• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV.2 Analisis II

IV.2.4 Retoris

Struktur retoris berhubungan dengan cara wartawan menekankan arti tertentu. Hal ini bisa diamati dari pemilihan kata, idiom, grafik, gambar yang digunakan untuk memberi penekanan pada arti tertentu. Perangkat framing ini digunakan untuk menggambarkan observasi dan interpretasi sebagai sebuah fakta, atau untuk meningkatkan efektivitas sebuah berita.

Teks 1

 Dalam suratnya, Putri mengaku nekat mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya lantaran tak sanggup menahan malu setelah dituduh menjual diri oleh Petugas Wilayatul Hisbah Langsa. (Paragraf 3)

Penulis menggunakan leksikon ‘menjual diri’ untuk menekankan perbuatan yang telah dilakukan Putri pada malam itu yaitu menjajakkan dirinya untuk orang yang ingin membelinya. Dalam bahasa sehari-hari sama saja Putri diibaratkan dengan Pekerja Seks Komersial yang siap dibayar oleh laki-laki yang datang.

 Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh mengklaim tidak ada kesalahan prosedur penangkapan dan pembinaan terhadap remaja putri berinisial PE. (Paragraf 1)

Penulis menggunakan kata ‘penangkapan’ dan ‘pembinaan’ dalam kasus Putri ini. Penggunaan kata itu menunjukkan sentimen bahwa tugas WH adalah menangkap dan membina. Padahal mereka hanya menduga dan kemudia melepaskan mereka

Apa wajar, tengah malam anak di bawah usia (dewasa) masih di lapangan. (Paragraf 3)

Kata ‘di lapangan’ yang dipilih penulis dalam kalimat ini menujukkan makna kias. Maksud sebenarnya dalam kalimat itu adalah berkeliaran di daerah terbuka tanpa siapapun termasuk muhrim.

PE bersumpah tidak pernah menjual diri seperti yang dituduhkan petugas Wilayatul Hisbah Langsa, saat dilakukan penangkapan dan pembinaan pada pekan lalu.

Sama dengan berita sebelumnya, penulis juga masih menggunakan kata ‘menjual diri’. Penulis sengaja tak menulis frasa lain agar pembaca dapat menilai sendiri maksud dari hal tersebut.

Teks 3

 Kasus gantung diri seorang remaja putri di Aceh, Putri Erlina (16 tahun), membuat sejumlah pihak mengelus dada. (Paragraf 1)

Kiasan ‘mengelus dada’ dalam kalimat ini digunakan penulis untuk menunjukkan betapa tak seharusnya kasus Putri ini. Dengan frase ini, penulis ingin menunjukkan betapa fatalnya kasus Putri ini sampai orang harus mengelus dada. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mengelus dada berarti menahan perasaan (kesal hati, marah) dengan mengelus-elus (mengusap-usap) dada. Penulis coba tidak menggeneralkan tingkat kemarahan orang hanya dengan menyebut mengelus dada tersebut.

 Pada perjalanannya, penerapan hukum syariah justru diskriminatif, karena hanya diperuntukkan bagi warga sipil kelas menengah ke bawah. Kelas atas banyak yang lepas. (Paragraf 8)

Dalam berita ini ini penulis menggunakan kiasan strata sosial untuk menyampaikan kasus Putri. Ia menyebut ‘kelas menengah ke bawah’ yang berarti kaum dengan pendidikan dan penghasilan rendah yang pantas dikenai penerapan hukum syariah. Sementara ‘kelas atas’ yang berarti tingkat pendidikan dan penghasilan tinggi tidak pantas untuk mendapatkan hukum syariah tersebut. Hal ini menambah deretan kesalahan penerapan perda syariah karena tidak merata diterapkan ke semua kalangan.

PE, nekat mengakhiri hidup dengan gantung diri di kamarnya, Kamis (6/9) pekan lalu. Diduga, PE memilih mengakhiri hidup lantaran malu dituduh menjual diri. (Paragraf 10)

Ada dua frase yang digunakan dalam kalimat ini. Pertama adalah ‘mengakhiri hidup’ yang sama artinya dengan mati. Penulis memilih frase ini agar penggunaan kata yang lebih dramatisir. Sedangkan pada kalimat kedua seperti yang sudah dijelaskan pada teks sebelumnya yaitu penggunaan frase ‘menjual diri’.

Teks 4

 Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA) mengimbau Pemerintah Aceh mengevaluasi keberadaan Wilayatul Hisbah atau polisi Syariat di Aceh. (Paragraf 1).

Penulis memilih kata ‘mengevaluasi’ dalam kalimat ini bertujuan menunjukkan bahwa WH telah melakukan sesuati dan harus ditinjau dengan melakukan koreksi terhadap mereka. Penggunaan kata ini menunjukkan secara langsung tanpa harus menjelaskan duduk perkaranya terlebih dahulu bahwa WH bersalah atau tidak.

 Remaja putri berusia 16 tahun tersebut ditangkap polisi Syariat saat sedang menonton pertunjukan musik. Akibat dituduh menjual diri oleh polisi Syariat, remaja putri itu kemudian bunuh diri. (Paragraf 4)

Sama seperti sebelumnya penggunaan kata menjual diri masih digunakan dalam berita ini. Dalam KBBI jual diri berarti melacur. Penulis ingin menekankan bahwa Putri selalu dituduh sebagai pelacur pada malam hari itu.

Teks 5

 Kasus meninggalnya remaja putri asal Aceh Timur dengan cara gantung diri, diduga lantaran pemberitaan di media massa yang menyebut dirinya sebagai pelacur. (Paragraf 1)

Pada berita ini, penulis menggunakan kata ‘pelacur’. Kata ini digunakan untuk mempertegas dan menekankan sebutan yang diberikan WH kepada Putri pada saat penangkapan tersebut.

 Menanggapi hal itu, Anggota Dewan Pers, Ridho Easy, mendesak agar kasus tersebut diinvestigasi apakah penyebab bunuh diri itu disebabkan pemberitaan yang menyebabkan korban mengalami tekanan psikologis sehingga mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. (Paragraf 2)

Frase yang digunakan penulis dalam kalimat ini adalah ‘tekanan psikologis’. Penulis ingin menyebutkan dampak yang dialami Putri sebelum akhirnya mengakhiri hidup dengan gantung diri. Selain itu, pilihan frase ini dimaksudkan untuk mewakili keseluruhan efek pengakapan itu. Selain itu, frase ‘mengakhiri hidupnya’ masih juga digunakan sama seperti berita sebelumnya. Kiasan ini dipilih agar berita terkesan lebh dramatis dan tidak frontal.

 Peristiwa itu, kata dia, menjadi peringatan bagi semua media agar tidak mudah memvonis seseorang sebagai PSK.

Kata ‘PSK’ cukup frontal digunakan penulis untuk menekankan maksud dari kalimat ini. Hal ini ditulis agar pembaca dapat membayangkan Putri yang serta-merta dituduh sebagai PSK oleh WH

dalam kejadian itu. PSK yang digunakan dalam kalimat ini sebenarnya sudah cukup kasar dan penekanan yang cukup jelas.

Teks 6

 Aksi bunuh diri yang dilakukan seorang remaja di Langsa beberapa waktu lalu dinilai sebagai catatan buruk pelaksanaan Syariat islam di Aceh (Paragraf 1)

Penulis menggunakan pilihan frame ‘catatan buruk’ untuk mendeskripsikan pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Kata ini digunakan sejalan dengan dampak yang telah dilakukan WH terkait bunuh dirinya Putri. Penulis mengambil poin utama paragraf ini dari Koordinator sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat. Hal ini secara tidak langsung sudah memvonis bahwa WH telah bersalah dan telah membuat catatan buruk.

 Ironisnya Satpol PP dan WH tidak melakukan hal itu, langsung diceramahi di depan umum dan dituduh pelacur, siapa pun akan syok dan malu. (Paragraf 3)

Paragraf ini sama dengan berita sebelumnya yang menggunakan kata pelacur. Kalimat lugas ini digunakan untuk mempertegas dan menekankan perkataan WH kepada Putri bahwa ia adalah seorang yang demikian.

 Pemerintah diminta untuk melihat masalah ini secara objektif. Pelaksanaan Syariat islam di Aceh diminta untuk tidak dijadikan simbolisasi untuk mencari perhatian dunia. (Paragraf 5)

Ada dua leksikon yang digunakan dalam paragraf ini. Pertaman adalah kata ‘simbolisasi’ yang berarti cuma simbol. Hal ini digunakan penulis untuk menekankan bahwa pelaksanaan Syariat Islam di Aceh hanya untuk simbol semata. Berkaitan dengan frame kedua yang dipilih penulis yaitu ‘perhatian dunia’. Hal ini juga cukup mempertegas bahwa semua yang dilakukan tentang perda syariah hanya untuk mencari

perhatian dari dunia, tidak lebih. Penulis cukup jeli menggunakan kata kiasan untuk menjelaskan maksud dari beritanya itu.

 Harusnya media tidak ikut-ikutan menuding remaja itu PSK. Perlu pembuktian lebih lanjut. Dan hal-hal seperti ini sudah sering kali terjadi. Masih jatuh dalam lubang yang sama. (Paragraf 9)

Kali ini penulis menggunakan kiasan untuk menekankan tulisan yang ia sampaikan. Melalui frame ‘jatuh dalam lubang yang sama’ penulis ingin menyampaikan kondisi yang telah dilakukan berulang kali terhadap hal serupa. Hal tersebut seharusnya tidak terjadi lagi hingga keluar kata-kata jatuh ke lubang yang sama.

Teks 7

Karena Putri Bukan Pelacur (Judul)

Dalam judul, penulis sudah menggunakan kata ‘pelacur’. Dalam KBBI pelacur berarti wanita yang melacur; tunasusila. Lewat judul, penulis sudah ingin menekankan bahwa Putri bukanlah perempuan demikian. Kata ini juga sudah dipakai dalam berita-berita sebelumnya. Tetapi di berita ini, penulis menggunakannya langsung pada penggunaan judul agar dapat langsung dibaca. Di dalam penulisan berita, penulis juga masih menggunakan beberapa kata pelacur seperti dalam kalimat berikut:

Diduga tak kuasa menahan malu, seorang remaja putri berusia 16 tahun ditemukan tewas dengan posisi seperti bunuh diri. Benarkah Kepala Dinas Syariat Islam Langsa menyebutnya pelacur?

Kabar itu bagai petir di siang bolong bagi perempuan 34 tahun itu (Paragraf 1)

Penulis membuka narasinya dengan deskripsi tentang keadaan orang tua Putri, Nurul. Dalam kalimat itu, penulis menggunakan idiom ‘petir di siang bolong’ ketika ia mendengar kabar kematian Putri. Hal ini dimaksud penulis agar memperjelas bahwa kematian

itu adalah sesuatu yang tiba-tiba. ‘Petir di siang bolong’ berarti keadan yang terjadi dengan kondisi yang tidak diharapkan, tanpa tanda, dan tiba-tiba. Idiom itu menekankan betapa terkejutnya ia dengan kematian anaknya.

 Mengutip keterangan Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa, H.Abdul Latif, koran itu menulis Putri dan rekannya sebagai pelacur. Disebutkan pula, mereka ditangkap ketika sedang menunggu pria hidung belang. Bahkan, mereka juga dikatakan dikelola oleh germo. (Paragraf 7)

Ada tiga leksikon yang digunakan penulis dalam paragraf ini. ‘Pelacur’ sepertinya sudah menjadi kata biasa yang digunakn dalam kasus ini. Selain itu ada frame ‘pria hidung belang’ yang menekankan kehidupan pelacur. Hal ini menenkankan bahwa kehidupan Putri berhubungan dan saling terkait dengan mereka. Kata yang digunakan untuk menekankan tuduhan terhadap Putri adalah ‘germo’. Dalam KBBI germo berarti induk semang bagi perempuan pelacur. Tiga kata itu digunakan penulis melalui keterangan Kepala Dinas Syariat Kota Langsa yang semuanya merupakan tuduhan. Tuduhan itu ditulis dengan bahasa frontal yang seolah mereka benar demikian.

Itu sebabnya, Nurul Hayati meminta Polisi turun tangan mengusut kematian buah hatinya. (Paragraf 14)

Di paragraf terakhir, melalui pernyataan Nurul, orang tua Putri penulis menekankan frame ‘turun tanga’. Dalam KBBI frame ini berarti; 1. Turut mencampuri (suatu urusan, dsb); 2. Bertindak untuk membereskan sesuatu. Frame itu ditulis untuk menyampaikan makna eksplisit agar pihak-pihak yang bersangkutan segera melakukan tindakan terkait kasus ini. Penulis menekankan frame itu karena menganggap masalah ini belum selesai melalui pernyataan Nurul.

Teks 8

Gadis belia di Langsa yang ditemukan bunuh diri setelah dituduh sebagai pelacur. (Paragraf 1)

Ada dua leksikon yang digunakan penulis dalam paragraf ini. Frame ‘gadis belia’ dalam KBBI berarti gadis yang masih muda sekali. Hal ini menunjukkan bahwa penulis ingin menekankan bahwa Putri masih terlalu muda untuk sebuah kasus bunuh diri dan kematian. Melalui frame itu, penulis ingin menggerakkan hati manusia melihat kasus ini bahwa Putri masih terlalu muda. Di akhir kalimat terdapat kata ‘pelacur’ yang sama seperti berita-berita sebelumnya.

Putri memilih jalan pintas karena tak kuat menahan malu dituduh sebagai pelacur. (Paragraf 2)

Dalam kalimat ini penulis memilih frame ‘jalan pintas’ yang dalam KBBI artinya jalan langsung (terdekat). Melalui frame ini penulis ingin menekankan bahwa kematian yang dipilih Putri adalah kematian terdekat karena saking tak tahannya ia menahan malu karena dituduh sebagai ‘pelacur’. Frame ‘pelacur’ ini masih saja digunakan hingga akhir berita dalam kasus ini.

Dokumen terkait