WAKAF DALAM HUKUM ISLAM
D. Sejarah dan Perkembangan Wakaf
Wakaf merupakan perbuatan hukum pengalihan pemanfaatan suatu aset dari seseorang (wakif) kepada orang lain (umat manusia), dengan tetap melestarikan substansi haknya yang disebut juga sedekah jariyah. Bagi si wakif, wakaf merupakan amalan yang bermanfaat baik di dunia maupun berpahala di akhirat, wakaf berfungsi bagi wakif sebagai investasi dunia dan akhirat yang tiada putus-putusnya, dan yang akan menolong manusia di akhirat. Bagi umat Islam di dunia, wakaf merupakan sumber abadi dan berkembang secara kumulatif untuk
91 Kementerian Agama Republik Indonesia, Fiqih Wakaf..., hlm. 62
kepentingan umum, misalnya kepentingan pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan lain sebagainya,
Praktik wakaf telah dikenal sejak awal Islam, bahkan masyarakat sebelum Islam telah mempraktikkan sejenis wakaf, tapi dengan nama lain bukan wakaf. Praktik sejenis wakaf di masyarakat sebelum Islam dibuktikan dengan adanya tempat-tempat ibadah yang dibangun di atas tanah yang pekarangannya dikelola dan hasilnya untuk membiayai perawatan dan honor yang merawat tempat ibadah tersebut. Masjidil Haram di Makkah dan Masjid al Aqsha misalnya telah dibangun di atas tanah yang bukan hak milik siapapun, tetapi milik Allah. Kedua masjid itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.92
Praktik sejenis wakaf juga dikenal di Mesir, Roma dan Jerman. Di Mesir, Raja Ramses kedua mendermakan tempat ibadah “Abidus” yang arealnya sangat besar. Di dalam tradisi Mesir Kuno dikenal bahwa orang yang mengelola harta yang ditinggalkan mayit (harta waris), hasilnya diberikan kepada keluarganya dan keturunannya, demikian selanjutnya yang
92 Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengelolaan
mengelola dapat mengambil bagian dari harta tersebut namun harta pokoknya tidak boleh menjadi hak milik siapapun. Pengelolaan harta tersebut dengan cara bergilir dan bergantian dimulai dari anak yang tertua dengan syarat tidak boleh dimiliki. Praktik seperti ini sangat jelas kemiripannya dengan praktik wakaf, karena prinsipnya sama, yaitu pokok harta tetap kekal dan tidak boleh menjadi hak milik siapapun. Tapi hasil dari harta tersebut digunakan untuk kepentingan sosial.93
Ada aturan di Jerman yang mengatur agar masyarakat mengalokasikan modal kepada keluarganya dalam jangka waktu tertentu untuk dikelolanya, dan harta tersebut menjadi milik keluarga bersama atau kepemilikannya secara bergantian dimulai dari keluarga laki-laki kemudian keluarga perempuan dengan syarat harta tersebut tidak boleh dijual, tidak boleh diwariskan dan tidak boleh dihibahkan. Harta tersebut hendaknya dikelola secara baik dan hasilnya diambil untuk kepentingan bersama.
93 Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengelolaan
Sedangkan di Roma juga telah dipraktikkan sejenis wakaf, bahkan dalam bentuk uang.94
Karena praktik sejenis wakaf yang terjadi pada masyarakat sebelum Islam memiliki tujuan yang seiring dengan Islam, yaitu terdistribusinya kekayaan secara adil dan kemudian berujung pada kesejahteraan bersama, maka Islam mengakomodirnya dengan sebutan wakaf.
1. Wakaf pada Masa Rasulullah SAW
Wakaf di zaman Islam dimulai pada pada tahun kedua hijriah setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah bersamaan dengan kenabian Muhammad di Madinah yang ditandai dengan pembangunan Masjid Quba. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi hijrah ke Madinah sebelum pindah ke rumah pamannya yang berasal dari Bani al Najjar, kemudian dilanjutkan dengan pembangunan Masjid al Nabawi yang
94 Departemen Agama Republik Indonesia, Pedoman Pengelolaan, ... hlm. 7-8
dibangun di atas tanah anak yatim dari bani Al Najjar setelah dibeli oleh Rasulullah dengan harga 800 dirham.95
Wakaf lain yang dilakukan pada masa Rasulullah adalah wakaf tanah Khaibar dari Umar bin Khattab. Tanah ini sangat disukai Umar karena subur dan banyak hasilnya. Namun demikian, ia meminta nasehat kepada Rasulullah tentang apa yang seharusnya ia perbuat terhadap tanah itu, maka Rasulullah menyuruh Umar menahan pokoknya dan memberikan hasilnya kepada fakir miskin dan Umar melakukan hal tersebut. Peristiwa ini terjadi setelah pembebasan tanah Khaibar yang terlaksana pada tahun ketujuh hijriyah.
Nabi juga mewakafkan perkebunan Mukhairik, yang telah menjadi milik beliau setelah terbunuhnya Mukhairik ketika Perang Uhud. Beliau menyisihkan sebagian keuntungan dari perkebunan itu untuk memberi nafkah keluarganya selama satu tahun, sedangkan sisanya untuk membeli kuda perang, senjata dan untuk kepentingan kaum muslimin. Mayoritas
95 Munzhir Qahaf, Manajemen Wakaf Produktif, (Jakarta : Khalifah, 2005), hlm. 6
ulama fiqih mengatakan bahwa peristiwa itu disebut wakaf. Sebab Abu Bakar ketika menjadi khalifah tidak mewariskan perkebunan ini kepada keluarga Nabi, dan sebagian keuntungannya tidak lagi diberikan kepada mereka. Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia mempercayakan pengelolaan perkebunan ini kepada Abbas dan Ali bin Abi Thalib. Namun Umar kembali meminta perkebunan itu dan menyerahkannya kepada Baitul Mal.96
Hal yang sama juga terjadi pada perkebunan Bairukha yang diwakafkan oleh Abu Thalhah, padahal perkebunan itu adalah harta yang sangat dicintainya. Dengan turunnya Surat Ali Imran ayat 92, membuat Abu Thalhah bersemangat mewakafkan perkebunannya. Rasulullah telah menasehatinya agar ia menjadikan perkebunannya itu untuk keluarga dan keturunannya. Maka Abu Thalhah mengikuti perintah Rasulullah tersebut.
Selanjutnya disusul oleh sahabat Rasulullah yang lainnya, seperti Abu Bakar yang mewakafkan sebidang
96 Yulia Mirwati, Wakaf Tanah Ulayat dalam Dinamika Hukum
tanahnya di Makkah yang diperuntukkan untuk anak keturunannya yang datang ke Makkah. Usman bin Affan mewakafkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Mu’az bin Jabal mewakafkan rumahnya yang populer dengan sebutan Dar al Anshar. Kemudian pelaksanaan wakaf tersebut disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awam dan Aisyah istri Rasulullah SAW.97
Sahabat Utsman bin Affan juga mewakafkan sumur yang airnya digunakan untuk memberi minum kaum muslimin. Sebelumnya, pemilik sumur itu mempersulit dalam masalah harga, maka Rasulullah menganjurkan dan menjadikan pembelian sumur sunah bagi para sahabat. Beliau bersabda “Barang siapa yang membeli sumur Raumah, Allah mengampuni dosa-dosanya” (HR. An Nasa’i). Dalam hadis ini beliau menjanjikan bahwa yang membelinya akan mendapatkan pahala yang sangat besar kelak di surga. Karena
97 Departemen Agama RI, Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan
Wakaf, (Jakarta : Proyek Peningkatan dan Pemberdayaan Wakaf, 2004), hlm.
itu, Utsman membeli sumur itu dan diwakafkan bagi kepentingan kaum muslimin.98
2. Wakaf pada Masa Sahabat (Khulafaurrasyidin)
Tidak banyak sejarah mengenai wakaf yang diceritakan pada masa sahabat atau pada masa Khulafaurrasyidin. Namun terdapat perkembangan wakaf pada masa khalifah Umar bin Khattab.
Pada masa Umar bin Khattab menjadi khalifah, ia mencatat wakafnya dalam akte wakaf dengan disaksikan oleh para saksi dan mengumumkannya. Sejak saat itu banyak keluarga Nabi dan para sahabat yang mewakafkan tanah dan perkebunannya. Sebagian di antara mereka ada yang mewakafkan harta untuk keluarga dan kerabatnya, sehingga muncullah wakaf keluarga (wakaf dzurri atau wakaf ahli).99
Peristiwa sejarah yang sangat penting dan mungkin bisa dianggap sebagai peristiwa wakaf terbesar dalam sejarah manusia, baik dari sisi pelaksanaan maupun perluasan
98 Yulia Mirwati, Wakaf Tanah ..., hlm. 8
pemahaman tentang wakaf adalah wakaf tanah yang dibebaskan oleh Umar bin Khattab di beberapa negara seperti Syam, Mesir dan Iraq. Hal ini dilakukan Umar setelah bermusyawarah dengan para sahabat, yang hasilnya adalah tidak boleh memberikan tanah pertanian kepada tentara dan mujahid yang ikut dalam pembebasan tersebut.Umar memutuskan agar tanah-tanah tersebut dijadikan wakaf bagi umat Islam dan generasi Islam yang akan datang. Bagi para petani pengguna tanah wakaf ini dikenakan pajak yang dalam ekonomi Islam disebut pajak bumi.100
3. Wakaf pada Masa Dinasti Islam
Wakaf berkembang pada masa Dinasti Umaiyah dan Abbasiyah. Semua orang pada saat itu berduyun-duyun mewakafkan hartanya dan wakaf tidak hanya untuk orang-orang fakir dan miskin tetapi juga menjadi modal untuk membangun lembaga pendidikan, membangun perpustakaan
dan membayar gaji para staf, gaji para guru dan beasiswa.101 Antusias masyarakat dalam berwakaf telah menarik perhatian negara untuk mengatur pengelolaan wakaf sebagai energi demi membangun solidaritas sosial dan menggairahkan perekonomian masyarakat.
Wakaf pada mulanya hanyalah keinginan seseorang yang ingin berbuat baik dengan kekayaan yang dimilikinya dan dikelola secara individu tanpa ada aturan yang pasti. Namun setelah masyarakat Islam merasakan betapa besar manfaat wakaf, maka timbullah keinginan untuk mengatur perwakafan dengan baik. Kemudian dibentuk lembaga yang mengatur wakaf untuk mengelola dan memelihara harta wakaf, baik secara umum atau secara individu.
Ketertarikan umat Islam terhadap hal ini menuntut didirikannya suatu lembaga khusus yang bergerak di bidang wakaf, baik untuk menampung harta wakaf maupun pengelolaannya. Di samping itu, wakaf yang pada awal perjalanannya berlangsung tanpa adanya pengawasan atau
101 Departemen Agama RI, Bunga Rampai Perwakafan, (Jakarta : Peningkatan Pemberdayaan Wakaf, 2006), hlm. 13
intervensi dari pemerintah dalam pengembangannya juga menuntut didirikannya lembaga khusus yang berfungsi mengawasi wakaf. Hal ini dimulai oleh para hakim di kota Baghdad. Mereka berusaha mengawasi kinerja para pengelola wakaf. Ketika menemukan kekurangan atau kelalaian pengelolanya mereka akan segera memberi peringatan dan meluruskannya.102
Pada masa Dinasti Umaiyah, lembaga wakaf di bawah Departemen Kehakiman yang hasilnya disalurkan kepada yang berhak dan yang membutuhkan, dan lembaga tersebut di bawah pengawasan hakim. Pada masa Dinasti Abbasiyah, pimpinan lembaga wakaf disebut Sadr al Wuquf yang bertugas mengawasi pengelolaan wakaf dan menunjuk pihak-pihak tertentu untuk membantu pengawasan tersebut.103
Pada masa Dinasti Usmaniyah, wakaf telah meluas dan mendapat sambutan dari para penguasa, sehingga mereka mendirikan lembaga khusus tentang pengaturan pengelolaan
102 Muhammad Abid Abdullah al Kabisi, Hukum Wakaf ..., hlm. 27
103 Muhammad Abid Abdullah al Kabisi, Hukum Wakaf,... hlm. 28
wakaf, pemaparan bentuk wakaf dan teknis pendistribusiannya. Selain itu pada masa Dinasti Usmaniyah telah dibuat peraturan yang memuat pembagian macam-macam tanah, peraturan transaksi barang dan keuntungan wakaf.104
Pada masa Dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan wakaf cukup menggembirakan, hampir semua tanah pertanian menjadi harta wakaf dan semuanya dikelola oleh negara dan menjadi hak milik negara (baitul mal). Ketika Salahuddin Al Ayyubi memerintah Mesir, ia bermaksud mewakafkan tanah milik negara yang diserahkan kepada yayasan keagamaan dan yayasan sosial sebagaimana yang dilakukan oleh Dinasti Fatimiyyah sebelumnya meskipun masih terjadi perbedaan pendapat ulama mengenai hukum mewakafkan harta baitul mal.105
Salahuddin Al Ayyubi banyak mewakafkan lahan milik negara untuk kegiatan pendidikan, seperti mewakafkan
104 Muhammad Abid Abdullah al Kabisi, Hukum Wakaf,... hlm. 28-29
105 Departemen Agama RI, Strategi Pengamanan Tanah Wakaf, (Jakarta : Direktorat Pengembangan Zakat dan Wakaf, 2004), hlm. 12
beberapa desa (qaryah) untuk pengembangan madrasah mazhab Syafi’i, madrasah mazhab Maliki dan madrasah mazhab Hanafi dengan dana melalui model mewakafkan kebun dan lahan pertanian.106
Perkembangan wakaf pada masa Dinasti Mamluk sangat pesat dan beraneka ragam, sehingga apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Akan tetapi paling banyak yang diwakafkan pada masa itu adalah tanah pertanian dan bangunan, seperti gedung perkantoran, penginapan dan tempat belajar. Dan manfaat wakaf digunakan sebagaimana tujuan wakaf, seperti wakaf keluarga untuk kepentingan keluarga, dan wakaf umum untuk kepentingan sosial.107
Yang lebih membawa syiar Islam adalah wakaf untuk sarana di Haramain, yaitu Makkah dan Madinah. Misalnya mengganti kain Ka’bah (kiswah) setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi SAW dan mimbarnya setiap lima tahun sekali yang dibiayai dengan membeli Desa Bisus oleh Raja Shaleh bin Nasir yang kemudian diwakafkannya.
106 Departemen Agama RI, Pedoman Pengelolaan ..., hlm. 12
Kemudian pada perkembangan berikutnya, manfaat wakaf telah menjadi tulang punggung roda ekonomi Dinasti Mamluk.108
Selanjutnya pada masa Dinasti Turki Usmani memperluas wilayah kekuasaannya dengan menguasai sebagian wilayah Arab, dikeluarkan peraturan tentang pembukuan pelaksanaan wakaf pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1280 H. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi wakaf, cara pengelolaan wakaf, upaya mencapai tujuan wakaf dan melembagakan wakaf dalam upaya realisasi wakaf dari sisi administrasi dan perundang-undangan. Kemudian peraturan ini disempurnakan dengan undang-undang yang menjelaskan tentang kedudukan tanah-tanah kekuasaan Turki Usmani dan tanah-tanah-tanah-tanah produktif yang berstatus wakaf pada tahun 1287 H .109
Wakaf terus dilaksanakan di negara-negara Islam hingga sekarang, tidak terkecuali Indonesia karena wakaf menjadi amal sosial yang mampu memberikan manfaat kepada
108 Departemen Agama RI, Pedoman Pengelolaan ...
masyarakat umum. Wakaf akan terus mengalami perkembangan dengan berbagai inovasi yang signifikan seiring dengan perubahan zaman.