BAB II. PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN
D. PERAN KHAS WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN
Pada bagian sebelumnya penulis telah memaparkan mengenai sakramen
baptis, iman-perkembangan iman serta tugas dan peran wali baptis. Pada bagian
ini penulis akan memaparkan sekilas tentang remaja dalam kaitannya dengan
perkembangan imannya.
1. Kebutuhan Perkembangan Iman Usia Remaja
Para psikolog masih berbeda pendapat sehubungan dengan definisi dari
remaja. Secara etimologis kata remaja berasal dari kata Latin adolescere
(adolescintia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi
dewasa” (Hurlock, 1990: 206). Batasan umur pertumbuhan dan kedewasaan seorang remaja juga tetap masih diperdebatkan. Namun dalam skripsi ini, penulis
tidak masuk pada perdebatan para ahli, hanya untuk memberi batasan sejauh
berkaitan dengan skrispsi ini.
Remaja adalah suatu masa dimana individu berjuang untuk tumbuh dan
menjadi orang yang mampu diterima dalam masyarakat pada umumnya, menggali
serta memahami arti dan makna dari panggilan yang ada. Wihtherington membagi
dua masa remaja yaitu masa remaja awal (pre adolence) yang berkisar usia 12-15
tahun dan masa remaja akhir (late adolence) yang berkisar pada usia 15-18 tahun
(Hurlock 1990:206). Teori Erik Erikson (Feist, 2008: 223-225) mengatakan
bahwa manusia sering berada dalam konflik. Pada usia 12-18 (pre dan late
adolence), Erik Erikson mengatakan bahwa manusia sedang berada dalam konflik
identitas dan kacau peranan. Penyebab utama dari identitas-kacau peran ialah
karena sedang terjadi prose peralihan yang sukar dari masa remaja menuju
dewasa. Juga termasuk menyangkut kepekaan sosial dan sejarah yang sebelumnya
kurang disadari. Konflik ini dapat menjadi penyebab bagi remaja merasa kosong,
cemas dan tidak pasti.
Dengan usia yang demikian remaja harus mengambil keputusan yang
penting yang sangat berguna untuk dirinya, tetapi ia merasa tidak mampu
melakukannya. Dorongan untuk mengambil keputusan selalu datang dari
masyarakat, yang dalam arti negatif dapat menyebabkan remaja menolak untuk
mengambil keputusan yang tampak dalam sikap kekanak-kanakan. Belajar
mengambil keputusan sering juga terlihat dari usahanya untuk memahami dan
memiliki pandangan tokoh atau figur yang dikaguminya yang terlihat dalam
Bila dilihat dari sudut tingkah laku, umumnya remaja inkonsisten dan
tidak dapat diduga. Pada suatu saat ia mempunyai reservasi dari dalam untuk tidak
melibatkan dirinya pada orang lain, dan masuk dalam rasa takut untuk ditolak,
dikecewakan atau salah arah. Pada saat berikutnya ia dapat menjadi penurut,
pencinta/pengagum, murid, tanpa peduli akan apa konsekuensinya (bdk. Dewan
Karya Pastoral KAS, 2014: 44). Ketakutan oleh perubahan besar yang dialami
dalam dirinya sendiri, apalagi bila dorongan masyarakat yang tidak berfungsi
positif demi pembentukan identitas diri menyebabkan timbulnya krisis identitas.
Krisis identitas ini dapat sangat berbahaya, karena seluruh masa depan
seseorang dan generasi berikutnya tergantung padanya. Apalagi krisis itu semakin
terarah pada perkembangan identitas yang negatif, yakni rasa memiliki sejumlah
kemampuan yang jelek atau ciri-ciri yang tak panta seperti terungkap dalam
ungkapan remaja: “Merekalah yang jahat, bukan saya” (Feist, 2008: 223-225). Dalam skripsi ini identitas berarti kepercayaan/keyakinan diri yang
berkembang, kemampuan untuk mempertahankan kesamaan batin dan kontinuitas
sesuai dengan kesamaan dan kontinuitas dari arti seseorang bagi orang lain.
Dengan perkataan lain, identitas adalah kesadaran menjadi “diri yang koheren”.
Ciri khas dari kesadaran “diri yang koheren” adalah adanya kesinambungan, kesamaan akan kesadaran diri. Yang dituntut dari “diri yang koheren” ialah proses identifikasi dan internalisasi sebagai pembentuk dasar yang kokoh dan tetap bagi
kepribadian.
Dalam kaitannya dengan iman kepercayaan, remaja mulai membentuk
menyangkut usahanya untuk menjalin hubungan pribadi dengan Allah. Rujukan
utama relasi yang intim antara manusia dengan Allah sering dilihat pada diri
orang sekitarnya (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014: 44).
James Fowler sendiri melihat bahwa iman seperti yang disebut di atas
adalah tahap Iman Sintesis Konvensional (13-21 Tahun).Dalam kaitannya dengan
formasio iman terutama untuk jenjang remaja yang mengalami krisis identitas
(Erik Erikson) dan iman yang sintetis dan konvensional (Fowler), Keuskupan
Agung semarang sangat mengharapkan agar pada usia 13-21 tahun, para remaja
sudah mampu mengakui/mengungkapkan imannya secara pribadi dan melibatkan
diri dalam tugas-tugas Gereja serta mengembangkan komunio. Untuk mendukung
itu, formasio sangat penting untuk memperhatikan pertemanan di antara mereka.
Pada masa ini remaja lebih senang berkegiatan kalau ada teman sebayanya yang
juga hadir dan terlibat. Dorongan teman lebih kuat dari pada anjuran dan ajakan
orang tua (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014: 44).
Dari uraian tersebut di atas, penulis melihat bahwa kehadiran atau
pendampingan dari orang dewasa (wali baptis) sangat dibutuhkan oleh para
remaja. Pendampingan yang dimaksud adalah pendamping harus bisa masuk
dalam pertemanan dengan remaja. Dalam hal ini pendamping tidak tampil
sebagai guru yang memerintah, tetapi sebagai sahabat yang mengajak dan
melibatkan mereka. Menjadi sahabat yang bisa mengerti kehidupan mereka.
Sehingga dengan demikian mereka terbuka untuk menshringkan pengalaman-
pengalaman hidup mereka baik itu pengalaman yang menggembirakan maupun
2. Peran Wali Baptis dalam Perkembangan Iman Usia Remaja
Melihat bahwa betapa pentingnya pendampingan iman bagi
perkembangan iman usia remaja, peran wali baptis yang menjadi orangtua kedua
sangat dibutuhkan untuk menjadi pendamping bagi mereka. Pendampingan bagi
para remaja misalnya pendampingan melalui kelompok. Di sana ada gerak
bersama, permainan, refleksi, dan akhirnya peneguhan. Karena itu dibutuhkan
pendampingan yang memiliki hati untuk anak-anak, kreatif dan inovatif.
Pendampingan memahami masalah-masalah remaja agar bisa menjadi teman
bertukar pengalaman/wawasan, pendamping, dan peneguh. Pendamping
memanfaatkan media digital, seni dan hobby untuk mengembangkan iman remaja.
Melalui cara-cara yang unik anak dilibatkan dalam kehidupan menggereja,
misalnya: ikut misdinar, lektor, paduan suara, atau kelompok teater (Dewan Karya
Pastoral KAS, 2014: 44). Secara sakramental, anak diajak untuk bertekun dalam
Ekaristi dan penerimaan sakramen pengampunan dosa serta dipersiapkan untuk
menerima Sakramen Penguatan. Sakramen Penguatan yang mereka terima
diharapkan memberikan kebanggaan akan kekatolikkan dan memberi daya
semangat yang lebih untuk terlibat dalam Gereja bersama dengan teman-teman
sebayanya (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014: 45).
Secara konkrit para wali baptis dapat memperkenalkan kehidupan seminari
atau biara suster/bruder/frater yang juga merupakan salah satu acara dalam
persiapan penerimaan Sakramen Penguatan. Sangat lebih baik lagi apa bila anak-
anak remaja didorong untuk terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan
permasalahan lingkungan hidup dan lain sebagainya (Dewan Karya pastoral KAS,
2014: 45).
E. GAMBARAN UMUM PAROKI KRISTUS RAJA BACIRO