ANALISA HUKUM ISLAM DAN KUHP TERHADAP PUTUSAN PERKARA TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANAK IDEOT
(Studi Analisis Putusan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR) Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Hukum Islam
Oleh :
Muhammad Agus Setiawan NIM : 105043201333
KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi berjudul ANALISA HUKUM ISLAM DAN KUHP TERHADAP PUTUSAN PERKARA TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANAK IDIOT (Studi Analisis Putusan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR) telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universtias Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada Kamis, 20 Mei 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Syariah (SSy) pada Program Studi Perbandingan Mazhab dan Hukum (Perbandingan Hukum).
Jakarta, 20 Mei 2010
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Prof.DR.H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM
NIP. 1955 0505198203 1012
PANITIA UJIAN
1. ketua : Dr. H. Ahmad Mukri Aji, MA (……….) NIP. 1957 0312 1985 1003
2. Sekretaris : Dr.H. Muhammad Taufiqi, M.Ag (.……….) NIP. 19651119 199803 1002
3. Pembimbing : Prof.DR.H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM(….…………) NIP. 1955 0505198203 1012
4. Penguji I : Dr.H. Ahmad Mukri Aji, MA (……….) NIP. 1957 0312 1985 1003
ANALISA HUKUM ISLAM DAN KUHP TERHADAP PUTUSAN PERKARA TINDAK PIDANA PERKOSAAN ANAK IDEOT
(Studi Analisis Putusan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR) Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah Dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Hukum Islam
Oleh :
Muhammad Agus Setiawan NIM : 105043201333
Pembimbing
Prof.DR.H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM NIP. 1955 0505198203 1012
KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
KATA PENGANTAR
Bismillahhirahmaanirrahiim,
Segala puji bagi Allah SWT, shalawat serta salam bagi Rasulullah SAW beserta keluarganya yang suci atas terselesaikannya tulisan ini. Atas berkat rakhmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini yang bertujuan tidak lain untuk memenuhi syarat kelulusan yang dilaksanakan Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Skripsi ini diberi judul : “ ANALISA HUKUM ISLAM DAN KUHP TENTANG PUTUSAN PERKARA TINDAK PIDANA PERKOSAAN TERHADAP ANAK IDEOT (Studi Analisis Putusan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR)”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Skripsi ini masih dan sangat jauh untuk disebut sempurna, mengingat akan keterbatasan penguasaan berbagai literatur dan waktu yang dipunyai oleh penulis. Meski demikian semoga Skripsi ini dapat menjadi bahan masukan dan acuan bagi Fakultas Syari’ah dan Hukum khususnya bagi Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang menjadi almamater penulis.
Dalam menyelesaikan tulisan ini, Penulis mendapatkan bantuan yang dibutuhkan dari berbagai pihak. Untuk itu, sudah selayaknya penulis memberikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu secara moril maupun materiil.
Selanjutnya penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA, MM selaku Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga selaku pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, petunjuk, pengarahan dan nasehat kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. dan Pembantu Dekan I, II dan III yang telah membimbing dan memberikan ilmu kepada penulis.
2. Bapak Dr. H. Ahmad Mukri Adji, MA selaku Ketua Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pengarahan serta waktu kepada penulis disela-sela kesibukan beliau.
3. Bapak Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag selaku Sekretaris Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah yang juga membimbing, meluangkan waktu dan mengarahkan segenap aktivitas yang berkenaan dengan jurusan.
4. Seluruh Dosen-dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta serta kepada karyawan dan Staf Perpustakaan yang telah memfasilitasi penulis dalam menyelesaikan skripsi.
iii
5. Yang sangat penulis cintai dan hormati kedua Orang Tuaku, Bapakku H. Jaya ibuku Hj. Rumsanah atas dukungan, dorongan morilnya dan semuanya yang tidak terhingga (tidak ada doa dan kasih sayang yang paling tulus dan besar selain doa dan kasih sayang orang tua).
6. Terima kasih tak kurang penulis ucapkan kepada sahabat-sahabat seperjuangan Solah Al-Hasyimi, Ijul Al-Ghozali, Munir Al-Isnu, Arif van Holen dan Ipul As-Sukuti, Zulfikar Al-Misbah yang telah memberikan rasa persahabatan mendalam kepada penulis sehingga menjadi inspirasi dalam penulisan skripsi ini.
Akhir kata dengan segala kerendahan hati penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan skripsi ini dan semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Amien.
Billahifisabilil haq, wassalammu’alaikum.
Jakarta, 23 Maret 2010
DAFTAR ISI
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Pembatasan Masalah ...11
C. Perumusan Masalah ………..12
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ……….12
E. Metode Penelitian ……….13
F. Review Studi Terdahulu ………17
G. Sistematika Penelitian … ………..18
BAB II :TINJAUAN UMUM HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM MENGENAI TINDAK PIDANA PERKOSAAN A. Pengertian Pidana ……….…20
B. Tindak Pidana Perkosaan ………..34
C. Jenis-jenis Perkosaan ………36
D. Kejahatan Asusila bagi Anak di Bawah Umur ………..38
E. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak …………48
B. Pembuktian Tindak Pidana Perkosaan ...59
C. Sanksi Hukuman Bagi Pelaku Perkosaan ...69
D. Surat Dakwaan dan Putusan Hakim ...78
E. Analisis Hasil Penelitian ...82
BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan ...93
B. Saran... ...95
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Indonesia adalah salah satu negara yang berdasarkan pada hukum, yang mana sistem yang dianut adalah sistem konstitusionalisme. Hal ini tertuang dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 yang mana berbunyi: ”Negara Indonesia berdasar atas hukum (Rechtstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka
(Machtstaate)”. Dan “Pemerintahan Indonesia berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme (kekuasaan yang tidak terbatas)”. Hal ini sudah dipertegas dalam Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke-3 Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi: ”Negara Indonesia adalah negara hukum”. Selain itu, tertegas pula dalam idealisme negara kita bahwa Pancasila adalah sebagai sistem hukum. Di mana ia merupakan sumber dari segala sumber hukum atau sumber hukum yang tertinggi di dalam sistem atau tata hukum Indonesia. Pada intinya, Pancasila bertujuan untuk mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan, serta kemampuan untuk mengayomi masyarakat, bangsa dan negara. Begitu jelas pernyataan-pernyataan itu tersebut dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945, sehingga telah nyata juga adanya batasan-batasan mengenai bentuk dasar dan sistem Negara Indonesia.1
1
C.S.T, Kansil. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata hukum Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka, 2002, h. 59.
2
Adanya upaya pembentukan hukum di negara kita adalah merupakan bagian dari upaya pembangunan nasional. Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa pembangunan adalah suatu proses yang di alami oleh masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Untuk dapat mencapai suatu sasaran yang diharapkan dari proses pembangunan, maka pada umumnya kegiatan pembangunan haruslah terencana, terpadu, dan terarah. Sejalan dengan hal itu, orang pun banyak berpendapat bahwa masa kini adalah hasil komulatif serta kesinambungan dari masa yang telah lalu dan upaya bersama suatu bangsa pada masa kini melalui suatu perubahan sosial dan budaya yang direncanakan demi pelaksanaan pembangunan.2
Dalam kaitannya dengan pembangunan yang sedang dilaksanakan di Indonesia, maka di usahakan agar pembangunan tersebut mencakup aspek-aspek materiil dan spiritual dari kehidupan masyarakat, yang mana meliputi bidang-bidang karya, cipta, dan rasa. Selain itu, pembangunan juga tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan bidang hukum yang merupakan salah satu sarana untuk menjaga keserasian, keutuhan serta pembaharuan masyarakat. Ketertiban dan integrasi melalui hukum merupakan unsur yang esensial bagi setiap bentuk kehidupan politik yang terorganisir, sebab negara merupakan salah satu lembaga yang memiliki fungsi utama untuk memenuhi cita-cita tersebut. Selain itu, adanya pembangunan nasional tidak bisa terlepas dari partisipasi masyarakat Indonesia seluruhnya.
2
3
Seiring dengan kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan (iptek), perilaku manusia di dalam hidup bermasyarakat dan bernegara justru semakin kompleks. Perilaku yang demikian apabila ditinjau dari segi hukum, tentunya ada perilaku yang sesuai dengan norma dan ada yang dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran dari norma. Perilaku yang menyimpang dari norma biasanya akan menjadikan suatu permasalahan baru di bidang hukum dan merugikan masyarakat.3 Perilaku yang tidak sesuai norma atau dapat disebut sebagai penyelewengan terhadap norma yang telah disepakati ternyata menyebabkan terganggunya ketentraman dan ketertiban terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Penyelewengan atas suatu norma yang berlaku biasanya oleh masyarakat umum dinilai sebagai suatu kejahatan dalam ruang lingkup hukum pidana dan kejahatan dalam kehidupan manusia merupakan gejala sosial yang akan selalu dihadapi oleh setiap manusia, masyarakat, dan bahkan oleh negara. Kenyataan telah membuktikan bahwa kejahatan hanya dapat dicegah dan dikurangi akan tetapi sulit diberantas secara tuntas.4
Kejahatan yang dihadapi oleh manusia mengakibatkan masalah yang dihadapi oleh manusia menjadi datang silih berganti, sehingga dapatlah dikatakan bahwa hal tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang kehilangan arah dan tujuan di mana manusia mempunyai ambisi, keinginan dan tuntutan yang dibalut oleh nafsu. Akan tetapi, karena hasrat yang berlebihan gagal dikendalikan
3
Ibid. hal. 3
4
4
dan di didik, maka mengakibatkan masalah yang dihadapinya semakin bertambah banyak dan beragam. Kejahatan yang terjadi dewasa ini bukan hanya menyangkut kejahatan terhadap nyawa dan harta benda saja, akan tetapi kejahatan terhadap kesusilaan juga semakin meningkat jumlahnya. Dalam hal kesusilaan, sering terjadi pada suatu krisis sosial di mana keadaan tersebut tak bisa lepas dari peranan kaidah sosial yang ada.
5
Anak akan menjadi harapan penerus bagi kelangsungan suatu bangsa. Sebab, pada dasarnya nasib suatu bangsa sangat tergantung pada generasi penerusnya. Apabila generasi penerusnya baik, maka dapat dipastikan juga kehidupan suatu bangsa itu juga akan berlangsung baik. Namun sebaliknya jika generasi penerus itu rusak, maka rusaklah kehidupan bangsa itu. Begitu pentingnya generasi penerus bagi kelangsungan hidup berbangsa. Maka sudah sewajarnya jika seorang anak harus diberikan perhatian dan perlindungan khusus, terlebih lagi bagi anak yang mempunyai kekurangan atau yang biasa dikenal dengan istilah anakcacat (idiot) atau difabel. Menurut Pasal 7 angka (7) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, ”Anak yang menyandang cacat adalah anak yangmengalami hambatan fisik dan/atau mental
sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar”.
Tentunya ada perlindungan/perlakuan yang sangatlah khusus bagi anak yang mempunyai kekurangan dan perbedaan dari anak normal. Sebab, mereka sangat berbeda dari anak-anak atau orang-orang pada umumnya. 5
Perlindungan pada anak dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, yakni melalui pemberian hak-hak terhadap anak yang dapat dikaitkan dalam hukum, seperti perlindungan atas kesejahteraan, pendidikan, perkembangan, jaminan masa depan yang cerah, dan perlindungan dari kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan serta perlindungan-perlindungan lain yang dapat memacu tumbuh berkembangnya anak secara wajar.
5
6
Di bidang kesusilaan, anak-anak dan kaum perempuan menjadi obyek pengebirian dan pelecehan dan hak-haknya sedang tidak berdaya menghadapi kebiadaban individual, kultural, dan struktural yang dibenarkan. Nilai kesusilaan yang seharusnya dijaga kesuciannya sedang dikoyak dan dinodai oleh naluri kebinatangan yang diberikan tempat untuk berlaku adidaya. Salah satu langkah antisipasi atas kejahatan tersebut dapat memfungsikan instrument hukum pidana secara efektif melalui penegakan hukum. Dan di upayakan bahwa perilaku yang dinilai telah melanggar hukum dapat ditanggulangi secara preventif dan represif. Sehingga dalam hal ini, melalui payung hukum hak-hak anak akan secara nyata dilindungi. Namun, perlu diingat juga bahwa penjatuhan pidana bukan semata-mata sebagai jalan balas dendam atas perbuatan yang telah dilanggar, melainkan adalah suatu upaya pemberian bimbingan pada pelaku tindak pidana dan sebagai upaya pengayoman atas korban dari tindak pidana yang ada. Dan hakim dalam menjatuhkan suatu putusan haruslah mempertimbangkan unsur-unsur obyektif yang tidak bersifat emosi semata. Seperti tujuan pemidanaan dalam Pasal 50 RUU KUHP Tahun 2000, yakni bahwa suatu pemidanaan dijatuhkan dengan tujuan:6
1. Untuk mencegah dilakukannya tindak pidana dengan penegakan norma hukum demi pengayoman negara dan masyarakat;
6
7
2. Untuk memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan dan membimbing agar terpidana insyaf dan menjadikannya sebagai anggota masyarakat yang berbudi dan berguna;
3. Untuk menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh terpidana, memulihkan keseimbangan, dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat;
4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Untuk sanksi pidana dalam kasus perkosaan, dalam KUHP sendiri telah diatur yang salah satunya terdapat dalam Pasal 285 yang berbunyi:7 “Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar pernikahan, di ancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun”. Dan dalam Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi:8
“(1). Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp.60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)”.
“(2). Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain”.
7
Pasal 287 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).
8
8
Dari bunyi pasal-pasal tersebut jelaslah tercantum sanksi pidana atas tindak pidana perkosaan pada anak di bawah umur yang cukup berat. Bahkan dalam Undang-undang Perlindungan Anak, ancaman pidananya lebih berat jika dibandingkan dengan ancaman pidana yang tercantum dalam KUHP. Sistem pengancaman pidananya juga menganut sistem ancaman minimum khusus dan maksimum khusus, sehingga diharapkan hakim dalam menjatuhkan putusan.
Menurut Oemar Seno Adji, sebagai seorang hakim dalam memberikan putusan kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti pengaruh dari faktor agama, kebudayaan, pendidikan, nilai, norma dan sebagainya. Sehingga dapat dimungkinkan adanya perbedaan putusan atas kasus yang sama. Dan pada dasarnya hal tersebut lebih disebabkan oleh adanya perbedaan cara pandang sehingga mempengaruhi pertimbangan hakim dalam memberikan putusan.9 Cara penegakan hukum dan sanksi hukum dalam kenyataan sosial dan menghukum pelaku tindak pidana sebagai gejala sosial tidak lepas dari kenyataan masyarakat. Maka, penegakan hukum pidana merupakan salah satu pengendalian terhadap kejahatan yang untuk diberantas atau sekurang-kurangnya di jaga agar berada dalam batasan tertentu.10
Di samping hal-hal tersebut yang mempengaruhi hakim dalam memberikan putusan adalah unsur pembuktian dikarenakan unsur vital yang dijadikan bahan pertimbangan hakim dalam menentukan berat atau ringannya pemidanaan.
9
Oemar Seno Adji. Hukum Hakim Pidana. Jakarta:Erlangga. 1984. hal. 12
10
9
Namun hal tersebut terkadang dirasa sangatlah sulit oleh hakim terutama dalam tindak pidana perkosaan. Sebab seringkali wanita dan anak-anak yang menjadi korban tindak pidana perkosaan mengalami trauma yang sangat hebat sehingga tidak melaporkan kejadian yang baru dialaminya. Hal itu, juga menjadi faktor penghambat dalam proses pemidanaan atas tindak pidana perkosaan yang mana korban adalah seorang anak ataupun orang yang mempunyai keterbatasan pada pengucapan atau yang sering disebut dengan tuna wicara. Selain itu dapat juga dikarenakan adanya ketidaktahuan korban tindak pidana perkosaan itu sendiri atas perilaku atau perbuatan pencabulan yang baru dialaminya. Dalam perkara tindak pidana perkosaan terhadap anak, hakim mempunyai wewenang untuk melaksanakan pengadilan dan wajib memahami akibat yang ditimbulkan terhadap anak di bawah umur sebagai korban tindak pidana perkosaan karena pada akhirnya suatu putusan hakim dapat memberi pengaruh dan akibat positif maupun negatif baik itu bagi pelaku tindak pidana maupun bagi korban tindak pidana pemerkosaan tersebut.
10
korban tersebut adalah seorang anak yang dikategorikan sebagai anak difabel atau yang biasa disebut dengan anak cacat (idiot).
Seperti tindak pidana perkosaan yang dilakukan oleh seorang kakak ipar terhadap adik iparnya yang berkebutuhan khusus yang ditangani oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan perkara No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR, dimana seorang kakak ipar bernama Boy Santoso telah melakukan tindak pidana perkosaan terhadap adik iparnya yakni Bem-Bem. Pelaku di kenakan pasal 289 KUHP (dakwaan lebih subsider), dan tidak mengabulkan dakwaan primer dan subsider yakni pasal 285 dan 286 KUHP oleh hakim (Soeratno, SH) dan dihukum selama selama 2 (dua) tahun, dan membebankan kepada terdakwa untuk membayar ongkos perkara sebesar Rp. 500,- (lima ratus rupiah).
Apabila dilihat, korban berusia di bawah 18 tahun, itu artinya berdasarkan UU No.23/2002 tentang perlindungan anak, para korban berhak mendapatkan perlindungan. Maka, tentunya putusan hakim atas kasus tersebut dianggap
terdapat kejanggalan, karma putusan tersebut belum memandang penderitaan bagi korban yang telah terenggut masa depannya serta menimbulkan trauma yang mendalam sekaligus dampak sosiologis di masyarakat di mana korban tinggal.
11
“ ANALISA HUKUM ISLAM DAN KUHP TENTANG PUTUSAN PERKARA TINDAK PIDANA PERKOSAAN TERHADAP ANAK IDIOT
(Studi Analisis Putusan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR)”.
B. Batasan Masalah
Berdasarkan uraian yang terkait dengan segala masalah yang sedang diteliti diatas, maka untuk mendapatkan pembahasan yang efektif dan objektif, perlu diberikan pembatasan masalah, sebagai berikut :
1. Tinjauan Hukum Positif yakni menurut KUHP pasal 285, 286, 289, 294 tentang perkosaan dan pencabulan, Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Hukum Islam (Al-Qur’an, al-Hadits dan fiqh / pendapat Imam mazhab) mengenai sanksi terhadap pelaku tindak pidana perkosaan.
2. Analisis surat dakwaan dan putusan menurut Hukum Positif serta Hukum Islam terhadap putusan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR, tentang tindak pidana perkosaan terhadap anak idot.
12
C. Perumusan Masalah
Sebagaimana telah Penulis uraikan diatas, maka dirumuskan beberapa permasalahan yang sekiranya dapat diangkat untuk dikaji secara lebih lanjut. Adapun rumusan masalah yang dimaksud adalah :
1. Perbuatan apa saja yang termasuk ke dalam kategori perkosaan dan bagaimana sanksi pidananya menurut Hukum Positif dan Hukum Islam ?. 2. Bagaimana pertimbangan Hakim dalam memutuskan perkara tindak pidana
perkosaan No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR ?.
3. Bagaimana analisis Hukum Positif dan Hukum Islam terhadap perkara tindak pidana perkosaan anak idiot dalam perkara No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR ?.
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan skripsi ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbuatan apa saja yang termasuk ke dalam kategori perkosaan, dan bagaimana sanksi pidananya menurut Hukum Positif dan Hukum Islam.
2. Untuk mengetahui pertimbangan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat dalam memutuskan perkara No. 054/PID/B/1997/PN.JKT-BAR.
13
Selanjutnya manfaat dari penulisan ini adalah :
1. Menambah perbendaharaan keilmuwan dalam bidang hukum khususnya kajian mengenai tindak perkosaan teoritis maupun praktis.
2. Memberikan kontribusi positif kepada masyarakat tentang pidana perkosaan serta memberikan gambaran yang objektif menganai sanksi pidana bagi pelaku tindak pidana perkosaan.
3. Kepada yang mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, diharapkan skripsi ini dapat menjadi salah satu masukan yang berarti, dan sedikit banyak dapat membuka cakrawala berfikir yang ilmiah.
E. Metode Penelitian.
1. Pendekatan penelitian
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif maksudnya adalah suatu pendekatan yang dilihat dari segi peraturan-peraturan hukum yang berlaku.
2. Jenis Penelitian.
14
3. Teknik Pengumpulan Data a. Studi Pustaka
Dalam penelitian kepustakaan ini penulis melakukan pengumpulan bahan-bahan sumber data sekunder, ialah sumber-sumber yang tidak terkait secara langsung dengan permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini sumber data sekunder ialah sejumlah data yang diperoleh dari buku-buku literatur, artikel, dokumen, putusan hakim Pengadilan Negeri Sragen mengenai kasus yang terkait, serta berbagai macam perundang-undangan dan sumber-sumber lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
b. Penelitian Lapangan
Dalam melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan bahan-bahan atau data-data dengan menggunakan data primer, ialah semua pihak yang terkait secara langsung dengan permasalahan yang diteliti. Dan dalam penelitian ini yang menjadi sumber data primer ialah Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
4. Teknik Pengolahan Data
15
kembali mengumpulkan data di lapangan. Model ini dinamakan dengan istilah Interactive Model Analisis. Untuk lebih jelasnya maka penulis akan menggambarkan model analisa interactive tersebut sebagai berikut : Dalam penelitian ini, penulis akan mencari, meneliti, dan mengkaji secara mendalam atas suatu putusan yang telah dijatuhkan oleh seorang hakim dalam tindak pidana perkosaan yang korbannya adalah anak, baik pada anak normal dan anak yang secara fisik atau psikis mengalami kekurangan dalam kemampuannya. Dengan Pengumpulan data Kesimpulan/verifikasi Reduksi data Penyajian data penggunaan data ini, maka akan diperoleh suatu gambaran yang lengkap dan menyeluruh terhadap keadaan yang nyata sesuai dengan penelitian yang dilakukan.
5. Teknik Analisis Data
Metode analisis data dalam penulisan ini Penulis mengolah data dengan metode deskriptif-kualitatif dan komparatif, Menurut H.B Soetopo analisis kualitatif adalah:
“Suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analisis yaitu apa yang dinyatakan oleh responden secara tertulis, lisan juga perilaku yang nyata diteliti dan diteliti sebagai sesuatu yang utuh”. 11
Kemudian putusan tersebut akan penulis komparasikan dengan melihat sisi persamaan dan perbedaannya hukum Islam dan hukum Positif agar terdapat kejelasan dalam mengambil kesimpulan di dalam sudut pandang keduanya.
11
16
6. Data Penelitian
Jenis-jenis data dalam penulisan skripsi ini adalah :
a. Sumber data primer, Yang menjadi sumber data primer ialah semua pihak yang terkait secara langsung dengan permasalahan yang diteliti. Dan dalam penelitian ini yang menjadi sumber data primer ialah Panitera Muda Pengadilan Negeri Jakarta Barat yang pernah mengikuti sidang dalam mengadili dan memutus kasus tindak pidana perkosaan pada anak idiot.
b. Sumber data sekunder, yakni yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer misalnya: data-data yang di peroleh dari Undang-Undang, Hukum Islam, hasil karya-karya ilmiah dan data-data lain yang masih relevan dan dapat menunjang akan penelitian ini. c. Sumber hukum tertier, yakni bahan-bahan yang memberi petunjuk
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, misalnya: kamus, ensiklopedia, dan bahan pelengkap lainnya.
7. Teknik Penulisan.
Dalam penelitian ini, penulis sepenuhnya menggunakan bimbingan skripsi dengan berpedoman kepada ” Buku Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2007”, sehingga tidak keluar dari peraturan yang ada.
F. Review Studi terdahulu
17
1. Judul: Tinjauan Hukum Positif dan hukum pidana Islam bagi kejahatan perkosaan akibat gangguan kejiwaan.
Penulis : Bustomi/SJJS/2004.
Dalam skripsi ini hanya memaparkan tentang pelaku kejahatan perkosaan karena gangguan kejiwaan dalam pandangan Hukum Positif dan Hukum Islam.
2. Judul : Dampak pornografi terhadap tindak pidana perkosaan oleh anak dibawah umur dalam perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif Penulis: Ahmad Zarkasih/PMH/2005.
Dalam skripsi ini hanya memaparkan tentang pengertian tindak pidana perkosaan oleh anak dibawah umur menurut hukum Islam dan Hukum Positif. 3. Judul : Tinjauan Hukum Islam terhadap upaya perlindungan hukum bagi
korban perkosaan dikaitkan dengan pasal 285 KUHP Penulis: Uswatun Hasanah/SJJS/2004.
Dalam skripsi ini hanya membahas tentang perlindungan hukum terhadap korban perkosaan dalam Hukum Islam dan Hukum Positif dan penerapan pasal 285 KUHP kaitannya dengan korban perkosaan.
18
Setelah penulis selesai mengutarakan tentang metode penelitian beserta pengertiannya, berikut ini penulis menyajikan uraian tentang sistematika. Skripsi ini disusun dalam empat bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini di jelaskan tentang latar belakang, yang meliputi latar belakang masalah, perumusan dan pembatasan masalah. Dijelaskan pula tentang, tujuan penulisan, kegunaan penulisan, landasan fundamental, review studi terdahulu, metode penelitian serta sistematika pembahasan. Melalui pendahuluan ini penulis menjelaskan tentang fenomena-fenomena yang hendak di teliti dengan menggunakan berbagai rujukan.
BAB II : TINJAUAN UMUM HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM MENGENAI TINDAK PIDANA PERKOSAAN
Di dalam bab ini penulis akan menguraikan mengenai pengertian tindak pidan menurut Hukum Positif dan Hukum Islam, pengertian tindak pidana perkosaan, jenis-jenis perkosaan, kejahatan asusila bagi anak dibawah umur, Undang-undang NO 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
19
Di dalam bab ini penulis akan membahas tentang Perkosaan Menurut Hukum Islam dan KUHP, Pembuktian Tindak Pidana Perkosaan, Sanksi Hukuman Bagi Pelaku Perkosaan, Surat dakwaan dan Putusan Hakim, Duduk perkara, Dakwaan, Vonis Hakim dan Analisis Hasil Penelitian
BAB IV : PENUTUP
BAB II
TINJAUAN UMUM HUKUM POSITIF DAN HUKUM ISLAM MENGENAI TINDAK PIDANA PERKOSAAN
A. Tindak Pidana
Harkristuti Harkrisnowo tentang tindak pidana, merupakan suatu bentuk
prilaku tindakan yang membawa konsekuensi sanksi hukuman pidana pada
siapapun yang melakukannya. Oleh karena itu, tidak sulit difahami bahwa
tindak-tindak semacam ini layaknya dikaitkan dengan nilai-nilai mendasar yang
dipercaya dan dianut oleh suatu kelompok masyarakat pada suatu tempat dan
waktu tertentu. Tidak mengherankan bahwa perbedaan ruang tempat dan waktu
juga akan memberikan perbedaan pada perumusan sejumlah tindak pidana.1
Seperti yang terjadi antara hukum Positif dan hukum Islam, walaupun terdapat
beberapa persamaan tetapi juga memiliki perbedaan yang mendasar mengenai
sudut pandangannya tentang hukum pidana itu sendiri. Dibawah ini akan
dijelaskan mengenai tindak pidana menurut :
1. Hukum Positif
Istilah tindak pidana atau dalam bahasa Belanda, strafbaar feit, yang
sebenarnya merupakan istilah resmi dalam strafwetboek atau Kitab
Undang-undang Hukum Pidana,yang sekarang berlaku di Indonesia. Ada istilah dalam
1
Hakristuti Hakrisnowo, Tindak Pidana Kesusilaan dalam Perspektif Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dalam Pandangam Muhammad Amin Suma, dkk, Pidana Islam di Indonesia (Pelaung,Prospek, dan Tantanagn), (Jakarta : Pusaka Firdaus. 2001),h. 179.
21
bahasa asing, yaitu delic.2 Delic menurut kamus hukum mengandung
pengertian tindak pidana, perbuatan yang diancam dengan hukuman.3
Menurut Dr. Hakristuti Hakrisnowo tindak pidana yakni suatu perilaku
dikenakan ancaman pidana hanya apabila prilaku itu dipandang dapat
mengancam keseimbangan dalam masyarakat. Dalam hal ini, mungkin ada
sejumlah perilaku yang dipandang “tidak baik” atau “bahkan buruk” dalam
masyarakat. Akan tetapi karena tingkat ancamannya kepada masyarakat
dipandang tidak terlalu besar, maka perilaku tersebut tidak dirumuskan
sebagai suatu tindak pidana.4
Sementara Simons, memberikan definisi mengenal tindak pidana yakni
suatu perbuatan yang diancam pidana, melawan hukum, dilakukan dengan
kesalahan oleh orang yang dapat mempertanggungjawabkan perbuatan itu.5
Unsur-unsur dalam tindak pidana, yakni :
a. Subjek tindak pidana
Dalam pandangan KUHP, yang dapat menjadi subjek tindak pidana
adalah seseorang manusia sebagai oknum. Selain itu, suatu
perkumpulan atau korporasi dapat juga menjadi subjek pidana.6
2
Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, (Bandung : PT. Refika Aditama, 2003), h. 59.
3
Soebekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum, (Jakarta : Pradnya Paramita, 1972),h. 35. 4
Hakristuti Hakrisnowo, Tindak Pidana Kesusilaan, h. 180. 5
Topo Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam, (Penerapan Syari’at Islam Konteks Modernitas), (Bandung : Asy-Syamil Prees & Grafika, 2001),h. 132.
6
22
b. Perbuatan dari tindak pidana
Unsur perbuatan dirumuskan dalam suatu tindak pidana formil,
seperti pencurian (pasal 362 KUHP) perbuatannya dirumuskan
sebagai “mengambil barang”.
c. Hubungan sebab-akibat (causal vervand)
Bahwa untuk tindak pidana sebagai unsur pokok harus ada suatu
akibat tertentu dari perbuatan si pelaku berupa kerugian atas
kepentingan orang lain, menandakan keharusan ada hubungan
sebab-akibat (causal vervand) antara perbuatan si pelaku dan kerugian
kepentingan tertentu, terdapat dua teori mengenal sebab-akibat ini
yakni :
Pertama dari Von Buri (1869) yang disebut teori condition sine que non (teori syarat mutlak) yang mengatakan, suatu hal adalah sebab
dari suatu akibat ini tidak akan terjadi jika sebab itu tidak ada. Dengan
demikian, teori ini mengenal banyak sebab dari suatu akibat.
Kedua dari Von Bar (1870) yagn kemudian diteruskan oleh Van kriese yang disebut adequate veroorzaking (penyebaban yang
bersifat dapat dikira-kirakan), dan yang mengajarkan bahwa suatu hal
23
pengalaman manusia dapat dikira-kira bahwa sebab itu akan diikuti
oleh akibat.7
d. Sifat melawan hukum (Onrechtmatigheld)
Sebenarnya dalam setiap tindak pidana ada unsur melawan hukum,
namun tidak semua tindak pidana memuatnya dalam rumusan. Ada
berbagai tindak pidana yang unsur melawan hukum disebutkan secara
tegas, misalnya pasal 362 KUHP tentang pencurian, disebutkan bahwa
pencurian adalah mengambil barang yang sebagaian atau sepenuhnya
kepunyaan orang lain dengan maksud untuk memiliki secara melawan
hukum.8
e. Kesalahan Pelaku Tindak Pidana9
Unsur kesalahan ini bisa berupa tanpa kesengajaan atau kealpaan.
Kesengajaan tersebut dapat mengenai unsur perbuatan yang dilarang,
akibat yang dilarang atau sifat melawan hukumnya.10
Selanjutnya, tindak pidana didalam KUHP dibagi kedalam dua jenis
yakni kejahatan (misdrijiven) dan pelanggran (overtredingen). Menurut
M.v.T pembagian atas dua jenis ini didasarkan atas perbuatan prinsipil.
Dikatan, bahwa kejahatan adalah “rectsdeliten”, yaitu
perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak ditentukan dalam Undang-undang sebagai
7
Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Islam,h. 61-62. 8
Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam, h. 134. 9
Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia, h. 65. 10
24
perbuatan pidana telah dirasakan sebagai onrecht, sebagai perbuatan yang
bertentangan dengan tata hukum. Pelanggaran sebaliknya adalah
“wetsdelikntern”, yaitu perbutan-perbuatan yang bersifat melawan
hukumnya baru dapat diketahui setelah ada wet yang menentukan
demikian.
Tindak pidana selain dibedakan dalam kejahatan dan pelanggaran,
dibedakan juga berdasarkan :
a. Cara Perumusannya
(1) Delik Formil, pada delik ini yang dirumuskan adalah tindakan
yang dilarang (beserta hal/keadaan lainnya) dengan tidak
mempersoalkan akibat dari tindakan tersebut.
(2) Delik Materil, yakni selain dari pada tindakan yang terlarang itu
dilakukan, masih harus ada akibatnya yang timbul karena
tindakan itu, baru telah dikatakan telah terjadi tindak pidana
tersebut sepenuhnya.11
b. Cara Melakukan Tindak Pidana12
(1) Delik Komisi, yakni delik yang terdiri dari melakukan sesuatu
(berbuat sesuatu) perbuatan yang dilarang oleh aturan-aturan
pidana.
11
E.Y. Kanter dan S.R Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta : Storia Grafika, 2002),h. 237.
12
25
(2) Delik Omisi, yakni delik yang terdiri dari tidak berbuat atau
melakukan sesuatu padahal mestinya berbuat, misalnya delik yang
dirumuskan dalam pasal 164. mengetahui suatu permufakatan
jahat untuk melakukan kejahatan yang disebut dalam pasal itu,
pada saat masih ada waktu untuk mencegah kejahatan, tidak
segera melaporkan kepada instansi yang berwajib atau orang yang
terkena.
(3) Delikta commisionis peromissionem, yakni delik-delik yang
umumnya terdiri dari berbuat sesuatu, tetapi dapat pula dilakukan
dengan tidak berbuat, misalnya seseorang ibu yang membunuh
anaknya dengan jalan tidak memberi makan kepada anak itu.13
c. Ada/tidaknya pengulangan atau kelanjutannya
(1) Delik Mandiri, adalah jika tindakan yang dilakukan itu hanya satu
kali saja, untuk mana petindak pidana.
(2) Delik Berlanjut, adalah tindakan yang sama berulang dilakukan,
dan merupakan atau dapat dianggap sebagai pelanjut dari tindakan
semula.14
d. Berakhir atau Berkesinambungannya suatu Delik
(1) Delik Berakhir
(2) Delik Berkesinambungan
13
Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia,h. 76. 14
26
e. Keadaan Memberatkan dan meringankan15
(1) Delik Biasa
(2) Delik diwalifisiar (diperberat), yaitu delik yang mempunyai
bentuk pokok yang disertai unsur memberatkan, misalnya pasal
363.
(3) Delik diprivisilir (diperingan), yaitu delik yang mempunyai
bentuk pokok yang disertai unsur meringankan, misalnya dalam
pasal 341 lebih ringan dari pada 342.16
f. Bentuk Kesalahan Pelaku
(1) Delik Sengaja (Dolus), yakni suatu tindak pidana yang dilakukan
dengan sengaja, misalnya pembunuhan dengan berencana (pasal
338 KUHP).
(2) Delik Alpa (culpa), yakni tindak pidana yang tidak sengaja,
karena kealpaannya mengakibatkan matinya seseorang. Contoh
pasal 359 KUHP.17
g. Cara Penuntutan
(1) Delik Aduan, yakni suatu tindak pidana yang memerlukan
pengaduan orang lain, jadi sebelum ada pengaduan belum
merupakan delik. Contoh : penghinaan.
15
Ibid., h. 238-239. 16
Bambang Poernomo, Asas-Asas Hukum Pidana, (Yogyakarta :Ghalia Indonesia, 1978),h. 97.
17
27
(2) Delik Biasa (bukan delik aduan), yakni semua tindak pidana yang
penuntutannya tidak perlu menunggu adanya pengaduan dari
korban atau dari keluarganya, contoh : pembunuhan dan
penganiyaan.18
2. Hukum Islam
Dalam hukum Islam ada dua istilah yang kerap digunakan untuk
tindak pidana ini, jinayah dan jarimah. Dapat dikatakan bahwa kata
“jinayah” yang digunakan para fuqaha adalah sama dengan istilah
“jarimah”.19 mengacu kepada hasil perbuatan seseorang. Biasanya,
pengertian tersebut terbatas pada perbuatan yang dilarang. Dikalangan
fuqaha, perkataan jinayah berarti perbuatan-perbuatan yang dilarang menurut
Syara’. Meskipun demikian para fuqaha menggunakan istilah tersebut hanya
untuk perbuatan-perbuatan yang mengancam keselamatan jiwa seperti,
memukul, dan sebagainya. Selain itu terdapat fuqaha yang membatasi istilah
jinayah kepada perbuatan-perbuatan yang diancam dengan hukuman hudud
dan qishash tidak termasuk kepada perbuatan-perbuatan yang diancam
dengan ta’zir. Istilah lain yang sepadan dengan istilah jinayah adalah jarimah,
yaitu larangan-larangan Syara’ yang diancam Allah dengan hukuman had
atau ta’zir.20
18
Ibid., h. 94. 19
Santoso, Menggagas Hukum Pidana Islam, h. 132. 20
28
Jarimah didefinisikan oleh Imam al-Mawardi sebagai segala larangan
Syara’ (melakukan hal-hal yang dilarang atau meninggalkan hal-hal yang
diwajibkan) yang diancam dengan hukuman had atau ta’zir.21 Ada pula
golongan fuqaha yang membatasi pemakaian kata-kata jarimah kepada
jarimah hudud atau qishash saja. Dengan mengenyampingkan perbedaan
pemakian kata-kata jarimah dikalangan fuqaha sama dengan kata-kata
jarimah.22
Para fuqaha mengartikan zina yaitu melakukan hubungan seksual
dalam arti memasukan zakar (kelamin pria) kedalam vagina wanita yang
dinyatakan haram, bukan karena subhat tetapi atas dasar syahwat.
Dasar hukum dari jarimah zina yakni :
☺
☺
☺
⌧
⌧
☺
21
Ibid.,h.11. 22
29
Artinya : “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan), hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang beriman”. (Q.S : An-Nurr /24 :2)
⌧
⌧
Artinya : “dan janganlah kamu mendekatii zina; sesungguhnyaq zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. (Q.S al-isra 17 :32)
Jarimah memiliki dua unsur yaitu :
a. Unsur Umum
Yakni unsur-unsur yang terdapat pada setiap jenis jarimah.23 Yang
termasuk dalam unsur umum ini yaitu :
1) Al-Rukn al-Syar’iy (unsur hukum), yakni adanya nash yang
melarang perbutan-perbuatan tertentu yang disertai ancaman
hukuman atas perbutan-perrbuatan diatas. Unsur ini dikenal
dengan istilah “unsur formal”.
2) Al-Rukn al-Madi (unsur materil), yakni adanya unsur perbuatan
yang membentuk jinayah, baik berupa melakukan perbuatan yang
dilarang atau meninggalkan perbuatan yang diharuskan.
23
30
3) Al-Rukn al-Adabiy (unsur budaya), yakni adanya pelaku kejahatan
(orang yang dapat menerima taklif, artinya pelaku kejahatan tadi
adalah mukalaf , sehingga mereka dapat dituntut atas kejahatan
yang mereka lakukan).24
b. Unsur Khusus
Yakni unsur yang terdapat pada suatu jarimah namun tidak terdapat
pada jarimah lainnya. Contoh : mengambil harta orang lain secara
diam-diam dari tempatnya dalam jarimah pencurian, atau menghilangkan nyawa
manusia oleh manusia lainnya dalam jarimah pembunuhan.25
Jarimah dapat berbeda penggolongannya, menurut perbedaan cara
meninjaunya yakni dilihat dari :
a. segi berat ringannya hukuman
1) Jarimah hudud, ialah jarimah yang diancamkan hukuman hudud,
yakni hukuman yang telah ditentukan jenis dan jumlahnya serta
menjadi hak Allah SWT.26 Yang termasuk kedalam jarimah hudud
yaitu : zina, qadzaf (menuduh orang lain berbuat zina), meminum
minuman keras, mencuri, merampok, murtad, pencurian dan
pemberontak.
24
Ahmad Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam,h. 1-3 25
Ibid.,h. 12. 26
31
2) Jarimah qishash atau diyat, ialah perbutan yang diancam hukuman
qishash atau diyat. Keduanya merupakan hak individu27 yang
kadar jumlahnya telah ditentukan, yakni tidak memiliki batasan
minimal atau maksimal. Yang termasuk kedalam jarimah qishash
dan diyat yakni : pembunuhan sengaja, pembunuhan semi sengaja,
pembunuhan karena ketidaksengajaan, penganiyaan sengaja, dan
penganiyaan tidak sengaja.
3) Jarimah ta’zir,28 ialah jarimah yang diancam dengan satu atau
beberapa hukuman ta’zir. Jenis jarimah ta’zir tidak ditentukan
banyaknya, sedang pada jarimah hudud atau qishash dan diyat
sudah ditentukan. Yang termasuk jarimah ta’zir yakni : riba, suap,
pencabulan, illegal loggin, human trafficking dan sebagainya.
b. Niat si pembuat/pelaku jarimah
1) Jarimah sengaja, si pembuat/pelaku dengan sengaja melakukan
perbutannya, sedang ia tahu bahwa perbuatannya itu dilarang
(salah).
2) Jarimah tidak sengaja. Sipembuat/pelaku tidak sengaja melakukan
perbutan yang dilarang, akan tetapi perbuatan tersebut sebagai
akibat kekeliruannya, kekeliruan ada dua macam, yakni :
27
Maksud hak individu adalah seorang boleh membatalkan hukumannya tesebut dengan memaafkan si pelaku jika ia menghendaki. Ibid.,h. 100.
28
32
a) Pembuat (pelaku) dengan sengaja melakukan perbuatan
jarimah tetapi jarimah ini sama sekali tidak diniatkannya.
b) Pembuat (pelaku) tidak sengaja berbuat dan jarimah yang
terjadi tidak diniatkannya sama sekali.29
c. Segi mengerjakannya
1) Jarimah ijabiyyah/positif terjadi karena mengerjakan sesuatu
perbuatan yang dilarang, seperti mencuri, zina, pembunuhan,
memukul dan sebagainya. Jarimah ijabiyyah ini disebut juga
delicta commisionis.
2) Jarimah salabiyyah/negative terjadi karena tidak mengerjakan
sesuatu perbutan yang diperintahkan. Seperti mengeluarkan
zakat. Disebut juga delicta omnisionis.
3) Jarimah commisionis per ommisionem commisa, contohnya
yakni petugas LP sengaja tidak memberikan makan kepada
narapidana yang selanjutnya menyebabkan kematian pada
narapidana tersebut.30
d. Segi waktu terungkapnya jarimah
1) Jarimah yang tertangkap basah, yakni jarimah yang terungkap
pada saat jarimah itu dilakukan atau beberapa saat setelah
jarimah tersebut dilakukan.
29
Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, h. 11-12. 30
33
2) Jarimah yang tidak tertangkap basah, yaitu jarimah yang tidak
tertangkap pada saat jarimah tersebut dilakukan atau
terungkapnya pelaku jarimah itu dalam waktu yang lama.31
e. Segi cara melakukan jarimah
1) Jarimah tunggal (al-Jarimah al-Basitah) yakni jarimah yang
dilakukan dengan satu perbuatan, seperti pencurian, meminum
minuman keras, baik tindak pidana ini terjadi seketika (tindak
pidana temporal atau jarimah muaqqatah) maupun yang
dilakukan dengan cara terus menerus (jarimah mustamirah).
Jarimah hudud, qishash dan diyat termasuk kedalam kategori
jarimah tunggal.
2) Jarimah berangkai, yakni jarimah yang dilakukan
berulang-ulang (berangkai). Jarimah itu sendiri tidak termasuk dalam
kategori jarimah, tetapi berulang-ulangnya jarimah tersebut
yang menjadikannya sebagai jarimah. Bentuk jarimah ini
banyak terdapat dalam jarimah ta’zir. Dimana petunjuknya
diperoleh dari nash yang mengharamkan perbutan tersebut.32
f. Orang yang menjadi korban
1) Jarimah masyarakat/haq Allah/ hak jama’ah, ialah suatu
jarimah di mana hukuman terhadapnya dijatuhkan untuk
31
Abdul Qadir Audah, al-Tasyri al-Jinai al-Islami.,h. 84. 32
34
menjaga kepentingan masyarakat. Baik jarimah tersebut
mengenal perorangan atau mengenal ketentuan masyarakat dan
keamanannya.
2) Jarimah perseorangan / hak al-afrad, ialah suatu jarimah
dimana hukuman terhadapanya dijatuhkan untuk melindungi
kepentingan perseorangan, meskipun sebenarnya apa yang
menyinggung perseorangan juga berarti menyinggung
masyarakat.33
B. Tindak Pidana Perkosaan
Perkosaan pada dasarnya adalah bentuk kekerasan primitive yang kita tahu
dapat terjadi pada siapa pun. Gejala perkosaan merupakan salah satu tantangan
sosial yang harus dipikirkan secara serius, dari dahulu hingga sekarang perkosaan
bukan hanya kekerasan seks semata tetapi selalu merupakan suatu bentuk
perilaku yang dipengaruhi oleh sistem kekuasaan tertentu.34
Kasus perkosaan sepintas lalu tidak lebih istimewa dari kasus-kasus
kekerasan lainnya, atau kalaupun jadi istimewa biasanya perkosaan dengan
korban perempuan dibawah umur atau perkosaan diakhiri dengan pembunuhan.
33
Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, h. 14. 34
35
Istilah perkosaan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah paksaan
kekerasan.35 Dalam kamus umum bahasa Indonesia perkosaan berasal dari kata
“perkosa” yang artinya gagah, kuat, perkasa, kekerasan.36 Kemudian dalam
kamus lengkap bahasa Indonesia modern dijelaskan “perkosa” dengan arti gagah,
kuat, paksa, kekerasan, maka apabila mendapat awalan “me” menjadi
memperkosa, maka diartikan dengan mendudukan dengan kekerasan,
menggagahi, memaksa dengan kekerasan.37 Jadi, perkosa dapat diartikan dengan
kejahatan yang dilakukan dengan kekerasan.
Berbicara masalah kejahatan dengan kekerasan ini, maka perkosaan dapat
terjadi bilamana seseorang laki-laki secara paksa atau dengan cara kekerasan
berupaya untuk menyetubuhi dalam arti ingin mengadakan hubungan kelamin
dengan seorang wanita dimana pihak wanita tidak bersedia melayani nafsu
seknya.
Untuk selanjutnya dibawah ini akan diuraikan beberapa pendapat ahli
[image:43.612.116.533.190.508.2]dalam mendefinisikan tentang perkosaan agar dapat dengan jelas memperoleh
gambaran yang dimaksud. Bismar Siregar, mengatatkan bahwa perkosaan adalah
perbuatan secara paksa ingin memenuhi nafsu kebinatangannya.38
35
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta :Balai Pustaka, 1990), Cet, ke 3,h.673.
36
WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1976), h.741.
37
Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta : Pustaka Amini, tth),h.307.
38
36
Menurut Koesparmono Irsan perkosaan adalah perbuatan dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya untuk
bersetubuh.39 Soetadyo Wegnjosubroto mengatakan perkosaan adalah suatu
usaha melampiaskan nafsu seksual oleh seorang laki-laki terhadap seorang
perempuan dengan cara yang menurut moral dan hukum yang berlaku adalah
melanggar.
C. Jen
melalui serangan
atas prustasi-prustasi,
kelemahan, kesulitan dan kekecewaan hidupnya.
is-jenis perkosaan
Setelah menjelaskan pengertian dari tindak pidana perkosaan, ada baiknya
pada bagian ini penulis akan menguraikan jenis perkosaan, sebagaimana menurut
krominolog Mulyana W. Kusuma menyebutkan jenis perkosaan berikut ini :
1. Sadistic Rape, pada tipe ini seksualitas dan agresif berpadu dalam bentuk yang merusak, pelaku perkosaan telah nampak menikmati kesenangan
erotik bukan melalui hubungan seksnya, melainkan
yang mengerikan atas alat kelamin dan tubuh korban.
2. Angea Rape, penganiyaan seksual yang bercirikan seksualitas menjadi sarana untuk menyatakan dan melampiaskan perasaan geram dan marah
yang tertahan. Di sini tubuh korban seakan-akan merupak obyek terhadap
siapa pelaku yang memproyeksikan pemecahan
39
37
3. Dononation Rape, suatu perkosaan yang terjadi ketika pelaku mencoba untuk gigih atas kekuasaan dan superiorotas terhadap korban. Tujuannya
adalah penakluk seksual, pelaku menyakiti korban, namun tetap memiliki
keinginan berhubungan seksual.
4. Seduktive Rape, perkosaan yang terjadi pada situasi-situasi yang merangsang, yang tercipta oleh kedua belah pihak. Pada mulanya korban
memutuskan bahwa keintiman personal harus dibatasi tidak sampai sejauh
kesenggamaan. Pelaku pada mulanya mempunyai keyakinan
membutuhkan paksaan, oleh karena itu tak mempunyai rasa bersalah yang
menyangkut seks.
5. Victim Precipitatied, perkosaan yang terjadi (berlangsung) dengan menempatkan korban sebagai pencetusnya.
6. Exploitation Rape, perkosaan yang menunjukan bahwa pada setiap kesempatan melakukan hubungan seksual yang diperoleh oleh laki-laki
dengan mengambil keuntungan yang berlawanan dengan posisi
perempuan yang bergantung padanya secara ekonomis dan social.
Victim Precipitation Rape merupakan jenis perkosaan yang mendapat perhatian serius belakangan ini. Keterlibatan, peranan, andil dan pengaruh
korban yang secara langsung maupun tidak langsung sebagai “pencetus”
timbulnya perkosaan menjadi pembicaraan yang serius mengenai factor
penyebab terjadinya perkosaan. “Victim Precipitation” menjadi catatan
38
menempatkan perempuan sebagai pihak yang dianggap turut bersalah dalam
melahirkan kejahatan kesusilaan.
Sedangkan “Sadistic rape” menjadi salah satu jenis kejahatan yang
juga mendapat sorotan sehubungan dengan tidak sedikitnya kasus perkosaan
yang dilakukan secara sadis.
Adanya perbedaan pengertian atau persepsi tentang jenis perkosaan
mempunyai pengaruh terhadap informasi yang berkaitan dengan perkosaan.
Di satu sisi masyarakat menganggap suatu perbuatan sebagai perkosaan dan
karena itu melaporkannya kepada polisi. Di sisi lain polisi belum memandang
perbuatan berikut sebagai tindak pidana perkosaan, karena perbuatan yang
dilaporkan tidak sesuai dengan perumusan pasal 285 KUHP.
Yang perlu mendapatkan perhatian ialah persepsi masyarakat yang
cenderung menyatakan kejahatan kesusilaan yang bukan perkosaan sebagai
tindak pidana perkosaan. Secara yuridis harus ada unsur-unsur yang wajib
dipenuhi sesuai dengan ketentuan pasala 285 KUHP, agar suatu perbuatan
dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perkosaan.
D.Kejahatan Asusila bagi Anak di Bawah Umur
1. Pengertian Anak, Konsep dan Batasan Anak di Bawah Umur a. Pengertian Anak
Kelahiran anak (bayi) karena perkawinan sedikit banyaknya
39
bermasyarakat. Secara hukum kelahiran tersebut mempunyai/menimbulkan
akibat hukum. Dalam lapangan hukum perdata akibat hukum ini berpokok
kepada anak dan kewajiban seperti : kekuasaan orang tua, pengakuan
sahnya anak dan penyangkalan sahnya anak, perwalian, pendewasaan, dan
pengangkatan anak.
Anak dalam masyarakat yang bagaimanapun bentuk dan coraknya,
merupakan pembawa bahagia. Tidak heran bila dalam upacara pernikahan
pengantar dua insan ke gelanggan rumah tangga di antar petuah serta doa
restu, orang tua-tua selalu berpesan, semoga kedua mempelai diberkati
keturunan bukan satu, bukan dua, tetapi banyak. Pasal 91 (4) KUHP
memberikan penjelasan tentang anak adalah orang yang ada dibawah
kekuasaan yang sama dengan kekuasaan orang tuanya.40
Dalam Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak
dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum
berusia 18 Tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.41
Sedangkan dalam Undang-Undang No 4 Tahun 1979 pasal 1 ayat 2
dijelaskan tentang pengertian anak adalah seorang yang belum mencapai
usia 21 tahun atau belum pernah kawin. Batasan 21 tahun ini ditetapkan
oleh karena berdasarkan pertimbangan kepentingan usaha sosial, tahap
40
Agung Wahyono, SH dan Ny Siti Rahayu, SH. Tinjauan Tentang Peradilan Anak di Indonesia. (Cet. I; Sinar Grafika : Jakarta, 1993), h. 20
40
kematangan sosial, kematangan pribadi dan kematangan mental seorang
anak dicapai pada usia 21 tahun.42 Sedangkan pengertian anak menurut
pasal 45 KUHP adalah orang yang belum cukup umur, dengan belum cukup
umur dimaksudkan adalah mereka yang melakukan perbuatan sebelum
umur 16 tahun.43 Dalam Konvensi Hak Anak menjelaskan bahwa yang
dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 18
tahun, sedangkan dalam KUHP menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan
anak adalah seseorang yang belum mencapai usia 17 tahun.44
Dari beberapa pengertian anak di atas dapat di bedakan beberapa
pengertian tentang anak, yaitu (1) Anak kandung; (2) Anak terlantar, (3)
Anak yang menyandang cacat, (4) Anak yang memiliki keunggulan, dan (5)
Anak angkat, serta (6) Anak asuh.
Dimaksud dengan anak kandung adalah anak yang dilahirkan dari
dalam rahim seorang ibu; sedangkan anak terlantar adalah anak yang tidak
terpelihara kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spritual, maupun
sosial; anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami
hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan
perkembangannya secara wajar; anak yang memiliki keunggulan adalah
anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, atau memiliki potensi dan
bakat istimewa; anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari
42
Agung Wahyono, SH dan Ny Siti Rahayu, SH. op. cit. h. 19. 43
Ibid, h. 20 44
41
lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain
yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan
anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya
berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan; anak asuh adalah anak
yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan,
pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya
atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembangnya
anak secara wajar.45
b. Konsep dan Batasan anak dibawah umur
Berbicara mengenai konsep dan batasan anak di bawah umur, penulis
bertolak pada KUHP dan konvensi Hak-Hak Anak (KHA), dimana dalam
KUHP tersebut memberikan batasan anak di bawah umur adalah lima belas
tahun, sedangkan dalam KHA memberikan batasan anak di bawah umur
adalah delapan belas tahun. secara fakta psikologi anak usia 17 tahun masih
labil sehingga batasan umur dalam KHA dirasa lebih tepat.
Sedangkan dalam hukum Islam batasan anak di bawah umur terdapat
perbedaan penentuan. Menurut hukum Islam batasan itu tidak berdasarkan
hitungan usia, tetapi sejak ada tanda-tanda perubahan badania baik bagi di
anak laki-laki, demikian pula bagi anak perempuan. Sedangkan dalam
masyarakat yang sudah mempunyai hukum tertulis, ditetapkan batasan
umur 16 tahun atau 18 tahun ataupun usia tertentu yang menurut
45
42
perhitungan pada usia itulah si anak bukan lagi tergolong anak di bawah
umur, tetapi sudah dewasa.46
Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang kesejahteraan
anak disebutkan bahwa anak sampai batas usia sebelum mencapai umur 21
tahun dan belum pernah kawin masih tergolong anak di bawah umur.
sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang
perkawinan memberikan batasan usia anak di bawah kekuasaan orang tua
atau dibawah perwalian sebelum mencapai 18 tahun masih tergolong anak
di bawah umur. dalam Undang-Undang pemilu yang dikatakan anak di
bawah umur adalah belum mencapai usia 17 tahun, sedangkan dalam
konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak memberikan batasan anak di bawah
umur adalah di bawah umur 18 tahun.
2. Kewajiban dan Tanggung Jawab Anak
Sebelum penulis menjelaskan tentang kewajiban seorang anak terlebih
dahulu akan di jelaskan tentang pengertian kewajiban itu sendiri. Kewajiban
adalah segala yang harus kita penuhi sebelum kita menuntut hak. seorang
anak selain memiliki kewajiban, juga memiliki tanggung jawab baik itu
terhadap dirinya, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya. Dalam
Undang-Undang perlindungan anak pasal 19 dijelaskan tentang kewajiban
seorang anak, yaitu :
(1) Menghormati orang tua, wali, dan guru;
46
43
(2) Mencintai keluarga, masyarakat, dan menyayangi teman;
(3) mencintai tanah air, bangsa dan negara;
(4) Menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya;
(5) Melaksanakan etika dan akhlak yang mulia.47
Sedangkan tanggung jawab seorang anak adalah tanggung jawab
terhadap dirinya sendiri seperti memelihara diri dari segala gangguan yang
mungkin membahayakan keselamatannya. Tanggung jawab terhadap kedua
orang tuanya seperti menghormati dan menghargai kedua orang tuanya, guru,
keluarga, masyarakat. Sedangkan tanggung jawab terhadap bangsa, negara
dan agamanya adalah menghargai para pahlawan yang telah gugur dalam
mempertahankan bangsa dan negara Indonesia, sedangkan tanggung jawab
untuk agamanya adalah seorang anak harus betul-betul mempelajari ajaran
agama agar supaya mereka dapat memahami dan mengamalkan ajaran
agamanya. Tanggung jawab lain seorang anak terhadap agamanya dalam
bentuk melakukan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya, berakhlak dan
beretika baik
3. Kategori Kejahatan Asusila terhadap Anak di bawah Umur
Bentuk-bentuk kejahatan dan kekerasan yang dialami oleh anak-anak
dilakukan dengan fokus di empat arena dimana anak-anak banyak
menghabiskan waktunya yakni di rumah, sekolah, tempat kerja dan tempat
47
44
umum. Dari hasil penelitian oleh Lembaga Perlindunga Anak (LPA) di kota
Makassar menemukan bahwa jenis-jenis kekerasan yang dialami oleh
anak-anak dibedakan menjadi tiga, yakni kekerasan mental (mental abuse),
kekerasan fisik (physical abuse), dan kekerasan seksual (sexual abuse). Jenis
kekerasan fisik atau physical abuse adalah jenis kekerasan yang paling banyak
dialami oleh anak-anak, disusul kemudian dengan kekerasan mental dan
kekerasan seksual, tetapi yang menjadi pokok pembahasan penulis adalah
kekerasan seksual terhadap anak-anak.
Berbagai macam bentuk kekerasan dan kejahatan yang dilakukan oleh
orang dewasa terhadap anak-anak di bawah umur merupakan sebuah
fenomena sosial yang tidak terwujud begitu saja atau berdiri sendiri dalam
suatu masyarakat. Fenomena sosial-budaya semacam ini merupakan bentuk
kekerasan dan bentuk kejahatan terhadap anak yang muncul dalam suatu
masyarakat tertentu yang memiliki unsur-unsur pendukung bagi keberadaan
gejala kekerasan dan kejahatan tersebut.
Bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang terjadi pada anak-anak
dan si pelaku banyak tergantung pada kontek atau setting tempat yang
memungkinkan terjadinya tindak kekerasan dan kejahatan terhadap
anak-anak di bawah umur. Tindak kekerasan dan kejahatan yang dimaksud adalah
setiap perilaku yang dapat menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh/fisik
menjadi tindak nyaman. Perasaan tidak nyaman ini biasanya berupa
45
kemarahan. Keadaan fisik tidak nyaman bisa berupa lecet, luka, memar, patah
tulang, dan sebagainya.
Jenis-jenis kejahatan/kekerasan yang terjadi pada anak di bawah umur
dapat dibedakan kedalam tiga kategori yaitu kekerasan/kejahatan mental
(mental abuse), kejahatan atau kekerasan fisik (physical abuse) dan kekerasan
atau kejahatan seksual (sexual abuse). Tetapi yang menjadi bahan kajian
utama penulis adalah kekerasan seksual (sexual abuse).
Setiap jenis kekerasan terdiri dari berbagai macam bentuk kekerasan
dan kejahatan, dan bentuk-bentuk kekerasan dan kejahatan yang pernah
dialami oleh para korban berbeda-bedasa seperti perlakuan tidak senonoh,
perayuan, pencolekan, pemaksaan onani, oral seks, anal seks dan
pemerkosaan adalah bentuk kekerasan dan kejahatan yang sering dialami oleh
anak-anak di bawah umur. Rumah dan sekolah adalah merupakan tempat bagi
anak-anak paling banyak melewati waktunya sehari-hari. Di tempat-tempat
inilah anak-anak semestinya tidak memperoleh tindak kekerasan khususnya
tindak kekerasan asusilah. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Hal ini
tampaknya tidak terlepas dari kenyataan lain bahwa rumah dan sekolah adalah
tempat anak-anak memperoleh pendidikan dan dibentuk serta disiapkan untuk
menjadi warga masyarakat yang dapat diterima oleh masyarakatnya, dan di
situlah mereka mengalami proses pendisiplinan, yang kadang-kadang berubah
46
Dalam soal kekerasan seksual seorang anak seringkali mengalaminya
di dalam rumah, sekolah, tempat umum. Di dalam lingkungan keluarga atau
rumah seringkali terjadi bentuk kekeran seksual terhadap anak di bawah umur
sebab hal ini memungkinkan para pelaku tindak kekerasan terhadap anak
merasa lebih leluasa melampiaskan hawa napsunya seperti melakukan
pemerkosaan, pencabulan, dan mencolekan serta pemelukan secara paksa
seperti yang banyak diberitakan lewat siaran-siatan TV di Indonesia, seorang
ayah melakukan pemerkosaan terhadap anak kandungnya sendiri, seorang
kakek memperkosa cucunya, dan bahkan seorang pamam tega melakukan
pemerkosaan terhadap keponakannya.
Sedangkan dalam lingkungan selokah bentuk kekerasan yang dialami
oleh anak di bawah umur adalah berupa kekerasan mental, kekerasan fisik dan
kekerasan seksual. Kekerasan mental yang dialami oleh seorang anak
kebanyakan adalah pemberian hukuman oleh guru akibat melanggar aturan di
sekolah. Sedangkan kekerasan fisik sering terjadi akibat dianggap telah
melanggar aturan dan tidak bersedia memenuhi perintah. Ada juga kekerasan
fisik yang disebabkan oleh tindakan iseng dan juga akibat tindakan
kriminalitas.
Di samping itu ada beberapa asumsi penting yang terkandung dalam
perspektif semacam ini. Asumsi pertama, adalah bahwa berbagai macam
bentuk kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap anak-anak
47
berdiri sendiri dalam suatu kekosongan. Sebaliknya, sebagaimana fenomena
sosial budaya, berbagai macam bentuk kekerasan terhadap anak muncul
dalam suatu konteks sosial-budaya tertentu yang memiliki unsur-unsur
pendukung bagi keberadaan gejala kekerasan tersebut. Asumsi kedua,
bentuk-bentuk kekerasan yang terjadi pada anak-anak dan pelakunya sedikit banyak
tergantung pada konteks atau setting tempat terhadinya kekerasan itu sendiri.
Oleh karena itu, bukan hanya ciri dan sifat pelaku kekerasan yang perlu kita
ketahui, tetapi juga tempat terjadinya kekerasan itu sendiri. Tanpa
pengetahuan tentang setting ini, penanganan berbagai bentuk kekerasan
terhadap anak-anak tidak akan mencapai hasil yang optimal. Asumsi ketiga,
setiap individu pada dasarnya telah pernah menjadi korban dari satu atau lebih
bentuk kekerasan, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial,
makhluk yang selalu berada dalam berbagai interaksi dan relasi dengan
individu-individu yang lain, dan dibesarkan dalam suatu kelompok atau
golongan sosial tertentu, dengan pola budaya tertentu pula. Dalam proses
sosialisasi di tengah-tengah individu lain inilah, manusia bekerjasama, tetapi
sekaligus juga bersaing dengan yang lain untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu. Persaingan akan menghasilkan pihak yang menang dan kalah, dan di
sini bisa terjadi berbagai bentuk tindak kekerasan dari satu individu terhadap
individu lain yang lebih lemah. Setiap individu pada dasarnya telah
mengalami situasi semacam ini, sehingga setiap orang pada dasarnya telah
48
Tindak kekerasan di sini diartikan sebagai setiap perilaku yang dapat
menyebabkan keadaan perasaan atau tubuh (fisik) menjadi tidak nyaman.
Perasaan tidak nyaman ini bisa berupa: kekhawatiran, ketakutan, kesedihan,
ketersinggungan, kejengkelan, atau kemarahan, sedangkan keadaan fisik tidak
nyaman bisa berupa: lecet, luka, memar, patah tulang, dan sebagainya.
Ringkasnya hal-hal yang di anggap secara fisik menyakitkan atau tidak enak.
Berkenaan dengan soal kekerasan/kejahatan, dan sebagaimana yang
penulis telah uraikan dalam bab sebelumnya mengenai metode pengumpulan
data yang di gunakan yakni metode kualitatif, maka aspek kualitatif dari
fenomena ini menjadi lebih penting untuk diketahui dari pada aspek
kuantitatifnya, karena kekerasan ini punya akibat terhadap kualitas kehidupan
manusia itu sendiri. Bukanlah satu kasus seorang anak yang diperkosa
ayahnya sampai mati sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan tindakan
pencegahan agar peristiwa yang sama tidak terulang lagi pada anak yang lain?
Masihkah kita harus menunggu hingga korban seperti itu mencapai sekian
persen dari jumlah penduduk? Tentu jawabanya tidak. Menunda langkah
pencegahan atas tindakan yang tidak manusiawi hanya karena soal kuantitas
merupakan langkah yang sangat berlawanan dengan hakekat kemanusiaan itu
sendiri.
49
Permasahan kehidupan anak sangatlah kompleks dan rumit, situasi penuh
ancaman dari kehidupan, serta berbagai bentuk depresi sosio-ekonomi, kultural
dan psikologikal, semua faktor tersebut sangat mempengaruhi perkembangan
pola perilaku dan kematangan mental emosional seorang anak. Sampai saat ini
khususnya anak korban asusila, penangannya belum menjadi prioritas utama
dalam pembangunan. Hal ini dengan masih banyaknya pemberitaan di media
massa mengenai pelangaran-pelangaran terhadap hak-hak anak tersebut. Bahkan
seringkali masalah-masalah sosial menjadi urusan kedua setelah masalah-masalah
ekonomi. Dalam menghadapi problema sosial, kiprah pemerintah seringkali
cenderung terlambat penanganannya.
Pentingnya pemberian perlindungan hukum bagi anak, baru disadari
pemerintah pada sekitar tahun 1997 dengan lahirnya Surat Keputusan Menteri
Sosial RI No: 81/huk/1997 tentang Pembentukan Lembaga Perlindungan Anak.
Namun dengan persiapan yang sangat lama tersebut, menjadikan kebijakan yang
diambil terkesan sangat lambat dan terlalu birokratis. Anak adalah bagian dari
generasi muda sebagai salah satu sumber daya manusia, merupakan potensi dari
penerus cita-cita perjuangan bangsa yang memiliki ciri dan sifat khusus
memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan
dan perkembngan fisik, mental sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang.
Kejahatan terhadap kesusilaan pada umumnya menimbulkan
kekhawatiran /kecemasan khususnya orang tua terhadap anak wanita karena
50
perbuatan cabul) dapat pula mempengaruhi proses pertumbuhan ke arah
kedewasaan seksual lebih dini.
Perihal tindak asusila terhadap anak ini telah diatur dalam Pasal 81 ayat
(1) dan (2) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlingdungan Anak. Secara eksplisit
Pasal 81 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap orang yang dengan sengaja
melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan
persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, maka dipidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun. Kemudian dalam ayat (2) ditegaskan