• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISIKO LIKUIDITAS

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR (Halaman 73-78)

JAWA TIMUR JAWA TIMUR JAWA TIMUR

3 PERKEMBANGAN PERBANKAN

3.2. STABILITAS SISTEM PERBANKAN

3.2.2. RISIKO LIKUIDITAS

Risiko likuiditas perbankan di Jatim pada triwulan I-2011 relatif terjaga, meskipun tetap perlu diperhatikan terjadinya peningkatan preferensi penempatan dana masyarakat pada instrumen simpanan jangka pendek perbankan seperti tabungan, dibandingkan dengan deposito yang mempunyai tenor jangka panjang. Kondisi ini mendorong perbankan di Jatim untuk berhati-hati dalam pengelolaan aset serta melakukan mitigasi risiko melalui upaya peningkatan pertumbuhan penyaluran kredit jangka panjang (kredit investasi) guna mengurangi potensi mismatch likuiditas.

Tabel 3.4

Perkembangan NPL Kredit Per Sektor

2011

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

NPL Per Sektor

Pertanian 2.26% 2.83% 4.34% 2.79% 2.44% 2.95% 6.01% 7.17% 6.18%

Pertambangan 0.65% 1.56% 2.29% 1.33% 0.27% 1.66% 0.99% 1.48% 1.51%

Industri 4.73% 4.62% 3.65% 4.45% 4.32% 3.55% 3.73% 3.72% 3.81%

Listrik, Gas 0.01% 0.08% 0.00% 0.00% 0.04% 0.00% 0.06% 0.10% 0.47%

Konstruksi 1.34% 1.59% 1.54% 1.39% 1.39% 1.88% 2.02% 1.82% 2.42%

Perdagangan/ Hotel 3.28% 3.77% 3.75% 3.37% 3.25% 3.28% 3.77% 3.96% 4.39%

Angkutan/ Komunikasi 4.34% 4.86% 3.40% 3.96% 1.29% 1.29% 2.44% 3.07% 5.87%

Sumber : LBU Bank Indonesia

SEKTOR 2009 2010

Indikator likuiditas perbankan lainnya seperti Cash Ratio yang mencerminkan kemampuan perbankan untuk melunasi kewajiban – kewajiban jangka pendek dengan aktiva likuid yang dimiliknya menunjukkan perbaikan.

Tercatat cash ratio bank umum di Jatim meningkat dari 6,55% menjadi 6,74%.

Sementara itu Money position atau jumlah aset likuid yang dimiliki perbankan di Jawa Timur menunjukkan peningkatan dari Rp.14,15 triliun di Tw IV-2010 menjadi Rp.15,15 triliun atau mencapai 6,98% dari total DPK yang dihimpun oleh bank umum, dengan komposisi terbesar berupa kas sebesar Rp.5,62 triliun, disusul dengan penempatan pada bank lain dan Bank Indonesia masing – masing sebesar Rp.5,85 triliun dan Rp.3,67 triliun.

3.3. PERBANKAN SYARIAH

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang terus menunjukkan perkembangan positif, serta masih terbukanya pasar perbankan syariah di provinsi ini menjadi salah satu pendorong perbankan syariah untuk melakukan ekspansi usahanya. Hal ini ditunjukkan oleh kinerja indikator-indikator utama yang mencatat pertumbuhan signifikan serta perkembangan kelembagaan yang tercermin dari penambahan 43 jaringan kantor baru selama triwulan I-2011, sehingga secara keseluruhan mencapai 236 jaringan kantor yang dimiliki oleh 8

Gambar 3.28

Money Position Perbankan di Jawa Timur

37.10%

24.28%

38.63%

Kas

Penempatan pada BI Penempatan pada Bank lain

Sumber: Bank Indonesia

BAB III – PERKEMBANGAN PERBANKAN

(delapan) Bank Umum Syariah (BUS)2 dan 8 (delapan) Unit Usaha Syariah (UUS)3 di seluruh wilayah Jawa Timur.

Selama triwulan I-2011 total aset perbankan syariah di Jawa Timur meningkat dengan signifikan sebesar Rp.2,05 triliun atau tumbuh 28,25% (qtq) dan 80,46% (yoy) menjadi senilai Rp.9,31 triliun. Tingginya peningkatan total aset pada periode ini tekait dengan cukup banyaknya penambahan jaringan kantor bank syariah selama triwulan laporan, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang cukup besar.

Dana masyarakat yang disimpan pada bank syariah di Jatim selama triwulan laporan tumbuh 25,90% (qtq) atau 72,76% (yoy) menjadi Rp.23 triliun.

Berdasarkan komposisinya, peningkatan ini didorong oleh cukup tingginya pertumbuhan ketiga jenis simpanan yaitu deposito, tabungan dan giro yang masing – masing secara triwulanan tumbuh diatas 20% (qtq). Secara tahunan, pertumbuhan tabungan dan deposito mendominasi dengan mencatat pertumbuhan masing-masing sebesar 76,91% dan 73,22% (yoy), sementara itu simpanan giro tumbuh lebih rendah (51,91%).

2 8 Bank Umum Syariah (BUS) di Jawa Timur : Bank Muamalat, BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank Syariah Mega Indonesia, Bank Bukopin Syariah, Bank Panin Syariah, BCA Syariah, dan BNI Syariah.

3 8 Unit Usaha Syariah (UUS) di Jawa Timur : BTN Syariah, BII Syariah, HSBC Syariah, Bank Danamon Syariah, Bank Niaga Syariah, Bank Permata Syariah, OCBC NISP Syariah, dan Bank Jatim Syariah.

Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia

Gambar 3.29

Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (qtq)

Gambar 3.30

Perkembangan Indikator Perbankan Syariah (yoy)

-10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 90.00

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

2008 2009 2010 2011

Total Aset Dana Pihak Ketiga Pembiayaan

(5.00) -5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

2008 2009 2010 2011

Total Aset

Dana Pihak Ketiga (DPK) Pembiayaan

Meskipun relatif melambat dibandingkan periode sebelumnya, pertumbuhan penyaluran pembiayaan oleh bank umum syariah masih dalam kisaran yang cukup tinggi. Selama Tw I-2011 penyaluran pembiyaan tumbuh 7,04% (qtq) atau 54,68% (yoy) dengan baki debet sebesar Rp.5,96 triliun.

Berdasarkan jenisnya, penyaluran pembiayaan konsumsi masih mendominasi dengan tren yang cenderung meningkat dengan proporsi sebesar 52,84% dari total pembiayaan, disusul oleh pembiayaan modal kerja (35,89%) dan pembiayaan investasi (11,28%).

Modal Kerja;

35,89%

Investasi;

11,28%

Konsumsi;

52,83%

Gambar 3.34 Pangsa Pembiayaan Syariah

Per Jenis Penggunaan

Sumber: Bank Indonesia Gambar 3.33

Pertumbuhan Pembiayaan Syariah Per Jenis Penggunaan

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 3.31

Proporsi DPK Perbankan Syariah di Jawa Timur

Gambar 3.32

Pertumbuhan DPK Perbankan Syariah

Sumber: Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia

GIRO; 7.30%

TABUNGAN;

36.45%

DEPOSITO;

56.25%

(100.00) (50.00) -50.00 100.00 150.00 200.00 250.00

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

2008 2009 2010 2011

Tabungan (yoy) Deposito (yoy) Giro (yoy)

-20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

2008 2009 2010 2011

Modal Kerja Investasi Konsumsi

BAB III – PERKEMBANGAN PERBANKAN

Besarnya proporsi pembiayaan konsumsi dibandingkan kedua jenis pembiayaan lainnya terkait dengan ekspansi bank syariah kepada kebutuhan pembiayaan kepemilikan rumah/properti, serta kepemilikan kendaraan bermotor di Jatim. Sementara itu, meskipun mempunyai proporsi yang lebih rendah, penyaluran pembiayaan untuk modal kerja dan investasi yang merupakan jenis kredit produktif tetap menjadi perhatian bank syariah dalam mengalokasikan pembiayaannya. Hal ini tercermin dari tingginya penyaluran pembiayaan modal kerja dan investasi yang masing-masing tumbuh sebesar 59,35% (yoy) dan 26,11% (yoy). Kinerja penyaluran pembiayaan yang cukup baik juga diiringi dengan kualitas pembiayaan yang terjaga, tercermin dari rasio Non Performing Financing (NPF0 yang tercatat sebesar 1,19%.

Disisi lain, Rasio Financing to Deposit Ratio (FDR) yang mencerminkan proprosi penyaluran pembiayaan dibandingkan dengan dana yang dihimpun pada triwulan I-2011 tercatat sebesar 82,35% atau menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 96,8%. Penurunan ini disebabkan oleh lebih tingginya pertumbuhan DPK dibandingkan pembiayaan yang disalurkan pada triwulan laporan.

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 3.35

Non Performing Financing (NPF) Perbankan Syariah Jawa Timur

Gambar 3.36

Financing to Deposits Ratio (FDR) Perbankan Syariah Jawa Timur

Sumber: Bank Indonesia

40,00%

50,00%

60,00%

70,00%

80,00%

90,00%

100,00%

110,00%

120,00%

130,00%

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

2008 2009 2010 2011

Finnancing to Deposits Ratio (FDR)

0,00%

0,50%

1,00%

1,50%

2,00%

2,50%

3,00%

3,50%

Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I

2008 2009 2010 2011

Non Performing Finnancing (NPF)

Dalam dokumen KAJIAN EKONOMI REGIONAL JAWA TIMUR (Halaman 73-78)

Dokumen terkait