan : tempat sampah tertutup yang dibuat dalam dua warna berbeda, masing-masing untuk sampah organik dan anorganik, kapasitas 40 lt.
2. pada area publik (jalan, halte, pertokoan, perkantoran, dsb) : tempat sampah tertutup dalam dua warna berbeda dengan kapasitas 70 - 120 lt.
3. dump truck pengangkut 6.5.3. Limbah
limbahnya, yaitu :
a. pengelolaan limbah padat b. pengelolaan limbah cair
Pengelolaan limbah padat yang umumnya berupa tinja memerlukan sarana dan prasarana sebagai berikut :
a. Jamban dengan septic tank pribadi pada daerah permukiman b. Jamban pribadi dengan septic tank komunal pada daerah
permukiman yang relatif padat.
c. Jamban dan septic tank komunal pada area public seperti di kawasan pasar dan pertokoan.
d. Instalasi pengolahan lumpur tinja e. Truk penyedot tinja
Pengelolaan limbah cair dapat dilakukan secara praktis yaitu dengan cara mengalirkannya ke saluran drainase lingkungan yang ada untuk kemudian dialirkan ke drainase kota. Untuk kawasan yang padat seperti pemukiman yang tingkat huniannya tinggi atau daerah publik seperti pasar dan pertokoan perlu dibuat sumur-sumur peresapan.
Khusus untuk pasar pada area bahan pangan basah seperti berbagai macam daging dan ikan mentah perlu dibuat sumur peresapan serta instalasi pengolahan limbah cair yang sesuai standar sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. 6.5.4. Drainase
Sistem drainase dalam kawasan perencanaan, kebanyakan sudah dibuat secara permanen. Namun sebagian hanya dibuat pada satu sisi jalan dan kebanyakan masih berupa saluran terbuka. Semua jalan dalam kawasan perencanaan disarankan untuk dilengkapi dengan saluran drainase pada kedua sisinya. Untuk jalan arteri dan kolektor primer disarankan saluran drainase merupakan saluran tertutup. Tingginya aktivitas pada ruas-ruas jalan tersebut biasanya menghasilkan sampah yang banyak pula. Hal ini dapat menyebabkan saluran terbuka berubah menjadi tempat pembuangan sampah sehingga tidak berfungsi secara
optimal.
Pada ruas jalan kolektor sekunder dan jalan lingkungan, sebaiknya juga memiliki saluran tertutup pada kedua sisinya, namun minimal pada ruas-ruas jalan ini harus terdapat saluran permanen.
6.6. Konsep Pengembangan Ekonomi
Kawasan perencanaan adalah kawasan perdagangan yang sudah tentu memiliki kaitan yang erat dengan aspek ekonomi kawasan. Setiap langkah pengembangan kawasan harus selalu meletakkan aspek ekonomi sebagai salah satu pertimbangan utama.
Kondisi eksisting menunjukkan ketidak teraturan yang menimbulkan banyak kerugian finansial. Distribusi akivitas yang tidak merata mengakibatkan nilai ekonomis lahan hanya dimiliki oleh area yang terbatas. Lahan di luar area tersebut kehilangan nilai ekonomisnya karena kurangnya aktivitas terutama perdagangan di tempat tersebut.
Distribusi aktivitas yang lebih merata akan dapat meningkatkan nilai ekonomis lahan menjadi lebih baik secara rata-rata. Pemerataan distribusi aktivitas dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana secara merata 2. pengaturan alur sirkulasi
3. penempatan obyek-obyek aktivitas secara merata
Peningkatan nilai ekonomi lahan sudah tentu akan berimplikasi pada peningkatan kondisi ekonomi secara keseluruhan kawasan. Oleh karena itu upaya peningkatan kondisi ekonomi di kawasan perencanaan harus dimulai dari peningkatan nilai ekonomis lahan secara parsial dan interaktif.