HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2.2 Saluran Pembawa Sungkur Kir
Saluran pembawa adalah saluran yang membawa air dari bangunan pengambilan sampai petak-petak sawah, pada saluran pembawa terdiri dari saluran yang mempunyai dimensi yang berbeda-beda. Komponen penyusun pada saluran pembawa meliputi: profil saluran, bangunan pada saluran, bocoran dan endapan/erosi. Komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Profil Saluran Sungkur Kiri (bobot 8,00%)
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 2007 2008 2009 Gawat Banjir Rumah PPA Jembatan utama
commit to user
Profil saluran terbagi menjadi saluran pasangan dan saluran tanah, berdasarkan analisa kondisi lapangan, untuk dapat mengetahui kondisi profil saluran pada saluran pembawa jaringan irigasi Sungkur Kiri dilihat pada Table 4.4
Tabel 4.4 Bobot Kondisi Profil Saluran Sungkur Kiri
Nama Sub Komponen
Bobot Kondisi fisik Bobot Kondisi Lapangan
Komponen 2007 2008 2009 2007 2008 2009
Saluran
Pasangan 6,00 65% 70% 60% 3,90 4,20 3,60
Saluran Tanah 2,00 80% 83% 80% 1,60 1,66 1,60
5,50 5,86 5,20
Profil Saluran terbagi atas dua sub komponen yaitu saluran pasangan dan saluran tanah dimana komponen ini dalam kondisi sempurna mempunyai bobot 8,00% terhadap saluran pembawa. Hasil analisa selama tiga tahun terjadi penurunan bobot sebesar 2,50% pada tahun 2007 sehingga kondisi profil saluran adalah 65,00% sedangkan pada tahun 2008 penurunan sebesar 2,14% maka kondisinya 73,25% dan pada tahun 2009 terjadi penurunan sebesar 2,80% berarti kondisi profil saluran 65,00%. Berdasarkan Pedoman Penilaian Jaringan Irigasi dari Subdit. Bina Program, Ditjen Air Departemen Pekerjaan Umum tahun 1999 maka kondisi profil saluran pada saluran pembawa Sungkur Kiri masuk katagori cukup. Adapun kecenderungan kondisi profil saluran dari tahun 2007 s/d 2009 dapat terlihat pada Gambar 4.5
Gambar 4.5 Grafik Kondisi Profil Saluran Sungkur Kiri
Dari Gambar 4.5 didapatkan selama tiga tahun dari tahun 2007 s/d 2009 kecenderungan grafik komponen profil saluran pada saluran pembawa tahun 2008
0 1 2 3 4 5 6 2007 2008 2009 Saluran Tanah Saluran Pasangan
commit to user
mengalami kenaikan karena ada perbaikan saluran yaitu adanya perbaikan pada saluran sekunder Sumoroto yang dilakukan pada tahun sebelumnya, akan tetapi tahun berikutnya mengalami penurunan lagi hal ini karena tidak adanya pemeliharaan dan pertambahan kerusakan pada saluran ini.
b. Bangunan Pada Saluran Sungkur Kiri ( bobot 7,00%)
Bangunan pada saluran terbagi menjadi beberapa sub komponen meliputi talang, gorong-gorong, bangunan terjun, bangunan affour, guyangan ternak dan jembatan. Berdasarkan analisa kondisi lapangan, untuk dapat mengetahui kondisi bangunan pada saluran pembawa jaringan irigasi Sungkur Kiri dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Bobot Kondisi Bangunan Pada Saluran Sungkur Kiri
Nama Sub Komponen
Bobot Kondisi fisik Bobot Kondisi Lapangan
Komponen 2007 2008 2009 2007 2008 2009 Talang 2,500 75% 70% 68% 1,875 1,750 1,700 Gorong- Gorong 2,000 80% 75% 70% 1,600 1,500 1,400 Bangunan Terjun 1,000 85% 85% 85% 0,850 0,850 0,850 Bangunan Afur 0,500 70% 70% 65% 0,350 0,350 0,325 Guyangan Ternak 0,500 65% 60% 50% 0,325 0,300 0,250 Jembatan 0,500 75% 70% 70% 0,375 0,350 0,350 5,375 5,100 4,875
Bangunan pada saluran pembawa Sungkur kiri terbagi atas enam sub komponen, dalam kondisi sempurna bangunan pada saluran mempunyai bobot 7,00% terhadap saluran pembawa. Hasil analisa selama tiga tahun terjadi penurunan bobot sebesar 1,625% pada tahun 2007, 1,90% pada tahun 2008 dan 2,125% pada tahun 2009. Pada kondisi standar komponen bangunan pengambilan mempunyai bobot 7%, sehingga dapat diketahui bangunan pengambilan pada free intake Sungkur kondisinya pada tahun 2007 adalah 76,79%, tahun 2008 adalah 72,86% dan tahun 2009 sebesar 69,64%. Berdasarkan Pedoman Penilaian Jaringan Irigasi dari Subdit. Bina Program, Ditjen Air Departemen Pekerjaan Umum tahun 1999 kondisinya masuk katagori cukup. Adapun kecenderungan kondisi Bangunan pada saluran Sungkur Kiri dari tahun 2007 s/d 2009 dapat terlihat pada Gambar 4.6.
commit to user
Gambar 4.6 Grafik Kondisi Bangunan Pada Saluran Sungkur Kiri
Dari Gambar 4.6 didapatkan selama tiga tahun dari tahun 2007 s/d 2009 kecenderungan grafik komponen bangunan pada saluran Sungkur Kiri menurun setiap tahunnya, hal ini karena selama tiga tahun tidak ada pemeliharaan terhadap bangunan pada saluran ini.
c. Bocoran Saluran Sungkur Kiri ( bobot 7,00%)
Bocoran mempunyai andil yang cukup besar terhadap saluran pembawa, karena semakin besar bocoran maka akan mengganggu kapasitas debit yang melewati saluran yang berpengaruh terhadap kebutuhan air irigasi., untuk dapat mengetahui kondisi bocoran pada saluran pembawa jringan irigasi Sungkur Kiri dilihat pada Table 4.6
Tabel 4.6 Bobot Kondisi Bocoran saluran Sungkur Kiri
Nama Sub Komponen
Bobot Kondisi fisik Bobot Kondisi Lapangan
Komponen 2007 2008 2009 2007 2008 2009
Bocoran 7,00 75% 73% 70% 5,25 5,11 4,90
5,25 5,11 4,90
Bocoran saluran Sungkur Kiri, dalam kondisi sempurna mempunyai bobot 7,00% terhadap saluran pembawa. Hasil analisa selama tiga tahun terjadi penurunan bobot sebesar 1,75% pada tahun 2007, 18,90% pada tahun 2008 dan 2,10% pada tahun 2009. Pada kondisi standar komponen bangunan pengambilan mempunyai bobot 7,00%, sehingga dapat diketahui bocoran pada saluran pembawa kondisinya pada tahun 2007 adalah 75,00%, tahun 2008 adalah 73,00% dan tahun 2009 sebesar
0 1 2 3 4 5 6 2007 2008 2009 Jembatan Guyangan Ternak Bangunan Afur Bangunan Terjun Gorong-Gorong Talang
commit to user
70,00%. Berdasarkan Pedoman Penilaian Jaringan Irigasi dari Subdit.Ditjen Air Departemen Pekerjaan Umum tahun 1999 kondisinya masuk katagori cukup. Adapun kecenderungan kondisi bocoran pada saluran Sungkur Kiri dari tahun 2007 s/d 2009 dapat terlihat pada Gambar 4.7.
Gambar 4.7 Grafik Kondisi Bocoran
Dari Gambar 4.7 didapatkan selama tiga tahun dari tahun 2007 s/d 2009 kecenderungan grafik komponen Bocoran pada saluran sungkur kiri menurun dari tahu ke tahun, hal ini karena selama tiga tahun tidak ada pemeliharaan terhadap bocoran pada saluran ini.
d. Endapan/Erosi Saluran Sungkur Kiri ( bobot 3,00%)
Endapan/Erosi menjadi masalah yang besar apabila tidak segera ditangani, sedimentasi mempunyai andil yang cukup besar terhadap saluran pembawa, karena semakin besar sedimentasi maka berpengaruh terhadap penampang serta kapasitas rencana saluran terhadap bangunan ukur. Sedimentasi mengakibatkan kemungkinan tumbuhnya tanaman liar/gulma pada penambang saluran. Berdasarkan analisa kondisi lapangan, untuk dapat mengetahui kondisi endapan/erosi pada saluran pembawa jaringan irigasi Sungkur Kiri dilihat pada Tabel 4.7 sebagai berikut.
Tabel 4.7 Bobot Kondisi Endapan/Erosi Saluran Sungkur Kiri
Nama Sub Komponen
Bobot Kondisi fisik Bobot Kondisi Lapangan
Komponen 2007 2008 2009 2007 2008 2009 Endapan/Erosi 3,00 60% 65% 60% 1,80 1,95 1,80 1,80 1,95 1,80 4.7 4.8 4.9 5 5.1 5.2 5.3 2007 2008 2009 Bocoran
commit to user
Endapan/ Erosi pada saluran pembawa dalam kondisi sempurna mempunyai bobot 3,00%. Hasil analisa selama tiga tahun terjadi penurunan bobot sebesar 1,20% pada tahun 2009 dan tahun 2007 sedangkan pada tahun 2008 karena ada pengerukan serta normalisasi saluran maka penurunan menjadi 1,05%. sehingga bobot kondisi lapangan pada tahun 2009 dan tahun 2007 adalah 1,80% ini artinya kondisi sedimentasi pada saluran Sungkur Kiri adalah 60,00%, sedangkan tahun 2008 bobot kondisi 1,95% sehingga endapan/erosis kondisinya 65,00%. Berdasarkan Pedoman Penilaian Jaringan Irigasi dari Subdit. Bina Program, Ditjen Air Departemen Pekerjaan Umum tahun 1999 kondisinya masuk katagori cukup. Adapun kecenderungan kondisi endapan/erosi pada saluran Sungkur Kiri dari tahun 2007 s/d 2009 dapat terlihat pada Gambar 4.8
Gambar 4.8 Grafik Kondisi Endapan/Erosi Saluran Sungkur Kiri
Dari Gambar 4.8 didapatkan selama tiga tahun dari tahun 2007 s/d 2009 grafik naik pada tahun 2008 , hal ini karena pada tahun tersebut ada kegiatan pengerukan sedimentasi pada saluran primer Sungkur Kiri. Sedangkan tahun berikutnya mengalami penurunan lagi hal ini terjadi karena tidak adanya kegiatan pengerukan pada tahun 2009 akibat tingginya sedimentasi.