• Tidak ada hasil yang ditemukan

553.4.1 Risiko Kredit

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 56-62)

BAB III PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH

553.4.1 Risiko Kredit

55 3.4.1 Risiko Kredit

Pada triwulan IV-2011 risiko kredit perbankan Sulawesi Utara masih terkendali yang tercermin dari indikator Non Performing Loans (NPLs) dan konsentrasi kredit secara keseluruhan. Ratio NPLs (bruto) tetap terjaga pada level dibawah batas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (5%) tercatat sebesar 2.66%. Dengan nilai NPLs yang relatif terjaga maka terdapat peluang untuk terus meningkatkan kinerja penyaluran kredit, terutama pada sektor-sektor yang produktif. Lebih lanjut, terdapat penurunan NPLs pada hampir semua sektor ekonomi terutama pada sektor pertanian. Hal ini tidak lepas dari upaya-upaya perbankan dalam perbaikan kualitas kredit. Selain itu, perbaikan kualitas kredit pertanian pada triwulan laporan diperkirakan merupakan dampak membaiknya kemampuan debitur dalam mengembalikan pinjamannya seiring dengan naiknya harga beberapa komoditi perkebunan seperti cengkih, kopra dan pala.

Sementara itu, apabila dilihat dari indikator konsentrasi kredit secara keseluruhan, dapat terlihat bahwa sebagian besar kredit disalurkan pada sektor yang memiliki tingkat NPL yang relatif rendah yakni sektor lainnya (Konsumsi) dengan pangsa mencapai 56,02% dari total kredit memiliki tingkat NPL sebesar 1,38%.

3.4.2 Risiko Likuiditas

Indikator risiko likuiditas perbankan Sulawesi Utara, yaitu konsentrasi jangka waktu sumber dana dan tingkat Loan Deposit Ratio (LDR) menunjukkan bahwa risiko likuiditas pada triwulan laporan cukup terkendali.

Dilihat berdasarkan konsentrasi jangka waktu sumber pembiayaannya, DPK di Sulawesi Utara masih didominasi oleh dana-dana jangka pendek (tabungan dan giro) yang berpotensi menciptakan maturity mismatch karena kredit yang disalurkan perbankan jangka

Grafik 3.19.

Kredit & NPLs Sektoral Tw. IV-2011

Keterangan : 1 = Pertanian 2 = Pertambangan 3 = Industri

4 = Listrik, Gas, dan Air Bersih 5 = Konstruksi 6 = PHR 7 = Transportasi&Komunikasi 8 = Jasa-jasa 9 = Lainnya (Konsumsi) -8.00 -4.00 0.00 4.00 8.00 12.00 16.00 20.00 24.00 28.00 32.00 36.00 40.00 44.00 48.00 52.00 56.00 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kredit (Rp miliar) NPL (%)

56

waktunya relatif lebih panjang daripada penempatan dana masyarakat. Hal ini ditandai oleh pangsa rata-rata 3 tahun terakhir dari tabungan tercatat sebesar 51,96% dari total kredit secara keseluruhan. Kondisi ini perlu dikelola dengan baik oleh perbankan, dimana perbankan dituntut untuk mampu memproyeksikan profil DPK-nya.

Selanjutnya angka Loan to Deposit Ratio (LDR) pada triwulan laporan tercatat 112,43%. Perlu digaris bawahi bahwa perhitungan LDR ini hanya membagi jumlah total kredit yang disalurkan dengan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun oleh perbankan. Meningkatnya rasio LDR ini disebabkan karena pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK yang berhasil dihimpun bank.

Berdasarkan wilayah administratifnya, rasio LDR terendah dialami oleh Kota Manado sebesar 100,49%. Sedangkan LDR tertinggi dicapai oleh Kabupaten Minahasa sebesar 196,95%, disusul kemudian berturut-turut oleh Kabupaten Bolaang Mongondow sebesar 155,56%, Kabupaten Sangihe Talaud sebesar 128,04%, dan Kota Bitung sebesar 101,58%. Tingginya rasio LDR di wilayah-wilayah tersebut mengindikasikan bahwa wilayah tersebut merupakan kawasan yang sedang berkembang dan membutuhkan banyak kucuran dana, yang

diantaranya diperoleh dari penyaluran kredit oleh perbankan di wilayah tersebut.

3.4.3 Risiko Pasar

Risiko pasar yang dihadapi oleh perbankan Sulawesi Utara relatif terkendali yang tercermin dari rendahnya tingkat fluktuasi suku bunga. Tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI

Rate) yang cenderung tetap, menyebabkan pergerakan suku bunga perbankan di Sulut pun

bergerak dalam batasan yang relatif kecil. Sementara itu, pergerakan kurs diperkirakan tidak akan berdampak besar terhadap kinerja perbankan Sulawesi Utara, karena minimnya transaksi valuta asing di perbankan Sulawesi Utara.

Grafik 3.20.

Loan to Deposit Ratio (LDR) Berdasarkan Kabupaten/Kota

Sumber: Bank Indonesia Manado

- 50 100 150 200 250 Minahasa Bolmong Sangihe Talaud Manado Bitung Q3 2011 Q4 2010 Q4 2011

57

Sumber: Bank Indonesia Manado

3.4.4 Indikator perbankan lainnya

ƒ Rasio Kelonggaran Tarik Kredit

Perkembangan rasio kelonggaran tarik kredit bank umum pada triwulan IV-2011 memperlihatkan adanya kecenderungan peningkatan. Tercatat rasio kelonggaran tarik pada Desember 2011 sebesar 3,5%, mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 2,48%. Hal ini mencerminkan bertambahnya jumlah kredit yang tidak dicairkan oleh nasabah, sehingga risiko

idle money pada perbankan Sulawesi Utara lebih

besar.

ƒ Net Interest Margin (NIM)

Net Interest Margin (NIM) didefinisikan sebagai

salah satu indikator penilaian terkait kemampuan bank dalam menghasilkan laba. Berdasarkan neraca konsolidasi bank umum, saldo bersih pendapatan bunga setelah dikurangi biaya bunga atau yang biasa disebut Net Interest Margin (NIM) pada triwulan laporan menunjukkan angka yang positif sebesar Rp1.633 miliar, mengalami peningkatan bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat Rp1.447 miliar.

ƒ Rasio BOPO

Rasio BOPO menunjukkan tingkat efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya. Rasio BOPO yang tinggi mencerminkan kondisi bank yang tidak efisien. Sampai dengan triwulan laporan, tingkat efisiensi operasional perbankan menurun yang tercermin dari peningkatan rasio BOPO bank umum dari 70,94% pada triwulan yang sama tahun sebelumnya menjadi 78,75% pada triwulan laporan. Hal ini dapat diartikan bahwa bank masih belum efisien dalam menjalankan kegiatan operasionalnya.

Grafik 3.22.

Net Interest Margin Bank Umum

(Rp Miliar) Grafik 3.21.

Kelonggaran Tarik Kredit Bank Umum

Sumber: Bank Indonesia Manado

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2009 2010 2011 Plafond 10,1 10,6 11,0 11,7 12,9 13,7 14,1 15,1 15,5 16,5 17,4 18,2 Outstanding 9,09 9,62 10,0 10,4 10,8 11,6 12,1 12,9 13,3 14,4 15,1 15,8 Rasio UL (%) 6.20 5.50 5.38 6.31 0.69 0.74 2.60 2.48 2.59 2.41 3.31 3.50 1 2 3 4 5 6 7 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 14,000 16,000 18,000 20,000 % Rp Miliar Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2009 2010 2011 Pend.Bunga 363 748 1,1541,580 535 1,117 1,707 2,323 640 1,294 1,995 2,752 Biaya Bunga 78 235 348 456 205 420 630 876 253 527 813 1,119 NIM 285 513 805 1,125 330 697 1,077 1,447 414 766 1,182 1,633 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000

58 Grafik 3.24.

Return On Asset Bank Umum

Grafik 3.23.

Rasio Biaya dan Pendapatan Operasional Bank Umum

ƒ Return on Asset (ROA)

Return on Asset (ROA) merupakan suatu rasio yang mengukur kemampuan bank untuk

menghasilkan laba dengan aset yang dimilikinya. Sampai dengan triwulan IV-2011, rasio ROA bank umum tercatat sebesar 3,22%, mengalami penurunan bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 4,19%.

3.5 PERKEMBANGAN PERBANKAN SYARIAH

Secara umum, indikator kinerja bank umum syariah di Sulawesi Utara pada triwulan laporan mengalami pertumbuhan positif. Total aset bank umum syariah secara tahunan, sampai dengan posisi Desember 2011 meningkat sebesar 57,82% (yoy), sejalan dengan pertumbuhan kredit sebesar 48,08%. Sementara itu, DPK tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 50,31% (yoy) pada triwulan laporan. Dengan kondisi tersebut, Financing to Deposit

Ratio (FDR) menjadi 188,51% pada triwulan IV-2011.

Sumber: Bank Indonesia Manado Sumber: Bank Indonesia Manado

Tabel 3.3.

Indikator Utama Perbankan Syariah di Sulawesi Utara (Rp miliar)

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2009 2010 2011 Aset (Rp Juta) - Left Axis 13,63 14,23 14,86 14,76 14,78 15,91 16,69 17,50 18,24 19,46 20,46 21,24 L/R (Rp Juta) - Right Axis 134 253 459 428 168 316.3 533 734 215 430 416 684.2 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Asset 129.31 142.58 149.30 161.37 165.76 199.25 288.12 304.69 331.31 330.49 347.06 480.87 DPK 155.29 167.43 164.40 94.68 83.20 90.29 104.37 125.46 128.38 133.03 138.95 188.58 Giro 11.94 13.78 14.80 13.71 7.89 9.10 11.85 13.81 13.12 12.14 12.76 16.73 Tabungan 91.70 101.52 98.27 61.22 50.51 59.52 67.33 79.98 76.95 34.87 35.88 68.68 Deposito 51.65 52.12 51.33 19.76 24.80 21.68 25.20 31.67 38.30 86.02 90.31 103.16 Kredit 120.94 134.27 139.50 145.25 150.07 185.92 217.44 240.06 246.04 285.07 322.15 355.48 Modal Kerja 114.90 127.07 129.54 133.15 135.83 170.57 199.82 215.85 217.87 243.62 248.81 259.58 Investasi 2.41 2.74 2.73 2.84 2.99 3.33 3.55 3.60 3.62 3.96 5.71 10.92 Konsumsi 3.63 4.45 7.23 9.26 11.25 12.02 14.07 20.61 24.55 37.49 67.63 84.98 FDR (%) 0.08 0.08 0.08 0.15 0.18 0.21 0.21 0.19 0.19 0.21 0.23 0.19 2009 2010 2011 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 2009 2010 2011 BO 322 683 997 1,32 446 985 1,40 1,90 512 1,11 1,97 2,56 PO 423 880 1,35 1,85 609 1,29 1,97 2,68 761 1,51 2,41 3,25 Rasio 76.0 77.6 73.4 71.5 73.2 76.2 71.1 70.9 67.3 73.6 81.8 78.7 500 1,000 1,500 2,000 2,500 3,000 3,500 % Rp Miliar

59 Tabel 3.4.

Indikator Utama Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Sulawesi Utara (Rp. Miliar) 

Sumber: Bank Indonesia Manado

3.6 PERKEMBANGAN BANK PERKREDITAN RAKYAT

Kinerja BPR Provinsi Sulawesi Utara pada triwulan IV-2011 menunjukkan pertumbuhan positif yang tercermin dari pertumbuhan aset, DPK dan kredit. Aset BPR pada Desember 2011 mengalami pertumbuhan positif sebesar 62,12% (yoy), menjadi Rp651,7 miliar. Pertumbuhan aset BPR pada periode laporan terutama didorong oleh pertumbuhan kredit tercatat 58,09% (yoy) atau mencapai Rp455,8 miliar. Secara sektoral, kredit terutama disalurkan pada sektor lain-lain (konsumsi) dengan pangsa 81,04% dan sektor PHR dengan pangsa 9,85%. Berdasarkan jenis penggunaannya, sebagian besar kredit yang disalurkan BPR merupakan kredit konsumsi dengan pangsa mencapai 75,73% dari total kredit. Hal ini diperkirakan tidak lepas dari kegiatan konsumsi masih menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah disamping meningkatnya aktivitas ekonomi khususnya di sektor konsumsi yang didorong oleh kenaikan pendapatan sebagian besar masyarakat di Sulawesi Utara. Sejalan dengan hal tersebut, DPK juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 55,92%(yoy) dengan jumlah nominal sebesar Rp439,5 miliar. Berdasarkan komponen pembentuknya, deposito masih mendominasi DPK BPR dengan pangsa 78,86%. Pertumbuhan DPK BPR jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan DPK bank umum. Hal ini diduga terkait dengan masih relatif lebih menariknya suku bunga simpanan di BPR dibandingkan suku bunga perbankan. Melihat kondisi tersebut, diperlukan perhatian lebih pada penataan ulang efisiensi BPR, terutama bagaimana dapat menekan

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Aset 207.9 220.4 237.8 241.1 272.0 301.9 334.3 402.0 430.6 496.2 563.1 651.7 DPK 153.0 160.3 171.5 170.9 192.8 221.8 255.0 281.8 308.4 348.5 395.0 439.5 Deposito 108.8 113.1 120.3 119.7 135.7 155.2 189.7 207.0 236.5 267.9 318.6 346.5 Tabungan 44.2 47.2 51.2 51.3 57.0 66.7 65.4 74.8 71.9 80.6 76.4 92.9 Kredit 163.7 181.5 195.6 202.7 212.3 230.3 246.8 288.3 322.5 383.6 420.1 455.8 Jenis Penggunaan Modal Kerja 39.6 45.7 51.0 54.4 56.4 63.3 74.1 81.9 104.4 92.4 100.1 98.1 Investasi 14.5 13.5 13.4 13.5 13.1 14.1 12.3 10.9 15.7 14.1 13.2 12.5 Konsumsi 109.5 122.3 131.2 134.8 142.8 152.9 160.5 195.5 202.4 277.1 306.8 345.2 Sektoral Pertanian 3.1 3.2 3.9 4.4 4.8 4.5 4.8 4.4 4.5 4.7 5.6 5.7 Perindustrian 0.5 0.6 0.5 0.6 0.6 0.7 0.9 3.9 5.4 3.6 2.8 2.3 PHR 28.1 28.2 31.6 31.7 34.1 37.8 41.4 43.8 41.8 46.2 49.5 44.9 Jasa-jasa 14.3 15.1 18.1 16.2 18.6 18.5 20.5 18.7 53.6 33.6 33.2 33.5 Lain-lain 117.7 134.4 141.5 149.8 154.2 168.6 179.2 217.5 217.2 295.4 329.0 369.4 LDR (Persen) 107.0 113.2 114.0 118.6 110.1 103.8 96.8 102.3 104.6 110.1 106.3 103.7 NPL (Persen) 3.45 3.18 3.32 2.90 3.39 3.84 4.37 4.24 4.71 3.85 4.16 3.92 Komponen 2009 2010 2011

60

suku bunga pinjaman yang saat ini berada pada tingkat yang cukup tinggi akibat tingginya suku bunga sumber dana pembiayaan BPR.

Fungsi intermediasi pada BPR juga menunjukkan pertumbuhan positif, tercermin dari rasio LDR yang tercatat sebesar 103,7% pada triwulan IV-2011. Sejalan dengan membaiknya fungsi intermediasi, kualitas kredit BPR juga mengalami perbaikan seperti ditunjukkan oleh tren penurunan persentase kredit bermasalah (NPL gross) sepanjang tahun 2011 hingga tercatat sebesar 3,92% pada triwulan IV-2011.

61

PERANAN KREDIT UMKM DALAM MENDUKUNG SEKTOR

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL (Halaman 56-62)

Dokumen terkait