BAB II. PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN
A. SAKRAMEN BAPTIS
Kristiani dan mengajukan bersama orang tua calon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis hidup secara Kristiani yang sesuai dengan baptisnya serta memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptisan itu” (KHK, kan. 872).
Berkaitan dengan tugas umat beriman yang tertuang dalam KHK di atas,
Katekismus Gereja Katolik (KGK) juga menggarisbawahi betapa pentingnya
peranan orang tua/wali baptis. Tugas mereka adalah jabatan gerejani yang sebenarnya (officium). Seluruh persekutuan Gereja ikut bertanggungjawab untuk pengembangan dan perlindungan rahmat pembaptisan (KGK 1255). Baik
pengertian KHK maupun KGK, nampak bahwa rahmat pembaptisan ini dapat berkembang atas bantuan orang tua dan wali baptis. Baik orang tua maupun wali baptis harus menjadi orang Kristiani yang baik yang mampu dan siap mendampingi anak dan orang dewasa yang baru dibaptis pada jalan kehidupan Kristiani.
Menanggapi begitu pentingnya peran dan tanggung jawab wali baptis dan seluruh persekutuan Gereja dalam pengembangan dan perlindungan rahmat pembaptisan ini serta bertitik tolak dari Injil Markus 16:15-16a. Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahkluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.”
Atas dasar pemikiran di atas, penulis mencoba melihat peranan wali baptis di gereja paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Sebagai paroki yang terhimpun dalam satu wilayah tertentu, Paroki Kristus Raja Baciro berusaha untuk mewujudkan cita-cita Injili yang coba diterjemahkan baik dalam KHK, KGK dan terlebih buku Pedoman Dewan Paroki Kristus Raja Baciro. Buku Pedoman tersebut tidak pernah lepas dari konteks Keuskupan Agung Semarang yang mempunyai buku Pedoman juga. Dewan Paroki mencoba mengkonkretkan unsur Tritugas Kristus: imam (menguduskan), Nabi (pewartaan), dan sebagai Raja (menggembalakan).
Secara khusus sebagai nabi (pewartaan), paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta memberikan perhatian dengan membentuk tim kerja di bidang pewartaan, diantaranya adalah: tim kerja baptisan bayi, tim kerja inisiasi, tim pendampingan iman anak (PIA), tim kerja pendampingan iman remaja (PIR), tim
kerja pendampingan iman orang dewasa, tim kerja kerasulan Kitab Suci, dan tim kerja katekis (Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki, 2011: 39-40).
Wujud konkrit yang telah dilakukan di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta selama ini adalah memilih beberapa orang yang menjadi penanggung jawab dalam bidang tersebut dan dipercayakan untuk melaksanakan apa saja yang berkaitan dengan pembaptisan baik itu sebelum maupun sesudahnya. Misalnya, sebelum upacara pembaptisan dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan pembekalan kepada para orang tua anak yang akan dibaptis dan bagi para wali baptis yang akan menjadi orang tua kedua bagi anak baptis dalam pendampingan iman anak baptis untuk selanjutnya. Wali baptis yang dipilih menjadi orang tua kedua dalam perkembangan iman anak baptis untuk selanjutnya bekerjasama dengan orang tua anak baptis harus mampu menjadi teladan hidup. Bagi penulis dipilih menjadi wali baptis menunjukkan suatu penghargaan dan kepercayaan dari keluarga yang dibaptis. Wali baptis dipilih berdasarkan keteladanan hidup, kualitas pribadi dan persahabatan (OICA 11, Ordo Initiation Christianei Adultorum).
Penulis memahami bahwa keberadaan wali baptis tidak hanya penting pada saat pembaptisan, tetapi juga bertanggung jawab mendampingi calon baptis secara terus menerus. Tanggung jawab untuk memperkembangkan iman umat bukan hanya menjadi tanggung jawab romo, suster, katekis namun wali baptis dan orang tua juga mempunyai tanggungjawab yang besar pula untuk kehidupan beriman umat. Orang tua dan wali baptis sendiri harus menjadi orang Kristiani yang baik yang mampu dan siap mendampingi anak dan orang dewasa yang baru dibaptis pada jalan kehidupan Kristiani (KGK 1255). Melalui perkataan dan
terlebih teladan hiduplah orang tua dan wali baptis membina anak baptis mereka dalam iman dan praktek kehidupan Kristani (KHK, kan. 774 §2). Wali baptis harus mengusahakan kebajikan dalam dirinya sendiri dan memberikan teladan dalam hidup doa kepada seluruh umat. Karena seorang wali baptis telah berjanji untuk membantu orang yang baru dibaptis dan setuju untuk mewakili komunitas iman dan mendorong anak baptisnya untuk tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik sendiri.
Penulis melihat bahwa pada umumnya wali baptis masih kurang berperan dalam perkembangan hidup iman anak baptis. Perkembangan iman sering bersamaan dengan perkembangan kepribadian seseorang. Misalnya, pada usia remaja, menurut para ahli psikologi (Feist, 2008: 233), anak berada dalam masalah identitas diri (ego identity). Dalam kaitan dengan iman dan sesuai dengan perkembangan kemampuan kritis psikologi remaja, anak remaja sering menyoroti nilai-nilai agama dengan cermat. Mereka mulai membawa nilai-nilai agama ke dalam hati dan praksis hidup. Mereka juga mengamati secara kritis kepincangan-kepincangan di masyarakat yang gaya hidupnya kurang memperdulikan nilai agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan perilaku amoral lainnya. Di sinilah idealisme keimanan dan spiritual remaja mengalami benturan-benturan dan tantangan yang membutuhkan seorang pendamping. Pendamping yang di maksud dalam konteks liturgi adalah orang tua dan wali baptis (sebagai orang tua kedua).
Bila pendampingan orang tua dan wali baptis berlangsung, tentu tingkat partisipasi remaja bersangkutan dalam bentuk kehadiran pada pertemuan
atau pendalaman iman di lingkungan (bdk.KWI, 1996: 353-355) dapat dilihat atau dirasakan. Pernyataan di atas dapat juga kita buat dalam bentuk pertanyaan apakah fenomena partisipasi remaja dalam kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan dan gereja disebabkan oleh peranan wali baptis? Untuk asumsi sementara dan berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya, penulis melihat bahwa peranan wali baptis belum optimal.
Selama ini penulis merefleksikan bahwa wali baptis kurang memiliki pemahaman yang benar mengenai peran dan tugasnya. Para wali baptis dalam melaksanakan tugas dan peran mereka selama ini belum merupakan suatu kedasaran. Kehadiran mereka hanya sebatas memenuhi persyaratan liturgis, yaitu menggendong pada saat bayi hendak dibaptis; sebagian besar beranggapan bahwa mereka hanya berperan dalam proses baptisan. Pemahaman ini sedikit terlalu sempit karena kurangnya keterlibatan dan pengetahuan akan tugas dan tanggungjawab sebagai wali baptis. Sebab dalam teori dikatakan bahwa wali baptis wajib mendampingi iman anak mulai sejak dibaptis sampai pada tingkat iman yang dewasa.
Seperti yang pernah terjadi ketika penulis mengikuti proses pembekalan bagi para orang tua anak baptis dan wali baptis di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta, saat itu wali baptis tidak hadir. Suatu hal yang sangat memprihatinkan karena pembekalan sesungguhnya merupakan hal yang sangat penting bagi wali baptis. Melalui pembekalan wali baptis mengetahui dan memahami peran dan tanggungjawabnya baik pada saat upacara penerimaan
sakramen baptis maupun selanjutnya (Mistagogi) sampai anak dewasa dalam imannya.
Penulis melihat bahwa merupakan hal yang sangat penting bagi para wali baptis untuk mengikuti pembekalan sebelum perayaan sakramen pembaptisan dilaksanakan. Peran mereka sebagai pendamping iman bagi anak baptis tidak berhenti pada saat upacara pembaptisan saja melainkan berkelanjutan sampai pada anak yang telah dibaptis dewasa dalam imannya. Penulis melihat bahwa masih ada wali baptis yang tidak mengetahui perkembangan iman anak baptis. Banyak wali baptis kurang menjadi teladan iman terhadap anak baptis dalam penghayatan iman Kristiani yang diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sering terjadi bahwa hubungan yang berkelanjutan dengan anak yang dibaptis tidak ada kelanjutannya. Berdasarkan pengalaman konkret ini, penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut dan mengambil judul skripsi PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA.
B. RUMUSAN PERMASALAHAN
Berdasarkan pemaparan di atas, permasalahan yang akan dibahas dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pemahaman wali baptis tentang peran dan tugasnya terhadap perkembangan iman anak baptis selama ini?
2. Bagaimana pelaksanaan peran wali baptis dalam pengembangan iman untuk remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta?
3. Sejauh mana kepentingan peran wali baptis dalam pengembangan iman remaja selama ini?
4. Faktor-faktor pendukung dan penghambat manakah yang dialami oleh wali baptis ketika melaksanakan peran dan tugasnya dalam pengembangan iman anak baptisnya ?
5. Upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan peran wali baptis dalam pengembangan iman anak baptis usia remaja supaya anak baptisnya dapat mencapai kedewasaan dalam iman Kristiani?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk memahami sejauh mana wali baptis mempunyai wawasan tentang
tugas dan perannya sebagai wali baptis.
2. Mengetahui bagaimana pelaksanaan peran wali baptis selama ini dilaksanakan di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
3. Mengetahui sejauh mana kepentingan kehadiran wali baptis dalam mengembangkan iman anak baptis usia remaja.
4. Mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dialami oleh wali baptis ketika melaksanakan peran dan tugasnya dalam mengembangakan iman anak baptisnya.
5. Mengetahui upaya yang dilakukan untuk meningkatkan peran wali baptis dalam mengembangkan iman anak baptis usia remaja supaya mencapai kedewasaan dalam imannya.
D. MANFAAT PENULISAN
Manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Membantu para wali baptis agar dapat memahami dan menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai wali baptis yang berperan dalam perkembangan iman anak baptis selanjutnya.
2. Mendorong pihak Gereja, yakni pastor paroki dan katekis untuk memberikan pengajaran atau pembinaan kepada orang tua dan wali baptis agar mereka mengetahui tugas dan tanggungjawab mereka sebagai orang tua dan wali baptis dalam perkembangan iman anak yang dibaptis.
3. Memberi sumbangsih bagi wali baptis agar mampu meningkatkan peran mereka sebagai wali baptis sehingga senantiasa setia dalam membantu perkembangan iman anak yang dibaptis. Dengan demikian, kelak anak baptisnya menjadi dewasa dalam iman serta mampu melihat peran Allah yang hadir dalam kehidupan ini.
4. Sebagai sumber pembelajaran bagi penulis dalam merencanakan, melaksanakan dan menyusun suatu penelitian agar hasilnya dapat bermanfaat bagi banyak pihak yang berkepentingan.
E. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Untuk memperlancar penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif melibatkan tiga unsur pokok, yakni: teknik wawancara, teknik observasi, pencatatan dan penggunaan dokumen.
Ketiga teknik pengumpulan data ini akan digunakan untuk memperkaya temuan yang ada di lapangan (paroki Kristus Raja Baciro).
Tujuan utama metode penulisan ini terletak pada usaha untuk menggambarkan dan mengungkap dan kedua adalah untuk menjelaskan apa yang menjadi temuan penulis di lapangan. Ada tiga prinsip berkenaan dengan pengumpulan dan penggunaan data yang dipakai oleh penulis yakni, pertama: penggunaan multi sumber; kedua: penciptaan data dasar bagi studi kualitatif; dan ketiga adalah pemeliharaan rangkaian terbukti. Sehubungan dengan itu lima sumber data yang akan dipakai penulis dalam penenelitian ini yakni: pertama dokumentasi, kedua: rekaman arsip, ketiga: wawancara, keempat: observasi langsung, dan kelima adalah observasi partisipan.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Judul yang dipilih yaitu: peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Secara keseluruhan penulisan ini terbagi dalam lima bab. Adapun perinciannya sebagai berikut:
Bab I berisi Pendahuluan yang menguraikan latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II berisi peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Bab kedua ini merupakan kajian teori yang menyajikan teori-teori dari berbagai buku dan literatur untuk
melandasi pemikiran dan gagasan tentang peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Kajian teori juga meliputi: sakramen baptis, buah rahmat dari sakramen baptis, empat makna teologis sakramen baptis, simbol-liturgi sakramen baptis dan nama baptis, pelayan dan petugas sakramen baptis, sejarah wali baptis, pengertian wali baptis, partisipasi serta peran dan tugas wali baptis, pengertian perkembangan iman, beberapa sumber untuk mengembangkan iman, peran khas wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja, dan gambaran umum paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Pengertian remaja serta sejarah paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
Bab III berisi metodologi penelitian, laporan dan hasil penelitian tentang peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Dengan pemahaman ini diharapkan para wali baptis di paroki Kristus Raja Baciro di masa yang akan datang semakin serius, setia menghayati dan melaksanakan peran mereka sebagai wali baptis.
Bab IV berisi usulan program yang efektif berdasarkan hasil penelitian, sehingga penelitian ini sungguh teraktualisasi.
Bab V berisi penutup. Pada bab V penulis akan membuat kesimpulan umum dan saran sebagai penutup.
BAB II
PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DAN GAMBARAN UMUM PAROKI KRISTUS
RAJA BACIRO YOGYAKARTA
Mengetahui bahwa calon baptis sedapat mungkin diberi wali baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisisi Kristiani dan mengajukan bersama orang tua calon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis hidup secara Kristiani yang sesuai dengan baptisnya serta memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptisan itu (KHK, kan.872). Oleh karena itu pada bab II ini pada variabel pertama penulis akan menjelaskan tentang sakramen baptis, buah rahmat dari sakramen baptis, empat makna teologis sakramen baptis, simbol- liturgi sakramen baptis dan nama baptis, pelayan dan petugas sakramen baptis, sejarah wali baptis, pengertian wali baptis, partisipasi serta peran dan tugas wali baptis. Variabel kedua membahas mengenai pengertian perkembangan iman remaja serta sejarah paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
A. SAKRAMEN BAPTIS
1. Baptis, Gerbang Sakramen lain
Dalam Gereja Katolik, ada tujuh sakramen yang dipahami dan dihayati sebagai “Tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman, mempersembahkan penghormatan kepada Allah, serta menghasilkan pengudusan
manusia” (KHK kan. 840). Salah satuya adalah sakramen baptis. Baptis berasal dari kata Yunani baptizein yang berarti membenamkan, mencemplungkan, atau menenggelamkan kedalam air, entah seluruh atau sebagian (Martasudjita, 2013: 217). Sakramen ini selalu ditempatkan di awal ketujuh sakramen yang ada karena sakramen baptis dipahami sebagai pintu gerbang sakramen-sakramen lain. Hal tersebut didasarkan pada KHK kan. 849 yang berbunyi: “Baptis, gerbang sakramen-sakramen lain, yang perlu untuk keselamatan”. Hal ini berarti bahwa orang dapat menerima sakramen-sakramen lain yang disediakan oleh Gereja Katolik kalau orang tersebut sudah menerima sakramen baptis terlebih dahulu, sebab sakramen ini menjadi syarat mutlak untuk menyambut sakramen-sakramen lain secara sah. Hal tersebut juga dikatakan dalam KHK kan. 842 § 1 bahwa: “Orang yang belum dibaptis tidak dapat diizinkan menerima sakramen-sakramen lain dengan sah”. Hal ini selaras dengan kehendak Kristus, bahwa semua orang yang dibaptis memiliki kehidupan kekal (Yoh 3:5). Seorang yang menjadi Kristiani berarti menggabungkan diri atau menjalani suatu masa perkenalan dan masa latihan yang biasa disebut dengan inisiasi. Inisiasi Kristiani ini merupakan perkembangan yang berlangsung cukup lama mengikuti suatu pola yang kurang lebih sama, pola tersebut dapat dibedakan dalam tiga tahap empat masa. Tiga tahap tersebut adalah, tahap pertama: pelantikkan katekumenat, tahap ke dua pemilihan calon baptis, dan tahap ke tiga sakramen-sakramen inisiasi. Ada empat masa yakni: masa prakatekumenat, masa katekumenat, masa photizomenat (masa persiapan akhir), dan masa mistagogi (Komkat KAS, 2012: 17-18).
Sakramen baptis merupakan salah satu dari tiga sakramen inisiasi. Sakramen baptis menginisiasi, memasukan, mengantar orang ke dalam Gereja sebagai anggotanya (Iman Katolik, 1996: 418). Umat yang akan menerima sakramen baptis hendaknya didampingi oleh wali baptis.
“Calon baptis sedapat mungkin diberi wali baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisiasi kristiani, dan bersama orang tua mengajakcalon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis menghayati hidup kristiani yang sesuai dengan baptisnya dan memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptis itu” (KHK, kan. 872).
2. Buah Rahmat dari Sakramen Baptis
Bertitik tolak pada KGK 1263-1268, Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang dalam buku Katekese Inisiasi (2012: 28) menguraikan buah-buah rahmat dari sakramen baptis, yakni:
a. Seseorang yang dibaptis telah menjadi manusia baru dan tentu saja mempunyai tujuan hidup yang jelas, yaitu menjadikan hidupnya sebagai sarana berkat dan keselamatan bagi orang di sekitarnya.
b. Seseorang yang dibaptis telah mendapatkan pengampunan dosa asal dan dosa pribadi, maka seseorang telah mendapatkan anugerah dan rahmat untuk mengenakan busana kebakaan karena telah ditutupi dari noda-noda dosa serta dipermandikan karena dibersihkan dari segala dosa.
c. Seseorang yang dibaptis telah menjadi anak angkat Allah, anggota Kristus dan kenisah Roh Kudus. Orang yang dibaptis digabungkan dengan Gereja, dengan Tubuh Kristus, dan mengambil bagian dalam imamat Kristus.
Seseorang mendapatkan rahmat pengurapan karena ia adalah kudus dan rajawi, berpartisipasi dalam tugas Kristus.
3. Makna Teologis Sakramen Baptis
E. Martasudjito, dalam buku Sakramen-sakramen Gereja menuliskan empat makna teologis sakramen baptis (Martasudjita, 2003: 228-232). Empat makna teologis sakramen baptis itu adalah:
a. Baptis Mempersekutukan Orang Beriman dengan Kristus
Baptisan mempersekutukan kita bukan hanya dengan pribadi Yesus Kristus tetapi juga memasukkan orang ke dalam seluruh peristiwa Yesus Kristus yang meliputi sengsara, wafat, hingga kebangkitan serta hidup-Nya bagi Allah. Dengan baptisan kita mengenakan Kristus (Gal 3:27), artinya apa yang terjadi dalam diri Kristus juga terlaksana dalam diri kita.
Dari kutipan rasul Paulus kepada jemaat di Roma 6:1-14 terdapat tiga hal yang terjadi dalam baptisan: pengampunan atau pembersihan dosa, senasib dengan Kristus yang wafat dan bangkit, dan persatuan orang beriman dengan Allah sendiri.
b. Baptis Mempersatukan Orang Beriman dengan Allah Tritunggal
Baptisan mempersatukan orang Kristiani dengan Allah sendiri, karena melalui pembaptisan orang Kristiani dimasukkan kedalam komunitas Trinitas: relasi kasih antara Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam diri Allah ada relasi komunikatif antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Komunikasi Trinitas berarti komunikasi kasih antara Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus sedemikian rupa
sehingga ketiga pribadi tetap merupakan satu keilahian (Allah Yang Maha Esa) dan sekaligus masing-masing pribadi tidak pernah terpisah dan tidak pernah tercampur. Komunikasi kasih yang membangun komunitas Ilahi dalam Trinitas ini diwahyukan dalam sejarah keselamatan. Sang Putra menjadi manusia dalam Yesus Kristus, di mana keseluruhan hidup Yesus tetap bersama dengan Allah Bapa dan yang menyatukan Bapa dengan Yesus adalah Roh Kudus. Pada saat wafat Putra Allah menyerahkan diri secara total kepada Allah Bapa dalam Roh dan dalam kebangkitan-Nya Bapa menerima persembahan dan penyerahan diri Putra-Nya. Melalui baptis orang beriman menggabungkan diri dalam dinamika kasih Trinitas tersebut. Berkat Roh Kudus yang dianugerahkan kepada orang beriman, orang Kristiani masuk ke dalam dinamika hubungan kasih Allah Bapa dan Putra. Dengan baptis, orang beriman mengalami kesatuan dan kebersamaan dengan Allah Tritunggal yang merupakan anugerah semata, bukan karena jasa kita.
c. Baptis Memasukkan Orang Beriman dalam Gereja
Dengan baptis, seseorang dimasukkan dalam Gereja sebagai warga baru. Proses inisiasi merupakan suatu saat di mana orang harus tetap bertumbuh dan berkembang dalam iman Gereja. Baptis meliputi dua macam gerak yang merupakan satu realitas komunikasi dan perjumpaan. Pertama: melalui baptis, seseorang masuk dalam Gereja, diterima dan diakui sebagai warga baru dengan segala hak dan kewajibannya. Kedua, dalam baptis Gereja menjadi hidup dan tumbuh dalam orang Kristiani. Artinya dalam diri orang Kristiani terjadi internalisasi seluruh hidup Gereja: iman, tradisi, dan ungkapannya.
d. Baptis sebagai Ikatan Kesatuan Ekumenis
Dari ketujuh sakramen dalam Gereja Katolik, baptis merupakan salah satu sakramen yang diterima dan diakui oleh Gereja. Gereja yang satu sudah semakin dapat mengakui validitas praktek baptisan dari Gereja lain. Meskipun pengakuan itu tidak selalu terjadi, mengingat masing-masing Gereja terkadang memiliki ritus yang berbeda. Dokumen Lima mengatakan bahwa pada umumnya Gereja-Gereja memandang pernyataan mengenai baptisan sebagai pernyataan yang baik dan sesuai dengan tradisi para rasul. Yang dipermasalahkan hanyalah baptisan bayi. Meskipun demikian, baptisan diterima oleh semua Gereja dan dengan demikian umat Kristiani menyebut baptisan sebagai ikatan kesatuan ekumenis. Dari pihak Gereja Katolik, pengakuan akan makna baptis sebagai kesatuan ekumenis tercermin dalam UR 22, yang berbunyi “Baptis merupakan ikatan sakramen antara semua orang yang dilahirkan kembali karenanya”.
4. Simbol, Liturgi Sakramen Baptis, dan Nama Baptis a. Simbol
Dalam sakramen baptis ada simbol atau lambang dan liturgi yang digunakan seperti sakramen-sakramen Gereja pada umumnya. Adapun lambang dan simbol yang digunakan adalah:
1) Air
Air melambangkan pembersihan, kesucian dan kelahiran kembali dalam Roh Kudus. Dengan demikian baptisan hanya dapat diterimakan secara sah dengan pencurahan air dan dengan rumusan kata-kata yang diwajibkan, yaitu:
“Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus”. Air yang harus dipergunakan dalam menerimakan baptis, diluar keadaan terpaksa, haruslah air yang diberkati menurut ketentuan-ketentuan buku liturgi ( KHK kan. 853). Air yang digunakan dalam keadaan terpaksa adalah air baptis yang sudah diberkati