• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI LAPORAN DAN PEMBAHASAN HASIL

C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN TENTANG TENTANG

3. Kepentingan Kehadiran Wali Baptis dalam Mengembangkan

Kepentingan kehadiran wali baptis menurut responden lebih dari

keikutsertaan mereka untuk memperkembangkan iman anak. Wali baptis menjadi

rekan utama orang tua membentuk pribadi anak baptis yang mengenal kasih

Allah. “Iman anak itu rapuh, anak itu tidak punya pegangan. Apalagi dalam situasi keluarga yang sedang bermasalah. Kehadiran wali baptis sangat penting.

Membuka hati/jiwa anak itu untuk semakin dekat dengan Tuhan” (Pak Anung, R3). Anak remaja itu masih labil dan gampang terpengaruh. Kepercayaan mereka

belum kuat. Mereka menghadapi banyak godaan dalam pergaulan. Jika tidak

didampingi maka iman mereka akan melenceng” (Ibu Harni, R10).

Mewariskan iman bukan merupakan pekerjaan yang mudah untuk

dilakukan. Ibu Ananta (R6) mengatakan seiring dengan perkembangan teknologi

yang begitu cepat pada zaman ini jika tidak didasari dengan iman yang kuat, maka

akan sia-sia. Kenyataan bahwa orang pada zaman sekarang ini banyak orang tidak

takut akan Tuhan. Ada banyak kejadian kriminal yang terjadi yang tidak sesuai

dengan kehendak Tuhan pada zaman ini. Orang tidak lagi segan mengorbankan

sesamanya hanya demi kepentingannya sendiri. Orang zaman ini lebih gampang

untuk putus asa dan kehilangan pegangan hidup. Menghadapi situasi konkrit ini,

dibutuhkan suatu usaha yang besar dan usaha yang sangat kuat agar iman

bertumbuh dalam diri anak baptis. Perkenalkanlah Tuhan setiap saat kepada

melalui pendengaran akan firman Tuhan, iman akan timbul di dalam hati mereka

(Roma 10:17).

Keluarga menurut pak Tresno (R4) merupakan Gereja basis. Tempat

pertama untuk menerima pendidikan iman dan mempraktekkannya bahkan

keluarga sebagai sekolah iman. Untuk menampakkan kasih Allah, orang tua

menjadi pemeran utama menampilkan kasih Allah. Landasan utama terhadap

tugas ini karena orang tua telah menyalurkan kehidupan kepada anak-anak,

sehingga orang tua terikat kewajiban amat serius untuk mendidik anak-anak

mereka. Maka orang tualah yang harus diakui sebagai pendidik yang pertama dan

utama bagi anak- anak mereka” (Gravissimum Educationis 3, lihat juga KGK 1653). Dengan demikian, orang tua harus menyediakan waktu bagi anak- anak

untuk membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang mengenal dan mengasihi

Allah. Kewajiban dan hak orang tua untuk mendidik anak-anak mereka tidak

dapat seluruhnya digantikan ataupun dialihkan kepada orang lain (Paus Yohanes

Paulus II, Familiaris Consortio 36, 40).

Sekalipun kedudukan orang tua tidak tergantikan, wali baptis dapat

membantu perkembangan pendidikan iman anak baptis apalagi bila orang tua

sangat sibuk untuk mencari nafkah. Apalagi berhadapan dengan kuatnya pengaruh

negatif dari mass media maupun lingkungan pergaulan di sekitar; terlalu banyak

menonton TV tidak memberikan efek yang baik pada anak; bermain video game

yang bersifat kekerasan yang sadis yang secara tidak langsung merangsang sifat

agresif seperti kemarahan, kekerasan, tidak mau ngalah, kebiasaan bermain FB

tidak terbiasa untuk berinteraksi dengan orang lain, berpusat pada diri sendiri.

Tidak berarti bahwa TV, game internet dan FB memberikan efek buruk semuanya.

Efek negatif itu terjadi jika yang ditonton, atau yang dimainkan tidak sesuai

dengan ajaran iman dan moral; atau yang diajak berkomunikasi adalah orang-

orang yang tidak membangun iman, atau malahan menjerumuskan mereka; atau

jika hal menonton TV dan bermain komputer tersebut sampai menyita hampir

semua waktu luang. Mengapa? Sebab jika ini yang terjadi, hati dan pikiran anak

tidak lagi terarah kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya (Pak Rudi (R7), bu Ananta

(R6), ibu Deby (R1), bu Candra (R8),pak Tresno (R4)). Control terhadap perilaku

anak seperti yang disebut di atas, tidak cukup hanya diserahkan kepada orang tua,

sangat membutuhkan tenaga lain yang sifatnya “hampir sama dengan tenaga

kedua orang tua”. Dalam hal ini sangatlah penting kehadiran wali baptis yang telah dipilih orang tua untuk ikut mendampingi anak (Tifani (R13) dan Laras,

(R17)).

Tugas sebagai wali baptis untuk mendampingi iman anak baptis merupakan

perutusan yang diberikan oleh Gereja kepada umat beriman seperti yang

dikatakan oleh pak Rudi (R7) dan Dewa (R11). Karena itu merupakan tugas dari

Gereja maka wali baptis mempunyai kepentingan untuk mengakrapkan,

memperkenalkan para remaja yang belum saling kenal dalam kegiatan menggerja

karena sifatnya dalam kelompok-kelompok ada wajah-wajah baru.

Menurut pak Windu (R19), wali baptis itu posisinya penting. Karena

penting, wali baptis itu tidak asal copot, besok dibaptis dan sekarang dicopot wali

baptis sejajar dengan orang tua, tanggungjawab kepada anak yang dibaptis itu

besar sekali. Sebagai penyeimbang dari sebuah keluarga. Gereja mengizinkan

orang tua membaptis anak-anak dan ini terimbas kepada pendampingan yang

penuh kepada anak-anak dimana anak-anak sendiri tidak bisa

mempertanggungjawabkan imannya di saat dia baptis bayi. Untuk memelihara

kepastian bahwa sianak nanti akan didampingi dalam proses pendidikan imannya

penanggungjawab utamanya adalah orang tua lalu dibantu oleh orang yang lebih

cukup netral, yang bisa sewaktu-waktu memainkan peran untuk memastikan

bahwa anak mendapatkan pendampingan yang cukup dalam kehidupan, imannya

sampai pada kedewasaan/kepenuhan sebagai seorang Katolik ketika menerima

sakramen inisiasi secara penuh. Oleh karena itu tanggungjawab sedemikian

pangjang dan lama itu membutuhkan semacam “OASIS/PENYEIMBANG”.

Ketika ada kecenderungan anak tidak mendapatkan haknya untuk memperoleh

pendampingan iman secara khusus dari orang tua karena berbagai kelalaian.

Disitulah pentingnya adanya wali baptis”.

Melihat bahwa betapa pentingnya pendampingan iman bagi perkembangan

iman usia remaja, peran wali baptis sebagai orang tua kedua sangat dibutuhkan.

Untuk menyikapi hal tersebut remaja membutuhkan figur pendamping yang bisa

dijadikan sebagai teladan atau panutan. Dibutuhkan pendamping yang memiliki

hati untuk anak-anak, kreatif dan inovatif, pendamping yang mampu memahami

masalah-masalahremaja agar bisa menjadi teman bertukar pengalaman/wawancara

mengembangkan iman remaja seperti yang dipaparkan dalam buku Formation

Iman Berjenjang, 2014: 45.

4. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Peran dan Tugas dalam mengembangkan Iman Anak Baptis

a. Faktor pendukung:

Pak Tresna (R4) mengungkapkan bahwa pembekalan yang diadakan oleh

tim bidang pewartaan paroki Kristus Raja Baciro merupakan faktor pendukung

dalam menjalankan peran dan tugas sebagai wali baptis. Dalam pembekalan

disampaikan apa yang merupakan peran dan tanggungjawab orang tua dan wali

baptis. Maka sangat penting untuk dihadiri oleh orang tua dan wali baptis.

Kesadaran yang diperoleh melalui pembekalan menjiwai wali baptis dalam

melaksanakan peran dan tugasnya untuk selanjutnya. Relasi personal dan kerja

sama yang sudah terjalin selama ini sejak terpilih sebagai wali baptis baik

terhadap orang tua dan anak baptis sendiri menurut pak Rudi (R7) dan bu Candra

(R8) juga menjadi faktor pendukung dalam proses menjalankan peran sebagai

wali baptis. Relasi yang baik ini tidak menimbulkan ada rasa sungkan dari wali

baptis bila hendak menegur dan mengingatkan anak baptis. Bahkan wali baptis

tidak hanya anak baptisnya saja yang diingatkan, tetapi kedua orang tua mereka

juga diingatkan untuk datang ke Gereja dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan

yang ada di lingkungan (ibu Theresia, R2). Dengan demikian keterlibatan anak

koor, misdinar akan mendukung proses pendampingan anak baptis bagi wali

baptis sesuai dengan pengalaman ibu Titik ( R9).

Sebagai seorang wali baptis perlu mempunyai integritas diri atau dalam

bahasa Jawa “Jarkoni (Iso ujar, ora iso lakonia), Gajah diblangkoni, iso khotbah ora iso nglakoni” (Ibu ananta (R6) dan Theresia Sumartini (R2)). Sebagai pendamping iman, wali baptis mampu menjadi teladan dalam kehidupan sehari-

hari. Sederhananya, wali baptis mempunyai sikap dan tutur kata yang baik, ikut

secara aktif dalam berbagai kegiatan menggereja dan bermasyarakat (bdk, KGK

1255). Baik kegiatan menggereja maupun bermasyarakat merupakan unsur

fundamen untuk menunjuk pada suatu bobot keberimanan secara kristiani (ibu

Harni dan pak Mantri, Candra). Keteladanan wali baptis dapat menjadi ragi,

garam dan terang. Ketiga unsur yang disebut terakhir dalam praksis hidup

manusia mengandaikan bahwa tiap-tiap pribadi yang dewasa secara Kristiani tidak

hanya memikirkan dirinya sendiri (Ibu Candra) tetapi juga siap sedia berbagi

dengan sesama (bdk, KHK, kan.774 §2).

Selain hal tersebut di atas, ibu Ananta (R6) mengatakan bahwa media

elektronik seperti Handphone juga menjadi pendukung untuk menjalankan peran

sebagai wali baptis. Perpindahan anak baptis ke daerah lain dan sebaliknya tidak

lagi menjadi penghalang untuk menjalankan peran sebagai wali baptis dalam

mendampingi perkembangan iman anak. Ibu Theresia Sumartini (R2) sendiri

mengungkapkan bahwa ketulusan hati dalam menjalankan peran dan

tanggungjawab dan dukungan dari anggota keluarga sendiri adalah merupakan

Berhadapan dengan perkembangan kepribadian, sebagai anak baptis, anak remaja berpribadi labil, mudah marah, dan terkadang sangat sulit memahami orang lain. Apalagi anak remaja yang sedang mencari identitas diri sangat membutuhkan public pigure sebagai penuntun. Kesetiaan pada komitmen, konsistensi hidup juga menjadi modal besar bagi wali baptis yang dapat ditiru oleh anak baptis. Dalam situasi zaman sekarang, tidaklah mudah bertahan dalam suatu komitmen tertentu apalagi bila hal tersebut menyangkut kesaksian hidup tentang hidup abadi (Venti, R12).

Dimensi iman tidak hanya terletak pada masalah sakramental. Iman

berkaitan dengan hidup atau perkembangan kepribadian anak. Pada tahap

perkembangan usia remaja, para wali baptis memberikan nasehat-nasehat tidak

hanya bersifat kerohanian melulu tetapi juga menyangkut masalah perkembangan

kepribadian. Rasa tertarik terhadap lawan jenis atau berpacaran misalnya, kalau

tidak didampingi maka akan membuat anak baptis tidak fokus pada masa depan

sesuai dengan pengalaman Venti (R12), Tifani (R13), Laras (R17) dan

Dewa(R11). Terhadap masalah remaja yang dialami oleh anak baptis, wali baptis

dapat memberi kesaksian hidupnya bagaimana cara untuk membuat suatu skala

prioritas.

b. Faktor Penghambat

Responden mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penghambat

dalam menjalankan peran sebagai wali baptis selama ini. Pertama, menurt pak

sebagai wali baptis. “Jika orang tidak membutuhkan saya maka untuk apa saya datang,”. Makna Pekewoh menurut pak Tresno yakni saya menunggu dimintai bantu maka baru saya mau membantu. Selain itu, menurut ibu Ning (R5) dan pak

Anung (R3) adalah: orang tua sendiri juga tidak memperkenalkan kepada anak

siapa yang menjadi wali baptisnya dan juga sebaliknya. Ada orang tua yang tidak

mendukung dan tidak bisa diajak kompromi. Usaha wali baptis untuk mengajak

anak baptis aktif dalam lingkungan tidak ditanggapi dengan baik oleh orang tua.

Tempat yang tidak ada untuk mengadakan kegiatan bagi anak-anak di

lingkungan. Jarak yang berjauhan dengan anak baptis. Banyak anak-anak baptis

sudah berada di luar kota Yogyakarta (ibu Ning). Sebagian ada yang berada di

Purwokerto, Malang, Tangerang bahkan ada mereka yang sudah pindah ke agama

lain. Usaha untuk mendapatkan kontak pun mengalami kesulitan.

Selain responden yang berperan sebagai wali baptis, romo paroki (R18),

pak Windu (R19) dan pak Mantri (R20) melihat bahwa yang menjadi faktor

penghambat dalam menjalankan peran wali baptis selama ini disebabkan oleh wali

baptis dipilih tanpa pertimbangan yang matang oleh orang tua dan kurangnya

katekese. Pengetahuan yang kurang akan pendidikan iman membuat wali baptis

tidak mengetahui perannya.

Dari jawaban yang disampaikan oleh responden di atas, maka penulis

merangkumkan bahwa wali baptis kurang menjalankan perannya selama ini

disebabkan karena pemahaman, pengetahuan dan kesadaran tentang peran wali

baptis itu sangat minim. Mengikuti pembekalan dan katekese tentang pendidikan

baptis hanya merupakan formalitas belaka. Kepentingan mereka pada saat upacara

pembaptisan merupakan seremonial saja.

5. Upaya Meningkatkan Peran Wali Baptis dalam Mengembangkan Iman