• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI LAPORAN DAN PEMBAHASAN HASIL

C. PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN TENTANG TENTANG

5. Upaya Meningkatkan Peran Wali Baptis dalam

a. Pembekalan Bagi Wali Baptis dan Orang Tua

Upaya yang akan dilakukan untuk meningkatkan peran wali baptis dalam

pengembangan iman anak sekarang dan selanjutnya membutuhkan suatu

kesadaran dan pemahaman bagi umat bahwa wali baptis itu mempunyai peran

yang penting bagi pendidikan iman anak baptis. Untuk menyikapi ini, dilakukan

pendidikan iman terutama pada saat pembekalan bagi orang tua dan wali baptis

anak. Pada saat pembekalanlah tempatnya untuk mengajukan kepada keluarga

untuk memilih secara serius yang menjadi wali baptis, di mana diharapkan untuk

memiliki cukup kedekatan kepada keluarga dan memberikan teladan kepada anak-

anak baptis supaya mereka bertumbuh menjadi anak yang baik dan teguh pada

imannya akan Kristus.

b. Perlunya Kerjasama antara Orang Tua dan Wali Baptis

Relasi personal serta kerjasama yang baik antara orang tua, anak dan wali

baptis selama ini perlu menjadi perhatian dalam proses pendidikan iman anak.

Orang tua perlu memperkenalkan wali baptis kepada anaknya. Jika perlu diundang

dalam acara-acara tertentu misalnya: ulang tahun kelahiran, ulang tahun baptisan,

tersebut kesempatan untuk mensharingkan pengalaman satu dengan yang lain

dimungkinkan untuk bisa terlaksana (Pak Tresna, R5).

c. Pendampingan Iman Berkelanjutan

Responden mengungkapkan bahwa ada keprihatinan dan kecemasan

tersendiri terhadap iman para remaja dalam konteks perkembangan teknologi.

Anak remaja lebih aktif dalam dunia maya bila dibandingkan dengan kegiatan

gerejani. Lebih sibuk main handphone dari pada menghadiri perayaan ekaristi dan

berbagai kegiatan-kegiatan yang telah disediakan oleh paroki Kristus Raja Baciro.

Beberapa saja remaja yang kelihatan aktif mengikuti kegiatan yang ada di paroki.

Sama halnya seperti yang diungkapkan oleh ibu Ning (R5) bahwa para remaja

sekarang “ mati suri”, tidak kelihatan, tidak ada gemanya. Kecemasan utama dari para wali baptis terhadap anak baptis menyangkut dunia teknologi di samping

efek positifnya, teknologi juga mempunyai pengaruh negatif terhadap manusia itu

sendiri. Teknologi dengan segala kecanggihannya dapat membuat anak semakin

tidak beriman. Belum lagi anak juga disibukkan dengan sekolah. Kurikulum

sekolah juga ikut menyita perhatian anak. Hampir seluruh kegiatan sekolah

menyedot perhatian anak-anak dan kurang memperhatikan kegiatan-kegiatan

iman.

Iman anak rapuh, anak tidak mempunyai pegangan (pak Anung, R3). Jika

anak tidak mempunyai pendampingan atau orang yang bisa mengarahkan kearah

dan masalah dalam menempatkan diri dalam menyikapi dunia IT dengan segala

kemungkinannya maka iman anak sering menjadi korban.

Untuk menyikapi hal tersebut di atas, dari responden yang diwawancarai,

titik tolak pendampingan yang harus dibuat adalah sesuai dengan ARDAS KAS.

Dalam Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang ditegaskan dengan jelas bahwa

keluarga merupakan Gereja Basis. Sebagai Gereja Basis, keluarga Katolik setidak-

tidaknya menunjukkan dalam bentuk doa bersama. Doa bersama ini menjadi

bahan utama dalam mengembangan dan mendampingi iman anak. Dalam konteks

pendidikan iman, iman anak dibimbing secara dialogis seperti menanyakan

kegiatan anak sepanjang hari.

Sikap dialogis ini menjadi modal utama dalam keterlibatan wali baptis

dalam proses pendampingan iman sekalipun misalnya anak tidak berada dalam

suatu lingkungan namun dengan perkembangan teknologi wali baptis dapat

menjalin komunikasi dengan anak baptis sendiri. Kehadiran wali baptis

sehubungan dengan dunia teknologi cukup menarik dengan apa yang dilakukan

oleh Ananta dan Ibu Debby dengan menggunakan dunia facebook, BBM dan SMS.

Tentu saja dengan dunia face book sebagai wali baptis dapat mengetahui isi dari

face book dan juga BBM tersebut. Etika sopan santun dalam menggunakan kata

akan jauh terarah dengan dunia menggunakan dunia maya tersebut. Nasehat-

nasehat rohani dan biblis tersampaikan lewat dunia IT tanpa harus melakukan

perjumpaan secara personal.

Idealnya pendampingan jauh lebih mudah terlaksana bila anak berada di

(Bu Theresia, R2). Kehadiran wadah di Paroki Kristus Raja Baciro untuk

menampung anak remaja juga mempunyai tantangan tersendiri. Anak remaja

dengan usia yang serba tanggung, agak sulit menempatkan diri dalam wadah

terebut. “Mau ke PIA tidak juga, mau ke OMK juga tidak” demikian ungkapan seorang responden sehubungan dengan wadah yang sekarang ini. Kehadiran

kelompok CREBO dalam bentuk teater, tarian, ziarah dan dokumentasi peristiwa

lewat video membuat anak remaja berkumpul. Kreativitas dan imajinasi secara

teknologis anak tersalurkan secara tepat dalam kelompok ini.

Dari hasil wawancara romo paroki Kristus Raja Baciro (R18)

mengusulkan agar apa yang telah ditemukan penulis dalam penelitian ini

disampaikan kepada tim inisiasi paroki dalam bentuk sharing pengalaman atau

mengadakan seminar yang nantinya akan disampaikan kepada para wali baptis

pada saat pembekalan.

Kenyataan bahwa para wali baptis kurang menghayati peran dan tanggug

jawabnya sebagai emban baptis, maka ibu Ning (R5) mengharapkan agar

dibentuk wadah/paguyuban bagi wali baptis sehingga jika ada baptisan orang tua

tidak perlu lagi mencari-cari siapa yang menjadi wali baptis bagi calon baptisan

baru. Dari kelompok wali baptis inilah orang tua bisa memilih yang menjadi

emban baptis. Selain itu, Pak Windu (R19) mengharapkan agar penulis membuat

sebuah buku kecil sebagai rezume dari hasil penelitian yang di dalam buku

tersebut berisi tentang apa yang menjadi peran dan tanggung jawab wali baptis.

Selain ibu Debby (R1) mengusulkan supaya penulis mengadakan pertemuan

wali baptis dan tim pewartaan. Dalam pertemuan itu hendaknya diberi

pemahaman agar PASUTRI Muda lebih selektif dalam memilih siapa yang akan

menjadi emban baptis bagi anak mereka. Ini demi pendampingan iman bagi anak

untuk selanjutnya (ibu Debby, R1).