3.5. Asesmen Risiko Perbankan 1 Risiko Kredit
3.5.3 Risiko Pasar
Berdasarkan analisis grafis yang menghubungkan antara suku bunga kredit dengan rasio NPLs dalam periode triwulan I-2006 s.d triwulan III-2010 (Grafik 3.10), terlihat pergerakan yang searah antara nisbah NPLs dengan suku bunga kredit. Hal ini didukung oleh hasil penghitungan koefisien korelasi2 kedua variabel tersebut yang hanya 0,6308. Oleh karenanya dapat dikatakan bahwa
persentase NPLs cukup sensitif terhadap perubahan tingkat bunga kredit.
2Angka koefisen korelasi berkisar 0 s.d 1, makin mendekati angka 1 berarti derajat hubungan antara kedua variabel makin tinggi, sebaliknya makin mendekati angka 0 menunjukkan hubungan yang makin lemah
0
Grafik 3.10 Perkembangan Bunga Kredit dan Rasio NPLs
Sumber: LBU Bank Indonesia
40 4.1 Gambaran Umum
Realisasi pendapatan daerah provinsi Kalimantan Timur Triwulan III-2010 secara total mencapai Rp. 5,24 trilyun atau secara prosentase sebesar 83,14% dari total keseluruhan pendapatan pada APBD Kaltim 2010. Dilihat dari realisasi pendapatan, kontribusi pendapatan tertinggi berasal dari pendapatan transfer dan pendapatan asli daerah dengan nilai realisasi masing-masing sebesar Rp. 3,28 trilyun dan Rp. 1,93 trilyun.
Grafik 4.1 Pendapatan APBD Kaltim TW III 2010 Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
Realisasi Belanja APBD Kaltim Triwulan III-2010 mencapai Rp. 2,62 trilyun atau 39,03% dari total rencana belanja APBD Kaltim 2010. Realisasi belanja tertinggi berasal dari belanja operasi sebesar Rp. 1,36 trilyun atau mencapai 35,52%. Sedangkan belanja modal mencapai realisasi yang lebih rendah dari belanja operasi yaitu sebesar Rp. 0,60 trilyun atau 30,88% dari total APBD 2010.
Grafik 4.2 Belanja APBD Kaltim TW III 2010 Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
IV
41 4.2 Pendapatan
Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sampai dengan Triwulan III-2010 telah mencapai Rp. 1,93 trilyun atau 86,98% dari rencana PAD APBD Kaltim 2010 (Tabel 4.1).
Dari jumlah tersebut kontribusi utama berasal dari komponen pendapatan pajak daerah sebesar Rp. 1,43 trilyun dengan tingkat prosentasi realisasi sebesar 86,41% dari total pendapatan pajak daerah pada rencana APBD Kaltim 2010 (Rp. 1,65 trilyun). Komponen pendapatan pajak daerah ini memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap total keseluruhan PAD yaitu sebesar 73,86%. Komponen lainnya yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap Pendapatan Asli Daerah adalah lain-lain PAD yang sah yang berasal dari optimalisasi pemanfaatan dana kas daerah, pendapatan dari denda pajak, denda retribusi dan denda pengembalian, serta pendapatan rumah sakit umum di Samarinda, Balikpapan dan Tarakan, dengan nilai realisasi sampai dengan TW III-2010 sebesar 362 milyar atau 75,05% dari rencana APBD 2010. Sedangkan komponen yang berasal dari Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan sebesar 107,94%.
Tabel 4.1 Realisasi Komponen Pendapatan APBD Kaltim TW III 2010
Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
42
1,984 1,432
7 137
362
2,280 1,657
13 127
483
PAD Pajak Daerah Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan
Kekayaan Lain-lain PAD
0 1,000 2,000 3,000
(Rp. Miliar) Rencana APBD 2010 Realisasi s.d. Tw 3-2010
Grafik 4.3 Realisasi Pendapatan Asli Daerah Kaltim s.d. Tw III-2010 Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
3,285 486
2,789 10
4,015 630
3,352 34
Pendapatan Transfer Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil SDA DAK
0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000
(Rp. Miliar) Rencana APBD 2010 Realisasi s.d.Tw 3-2010
Grafik 4.4 Realisasi Pendapatan Transfer Kaltim s.d. Tw III-2010 Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
Realisasi komponen Pendapatan Transfer (Dana Perimbangan) APBD Kaltim sdampai dengan triwulan III-2010 tercatat sebesar Rp. 3,28 trilyun atau secara prosentase telah mencapai 81,81%. Dana perimbangan ini mayoritas berasal dari komponen dana Bagi Hasil Bukan Pajak (dana bagi hasil SDA) dengan nilai Rp. 2,78 trilyun atau prosentase kontribusi sebesar 84,88% dari total Dana Perimbangan realisasi sampai dengan triwulan III-2010.
Bagi hasil pertambangan gas bumi/alam, bagi hasil pertambangan minyak bumi dan iuran eksploitasi-eksploitasi (royalti) memiliki kontribusi yang sangat dominan pada komponen dana Bagi Hasil SDA APBD Kaltim.
43 4.3 Belanja
Komponen belanja pada realisasi APBD provinsi Kalimantan Timur tahun 2010 menunjukkan nilai realisasi mencapai Rp. 2,62 trilyun atau prosentase realisasi sebesar 39,03%. Komponen belanja operasi, belanja modal, dan transfer yang menca[ai prosentase realisasi masing-masing sebesar 35,52%, 30,88%, dan 72,15%(Tabel 4.2).
Tabel 4.2 Realisasi Komponen Belanja APBD Kaltim TW III 2010
Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
Komponen Belanja Operasi APBD Kaltim TW III-2010 mencapai realisasi sebesar Rp.
1,36 trilyun atau 35,52%. Jika dilihat per-komponen Belanja Operasi, Belanja Pegawai yang memiliki kontribusi terbesar (37,35%) dengan nilai realisasi sampai dengan triwulan III 2010 sebesar Rp. 509 milyar atau mencapai 48,80% dari total rencana Belanja Pegawai APBD Kaltim 2010. Belanja Barang memiliki kontribusi terbesar kedua setelah Belanja Pegawai, dengan realisasi sampai dengan triwulan III-2010 mencapai Rp. 387 milyar atau secara prosentase mencapai 37,36% dari total rencana Belanja Barang APBD Kaltim 2010.
Jika dibandingkan dengan realisasi Belanja Operasi, realisasi komponen Belanja Modal APBD Kaltim TW III 2010 memiliki pencapaian realisasi yang lebih kecil yaitu sebesar Rp. 605 milyar atau hanya mencapai prosentase sebesar 30,88%. Belanja jalan, irigasi, dan jaringan memiliki kontribusi terbesar (49,37%) pada komponen belanja modal tersebut, dengan tingkat realisasi mencapai Rp.372 milyar atau hanya sebesar 38,42%. Kecilnya tingkat realisasi belanja modal pada triwulan III-2010 disebabkan karena beberapa proyek pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan fasilitas perhubungan besar di Kaltim masih dalam tahap lelang pekerjaan dan persiapan lainnya. Beberapa proyek infrastruktur
44
tersebut antara lain pembangunan jalan freeway Balikpapan-Samarinda yang diperkirakan akan menyerap anggaran Rp. 163 milyar pada APBD 2010, sampai dengan akhir triwulan III-2010 penyerapan keuangan baru mencapai 15,19% karena masih dalam lelang kontraktor tahap kedua yaitu survey lokasi untuk selanjutnya menyusun metode kerja.
Realisasi keuangan yang cukup kecil juga ditunjukkan oleh pembangunan bentang pendek jembatan pulau Balang yang baru mencapai 39,84%, serta realisasi keuangan pembangunan bandara Juwata Tarakan dan Pembangunan TPK Kariangau yang masih kecil.
1,363
0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000
(Rp. Miliar) Rencana APBD 2010 Realisasi s.d. Tw 3-2010
Grafik 4.5 Belanja Operasi s.d. Tw III-2010 Sumber: Biro Keuangan Pemprov. Kaltim, diolah
606
Grafik 4.6 Realisasi Belanja Modal s.d. Tw III-2010 Sumber: Biro Keuangan Pemprov Kaltim, diolah
Norma Anggaran
Anggaran Daerah pada hakekatnya merupakan perwujudan amanat rakyat kepada eksekutif dan legeslatif untuk mewujudkan pelayanan dan kemakmuran rakyat. Anggaran Daerah harus mencerminkan kebutuhan riil masyarakat.
Perencanaan Pembangunan
Perencanaan pembangunan daerah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem perencanaan pembangunan nasional yang diatur dalam Undang Undang Nomor 25 Tahun 2004.
Dengan beberapa problema yang di hadapi adalah :
1. Lemahnya koordinasi perencanaan nasional, propinsi, kabupaten/kota 2. Kurangnya kesamaan pemahaman & persepsi Visi dan Misi Pembangunan 3. Perencanaan tidak didasarkan atas Visi dan Sasaran Pembangunan
4. Perencanaan tidak realistis dengan anggaran yang tersedia (result oriented) 5. Benturan ruang/wilayah dan kepentingan
6. Dokumen perencanaan tidak digunakan sebagai acuan
SIPPD
Suatu sistem yang diharapkan mampu memaduserasikan dan mensinkronkan program prioritas Pembangunan antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota, konsistensi alokasi anggaran dan program prioritas, menjelaskan hubungan antara alokasi anggaran dengan output kegiatan dan outcome program, serta dapat digunakan untuk sebagai baseline dalam pengendalian dan evaluasi pembangunan dalam memastikan pencapaian sasaran pembangunan daerah, sehingga belanja negara/daerah efektif sebagai instrumen fiscal untuk semata-mata pelayanan dan kemakmuran rakyat.
Dasar Hukum
1. UU 25/2004: SPPN
2. PP 8/2008: Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
3. PP 39/2006: Tatacara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan 4. Permendagri 37/2010: Pedoman Penyusunan APBD 2011
5. Peraturan Bersama (Menteri Dalam Negeri 28/2010, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas 0199/M PPN/2010 dan Menteri Keuangan PMK 95/2010:
Penyelarasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014
APBD Prov, APBN/PHLN, dan lainnya)
2. Usulan Program SKPD Provinsi dan sumber pendanaannya (APBD prov, APBN/PHLN, dan lainnya) dan Bahan Rancangan Awal RKPD Prov.
3. Keselarasan Program/Kegiatan Kabupaten/Kota VS SKPD Provinsi untuk bahan Forum SKPD Prov, Rakor Bidang Pembangunan, Musrenbang RKPD dan Musrenbang Nasional, Bilateral Bappeda dengan SKPD Prov dan Kementerian/Lembaga
4. Bahan Rancangan Akhir RKPD, KUA dan PPAS 5. Hasil Akhir Pra RKA sebagai bahan input di SIMDA
6. Baseline dalam Sistem Pengendalian dan Evaluasi berbasis GIS dan WEB.
Mekanisme Proses SIPPD
APBD sebagai Refleksi Kebijakan dan Program Prioritas Pembangunan
Sumber : Bahan Raker Gubernur bersama Bupati Walikota dan Kepala SKPD se Kaltim Sept 2010
48 5.1. Gambaran Umum
Perkembangan sistem pembayaran pada triwulan III-2010, yang terdiri dari transaksi tunai melalui uang kartal dan transaksi non tunai melalui kliring dan RTGS menunjukkan menunjukkan perkembangan yang beragam. Transaksi tunai (uang kartal) mengalami peningkatan yang relatif tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dan mengalami net inflow karena meningkatnya jumlah setoran uang kartal dari perbankan di wilayah Kalimantan Timur. Sedangkan jumlah uang kartal yang termasuk dalam kategori Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) mengalami pertumbuhan yang negatif.
Sementara itu, transaksi non tunai melalui kliring pada periode berjalan ini masih mengalami pertumbuhan yang positif, namun relatif melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, sedangkan transaksi melalui RTGS mengalami pertumbuhan yang positif.