BAB II SISTEM PEMUNGUTAN BEA PEROLEHAN HAK
C. Sanksi Perpajakan Terhadap NPOP Hasil Verifikasi Yang
1. Verifikasi Perpajakan.
Istilah verifikasi merupakan istilah baru dalam perpajakan di Indonesia yang mulai dikenal sejak tahun 2012. Verifikasi adalah serangkaian kegiatan pengujian pemenuhan kewajiban subjektif dan objektif atau penghitungan dan pembayaran pajak, berdasarkan permohonan Wajib Pajak atau berdasarkan data dan informasi perpajakan yang dimiliki atau diperoleh Direktur Jenderal Pajak, dalam rangka menerbitkan surat ketetapan pajak, menerbitkan/menghapus Nomor Pokok Wajib Pajak dan/atau mengukuhkan/mencabut pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.128
Petugas verifikasi melakukan pemeriksaan untuk menguji dokumen berdasarkan "keterangan lain" sebagaimana dimaksud di Pasal 13 (1) Undang- Undang KUP. Yang dimaksud "keterangan lain", yaitu:
a. hasil klarifikasi/konfirmasi faktur pajak; b. bukti pemotongan Pajak Penghasilan;
128Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2011 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan
c. data perpajakan terkait dengan Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT dalam jangka waktu tertentu dan setelah ditegur secara tertulis SPT tidak disampaikan; atau
d. bukti transaksi atau data perpajakan yang dapat digunakan untuk menghitung kewajiban perpajakan Wajib Pajak.129
Selain keempat data diatas, maka bukan data konkret dan tidak dapat dilakukan verifikasi. Apabila ada indikasi ketidakpatuhan Wajib Pajak tetapi tidak ada salah satu dari empat data konkret diatas, maka prosedurnya adalah himbauan dan pemeriksaan.
Verifikasi dalam rangka menerbitkan surat ketetapan pajak menerbitkan SKPKB, SKPKBT, atau SKPLB. Pasal 13 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 146/PMK.03/2012 mengatur data konkret apa saja yang dapat dijadikan surat ketetapan pajak.
Verifikasi dalam rangka menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dilakukan dalam hal terdapat:
a. Keterangan lain; atau
b. Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap Wajib Pajak yang dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara yang di dalamnya memuat data konkret yang dapat dipergunakan untuk menghitung besarnya pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.
129Pasal 14 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 74 tahun 2011 Tentang Tata Cara
Verifikasi dalam rangka menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dilakukan dalam hal terdapat:
a. Keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri;
b. Data baru berupa hasil klarifikasi/konfirmasi Faktur Pajak yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang; atau
c. Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap terhadap Wajib Pajak yang dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara yang memuat data baru berupa Faktur Pajak yang dapat dipergunakan untuk menghitung besarnya pajak yang terutang yang tidak atau kurang dibayar.
Verifikasi dalam rangka menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar dilakukan dalam hal terdapat permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang KUP.
Pasal 13 ayat (1) Undang-undang KUP mengatur bahwa SKPKB bisa diterbitkan berdasarkan pemeriksaan atau keterangan lain. Mekanisme penerbitan SKPKB berdasarkan keterangan lain ini belum pernah diatur selama ini akan tetapi Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan mengatur hal ini.
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak, Direktur Jenderal
Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dalam hal terdapat pajak yang tidak atau kurang dibayar berdasarkan hasil Verifikasi terhadap keterangan lain.130
Pengertian keterangan lain adalah data konkret yang diperoleh atau dimiliki oleh Direktur Jenderal Pajak yang berupa :
1. hasil klarifikasi/konfirmasi faktur pajak; 2. bukti pemotongan Pajak Penghasilan;
3. data perpajakan terkait dengan Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT dalam jangka waktu semestinya dan setelah ditegur secara tertulis SPT tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran, atau;
4. bukti transaksi atau data perpajakan yang dapat digunakan untuk menghitung kewajiban perpajakan Wajib Pajak.131
Verifikasi digunakan oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) terhadap Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap terhadap Wajib Pajak yang dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.132
Direktur Jenderal Pajak juga dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) berdasarkan hasil Verifikasi atas data baru berupa Putusan Pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap terhadap Wajib Pajak yang dipidana kerena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan
130Pasal 14 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tentang Tata Cara
Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
131Pasal 14 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tentang Tata Cara
Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
132Pasal 14 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tentang Tata Cara
atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara.
SKPKBT berdasarkan hasil Verifikasi terhadap Putusan Pengadilan diterbitkan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak. Jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar dalam SKPKBT ditambah sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar tersebut.
SKPKBT berdasarkan hasil Verifikasi terhadap Putusan Pengadilan di atas tetap dapat diterbitkan setelah jangka waktu 5 (lima) tahun terlampaui sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak. Atas kasus seperti ini diberikan sanksi tambahan berupa bunga sebesar 48%
dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar tersebut. Selain itu, SKPKBT juga dapat diterbitkan berdasarkan :
1. hasil Verifikasi atas data baru berupa hasil klarifikasi/konfirmasi faktur pajak yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang; atau
2. hasil Verifikasi atas keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (3) UU KUP.
Jumlah pajak yang kurang dibayar dalam SKPKBT hasil Verifikasi atas keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri harus sesuai dengan jumlah kekurangan bayar berdasarkan keterangan tertulis dari Wajib
Pajak. Dengan demikian, ada kepastian bagi Wajib Pajak yang memberikan keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kemauan sendiri.
Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) melalui Verifikasi dalam hal terdapat permohonan kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang KUP.133
SKPLB tersebut masih dapat diterbitkan lagi apabila terdapat data baru, termasuk data yang semula belum terungkap apabila ternyata pajak yang lebih dibayar jumlahnya lebih besar daripada kelebihan pembayaran pajak yang telah ditetapkan.
Penerbitan surat ketetapan pajak berdasarkan hasil Verifikasi harus dilakukan melalui Pembahasan Akhir Hasil Verifikasi, kecuali penerbitan:
1. SKPKBT berdasarkan hasil Verifikasi atas keterangan tertulis dari Wajib Pajak atas kehendak sendiri; dan
2. SKPLB berdasarkan hasil Verifikasi terhadap permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang.
Definisi dari Pembahasan Akhir Hasil Verifikasi adalah pembahasan antara Wajib Pajak dan petugas Verifikasi atas hasil Verifikasi yang dituangkan dalam Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Verifikasi yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, dan berisi koreksi baik yang disetujui maupun yang tidak disetujui.134
133Pasal 18 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tentang Tata Cara
Pelaksanaan Hak dan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan
134Pasal 1 ayat 5 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2011 Tentang Tata Cara
Hasil Verifikasi dituangkan dalam laporan hasil Verifikasi. Berdasarkan laporan hasil Verifikasi dibuat nota penghitungan. Berdasarkan nota penghitungan harus ditindaklanjuti dengan penerbitan surat ketetapan pajak.
2. Verifikasi BPHTB berdasarkan Peraturan Walikota Pekanbaru Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Sistem dan Prosedur Pemungutan Pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
Prosedur penelitian Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB merupakan proses verifikasi kelengkapan dokumen dan kebenaran data terkait objek pajak yang tercantum dalam Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB.
Prosedur ini dilakukan setelah Wajib Pajak melakukan pembayaran BPHTB terutang dengan menggunakan Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB melalui Bank yang ditunjuk/ Bendahara Penerimaaan.
Penelitian Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB dilakukan oleh Fungsi Pelayanan di Dinas Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru.
Wajib Pajak selaku Penerima Hak merupakan pihak yang mengajukan permohonan penelitian kepada Fungsi Pelayanan atas Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB yang telah dibayarkan. Sedangkan Fungsi Pelayanan merupakan pihak yang memeriksa kebenaran informasi terkait objek pajak yang tercantum dalam Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB. Fungsi Pelayanan berwenang dan bertugas untuk:
2. memeriksa kelengkapan dokumen dan kebenaran data terkait objek pajak yang tercantum dalam SSPD BPHTB; dan
3. menandatangani Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB yang telah diverifikasi. Jika semua kelengkapan dan kesesuaian data objek pajak terpenuhi maka Fungsi Pelayanan akan menandatangani Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB. Fungsi Pengolahan Data dan Informasi merupakan pihak yang menyimpandatabase objek pajak. Fungsi ini menyediakan data terkait objek pajak kepada Fungsi Pelayanan. Fungsi Pengolahan dan Informasi berwenang dan bertugas untuk:
1. mengeloladatabaseobjek pajak yang termasuk dalam wilayah wewenangnya; dan
2. menyediakan data objek pajak atas permintaan dari Fungsi Pelayanan.
Wajib Pajak selaku penerima hak menyiapkan dokumen pendukung yang dibutuhkan untuk penelitian SSPD BPHTB. Dokumen pendukung terdiri atas:
- SSPD BPHTB yang tertera Nomor Transaksi Penerimaan Daerah (NTPD)/
SSPD BPHTB disertai Bukti Penerimaan Daerah (BPD);
- Fotokopi identitas Wajib Pajak (dapat berupa Kartu Tanda Penduduk/ Surat
Izin Mengemudi/ Paspor);
- Surat Kuasa dari Wajib Pajak (dalam hal dikuasakan);
- Fotokopi Kartu Keluarga atau Surat Keterangan Hubungan Keluarga, dalam
hal transaksi waris.
- Fotokopi identitas Kuasa Wajib Pajak (dalam hal dikuasakan); - Fotokopi Kartu NPWP;
- Dokumen pendukung lain yang diperlukan.
Wajib Pajak mengisi Formulir Permohonan Penelitian SSPD BPHTB. Wajib Pajak kemudian menyerahkan Formulir Permohonan Penelitian SSPD BPHTB, SSPD
BPHTB (lembar 4), dan dokumen pendukung kepada Fungsi Pelayanan. Adapun alur proses penelitian SSPD pada Fungsi Pelayanan adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Pelayanan menerima Formulir Permohonan Penelitian SSPD BPHTB, SSPD BPHTB (lembar 4), dan dokumen pendukung dari Wajib Pajak. Fungsi Pelayanan kemudian mengajukan permintaan data terkait objek pajak berdasarkan Formulir Permohonan Penelitian SSPD BPHTB yang diterima. Pengajuan dilakukan dengan mengisi dan menyampaikan Form Pengajuan Data kepada Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi.
2. Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi menerima Form Pengajuan Data dari Fungsi Pelayanan. Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi menarik data yang dibutuhkan dari sistem database objek pajak. Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi kemudian mencantumkan informasi objek pajak pada Form Pengajuan Data. Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi lalu menyerahkan kembali data Form Pengajuan Data kepada Fungsi Pelayanan.
3. Fungsi Pelayanan menerima Form Pengajuan Data yang telah diisi data objek pajak dari Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi. Fungsi Pelayanan kemudian memeriksa kebenaran data dan kelengkapan SSPD BPHTB tersebut.
Data yang tercantum dalam SSPD BPHTB dan dokumen pendukung SSPD BPHTB berdasarkan data objek pajak dari Fungsi Pengolahan Data Dan Informasi. Dalam kondisi tertentu, Dinas Pendapatan Daerah Kota Pekanbaru berhak melakukan penelitian lapangan untuk mengecek kebenaran data secara riil.
Setelah semua kebenaran informasi objek pajak dalam SSPD BPHTB dan kelengkapan dokumen pendukung terpenuhi, maka Fungsi Pelayanan menandatangani SSPD BPHTB.
3. Sanksi perpajakan atas hasil verifikasi yang mengakibatkan NPOP menjadi Lebih Besar dari keadaan yang sebenarnya.
Wajib pajak yaitu pembeli pada prinsipnya diberikan kepercayaan untuk menghitung sendiri jumlah pajak terutangnya yaitu BPHTB. DalamSelf Assessment System, wajib pajak menghitung pajak terutang dan melaporkannya kepada aparatur pajak yang diperkenankan untuk menentukan kebenaran dari perhitungan pajak wajib pajak. Apabila harga transaksi tidak diketahui maka dasar pengenaan pajak yang digunakan dalam BPHTB adalah Nilai Jual Objek Pajak Pajak Bumi dan Bangunan.
Dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) yaitu berupa harga transaksi dan nilai pasar. Perbuatan hukum jual beli dan pembelian melalui lelang menggunakan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) berupa harga transaksi. Selain jual beli dan pembelian melalui lelang digunakan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) berupa nilai pasar.
Nilai pasar diartikan sebagai suatu estimasi jumlah uang pada tanggal penilaian yang dapat diperoleh dari transaksi jual beli atau hasil penukaran suatu aset antara pembeli yang berminat membeli dan penjual yang berminat menjual dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, dimana kedua belah pihak saling mengetahui, bertindak hati-hati dan tanpa paksaan.
Prosedur verifikasi yang menyebabkan perubahan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) menjadi lebih tinggi dari yang telah dihitung dan dibayar oleh wajib pajak sebelumnya, mengakibatkan timbulnya kekurangan bayar atas BPHTB terutang sedangkan perubahan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) menjadi lebih rendah dari yang telah dihitung dan dibayar oleh wajib pajak sebelumnya, mengakibatkan timbulnya kelebihan bayar atas BPHTB terutang.
Sebagai ilustrasi diberikan contoh kasus sebagai berikut:
Tuan Rahmat membeli tanah dengan luas 600 m2 dan bangunan 400 m2 di Kota Pekanbaru dengan harga transaksi Rp.500.000.000,-. NJOP tanah Rp.335.000/m2 , bangunan Rp.365.000/m2 dan pemerintah Kota Pekanbaru menetapkan NPOPTKP sebesar Rp.60.000.000,- Maka perhitungan BPHTB yang harus dibayarkan oleh Tuan Rahmat adalah:
NJOP tanah : 600 X 335.000 201.000.000
NJOP bangunan : 400 X 365.000 146.000.000 +
NJOP TB : 347.000.000
Harga transaksi/jual 500.000.000
Karena harga transaksi lebih tinggi dari NJOP maka yang menjadi NPOP adalah harga transaksi.
NPOP : 500.000.000
NPOPTKP : 60.000.000 _
NPOPKP : 440.000.000
BPHTB : 5% x 440.000.000 22.000.000
Selanjutnya Tuan Rahmat membayar BPHTB tersebut pada kantor Dispenda Kota Pekanbaru dan dilakukan verifikasi. Hasil verifikasi menentukan bahwa NPOP tanah dan bangunan tersebut menurut harga pasar yaitu sebesar Rp.550.000.000
sehingga besarnya BPHTB yang seharusnya dibayar oleh Tuan Rahmat sebagai berikut : NPOP : 550.000.000 NPOPTKP : 60.000.000 _ NPOPKP : 490.000.000 BPHTB : 5% x 490.000.000 24.500.000
Pajak BPHTB kurang bayar : 24500.000 – 22.000.000 2.500.000 Sanksi bunga (asumsi 15 bulan):15x2%x2.500.000 750.000 +
Jumlah pajak yang masih harus dibayar 3.250.000
Berikut ini tabel untuk menggambarkan uraian tersebut Tabel.1.
Uraian Sebelum
verifikasi
Setelah verifikasi Selisih
NPOP 500.000.000 550.000.000 50.000.000 NPOPTKP 60.000.000 60.000.000 - NPOPKP 440.000.000 490.000.000 50.000.000 BPHTB 22.000.000 24.500.000 2.500.000 Sanksi Bunga Asumsi terlambat selama 15 bulan 750.000 750.000 Jlh pajak yang masih harus dibayar
22.000.000 24.500.000 3.250.000
Sumber : diolah sendiri oleh penulis
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut maka Kepala Daerah harus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB). Penetapan Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB) sesuai dengan Undang- undang Nomor 28 tahun 2009, Pasal 97 ayat (1) huruf a butir (1) bahwa “ dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya pajak, kepala daerah dapat menerbitkan: SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar) dalam hal;
jika berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain, pajak yang terutang tidak atau kurang dibayar.” Hal ini dapat ditempuh sepanjang Dispenda Kota Pekanbaru mempunyai bukti/data yang kuat/valid sehingga memberikan kepastian hukum dan transparansi kepada masyarakat.
Terhadap jumlah kekurangan pajak yang terhutang dalam SKBKB tersebut dikenakan sanksi administrasi sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan (sehingga maksimal 48%) terhitung sejak tanggal terutangnya pajak. Sedangkan terhadap kekurangan pajak yang terutang dalam SKBKBT dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut, namun demikian jika WP melaporkan sendiri sebelum dilakukan pemeriksaan maka kenaikan tersebut tidak dikenakan. Jangka waktu pelunasan SKB tersebut adalah 1 bulan sejak tanggal diterbitkannya surat ketetapan.
Verifikasi atas Nilai Perolehan Objek Pajak yang tercantum dalam Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB dapat menyebabkan harga transaksi yang disepakati oleh penjual dan pembeli dikoreksi oleh Dispenda Pekanbaru selaku aparatur pajak. Akan tetapi proses koreksi tidak mengunakan Surat Ketetapan Pajak sebagai bentuk representasinya.
Pihak Dispenda selaku aparatur pajak dalam hal verifikasi tersebut secara de facto dapat menganulir kesepakatan penjual dan pembeli dalam menentukan harga transaksi. Harga transaksi yang disepakati oleh penjual dan beli dapat dikoreksi oleh
Dispenda selaku apartur pajak. Akan tetapi proses koreksi tidak mengunakan Surat Ketetapan Pajak sebagai bentuk representasinya.
Kedudukan Dispenda dalam hal ini dianggap sebagai pihak yang turut memiliki kepentingan dalam suatu jual beli. Kesepakatan harga transaksi tidak hanya ditentukan oleh pihak penjual dan pembeli akan tetapi juga oleh aparatur pajak dalam hal ini Dispenda.
4. Sanksi Perpajakan Atas Hasil Verifikasi Yang Mengakibatkan NPOP Menjadi Lebih Kecil Dari Keadaan Yang Sebenarnya.
Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa NPOP hasil verifikasi dapat menjadi lebih besar ataupun menjadi lebih kecil dari NPOP (keadaan) yang sebenarnya. Untuk hasil verifikasi yang mengakibatkan NPOP menjadi lebih kecil diberikan gambaran dan ilustrasi sebagai berikut:
Tuan Rahmat membeli tanah dengan luas 600 m2 dan bangunan 400 m2 di Kota Pekanbaru dengan harga transaksi Rp.500.000.000,-. NJOP tanah Rp.335.000/m2 , bangunan Rp.365.000/m2 dan pemerintah Kota Pekanbaru menetapkan NPOPTKP sebesar Rp.60.000.000,-
Maka perhitungan BPHTB yang harus dibayarkan oleh Tuan Rahmat adalah:
NJOP tanah : 600 X 335.000 201.000.000
NJOP bangunan : 400 X 365.000 146.000.000 +
NJOP TB : 347.000.000
Harga transaksi/jual 500.000.000
Karena harga transaksi lebih tinggi dari NJOP maka yang menjadi NPOP adalah harga transaksi.
NPOP : 500.000.000
NPOPTKP : 60.000.000 _
NPOPKP : 440.000.000
BPHTB : 5% x 440.000.000 22.000.000
Selanjutnya Tuan Rahmat membayar BPHTB tersebut pada kantor Dispenda Kota Pekanbaru dan dilakukan verifikasi. Hasil verifikasi menentukan bahwa NPOP tanah tersebut adalah sebesar Rp.450.000.000 sehingga besarnya BPHTB yang harus dibayar oleh Tuan Rahmat sebagai berikut :
NPOP : 450.000.000
NPOPTKP : 60.000.000 _
NPOPKP : 390.000.000
BPHTB : 5% x 390.000.000 19.500.000
Pajak BPHTB lebih bayar : 22.000.000 – 19.500.000 2.500.000 Imbalan bunga (asumsi 15 bulan):15x2%x2.500.000 750.000 + Jumlah pajak yang harus dikembalikan Dispenda 3.250.000 Berikut ini tabel untuk menggambarkan uraian tersebut
Tabel.2.
Uraian Sebelum
verifikasi
Setelah verifikasi Selisih
NPOP 500.000.000 450.000.000 50.000.000 NPOPTKP 60.000.000 60.000.000 - NPOPKP 440.000.000 390.000.000 50.000.000 BPHTB 22.000.000 19.500.000 2.500.000 Sanksi imbalan bunga (asumsi terlambat 15 bulan) 750.000 750.000
Jlh pajak yang harus dikembalikan
1.750.000 Sumber : diolah sendiri oleh penulis
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut maka Kepala Daerah dalam hal ini walikota Pekanbaru dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar (SKPDLB).
Dalam jangka waktu 3 bulan sejak diterimanya SKP yang dapat dibuktikan dengan cap pos, Wajib pajak dapat mengajukan keberatan terhadap:
1. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan Kurang Bayar (SKBKB),
2. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan Kurang Bayar Tambahan (SKBKBT),
3. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan Lebih Bayar (SKBLB),
4. Surat Ketetapan Bea Perolehan Hak atas Tanah & Bangunan Nihil (SKBN). Syarat pengajuan keberatan;
1. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia,
2. Mengemukakan jumlah pajak yang terutang menurut perhitungan wajib pajak dengan disertai alasan yang jelas dengan mengemukakan data atau bukti bahwa jumlah pajak yang terutang atau pajak lebih bayar yang ditetapkan oleh fiskus tidak benar,
Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan tidak dianggap sebagai surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan. Kepala Daerah harus memberi keputusan atas keberatan apakah diterima, ditolak atau bahkan menambah besarnya pajak
terutang dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal surat ketetapan diterima.
Apabila permohonan keberatan ditolak, WP masih dapat mengajukan upaya Banding ke Pengadilan Pajak dalam jangka waktu 3 bulan sejak diterimanya SK Keberatan yang dapat dibuktikan dengan cap pos. Pengadilan Pajak harus memberi keputusan atas banding apakah diterima, ditolak atau bahkan menambah besarnya pajak terutang dalam jangka waktu paling lama 12 bulan.
Apabila pengajuan keberatan atau permohonan banding dikabulkan sebagian atau seluruhnya, maka kelebihan pembayaran pajak akan dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak tanggal pembayaran yang menyebabkan kelebihan pembayaran pajak sampai dengan diterbitkannya Keputusan Keberatan atau Putusan Banding tersebut.
Wajib pajak dapat mengajukan usul permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak kepada Kepala Daerah, antara lain berupa:
1. Pajak yang dibayar lebih besar daripada seharusnya terutang,
2. Pajak yang dterutang yang dibayarkan oleh wajib pajak sebelum akta ditandatangani, namun perolehan hak atas tanah atau bangunan tersebut batal. Berdasarkan kondisi di atas maka pengembalian kelebihan pembayaran dapat diberikan karena:
1. Pengajuan permohonan pengurangan yang dikabulkan baik sebagian ataupun seluruhnya,
2. Pengajuan keberatan atau banding yang dikabulkan baik sebagian atau seluruhnya, maka jumlah pengembalian akan ditambahkan bunga 2%/bln maksimal 24 bulan,
3. Pajak yang dibayar lebih besar dari yang seharusnya terutang atau sudah terlanjur bayar tetapi proses perolehan haknya dibatalkan, maka terlebih dahulu akan dilakukan dilakukan proses pemeriksaan jumlah pengembalian akan ditambahkan bunga 2%/bln maksimal 24 bulan apabila pengembalian telah lewat 2 bulan,
4. Perubahan peraturan perundang-undangan.
Pengajuan permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak tersebut diajukan oleh WP ke Kepala Daerah. Kemudian Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak diterimanya permohonan harus memberikan keputusan.