• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

3. Risk Management Disclosure

Risiko adalah elemen tak terhindarkan dari setiap usaha bisnis. Selain risiko keuangan, perusahaan juga rentan terhadap risiko bisnis atau perubahan dalam iklim ekonomi secara keseluruhan yang dapat mempengaruhi harga efek. Oleh karena itu, ini menjadi perhatian stakeholders dimana risiko diungkapkan secara tepat waktu (Amran, et. al, 2008). Jadi, dapat disimpulkan bahwa risiko

commit to user

adalah suatu keadaan yang dihadapi oleh perusahaan atau organisasi yang dapat menimbulkan kerugian.

Menurut PBI Nomor 11/19/PBI/2009, manajemen risiko didefinisikan sebagai serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank. Brigham dan Houston (2004) berpendapat bahwa manajemen risiko adalah peristiwa – peristiwa yang dapat memberikan konsekuensi keuangan yang merugikan dan kemudian mengambil tindakan – tindakan untuk mencegah dan/atau meminimalkan kerugian yang diakibatkan oleh

peristiwa – peristiwa tersebut.

Manajemen risiko menurut Rejda (2011) merupakan proses mengidentifikasi kerugian yang dialami perusahaan atau organisasi dan memilih teknik yang paling tepat untuk menyelesaikan kerugian tersebut. Lajli dan Zeghal (2005) mengemukakan bahwa kerangka manajemen risiko melibatkan beberapa proses yaitu, manajemen risiko merupakan suatu identifikasi kehati – hatian dan penilaian atas risiko yang dihadapi, perumusan model atau strategi untuk menangkal risiko, monitoring dan pemeriksaan tindakan dalam menghadapi risiko.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko berkaitan dengan langkah – langkah yang diambil manajemen perusahaan untuk mencegah kerugian yang akan dialami atas peristiwa yang tidak diinginkan. Selain itu, manajemen risiko dapat diidentifikasikan sebagai proses pengukuran atau penilaian risiko serta pengembangan strategi dan pengelolaannya. Stakeholder menginginkan

informasi mengenai management risk yang dihadapi perusahaan. Informasi tersebut penting untuk menilai risiko dan ketidakpastian terkait dengan kondisi ekonomi perusahaan di masa depan (Kruk, 2009).

Brigham dan Houston (2004) menguraikan jenis – jenis risiko, risiko manajemen tersebut adalah :

a. Pure risksare risks that offer only the prospect of a loss.

b. Speculative risks are situations that offer the chance of a gain but might result in a loss.

c. Demand risks are associated with the demand for a firm’s product or services.

d. Input risksare risks associated with input costs, including both labor and materials.

e. Financial risksare risks that result from financial transaction. f. Property risks are associated with destruction of productive assets. g. Personnel risks are risk that result from employees’ action.

h. Environmental risks include risks associated with polluting the environment.

i. Liability risks are associated with product, service, or employee action.

j. Insurable risks are risks that can be covered by insurance.

Pada umumnya jenis risiko dibagi menjadi pure risks yang meliputi kerugian perusahaan; speculative risks yang menawarkan adanya investasi pada proyek-proyek baru; demand risks terkait akan penjualan perusahaan; input risks

yang merupakan penanganan risiko atas bahan baku dalam proses produksinya;

financial risks yang terkait dengan instrumen finansial seperti suku bunga;

property risks mengenai ancaman terjadinya kebakaran, banjir dan huru-hara;

personnel risks merupakan suatu risiko karena kecurangan dan penggelapan oleh karyawan; environmental risks terkait dengan polusi dan limbah yang dihasilkan perusahaan; liability risks timbul dari kesalahan karyawan seperti klaim jasa pelayanan kesehatan; dan insurable risks trekait mengenai risiko-risiko

commit to user

perusahaan yang dapat dikelola oleh perusahaan asuransi. Klasifikasi jenis risiko tersebut merupakan gambaran mengenai luasnya jenis risiko yang dikelola perusahaan. Pengelolaan terhadap jenis risiko perusahaan dapat dilakukan dengan empat tahap, yaitu (1) Mengidentifikasi kerugian exposures, (2) Mengukur dan menganalisis kerugian exposures, (3) Memilih teknik yang tepat untuk menyelesaikan kerugian exposures, (4) Melaksanakan dan memonitor program

manajemen risiko (Rejda, 2011).

Di Indonesia, ketentuan mengenai wajibnya pengungkapan risiko oleh perbankan secara eksplisit dapat ditemukan dalam PSAK No. 31 (revisi 2000) tentang Akuntansi Perbankan. Serta diperkuat dengan berlakunya PBI Nomor: 5/8/PBI/2003 yang saat ini telah mengalami perubahan menjadi PBI Nomor: 11/25/PBI/2009. Risiko yang harus tercakup dalam laporan keuangan menurut PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 adalah :

a. Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank.

b. Risiko pasar adalah risiko pada posisi neraca dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk risiko perubahan harga option. Risiko pasar meliputi antara lain: risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko komoditas dan risiko ekuitas.

· Risiko suku bunga adalah risiko akibat perubahan harga instrumen keuangan dari posisi trading book atau akibat perubahan nilai ekonomis dari posisi banking book, yang disebabkan oleh perubahan suku bunga.

· Risiko nilai tukar adalah risiko akibat perubahan nilai posisi

trading book dan banking book yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar valuta asing atau perubahan harga emas.

· Risiko komoditas adalah risiko akibat perubahan harga instrumen keuangan dari posisi trading book dan banking book yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas.

· Risiko ekuitas adalah risiko akibat perubahan harga instrumen keuangan dari posisi trading book yang disebabkan oleh perubahan

harga saham.

c. Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan bank.

d. Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian-kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional bank.

e. Risiko kepatuhan adalah risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.

f. Risiko hukum adalah risiko akibat tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis.

g. Risiko reputasi adalah risiko akibat menurunnya tingkat kepercayaan stakeholder yang bersumber dari persepsi negatif terhadap bank. h. Risiko strategik adalah risiko akibat ketidaktepatan dalam

pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan strategi serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.

Penetapan PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 mengharuskan perusahaan perbankan Indonesia mengungkapkan kedepalan risiko (risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko kepatuhan, risiko hukum, risiko reputasi dan risiko strategik) dalam annual report terkait pertanggungjwaban terhadap

stakeholder. Pengungkapan risiko tersebut merupakan wujud transparansi perusahaan terhadap stakeholder mengenai penerapan dan pengelolaan manajemen risiko yang dihadapi perusahaan. Dengan adanya penetapan PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 diharapkan mampu untuk meningkatkan kualitas penerapan manajemen risiko dan mendukung efektivitas pengawasan terhadap risiko perusahaan perbankan di Indonesia.

Regulasi lain yang mengatur pengungkapan risiko bagi perusahaan di Indonesia secara umum yaitu PSAK No. 50 (revisi 2006)-Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan yang selanjutnya direvisi menjadi PSAK No. 50

commit to user

(revisi Instrumen Keuangan: Penyajian dan PSAK No. 60 (revisi 2010)-Instrumen Keuangan: Pengungkapan. PSAK No. 50 (revisi 2010), Pedoman Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten atau Perusahaan Publik Industri Perbankan (P3LKEPPBANK) yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) pada tahun 2008 dan PSAK No. 60 (revisi 2010) merupakan adopsi dari IFRS 7-Financial Instrument: Disclosure, dengan beberapa modifikasi yang diperlukan. Fokus dalam risk disclosure meningkat sejak munculnya introduction IFRS 7. Peraturan mengenai risk disclosure

dikuatkan dengan munculnya Basel II. Basel II adalah persetujuan internasional yang dikembangkan oleh Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) dengan membentuk standar global untuk perbankan dan institusi keuangan lain dalam mengukur dan mengakui risiko. Basel II terdiri dari 3 pilar yaitu, minimum capital requirements, supervisory review dan market discipline.

Perbandingan klasifikasi risiko menurut PBI Nomor: 11/25/PBI/2009, PSAK No. 60 (revisi 2010), P3LKEPPBANK (2008), IFRS 7 (2008), dan Basel II (2008).

Tabel II.1

Perbandingan Klasifikasi Risiko

PBI Nomor: 11/25/PBI/2009

PSAK No. 60 (revisi 2010)

P3LKEPPBANK IFRS 7 (2008) Basel II (2008)

Risiko Khusus

Risiko Kredit Risiko Kredit Risiko kredit Credit risk Credit risk

Risiko Pasar : ·Risiko suku bunga ·Risiko nilai tukar Risiko pasar · Risiko suku bunga · Risiko mata uang asing · Risiko harga Risiko Pasar :

·Risiko suku bunga

·Risiko nilai tukar

Market risk :

·Interest rate risk

·Currency risk

·Other price risk

(equity and commodity risk Market risk Risiko Likuiditas Risiko likuiditas

Risiko likuiditas Liquidity Risk Other risk :

· Bussiness risk · Strategic risk · Reputation risk Risiko Operasional Risiko solvabilitas

Risiko Hukum Risiko obligasi

rekapitulasi pemerintah

Risiko Strategik Risiko teknologi

sistem informasi Risiko Kepatuhan Risiko ketergantungan kepada pemerintah

Risiko Reputasi Risiko tidak

dilanjutkannya program penjaminan pemerintah Risiko ketergantungan pada deposito berjangka Risiko agunan kredit Risiko pemulihan

krisis sektor perbankan Risiko fidusia

Sumber : PBI Nomor: 11/25/PBI/2009, PSAK No. 60 (revisi 2010), P3LKEPPBANK, IFRS 7 (2008), dan Basel II (2008)

commit to user

Penelitian dalam institusi keuangan, khususnya industri perbankan Indonesia, jenis risiko yang akan diteliti dan diukur mengacu pada PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 dan PSAK No. 60 (revisi 2010). Peraturan tersebut dipilih karena sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbankan yang listing di Bursa Efek Indonesia tahun 2009-2011. Menurut Oorschoot (2009) sejak terjadinya krisis keuangan tahun 2007, perhatian terhadap pengungkapan risiko pada perbankan semakin meningkat. Pemilihan tahun sampel (2009-2011) bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepatuhan pengungkapan risiko pada perbankan di Indonesia setelah krisis terjadi.

PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 merupakan landasan utama yang mengatur pelaksananaan pengungkapan risiko bagi perusahaan perbankan di Indonesia. Bank Indonesia (BI) merupakan lembaga yang bertugas mengatur dan mengawasi bank-bank di Indonesia, oleh karena itu setiap peraturan yang dikeluarkan oleh BI harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh perusahaan perbankan di Indonesia. PSAK merupakan salah satu standar akuntansi di Indonesia yang digunakan sebagai kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan. PSAK No. 60 (revisi

2010) mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan informasi mengenai jenis dan tingkat risiko yang timbul dari instrument keuangan, termasuk perusahaan perbankan diwajibkan untuk mengungkapkan risiko yang dihadapi dalam usahanya pada annual report.

Menurut PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 dan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 13/23/DPNP/2011, bank wajib menenerapkan manajemen risiko secara efektif. Penerapan manajemen risiko sekurang-kurangnya mencakup:

a. Definisi

b. Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan direksi

c. Kecukupan kebijakan, prosedur, dan pentapan limit manajemen risiko d. Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian

risiko serta sistem informasi manajemen risiko e. Sistem pengendalian intern yang menyeluruh.

Cakupan penerapan manajemen risiko yang ditetapkan PBI Nomor: 11/25/PBI/2009 dan Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor: 13/23/DPNP/2011 diharapkan mampu untuk mencukupi kebutuhan informasi para

stakeholders perusahaan. Penerapan manajamen risikotidak hanya ditujukan bagi kepentingan perusahaan perbankan, tetapi juga bagi kepentingan nasabah. Melalui penetapan cakupan manajemen risiko perusahaan perbankan di Indonesia diharapkan mampu untuk meningkatkan kualitas penerapan manajemen risiko,

mengukur dan mengendalikan risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usahanya.

Dokumen terkait