• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.5. Ruang Lingkup

Untuk menghindari adanya kesalahan dalam penafsiran atau persepsi terhadap wujud garapan tari ini, maka batasan pemahaman dalam garapan tari ini, antara lain sebagai berikut:

Garapan tari kontemporer ini diberi judul Hasrat, garapan tari Hasrat ini dituangkan dalam konsep tari kontemporer, yang pola geraknya dengan mengkombinasikan gerak tari modern yang mengandung gerak murni dan gerak maknawi. Garapan ini terinspirasi dari menonton tayangan FTV yang ditayangkan SCTV, tentang kehidupan seorang wanita yang bertubuh gemuk.

Garapan tari kontemporer ini bertemakan percintaan, yang ditarikan oleh lima orang penari yaitu 2 perempuan dan 3 laki-laki, struktur garapan ini menjadi 4 bagian diantaranya:

 Bagian 1: opening, menggambarkan lamunan seorang gadis, yang membayangkan dirinya berbadan kurus sedang bercumbu mesra dengan pasangannya, bayangan tersebut hanyalah impian dan diharapkan menjadi kenyataan.

 Bagian 2: inti cerita, bagian ini menggambarkan gadis yang bersedih, karena dia menyadari dirinya hanya bisa melamun dan menghayalkan badannya langsing.

 Bagian 3: klimaks, bagian ini menggambarkan hasrat seorang gadis yang sedang

berusaha melangsingkan badannya dengan berbagai cara. karena ia sedang jatuh cinta dan ingin tampil cantik dimata pujaan hatinya, tetapi usahanya tidak membuahkan hasil.

 Bagian 4 : ending, menggambarkan keceriaan gadis tersebut karena lelaki yang

dicintainya itu menerimanya sebagai kekasih, walaupun dalam postur tubuh yang gemuk.

Garapan tari ini diiringi oleh alat musik diatonis yang dipadukan dengan alat musik pentatonis, karena alat musik ini mampu memberi penekanan pada suasana yang ingin disampaikan. Penata iringan musik tari garapan ini adalah I Wayan Gede Arsana, S.Sn. dengan pendukung karawitan dari sekaa kusuma sari Banjar Paang Tengah Penatih Denpasar.

Konsep kostum yang digunakan adalah minimalis yaitu kostum tari ditata sederhana agar kostum yang digunakan ini tidak mengganggu ruang gerak penari.

Kostum tari kontemporer Hasrat ini menggunakan kombinasi warna putih, hitam, coklat pink dan biru yang terbuat dari kain bludru, kain sutra dan perpaduan kain kaca dan straite (karet). Dengan menggunakan kostum tersebut penata lebih menonjolkan karakter penari yang enerjik dan kocak.

BAB II

TINJAUAN SUMBER

Untuk mewujudkan sebuah karya seni diperlukan berbagai sumber, baik yang bersumber dari buku (pustaka) maupun dari sumber-sumber lainnya. Adapun beberapa sumber yang terkait dengan garapan ini adalah sebagai berikut:

2.1. Sumber Pustaka

Buku Komposisi Tari Elemen-Elemen Dasar, (terjemahan dari dance Composition The Basis Elements) oleh La Meri diterjemahkan oleh Soedarsono,1975.

Buku ini berisikan pengetahuan dasar tentang komposisi tari, buku ini memberikan pengetahuan tentang bagaimana membuat gerak-garak dasar dengan berpatokan pada elemen-elemen dasar dari komposisi tari serta bagaimana menemukan gerak-gerak dari tubuh dan bagaimana mengembangkannya agar dapat menjadi suatu bentuk gerak yang indah.

Buku Bergerak Menurut Kata Hati: Metode Baru Dalam Menciptakan Tari (terjemahan dari Moving From Within : A New Method for Dance Making). Oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia, 2003. Buku ini berisikan tentang cara-cara dalam mengajar olah cipta gerak dan koreografi, juga pengetahuan tentang latihan-latihan bagi seorang penari untuk meningkatkan kemampuan dalam menghayati suatu gerakan, oleh Alma M. Hawkins, dalam mengola cipta, rasa, gerak dan koreografi. Maanfaat yang diperoleh dari buku ini adalah dengan perasaan kita bisa memotivasi gerak mengikuti daya imajinasi. Dengan berimajinasi kita dapat menghayalkan suatu gerak

8

melalui pengalaman batin, sehingga gerak akan mengalir dan datang dengan sendirinya sesuai dengan kata hati penatanya.

Buku Mencipta Lewat Tari oleh Y. Sumandiyo Hadi, 1990 terjemahan dari Creating Through Dance oleh Alma M. Hawkins, (1994). Dalam buku ini dijelaskan bahwa dalam penciptaan tari memiliki tiga tahapan penting yaitu : penjajagan (eksplorasi), percobaan (improvisasi), dan tahap pembentukan (forming). Manfaat yang didapat dalam buku ini memberi penjelasan tentang langkah-langkah yang dilakukan dalam mencipta tari mulai dari berfikir, merasakan, mengimajinasikan, dan sampai dengan mencipta melalui tiga proses.

2.2 Sumber Audio Visual

Sumber-sumber yang dapat dijadikan inspirasi dalam garapan adalah menonton sinetron yang berjudul ”Pacarku Besar Sekali” yang ditayangkan di SCTV. Film ini menceritakan tentang kehidupan wanita yang berbadan gemuk yang bekerja pada seorang artis sebagai managernya, lama-lama dia jatuh cinta kepada artis tersebut dan dia sadar bahwa hal itu mustahil tetapi dia tidak menyangka bahwa artis tersebut juga menyukainya berawal dari kedekatan mereka setiap harinya.

Mendengar sebuah lagu pop Bali yang berjudul ”Gegelan Moglong” Lagu ini bernuansa kocak yang berisikan pantun-pantun lucu, yang saling mengejek pasangan sebagai contoh syair dalam lagu tersebut adalah “ endih-endih api tulukin sang gedebong sedih-sedih hati ngelah gegelan moglong, diapin moglong ngudiang beli masih demen nguberin?” (yang artinya sedih hati mempunyai pacar gemuk, tetapi

meski gemuk kenapa kamu tetap mengejar?) yang dinyanyikan oleh I Nyoman

Sudiana dan Anom Putri dalam album kompilasi gending Bali Canting-Camplung Record vol.6.

Maanfaat dari menonton film dan mendengar lagu di atas, bahwa cerita yang disampaikan merupakan sumber inspirasi dalam penggarapan karya seni dan dijadikan sebagai salah satu bentuk gambaran di dalam berkarya.

2.3 Sumber Lain

Selain Sumber tertulis dan sumber audio visual yang berhubungan dengan garapan, juga mencari informasi-informasi melalui internet dengan membuka situs email yaitu www.yahoo.com atau di www.google.com. Disana diperoleh banyak informasi-informasi mengenai seni kontemporer yaitu khususnya seni tari yang berkembang serta berjalan seiring dengan perkembangan jaman.

Selain itu juga melakukan wawancara dengan Anom Ranuara, seorang seniman topeng dan mahasiswa jurusan pedalangan di Institut Seni Indonesia Denpasar. Berdasarkan wawancara tersebut, penata memperoleh ide untuk menuangkan pengalaman kehidupan selain itu penata disarankan untuk mengubah judul karena pada awalnya judul yang ingin dipakai ialah “obsesi” tetapi dengan wawancara itu disepakati judul yang di gunakan ialah “hasrat” karena lebih mengena dengan konsep garapan yang menginginkan lelaki impiannya, serta lebih mengena pada persoalan cinta.

BAB III

PROSES KREATIVITAS

Menciptakan sebuah karya tari merupakan hal yang tidak mudah, karena dalam mewujudkannya sering kali ditemui berbagai kesulitan, dan prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Selain diperlukan bakat seni dan inspirasi, juga diperlukan adanya kesanggupan dan kemauan yang diiringi oleh sesuatu usaha yang maksimal dalam mewujudkan karya seni yang diinginkan. Walaupun nantinya, hasil yang dicapai belum bisa dikatakan sempurna, mengingat keterbatasan yang ada, pada hal ini juga penata alami bahwa, sebagai seorang penata tari dalam mewujudkan suatu garapan ini haruslah melalui tahapan-tahapan tertentu yang nantinya dalam tahapan tersebut dapat menghasilkan suatu karya yang baik dan yang diinginkan.

Dalam menggarap suatu karya seni dengan bentuk apapun selalu melalui suatu proses. Tari kontemporer dengan judul Hasrat ini diwujudkan dengan beberapa proses, dimana proses tersebut mengacu pada proses penciptanya yang menurut Alma M. Hawkins, terdiri dari eksplorasi, improvisasi, dan forming5. Eksplorasi atau penjajagan berhubungan dengan proses pencarian, penghayatan dan pemikiran yang dalam hal ini berhubungan dengan proses pencarian terhadap ide atau gagasan yang akan dituangkan ke dalam sebuah bentuk karya seni. Penggarapan dapat diartikan pada pembentukan sebuah garapan tari. Improvisasi ialah percobaan-percobaan yang

5 Y. Sumandiyo Hadi, 1990, mencipta lewat tari (Terjemahan dari Creating Through Dance oleh Alma M. Hawkins), Yogyakarta: Institut Seni Indonesia , p.27-46.

11

dilakukan untuk mendapatkan hasil karya yang baik, dan forming bertujuan untuk menentukan langkah awal yang dilakukan sehingga membentuk sebuah karya tari.

3.1 Tahap Penjajagan (Exploration)

Tahap penjajagan adalah tahap yang paling awal dalam sebuah proses penciptaan tari. Garapan tari Hasrat telah digarap pada kelas mata kuliah koreografi VI dengan judul “Mungkinkah?” yang berdurasi waktu 12 menit dan menggunakan musik iringan yang di garap oleh I Wayan Gede Arsana, S.Sn. ke dalam bentuk CD.

Berkaitan dengan tugas akhir penata mengembangkan garapan ini agar terlihat lebih baik lagi. Tahap ini diawali dengan pencarian ide atau gagasan, konsep garapan yang akan digunakan.

Setelah ide atau gagasan diperoleh, barulah dituangkan ke dalam konsep garapan, dan selanjutnya adalah pemilihan pendukung. Pendukung dalam sebuah garapan tari merupakan faktor penting dalam sebuah garapan tari, karena pendukung dalam hal ini adalah penari akan menjadi media utama dalam penuangan gerak.

Penari yang akan terlibat dalam garapan ini sebanyak 5 orang yang terdiri dari, 2 orang wanita (termasuk penata sendiri) dan 3 orang laki-laki. Kriteria yang digunakan dalam memilih penari adalah postur tubuh yang memadai atau postur tubuh yang diinginkan penata sesuai dengan tokoh-tokoh yang digarap, di samping itu memiliki teknik tari yang cukup baik, dan memiliki loyalitas serta tanggung jawab mendukung untuk kelancaran proses penggarapan tari, serta kesanggupannya untuk meluangkan waktu dan tetap berkonsentrasi pada proses garapan demi kelancarannya.

Kegiatan selanjutnya adalah mencari hari baik untuk melaksanakan upacara (nuasen), karena menurut kepercayaan umat Hindu di Bali, setiap mulai suatu apapun termasuk penggarapan karya tari ini harus mencari hari baik untuk melakukan sebuah upacara, agar mendapat taksu atau kekuatan dan energy dari Tuhan. Nuasen dilakukan pada tanggal 23 Maret 2010 di Pura Arda Naraswari di ISI Denpasar dengan dihadiri oleh semua pendukung tari dan beberapa pendukung musik iringan.

Setelah diadakan persembahyangan, para pendukung dikumpulkan untuk diberikan pengarahan mengenai ide dan bentuk garapan.

Pada tahapan ini penata juga sudah memikirkan kostum yang digunakan, berkonsultasi dengan pembimbing serta beberapa orang yang ahli mengenai kostum tari. Setelah hal terdebut dikonsultasikan, akhirnya disepakati kostum yang akan digunakan menggunakan warna yang cerah dengan konsep minimalis, dengan tujuan agar pada saat bergerak tidak mengganggu ruang gerak penari. Pada tahap eksplorasi ini telah didapatkan ide, konsep seperti desain, pola lantai, kostum, dan iringan yang nantinya siap dituangkan pada tahap berikutnya.

3.2 Tahap Percobaan (improvisation)

Tahap ini adalah tahap kedua setelah tahap penjajagan dan merupakan tahap pencarian gerak-gerak baru yang akan menjadi perbendaharaan gerak tari kontemporer ini. Proses pencarian gerak ini dilakukan secara bebas sampai ditemukan dan dipilih gerak-gerak yang dirasa cocok dan sesuai dengan tema dari garapan tari ini selanjutnya gerak-gerak ini disusun dalam frase-frase gerak.

Proses penataan iringan musik tari juga dilakukan pada tahap ini. Pada setiap kegiatan latihan, iringan musik tari ini dipadukan dengan gerak-gerak tari yang baru diciptakan agar garapan ini menjadi sebuah garapan yang utuh.

Percobaan-percobaan mencari gerak terus dilakukan baik di rumah, di kampus, maupun di tempat-tempat tertentu ketika tiba-tiba ide itu datang, lalu dilakukan pencatatan serta rekaman video dengan menggunakan hand phone agar gerak atau ide itu tidak terlupakan. Latihan tari terus berjalan dengan baik selama kurang lebih dua jam setiap latihan. Di tempat latihan para pendukung juga memberi masukan yang berguna mengenai gerak. Pencarian gerak terus dilakukan sejalan dengan pembentukan musik iringan. Kegiatan latihan secara terus menerus perlu dilakukan untuk menjaga keharmonisan antara gerak dan musik iringan. Bersamaan dengan berlangsungnya proses ini, bimbingan juga terus dilakukan agar mendapat masukan-masukan demi kesempurnaan garapan tari ini. Rincian kegiatan penuangan pada tahap ini, adalah sebagai berikut:

Tabel 1

No Tanggal Kegiatan

3 26 Maret 2010 Dilakukan penuangan gerak bagian satu.

4 31 Maret 2010 Dilakukan pengulangan penuangan bagian satu, dan mencari pola lantai.

5 31 Maret 2010, Bimbingan tulisan bab I

6 7 April 2010 Dilakukan penuangan gerak pada bagian dua, serta memantapkan bagian satu dan bagian dua.

7 8 April 2010 Diadakan latihan untuk mengingat bagian satu dan bagian dua, karena akan ada bimbingan

8 8 April 2010 Bimbingan tulisan perbaikan bab I

9 8 April 2010 Bimbingan karya dengan dosen pembimbing di studio tari

10 9 April 2010 Dilakukan pengulangan serta perbaikan gerak yang tidak cocok.

11 10 April 2010 Dilakukan perbaikan opening serta bagian dua.

12 10 April 2010 Bimbingan karya dengan dosen pembimbing membahas perbaikan opening serta perbaikan bab II 13 12 April 2010 Mengumpul tulisan bab III

14 13 April 2010 Membahas perbaikan tulisan bab I,II,&III.

15 15 April 2010 Latihan dengan musik iringan

16 19 April 2010 Latihan dengan musik iringan memadukan bagian opening.

No Tanggal Kegiatan 17 21 April 2010 Latihan dengan musik iringan.

18 22 April 2010 Latihan bersama iringan 19 23 April 2010 Latihan di Studio tari 20 24 April 2010 Latihan di Candra Metu 21 29 April 2010 Latihan mencari ending.

22 30 April 2010 Latihan dari opening hingga ending 23 4 Mei 2010 Latihan memantapkan

24 5 Mei 2010 Bimbingan karya

25 6 Mei 2010 Latihan lengkap dengan penabuh 26 7 Mei 2010 Latihan dengan penabuh

27 8 Mei 2010 Latihan di Studio tari 28 9-10 Mei 2010 Latihan lengkap

29 14 Mei 2010 Bimbingan karya dari opening hingga ending

30 15 Mei 2010 Latihan dengan kostum sederhana dan musik iringan 31 16 Mei 2010 Bimbingan karya serta memantapkan gerak

32 19 Mei 2010 Gladi bersih di Gedung Natya Mandala serta bimbingan dan saran

33 20 Mei 2010 Latihan lengkap dengan penabuh 34 24 Mei 2010 Latihan memantapkan ekspresi 35 26 Mei 2010 Ujian TA

Akhirnya dari tahap ini hampir semua elemen telah dituangkan atau diwujudkan, walaupun belum sempurna. Terlebih lagi masalah ekspresi atau penjiwaaan dan kekompakan, dan ini akan dilakukan pada tahap berikutnya yaitu tahap pembentukan (forming).

3.3 Tahap pembentukan (forming)

Tahap pembentukan merupakan tahapan yang paling penting untuk mewujudkan hasil akhir dari karya tari ini. Pada tahapan ini yang harus dilakukan adalah merangkai, membentuk, dan menyempurnakan gerak yang telah didapat pada tahap improvisasi, baik gerak, pola lantai, desain, iringan yang digarap sehingga menjadi sebuah bentuk karya tari yang utuh. Untuk pemantapan terus dilakukan agar ekspresi dan penjiwaan tokoh yang ada didalamnya dapat dipenuhi, pada tahap ini pula dilakukan percobaan mempergunakan kostum yang akan digunakan agar gerakan pada saat menggunakan kostum tersebut tidak terganggu.

Tahapan terakhir yang akan dilakukan adalah tahap finishing. Dalam tahapan ini garapan sudah terwujud. Pada tahap ini garapan dihayati, serta diendapkan sehingga penjiwaan gerak maupun rasa estetis yang diharapkan dapat dicapai sesuai dengan ide garapan.

Hasil penjajagan atau eksplorasi dan penuangan beberapa gerak, serta pola lantai telah dicapai, maka terbentuklah karya tari yang berjudul Hasrat. Mengenai bentuk , struktur garapan, kostum dan pendukung lainnya akan di jelaskan pada bab berikutnya.

Untuk memberikan gambaran jelas tentang tahap-tahap penciptaan tari Hasrat, berikut disajikan sebuah table proses kreativitas.

Tabel 2 Proses Kreativitas

Tahap-tahap Januari Februari Maret April Mei

Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Tahap Penjajagan Tahap Percobaan Tahap

Pembentukan X O

KETERANGAN :

: Pencarian pendukung

: Latihan ringan selama ± 2 jam sehari : Latihan sedikit padat selama ± 2 jam sehari : Latihan padat ± 2-3 jam sehari

X : Gladi Bersih O : Ujian TA

BAB IV WUJUD GARAPAN

4.1. Deskripsi Garapan

Garapan tari dengan judul Hasrat ini merupakan sebuah garapan tari kontemporer dengan mengambil bentuk kelompok yang ditarikan oleh 5 orang penari, 2 perempuan (termasuk penata) dan 3 orang penari laki-laki. Garapan tari ini mengambil bentuk karakter wanita yang memiliki postur tubuh gemuk yang dimana kesehariannya ceria dan percaya diri tetapi ketika dia sedang jatuh cinta dia merasa minder dan kurang percaya diri, sehingga hayalan dan keinginannya untuk kurus selalu menghantuinya.

Untuk dapat mengembangkan dan melahirkan suasana dalam merangkai gerak-gerak dengan struktur garapan maka digunakan pengalaman pribadi sebagai contoh. Mulai dari menghayal ingin menjadi kurus, lalu menghalalkan segala cara untuk memiliki tubuh yang langsing ideal, sampai pada akhirnya dia putus asa karena tidak membuahkan hasil. Di samping hal tersebut keindahan suasana yang ditampilkan juga ditunjang dengan penjiwaan dan ekspresi yang maksimal oleh masing-masing penarinya. Tidak hanya alur cerita dan keinginan untuk memiliki tubuh yang langsing saja dimunculkan dalam garapan ini, tetapi juga tetap memfokuskan pada pengolahan kelenturan dan keluwesan tubuh yang ditunjang oleh gerak.

19

Tema yang diangkat adalah pergaulan, mengingat dari cuplikan cerita yang diangkat adalah kehidupan sehari-hari yang mengandung nilai penyesalan, percaya diri dan kebanggaan, yang nantinya dapat dijadikan tolak ukur dalam kehidupan sehari-hari.

4.2. Struktur Garapan

Garapan tari Hasrat memiliki struktur yang dimulai datangnya penari dari wing sebelah kiri, yang dengan pelan , sedang, dan akhirnya klimaks pada penutup.

Di dalam setiap bagian alur cerita terdapat perubahan emosi dari tenang (romantis), sedih, hingga gembira. Secara koreografi, garapan tari Hasrat terdiri dari 4 (bagian), dengan durasi waktu 12 menit.

Keempat bagian dari koreografi tari Hasrat adalah:

1. Bagian Pertama (opening)

Diawali satu orang penari perempuan datang dari wing kanan, yang menggambarkan keceriaan seorang gadis yang membayangkan dirinya berbunga-bunga karena sedang jatuh cinta (suasana ceria). Satu penari perempuan dari belakang centre stage menurunkan kain hitam yang menutupi dirinya maju dengan perlahan ,muncul sebagai khayalan, yang memiliki badan langsing dengan bangganya memperlihatkan keseksiannya, lalu datang satu penari laki-laki dari wing kiri yang berperan sebagai kekasihnya. Ini adalah bayangan gadis tadi yang membayangkan dirinya sedang bercumbu mesra dengan kekesih idamannya (suasana romantis).

2. Bagian Kedua (inti cerita)

Menggambarkan seorang gadis yang sadar akan dirinya memiliki tubuh yang gemuk dan dia bersedih, karena itu hanyalah khayalannya saja (suasana marah dan sedih). Pada bagian ini gerak yang digunakan kebanyakan memakai level bawah dan penyesalan.

3. Bagian Ketiga (klimaks)

Menggambarkan kembali keceriaan gadis yang dihibur oleh teman-temannya.

Datang 2 penari dari depan kiri panggung dan depan kanan panggung, yang datang bergantian (suasana ceria dan gembira). Pada pertengahan datang 2 penari lagi dari samping kanan dan samping kiri, dengan gerakan yang gembira.

4. Bagian Empat (ending)

Menggambarkan pertemuan gadis dan lelaki idamannya, yang ternyata lelaki tersebut juga diam-diam menyukainya (suasana gembira dan romantis). Pada bagian ini banyak menggunakan motif-motif gerak yang ceria.

4.3 Analisa Simbol

Penggarapan karya tari Hasrat menggunakan beberapa simbol-simbol gerak dan warna kostum. Pada bagian pertama menggunakan gerak tangan yang merentangkan satu tangan kearah sudut yang dapat juga dikatakan sebagai disain lanjutan dan juga mempergunakan gerak lefting (gerak angkatan), sebagai simbol kebahagiaan. Pada bagian kedua merangkul badan sendiri dengan posisi membungkuk simbol dari sifat penyesalan dan kesedihan. Pada bagian ketiga

menggunakan gerakan berlari sebagai simbol keceriaan. Pada bagian ke empat menggunakan gerakan bersentuhan simbol dari kebahagiaan.

Pemilihan warna kostum Tari Hasrat adalah perpaduan warna pink (merah muda), biru, hijau dan putih sebagai simbol kegembiraan dan keceriaan. Warna hitam adalah simbol dari kesedihan dan penyesalan. Tata rias juga dapat membantu penampilan penari di atas panggung. Tata rias tertentu dapat menentukan watak dan karakter yang dibawakan. Tata rias wajah yang digunakan adalah tata rias wajah putri halus karena menggambarkan hehidupan sehari-hari.

4.3 Analisa Materi

Tari kontemporer ini mengambil pola-pola gerak dari tari modern yang sudah dikembangkan hingga membentuk gerak murni dan gerak maknawi. Dalam garapan tari Hasrat ini menggunakan beberapa disain gerak kelompok yaitu:

- Desain Unison (serempak) : Gerakan-gerakan yang dilakukan secara bersama-sama oleh semua penari untuk memberi kesan teratur dan kompak pada garapan dengan demikian keseragaman gerak secara keseluruhan sangat diharapkan. Pada tari Hasrat Desain unison terdapat pada bagian tiga.

- Desain Balance (berimbang) : Membagi kelompok dan menempatkannya dalam desain-desain lantai yang sama pada daerah-daerah berimbang dari stage. Pada tari Hasrat Desain balance terdapat pada bagian dua dan bagian tiga.

- Desain Cannon (bergantian) : Merupakan desain gerak yang dilakukan secara bergantian oleh masing-masing penari. Pada tari Hasrat Desain cannon terdapat pada bagian dua dan tiga.

- Desain Broken (terpecah) : Merupakan desain gerak yang memberikan desain gerak yang tidak teratur. Desain ini dilakukan pada transisi dan pada desain-desain tertentu, penari memiliki desain-desain lantainya sendiri, pola lantai sendiri dan memiliki kebebasan di dalam pengolahannya6. Pada tari Hasrat Desain broken terdapat pada bagian tiga dan empat.

4.5. Perbendaharaan Motif Gerak

Tari itu adalah gerak, tanpa bergerak tidak dapat dikatakan menari. Pencarian gerak dan pengembangan geraknya adalah elemen yang paling penting. Seperti pada garapan tari Hasrat ini, terinspirasi dari perasaan senang, sedih, kecewa, menyesal, bersemangat, dan bahagia. Oleh sebab itu ada beberapa gerak tari yang digunakan tentunya sudah dikembangkan mungkin akan mempunyai sebutan baru.

Di bawah ini disebutkan jenis-jenis gerakan yang digunakan dalam garapan tari Hasrat.

- Jalan datar : berjalan tegak dengan seimbang, secara perlahan kedua kaki melangkah secara bergantian.

- Bercinta : gerakan bersentuhan yang dilakukan dengan dua orang (laki-laki dan perempuan)

- Menoleh : gerakan kepala yang mengarah ke samping kiri dan ke samping kanan serta adanya putaran.

- Membungkuk : menekuk punggung kearah depan dengan penahanan gerak ada pada perut.

6 Soedarsono. Komposisi Tari, Elemen-elemen Dasar. Terjemahan dari The Basic Elements oleh La Meri. Yogyakarta: Akademi Seni Tari,1975. P.82-83.

- Ngelayak : seluruh badan direbahkan ke belakang.

- Getaran pundak : menggetarkan ke dua pundak.

- Ngeremas : gerakan dengan meremas-remas seluruh bagian tubuh ,tangan, lengan, perut, kaki , paha sebagai tanda penyesalan.

- Berlari : gerakan pada saat kedua kaki berjalan dengan cepat serta diangkat

- Berlari : gerakan pada saat kedua kaki berjalan dengan cepat serta diangkat

Dokumen terkait