BAB II. PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN
C. PERKEMBANGAN IMAN
2. Beberapa Sumber Pokok untuk Memperkembangkan Iman
Perkembangan iman seseorang hanya akan terjadi dengan bantuan rahmat
dan pertolongan dari roh kudus, karena iman adalah suatu kegiatan manusia.
Menurut Mardi Prasetya (1992: 140) perjalanan rohani seseorang merupakan
usaha masing-masing pribadi untuk mengubah diri atau mentransformasikan
hidup dalam Kristus sampai dapat mengatakan bersama Paulus: “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam
aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang ini di dalam daging adalah hidup oleh
iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya
untuk aku” (Gal 2:22).
Ada beberapa sumber yang dapat membantu seseorang untuk dapat
memperkembangkan iman, antara lain:
a. Ekaristi
Ekaristi adalah sumber dari puncak hidup Kristiani (LG, 11). Ekaristi
adalah Gereja dalam bentuk sakramen. Ekaristi merupakan tanda dan sarana
merupakan tanda dan sarana, artinya “Sakramen” persatuan dengan Allah dan
kesatuan antara manusia. Ekaristi itu perayaan iman bersama umat. Suatu
perayaan yang mempertandakan kehadiran Tuhan dalam umat. Dalam perayaan
Ekaristi umat sungguh menghayati dalam iman kesatuan dengan Tuhan yang hadir
di tengah-tengah umat. Dengan demikian terungkap dua dimensi Ekaristi, sama
seperti Gereja yaitu segi Ilahi dan segi insani atau gerejawi. Ekaristi tidak hanya
menghubungkan masing-masing orang secara pribadi dengan Allah, tetapi juga
menjadi ikatan antara umat sendiri (KWI, 1996: 402). Pusat perayaan Ekaristi
bukanlah roti dan anggur, melainkan Kristus yang karena iman hadir dalam
seluruh umat. Dengan demikian, Penghayatan seseorang terhadap Ekaristi dan
sakramen lainnya merupakan suatu pengalaman iman. Dalam iman orang
dipersatukan dengan Tuhan dan sesama (KWI, 1996: 412).
b. Doa
Doa adalah pertemuan antara pribadi Allah dan manusia yang saling
mengasihi, saling mencari dan saling merindukan. Doa adalah bersatu dengan
Allah membangun persahabatan dengan-Nya, menyampaikan permohonan
kepada-Nya. Bagi jiwa, doa mirip dengan makanan bagi tubuh. Bagi para
pengikut Kristus doa adalah kehidupan (Hadrys, 2007: 1). Doa dapat timbul dari
kesusahan hati yang bingung, tetapi juga dari kegembiraan jiwa menuju kemasa
depan yang bahagia. Doa tidak membutuhkan banyak kata (Mat 6:7), tidak terikat
pada waktu dan tempat tertentu, tidak menuntut sikap badan atau gerak-gerik yang
seseorang dalam membangun relasi yang erat dengan Tuhan dalam doa dapat
membantu seseorang memperkembangkan imannya.
c. Kitab Suci
Ketekunan seseorang membaca dan merenungkan Kitab Suci akan sangat
membantu untuk bisa menemukan kekayaan imannya. Kitab Suci merupakan
Sabda Allah yang mengundang siapa saja untuk dapat berdialog dengan Tuhan,
dengan demikian dialog itu mampu membangkitkan iman seseorang untuk selalu
berelasi dengan Tuhan yang adalah tujuan hidup sebagai umat beriman ( Kis 1:11;
Yoh 3:21). Hidup rohani lahir dari perjumpaan antara Allah yang
mengkomunikasikan hidup-Nya kepada manusia dan manusia secara aktif
menerima tawaran dari Allah itu sendiri (Darminta, 2007: 17).
d. Devosi
Devosi merupakan sikap iman yang dinamis dalam budaya manusia.
Karena itu, devosi memerlukan penerapan atau perwujudan konkrit dari aspirasi
rohani, entah secara pembatinan ataupun secara penghayatan dalam kehidupan
nyata sehari-hari. Legitimasi kehidupan devosional adalah perlunya konkretisasi
hidup rohani, yang secara indrawi dapat dirasakan, disentuh, dipandang, serta
diresapkan. Unsur penting di dalam devosi ialah penggerakkan hati atau
kehidupan afektif. Kehidupan devosional mempunyai makna dan nilai bila bentuk
(Darminta,1995: 36-37). Adapun beberapa devosi yang dapat dilakukan seseorang
untuk mengembangkan hidup beriman, antara lain:
1) Doa Rosario
Doa Rosario adalah sebuah doa yang paling sederhana yang dapat
didoakan secara bersama-sama atau pribadi. Dengan mengulang mendoakan doa
Salam Maria, kita masuk dalam suasana doa dan renungan. Dalam doa Rosario
seseorang diajak untuk merenungkan hidup Yesus bersama dengan Bunda Maria.
Dengan ketekunan dan kesetiaan memelihara devosi kepada Bunda Maria
semakin memampukan seseorang untuk tekun dan setia memelihara iman bersama
Bunda Maria. “Memelihara devosi khusus kepada Santa Perawan Bunda Allah,
teladan dan pelindung segenap hidup bakti, juga dengan doa “ KHK 662, 4).
Bakti atau devosi kepada Bunda Maria bersumber pada iman yang sejati,
mengajak siapa saja yang mendoakannya mengakui keunggulan Bunda Allah, dan
mendorong kita sebagai putra-putra-Nya mencintai Bunda kita dan meneladan
keutamaan-keutamaannya (LG 67).
2) Adorasi
Adorasi atau pujian kepada Sakramen Maha Kudus merupakan praktek
devosi sembah sujud di hadapan sakramen Maha Kudus. Pentakhtaan Sakramen
Maha Kudus muncul dalam hubungannya dengan kerinduan umat beriman untuk
memandang Kristus yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus (Martasudjita,
3) Ziarah
Ziarah adalah salah satu jalan yang memampukan manusia Kristiani pada
khususnya menemukan makna pencarian tujuan hidup. Bagi umat Katolik, tujuan
berziarah adalah: Pertama, untuk bersyukur kepada Allah, dengan menghormati
tempat yang terkait dengan peristiwa kehidupan Yesus dan Bunda Maria. Kedua,
mengunjungi situs makam para kudus, tempat mereka hidup dengan relikwi
mereka. Ketiga, untuk merayakan Sakramen Tobat dan Ekaristi di tempat tertentu
guna memperoleh indulgensi (Majalah Hidup No. 20 Tahun ke-36, 2009: 11).
4) Litani
Kata `litani' berasal dari bahasa Latin `litania', `letania'. Artinya suatu
bentuk doa tanggapan yang meliputi serangkaian seruan atau permohonan,
mengenai suatu subyek utama atau suatu tema suci utama. Litani biasanya
didoakan dalam perayaan liturgis yang penting: baptis, tahbisan imam, kaul
biarwan-biarawati, dan lain-lain. adapun maksud dari doa litani adalah sebelum
menghadap Allah, Gereja menggabungkan diri dengan Kristus Sang Pengantara
dan para kudus-Nya (Puji Syukur, 1992: 128).
e. Bacaan Rohani
Bacaan rohani merupakan salah satu sumber hidup rohani. Tulisan-tulisan
dalam bacaan rohani sangat inspirataif dan menarik baik itu pengalaman yang
dialami oleh pengarang sendiri maupun pengalaman orang lain yang membantu
f. Pengalaman Pribadi Seseorang
Pengalaman pribadi seseorang dianggap penting karena merupakan
pengalaman hidup konkrit yang secara langsung bisa diolah dan dipahami oleh
manusia itu sendiri. Dari pengalaman itulah seseorang bisa melihat dan mengolah
hidupnya sehingga wujud dari seseorang bisa berarti dan dapat dirasakan bila itu
sungguh merupakan pengalaman iman. Orang baru dapat merasakan apa makna
kontemplasi, bila dipraktekkan cara kontemplasi itu, dari usaha itulah orang baru
dapat mengerti dan merasakan makna kesukaran-kesukaran hidup rohani yang
harus diperjuangkan untuk dapat menuju pada kesempurnaan hidup (Darminta,
2007: 14).
D. PERAN KHAS WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN IMAN