BAB II. PERAN WALI BAPTIS TERHADAP PERKEMBANGAN
C. PERKEMBANGAN IMAN
1. Pengertian Iman Perkembangan Iman
Dalam Kompendium Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa “setiap orang yang mau dibaptis diminta untuk mengucapkan pengakuan iman” (KKGK,
259). Bagi anak yang dibaptis, pengakuan itu dilakukan oleh orang tua dan
Gereja. Sekalipun dilakukan oleh orangtua dan Gereja, perkembangan iman anak
diserahkan kepada wali baptis dan seluruh komunitas gerejawi.
Menurut KGK, iman adalah ikatan pribadi manusia dengan Allah. Iman
merupakan persetujuan manusia secara bebas terhadap segala kebenaran yang
diwahyukan Allah. Manusia menyerahkan diri seluruhnya terhadap Allah dan
mengimani secara absolut, bahwa apa yang oleh Allah adalah tepat dan benar
(KGK 150). Adapun yang merupakan ciri-ciri iman menurut KKGK 28 adalah,
pertama: iman merupakan anugerah cuma-cuma dari Allah dan tersedia bagi
semua orang yang memintanya dengan rendah hati. Kerendahan hati adalah
keutamaan adikodrati yang perlu untuk memperoleh keselamatan. Ciri iman yang
kedua, yakni: iman adalah tindakan manusiawi, yaitu tindakan akal budi manusia
yang atas dorongan kehendak yang digerakkan oleh Allah mengimani dengan
bebas kebenaran Ilahi.
Thomas H. Groome dalam bukunya Cristian Religious Education (2010:
97-100) memaparkan beberapa pengertian iman menurut Fowler yang telah
melakukan penelitian mengenai iman dari perspektif strukturalis, yang
yang berurutan dan dapat dikenali. Adapun pemahaman Fowler mengenai iman
yakni:
1) Iman sebagai yang utama
Bagi Fowler, iman adalah inti manusia yang mendasar, disposisi
fundamental yang mewarnai dan membentuk segala sesuatu yang datang setelah
iman. Dengan demikian bagi Fowler iman adalah fokus utama, disposisi atau
orientasi utama berada di dunia dengan mana seseorang membuat,
mempertahankan, atau mengubah makna manusia. Iman adalah orientasi utama
keberadaan seseorang.
2) Iman sebagai kegiatan mengetahui yang aktif
Fowler memahami iman bukanlah sebagai keadaan atau milik statis, tetapi
sebagai kegiatan mengetahui, mengartikan, dan menafsirkan pengalaman. Dengan
demikian orang mampu memaknai kehidupan. Iman adalah proses mengetahui
partisipatoris, dan pengetahuan dalam setiap pengalaman seseorang
3) Iman sebagai hubungan
Bagi Fowler iman adalah fenomena hubungan yang mutlak. Dalam
pengertian ini, bagi Fowler iman mempunyai dua kutub yakni hubungan antara
diri kita dengan dunia sehari-hari dan orang lain. Dalam penelitiannya, Fowler
menemukan bahwa hubungan seseorang dengan sebuah kutup manapun dari tiga
serangkai (diri kita, sesama kita, Allah) mempengaruhi hubungan dengan kutup
yang lain. Dengan demikian, hubungan kita dengan dunia sehari-hari dan dengan
orang lain membentuk dan dibentuk oleh hubungan kita dengan pusat-pusat nilai
kebahagiaan, hidup kekal, kebangkitan), dan hubungan kita dengan lingkungan
akhir kita membentuk dan dibentuk oleh hubungan kita dengan dunia sehari-hari
dan orang lain.
4) Iman sebagai sesuatu yang rasional dan bersifat “perasaan”
Bagi Fowler, karena iman adalah mengetahui dunia secara aktif dan cara
berhubungan dengan dunia luar, maka kegiatan beriman berdimensi baik kognitif
maupun afektif. Fowler menjelaskan bahwa iman adalah kegiatan mengetahui
atau mengartikan di mana “kognisi” (sang rasional) tidak dapat dipisahkan dengan
“afeksi” (sang perasaan). Dimensi perasaan adalah aspek emosional afektif yang
muncul dari iman sebagai cara berhubungan. Dimensi perasaan berarti mengasihi,
memperhatikan, dan menghargai orang lain.
5) Iman sebagai hal yang universal yang ada dalam diri manusia
Iman yang universal dibagikan Fowler kedalam pelbagai ekspresi oleh
perbedaan-perbedaan cara seseorang memahami “lingkungan dasar” (kerajaan Allah) dan “pusat-pusat nilai” (Allah). Keputusan seseorang untuk terus berpartisipasi di dalam dunia adalah perwujudan dari iman.
Crapps (1994: 37) berpendapat, Fowler mendefinisikan bahwa iman
merupakan orientasi dasar, “inti struktural” keberadaan manusia. Bagi Fowler iman mencakup bentuk-bentuk yang dipergunakan orang untuk berpikir dan
mengambil keputusan moral, cara yang dipakai untuk mengatur dunia, peran yang
sudah diambil, tempat outoritas mereka, batas-batas kesadaran sosial mereka, dan
Di atas penulis telah menguraikan beberapa definisi tentang iman.
Berkaitan dengan definisi iman, penulis mengikuti definisi yang dikatakan oleh
Ernest Maryanto dalam Kamus Liturgi (Maryanto, 2004:78). Ia mengatakan
bahwa iman adalah
“Jawaban positif “ya” dari manusia terhadap Allah yang terdorong oleh hasrat menyelamatkan manusia, mewahyukan Diri dan rencanaNya kepada manusia. Iman juga merupakan perjumpaan diagonal antara Allah dan manusia; Allah menyapa, manusia menjawab; Allah menyatakan diri, manusia menanggapi”.
Tentu saja pandangan tentang iman menurut Ernest Maryanto tidak jauh berbeda
dengan apa yang dikatakan oleh Buku Iman Katolik. Dalam Iman Katolik sangat
digaris bawahi bahwa iman itu merupakan jawaban atas panggilan Allah, yang
sangat menekankan penyerahan pribadi manusia kepada Allah dalam perjumpaan.
Iman Abraham menjadi contoh utama untuk mengungkapkan relasi manusia
dengan Allah sendiri (KWI, 1996:129).
Dari penjelasan di atas, perkembangan iman yang dimaksud oleh penulis
dalam skripsi ini lebih tertuju kepada formatio iman berjenjang sebagaimana
dijelaskan oleh Dewan Karya Pastoral KAS. Formatio iman secara berjenjang
artinya formatio iman dilaksanakan melalui tahap-tahap usia, mulai dari balita
sampai usia lanjut (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014: 39). Tujuan utama dari
formatio iman adalah orang mencapai kepenuhan di dalam Kristus. Orang
menjadikan Kristus sebagai dasar, pusat dan arah hidupnya. Dengan demikian
formatio iman tidak sekedar memperkenalkan, tetapi mengajak orang untuk
masuk, berelasi dan bersatu dengan Yesus sehingga dari pengalaman itu,
unsur-unsur kemuridan, kedewasaan, dan kesaksian (Dewan karya pastoral KAS,
2014: 26). Kemuridan yang menjadi tujuan dari formasi iman adalah kesadaran
diri dipanggil oleh Yesus untuk berrelasi dan tinggal bersama-Nya, belajar
mengalami kehidupan-Nya, sampai pada akhirnya hidupnya diperbaharui menjadi
tanda kehadiran Yesus yang mewartakan keselamatan (Dewan Karya Pastoral
KAS, 2014: 27). Dalam kemuridan ada inisiasi, relasi, imitasi, dan misi. Seorang
murid adalah seorang yang dipanggil untuk masuk dalam persekutuan dengan
Allah, tinggal bersama dengan-Nya, meneladan hidup-Nya, dan akhirnya diutus
untuk melanjutkan karya penyelamatan.
Formatio iman membantu orang untuk mengalami pendewasaan iman.
Orang semakin berakar dan bertumbuh dalam Kristus sampai akhirnya hidupnya
menjadi sebuah tanda kehadiran Kristus sendiri (Dewan Karya Pastoral KAS,
2014: 28). Kristus tidak hanya diterima, tetapi dibatinkan sampai akhirnya
merasuki seluruh hidupnya. Hal ini sama seperti yang dikatakan oleh Paulus
sendiri kepada jemaat di Galatia: “Sekarang bukan lagi aku yang hidup, tetapi
Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2: 20). Sedangkan formatio iman misioner
menyangkut gerak keluar untuk memberikan kesaksian akan imannya. Iman
bukan sebagai sesuatu yang diletakkan di bawah gantang, tetapi ditempatkan di
atas gantang. Misioner berarti seseorang berani bersaksi tentang imannya, berani
berbicara tentang Kristus kepada orang lain (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014:
31).
Berkaitan dengan perkembangan iman, penulis akan menguraikan tahap-
Pastoral KAS, dari buku Tahap-tahap Perkembangan Kepercayaan Eksistensial
menurut James Fowler (Dewan Karya Pastoral KAS, 2014: 40-41), yaitu:
1. Tahap iman intuitif (2-6 tahun)
Dalam tahap ini, di mana orang mengalami Tuhan sebagai yang perkasa
yang menuntut kepatuhan dan memberikan hukuman, surga imaginatif dan nereka
yang mengerikan.
2. Tahap iman mistis literal (7-12 tahun)
Dalam tahap kedua ini, menurut Fowler, orang mulai percaya melalui
simbol-simbol religius dan mengalami Tuhan yang adil.
3. Tahap iman sintesis konvensional (13-21 tahun)
Dalam tahap ini orang mulai membentuk ideologi (sistem kepercayaan)
dan mulai mencari identitas diri dalam hubungannya dengan Tuhan, namun
identitas itu belum terbentuk secara penuh.
4. Tahap iman individual-reflektif (22-30 tahun)
Orang yang berada dalam tahap ini, mulai memeriksa imannya secara
kritis dan merefleksikan imannya secara serius.
5. Tahap iman konjungtif (31-60 tahun)
Menurut Fowler, mereka yang berada dalam tahap ini sering mengalami
memahami adanya paradoks dan kontrakdiksi dalam hidup, imannya telah
diintegrasikan dalam hidupnya.
6. Tahap iman universal (60 tahun ke atas)
Dalam tahap keenam ini, di mana orang telah mencapai kepenuhan hidup
Dari uraian tersebut di atas, formatio iman berjenjang merupakan
formation iman yang memperhatikan perkembangan psikologi dan perkembangan
iman. Adanya perhatian terhadap perkembangan psikologi seseorang dapat
membantu keberhasilan sebuah pendampingan. Setiap usia jenjang memiliki
karakter psikologi yang berbeda-beda, untuk itulah formatio iman berjenjang
memperhatikan perkembangan psikologi umat yang didampingi.