• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Meningkatkan Peran Wali Baptis dalam

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 140-144)

BAB III METODOLOGI LAPORAN DAN PEMBAHASAN HASIL

C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN TENTANG TENTANG

5. Upaya Meningkatkan Peran Wali Baptis dalam

5. Upaya Meningkatkan Peran Wali Baptis dalam Mengembangkan Iman Anak Baptis Usia Remaja

a. Pembekalan Bagi Wali Baptis dan Orang Tua

Upaya yang akan dilakukan untuk meningkatkan peran wali baptis dalam pengembangan iman anak sekarang dan selanjutnya membutuhkan suatu kesadaran dan pemahaman bagi umat bahwa wali baptis itu mempunyai peran yang penting bagi pendidikan iman anak baptis. Untuk menyikapi ini, dilakukan pendidikan iman terutama pada saat pembekalan bagi orang tua dan wali baptis anak. Pada saat pembekalanlah tempatnya untuk mengajukan kepada keluarga untuk memilih secara serius yang menjadi wali baptis, di mana diharapkan untuk memiliki cukup kedekatan kepada keluarga dan memberikan teladan kepada anak-anak baptis supaya mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang baik dan teguh pada imannya akan Kristus.

b. Perlunya Kerjasama antara Orang Tua dan Wali Baptis

Relasi personal serta kerjasama yang baik antara orang tua, anak dan wali baptis selama ini perlu menjadi perhatian dalam proses pendidikan iman anak. Orang tua perlu memperkenalkan wali baptis kepada anaknya. Jika perlu diundang dalam acara-acara tertentu misalnya: ulang tahun kelahiran, ulang tahun baptisan, ulang tahun krisma dan jika perlu ulang tahun perkawinan. Dalam pertemuan

tersebut kesempatan untuk mensharingkan pengalaman satu dengan yang lain dimungkinkan untuk bisa terlaksana (Pak Tresna, R5).

c. Pendampingan Iman Berkelanjutan

Responden mengungkapkan bahwa ada keprihatinan dan kecemasan tersendiri terhadap iman para remaja dalam konteks perkembangan teknologi. Anak remaja lebih aktif dalam dunia maya bila dibandingkan dengan kegiatan gerejani. Lebih sibuk main handphone dari pada menghadiri perayaan ekaristi dan berbagai kegiatan-kegiatan yang telah disediakan oleh paroki Kristus Raja Baciro. Beberapa saja remaja yang kelihatan aktif mengikuti kegiatan yang ada di paroki. Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh ibu Ning (R5) bahwa para remaja sekarang “ mati suri”, tidak kelihatan, tidak ada gemanya. Kecemasan utama dari para wali baptis terhadap anak baptis menyangkut dunia teknologi di samping efek positifnya, teknologi juga mempunyai pengaruh negatif terhadap manusia itu sendiri. Teknologi dengan segala kecanggihannya dapat membuat anak semakin tidak beriman. Belum lagi anak juga disibukkan dengan sekolah. Kurikulum sekolah juga ikut menyita perhatian anak. Hampir seluruh kegiatan sekolah menyedot perhatian anak-anak dan kurang memperhatikan kegiatan-kegiatan iman.

Iman anak rapuh, anak tidak mempunyai pegangan (pak Anung, R3). Jika anak tidak mempunyai pendampingan atau orang yang bisa mengarahkan kearah yang lebih baik, terlebih dalam mengahadapi masalah-masalah dalam keluarga

dan masalah dalam menempatkan diri dalam menyikapi dunia IT dengan segala kemungkinannya maka iman anak sering menjadi korban.

Untuk menyikapi hal tersebut di atas, dari responden yang diwawancarai, titik tolak pendampingan yang harus dibuat adalah sesuai dengan ARDAS KAS. Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang ditegaskan dengan jelas bahwa keluarga merupakan Gereja Basis. Sebagai Gereja Basis, keluarga Katolik setidak-tidaknya menunjukkan dalam bentuk doa bersama. Doa bersama ini menjadi bahan utama dalam mengembangan dan mendampingi iman anak. Dalam konteks pendidikan iman, iman anak dibimbing secara dialogis seperti menanyakan kegiatan anak sepanjang hari.

Sikap dialogis ini menjadi modal utama dalam keterlibatan wali baptis dalam proses pendampingan iman sekalipun misalnya anak tidak berada dalam suatu lingkungan namun dengan perkembangan teknologi wali baptis dapat menjalin komunikasi dengan anak baptis sendiri. Kehadiran wali baptis sehubungan dengan dunia teknologi cukup menarik dengan apa yang dilakukan oleh Ananta dan Ibu Debby dengan menggunakan dunia facebook, BBM dan SMS. Tentu saja dengan dunia face book sebagai wali baptis dapat mengetahui isi dari

face book dan juga BBM tersebut. Etika sopan santun dalam menggunakan kata

akan jauh terarah dengan dunia menggunakan dunia maya tersebut. Nasehat-nasehat rohani dan biblis tersampaikan lewat dunia IT tanpa harus melakukan perjumpaan secara personal.

Idealnya pendampingan jauh lebih mudah terlaksana bila anak berada di sekolah Katolik karena pendidikan iman sungguh-sungguh berkesinambungan

(Bu Theresia, R2). Kehadiran wadah di Paroki Kristus Raja Baciro untuk menampung anak remaja juga mempunyai tantangan tersendiri. Anak remaja dengan usia yang serba tanggung, agak sulit menempatkan diri dalam wadah terebut. “Mau ke PIA tidak juga, mau ke OMK juga tidak” demikian ungkapan seorang responden sehubungan dengan wadah yang sekarang ini. Kehadiran kelompok CREBO dalam bentuk teater, tarian, ziarah dan dokumentasi peristiwa lewat video membuat anak remaja berkumpul. Kreativitas dan imajinasi secara teknologis anak tersalurkan secara tepat dalam kelompok ini.

Dari hasil wawancara romo paroki Kristus Raja Baciro (R18) mengusulkan agar apa yang telah ditemukan penulis dalam penelitian ini disampaikan kepada tim inisiasi paroki dalam bentuk sharing pengalaman atau mengadakan seminar yang nantinya akan disampaikan kepada para wali baptis pada saat pembekalan.

Kenyataan bahwa para wali baptis kurang menghayati peran dan tanggug jawabnya sebagai emban baptis, maka ibu Ning (R5) mengharapkan agar dibentuk wadah/paguyuban bagi wali baptis sehingga jika ada baptisan orang tua tidak perlu lagi mencari-cari siapa yang menjadi wali baptis bagi calon baptisan baru. Dari kelompok wali baptis inilah orang tua bisa memilih yang menjadi emban baptis. Selain itu, Pak Windu (R19) mengharapkan agar penulis membuat sebuah buku kecil sebagai rezume dari hasil penelitian yang di dalam buku tersebut berisi tentang apa yang menjadi peran dan tanggung jawab wali baptis. Selain ibu Debby (R1) mengusulkan supaya penulis mengadakan pertemuan kepada PASUTRI muda yang ada di paroki Kristus Raja Baciro bersama dengan

wali baptis dan tim pewartaan. Dalam pertemuan itu hendaknya diberi pemahaman agar PASUTRI Muda lebih selektif dalam memilih siapa yang akan menjadi emban baptis bagi anak mereka. Ini demi pendampingan iman bagi anak untuk selanjutnya (ibu Debby, R1).

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 140-144)