BAB IV TEMUAN DATA DAN INTERPRESTASI DATA
4.9. Interprestasi Data
4.9.4. Sakit pada anak-anak dan pengobatan tradisional
4.9.4.1. Konsep Sakit Sawanan
Sawanan adalah salah satu fenomena alam sekaligus budaya yang tak lekang oleh waktu, hingga saat ini budaya penyembuhan unik ini masih berjalan dan dapat kita jumpai di Desa Tanah Tinggi. Perawatan tradisional yang dilakukan sejak jaman nenek moyang masih lestari, dan masyarakat menganggapnya sebagai salah satu kekayaan dan kearifan lokal yang masih lestari. Fenomena sakit bernama sawanan adalah sebuah penyakit berupa panas tinggi pada anak, kadang disertai rengekan dan tangisan pada anak secara terus-menerus tanpa henti yang tidak diketahui penyebabnya secara medis. Sakit ini sering sekali diderita oleh anak-anak
usia dibawah 5 tahun. Hal ini Sesuai dengan hasil wawancara dengan Ki Sarjan sebagai berikut:
“Saya sering dimintai tolong untuk menyembuhkan sakit pada anak-anak. Kebanyakan sakitnya seperti sawanan. Sawanan banyak macam-macamnya, ada sawan pada anak yang kena pada kulitnya, ada sawan anak yang diganggu makhluk halus, kesambet dan lain sebagainya.”
Ibu suku Jawa khususnya di Desa Tanah Tinggi saat dihadapkan pada situasi ini segera memeriksakan anaknya dukun. Dukun tersebut kemudian menjelaskan gejala sakit sawanan tersebut disebabkan karena anak tersebut sedang menyambut sang bayi di keluarga besarnya. Dukun tersebut hanya memberikan saran agar mencari siapa diantara adik, kakak, atau keluarga dekat maupun jauh yang sedang hamil. Menurut kepercayaan mereka salah satu cara penyembuhannya adalah dengan mendatangi sang kerabat yang sedang hamil tersebut kemudian anak yang sakit tersebut diberikan air untuk diminum, atau dimandikan oleh kerabatnya yang hamil tersebut, kemudian anak yang sakit tersebut diberi selimut, atau kain yang dipakai tidur oleh keluarga yang hamil. Setelah hal tersebut dilakukan sakit sawanan pun hilang dalam satu atau dua hari. Seorang Ibu yang tengah hamil memberikan air untuk diminumkan kepada anak kerabatnya yang terkena sawanan.
Dalam menjelaskan tentang sakit pada anak dapat juga dipaparkan oleh Samiyem, hasil wawancaranya sebagai berikut :
“Anak saya pernah kena sawanan, walaupun sudah diperiksakan ke Bidan ataupun Puskesmas terdekat ternyata tak kunjung sembuh juga malah semakin menjadi. Terus saya bawa ke dukun, setelah mendengarkan nasihat dan perintahnya
tentang tata cara pengobatannya, tidak terlalu lama setelah diobati sawanan pada anak saya sembuh.”
Ungkapan di atas dipertegas dengan kutipan wawancara dengan Ibu Warsiah yaitu sebagai berikut :
“Anak saya pernah kena sawan, saya langsung membawanya ketempat dukun anak untuk diobati, dengan metode pengobatan suwok yaitu dengan memberi jampi dan mantra pada segelas air putih untuk diminum dan dibasuhkan kebadan anak sayai. Ini cara yang selalu saya pakai apabila anak saya sakit ini lagi.”
Pengalaman gejala sakit yang terjadi pada anak seperti tatapan mata anak yang beda, di matanya ada ketakutan yang tak biasa, dan menangis sampai tidak mengeluarkan suara dari mulutnya yang tidak diketahui penyebabnya. Masyarakat dapat memutuskan untuk di bawa ke pengobatan modern atau pengobatan tradisional. Setelah peran pengobatan modern tidak dapat menyelesaikan masalah sakit, maka masyarakat mencari pengobatan tradisional yaitu melalui peran dukun. Dari dukun tersebut memberi jawaban bahwa anak saya terkena sawan manten yaitu gangguan mahluk halus yang ikut pulang ke rumah pada saat si Ibu menghadiri pesta pernikahan. Menurut penjelasan dukun tersebut, anak di bawah 1 tahun sebaiknya tidak diajak ke pesta pernikahan, melayat orang mati, dan pesta kithanan. Hal itu terjadi karena besar kemungkinan anak akan terkena sawanan, dan anak umur di bawah 1 tahun sangat peka dengan hal-hal gaib. Dukun tersebut memaparkan bahwa anak yang berumur dibawah 1 tahun jika diajak ke pesta pernikahan, anak tersebut harus diolesin bedak bekas riasan penganten sebagai syarat. Kemudian dukun menggunakan pengobatan tradisional suwok pada anak. Metode yang digunakan
dukun tersebut adalah menggunakan segelas air putih, kemudian air tersebut di usapkan ke seluruh tubuh anak saya termasuk muka dan rambutnya. Setelah si Ibu melakukan kegiatan yang dianjuran oleh dukun tersebut. lambat laun anaknya sudah bisa diam dan tidak menangis lagi, kemudian tertidur. Hal di atas dipertegas dengan kutipan wawancara oleh Mulianti yaitu :
”Sakit yang disebabkan oleh penyakit yang tidak dapat diobati oleh pengobatan oleh dokter, maka pilihan untuk mengatasinya adalah pergi kedukun dan mengikuti segala ketentuan yang diberikannya. Hal ini saya lakukan semata-mata untuk mencari kesembuhan.”
Dari pemaparan di atas dapat dijelaskan bahwa pengobatan tradisional yang dilakukan oleh dukun seperti mengkonsultasikan masalah sakit, dukun dapat mengerti dan mengetahui gejala tersebut terjadi dan cara mengatasinya. Hal-hal yang dilakukan merupakan suatu tindakan yang mengarah kepada hal yang tidak masuk akal pikiran manusia pada umumnya, tetapi memilki peran dalam menjelaskan tindakan yang harus dilakukan dalam mendapatkan kesembuhan. Budaya Jawa terkenal dengan sesuatu yang terkadang tak bisa dinalar oleh logika pada umumnya, bahkan terkadang ilmu medis modern masih sulit menerimanya ketika fakta menunjukkan kesembuhan seseorang bisa dicapai melalui hal yang berbau kepercayaan terhadap tradisi, mistik dan sangat berakar pada budaya. Begitu juga berdasarkan hasil wawancara dengan Mbah Lamiah sebagai berikut:
“Saya berobat kedukun setelah mendengarkan hal-hal apa saja yang harus dilakukan dan mengikuti anjurannya, lambat laun penyakit yang saya derita hilang, walaupun terkadang anjurannya susah untuk dipahami, tetapi saya tetap menjalani ritual yang dilakukan dukun tersebut.”
Hal-hal yang dilakukan merupakan tindakan yang sesuai dengan adat dan istiadat yang ada pada masa lalu dan telah melekat dengan pengalaman mereka dalam menyingkapi masalah penyakit dalam pengaruh sakit. Kedekatan antara cara pandang dan pengalaman sakit dengan budaya khususnya jawa, menempatkan bahwa budaya adalah titik awal dimulainya pengalaman dalam mencari proses penyembuhan penyakit yang dilakukan oleh masyarakat.
Sakit sawanan dapat diobati oleh dukun dan dapat pula diobati oleh orang tua anak sendiri. Salah satu sawan yang dapat diobati orang tua anak dan paling sering dialami anak pada usia 6 bulan yaitu sawan kulit. Sawan ini ada 2 macam yaitu sawan cimplukan dan sawan kikir. Gejala penyakit tersebut yaitu terjadinya pengelupasan kulit pada tubuh anak berdasarkan jenis sawan yang terjadi. Nama penyakit tersebut disesuaikan dengancara pengobatannya yaitu dengan mandi dengan air hangat menggunakan tumbuhan cimplukan dan menggunakan kikir. Berikut kutipan wawancara dengan Ibu Atik sebagai berikut :
“Pada masa usia anak yang masih beberapa bulan, harus mendapat perhatian yang lebih oleh orang tuanya. Penyakit sawan kulit sering sekali dialami oleh anak sekali seumur hidup, dan pengalaman dari oang tua dahulu sudah mengajarkan cara dan proses pengobatannya yang sudah menjadi kebiasaan bagi saya. Cara pengobatannya hanya dengan cara memandikan anak dengan air hangat yang dicampurkan oleh alat kikir atau tanaman cimplukan sebagai simbol atas penyakit yang pada anak akan hilang terbawa oleh air.”
4.9.4.2. Perspektif sakit Gondokan pada Anak dalam kebudayaan Jawa
Gondongan adalah penyakit yang menyebabkan pembengkakan di sekitar pipi dan leher yang disertai demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Penyakit ini
sering dialami oleh anak-anak yang disebabkan oleh kondisi badan yang menurun, dikarenakan kekurangan zat yodium dalam tubuh. Dalam pengobatan tradisional jawa, sangat berbeda dengan cara pengobatan modern. Pengobatan secara tradisional pada anak penderita penyakit gondok ini biasanya hanya mengoleskan blau ke area yang mengalami gondokan dan kemudian anak tersebut diberikan kalung yang terbuat dari benang telon atau tiga warna, yang sudah diberi buah pace yang masih muda. Masyarakat memiliki pengetahuan, jika buah pace tersebut mengempis dan menghitam, berarti gondokan yang diderita anak tersebut akan mengempis seperti buah pace. Hal ini sesuai kutipan wawancara dengan Samiyem sebagai berikut :
“Pada usia 4 tahun anak saya pernah mengalami gondokan. Penyakit ini biasa terjadi pada anak-anak. Cara untuk mengobati penyakit tersebut sangatlah sederhana dan muda dilakukan hanya memberikan blau pada gondokannya dan memakaikan kalung berupa buah pace yang masih kecil. Setelah beberapa hari gondokannya kempis.”
Pernyataan di atas di pertegas oleh Ibu Atik sebagai berikut :
“Penyakit gondokan sering terjadi oleh anak-anak dan cara pengobatannya tidak perlu menggunakan obat yang mahal, kebiasaan warga sini diobati dengan tanaman buah pace yang sudah matang kemudian di blender kemudian diminum dan dioleskan juga kunyit yang sudah dihaluskan kebagian gondokan tersebut.”
4.9.4.3. Pengobatan Tradisional Suwok
Pengobatan suwok merupakan pengobatan yang dilakukan oleh dukun ketika menyembuhkan anak dengan cara memberi satu gelas air yang sudah diberi amalan untuk dioleskan ke seluruh tubuhnya. Di desa Tanah Tinggi, pengobatan ini dilakukan pada anak-anak yang mengalami gangguan yang tidak wajar yang dianggap sebagai gangguan yang dilakukan oleh makhluk halus, dikarenakan anak
yang sakit sudah melakukan kesalahan terhadap pantangan-pantangan yang ada sebagai bentuk balasan dari perbuatannya ataupun gejala yang terjadi pada anak yang terkena sawanan. Penyakit yang ditimbulkan seperti anak yang menangis dengan suara keras, perasaan ketakutan, perasaan tidak nyaman, perasaan cemas yang tidak menentu, dan emosi yang terganggu yang terjadi pada malam hari.
Pengobatan tradisional suwok yang mereka lakukan dikarenakan pengobatan tersebut dapat menyembuhkan penyakit yang tidak dapat diobati oleh pengobatan modern. Hal ini disesuaikan berdasarka pengalaman dan kebiasaan mereka terhadap pengetahuan kesehatan yang sudah ada lama dan terus menerus dijalankan hingga sekarang.