WAKAF DALAM HUKUM ISLAM
C. Rukun dan Syarat Wakaf
Rukun secara etimologi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan”. Sedangkan syarat adalah “ketentuan (peraturan, petunjuk) yang harus diindahkan dan dilakukan”.74
Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa rukun wakaf adalah shighat (ucapan, pernyataan tegas). Shighat adalah lafaz-lafaz
73 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 14-15
74 Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2004), hlm. 966
yang menunjukkan makna wakaf seperti : “Tanahku ini diwakafkan selamanya untuk orang-orang miskin” dan lafaz-lafaz sejenis seperti barang ini diwakafkan untuk Allah, untuk tujuan kebaikan, kebajikan, atau untuk diwakafkan saja”.75
Rukun wakaf menurut mereka adalah “bagian sesuatu yang mana sesuatu itu tidak bisa terwujud kecuali dengan bagian itu”. Jadi rukun wakaf adalah pernyataan yang muncul dari orang yang mewakafkan yang menunjukkan terbentuknya wakaf. Berdasarkan hal ini, maka wakaf seperti wasiat dalam pengelolaannya, dimana hak pengelolaan itu terjadi karena adanya kehendak atau keinginan. Yaitu keinginan orang yang berwakaf saja dan yang diungkapkan dengan pernyataan tegas (ijab) oleh orang yang berwakaf.76
Sedangkan Jumhur Ulama (Syafi’iyah, Hanabilah dan Malikiyah) mengatakan bahwa wakaf ada empat rukun, yaitu orang yang mewakafkan (wakif), barang yang diwakafkan (mauquf bih), pihak yang diberi wakaf (mauquf ‘alaih), dan shighat. Dan mereka memahami bahwa rukun adalah “sesuatu
75 Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islam ..., hlm. 159
yang suatu perkara tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu itu, baik sesuatu itu bagian dari perkara atau tidak”.77
1. Wakif (orang yang mewakafkan harta)
Orang yang mewakafkan hartanya (wakif) disyaratkan memiliki kecakapan hukum atau kamalul ahliyah (legal competent) dalam membelanjakan hartanya. Kecakapan hukum tersebut meliputi empat kriteria, yaitu :
a. Merdeka
Wakaf yang dilakukan oleh seorang budak (hamba sahaya) tidak sah, karena wakaf adalah pengguguran hak milik dengan cara memberikan hak milik itu kepada orang lain. Sedangkan hamba sahaya tidak mempunyai hak milik ataupun dirinya, karena dia adalah milik tuannya.78 Namun demikian, Abu Zahrah mengatakan bahwa para fuqaha sepakat budak boleh mewakafkan hartanya bila ada izin dari tuannya. Bahkan Adz Dazahiri menetapkan bahwa
77 Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqh Al Islam ...
78 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 19-20
budak dapat memiliki sesuatu yang diperoleh dari jalan waris. Oleh karena itu ia boleh mewakafkannya.79
b. Berakal sehat
Wakaf yang dilakukan oleh orang gila tidak sah hukumnya, sebab ia tiak berakal, tidak mumayyiz dan tidak cakap melakukan akad serta tindakan lainnya. Demikian juga orang yang lemah mental (idiot), berubah akal karen faktor usia, sakit atau kecelakaan, hukumnya tidak sah karena akalnya tidak sempurna dan tidak cakap untuk menggugurkan hak miliknya.80
c. Dewasa (baligh)
Wakaf yang dilakukan oleh anak yang belum dewasa (baligh), hukumnya tidak sah karena ia dipandang tidak cakap melakukan akad dan tidak cakap pula untuk menggugurkan hak miliknya.81
d. Tidak berada di bawah pengampunan (boros/lalai).
79 A. Faishal Haq, Hukum Perwakafan di Indonesia, (Jakarta : PT Raja Grafindo Perkasa, 2017), Cet. 1, hlm. 8-9
80 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 20
Orang yang berada di bawah pengampunan dipandang tidak cakap untuk berbuat kebaikan (tabarru’), maka wakaf yang dilakukan hukumnya tidak sah. Tetapi berdasarkan istihsan, wakaf orang yang berada di bawah pengampunan terhadap dirinya sendiri selama hidupnya hukumnya sah. Karena tujuan dari pengampunan ialah untuk menjaga harta wakaf supaya tidak habis dibelanjakan untuk sesuatu yang tidak benar, dan untuk menjaga dirinya agar tidak menjadi beban bagi orang lain.82
Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat bahwa orang bodoh/pemboros itu bisa menjadi orang yang cakap bertabarru’ setelah meninggal dunia, walaupun wakafnya tidak sah. Tetapi jika ia berkata “Saya wakafkan rumahku kepada orang-orang fakir setelah aku mati”, maka wakafnya sah karena wasiat orang bodoh atau pemboros itu sah.83
82 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 21
2. Mauquf bih (barang atau harta yang diwakafkan)
Harta benda yang diwakafkan dipandang sah apabila telah memenuhi beberapa syarat, yaitu :
a. Harta yang diwakafkan harus mutaqawwam
Harta yang mutaqawwam menurut ulama Hanafiyah ialah segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan normal (bukan dalam keadaan darurat), karena itu tidak sah mewakafkan
1) Sesuatu yang bukan harta, seperti mewakafkan manfaat dari rumah sewaan untuk ditempati,
2) Alat-alat musik yang tidak halal digunakan atau buku-buku anti Islam karena dapat merusak Islam itu sendiri.84
Syarat ini ditinjau dari aspek tujuan wakaf itu sendiri, yaitu agar wakif mendapat pahala dan yang diberi wakaf memperoleh manfaat dari harta tersebut. Tujuan ini dapat dicapai jika harta yang diwakafkan itu dapat dimanfaatkan.
b. Harta yang diwakafkan harus jelas wujudnya
84 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 25
Harta yang diwakafkan harus jelas sehingga tidak menimbulkan persengketaan. Karena itu tidak sah mewakafkan yang tidak jelas seperti sebagian dari sebuah rumah, dengan pernyataan “saya mewakafkan sebagian dari tanah saya kepada orang di kampung saya”. Kata sebagian dalam pernyataan ini membuat harta yang diwakafkan itu tidak jelas dan akan menimbulkan sengketa. Jadi harta yang diwakafkan harus jelas, jelas batas-batasnya dan jelas luasnya.85
c. Harta yang diwakafkan adalah milik wakif
Harta yang diwakafkan haruslah milik penuh si wakif ketiaka ia mewakafkannya. Untuk itu tidak sah mewakafkan sesuatu yang bukan milik wakif. Karena wakaf mengandung kemungkinan menggugurkan milik atau sumbangan. Keduanya hanya dapat terwujud pada benda yang dimiliki.86
d. Harta yang diwakafkan bukan milik bersama (musya’)
85 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 26
86 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 27
Harta milik bersama tidak dapat diwakafkan karena milik bersama tersebut ada kalanya dapat dibagi berdasarkan pemiliknya masing-masing.
3. Mauquf ‘alaih (pihak yang diberi wakaf/peruntukan wakaf) Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Karena pada dasarnya, wakaf merupakan amal yang mendekatkan diri manusia kepada Allah. Karena itu mauquf ‘alaih haruslah untuk kebajikan. Yang dimaksud dengan mauquf alaih adalah tujuan wakaf (peruntukan wakaf).87 Jadi mauquf ‘alaih tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai ibadah, hal ini sesuai dengan sifat amalan wakaf sebagai salah satu bagian dari ibadah.
Para ulama fiqih sepakat bahwa wakaf adalah ibadah yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Namun, mereka berbeda pendapat tentang nilai-nilai ibadah disini, apakah ibadah menurut pandangan Islam atau menurut keyakinan wakif atau dengan keduanya.
87 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 46
Ulama Hanafiyah mensyaratkan agar mauquf ‘alaih ditujukan untuk ibadah menurut pandangan Islam dan keyakinan si wakif, yaitu :
a. Wakaf ditujukan untuk syiar-syiar Islam dan kebajikan, seperti : orang-orang miskin, rumah sakit, tempat penampungan atau sekolah.
b. Wakaf Non Muslim adalah sah untuk kebajikan umum, misalnya : pembangunan masjid, biaya masjid, dan sebagainya. Namun tidak sah jika ia berwakaf untuk pembangunan gereja.88
4. Shighat (pernyataan atau ikrar wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan sebagian harta bendanya),
Shighat (pernyataan wakaf) sangat menentukan sah/batalnya suatu perwakafan. Oleh karena itu, pernyataan wakaf harus tegas, jelas kepada siapa ditujukan dan untuk keperluan apa. Shighat wakaf ialah segala ucapan, tulisan atau isyarat dari orang yang berakad untuk menyatakan kehendak
88 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 46-47
dan menjelaskan apa yang diinginkannya. Namun shighat wakaf cukup dengan ijab saja dari wakif tanpa memerlukan qabul dari mauquf ‘alaih.89 Hal ini dimaksudkan agar pernyataan wakaf benar-benar dapat diketahui dengan jelas, untuk menghindari kemungkinan terjadi persengketaan di belakang hari. Jadi, wakaf tidak sah tanpa shighat.
Shighat sangat diperlukan karena wakaf adalah melepaskan hak milik dan benda dan manfaat atau dari manfaat saja dan memilikkan kepada orang lain. Maksud dari tujuan melepaskan adalah urusan hati. Tidak ada yang menyelami isi hati orang lain secara jelas, kecuali melalui pernyataannya sendiri. Maka dengan pernyataanlah tujuan tersebut jelas.
Adapun syarat sah shighat ijab adalah :90 a. Shighat harus munjazah (terjadi seketika/selesai).
Maksudnya ialah shighat tersebut menunjukkan terjadi dan terlaksananya wakaf seketika setelah shighat ijab
89 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 56
90 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 61-62
diucapkan atau ditulis, misalnya berkata: “Saya mewakafkan tanah saya....” atau “saya sedekahkan tanah saya sebagai wakaf”.
b. Shighat tidak diikuti syarat batil (palsu).
Maksudnya ialah syarat yang menodai atau mencederai dasar wakaf atau meniadakan hukumnya, yakni kelaziman dan kabadian. Misalnya wakif berkata : “Saya wakafkan rumah ini selama saya hidup, kemudian setelah saya meninggal untuk anak-anak dan cucu-cucu saya dengan syarat bahwa saya boleh menjual atau menggadaikanya kapan saja saya kehendaki...” Syarat yang demikian dan semisalnya mencederai dasar wakaf, yaitu adanya pembatasan waktu. Wakaf seperti ini tidak sah.
c. Shighat tidak diikuti pembatasan waktu tertentu dengan kata lain wakaf tersebut tidak untuk selamanya.
d. Shighat tidak mengandung suatu pengertian untuk mencabut kembali wakaf yang sudah dilakukan.
Semua golongan ulama pada dasarnya sepakat dengan syarat-syarat shighat di atas kecuali golongan Malikiyah. Mereka berpendapat bahwa :91
a. Tidak disyaratkan dalam perwakafan untuk selamanya, walaupun wakaf itu berupa masjid,
b. Tidak harus bebas dari suatu syarat, c. Tidak harus ditentukan penggunaannya.