i
PERAN WALI BAPTIS
TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Ilmu Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik
Oleh:
Festina Asnawati Mendröfa NIM : 111124041
PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN KEKHUSUS
AN
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKANFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2015
ii SKRIPSI
PERAN WALI BAPTIS
TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA
Oleh
Festina Asnawati Mendröfa NIM : 111124041
Telah disetujui oleh:
Dosen Pembimbing
iii SKRIPSI
PERAN WALI BAPTIS
TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA
Dipersiapkan dan ditulis oleh Festina Asnawati Mendröfa
NIM : 111124041
Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 31 Agustus 2015
dan dinyatakan memenuhi syarat SUSUNAN PANITIA PENGUJI
Nama Tanda tangan
Ketua : Drs. F.X. Heryatno W.W, SJ., M.Ed ………... Sekretaris : Yoseph Kristianto, SFK., M.Pd …………... Anggota : Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ ………...
Y. H. Bintang Nusantara, SFK, M.Hum ………... P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si ………
Yogyakarta, 31 Agustus 2015 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
Dekan,
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan kepada seluruh anggota
persaudaraan Suster-suster Fransiskanes dari Reute (OSF Sibolga-Jerman) di manapun berada yang telah memberi kesempatan kepada saya
untuk menerima ilmu dan bagi siapa saja yang telah mendukung saya dengan caranya masing-masing
v MOTTO
“Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku”.
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 31Agustus 2015 Penulis
vii
LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta:
Nama : Festina Asnawati Mendröfa Nomor Mahasiswa : 111124041
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta karya ilmiah saya yang berjudul PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada) saya memberikan kepada perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas dan mempublikasikan di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Yogyakarta, 31 Agustus 2015 Penulis,
viii ABSTRAK
Judul skripsi ini “PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YAGYAKARTA”, dipilih berdasarkan pengalaman, keprihatinan dan refleksi penulis bahwa wali baptis kurang memiliki pemahaman yang benar mengenai peran, tugas, dan tanggungjawabnya. Para wali baptis dalam melaksanakan peran dan tugas mereka selama ini masih belum merupakan suatu kesadaran. Kehadiran mereka hanya sebatas memenuhi persyaratan litugis pembaptisan. Pemahamanan ini disebabkan oleh kurangnya keterlibatan dan pengetahuan akan tugas dan tanggungjawab sebagai wali baptis. Sebab dalam teori dikatakan bahwa wali baptis wajib mendampingi iman anak mulai sejak dibaptis sampai pada tingkat iman yang dewasa.
Bertitik tolak dari alasan tersebut di atas, skripsi ini dimaksudkan untuk membantu para wali baptis paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta, agar menyadari dan mengingat kembali peran, tugas, dan tanggungjawab mereka dalam mendampingi dan mengembangkan iman anak pada zaman ini. Maka dalam skripsi ini dibahas dua hal seputar peran, tugas, dan tanggungjawab wali baptis dan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan peran, tugas, dan tanggungjawab wali baptis dalam mengembangkan iman anak. Di samping itu juga disertakan hasil penelitian mengenai peran wali baptis dalam mengembangkan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Dalam penelitian tersebut terungkap bahwa secara keseluruhan belum semua wali baptis menjalankan peran, tugas, dan tanggungjawabnya dalam mengembangkan iman anak baptis selama ini.
Dalam skripsi ini ditawarkan suatu bentuk penyegaran kembali panggilan sebagai pendamping dan pendidik iman bagi para wali baptis di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta melalui rekoleksi. Tujuannya para wali baptis kembali diajak untuk menyegarkan semangat pelayanannya dalam salah satu tugas perutusan Yesus Kristus yakni sebagai pelayan. Sehingga di masa yang akan datang para wali baptis lebih serius, bersemangat dalam melaksanakan peran, tugas, dan tanggungjawab mereka sebagai wali baptis.
ix ABSTRACT
The thesis’ title, namely “THE ROLE OF GODPARENTS IN THE
FAITH DEVELOPMENT OF TEENAGE GODCHILDREN IN THE PARISH OF KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA”, has been chosen
based on the writer’s experience, concern and reflection that some godparentshave no sufficient knowledge about their role, duty and responsibility. The writer saw that some godparents did not have full awareness of their role. Their presence is of liturgical formality only. It is suspected that the lack of involvement and knowledge related to their duty and responsibility as godparents as the causes. Theoretically godparents have responsibility to guide their godchildren spiritually, starting from the act of baptism until grownups.
Hence, this thesis is meant to help the godparents of Kristus Raja Baciro Parish in Yogyakarta to re-realize and recall their role, duty and responsibility in guiding and nurturing the faith of their godchildren today. Therefore, this thesis discusses two things related to the role, duty and responsibility of godparents and the effort to enhance the role, duty and responsibility of godparents in nurturing their godchildren’s faith. Meanwhile, the result of the research on the role of godparents in nurturing the faith of the teenagers in Kristus Raja Baciro parish in Yogyakarta is also attached.
This writing also offers a refreshment in a form of recollection moment for the godparents in Kristus Raja Baciro parish in Yogyakarta related to their calling as guides and preceptors of faith. The aim of the refreshment moment is to give the godparents new energy in ministering the people in accordance to Jesus Christ’s command of becoming servants of the others. It is supposed that through this moment the godparents will be more spirited and concerned in carrying out their role, duty and responsibility as godparents.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan yang maha baik, karena kasih-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi yang berjudul PERAN WALI BAPTIS
TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA.
Skripsi ini merupakan karya ilmiah dan sumbangan terhadap paroki-paroki secara khusus tim kerja bidang pewartaan paroki dan kepada para wali baptis yang ada di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta dan sekaligus untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan di FKIP-JIP-Prodi IPPAK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Proses penulisan skripsi ini tidak berjalan dengan mulus, namun penulis dapat belajar untuk semakin tekun, sabar dan tidak mudah putus asa. Penulis sangat berterimakasih kepada berbagai pihak yang telah menyumbangkan ide dan gagasannya, kemudahan dan kesempatan sehingga memungkinkan terselesaikannya skripsi ini. Secara khusus terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Drs. F.X. Heryatno W.W. SJ.,M.Ed. selaku Kaprodi IPPAK Universitas Sanata Dharma yang telah berkenan dan sabar membimbing penulis selama kuliah di kampus IPPAK.
2. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ., sebagai pembimbing utama, yang penuh kesabaran dan kerelaan untuk mendampingi, membimbing, dan
xi
memberikan masukkan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini dari awal hingga selesai.
3. Y.H. Bintang Nusantara, SFK, M.Hum sebagai dosen penguji II sekaligus pembimbing akademik yang memberi semangat, masukan dan dukungan baik selama kuliah maupun dalam penyusunan skripsi ini.
4. P. Banyu Dewa HS, S.Ag., M.Si sebagai dosen penguji III yang bersedia meluangkan waktu dan memberikan masukan dan dukungan kepada penulis.
5. Para dosen dan staf karyawan yang telah membimbing dan memberi dukungan selama penulis kuliah di IPPAK Sanata Dharma Yogyakarta. 6. Dewan Pimpinan Regio dan seluruh persaudaraan OSF Sibolga yang
memberikan kepercayaan dan kesempatan bagi penulis untuk studi di IPPAK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
7. Teman-teman angkatan 2011yang telah memberi dukungan, semangat, kegembiraan selama bersama studi dan membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
8. Para suster OSF Sibolga komunitas saudara Leo Demangan Yogyakarta, yang mendukung dan menyemangati penulis selama studi dan saat penulisan skripsi ini.
9. Orang tua (ibu) dan segenap anggota keluarga saya yang memberikan semangat dan dukungan selama penulis menempuh studi di Yogyakarta.
xii
10. Semua sahabat dan kenalan secara khusus Pastor Ando Gurning, Pr yang terlibat mendukung, menyemangati dan membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya penulis menyadari, bahwa dalam skripsi ini masih banyak kekurangan yang membutuhkan koreksi dari pembaca, baik dari segi penulisan maupun dari segi isi. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan saran dari para pembaca demi perbaikan skripsi ii. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian. Terimakasih.
Yogyakarta, 31 Agustus 2015 Penulis
xiii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBARAN PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR SINGKATAN ... xviii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Permasalahan ... 7 C. Tujuan Penulisan ... 8 D. Manfaat Penulisan ... 9 E. Metode Penulisan ... 9 F. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II. PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DAN GAMBARAN UMUM PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA 12
A. SAKRAMEN BAPTIS ... 12
1. Baptis, Gerbang Sakramen Lain ... 12
2. Buah Rahmat dari Sakramen Baptis ... 14
3. Makna Teologis Sakramen Baptis ... 15
a. Baptis Mempersekutukan Orang Beriman dengan Kristus .... 15 b. Baptis Mempersatukan Orang Beriman dengan
xiv
Allah Tritunggal ... 15
c. Baptis Memasukkan Orang Beriman dalam Gereja ... 16
d. Baptis Sebagai Ikatan Kesatuan Ekumenis ... 17
4. Simbol, Liturgi Sakramen Baptis, dan Nama Baptis ... 17
a. Simbol ... 17
b. Liturgi ... 18
c. Nama Baptis ... 19
5. Pelayanan dan Petugas Sakramen Baptis ... 19
a. Pelayan Sakramen Baptis ... 19
b. Petugas Sakramen Baptis... 20
1) Orang Tua ... 20
2) Wali Baptis ... 21
3) Penjamin (Fakultatif) ... 21
4) Umat ... 22
B. TUGAS DAN PERAN WALI BAPTIS ... 22
1. Sejarah Wali Baptis ... 23
2. Pengertian Wali Baptis ... 25
3. Peran, Tanggungjawab, dan Partisipasi Wali Baptis ... 27
a. Peran Wali Baptis ... 27
b. Tangungjawab Wali Baptis ... 29
c. Partisipasi Wali Baptis dalam Liturgi Pembaptisan ... 30
1. Partisipasi Wali Baptis dalam Pembaptisan Bayi dan Anak-Anak... 31
2. Partisipasi Wali Baptis dalam Pembaptisan Dewasa ... 32
3. Pasca Pembaptisan ( Mistagogi dan Krisma) ... 33
C. PERKEMBANGAN IMAN ... 33
1. Pengertian Iman - Perkembangan Iman ... 34
2. Beberapa Sumber Pokok untuk Memperkembangkan Iman ... 40
a. Ekaristi ... 40
b. Doa... 41
xv
d. Devosi ... 42
e. Bacaan Rohani ... 44
f. Pengalaman Pribadi Seseorang ... 45
D. PERAN KHAS WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA ... 45
1. Kebutuhan Perkembangan Iman Usia Remaja ... 45
2. Peran Wali Baptis dalam Perkembangan Iman Usia Remaja ... 49
E. GAMBARAN UMUM PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA ... 50
1. Sejarah Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta... 50
2. Tata Penggembalaan Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta ... 54
a. Bidang Liturgi dan Peribadatan ... 54
b. Bidang Pewartaan ... 55
c. Bidang Pelayanan Kemasyarakatan... 56
d. Bidang Paguyuban dan Tata Organisasi ... 57
e. Bidang Sarana dan Prasarana ... 57
f. Bidang Penelitian dan Pengembangan ... 58
BAB III METODOLOGI LAPORAN DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 59 A. Metodologi Penelitian ... 59 1. Rumusan Permasalahan ... 59 2. Tujuan Penelitian ... 60 3. Manfaat Penelitian ... 61 4. Jenis Penelitian ... 61 5. Metode Penelitian... 62 6. Pengumpulan Data ... 62 7. Analisis Data ... 63
8. Tempat dan Waktu Penelitian ... 64
9. Responden Penelitian ... 65
10. Variabel Penelitian ... 66
11. Instrumen Penelitian... 68
xvi
1. Hasil Dokumen ... 70
2. Hasil Observasi ... 71
3. Hasil Wawancara ... 72
a. Pengertian Responden Tentang Wali Baptis ... 72
b. Peran dan Tanggungjawab Wali Baptis ... 75
c. Pelaksanaan Peran, Tugas dan Tanggungjawab Wali Baptis ... 78
d. Kepentingan Kehadiran Wali Baptis Terhadap Perkembangan Iman Remaja... 81
e. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menjalankan Peran, Tugas dan Tanggungjawab sebagai Wali Baptis ... 84
f. Keteladanan Hidup Wali Baptis ... 86
g. Pengetahuan Wali Baptis tentang Makna, Simbol, Liturgi Baptis ... 88
h. Perasaan karena Terpilih Sebagai Wali Baptis ... 91
i. Pendampingan yang Khas bagi Iman Remaja ... 92
j. Harapan-harapan Para Responden ... 94
k. Nasehat yang Diterima Anak Baptis dari Wali Baptis ... 96
l. Bentuk Pendampingan yang Diharapkan Anak Baptis Kepada Wali Baptis... 97
C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN TENTANG TENTANG PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA ... 98
1. Pemahaman Tentang Peran dan Tugas Wali Baptis Terhadap Perkembangan Iman Anak Baptis Usia Remaja ... 98
2. Pelaksanaan Peran, Tugas dan tanggungjawab Wali Baptis dalam Mengembangkan Iman Anak Usia Remaja... 104
3. Kepentingan Kehadiran Wali Baptis dalam Mengembangkan Iman Anak Baptis Usia Remaja di Paroki Kristus Raja Baciro .. 113 4. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Peran dan
xvii
Tugas Wali baptis dalam Mengembangkan Iman Anak Baptis .. 117
5. Upaya Meningkatkan Peran Wali Baptis dalam Mengembangkan Iman Anak Baptis Usia Remaja ... 121
6. Rangkuman ... 125
BAB IV USULAN PROGRAM REKOLEKSI BAGI WALI BAPTIS PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA ... 129
A. Latar Belakang Program ... 129
B. Alasan Pemilihan Program ... 131
C. Tujuan Program ... 133
D. Usulan Program ... 134
E. Persiapan Rekoleksi Wali Baptis Kristus Raja BaciroYogyakarta ... 140
a. Pembukaan ... 141
b. Kegiatan Inti I ... 143
c. Kegiatan Inti II ... 150
d. Kegiatan Inti III ... 154
e. Kegiatan Inti IV... 156
f. Penutup ... 156
BAB V PENUTUP ... 157
A. Kesimpulan ... 157
B. Saran ... 159
DAFTAR PUSTAKA ... 161
Lampiran 1: Permohonan Izin Penelitian ... (1)
Lampiran 2: Laporan Hasil Wawancara ... (2)
Lampiran 3: Tesk Lagu Hati Sebagai Hamba ... (34)
Lampiran 4: Gambar Yesus yang Menggendong Domba ... (35)
Lampiran 5: Teks Injil Yohanes ... (36)
Lampiran 6: Foto Responden ... (37)
xviii
DAFTAR SINGKATAN
A. Singkatan Kitab Suci
Semua singkatan Kitab Suci dalam skripsi ini mengikuti singkatan Kitab Suci sesuai dengan daftar singkatan Perjanjian Baru dalam Alkitab Katolik Deutrokanonik cetakkan tahun 2000 oleh Bimas Katolik Departemen Agama, Repuplik Indonesia dalam rangka PELITA IV. Ende: Arnoldus, 1984/1985, hal. 8.
Mat : Matius Mrk : Markus Yoh : Yohanes Kis : Kisah para rasul Rm : Roma
Gal : Galatia Ef : Efesus
B. Singkatan Dokumen Resmi Gereja
KGK : Katekismus Gereja Katolik. Dicetak oleh Percetakan Arnoldus, Ende, 1995.
KWI : Konferensi Waligereja Indonesia.
KHK : Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici), diundangkan oleh Paus Yohanes Paulus II, 25 Januari 1983.
UR : Unitatis Redintegratio, Dekrit Konsili Vatikan ke II tentang Ekumenisme, 21 November 1965.
xix
MAWI : Majelis Agung Waligereja Indonesia
GE : Gravissimum Educationis. Pernyataan Konsili Vatikan II tentang Pendidikan Kristen, 28 Oktober 1965.
KKGK : Kompendium Katekismus Gereja Katolik, diterbitkan oleh Penerbit Dioma, 2005.
GS : Gaudium Et Spes. Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II tentang Gereja Dewasa ini, 7 Desember 1965.
AG : Ad Gentes, Dekrit Konsili Vatikan II InI mengenai Kegiatan Misioner Gereja, 7 Desember 1965.
LG : Lumen Gentium, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja, 21 November 1965.
OICA : Ordo Initiation Christianei Adultorum (Ritus Inisiasi Kristen Orang Dewasa).
Kan : Kanon.
C. Singkatan Lain:
PIA : Pendampingan Iman Anak PIR : Pendampingan Iman Remaja KAS : Keuskupan Agung Semarang Komkat : Komisi Kateketik
Bdk : Bandingkan
CREBO : Crew Multimedia Baciro KAM : Keuskupan Agung Medan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Sakramen inisiasi terdiri dari tiga sakramen yakni: Sakramen Baptis, Sakramen Ekaristi, dan Sakramen Krisma. Sakramen-sakramen inisiasi memiliki kesatuan hubungan sebagai sakramen-sakramen yang menandai kehidupan dan perkembangan hidup manusia sejak lahir, tumbuh, dan berkembang karena terpenuhinya seluruhnya kebutuhan manusiawinya (Martasudjita, 2003:214). Sakramen baptis adalah awal kehidupan baru, sakramen Krisma (penguatan) yang menguatkan kehidupan ini, dan sakramen Ekaristi yang mengenyangkan umat beriman dengan tubuh dan darah Kristus untuk mengubahnya kedalam Kristus (KGK 1275).
Dengan pembaptisan orang diinisiasikan atau diantar ke dalam Gereja sebagai anggotanya (KWI, 1996: 418). Pembaptisan suci merupakan dasar seluruh kehidupan Kristen, pintu masuk menuju kehidupan dalam Roh (Vitae spiritualis
ianua) dan menuju sakramen-sakramen yang lain. Oleh pembaptisan kita
dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putera-puteri Allah. Kita menjadi anggota-anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan ikut serta dalam tugas perutusan-Nya (KGK 1213).
Orang yang dibaptis menjadi serupa dengan Kristus, karena melalui pembaptisan seseorang digabungkan bersama Kristus. Pembaptisan menandai warga Kristiani dengan satu meterai (character) rohani yang tidak dapat dihapuskan, satu tanda bahwa orang tersebut masuk bilangan Kristus. Tanda ini
tidak dihapuskan oleh dosa manapun, meskipun dosa menghalangi-halangi pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan (KGK 1272). Meterai Tuhan (“Dominicus character”) menurut Agustinus adalah meterai yang dengannya Roh Kudus telah memeteraikan kita untuk hari penyelamatan (Ef 4:30). Orang beriman yang telah mempertahankan “meterai” sampai akhir, artinya setia kepada tuntunan yang diberikan bersama pembaptisannya (KGK 1274).
Pemberian sakramen baptis kepada anak-anak tidak dengan sendirinya menjadi jaminan bahwa iman anak bertumbuh dan berkembang. Pemeteraian Roh Kudus yang terjadi lewat pembaptisan dan terlebih pengurapan minyak pada dahi anak, membutuhkan usaha manusia untuk mengembangkan iman anak yang sudah dibaptis. Oleh karena itu, Gereja sangat menganjurkan agar iman anak didampingi baik oleh orang tua maupun wali baptis. Kitab Hukum Kanonik (KHK) sangat menggarisbawahi betapa pentingnya peranan orang tua dan wali baptis dalam pengembangan iman anak. KHK mengatakan:
“Umat yang akan menerima sakramen baptis sedapat mungkin diberi wali baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisisi Kristiani dan mengajukan bersama orang tua calon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis hidup secara Kristiani yang sesuai dengan baptisnya serta memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptisan itu” (KHK, kan. 872).
Berkaitan dengan tugas umat beriman yang tertuang dalam KHK di atas,
Katekismus Gereja Katolik (KGK) juga menggarisbawahi betapa pentingnya
peranan orang tua/wali baptis. Tugas mereka adalah jabatan gerejani yang sebenarnya (officium). Seluruh persekutuan Gereja ikut bertanggungjawab untuk pengembangan dan perlindungan rahmat pembaptisan (KGK 1255). Baik
pengertian KHK maupun KGK, nampak bahwa rahmat pembaptisan ini dapat berkembang atas bantuan orang tua dan wali baptis. Baik orang tua maupun wali baptis harus menjadi orang Kristiani yang baik yang mampu dan siap mendampingi anak dan orang dewasa yang baru dibaptis pada jalan kehidupan Kristiani.
Menanggapi begitu pentingnya peran dan tanggung jawab wali baptis dan seluruh persekutuan Gereja dalam pengembangan dan perlindungan rahmat pembaptisan ini serta bertitik tolak dari Injil Markus 16:15-16a. Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahkluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan.”
Atas dasar pemikiran di atas, penulis mencoba melihat peranan wali baptis di gereja paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Sebagai paroki yang terhimpun dalam satu wilayah tertentu, Paroki Kristus Raja Baciro berusaha untuk mewujudkan cita-cita Injili yang coba diterjemahkan baik dalam KHK, KGK dan terlebih buku Pedoman Dewan Paroki Kristus Raja Baciro. Buku Pedoman tersebut tidak pernah lepas dari konteks Keuskupan Agung Semarang yang mempunyai buku Pedoman juga. Dewan Paroki mencoba mengkonkretkan unsur Tritugas Kristus: imam (menguduskan), Nabi (pewartaan), dan sebagai Raja (menggembalakan).
Secara khusus sebagai nabi (pewartaan), paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta memberikan perhatian dengan membentuk tim kerja di bidang pewartaan, diantaranya adalah: tim kerja baptisan bayi, tim kerja inisiasi, tim pendampingan iman anak (PIA), tim kerja pendampingan iman remaja (PIR), tim
kerja pendampingan iman orang dewasa, tim kerja kerasulan Kitab Suci, dan tim kerja katekis (Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki, 2011: 39-40).
Wujud konkrit yang telah dilakukan di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta selama ini adalah memilih beberapa orang yang menjadi penanggung jawab dalam bidang tersebut dan dipercayakan untuk melaksanakan apa saja yang berkaitan dengan pembaptisan baik itu sebelum maupun sesudahnya. Misalnya, sebelum upacara pembaptisan dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan pembekalan kepada para orang tua anak yang akan dibaptis dan bagi para wali baptis yang akan menjadi orang tua kedua bagi anak baptis dalam pendampingan iman anak baptis untuk selanjutnya. Wali baptis yang dipilih menjadi orang tua kedua dalam perkembangan iman anak baptis untuk selanjutnya bekerjasama dengan orang tua anak baptis harus mampu menjadi teladan hidup. Bagi penulis dipilih menjadi wali baptis menunjukkan suatu penghargaan dan kepercayaan dari keluarga yang dibaptis. Wali baptis dipilih berdasarkan keteladanan hidup, kualitas pribadi dan persahabatan (OICA 11, Ordo Initiation Christianei Adultorum).
Penulis memahami bahwa keberadaan wali baptis tidak hanya penting pada saat pembaptisan, tetapi juga bertanggung jawab mendampingi calon baptis secara terus menerus. Tanggung jawab untuk memperkembangkan iman umat bukan hanya menjadi tanggung jawab romo, suster, katekis namun wali baptis dan orang tua juga mempunyai tanggungjawab yang besar pula untuk kehidupan beriman umat. Orang tua dan wali baptis sendiri harus menjadi orang Kristiani yang baik yang mampu dan siap mendampingi anak dan orang dewasa yang baru dibaptis pada jalan kehidupan Kristiani (KGK 1255). Melalui perkataan dan
terlebih teladan hiduplah orang tua dan wali baptis membina anak baptis mereka dalam iman dan praktek kehidupan Kristani (KHK, kan. 774 §2). Wali baptis harus mengusahakan kebajikan dalam dirinya sendiri dan memberikan teladan dalam hidup doa kepada seluruh umat. Karena seorang wali baptis telah berjanji untuk membantu orang yang baru dibaptis dan setuju untuk mewakili komunitas iman dan mendorong anak baptisnya untuk tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik sendiri.
Penulis melihat bahwa pada umumnya wali baptis masih kurang berperan dalam perkembangan hidup iman anak baptis. Perkembangan iman sering bersamaan dengan perkembangan kepribadian seseorang. Misalnya, pada usia remaja, menurut para ahli psikologi (Feist, 2008: 233), anak berada dalam masalah identitas diri (ego identity). Dalam kaitan dengan iman dan sesuai dengan perkembangan kemampuan kritis psikologi remaja, anak remaja sering menyoroti nilai-nilai agama dengan cermat. Mereka mulai membawa nilai-nilai agama ke dalam hati dan praksis hidup. Mereka juga mengamati secara kritis kepincangan-kepincangan di masyarakat yang gaya hidupnya kurang memperdulikan nilai agama, bersifat munafik, tidak jujur, dan perilaku amoral lainnya. Di sinilah idealisme keimanan dan spiritual remaja mengalami benturan-benturan dan tantangan yang membutuhkan seorang pendamping. Pendamping yang di maksud dalam konteks liturgi adalah orang tua dan wali baptis (sebagai orang tua kedua).
Bila pendampingan orang tua dan wali baptis berlangsung, tentu tingkat partisipasi remaja bersangkutan dalam bentuk kehadiran pada pertemuan
atau pendalaman iman di lingkungan (bdk.KWI, 1996: 353-355) dapat dilihat atau dirasakan. Pernyataan di atas dapat juga kita buat dalam bentuk pertanyaan apakah fenomena partisipasi remaja dalam kegiatan-kegiatan yang ada di lingkungan dan gereja disebabkan oleh peranan wali baptis? Untuk asumsi sementara dan berdasarkan tugas dan tanggung jawabnya, penulis melihat bahwa peranan wali baptis belum optimal.
Selama ini penulis merefleksikan bahwa wali baptis kurang memiliki pemahaman yang benar mengenai peran dan tugasnya. Para wali baptis dalam melaksanakan tugas dan peran mereka selama ini belum merupakan suatu kedasaran. Kehadiran mereka hanya sebatas memenuhi persyaratan liturgis, yaitu menggendong pada saat bayi hendak dibaptis; sebagian besar beranggapan bahwa mereka hanya berperan dalam proses baptisan. Pemahaman ini sedikit terlalu sempit karena kurangnya keterlibatan dan pengetahuan akan tugas dan tanggungjawab sebagai wali baptis. Sebab dalam teori dikatakan bahwa wali baptis wajib mendampingi iman anak mulai sejak dibaptis sampai pada tingkat iman yang dewasa.
Seperti yang pernah terjadi ketika penulis mengikuti proses pembekalan bagi para orang tua anak baptis dan wali baptis di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta, saat itu wali baptis tidak hadir. Suatu hal yang sangat memprihatinkan karena pembekalan sesungguhnya merupakan hal yang sangat penting bagi wali baptis. Melalui pembekalan wali baptis mengetahui dan memahami peran dan tanggungjawabnya baik pada saat upacara penerimaan
sakramen baptis maupun selanjutnya (Mistagogi) sampai anak dewasa dalam imannya.
Penulis melihat bahwa merupakan hal yang sangat penting bagi para wali baptis untuk mengikuti pembekalan sebelum perayaan sakramen pembaptisan dilaksanakan. Peran mereka sebagai pendamping iman bagi anak baptis tidak berhenti pada saat upacara pembaptisan saja melainkan berkelanjutan sampai pada anak yang telah dibaptis dewasa dalam imannya. Penulis melihat bahwa masih ada wali baptis yang tidak mengetahui perkembangan iman anak baptis. Banyak wali baptis kurang menjadi teladan iman terhadap anak baptis dalam penghayatan iman Kristiani yang diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sering terjadi bahwa hubungan yang berkelanjutan dengan anak yang dibaptis tidak ada kelanjutannya. Berdasarkan pengalaman konkret ini, penulis merasa tertarik untuk meneliti lebih lanjut dan mengambil judul skripsi PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK USIA REMAJA DI PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO YOGYAKARTA.
B. RUMUSAN PERMASALAHAN
Berdasarkan pemaparan di atas, permasalahan yang akan dibahas dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pemahaman wali baptis tentang peran dan tugasnya terhadap perkembangan iman anak baptis selama ini?
2. Bagaimana pelaksanaan peran wali baptis dalam pengembangan iman untuk remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta?
3. Sejauh mana kepentingan peran wali baptis dalam pengembangan iman remaja selama ini?
4. Faktor-faktor pendukung dan penghambat manakah yang dialami oleh wali baptis ketika melaksanakan peran dan tugasnya dalam pengembangan iman anak baptisnya ?
5. Upaya apa yang dilakukan untuk meningkatkan peran wali baptis dalam pengembangan iman anak baptis usia remaja supaya anak baptisnya dapat mencapai kedewasaan dalam iman Kristiani?
C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk memahami sejauh mana wali baptis mempunyai wawasan tentang
tugas dan perannya sebagai wali baptis.
2. Mengetahui bagaimana pelaksanaan peran wali baptis selama ini dilaksanakan di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
3. Mengetahui sejauh mana kepentingan kehadiran wali baptis dalam mengembangkan iman anak baptis usia remaja.
4. Mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dialami oleh wali baptis ketika melaksanakan peran dan tugasnya dalam mengembangakan iman anak baptisnya.
5. Mengetahui upaya yang dilakukan untuk meningkatkan peran wali baptis dalam mengembangkan iman anak baptis usia remaja supaya mencapai kedewasaan dalam imannya.
D. MANFAAT PENULISAN
Manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Membantu para wali baptis agar dapat memahami dan menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai wali baptis yang berperan dalam perkembangan iman anak baptis selanjutnya.
2. Mendorong pihak Gereja, yakni pastor paroki dan katekis untuk memberikan pengajaran atau pembinaan kepada orang tua dan wali baptis agar mereka mengetahui tugas dan tanggungjawab mereka sebagai orang tua dan wali baptis dalam perkembangan iman anak yang dibaptis.
3. Memberi sumbangsih bagi wali baptis agar mampu meningkatkan peran mereka sebagai wali baptis sehingga senantiasa setia dalam membantu perkembangan iman anak yang dibaptis. Dengan demikian, kelak anak baptisnya menjadi dewasa dalam iman serta mampu melihat peran Allah yang hadir dalam kehidupan ini.
4. Sebagai sumber pembelajaran bagi penulis dalam merencanakan, melaksanakan dan menyusun suatu penelitian agar hasilnya dapat bermanfaat bagi banyak pihak yang berkepentingan.
E. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Untuk memperlancar penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif melibatkan tiga unsur pokok, yakni: teknik wawancara, teknik observasi, pencatatan dan penggunaan dokumen.
Ketiga teknik pengumpulan data ini akan digunakan untuk memperkaya temuan yang ada di lapangan (paroki Kristus Raja Baciro).
Tujuan utama metode penulisan ini terletak pada usaha untuk menggambarkan dan mengungkap dan kedua adalah untuk menjelaskan apa yang menjadi temuan penulis di lapangan. Ada tiga prinsip berkenaan dengan pengumpulan dan penggunaan data yang dipakai oleh penulis yakni, pertama: penggunaan multi sumber; kedua: penciptaan data dasar bagi studi kualitatif; dan ketiga adalah pemeliharaan rangkaian terbukti. Sehubungan dengan itu lima sumber data yang akan dipakai penulis dalam penenelitian ini yakni: pertama dokumentasi, kedua: rekaman arsip, ketiga: wawancara, keempat: observasi langsung, dan kelima adalah observasi partisipan.
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Judul yang dipilih yaitu: peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di Paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Secara keseluruhan penulisan ini terbagi dalam lima bab. Adapun perinciannya sebagai berikut:
Bab I berisi Pendahuluan yang menguraikan latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penelitian, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II berisi peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Bab kedua ini merupakan kajian teori yang menyajikan teori-teori dari berbagai buku dan literatur untuk
melandasi pemikiran dan gagasan tentang peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Kajian teori juga meliputi: sakramen baptis, buah rahmat dari sakramen baptis, empat makna teologis sakramen baptis, simbol-liturgi sakramen baptis dan nama baptis, pelayan dan petugas sakramen baptis, sejarah wali baptis, pengertian wali baptis, partisipasi serta peran dan tugas wali baptis, pengertian perkembangan iman, beberapa sumber untuk mengembangkan iman, peran khas wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja, dan gambaran umum paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Pengertian remaja serta sejarah paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
Bab III berisi metodologi penelitian, laporan dan hasil penelitian tentang peran wali baptis terhadap perkembangan iman anak baptis usia remaja di paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta. Dengan pemahaman ini diharapkan para wali baptis di paroki Kristus Raja Baciro di masa yang akan datang semakin serius, setia menghayati dan melaksanakan peran mereka sebagai wali baptis.
Bab IV berisi usulan program yang efektif berdasarkan hasil penelitian, sehingga penelitian ini sungguh teraktualisasi.
Bab V berisi penutup. Pada bab V penulis akan membuat kesimpulan umum dan saran sebagai penutup.
BAB II
PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN ANAK BAPTIS USIA REMAJA DAN GAMBARAN UMUM PAROKI KRISTUS
RAJA BACIRO YOGYAKARTA
Mengetahui bahwa calon baptis sedapat mungkin diberi wali baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisisi Kristiani dan mengajukan bersama orang tua calon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis hidup secara Kristiani yang sesuai dengan baptisnya serta memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptisan itu (KHK, kan.872). Oleh karena itu pada bab II ini pada variabel pertama penulis akan menjelaskan tentang sakramen baptis, buah rahmat dari sakramen baptis, empat makna teologis sakramen baptis, simbol- liturgi sakramen baptis dan nama baptis, pelayan dan petugas sakramen baptis, sejarah wali baptis, pengertian wali baptis, partisipasi serta peran dan tugas wali baptis. Variabel kedua membahas mengenai pengertian perkembangan iman remaja serta sejarah paroki Kristus Raja Baciro Yogyakarta.
A. SAKRAMEN BAPTIS
1. Baptis, Gerbang Sakramen lain
Dalam Gereja Katolik, ada tujuh sakramen yang dipahami dan dihayati sebagai “Tanda dan sarana yang mengungkapkan dan menguatkan iman, mempersembahkan penghormatan kepada Allah, serta menghasilkan pengudusan
manusia” (KHK kan. 840). Salah satuya adalah sakramen baptis. Baptis berasal dari kata Yunani baptizein yang berarti membenamkan, mencemplungkan, atau menenggelamkan kedalam air, entah seluruh atau sebagian (Martasudjita, 2013: 217). Sakramen ini selalu ditempatkan di awal ketujuh sakramen yang ada karena sakramen baptis dipahami sebagai pintu gerbang sakramen-sakramen lain. Hal tersebut didasarkan pada KHK kan. 849 yang berbunyi: “Baptis, gerbang sakramen-sakramen lain, yang perlu untuk keselamatan”. Hal ini berarti bahwa orang dapat menerima sakramen-sakramen lain yang disediakan oleh Gereja Katolik kalau orang tersebut sudah menerima sakramen baptis terlebih dahulu, sebab sakramen ini menjadi syarat mutlak untuk menyambut sakramen-sakramen lain secara sah. Hal tersebut juga dikatakan dalam KHK kan. 842 § 1 bahwa: “Orang yang belum dibaptis tidak dapat diizinkan menerima sakramen-sakramen lain dengan sah”. Hal ini selaras dengan kehendak Kristus, bahwa semua orang yang dibaptis memiliki kehidupan kekal (Yoh 3:5). Seorang yang menjadi Kristiani berarti menggabungkan diri atau menjalani suatu masa perkenalan dan masa latihan yang biasa disebut dengan inisiasi. Inisiasi Kristiani ini merupakan perkembangan yang berlangsung cukup lama mengikuti suatu pola yang kurang lebih sama, pola tersebut dapat dibedakan dalam tiga tahap empat masa. Tiga tahap tersebut adalah, tahap pertama: pelantikkan katekumenat, tahap ke dua pemilihan calon baptis, dan tahap ke tiga sakramen-sakramen inisiasi. Ada empat masa yakni: masa prakatekumenat, masa katekumenat, masa photizomenat (masa persiapan akhir), dan masa mistagogi (Komkat KAS, 2012: 17-18).
Sakramen baptis merupakan salah satu dari tiga sakramen inisiasi. Sakramen baptis menginisiasi, memasukan, mengantar orang ke dalam Gereja sebagai anggotanya (Iman Katolik, 1996: 418). Umat yang akan menerima sakramen baptis hendaknya didampingi oleh wali baptis.
“Calon baptis sedapat mungkin diberi wali baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisiasi kristiani, dan bersama orang tua mengajakcalon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis menghayati hidup kristiani yang sesuai dengan baptisnya dan memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptis itu” (KHK, kan. 872).
2. Buah Rahmat dari Sakramen Baptis
Bertitik tolak pada KGK 1263-1268, Komisi Kateketik Keuskupan Agung Semarang dalam buku Katekese Inisiasi (2012: 28) menguraikan buah-buah rahmat dari sakramen baptis, yakni:
a. Seseorang yang dibaptis telah menjadi manusia baru dan tentu saja mempunyai tujuan hidup yang jelas, yaitu menjadikan hidupnya sebagai sarana berkat dan keselamatan bagi orang di sekitarnya.
b. Seseorang yang dibaptis telah mendapatkan pengampunan dosa asal dan dosa pribadi, maka seseorang telah mendapatkan anugerah dan rahmat untuk mengenakan busana kebakaan karena telah ditutupi dari noda-noda dosa serta dipermandikan karena dibersihkan dari segala dosa.
c. Seseorang yang dibaptis telah menjadi anak angkat Allah, anggota Kristus dan kenisah Roh Kudus. Orang yang dibaptis digabungkan dengan Gereja, dengan Tubuh Kristus, dan mengambil bagian dalam imamat Kristus.
Seseorang mendapatkan rahmat pengurapan karena ia adalah kudus dan rajawi, berpartisipasi dalam tugas Kristus.
3. Makna Teologis Sakramen Baptis
E. Martasudjito, dalam buku Sakramen-sakramen Gereja menuliskan empat makna teologis sakramen baptis (Martasudjita, 2003: 228-232). Empat makna teologis sakramen baptis itu adalah:
a. Baptis Mempersekutukan Orang Beriman dengan Kristus
Baptisan mempersekutukan kita bukan hanya dengan pribadi Yesus Kristus tetapi juga memasukkan orang ke dalam seluruh peristiwa Yesus Kristus yang meliputi sengsara, wafat, hingga kebangkitan serta hidup-Nya bagi Allah. Dengan baptisan kita mengenakan Kristus (Gal 3:27), artinya apa yang terjadi dalam diri Kristus juga terlaksana dalam diri kita.
Dari kutipan rasul Paulus kepada jemaat di Roma 6:1-14 terdapat tiga hal yang terjadi dalam baptisan: pengampunan atau pembersihan dosa, senasib dengan Kristus yang wafat dan bangkit, dan persatuan orang beriman dengan Allah sendiri.
b. Baptis Mempersatukan Orang Beriman dengan Allah Tritunggal
Baptisan mempersatukan orang Kristiani dengan Allah sendiri, karena melalui pembaptisan orang Kristiani dimasukkan kedalam komunitas Trinitas: relasi kasih antara Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam diri Allah ada relasi komunikatif antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Komunikasi Trinitas berarti komunikasi kasih antara Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus sedemikian rupa
sehingga ketiga pribadi tetap merupakan satu keilahian (Allah Yang Maha Esa) dan sekaligus masing-masing pribadi tidak pernah terpisah dan tidak pernah tercampur. Komunikasi kasih yang membangun komunitas Ilahi dalam Trinitas ini diwahyukan dalam sejarah keselamatan. Sang Putra menjadi manusia dalam Yesus Kristus, di mana keseluruhan hidup Yesus tetap bersama dengan Allah Bapa dan yang menyatukan Bapa dengan Yesus adalah Roh Kudus. Pada saat wafat Putra Allah menyerahkan diri secara total kepada Allah Bapa dalam Roh dan dalam kebangkitan-Nya Bapa menerima persembahan dan penyerahan diri Putra-Nya. Melalui baptis orang beriman menggabungkan diri dalam dinamika kasih Trinitas tersebut. Berkat Roh Kudus yang dianugerahkan kepada orang beriman, orang Kristiani masuk ke dalam dinamika hubungan kasih Allah Bapa dan Putra. Dengan baptis, orang beriman mengalami kesatuan dan kebersamaan dengan Allah Tritunggal yang merupakan anugerah semata, bukan karena jasa kita.
c. Baptis Memasukkan Orang Beriman dalam Gereja
Dengan baptis, seseorang dimasukkan dalam Gereja sebagai warga baru. Proses inisiasi merupakan suatu saat di mana orang harus tetap bertumbuh dan berkembang dalam iman Gereja. Baptis meliputi dua macam gerak yang merupakan satu realitas komunikasi dan perjumpaan. Pertama: melalui baptis, seseorang masuk dalam Gereja, diterima dan diakui sebagai warga baru dengan segala hak dan kewajibannya. Kedua, dalam baptis Gereja menjadi hidup dan tumbuh dalam orang Kristiani. Artinya dalam diri orang Kristiani terjadi internalisasi seluruh hidup Gereja: iman, tradisi, dan ungkapannya.
d. Baptis sebagai Ikatan Kesatuan Ekumenis
Dari ketujuh sakramen dalam Gereja Katolik, baptis merupakan salah satu sakramen yang diterima dan diakui oleh Gereja. Gereja yang satu sudah semakin dapat mengakui validitas praktek baptisan dari Gereja lain. Meskipun pengakuan itu tidak selalu terjadi, mengingat masing-masing Gereja terkadang memiliki ritus yang berbeda. Dokumen Lima mengatakan bahwa pada umumnya Gereja-Gereja memandang pernyataan mengenai baptisan sebagai pernyataan yang baik dan sesuai dengan tradisi para rasul. Yang dipermasalahkan hanyalah baptisan bayi. Meskipun demikian, baptisan diterima oleh semua Gereja dan dengan demikian umat Kristiani menyebut baptisan sebagai ikatan kesatuan ekumenis. Dari pihak Gereja Katolik, pengakuan akan makna baptis sebagai kesatuan ekumenis tercermin dalam UR 22, yang berbunyi “Baptis merupakan ikatan sakramen antara semua orang yang dilahirkan kembali karenanya”.
4. Simbol, Liturgi Sakramen Baptis, dan Nama Baptis a. Simbol
Dalam sakramen baptis ada simbol atau lambang dan liturgi yang digunakan seperti sakramen-sakramen Gereja pada umumnya. Adapun lambang dan simbol yang digunakan adalah:
1) Air
Air melambangkan pembersihan, kesucian dan kelahiran kembali dalam Roh Kudus. Dengan demikian baptisan hanya dapat diterimakan secara sah dengan pencurahan air dan dengan rumusan kata-kata yang diwajibkan, yaitu:
“Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus”. Air yang harus dipergunakan dalam menerimakan baptis, diluar keadaan terpaksa, haruslah air yang diberkati menurut ketentuan-ketentuan buku liturgi ( KHK kan. 853). Air yang digunakan dalam keadaan terpaksa adalah air baptis yang sudah diberkati atau sekurang-kurangnya diberkati sewaktu upacara baptisan. Baptisan dilaksanakan dengan memasukkan ke dalam air atau dengan dituangi air.
2) Lilin yang Bernyala
lilin yang bernyala yang diterima oleh baptis baru dalam upacara sakramen baptis merupakan lambang bahwa seseorang yang dibaptis diterangi oleh Kristus dan harus senantiasa berusaha hidup dalam terang Kristus (Komisi Kateketik KAS, 2012: 27).
3) Minyak Krisma
Minyak wangi yang telah diberkati Uskup, berarti bahwa Roh Kudus diserahkan kepada yang baru dibaptis. Ia menjadi seorang Kristen, artinya seorang yang diurapi oleh Roh Kudus, digabungkan sebagai anggota dalam Kristus, yang telah diiurapi menjadi imam, nabi, dan raja (KGK 1241).
4) Kain Putih
Kain putih (KGK 1243) berarti bahwa orang yang telah dibaptis mengenakan Kristus (sebagai busana).
b. Liturgi
Ritus utama dalam upacara baptis meliputi: litani dan pemberkatan air, penyangkalan setan, pengurapan dengan minyak katekumen, pengakuan iman,
baptis, pengurapan sesudah baptis sesudah menggunakan pakaian putih serta penyerahan lilin bernyala (Komisi Kateketik KAS, 2012: 27). Namun, dalam keadaan darurat, setiap orang dapat membaptis, sejauh ia mempunyai niat untuk melakukan apa yang dilakukan Gereja, dan menuangkan air diatas kepala orang yang dibaptis dan berkata: “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (KGK 1240).
c. Nama Baptis
Pemberian nama baptis yang dipilih diambil dari deretan nama-nama orang kudus yang ada dalam Gereja Katolik, mempunyai makna pertama, agar keutamaan, kesucian,dan keteladanan orang kudus itu terpancar pada orang yang menyandang nama orang kudus itu. Kedua, agar orang kudus itu membantu calon baptis melalui doa dan relasi secara khusus dengan calon baptis sehingga calon baptis dapat hidup pantas di hadapan Allah. Ketiga, nama baptis juga merupakan simbol anugerah hidup baru yang diterima (Komisi kateketik KAS, 2012: 27).
5. Pelayan dan Petugas Sakramen Baptis a. Pelayan Sakramen Baptis
Sakramen baptis dapat diterimakan baik dalam keadaan normal maupun darurat, dengan tetap mengindahkan aspek keabsahan sakramen baptis itu sendiri, yaitu mencurahkan air tiga kali di dahi, sambil mengucapkan”(Nama calon baptis), Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus”. Dalam keadaan normal, sakramen baptis dapat diterimakan uskup, imam, dan
diakon tertahbis: “Pelayan baptis adalah uskup, imam, dan diakon” (KHK kan.861 §1). Sedangkan dalam keadaan darurat, sakramen baptis dapat diterimakan semua orang Katolik yang sudah dibaptis seperti yang dikatakan dalam KHK kan. 861 § 2: “Bilamana pelayan tidak ada atau berhalangan, baptisan dapat dilaksanakan secara licit oleh katekis ataupun oleh orang lain yang oleh Ordinaris wilayah yang ditugaskan untuk fungsi itu, bahkan dalam darurat oleh siapapun yang mempunyai maksud yang semestinya;…”atau dengan ungkapan “Setiap orang beriman dapat memberikan sakramen baptis kepada orang yang berada dalam bahaya maut atau dalam sakrat maut, kalau tidak ada imam ataupun diakon” (Ga I, 2014:95).
b. Petugas Sakramen Baptis 1) Orang Tua
Dalam peristiwa pembaptisan bayi, kehadiran orang tua sangat penting dan menentukan dibandingkan dengan wali baptis, karena merekalah yang akan membesarkan dan mendidik anak-anaknya, khususnya dalam pembinaan iman anak-anaknya termasuk mempersiapkan mereka untuk menerimakan sakramen-sakramen lain seperti komuni pertama, Ekaristi, dan sakramen-sakramen penguatan (Prasetya, 2008:25-26). Mengingat pentingnya peranan orang tua baik pada saat pembaptisan maupun sesudah pembaptisan, kehadiran orang tua dalam penerimaan sakramen baptis sangat diharapkan:
“Sangatlah diharapkan supaya orangtua menghadiri upacara pembaptisan anaknya dan menyaksikan kelahirannya kembali dari air dan Roh Kudus”, termasuk untuk memberikan persetujuan atas pembaptisan ini: Orang tuanya, sekurang-kurangnya satu dari mereka atau secara legitim menggantikan orangtuanya, menyetujuinya” (KHK kan. 868 §1, 10).
2) Wali Baptis
Pembaptisan adalah sakramen iman. Iman membutuhkan persekutuan umat beriman. Setiap orang beriman hanya dapat beriman dalam iman Gereja. Iman yang dituntut untuk pembaptisan tidak harus sempurna dan matang, cukuplah satu tahap awal yang hendak berkembang. Kepada para katekumen dan wali baptis disampaikan pertanyaan: “Apa yang kamu minta dalam Gereja Allah?” dan ia menjawab; “Iman” (KGK 1253).
Berdasarkan pernyataan tersebut, Wali baptis tidak hanya bertugas pada saat penerimaan sakramen baptis, tetapi mendampingi terus-menerus sampai akhirnya bayi atau anak baptis dapat hidup secara Kristiani dan setia melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan baptisan yang telah diterimanya (KHK. Kan 872).
3) Penjamin (fakultatif)
Menurut Prasetya (2008: 28), Penjamin dalam sakramen baptis adalah seorang beriman Katolik baik laki-laki ataupun perempuan yang berani memberikan jaminan bahwa bayi ini pantas diterima dalam Gereja Katolik dan akan dididik dalam iman Katolik. Oleh karena itu, keberadaan penjamin hanya berkaitan dengan kasus-kasus khusus agar bayi tersebut dapat dibapits; misalnya, keberadaan bayi yang tidak diketahui siapa orang tuanya atau keberadaan bayi yang berasal dari perkawinan yang tidak sah atau keberadaan bayi disebabkan karena kehamilan di luar nikah atau pada saat pembaptisan, orang tuanya tidak dapat hadir karena alasan berat.
Dalam situasi biasa, keberadaan penjamin tidak diperlukan karena oleh orang tua sendiri, bayi tersebut akan dibesarkan dan dididik imannya secara Katolik dan itu sesuai dengan maksud baptisan yang telah diterimanya. Berdasarkan kasus-kasus seperti itu, kehadiran penjamin sangat penting dan diperlukan dalam peristiwa pembaptisan.
4) Umat
Pentingnya kehadiran umat dalam peristiwa pembaptisan selain menunjukkan aspek perhatian dan cintanya kepada mereka yang hendak menerima sakramen baptis dan meneguhkan pengakuan iman yang dilakukan oleh orang tua dan wali baptis, juga sebagai perwujudan pengakuan iman Gereja. Umat Allah ikut serta secara aktif untuk menampakkan penerimaan para baptisan baru ke dalam Gereja. Dengan demikian, iman yang menjadi dasar pembaptisan bukan hanya milik keluarganya saja, melainkan milik seluruh Gereja (Prasetya, 2008: 29).
B. TUGAS DAN PERAN WALI BAPTIS
Pada bagian ini penulis akan memaparkan mengenai pokok-pokok wali baptis. Penulis akan mengajak melihat beberapa pendapat tentang wali baptis. Pada bagian awal ini penulis akan membahas mengenai sejarah wali baptis, pengertian wali baptis, peran-tugas dan partisipasi wali baptis.
1. Sejarah Wali Baptis
Adanya wali baptis atau saksi baptis dalam sakramen pembaptisan tidak menjadi syarat mutlak bagi sahnya sakramen baptis. Dalam keadaan darurat, baptisan tetap sah bila dilakukan tanpa ada wali baptis. Namun, adanya wali baptis atau saksi baptis ini merupakan kebiasaan lama yang sudah mengakar dalam tradisi katolik. Oleh karena itu, keberadaan wali baptis atau saksi baptis tetap diusahakan (Irwanto, 2005: 25).
Sejarah wali baptis bermula dari adanya penjamin dalam tradisi pembaptisan Gereja Purba. Sebelum menjadi wali baptis para penjamin saat upacara pelantikkan katekumen disebut sebagai penobat (Komisi Liturgi MAWI, 48). Sebagai penobat, penjamin bertindak sebagai saksi para calon baptis. Setelah upacara pelantikkan para penjamin dapat menjadi wali baptis. Mereka dapat bertindak sebagai wali baptis terutama karena mereka telah menjadi saksi untuk Gereja dan untuk Kristus di hadapan manusia.
Nama wali baptis dalam masa awal Gereja disebut dengan penjamin/sponsor. Peran wali baptis sebagai penjamin/sponsor dilakukan oleh St. Barnabas terhadap St. Paulus yang baru bertobat (Kis 9:27). Peran wali baptis sebagai penjamin/sponsor seperti St. Barnabas sudah berkembang pada awal sejarah Gereja, terlebih ketika Gereja mengalami masa penganiayaan dari kekaisaran Romawi sampai munculnya Edict Milan (313 M). Pada masa itu menjadi Kristen berarti mesti siap untuk menjadi martir, dibunuh demi iman, karena kekristenan dianggap sebagai musuh negara yang harus ditumpas. Maka ibadahpun dilakukan secara sembunyi-sembunyi di katakombe-katakombe.
Pewartaan Injil tidak bisa dilakukan secara terang-terangan (Bagiyowinadi, 2009: 20). Untuk mengetahui apakah lawan bicara juga Kristen digunakan gambar ikan sebagai sandi (Yun, ikan = ICHTUS singkatan dari Yesus Kristus, Anak Allah, Penyelamat). Bila ada seseorang yang tertarik menjadi Kristen, dia akan menghadap Uskup setempat. Dan Uskup meminta dia mencari teman seorang Kristen yang menjadi penjamin/sponsor baginya (Bagiyowinadi, 2009: 21).
Sebelum abad IX beberapa orang tua sudah memilih orang lain bertindak sebagai wali baptis anaknya. Baru pada abad IX ada peraturan resmi sponsor haruslah di luar kedua orang tuanya. Maka muncullah istilah latin patrinus (bapa baptis) dan Matrina (ibu baptis). Melalui kelahiran baru dalam pembaptisan itu mereka menjadi orang tua spiritual bagi anak baptisnya. Dengan adanya wali baptis yang bukan orang tuanya, pembinaan iman bisa berkelanjutan, kalaupun orang tua tiba-tiba meninggal. Sejak awal relasi spiritual antara wali baptis dan anak baptis sedemikian erat sehingga Kaisar Yustinus (abad VI) mengeluarkan larangan penikahan antara wali baptis dengan anak baptis (Bagiyowinadi, 2009: 22).
Dalam liturgi pembaptisan bayi masa itu, wali baptis berperan untuk menerimakan anak baptis dari bejana baptis. Selanjutnya Karel Agung, raja Frank yang memerintah tahun 751-758, berusaha menjadikan institusi wali baptis sebagai pendidikan iman bagi kaum awam. Dia menggaris bawahi tugas wali baptis sebagai pendidik iman bagi anak baptisnya termasuk untuk mengajarkan doa-doa dasar kepada mereka (Bagiyowinadi, 2009: 23).
Dari penjelasan tersebut di atas, gereja Katolik tetap mempertahankan bahwa setiap calon baptis yang akan dibaptis sedapat mungkin diberi wali baptis yang mendampingi calon baptis menghayati hidup Kristiani yang sesuai dengan baptisannya dan memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptis itu.
2. Pengertian Wali Baptis
Kamus Liturgi mendefiniskan bahwa wali baptis adalah orang beriman Katolik yang dipilih oleh katekumen untuk menjadi pendampingnya dalam tahap- tahap terakhir inisiasi Ktisten. Sesudah katekumen dibaptis, ia tetap harus memperhatikan perkembangan hidup baptisan baru tersebut. Wali baptis berkewajiban menolong anak baptis sebaik mungkin dengan kata dan teladan dalam perkembangan hidup rohani. Kewajiban seorang wali baptis sangat penting terlebih-lebih jika orang tua anak baptis tidak mau mengembang tanggung jawabnya dan dengan demikian wali baptis dapat menjadi orang tua kedua bagi anak baptis tersebut. Wali baptis wajib berusaha supaya orang anak baptis yang mendapat pendampingan darinya menerima pembinaan dan pendidikan Katolik dan tetap setia pada janji baptis (Ernest Mariyanto, 2004: 226).
Wali baptis adalah seorang beriman Katolik, baik laki-laki maupun perempuan, yang sudah dewasa usia dan imannya yang ditunjuk untuk mendampingi proses perkembangan iman orang yang dibaptis, baik kanak-kanak maupun orang dewasa. Menurut Prasetya (2011: 49), wali baptis adalah orang yang dianggap tepat untuk menjadi penjamin pada sakramen penguatan ketika
anak sudah cukup besar untuk menerimanya. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan atau sesuatu yang menghalangi orang tua untuk membesarkan anaknya dalam iman Katolik, wali baptis mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak memperoleh pendidikan iman yang diperlukan. Dengan demikian, keberadaan dan tugas wali baptis tidak hanya penting pada saat pembaptisan, tetapi juga bertugas untuk mendampingi calon baptis terus menerus sampai dapat hidup secara kristiani dan setia melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai dengan baptisan yang telah diterimanya (Prasetya, 2011: 49).
Wali baptis oleh Yohanes Chrysostomus yang dikutip dalam buku Bina
liturgia 5 juga disebut “Bapa rohani” hal ini mau menunjukkan sifat kemesraan
seorang ayah yang mendidik anak-anaknya dalam hal-hal rohani dan mendorang mereka kepada kebajikan (MAWI, 1986: 49).
Dari pengertian di atas, Kitab Hukum Kanonik 874 menuliskan syarat-syarat untuk menjadi seorang wali baptis yakni:
1. Ditunjuk oleh calon baptis atau orang tuanya atau oleh orang yang mewakili mereka, atau bila mereka itu tidak ada, oleh pastor paroki atau pelayan baptis, serta memiliki kecakapan dan maksud untuk melaksanakan tugas itu;
2. Telah berumur genap enambelas tahun, kecuali jika umur lain ditentukan oleh Uskup diosesan, atau pastor paroki ataupun pelayan baptis menilai bahwa kekecualian atas alasan wajar dapat diterima;
3. Seorang Katolik yang telah menerima penguatan dan sakramen Ekaristi Maha Kudus, lagi pula hidup sesuai dengan iman dan tugas yang diterimanya;
5. Bukan ayah atau ibu dari calon baptis; seseorang yang telah dibaptis dalam suatu jemaat gerejawi bukan Katolik hanya dapat diizinkan tampil hanya bersama dengan seorang wali baptis Katolik, dan itu sebagai saksi baptis.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa wali baptis adalah orang yang sungguh mempunyai kewajiban penting untuk menjaga, mendampingi dan membantu orang tua dalam mendampingi anak sehingga semakin hari anak semakin memiliki iman yang kokoh sehingga tidak mudah untuk mengikuti arus zaman yang semakin deras serta semakin hari semakin aktif dalam mengikuti kegiatan menggereja. Kunci utama mengemban tanggungjawab sebagai wali baptis adalah kemauan dan kerelaan.
3. Peran, Tugas, dan Partisipasi Wali Baptis a. Peran Wali Baptis
Setiap calon baptis hendaknya mempunyai wali baptis namun bukan demi sahnya pembaptisan karena tanpa wali wali baptis, pembaptisan tetap sah. Dalam keadaan darurat, baptisan tetap sah bila dilakukan tanpa adanya wali baptis. Namun adanya wali baptis atau saksi baptis ini merupakan kebiasaan lama yang sudah mengakar dalam tradisi Katolik. Oleh karena itu, keberadaan wali baptis atau saksi baptis sebaiknya tetap diusahakan (Irwanto, 2005: 25). Dalam Kitab
Hukum Kanonik ditegaskan bahwa:
“Calon baptis sedapat mungkin diberi wali baptis yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisiasi Kristiani, dan bersama orangtua mengajukan calon baptis bayi untuk dibaptis menghayati hidup Kristiani yang sesuai dengan baptisannya dan memenuhi kewajiban yang melekat pada baptis itu” (KHK 872).
Dengan demikian wali baptis diharapkan dapat menunjukkan jalan kepada katekumen untuk mewujudkan (menerapkan) Injil dalam hidupnya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Wali baptis diharapkan dapat mendampingi dalam keragu-raguan dan kebimbangan, memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristiani para baptis baru agar tetap setia pada janji baptis. Dengan melihat begitu besarnya tugas seorang wali baptis, seorang wali baptis tidak begitu saja lepas dari tanggungjawabnya karena hal ini sangat berpengaruh bagi perkembangan iman anak baptis (KWI, 1996: 426). Supaya rahmat pembaptisan dapat berkembang, bantuan orang tua dan wali baptis sangat penting. Mereka harus turut bertangung jawab dan harus menjadi orang Kristiani yang baik, yang mampu dan siap mendampingi anak dan orang dewasa yang baru dibaptis pada jalan kehidupan Kristiani. Tugas mereka adalah jabatan gerejani yang sebenarnya officium (KGK 1255).
Bila yang dibaptis adalah seorang bayi atau anak kecil yang orang tuanya adalah umat beriman Katolik, wali baptis membantu orang tuanya di mana orang tua tetap merupakan pengajar iman utama bagi anaknya (Gravissimus
Educationis, GE 3). Bila yang dibaptis adalah seorang bayi atau anak kecil yang
orang tuanya bukan Katolik, atau yang dibaptis adalah seorang dewasa, wali baptis harus menjadi teladan utama dalam pertumbuhan spiritual anak baptisnya. Pertolongan yang dapat diberikan oleh seorang wali baptis adalah teladan iman. Seorang wali baptis tidak dapat memberikan teladan iman bila ia tidak berbagi (sharing) mengenai imanya. Dengan demikian, wali baptis harus mengusahakan kebajikan dalam dirinya sendiri dan memberikan teladan dalam hidup doa kepada
seluruh umat. Karena seorang wali baptis telah berjanji untuk membantu orang yang baru dibaptis dan setuju untuk mewakili komunitas iman dan mendorong anak baptisnya untuk tetap berada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik sendiri.
b. Tanggung Jawab Wali Baptis
Berdasarkan penegasan diatas, Herman Yosef Ga I dalam buku Sakramen
dan Sakramentali menurut Kitab Hukum Kanonik (2011: 125) memaparkan apa
yang merupakan tanggung jawab ibu/bapa wali baptis itu sendiri yaitu:
1) Mengajar atau mendidik dengan memperlihatkan kepada calon baptis dewasa, atau membantu orang tua calon baptis bayi, bagaimana mempraktekkan ajaran Allah dan Injil Suci dalam hidup pribadi dan sosial. Di samping itu, ibu/bapa wali baptis bertugas juga serentak sebagai pembawa dan pemberi kesaksian Kristiani dan menjadi pelindung atas pertumbuhan hidup beriman calon baptis sebagai buah dari sakramen baptis.
2) Membantu calon baptis dewasa atau orang tua calon baptis bayi yang sekurang-kurangnya dilakukan pada tahap akhir persiapan pembaptisan (masa pemurnian).
3) Menyertai calon baptis dewasa dalam mengajukan diri menjadi calon wali baptis dan serantak berdiri sebagai seorang saksi atas hidup dan perilaku iman, moral, dan maksud baik calon baptis.
4) Mewakili Gereja dalam meneriman calon baptis menjadi anggota baru Keluarga Kerajaan Allah secara spiritualitas dan memainkan peran nyata
Gereja kepada calon baptis sebagai seorang bunda. Ibu/bapa wali baptis menjadi anggota baru dari keluarga spiritual baptisan baru.
Konferensi Wali Gereja Indonesia dalam Iman Katolik menjelaskan bahwa peran wali baptis adalah mendampingi katekumen pada hari “pemilihan”, dalam perayaan sakramen-sakramen inisiasi dan pada “mistagogi”, artinya wali baptis menunjukkan jalan kepada katekumen supaya menerapkan Injil dalam kehidupannya sendiri dan dalam hubungannya dengan masyarakat. Wali baptis pun harus memberi kesaksian dan menjaga perkembangan hidup Kristianinya (Iman Katolik, 1996: 426).
Melihat keberadaan peran wali baptis yang berlangsung selama hidup ini, sebaiknya ditanggapi dengan upaya pencarian wali baptis secara bijaksana, jangan asal-asalan, sesuai dengan syarat wali baptis. Khususnya untuk baptisan anak-anak, tidaklah bijaksana jika orang tua memilih wali baptis yang sudah lanjut usianya karena yang sering terjadi adalah wali baptis tersebut sakit-sakitan, bahkan meninggal dunia, pada saat anak sangat memerlukan kehadirannya itu. Itulah sebabnya, keberadaan wali baptis jangan dipahami sebatas formal saja, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka pendampingan terus-menerus bagi anak dalam menatap masa depannya yang masih panjang dengan segala tantangan dan kesulitan zamannya (Prasetya, 2011: 51).
c. Partisipasi Wali Baptis dalam Liturgi Pembaptisan
Di atas telah diuraikan apa yang menjadi peran dan tanggung jawab wali baptis. Bagiyowinadi (2009: 63-74) dalam buku Wali Baptis peran dan tanggung
jawabnya, menguraikan apa saja yang merupakan partisipasi wali baptis dalam
liturgi pembaptisan, antara lain yaitu:
1. Partisipasi Wali Baptis dalam Pembaptisan Bayi dan Kanak-Kanak a. Mengikuti pembekalan bersama dengan orangtua anak baptis
Bersama dengan orangtua anak yang dibaptis, wali baptis mengikuti pembekalan. Kegiatan pembekalan ini cukup penting bagi wali baptis karena akan dibicarakan tanggung jawab mendidik anak setelah pembaptisan serta dalam pembekalan akan disampaikan bagaimana pelaksanaan liturgi pembaptisan misalnya: siapa yang memasang busana putih pada baptisan baru, siapa yang menyalakan lilin baptis pada lilin paska, dan lain sebagainya (Bagiyowinadi, 2009: 64).
b. Pada saat upacara pembaptisan
Sama halnya dengan orangtua anak yang dibaptis, wali baptis dalam upacara pembaptisan mempunyai peran (Bagiyowinadi 2009: 66), yakni:
1) Pada saat upacara pembaptisan secara puplik wali baptis menyatakan kesanggupannya untuk membantu orang tua menjalankan tugasnya,
2) Wali baptis ikut membubuhkan tanda salib pada dahi calon baptis setelah orangtua,
3) Bersama orangtua memperbaharui janji baptis dengan menolak setan dan mengakui iman. Kemudian masih dimungkinkan dengan:
4) Ikut memegang anak baptis setelah penuangan air baptis,
6) Membantu memasangkan busana putih pada anak baptis, 7) Membantu menyalakan lilin baptis pada lilin Paskah.
2. Partisipasi Wali Baptis dalam Pembaptisan Dewasa a. Upacara Pemilihan Calon Baptis
Pada upacara pemilihan calon baptis untuk baptis dewasa yang juga disebut sebagai inisiasi tahap ke dua, wali baptis mulai ambil peran dalam liturgi. Pada bagian awal upacara pemilihan calon baptis dewasa, wali baptis akan diminta kesaksiannya apakah calon baptis dewasa tersebut sudah siap untuk menerima baptisan.
b. Pada Saat Upacara Pembaptisan
Pada saat upacara pembaptisan dewasa, setelah calon baptis mengucapkan janji baptis, wali baptis mempunyai peran (Bagiyowinadi: 2009: 71-72), yakni: 1) Pada penuangan air baptis pada kepala calon baptis, salah satu atau kedua
wali baptis mendampinginya dengan tangan kanan memegang bahu anak baptis (OICA 226 B).
2) Wali baptis membantu memasangkan busana putih pada anak baptisnya (OICA 229).
3) Wali baptis menyalakan lilin baptis dari api lilin paskah dan memberikan kepada anak baptisnya (OICA 230).
4) Bila upacara pembaptisan ini dilanjutkan dengan penerimaan sakramen Krisma, salah satu atau kedua wali baptis mendampingi anak baptis dengan