• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : ANALISA YURIDIS HUKUM POSITIF DAN HUKUM

B. Saran

Seharusnya hakim dalam memvonis perkara tersebut menggunakan pasal 285 KUHP, hal ini dikarenakan semua unsur telah terpenuhi. Sedangkan menurut Hukum Islam hukuman dikenakan kepada pelaku saja yakni hukuman hudud dan hukuman ta’zir sebagai hukuman tambahan. Jadi pada dasarnya terdapat perbedaan yang signifikan antara Hukum Positif dan Hukum Islam mengeanai hukuman terhadap kasus terdakwa Boy Santoso.

B. Saran

Berdasarkan hal-hal yang penulis tulis dalam skripsi ini dan analisis putusan perkara No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR, mengenai tindak pidana perkosaan terhadap anak idiot, maka penulis mencoba mnyampaikan beberapa saran terhadap pihak-pihak terkait, yaitu :

1. Bagi hakim pada umumnya dan bagi hakim PN Jakarta barat yang telah memutus perkara terdakwa Boy Santoso, khususnya menyadari akan tanggung jawab yang besar yang diemban seorang hakik di sini penulis memaklumi bahwa seorang hakim pun juga seorang manusia yang tidak luput dari salah dan khilaf, tetapi alangkah baiknya jika dalam memutus suatu perkara hal tersebut tidak dijadikan alasan maupun tameng karena mengingat lingkup hukum pidana yang menyangkut mengenai suatu perbuatan yang melangar peraturan yang tentu saja merugikan korban, baik itu segi materil maupun non materil, sehingga perlu dilakukannya penegakkan hukum yang adil bagi pelaku. Dengan menerapkan hukum seadil-adilnya dan memberikan

96

sanksi yang tegas, yang sesuai dengan perbuatan pelaku tindak pidana perkosaan, sehingga sanksi yang diberikan tersebu tmenimbulkan benar-benar efek jera (represif) bagi pelaku dan dapat membuat takut bagi orang yang belum melakuikan atindak pidan tersebut (preventif) mengingat dampak dari perbuatan perkosaan menimbulkan trauima yang besar terhadap korban khususnya anak yang mengalami gangguan jiwa.

2. Bagi jaksa penuntut umum pada umumnya dan bagi jaksa penuntut umum yang mendakwa Boy Santoso khususnya, lebih teliti dan jeli dalam membuat surat dakwaan merupakan suatu langkah yang bijak mengingat kedudukan jaksa dala pengadilan adalahs sebagai pihak yang melakukan penuntutan terhadap terdakwadan dalam hal ini memperjuangkan hak korban.

3. Bagi akademis hukum, yakni memberikan solusi yang jelas dan spesifik mengenai pengertian tindak pidana perkosaan, mengingat banyak masyarakat yang masih awam mengenai pembatasan tindak pidana perkosaan itu sendiri, sehibngga seringkali terjadi perbuatan yang bukan perkosaan dilaporkan kepanyidik/polisi yang akhirnya ditolak karma perbutan tersebut belum termsuk perkosaan. Hal ini menunjukan bahwa masih awamnya masyarakat kita tentang hukum.

4. bagi orang tua, yakni :

a. Menegakkan prinsip perlindungan anak sebagaimana yang talah diamanatkan konvensi hak-hak anak dan perlindungan anak

97

b. Tidak lagi boleh menyerahkan anak-anaknya begitiu saja kepada orang lain, karena mereka telah percaya. Tetapi h arus ditelesuri dahulu apakah orang yang dipercaya itu benar-benar bisa menjada amanat.

c. Bagi orang tua korban atau keluarganya yakni memberikan support

terhadap anak-anaknya, bahwa keadaan yang mereka alami bukan berarti hidup mereka berakhir, msih banyak hal-hal indah yang mereka raih. Dan terus memberikan motivasi, sehingga mereka dapat memulihkan kepercayaan diri mereka dan dapat tumbuh seperti layaknya anak normal lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Abd Ghafar, Asyahari’ Pandangan Islam Tentang Zina dan Perkawinan Sesudah Hamil, Jakarta : Grafindo Utama, 1987

Al-Bukhari, Muhammad Bin Ismail, Shahih Bukhari, Beirut :Dar Wa Mathabi al-Syu’ab, tth

Arif, Gosita, Relevansi Viktimologi Dengan Pelayanan Terhadap Para Korban Perkosaan, Jakarta : Ind Hill-Co, 1997

Andi, Hamzah. Hukum Acara Pidana di Indonesia, Jakarta : Arikha Media Cipta, 1993

Ahmad, Hanafi. Asas-Asas Hukum Pidana Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 2005

Al-Razi, Muhammad Bin Abi Bakar, Mukhtar Al-Shihah, Mesir : Isa Al-Babi Al-Halabi

Al-Imam, Al-Kahlani Subulus Salam, Beirut : Dar-Furats al-Arabiy, 1960 A. Zajuli, Fiqh Jinayah (Upaya Menanggulangi Kejahatan Dalam Islam),

Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2001

Bismar, Siregar. “Tanggung Jawab Hakim Melindungi Korban Perkosaan, Makalah Seminar Nasional Tentang:Aspek-Aspek Perlindungan Hukum Korban Perkosaan, Surabaya : Universitas Sebelas Maret, 1999

Bambang, Poernomo. Asas-Asas Hukum Pidana, Yogyakarta :Ghalia Indonesia, 1978

--- Pertumbuhan Hukum Penyimpangan Diluar Kodefiksi Hukum Perdata, Jakarta : Bina Aksara, 1998

C.S.T, Kansil. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata hukum Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 2002

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta :Balai Pustaka, 1990

Daliyo, J.B. Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta : PT Prenhalindo, 2001

99

Flamintang, S.H., Drs P.A Delik-Delik Khusus Tindak Pidana Melanggar Norma-norma Kesusilaan dan Norma Kepatutan, Bandung : Manjar Maju, 1990

Handoko, Tjonroputranto, Pokok-Pokok Ilmu Kedokteran Forensik,

Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah Al-Haditsah, Jakarta : PT Raja Grapindo Persada, 2000

Hakristuti, Hakrisnowo. Tindak Pidana Kesusilaan dalam Perspektif Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dalam Pandangam Muhammad Amin Suma, dkk, Pidana Islam di Indonesia (Pelaung,Prospek, dan Tantangan), Jakarta : Pusaka Firdaus. 2001

Idris, Abdul Mun’im, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik, Jakarta : Bina Rupa Aksara, 1989

Koesparno, Ihsan. Kekerasan-Kekerasan Sebagai Tindak Kriminal, Makalah Seminar Sehari Tentang : Tindak Pidana Kekerasan Dalam Masyarakat, Jakarta, 1990

Kanter d E.Y. dan S.R Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Jakarta : Storia Grafika, 2002

Moeljatno, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Jakarta : PT Bumi Aksara, 2001

Muhammad, Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern Jakarta : Pustaka Amini

Musfir Garm, Allah Al-Damini, Al-Jinayat Baina Al-Fiqh, Ryad : Dar Thaibah, 1402 H

Muslim Bin al-Hajaj al-Qusyairi al-Nay Sabury, Abi al-Husein Shahih Muslim, Dar Al-Ihya, al-Kutub Al-Arabiyah, 1918

Martiman, Prodjohamidjojo. Sistem Pembuktian dan Alat-Alat Bukti, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1988

Prasetyo, Eko & Supraman Marzuki (ed), Perempuan Dalam Wacana Perkosaan, Yogyakarta : PKBI-DIY, 1997

Pusat Komunikasi Kesehatan Prespektif Gender, Mengapa Anda Peduli Dengan Korban Perkosaan, Jakarta, 1995

100

Soebekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum, Jakarta : Pradnya Paramita, 1972 Syarif Al-Jurjani, Muhammad Bin Abi Bakar, Kitab Al-Ta’rifat, Beirut Topo, Santoso. Menggagas Hukum Pidana Islam, (Penerapan Syari’at Islam

Konteks Modernitas), Bandung : Asy-Syamil Prees & Grafika, 2001 Wirjono, Prodjodikoro. Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, Bandung : PT.

Refika Aditama, 2003

--- Tindak-Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Bandung : eresco, 1986 WJS. Poerwadarminta, WJS. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai

Pustaka, 1976

Sumber dari Perundang-undangan dan sejenisnya

Kitab Undang-undang Hukum Pidana, pasal 285, 286, 289, 294 tentang tindak pidana perkosaan dan pencabulan

Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat, 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR

Sumber dari wawancara

Wawancara pribadi dengan Tarmuji, Panitera Muda Hukum Pengadilan Negeri Jakarta Barat, 6 Januari 2010

HASIL WAWANCARA Nara sumber : Tarmuzi. SH

Jabatan : Panitera Muda Hukum Pewawancara : Muhammad Agus Setiawan Hari/tanggal : 24 Februari 2010

Waktu : 10.00 - 11.30

Soal : Perbuatan apa sajakah yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perkosaan ?

Jawab Perkosaan yang terjadi secara tuntas, artinya pihak pelaku (laki-laki pemerkosa) telah selesai melakukan perbuatannya hingga selesai (mengeluarkan air mani). Jika hal ini tidak sampai terjadi, maka secara eksplisit apa yang dilakukan laki-laki itu belum patut untuk dikataegorikan sebagai perkosaan. Namun ada ahli yang berpendapat, bahwa perkosaan tidak selalu harus mengeluarkan air mani (sperma). Cukup dengan pemaksaan persetubuhan (sampai alat kelamin laki-laki masuk kedalam alat kelamin perempuan), maka hal itu sudah disebut sebagai perkosaan. Akan tetapi apabila pelaku tidak berhasil memasukkan penisnya kedalam vagina korban, karena korbannya telah memberikan perlawanan atau telah meronta-ronta maka pelaku dapat dipersalahkan telah melakukan suatu ‘percobaan perkosaan’. Dan dapat dijatuhi hukum penjara selama delapan tahun yakni sesuai dengan pidana pokok terberat yang diancamkan dalam pasal 285 KUHP dikurangi dengan sepertiganya.

Soal : Bagaimana proses pembuktian perksoaan ?

Jawab Sistem pembuktian dalam mengungkapkan kasus perkosaan di muka sidang pengadilan sama dengan yang lainnya yaitu adanya bukti-bukti, saksi atau barang bukti (material) dan resume (kumpulan hasil) dari para dokter yang

menangani masalah ini dan Visum Et Refertum yang dibuat oleh dokter kehakiman atau dokter puskesmas. Dalam pedoman pelaksanaan KUHP diaktakan bahwa “tujuan dari hukum acara untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran mataeril….”. Dengan berpegang pada tujuan tersebut (menemukan kebenaran materil), maka akan timbul suatu hal yang amat penting tetapi sekaligus sukar, yaitu bagaimana hakim dapat menetapkan kebenaran materil itu.

Sesuai dengan yang terkandung dalam pasal 183 KUHAP Sekurang-kurangya ada dua alat bukti yang sah Dengan dasar alat bukti yang sah, hakim yakin bahwa : Tindak pidana telah terjadi dan Terdakwa telah bersalah Sedangkan alat-alat bukti yang sah menurut pasal 184 KUHAP ialah : Keterangan saksi, Keterangan ahli, Surat, Petunjuk, Keterangan terdakwa

Soal : Mengapa tindak pidana terhadap para pelaku perkosaan masih dirasa cukup rendah ?

Jawab Masalah perkosaan ini merupakan masalah social dan yuridis yang sangat rumit, kiranya perlu diadakan pengkajian dan penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai cara bagaimana mengatasi masalahi ni. Karena secara formil hukum positif di Indonesia telah menetapkan hukuman maksimal yang cukup berat yaitu hukuman penjara 12 tahun. Akan tetapi pada kenyataannya hakim menjatuhkan hukuman terlalau ringan, sehingga pelaku perkosaan tidak akan jera dan mungkin akan mengulangi perbuatan yang keji itu. Apabila mereka bertahun-tahun dalam penjara tidak sempat dalam memenuhi kebutuhan seksualnya atau menjalankan kehidupan yang kurang normal. Ringannya hukuman tersebut bisa juga disebabkan karena kurangnya alat-alat bukti yang dapat menunjukan kepada perbuatan perkosaan tersebut, dari sinilah timbul keengganan para korban perkosaan untuk mengadukan kejahatan tersebut, karena korban tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali kerugian yang dideritanya, baik kerugian moril maupum materil.

Perlindungan khusus bagi korban yang berwujud pemberian ganti rugi msih belum terlaksana dengan semestinya.

Soal : Bagaimana upaya hukum yang dilakukan dalam melindungi korban perkosaan ?

Jawab Dalam pasal 285 KUHP tersirat bahwa puncak penanganan terhadap korban perksoaan adalah saat pelaku dijatuhi hukuman pidana, sedangkan penjatuhan hukuman dalam kasus perksoaan bukanlah satu-satunya tujuan akhir dari proses penegakkan hukum, masih tersisa tujuan utama dan sangat penting ialah mengembalikan kondisi kehidupan korban perkosaan ke dalam posisi semula, antara lain menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri termasuk dalam hal ini adalah pemberian ganti rugi berupa kompensasi (dari pemerintah) atau restitusi (dari pelaku perkosaan). Penuntutan ganti rugi sebagaimana diatur dalam pasal 136 KUH-Per dan pasal 98 KUHP pada intinya pasal tersebut menyatakan bahwa setiap perbuatan yang melanggar hukum yang menimbulkan kerugian kepada orang lain wajib mengganti kerugian tersebut.

Soal : Apa upaya (tindakan) pemerintah dan masyarakat dalam rangka mencegah tindak pidana perksoaan ?

Jawab Adapun upaya dalam rangka mencegah dan menanggulangi terjadinya kejahatan seksual adalah dengan penerapan dan pelaksanaan peraturan, seperti penjatuhan sanksi hukuman dengan pasti dan tepat, perlu digalakkan penyuluhan hukum kepada masyarakat agar masyarakat mengerti kewajiban dan hak-haknya dalam hukum baik hukum Positif maupun hukum Islam, memperbaiki mental masyarakat agar lebih dewasa dan arif dalam menyikapi korban perkosaan.

Dokumen terkait