• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan latar belakang diatas maka hal tersebut dapat diperoleh rumusan masalah yaitu Apakah pengaruh sikap konsumen terhadap quality of service karyawan pada Toko Alfamart Abdesir Masale PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin di capai adalah untuk mengetahui apakah sikap konsumen berpengaruh terhadap quality of service karyawan pada Toko Alfamart Abdesir Masale PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, Makassar

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang luas mengenai sikap konsumen terhadap quality of service karyawan Alfamart dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama proses perkuliahan

2. Bagi Perusahaan

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan perusahaan untuk mengembangkan usahanya yang dilihat dari segi kepuasan konsumen.

3. Bagi Akademik

Dari hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan tambahan ilmu pengetahuan serta dapat menjadi literatur bagi penelitian selanjutnya mengenai sikap konsumen Alfamart.

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Pengertian Analisis Sikap Konsumen 1.1 Pengertian Analisis

Menurut kamus besar bahasa Indonesia “ Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubunganantara bagian untuk memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman artikeseluruhan “. Menurut nana sudjana (2016:27) “Analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hirarkinyadan atau susunannya“. Menurut Abdul Majid (2013:54) “ Analisis adalah (kemampuan menguraikan) adalah menguraikan satuan menjadi unit-unit terpisah, membagi satuan menjadi sub-sub atau bagian, membedakan antara dua yang sama, memilih dan mengenai perbedaan (diantara beberapa yang dalam satu kesatuan)”.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis adalah suatu kegiatan untuk menemukan temuan baru terhadap objek yg akan diteliti ataupun diamati oleh peneliti dengan menemukan bukti-bukti yg akurat pada objek tersebut.

1.2 Pengertian Sikap Konsumen

Setiap orang mempunyai kecenderungan untuk bersikap dengan cara yang menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu objek tertentu. Sikap merupakan salah satu konsep

yang paling penting yang digunakan perusahaan untuk memahami konsumen. Perusahaan sangat berkepentingan pada sikap konsumen terhadap produknya, karena sikap yang positif akan menghasilkan pembelian, bukan saja dari konsumen yang bersangkutan tetapi rekomendasi kepada teman-teman maupun keluarganya juga akan membuahkan pembelian yang menguntungkan perusahaan. Sebaliknya, sikap negatif terhadap produk akan menghasilkan penolakan, dan sikap yang demikian ini akan diteruskan untuk mempengaruhi orang lain. Berikut ini beberapa definisi mengenai sikap:

a. Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Susanta (2015:104)

“Sikap adalah kecenderungan yang diperljari dalam berperilaku dengan cara menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu objek tertentu.”

b. Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:194)

“Sikap adalah tanggapan perasaan konsumen yang bisa berupa perasaan suka atau tidak suka terhadap objek tertentu.”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Sedangkan Schiffman dan Kanuk (2015:82) mengklasifikasikan konsumen menjadi dua macam yaitu konsumen individual dan konsumen organisasi. Konsumen individual adalah orang-orang atau individu yang membeli produk (barang, jasa, atau ide) untuk

dikonsumsi sendiri (misalnya, notebook elektronik), untuk pemakaian rumah tangga, atau untuk dikonsumsi bersama teman. Sedangkan konsumen organisasi diartikan sebagai lembaga atau instansi yang membeli produk (barang, jasa, atau ide) untuk diperjualbelikan atau untuk kepentingan instansi/ lembaga tersebut. Berdasarkan definisi diatas maka diketahui bahwa Sikap Konsumen adalah gabungan dari kepercayaan, perasaan, dan kecenderungan untuk berperilaku terhadap sebuah objek.

1.3 Karakteristik Sikap

Menurut Schiffman dan Kanuk (2015:95) karakteristik sikap terdiri dari:

a. Obyek Sikap, kata obyek dalam definisi mengenai sikap yang berorientasi pada konsumen harus ditafsirkan secara luas meliputi konsep yang berhubungan dengan konsumsi atau pemasaran khusus, seperti produk, merk, jasa, kepemilikan, penggunaan produk, sebab-sebab atau isu, orang, iklan, situs internet, harga, medium, atau pedagang ritel.

b. Sikap adalah kecenderungan yang dipelajari, hal ini berarti bahwa sikap yang berkaitan dengan perilaku membeli dibentuk sebagai hasil dari pengalaman langsung mengenai produk, informasi secara lisan dari orang lain, iklan media masa, dan bentuk pemasaran langsung (seperti katalog ritel).

c. Sikap mempunyai konsistensi, hal ini berarti sikap relatif konsisten dengan perilaku yang dicerminkannya.

d. Sikap terjadi dalam situasi tertentu, maksud situasi disini adalah berbagai peristiwa atau keadaan yang pada tahap dan waktu tertentu, mempengaruhi hubungan antara sikap dan perilaku konsumen. Situasi tertentu dapat menyebabkan para konsumen berperilaku dengan cara yang kelihatannya tidak konsisten dengan sikap mereka.

1.4 Komponen Sikap

Sikap terdiri dari tiga komponen yang saling berhubungan yang dapat dilihat melalui model sikap tiga komponen. Model ini terfokus pada penentuan secara tepat komposisi sikap dengan maksud agar perilaku dapat dijelaskan dan diperediksi. Menurut model ini sikap terdiri dari tiga komponen(Schiffman & Kanuk, (2015: 225), yaitu:

a. Komponen Kognitif

Kognitif berkaitan dengan pikiran (otak) seseorang, apa yang dipikirkan konsumen. Sedangkan komponen kognitif ialah pengetahuan dan persepsi yang diperoleh melalui kombinasi dari pengalaman langsung dengan obyek sikap dan informasi terkait yang didapat dari berbagai sumber. Pengetahuan dan persepsi yang dtimbulkan biasanya mengambil bentuk kepercayaan, yaitu kepercayaan konsumen bahwa obyek sikap mempunyai berbagai sifat dan bahwa perilaku tertentu akan menimbulkan hasil tertentu.

b. Komponen Afektif

Afektif berkaitan dengan perasaan, jadi sifatnya emosianal dan wujudnya berupa perasaan senang, sedih, ceria, gembira dan sebagainya. Sedangkan komponen afektif ialah emosi atau

perasaan terhadap suatu produk atau merek tertentu. Emosi dan perasaan ini sering dianggap bersifat sangat evaluatif yaitu mencakup penilaian seseorang terhadap obyek sikap secara langsung dan menyeluruh..

c. Komponen Konatif

Konatif berkaitan dengan tindakan. Sedangkan komponen konatif ialah kecenderungan seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan dan perilaku dengan cara tertentu terhadap suatu obyek sikap. Komponen konatif dalam pemasaran penelitian konsumen lazimnya diperlakukan sebagai ekspresi niat konsumen untuk membeli atau menolak suatu produk.

1.5 Macam-macam Sikap

Menurut Partini dalam Sunyoto (2012:274), sikap dapat dibedakan menjadi dua yaitu sikap sosial dan sikap individual yaitu:

a. Sikap Sosial.Sikap sosial merupakan sikap yang tidak dinyatakan oleh seorang saja tetapi diperhatikan oleh orang-orang sekelompoknya. Objeknya adalah objek sosial dan dinyatakan berulang-ulang.

b. Sikap Individu. Sikap Individu merupakan sikap yang hanya dimiliki secara individual seorang demi seorang. Objeknya bukan merupakan objek sosial. Selain pembagian sikap seperti tersebut diatas, sikap juga dibedakan atas sikap positif dan sikap negatif.

1) Sikap Positif yaitu sikap yang menunjukkan penerimaan, mengakui, menyetujui serta melaksanakan norma-norma yang berlaku di mana individu itu berada.

2) Sikap Negatif yaitu sikap yang menunjukkan perilaku yang tidak setuju terhadap norma-norma yang berlaku di mana individu berada.

Sikap positif dan sikap negatif berhubungan dengan norma, tanpa mengetahui norma yang berlaku maka tidak akan tahu apakah sikap seseorang itu positif atau negatif (Sunyoto, 2012:274)

2. Quality Of Service Karyawan 2.1 Pengertian Pelayanan

Kualitas pelayanan (service quality) dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang nyata-nyata mereka terima/peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan/inginkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan. Jika jasa yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan yang dipersepsikan baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan dengan sangat baik dan berkualitas.

1) Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan/konsumen.

2) Pelayanan adalah sebuahproduk, yang ditawarkan dan disampaikan kepada pelanggan yang membutuhkan.

3) Pelayanan tidak hanya terbatas sebagai produk jasa, melainkan sebagai yang menyertai produk barang dalam penyampaian.

4) Pelayanan secara luas mencakup baik yang kelihatan (tangibles) maupun yang tidak kelihatan (intangibles).

Pelayanan dalam hal ini sangat erat kaitannya dengan hal pemberian kepuasan terhadap pelanggan, pelayanan dengan mutu yang baik dapat memberikan kepuasan yang baik pula bagi pelanggannya, sehingga pelanggan dapat lebih merasa diperhatikan akan keberadaannya oleh pihak perusahaan. Dalam bukunya yang tertajuk hubungan masyarakat membina hubungan baik dengan public.

Loina (2012: 138) beranggapan bahwa: Pelayanan merupakan suatu proses keseluruhan dari pembentukan citra perusahaan, baik melalui media berita, membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan kepada para pemimpin pemerintah serta publik lainnnya yang berkepentingan.

Penekanan terhadap definisi pelayanan diatas adalah pelayanan yang diberikan menyangkut segala usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mencapai tujuan guna untuk mendapatkan kepuasan dalam hal pemenuhan kebutuhan.

Sedangkan Brata mengeluarkan definisi yang berbeda dalam karya yang berjudul dasar-dasar pelayanan prima, megatakan bahwa:

“Sesuatu pelayanan akan terbentuk karena adanya proses pemberian layanan tertentu dari pihak penyedia layanan kepada pihak yang dilayani.

2.2 Kualitas Pelayanan

Menurut Assegaff (2016:105), definisi kualitas pelayanan adalah ukuran sejauh mana suatu pelayanan yang diberikan dapat

memenuhi harapan pelanggan.Kualitas pelayanan menurut Tjiptono (2012:94), adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan. Dengan kata lain, ada dua faktor utama mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu expected service dan perceived service atau kualitas pelayanan yang diharapkan dan kualitas pelayanan yang diterima atau rasakan. Apabila perceived service sesuai dengan expected service, maka kualitas pelayanan dipersepsikan naik atau positif, jika perceived service melebihi expected serv``ice, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas ideal, sebaliknya apabila perceived service lebih jelek dibandingkan expected service, maka kualitas pelayanan dipersepsikan negative atau buruk. Oleh sebab itu baik tidaknya kualitas pelayanan tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan pelanggannya secara konsisten.

Menurut Kotler (2012:117) definisi pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik.Pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pada konsumen itu sendiri.Kotler juga mengatakan bahwa perilaku tersebut dapat terjadi pada saat, sebelum dan sesudah terjadinya transaksi. Pada umumnya pelayanan yang bertaraf tinggi akan menghasilkan

kepuasan yang tinggi serta pembelian ulang yang lebih sering. Kata kualitas mengandung banyak definisi dan makna, orang yang berbeda akan mengartikannya secara berlainan tetapi dari beberapa definisi yang dapat kita jumpai memiliki beberapa kesamaan walaupun hanya cara penyampaiannya saja biasanya terdapat pada elemen sebagai berikut:

1. Kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihkan harapan pelanggan.

2. Kualitas mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan

3. Kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah.

Secara teoritis, tujuan dari pelayanan pada dasarnya adalah memuaskan masyarakat, untuk mencapai kepuasan itu dituntut kualitas pelayanan prima (quality service excellence) yang tercermin dari:

a. Transparansi, adalah pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.

b. Akuntability, adalah pelayanan yang dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Conditional, adalah pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip efesiensi dan efektivitas.

d. Partispatif, adalah pelayanan yang dapat mendorong peran serta masyarakat dalam menyelenggarakan pelayanan publik dengan memperlihatkan aspirasi, kebutuhan, dan harapan masyarakat.

e. Kesamaan Hak, adalah pelayanan yang tidak melakukan diskriminasi dilihat dari aspek apapun khususnya suku, ras, agama, golongan, status sosial dan lain-lain.

f. Keseimbangan hak dan kewajiban, adalah pelayanan yang mempertimbangkan aspek keadilan antara pemberi dan penerima pelayanan publik

Menurut Lovelock and Wright (2012:103) kualitas pelayanan merupakan evaluasi kognitif jangka panjang pelanggan terhadap penyerahan jasa suatu perusahaan. Menurut Parasuraman (2014:176), kualitas pelayanan dapat dilihat dari lima dimensi antara lain :

1). Bukti langsung (Tangibles) merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukan eksistensinya kepada pihak ekternal.

2). Keandalan (Realibility) kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya.

3). Ketanggapan (Responsiveness) merupakan suatu kebiajakan untuk membantu dan memberikan palayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas

4). Jaminan (Assurance) merupakan pengetahuan kesopan santunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan.

5). Empati (Empathy) merupakan pemberian perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen.

Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis uang berpengaruh dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang melebihi atau memenuhi harapan (Tjiptono, 2012:145). Sehingga definisi kualitas pelayanan dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyempaiannya dalam mengimbangi harapan konsumen.

Menurut Kotler (2012:165) definisi pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pada konsumen itu sendiri.

Pada umumnya pelayanan yang bertaraf tinggi akan menghasilkan kepuasan yang tinggi serta pembelian ulang yang lebih sering. Pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain secara langsung. Sedangkan pengertian pelayanan dalam kamus umum Bahasa Indonesia, pelayanan adalah menolong menyediakan segala apa yang diperlukan orang lain

seperti tamu atau pembeli. Menurut Kotler (2012:189) pelayanan adalah aktivitas atau hasil yang dapat ditawarkan oleh sebuah lembaga kepada pihak lain yang biasanya tidak kasat mata, dan hasilnya tidak dapat di miliki oleh pihak lain tersebut.

B. Tinjauan Empiris

Tinjauan Empiris merupakan hasil penelitian terdahulu yang mengemukakan beberapa konsep yang relevan dan terkait dengan Analisis Sikap Konsumen terhadap quality of service karyawan.Tinjauan empiris bertujuan untuk mendapatkan bahan perbandingan dan acuan dalam penyusunan penelitian.Kegunaannya untuk mengetahui hasil yang telah dilakukan oleh penelitian terdahulu. Hasil-hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan Multiatribut Attitude Model , Hasil menunjukkan bahwa: pada atribut tampilan fisik dengan total sikap 4,48 masuk dalam kategori cukup,kehandalan dengan total sikap 6,61 masuk dalam kategori sangat positif, daya tanggap dengan total sikap 3,87 masukdalam kategori sangat positif, jaminan dengan total sikap 6,60 masuk dalam kategori sangat positif dan empati dengan total 4,80 masuk dalam kategori positif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa total dari keseluruhan sikap konsumen terhadap kualitas pelayanan jasa perbaikan mobil WR Unlimited Design sebesar 26,35 yang terletak pada range

positif,artinya responden melihat dan merasakan bahwa kualitas pelayanan jasa yang diberikan oleh WR Unlimited Design positif

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen SPBU Pasti Pas di kota Palembang memiliki sikap positif yang menyatakan menarik dan setuju semua atribut yang terdapat pada komponen kognitif, efektif, dan konatif padalayanan SPBU Pasti Pas faktor sikap yang di anggap paling menarik pada konsumen SPBU Pasti Pas ialahkualitas BBM yang terjamin mutunya diketahui bahwa atribut yang paling penting menemukan sikap konsumen untuk menginap di Hotel Bandung permai adalah atribut reability karena kepentingan terhadap atribut reability memiliki skor tertinggi sebesar 173, yang diikuti atribut assurancy sebesar 166, di urutan ketiga atribut tangible sebesar 156, kemudian responsiveness sebesar 129 dan yang terakhir atribut empathy sebesar 124. Dari analisis MAM dapat diketahui bahwa harapan (ideal) atau keyakinan (belied) menunjukkan sikap yang sangat positif dan signifika n, konsumen yang sedang menginap di Hotel Bandung Permai, yaitu sebesar 26.

Dari hasil penelitian ini terdapat pengeruh antara kualitas pelayanan dengan pembentukan sikap konsumen pada studio D-five. Besarnya pengaruh kualitas pelayanan terhadap pembentukan sikap konsumen pada studio D-five semarang adalah 49,4% dan sisanya sebesar 50,6%

Jasa Studio Musik D-Five Semarang

dipengaruhi faktor lain diluar kualitas pelayanan yang tidak diteliti oleh peneliti ini yang berarti terdapat pengaruh signifikan.

ada perbedaan yang signifikan dalam kepuasan pelanggan Ketika konsumen melakukan pembelian online dan offline.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, saran yang diberikan bagi penjual online shop

sebaiknya memberikan

keterangan atau informasi yang lengkap terkait dengan deskripsi produk yang dijual dan bagi penjual offline shop sebaiknya tetap memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen dalam berbelanja.

C. Kerangka Pikir

Gambar 2.1 Kerangka Pikir

D. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka konseptual yang mendukung, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah

“Diduga sikap konsumen berpengaruh positif dan signifikan terhadap quality of service karyawan pada Toko Alfamart Abdesir Masale, PT.

Quality of service karyawan (Y) a. Bukti langsung

b. Keandalan c. Ketanggapan d. Jaminan e. Empati

( (Sumber: Parasuraman,2014:176)

22

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu semua informasi diwujudkan dalam bentuk angka dan dianalisis berdasarkan analisis statistik.Selain itu penelitian ini bersifat expost facto, karena penelitian ini bertujuan menggambarkan keadaan atau fenomena yang terjadi di lapangan, artinya penelitian ini tidak dibuat perlakukan atau manipulasi data pada variabel penelitiam melainkan hanya menggunakan fakta pada diri responden.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Toko Alfamart Abdesir Masale, PT.

Sumber Alfariya Trijaya, Makassar.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari bulan November 2021 sampai dengan bulan Desember 2021.

C. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran

1. Definisi Operasional Variabel

Menurut Sanusi (2021) definisi operasional variabel adalah kegiatan mengelaborasi teori konstruk atau variabel sampai pada indikatornya, Dalam penelitian ini definisi operasional variabel adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Definisi Operasional Variabel

Variabel Indikator Sumber

Sikap Konsumen 1. Kognatif 2. Efektif 3. Konatif

Schiffman dan Kanuk (2015:225)

Quality Of Service 1. Bukti langsung 2. Kehandalan

Untuk mengukur variabel penelitian ini maka digunakan instrument berupa angket.Penelitian ini terdiri dari variabel Sikap Konsumen (X) dan Quality Of Service (Y)

Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup dimana jawaban sudah tersedia dan responden tinggal memilih jawaban yang tersedia.Skala pengukuran angket penelitian ini adalah skala likert yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang sosial atau variabel penelitian menurut Sugiyono.

Dengan skala likert, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Kemudian jawaban disetiap item tersebut mempunyai gardasi positif dan negative yang dapat dinyatakan sebagai berikut :

1. Sangat Setuju (SS) : dengan skor 5

2. Setuju (S) : dengan skor 4

3. Biasa (B) : dengan skor 3

4. Tidak Setuju (TS) : dengan skor 2

5. Sangat Tidak Setuju (STS) : dengan skor 1

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2018:117) populasi merupakan wilayah generalisasi terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Adapun yang menjadi Populasi dalam penelitian ini yaitu konsumen yang datang berbelanja pada Toko Alfamart Abdesir Masale, PT. Sumber Alfariya Trijaya, Makassar sebanyak 90 orang pada bulan November-Desember 2021

2. Sampel

Sugiyono (2018:118) Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Sehingga merupakan sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki serta dapat mewakili keseluruhan populasinya sehingga jumlahnya lebih sedikit dari populasi. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang datang berbelanja di Toko Alfamart Abdesir Masale berjumlah 90 orang.

Hal ini dilakukan untuk mempermudah dalam pengelolaan data dan untuk hasil pengujian yang lebih baik, Sehingga dalam penelitian ini sampel yang diambil juga menggunakan teknik simple random

sampling dikatakan simple (sederhana) karena pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono 2018:120).

Jumlah populasi kurang dari 100 orang, maka jumlah sampel diambil secara keseluruhan, tetapi jika jumlah populasinya lebih besar dari 100 orang, maka bisa di ambil antara 10-25% atau 24-30%

atau lebih tergantung dari kemampuan peneliti dilihat dari segi waktu, tenaga dan dana seperti sempit luasnya wilayah dan besar kecilnya resiko yang di tanggung oleh peneliti. Dengan pernyataan ini maka penulis mengambil sampel yaitu 90 orang

E. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2018:70), metode pengumpulan data yang umum digunakan dalam suatu penelitian adalah

1. Observasi

Menurut Sugiyono (2018:203) Observasi adalah suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari beberapa proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.Sehingga peneliti melakukan teknik pengumpulan data melalui pengamatan langsung di Toko Alfamart Abdesir Masale.

2. Kuesioner (angket)

salah satu alat pengumpulan data dengan membuat daftar pertanyaan secara tertulis. Angket atau kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau petanyaan tertulis kepada responden untuk diberikan

respon sesuai dengan permintaan pengguna. (S.Eko Putra Widoyoko,2013: 33)

F. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel dari seluruh responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dariseluruh responden, menyajikan data dari setiap

Analisis data merupakan kegiatan mengelompokkan data berdasarkan variabel dari seluruh responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dariseluruh responden, menyajikan data dari setiap

Dokumen terkait