BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
1. Teori Stakeholder
Teori stakeholder dimulai dengan asumsi bahwa nilai adalah sesuatu yang perlu dan secara eksplisit merupakan bagian dalam kegiatan bisnis (Freeman, Andrew, Bidhan, 2004). Stakeholder merupakan kelompok atau individu yang dapat berpengaruh ataupun dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan,
mendapatkan keuntungan ataupun dirugikan oleh perusahaan, serta haknya dipenuhi ataupun diabaikan oleh perusahaan. (Freeman, 1984 dalam Roberts, 1992).
Kelompok stakeholder dalam perusahaan terdiri dari investor, pelanggan,
supplier dan karyawan (Donaldson dan Preston, 1995). Kelompok stakeholders
inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan dalam mengungkapkan atau tidak mengungkapkan suatu informasi di dalam laporan keuangan (Rafinda,
Bambang, Poppy, 2011). Seorang pemangku kepentingan (stakeholder), seperti investor, mengumpulkan informasi risiko perusahaan yang berguna untuk membantu pengambilan keputusan (Amran et.al., 2008).
Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain) (Chairiri, 2008). Teori stakeholder memiliki penekanan yang berbeda tentang pihak-pihak yang dapat mempengaruhi luas pengungkapan informasi di dalam annual report perusahaan dimana lebih mempertimbangkan posisi para stakeholders yang dianggap mempunyai kekuasaan (Rafinda et.al., 2011).
Penelitian Roberts (1992) secara empiris membuktikan bahwa teori
stakeholder merupakan landasan teori untuk menganalisis dampak dari kinerja keuangan perusahaan, strategi aktivitas tanggungjawab sosial perusahaan, dan intensitas stakeholder dalam mempengaruhi pengungkapan lingkungan. Perusahaan yang berkomitmen untuk melaporkan segala aktivitasnya kepada
stakeholder, biasanya bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan dan keberlanjutan pengkreasian nilai untuk semua stakeholder (Ernst dan Young, 1999).
Salah satu strategi untuk mengelola stakeholder adalah dengan disclosure.
Disclosure merupakan suatu cara untuk mewujudkan transparansi dalam bidang bisnis, selain itu disclosure atas laporan keuangan tahunan juga dapat meningkatkan kepercayaan investor dan pengguna laporan lainnya (Ardi dan
commit to user
Lana, 2007). Hackston dan Milne (1996) mengemukakan bahwa pengungkapan tanggung jawab lingkungan dipercaya sebagai pendekatan manajemen untuk mengurangi tekanan sosial dan merespon kebutuhan sosial. Teori stakeholder
menekankan bahwa organisasi akan lebih memilih secara sukarela (voluntary) mengungkapkan informasi tentang kinerja lingkungan, sosial dan intelektualnya, melebihi kewajibannya, untuk memenuhi ekspektasi sesungguhnya atau yang diakui oleh stakeholder (Rafinda et.al., 2011).
Ullmann (1985) menyajikan tiga model dimensi teori stakeholder untuk menjelaskan korelasi antara pengungkapan sosial serta kinerja sosial dan kinerja ekonomi. Dimensi pertama adalah stakeholder power yang menjelaskan mengenai kekuasaan stakeholder. Dimensi kedua adalah strategic posture perusahaan terhadap kegiatan tanggung jawab sosial. Strategic posture menggambarkan respon dari pembuat keputusan perusahaan tentang tuntutan sosial. Dimensi ketiga adalah economic perfomance yang menyangkut kinerja masa lalu dan ekonomi perusahaan saat ini. Economic performance secara langsung mampu mempengaruhi kemampuan keuangan terhadap tanggung jawab sosial.
a. Stakeholder power
Stakeholder power merupakan landasan teori yang mendasari kerangka Ulmann (1985). Weber (1947) dalam Mitchell, Bradley, Donna (1997) mendefinisikan power sebagai kemungkinan dimana seorang pemain diantara suatu hubungan sosial mempunyai posisi untuk membawa kekuasaannya meskipun akan mendapatkan perlawanan. Dahl (1957) mendefinisikan power
sebagai hubungan antara pemain sosial, dimana salah satu pemain sosial A mendapatkan pemain sosial yang lain, sebaliknya B melakukan sesuatu dimana B tidak dapat menyelesaikannya. Pihak yang mempunyai power dalam perusahaan dapat memperoleh akses untuk memaksa, memanfaatkan, atau bersifat normatif untuk menjatuhkan suatu hubungan (Mitchell et.al., 1997). Jadi dapat disimpulkan bahwa kekuasaan adalah kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, kharisma, atau kekuatan fisik. Stakeholder power dibahas sebagai dasar kerangka dari model Ullmann (1985), mengacu bagaimana pengaruh kekuasaan stakeholder terhadap perusahaan, agar perusahaan memenuhi tuntutan stakeholder (pemilik, kreditur, manajer, maupun regulator), hal ini dianggap penting karena untuk keberlanjutan keberhasilan perusahaan (Clarkson, 1995; Roberts, 1992).
1) Stakeholder Power – Kreditur
Kedudukan teori stakeholder terbatas pada memelihara dalam hubungan, perusahaan akan menginformasikan pengungkapan yang lebih banyak kepada
stakeholder kunci seperti kreditur. Stakeholder seperti pemegang saham dengan
kreditur mewajibkan hubungan yang baik dengan perusahaan (Suhardjanto, 2008). Kreditur meminjamkan dana kepada perusahaan bila mereka percaya bahwa perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang baik sehingga dapat mengembalikan pinjaman pokok beserta bunganya di kemudian hari.
Jika stakeholder menginvestasikan sumber daya mereka dengan jumlah yang banyak mereka akan mengharapkan hubungan yang lebih penting (Alexander, Paul, Amy, 2004). Kreditur dapat mengontrol akses sumber daya
commit to user
keuangan yang diperlukan untuk keberlanjutan operasi perusahaan (Robert, 1992). Kreditur akan melaksanakan kekuasaan mereka dengan meningkatkan biaya modal atau menahan utang (Kent dan Chan, 2003). Dapat disimpulkan bahwa, semakin besar perusahaan bergantung pada pembiayaan utang untuk mendanai proyek-proyek modal, semakin besar pula pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap stakeholdernya.
Kreditur dalam penelitian ini diproksikan dengan tingkat leverage
perusahaan. Perusahaan dengan leverage yang semakin tinggi menunjukkan semakin berisiko dalam pelunasannya. Tingkat leverage yang tinggi menunjukkan tingkat ketergantungan terhadap pihak eksternal (kreditur), sehingga perusahaan mempunyai kewajiban untuk memberikan informasi yang lebih detail dalam laporan tahunan untuk memenuhi kebutuhan stakeholder. Suhardjanto (2008) memperkuat pendapat tersebut, bahwa semakin besar tingkat leverage perusahaan, maka semakin terperinci informasi yang diungkapkan. Semakin rendah tingkat
leverage perusahaan maka akan semakin bagus kondisi perusahaan tersebut dan semakin tinggi tingkat leverage semakin tinggi pula risiko pelunasannya.
2) Stakeholder Power – Pemegang Saham
Pemegang saham menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah pemegang surat bukti kepemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi hak atas deviden dan lain – lain menurut besar kecilnya modal yang disetor. Penyebaran kepemilikan perusahaan, terutama oleh pemegang saham yang peduli dengan kegiatan sosial perusahaan (dana tanggung jawab sosial bersama
misalnya, gereja dan rencana pensiun sipil, dan pemegang saham etis), mempertinggi tekanan bagi manajemen untuk mengungkapkan kegiatan tanggung jawab sosial (Ullmann, 1985). Struktur kepemilikan saham perusahaan dapat menurunkan konflik kepentingan (Jensen dan Meckling, 1976). Shleifer dan Vishny (1986) mengemukakan bahwa pemegang saham publik layak melakukan pengawasan terhadap perusahaan.
3) Stakeholder Power – Manajer
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, manajer mempunyai pengertian orang yang berwenang dan bertanggungjawab membuat rencana dan mengendalikan pelaksanaannya untuk mencapai sasaran tertentu. Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan dengan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976). Apabila manajer ikut memiliki perusahaan (insider ownership), atau apabila pendapatan atau kompensasi manajer dikaitkan secara langsung dengan kekayaan pemilik maka manajer akan bertindak sebagaimana pemilik (Haryono, 2005). Hal tersebut didukung oleh Ujiyantho (2007) bahwa
kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola.
Manajer dalam penelitian ini diproksikan dengan kepemilikan manajerial perusahaan. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa guna mengurangi konflik kepentingan antara prinsipal dan agen dapat dilakukan dengan meningkatkan kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan, yang berarti
commit to user
bahwa kepemilikan manajerial dalam suatu perusahaan akan mendorong informasi positif yang lebih banyak pada publikasi terakhir sebelum pengumuman akuisisi. Ullmann (1985) mengungkapkan bahwa jika kekuasaan stakeholder
besar, permintaan mereka cenderung menjadi perhatian perusahaan. Suhardjanto (2008) mengungkapkan bahwa bila kepemilikan perusahaan terpusat maka pengungkapan informasi mengenai lingkungan hidup kecil.
b. Strategic posture
Ullmann (1985) menerangkan bahwa strategic posture menggambarkan model reaksi yang ditunjukkan untuk pengambil keputusan kunci perusahaan terhadap tuntutan sosial. Cara-cara yang dilakukan perusahaan untuk memanage stakeholdernya tergantung pada strategic posture yang diadopsi perusahaan (Ullmann, 1985). Perusahaan yang mengadopsi strategic posture aktif akan berusaha mempengaruhi hubungan organisasinya dengan stakeholder yang dipandang berpengaruh/penting. Hal ini menunjukkan bahwa strategic posture
aktif tidak hanya mengidentifikasi stakeholder tetapi juga menentukan stakeholder
mana yang memiliki kemampuan terbesar dalam mempengaruhi alokasi sumber ekonomi ke perusahaan. Sebaliknya, strategic posture pasif cenderung tidak terus menerus memonitor aktivitas stakeholder dan secara sengaja tidak mencari strategi optimal untuk menarik perhatian stakeholder. Kurangnya perhatian terhadap stakeholder (dalam pendekatan strategic posture pasif) akan mengakibatkan rendahnya tingkat pengungkapan informasi sosial dan rendahnya
kinerja sosial perusahaan (Ullmann, 1985). Strategic posture dalam penelitian ini adalah Komite Audit dan Komite Pemantau Risiko.
1) Strategic Posture – Komite Audit
Sesuai dengan Keputusan Bapepam Nomor : Kep-29/PM/2004, Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Komite Audit Independen merupakan anggota Komite Audit yang tidak terafiliasi dengan manajemen, anggota komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan. Berdasarkan Komite Nasional Kebijakan Governance (2006), Komite Audit bertugas membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa: (a) laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, (b) struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik, (c) pelaksanaan audit internal maupun eksternal dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku, (d) tidak lanjut temuan hasil audit dilaksanan oleh manajemen.
Menurut pasal 43, PBI Nomor: 8/4/PBI/2006 tugas dan tanggung jawab Komite Audit adalah memantau dan mengevaluasi perencanaan dan pelaksanaan audit, serta pemantauan atas tindak lanjut hasil audit dalam rangka menilai kecukupan pengendalian internal termasuk kecukupan proses pelaporan keuangan perbankan. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Komite Audit merupakan strategic posture perusahaan karena berfungsi meningkatkan kualitas
commit to user
laporan keuangan (Forker, 1992) dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap kelayakan dan/atau obyektifitas laporan keuangan serta memastikan tidak ada tindakan manajemen yang merugikan stakeholder.
2) Strategic Posture – Komite Pemantau Risiko
Komite Pemantau Risiko merupakan komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris untuk mendukung efektivitas pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya. Berdasarkan PBI No: 8/4/PBI/2006, Komite Pemantau Risiko bertanggungjawab kepada Dewan Komisaris dengan keanggotaan paling kurang terdiri dari: (a) seorang komisaris independen, (b) seorang pihak independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan, dan (c) seorang pihak independen yang memiliki keahlian di bidang manajemen risiko. Menurut PBI Nomor: 8/4/PBI/2006 pasal 44 Komite Pemantau Risiko melakukan (a) evaluasi tentang kesesuaian antara kebijakan manajemen risiko dengan pelaksanaan kebijakan tersebut, (b) pemantauan dan evaluasi pelaksanaan tugas komite manajemen risiko dan satuan kerja manajemen risiko guna memberikan rekomendasi kepada Dewan Komisaris. Komite pemantau risiko dikatakan sebagai strategic posture
perusahaan karena dibentuk untuk menjalankan proses dan sistem manajemen risiko yang efektif.
c. Economic Performance
Economic performance sering disebut dengan kinerja perusahaan (Suratno, 2006). Economic performance (kinerja perusahaan) didefinisikan sebagai prestasi manajemen keuangan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan
keuntungan dan meningkatkan nilai perusahaan dan diukur dari laporan keuangan yang dikeluarkan secara periodik. Penilaian kinerja perusahaan (companies performance assesment) mengandung makna suatu proses atau sistem penilaian mengenai pelaksanaan kemampuan kerja perusahaan (organisasi) berdasarkan standar tertentu (Kaplan dan Norton, 1996). Menurut Dalton, Daily, dan Ellstrand (1999), terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, yaitu accounting based indicator, market based indicator atau kombinasi di antara keduanya sebagai indikator yang digunakan. Accounting based indicator terdiri dari return on asset (ROA), return on equity (ROE), dan return on investment (ROI) (Dalton, Daily dan Ellstrand, 1999; Pathan, Skully dan Wickramanayake, 2007; Staikouras, Staikouras dan Agoraki, 2007). Market based indicator terdiri dari Tobin’s Q, market to book value, jensen’s alpha, the treynor measure, dan sharpe measure (Dalton, Daily dan Ellstrand, 1999; Larmou dan Vafeas, 2010).
1) Economic performance –Return on Equity (ROE)
Return on equity (ROE) adalah jumlah laba bersih yang dikembalikan sebagai persentase dari ekuitas pemegang saham.ROE menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan modal sendirinya sehingga besarnya ROE mengindikasikan tingkat efisiensi perusahaan dalam mengelola modal sendirinya untuk menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba atau keuntungan bersih.
commit to user
Kinerja perusahaan yang memuaskan memiliki pengaruh tingkat dukungan para pengambil keputusan perusahaan agar dapat berkomitmen untuk masa depan kegiatan tanggung jawab sosial (Ullmann, 1985). ROE merupakan salah satu cara untuk menghitung profitabilitas perusahaan. Haniffa dan Cooke (2005) menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat profitabilitas, perusahaan akan semakin lebih banyak mengungkapkan informasi sukarela ke publik. Ullmann (1985) mengungkapkan bahwa semakin tinggi tingkat profitabilitas maka akan semakin tinggi pula pengungkapan perusahaan untuk stakeholder, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai ROE suatu perusahaan
akan semakin tinggi risk management disclosure yang diungkapkan.
2) Economic performance –Tobins’ Q
Pengukuran menggunakan accounting based saja dirasa kurang karena beberapa alasan, (1) berpotensi terjadi manipulasi, (2) terdapat penilaian aset yang undervalue, (3) menciptakan distorsi karena mengadopsi metode yang berbeda dalam melakukan konsolidasi, dan (4) sulit dalam menginterpretasi jika terdapat kasus partisipasti multi-industri (Dalton et.al., 1999 ; Nayyar, 1992). Oleh karena itu, diperlukan adanya indikator yang lain sebagai alternatif ataupun sebagai pendamping accounting based indicator, yaitu market based indicator.
Pengukuran menggunakan market based indicator memberikan beberapa kelebihan, di antaranya (1) dapat merefleksikan kinerja risiko disesuaikan, (2) pengukuran ini tidak terpengaruh oleh konteks multi-industri atau multidimensional, dan (3) tunduk pada kekuatan di luar kendali manajemen (Dalton et.al., 1999; Nayyar, 1992; Hambrick dan Finkelstein, 1995).
Market based indicator dalam penelitian ini menggunakan nilai Tobin’s q. Nilai Tobin’s q digunakan karena menggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki perusahaan (Lang, Stulz dan Walkling, 1989). Tobin’s q adalah rasio dari nilai pasar aset untuk biaya penggantian aset. Tobin’s q dapat diukur sebagai nilai pasar aset (nilai buku aset ditambah nilai pasar ekuitas dikurangi nilai buku ekuitas) atas nilai buku aset (Staikouras, Staikouras, dan Arogaki, 2007). Pengukuran Tobin’s q pada penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Bhagat dan Bolton (2008).