BAB II RUANG LINGKUP STUDI
2.1.3. Rona Lingkungan Hidup Awal
Untuk pelaksanaan studi lingkungan ini maka lokasi yang perlu ditelaah adalah daerah disepanjang ruas jalan Widang-Gresik, yang berada di wilayah Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik, dengan batasan seperti batas wilayah studi mencakup beberapa desa dan kecamatan yang berada di dalam wilayah kedua kabupaten tersebut. Selain itu juga perlu ditelaah lokasi rencana Base-Camp dan jalan transportasi pengangkutan material.
Komponen Lingkungan Biogeofisik-Kimia. Iklim, Kualitas Udara dan Kebisingan
Kondisi iklim, kualitas udara dan kebisingan yang diberikan disini berdasarkan pada data sekunder yang diambil dari kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan.
Kabupaten Lamongan
Iklim
Lamongan secara umum tergolong beriklim tropis yang terbagi menjadi 2 musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan terjadi antara bulan Nopember s/d April,
rata antara 20°-32°C, dengan curah hujan rata-rata sebesar 134 mm/bulan.
Kualitas Udara
Dari beberapa data kegiatan yang ada di Kabupaten
Lamongan,secara umum kualitas udara di Kabupaten Lamongan dapat dikatakan masih dalam kondisi baik. Walaupun demikian, karena jalur proyek pembangunan jalan WidangGresik ini merupakan peningkatan jalan nasional 2 lane menjadi 4 lane dan dekat dengan jalur kereta api, maka kualitas udara dan kebisingan perlu untuk diawasi. Diperkirakan konsentrasi gas, debu dan kebisingan berasal dari aktivitas lalu lintas kendaraan dan kereta api.
Kabupaten Gresik
Iklim
Secara umum Kabupaten Gresik beriklim tropis yang mengalami 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada bulan Nopember-April dengan curah hujan rata-rata antara 136,6mm-338,8mm. Musim kemarau terjadi pada bulan Mei-Oktober dengan curah hujan rata-rata per bulan antara 1,7 mm-63,3 mm, Suhu udara rata-rata dan kelembaban nisbi untuk daerah Kabupaten Gresik berkisar antara 21°-34°C dan 69-81%.
Kualitas Udara dan Kebisingan
Hampir sama dengan Kabupaten Lamongan, secara umum kualitas udara di wilayah jalur jalan di Kabupaten Gresik dapat dikatakan masih dalam kondisi baik. Karena proyek ini merupakan peningkatan jalur jalan dari 2 lane menjadi 4 lane , maka penurunan kualitas udara dan kebisingan perlu diawasi, diperkirakan konsentrasi gas, debu dan kebisingan berasal dari aktivitas lalu lintas kendaraan.
Tata Guna Lahan
Jalur Widang-Lamongan
Peruntukan lahan di kawasan Widang-Lamongan adalah pertanian
persawahan penduduk yang diselingi dengan konsentrasi
permukiman penduduk dan konsentrasi kegiatan pusat pelayanan penduduk seperti lokasi sekolah (dusun Tegalrejo), perdagangan dan jasa dan pasar lokal (Desa Sukodadi, Karanglangit, Dusun Plosogeneng) letaknya tersebar di sepanjang jalur utama jalan Propinsi yang berdampingan dengan jalur rel kereta api Surabaya-Jakarta. Beberapa konsentrasi permukiman penduduk dan kegiatan penunjangnya menjadi fokus perhatian karena lokasi kegiatan tersebut berada dekat dengan jalur jalan, seperti yang terdapat di dusun/pedukuhan Tegalrejo, Waru Tengah, Waru Wetan, Paji, Kebonsari, Semlawang, Blangit, Plosogeneng. Kegiatan lain yang ada adalah lahan persawahan (sawah basah) dan tegalan.
Jalur di Sekitar Kota Lamongan
Rencana pembangunan dua buah fly over yang berada di Kota Lamongan, dimana peruntukan lahan di Kota Lamongan sebagian besar adalah permukiman maupun non permukiman (sawah basah, tegalan, perdagangan dan fasilitas umum). Dominasi kegiatan di kawasan ini adalah permukiman dan perdagangan serta fasilitas umum yang banyak terdapat pada jalur jalan tersebut.
Jalur Lamongan-Gresik
Rencana proyek pembangunan jalan ini akan melintasi kawasan pertanian dan pertambakan yang banyak terdapat pada lintasan jalur ini, serta beberapa konsentrasi kegiatan permukiman penduduk yang banyak tersebar disepanjang jalur ini. Adapun dominasi peruntukan lahan yang tersebar dalam pola penggunaan lahan pada jalur ini adalah kegiatan pertanian sawah basah serta pertambakan ikan Bandeng. Konsentrasi kegiatan permukiman penduduk yang banyak tersebar di sepanjang jalur utama Lamongan-Gresik umumnya terletak secara terpisah di beberapa dusun/perdukuhan yang ada seperti Deket Wetan, Pandanpancur, Pandanan Gancung, Gandukan, Duduksampean, Samir serta Brak. Kegiatan konsentrasi permukiman penduduk ini memiliki luasan lahan yang kecil, namun
di sekitar Kecamatan Mengganti (Gresik) banyak dijumpai lokasi-lokasi industri dan pergudangan dimana eksistensi kegiatan ini kontinyue sampai ke wilayah Kota Surabaya (Kecamatan Benowo). Transportasi
Kondisi Jaringan Jalan Kabupaten Lamongan dan Gresik
Seperti halnya yang terjadi pada kota-kota yang mengalami kemajuan yang cukup pesat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pengembangan kota.
Sistem Jaringan Jalan Regional (Luar Kota)
Sistem jaringan jalan regional masih mengakibatkan akumulasi pada jalur-jalur tertentu yang memiliki lokasi-lokasi bangkitan lalu lintas tinggi sehingga menimbulkan kemacetan dan kerawanan lalu lintas. Seperti pada sistem jaringan jalan di Kota Kecamatan Babat yang menjadi simpul lalu lintas regional dan jalur keluar (exit gate) Kabupaten Lamongan menuju ke Kabupaten Bojonegoro yang merupakan jalan kolektor primer, jalan areteri primer (jalan propinsi). Jalan dengan status sekunder (areteri,kolektor dan lokal) belum tersedia di beberapa jalan dengan status primer. Hal ini menyebabkan rancunya fungsi jalan yang seharusnya melayani kegiatan primer dan regional, akan tetapi juga melayani kegiatan masyarakat yang bersifat lokal dan sekunder.
Selain itu, sistem jaringan jalan regional dengan status kolektor primer yang menghubungkan kota orde III (Ibu Kota Kecamatan) belum terpadu, karena belum adanya akses jalan yang langsung menhubungkan antara kota orde III tersebut. Hal ini menyebabkan untuk mencapai satu ibukota kecamatan dari kota yang lain harus melintasi bata wilayah administratif kabupaten.
Sistem Jaringan Lokal (dalam Kota)
Lokasi-lokasi dengan tingkat kemacetan dan kecelakaan lalu lintas tinggi terletak pada beberapa lokasi, diantaranya:
Lokasi-Lokasi Rawan Kecelakaan
o Desa Plosowahyu, Kecamatan Lamongan (Arteri Primer)
o Desa Karanglangit, Kecamatan Lamongan (Arteri
Primer)
o Desa Turi, Kecamatan Turi (Arteri Primer)
o Desa Kebalandono, Kecamatan Babat (Arteri Primer) o Desa Kebonsari, Kecamatan Sukodadi (Arteri Primer) o Desa Pandan Pancur, Kecamatan Deket (Arteri Primer) o Desa Pucuk, Kecamatan Pucuk (Arteri Primer)
Lokasi-lokasi Rawan Kemacetan
Pasar Babat, dengan penyebab limpasan pergerakan
masyarakat dari pasar Babat, lokasi parkir yang tidak tepat dan memakan badan jalan, sementara jalan yang ada berfungsi sebagai jalan arteri primer yang menghubungkan Kota Lamongan dengan wilayah Kabupaten lain.
Berdasarkan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor: 188/139/5K/014/1988 ditetapkan bahwa:
Jaringan jalan Arteri Primer merupakan jalan yang
menghubungkan Lamongan dengan Kota Gresik-Surabaya dan Lamongan dengan Kota Bojonegoro/Tuban
Jaringan jalan Arteri Sekunder melayani jasa distribusi untuk masyarakat dalam kota sebagai perpanjangan jalan arteri primer
Jaringan jalan Kolektor Primer menghubungkan ibukota
kecamatan dengan kota-kota yang merupakan ibukota kecamatan
Jaringan jalan Kolektor Sekunder melayani jasa distribusi untuk masyarakat di dalam kota IKK sebagai jalan kolektor primer
Jaringan jalan lokal primer menghubungkan kota IKK dengan pusat desa
Tabel 2.2.4. : menunjukkan jalan utama (Jalur Pantura yang melalui Kota Lamongan
Tabel 2.2.4. : Klasifikasi Ruas Jalan di Ruas Jalan Widang-Gresik
No. Ruas Pangkal RuasNama Nama UjungRuas Panjang RuasJalan (m) Jalan (m)Lebar Ruas JalanKlasifikasi
Jalan Provinsi
040.k1 Jl.Manunggal - 1.870 10,00 Kolektor Primer 045.k1 Lamongan - 1.880 7,00 Arteri Sekunder
S.Drajat
045.1 Lamongan Gedek 42.000 5,50 Kolektor Primer 046.1 Babat Ploso 42.960 6,00 Kolektor Primer 043.1 Tuban Gresik 33.020 6,00 Arteri Sekunder 044.k1 Jagung Suprapto - 2.750 10,00 Arteri Sekunder
Jalan Nasional
042.1 Gresik Lamongan 6.870 15,00 Arteri Sekunder 044.1 Lamongan Bedahan 26.840 15,00 Kolektor Primer 044.2 Babat Widang 3.500 7,50 Arteri Sekunder
Sumber: Bina Marga Kabupaten Lamongan, 2002
Kondisi Perlengkapan Jalan
Guna menjaga keselamatan, keamanan dan ketertiban pengguna jalan maupun kelancaran berlalu lintas, Pemerintah telah menyediakan dan memasang rambu-rambu lalu lintas serta traffic light sebagai prasarana penunjang transportasi. Namun demikian, apabila dilihat dari kondisi lalu lintas dan luas wilayahnya, ternyata keberadaan rambu-rambu lalu lintas ini dirasa masih sangat kurang terutama pada ruas jalan kabupaten yang berada di luar kota. Demikian pula keberadaan lampu lalu lintas (traffic light) yang berfungsi untuk mengatur kendaraan dan/atau pejalan kaki yang masih sangat kurang dibandingkan dengan jumlah persimpangan jalan yang ada. Apalagi dengan telah dilebarkannya beberapa ruas jalan menjadi 4 lajur.
perkerasan jalan. Nilai kondisi permjukaan jalan sebagian besar berkisar antara 6-8 dengan kondisi baik. Sedangkan nilai kenyamanan berkisar 30 dengan kondisi nyaman.
Keselamatan Transportasi
Identifikasi Kecelakaan
Kecelakaan merupakan masalah laten transportasi yang perlu untuk mendapat perhatian yang serius. Pada identifikasi kecelakaan ini, dari informasi data sekunder. Tempat-tempat yang dirasa merupakan daerah rawan kecelakaan tersebut berada di:
o Ruas Jalan Lamongan-Gresik yang merupakan jalan
arteri primer dengan status kewenangan Nasional
o Ruas jalan Babat-Ploso (Jombang) yang merupakan
jalan kolektor primer dengan status kewenangan Propinsi
o Ruas jalan Tuban-Gresik (Pantura) yang merupakan
jalan arteri primer dengan status kewenangan Propinsi Hal ini mungkin pula disebabkan oleh jumlah volume lalu lintas harian rata-rata yang lewat di ketiga ruas tersebut serta mungkin pula tingkat saturasi jalan yang cenderung naik, meskipun pada kenyataannya tingkat saturasi tidak menunjukkan hubungan yang linear terhadap jumlah kecelakaan lalu lintas.
Secara umum, kondisi geometrik jalan-jalan tersebut telah memenuhi syarat minimum ynang telah ditetapkan oleh peraturan, namun demikian masih sering dijumpai kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan konrban nyawa dan harta berada. Sebagai contoh jumlah kecelakaan lalu lintas di wilayah Kepolisian Resort Lamongan pada tahun 2001 mencapai 67 kejadian serta pada tahun 2002 meningkat sedikit menjadi 71 kejadian. Berdasrkan data dari Resort Lamongan dapat digambarkan sebagai berikut:
Tabel 2.2.4a. : Data Kecelakaan Lalu Lintas di Kabupaten Lamongan Ruas Jalan Jumlah Kecelakaan Lalu
Lintas Tahun 2001 Jumlah Kecelakaan LaluLintas Tahun 2002 KMD KLB KLK KMD KLB KLK
Lamongan-Gresik 12 19 14 15 21 9
Babat-Ploso 4 9 11 7 15 5
Tuban-Gresik 6 8 10 2 6 11
Total 22 36 35 34 42 26
Sumber: Kepolisian Resort Lamongan, 2001-2002
Keterangan : KMD : Korban Meninggal Dunia KLB : Korban Luka Berat KLK : Korban Luka Ringan
Dari kejadian kecelakaan tersebut apabila dilihat terhadap kendaraan yang terlibat kecelakaan lalu lintas dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.2.4b. : Kendaraan Bermotor yang Terlibat Kecelakaan Lalu Lintas
No. Jenis Kendaraan Bermotor Tahun 2001 Tahun 2002
1 Bus 13 16 2 Truck 21 26 3 Pick Up 3 1 4 Station Wagon 11 16 5 Jeep 2 0 6 Sedan 8 6
7 Roda 2/Sepeda motor 18 10 8 Lain-lain/Sepeda/Pjl Kaki 4 6
Sumber: Kepolisian Resort Lamongan 2001-2002
Waktu kejadian kecelakaan harus diketahui pula untuk menentukan saat-saat rawan terjadinya kecelakaan lalu lintas pada suatu ruas jalan. Secara umum pembagian waktu ini dibagi menjadi tiga jenis waktu pengamatan, yakni pagi, siang dan malam hari.
Tabel 2.2.4c. : Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas Menurut Waktu Waktu Kejadian Tahun 2001 Tahun 2002
06.00-12.00 23 26
12.00-20.00 34 37
20.00-06.00 10 8
Total 67 71
Sumber: Kepolisian Resort Lamongan 2001-2002
Tabel 2.2.4d. : Faktor Penyebab Terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas No Faktor Penyebab Tahun 2001 Tahun 2002
1 Faktor Manusia 65 68 2 Faktor Kendaraan 2 2 3 Faktor Jalan - -4 Faktor Cuaca - 1 5 Faktor Lain - -Total 67 71
Sumber: Kepolisian Resort Lamongan 2001-2002 Daerah Rawan Kecelakaan
Daerah rawan kecelakaan lalu lintas merupakan daerah yang mempunyai jumlah, rasio dan kecelakaan tinggi terjadi pada suatu ruas jalan. Identifikasi daerah rawan kecelakaan didasarkan pada lokasi jalan tertentu (black spot) serta ruas jalan tertentu (black site). Hasil perhitungan terhadap tingka t kecelakaan serta tingkat fatalitas di ruas-ruas kejadian disajikan pada Tabel 2.2.4e.
Tabel 2.2.4e. : Daerah Rawan Kecelakaan di Jaringan Transportasi Di Ruas Jalan Widang-Gresik
Ruas Jalan Panjang (km) LHR (smp/jam) Frekuensi Kecelakaan Thn 2001 Thn 2002
Lamongan-Gresik 33,71 3325 21 19
Babat-Ploso 42,96 1507 9 10
Tuban-Gresik 33,02 1511 7 9
Komponen Biologi a. Biota Daratan