Perlu dilakukan pengujian mengenai pengaruh tekanan yang digunakan untuk mencetak tablet. Waktu larut yang lambat dapat dikurangi dengan memenuhi persyaratan dalam proses pembuatan tablet yang dilakukan dalam ruangan dengan RH dan suhu yang rendah. Tablet ini dibuat sebagai alternatif obat hipertensi sehingga perlu dilakukan pengujian hipertensi terhadap tablet effervescent yang telah dibuat dengan metode oral terhadap hewan uji tikus (mencit).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Belimbing Wuluh.
http://www.idionline.org/05_infodk_obattrad2.htm (November, 2006).
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Terjemahan : Farida Ibrahim. Edisi IV. UI Press. Jakarta.
Apriyantono, A., D. Fardiaz, N. L. Puspitasari dan S. Budiyanto. 1989. Analisis Pangan. IPB Press. Bogor.
Arland. 2006. Iptek obat : Belimbing wuluh. Sumber data : Bppt.
http://groups.google.co.id/group/keluarga-islam/browse_thread/thread/1a74de2730058a4f/53fcadad5f6391fc%2353f cadad5f6391fc ( 19 Agustus, 2006).
Banker, G. S. Dan N. R. Anderson. 1994. Tablet didalam L. Lachman, H.A.
Lieberman, and J.L. Kanig. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Terjemahan : Siti Suyatmi. Jilid II. Edisi 3. UI Press. Jakarta.
Cyntia, R. 2006. Pemisahan komponen kimia ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Laporan Magang. Fakultas Teknologi Pertanian.
IPB. Bogor.
Dede, Y. 2005. Studi kasus fisika pangan pembuatan tablet effervescenti sari buah tomat. Skripsi. FMIPA. IPB. Bogor.
Depkes, RI. 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid V. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta.
Djatmiko, M., D. Suhardjono dan A. E. Nugroho. 2001. Uji praklinik efek farmakologi dan kisaran dosis jamu Tensigard sebagai obat anti hipertensi.
Majalah Farmasi Indonesia. 12 (1) : 38-49.
Fardiaz, S. 1989. Praktek Mikrobiologi Pangan. Lembaga Sumberdaya Informasi.
IPB. Bogor.
Fassihi, G. S. dan Anderson N. R. 1986. Effect of compresibility and powder flow properties on tablet weight variation. Drug Development and Industry Pharmacy. 2nd Edition. Marcel Dekker Inc. New York.
Febriyanti. 2003. Formulasi minuman instan markisa (Passiflora edulis f.edulis Sims.)-terung Belanda (Cyphomandra betacea Sendt.) effervescen. Skripsi.
Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.
Forum Komunikasi Fakultas Pertanian UGM. Tanaman obat keluarga : Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). http://www.ihc-online.info/index2.php?option=content&do_pdf=1&id=62#search=%22ka lium%20belimbing%20wuluh%22, (17 April 2006).
Fudholi, A. 1983. Teknologi dan formulasi sediaan obat bahan alam dan permasalahannya. Pharmacon : Jurnal Farmasi Indonesia 2(1). Fakultas Farmasi. Universitas Muhammadiyah. Surakarta.
Gaman, P. M. dan K. B. Sherington. 1992. Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Gajah Mada Universitas Press. Yogyakarta.
Guyton, A. C. dan J. E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Terjemahan : I. Setiawan. EGC, Jakarta.
Hasanah, F. 2006. Formulasi granul effervescent berbahan baku yoghurt probiotik bubuk dengan metode granulasi basah. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Fapet, IPB. Bogor.
Hernani, T. Marwati dan C. Winarti. 2005. Teknologi pemanfaatan tanaman obat untuk bahan baku industri biofarmaka. Laporan akhir kegiatan penelitian.
Balai Besar Penelitian dan pengembangan Pasca Panen Pertanian. Bogor.
Hernani, T. Marwati dan C. Winarti. 2006. Teknologi pemanfaatan tanaman obat untuk bahan baku industri biofarmaka. Laporan akhir kegiatan penelitian.
Balai Besar Penelitian dan pengembangan Pasca Panen Pertanian. Bogor.
Huntching, J. B. 1999. Food Color and Apperance. Aspen Publishing Inc.
Gaitersburg Mary Land.
Hutahean, R. E. 2003. Pengaruh ekstrak daun Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap tekanan darah dan frekuensi denyut jantung Tikus putih (Rattus norvegicus) galur Wistar jantan. Skripsi. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB. Bandung.
Juniawan, H. 2004. Formulasi tablet effervescent ekstrak kencur (Kaempferia galanga L.) dengan variasi jumalh asam sitrat – asam tartarat. Skripsi.
Fakultas Farmasi. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Khairani, N. 2002. Pembuatan ganoderma effervescent. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.
Ketaren, S. Dan Suastawa I. G. M. 1994. Pengaruh Tingkat Mutu Buah Panili (Vanilla planifolia A.) dan Nisbah Bahan dengan Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Oleoresin yang Dihasilkan. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Vol 5(3). Fateta. IPB. Bogor.
Lachman L., H. A. Lieberman, and J. L. Kanig. 1989. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Terjemahan : Siti Suyatmi. Jilid II. Edisi 3. UI Press. Jakarta.
Lieberman, H. A., L. Lachman, and J. B. Schwartz. 1989. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Volume I. Second Edition : Revised and Expanded.
Marcel Dekker Inc. New York.
Lieberman, H. A., L. Lachman, and J. B. Schwartz. 1990. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Volume II. Second Edition : Revised and Expanded.
Marcel Dekker Inc. New York.
Meirina, R. 2006. Pembuatan granul effervescent susu kambing dengan metode granulasi basah. Skripsi. Program Studi Teknologi Hasil Ternak. Fapet, IPB. Bogor.
Mohrle, R. 1989. Effervescent Tablet, in H. A. Lieberman, L. Lachman, and J. B.
Schwartz. Pharmaceutical Dosage Forms : Tablet. Volume I. Second Edition : Revised and Expanded. Marcel Dekker Inc. New York.
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat : Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi.
Edisi V. Terjemahan : W. B. Widianto dan A. S. Setiadi. Penerbit ITB.
Bandung.
Rahayu, W. P. 1998. Penuntun Praktikum Penilaian Organoleptik. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Rohdiana, D. 2002. Mengenali teknologi tablet effervescent. http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0403/10/cakrawala/lainnya2.htm.
Said, N. 2005. Pembuatan tablet effervescent susu kambing dengan metode granulasi basah. Skripsi. Fakultas Peternakan, IPB. Bogor.
Soekarto, S. T. 1981. Penilaian Organoleptik. Pusat Pengembangan Teknologi Pangan, IPB. Bogor.
Tara, E. dan E. Soetrisno. 2004. Buku pintar Terapi Hipertensi. Restu Agung dan Taramedia, Jakarta.
Tejasari. 2003. Nilai Gizi Pangan. Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta.
The Joint National Committe. 1992. Didalam Farmakologi dan Terapi. S. G.
Ganiswarna. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi V. Terjemahan : Soewandi N. Cetakan ke-2. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Wells, J. I. 1987. Pharmaceutical preformulation : the phsicochemical properties of drug substance. John Wiley and Sons, New York.
Wijayakusuma, H. dan S. Dalimartha. 2000. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah Tinggi. Cetakan 6. Penebar Swadaya, Jakarta.
Winarno, F. G. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta.
Winarno, F. G. dan T. S. Rahayu. 1994. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Winarti, C dan T. Marwati. 2006. Beberapa penelitian tanaman obat yang berkhasiat anti hipertensi. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Kelompok Kerja Tanaman Obat Indonesia XXIX tanggal 24-25 Mei 2006 di UNS, Solo.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Analisis proksimat daun belimbing wuluh 1. Rendemen
Rendemen merupakan perbandingan antara jumlah bubuk setelah digiling dengan jumlah daun belimbing kering.
jumlah bubuk kering daun (g)
Rendemen = x 100%
jumlah daun belimbing wuluh kering (g) 2. Kadar Air (Voight, 1994)
Sebanyak 5 g bahan dimasukkan ke dalam labu asah 250 ml kemudian ditambahkan 200 ml toluen. labu suling dipanaskan perlahan-lahan sampai toluen mendidih. Jika jumlah air tidak bertambah lagi, penyulingan dilanjutkan selama 15 menit. Selanjutnya penyulingan dihentikan dan alat dibiarkan dingin. Jika air dan toluen telah terpisah secara sempurna, volume dan persentase air dalam bahan dihitung.
3. Kadar Abu (Depkes, 1989)
Bahan sebanyak 2 g atau 3 g yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan dalam cawan porselin yang telah dipijarkan dan ditera kemudian diratakan. Zat kemudian dipijarkan perlahan-lahan sampai arang habis kemudian didinginkan dan ditimbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat dihilangkan, maka ditambahkan air panas dan disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa zat dan kertas saring dipijarkan kembali dalam cawan yang sama. Filtrat dimasukkan dalam cawan dan diuapkan kemudian dipijarkan hingga bobot tetap dan ditimbang. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
4. Kadar Abu tidak Larut Asam (Depkes, 1989)
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu didihkan dengan 25 ml asam klorida encer (5 N) selama 5 menit. Bagian yang tidak larut asam dikumpulkan. Bagian yang telah dikumpulkan disaring melalui kertas saring kemudian dicuci dengan air panas dan setelah itu dipijarkan kembali hingga bobot tetap lalu ditimbang. Kadar abu yang tidak larut asam dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
5. Kadar Sari yang Larut Dalam Air (Depkes, 1989)
Serbuk yang akan dianalisa dikeringkan di udara, kemudian 5 g serbuk dimaserasi dengan 100 ml air menggunakan labu bersumbat selama 24 jam sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan, sebanyak 20 ml filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dalam cawan porselin yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105 oC hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
6. Kadar Sari yang Larut Etanol (Depkes, 1989)
Serbuk yang akan dianalisa dikeringkan di udara, kemudian 5 g serbuk dimaserasi dengan 100 ml etanol (95%) menggunakan labu bersumbat selama 24 jam sambil berkali-kali dikocok selama 6 jam pertama dan kemudian dibiarkan selama 18 jam. Setelah itu dilakukan penyaringan cepat untuk menghindarkan penguapan etanol, sebanyak 20 ml filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering dalam cawan porselin yang telah ditara, sisa dipanaskan pada suhu 105 oC hingga bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara.
7. Kadar Lemak (Metode Ekstraksi Soxhlet)
Labu lemak yang akan digunakan dikeringkan dalam oven bersuhu 105-110 oC, didinginikan dalam desikator dan ditimbang. Sampel dalam bentuk tepung ditimbang sebanyak ± 5 g dibungkus dengan kertas saring dan dimasukkan ke dalam alat ekstraksi yang telah berisi pelarut (heksana).
Reflux dilakukan selama 5 jam dan pelarut yang ada dalam labu lemak didistilasi. Selanjutnya labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dipanaskan dalam oven pada suhu 105 oC sampai beratnya konstan, didinginkan dalam desikator dan ditimbang.
berat lemak (g)
Kadar Lemak = x 100%
berat sampel (g)
8. Kadar Protein (Metode Kjedahl)
Sebanyak 0.1-0.5 g sampel dimasukkan ke dalam labu kjedahl dan ditambahkan 1.9 g K2SO4, 40 mg HgO dan 2 ml H2SO4. Sampel didihkan selama 1-1.5 jam sampai cairan menjadi jernih. Sampel didinginkan dan ditambah sejumlah kecil air secara perlahan-lahan. Isi tabung dipindahkan ke alat destilat dan labu dibilas 5-6 kali dengan 1-2 ml air. Air cucian dipindahkan ke labu destilat dan didestilasi sampai diperoleh ± 15 ml destilat yang berwarna hijau. Destilasi dilakukan dengan meletakkan erlenmeyer berisi 5 ml larutan H3BO3 dan 2 tetes indikator (campuran 2 bagian merah methil 0.2% dalam alkohol dan 1 bagian metilen blue 0.2% dalam alkohol) dan ditambahkan NaOH-Na2S2O3 sebanyak 8-10 ml. Isi erlenmeyer diencerkan sampai kira-kira 50 ml kemudian dititrasi dengan HCl 0,02 N sampai terjadi perubahan warna. Penetapan untuk blanko juga dilakukan.
(ml HCl – ml blanko) x NHCl x 14,007 x 100 Kadar N =
mg sampel Kadar Protein = %N x faktor konversi (6,25)
8. Kadar Karbohidrat by difference
Kadar karbohidrat = 100% - (kadar air + kadar abu + kadar lemak + kadar protein)
Lampiran 2. Diagram alir pengujian anti hipertensi (Djatmiko, 2001) Hewan uji (kucing)
⇓ Anastesi
⇓
Pembukaan vena fumoralis pada paha
⇓
Pembukaan arteri carotis pada leher
⇓
Penyuntikan heparin
⇓
Penyuntikan epineprin
⇓
Penyuntikan larutan uji (ekstrak)
⇓
Pembacaan kimograf
Lampiran 3. Contoh pembacaan kymograf pada pengujian anti hipertensi (Hernani, et al, 2006).
Pola tekanan darah setelah penyuntikan epineprin
tekanan darah normal : 120 mmHg
*Tekanan darah hewan uji saat mengalami hipertensi
Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (0.25ml = 8mg/kg BB)
Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (0.50ml = 15mg/kg BB)
Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (0.75ml = 23mg/kg BB)
Pola tekanan darah setelah penyuntikan ekstrak (1ml = 30mg/kg BB)
*Penurunan tekanan darah setelah disuntikkan ekstrak daun belimbing wuluh
Keterangan :
Dosis yang digunakan dalam formulasi tablet effervescent adalah dosis yang mampu menurunkan tekanan darah yang paling besar dari tekanan darah normal.
177 mmHg*
52,5 mmHg*
33.5 mmHg*
38.5 mmHg*
50 mmHg*
Lampiran 4. Hasil analisis ragam pengujian granul effervescent
Lampiran 4a. ANOVA terhadap waktu alir granul
ANOVA
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 4b. ANOVA terhadap sudut diam granul
ANOVA Sudut Diam
3.435 3 1.145 2.382 .210
1.923 4 .481
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 4c. ANOVA terhadap kompresibilitas granul
ANOVA Kompresibilitas Granul
19.680 3 6.560 .519 .681
101.130 8 12.641
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 5. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap pH tablet effervescent
Lampiran 5a. ANOVA terhadap pH tablet effervescent
ANOVA pH
.710 4 .178 29.583 .001
.030 5 .006
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 5b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
pH
.547 1.000 1.000 1.000
Perlakuan
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 6. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kadar air tablet effervescent
Lampiran 6a. ANOVA terhadap kadar air tablet effervescent
ANOVA Kadar Air
18.656 4 4.664 172.865 .000
.135 5 .027
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 6b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
Kadar Air
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 7. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kadar abu tablet effervescent
Lampiran 7a. ANOVA terhadap kadar abu tablet effervescent
ANOVA Kadar Abu
31.841 4 7.960 17.765 .004
2.240 5 .448
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 7b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
Kadar Abu
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 8. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap diameter tablet effervescent
Lampiran 8a. ANOVA terhadap diameter tablet effervescent
ANOVA Diameter Tablet
.128 4 .032 1594.250 .000
.000 5 .000
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 8b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
Diameter Tablet
1.000 1.000 .314 1.000
Perlakuan
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 9. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap tebal tablet effervescent
Lampiran 9a. ANOVA terhadap tebal tablet effervescent
ANOVA Tebal Tablet
.005 4 .001 11.500 .010
.001 5 .000
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 9b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
Tebal Tablet
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 10. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap kekerasan tablet effervescent
Lampiran 10a. ANOVA terhadap kekerasan tablet effervescent
ANOVA Kekerasan
.027 4 .007 17.964 .004
.002 5 .000
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 10b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
Kekerasan
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 11. Hasil analisis ragam dan uji lanjut Duncan terhadap waktu larut tablet effervescent
Lampiran 11a. ANOVA terhadap waktu larut tablet effervescent
ANOVA Waktu Larut
7.621 4 1.905 20.831 .003
.457 5 .091
Squares df Mean Square F Sig.
Lampiran 11b. Uji lanjut Duncan (p = 0,05)
Waktu Larut
Subset for alpha = .05
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
Uses Harmonic Mean Sample Size = 2.000.
a.
Lampiran 12. Lembar kuesioner uji kesukaan dan kode sampel a. Lembar kuesioner uji kesukaan
UJI KESUKAAN
Tanggal Pengujian : Nama : Jenis Sampel : Tablet Effervescent No. Telp/HP :
Petunjuk : Nyatakanlah penilaian anda terhadap penampakan tablet, warna, aroma, dan rasa pada setiap sampel tanpa membandingkan sampel yang satu dengan yang lainnya. Berilah penilaian angka pada pernyataan yang sesuai dengan penilaian saudara dan sesuai dengan kode sampel.
PENILAIAN Sampel
463 256 354 128
Penampakan tablet
Warna Aroma Rasa
NB (bintik-bintik coklat pada tablet merupakan ekstrak dari bahan yang digunakan)
Keterangan :
1 = sangat tidak suka 2 = tidak suka 3 = agak tidak suka 4 = netral
5 = agak suka 6 = suka 7 = sangat suka
b. Kode sampel uji kesukaan
Kode Sampel Konsentrasi Effervescent mix
128 40%
256 45%
354 50%
463 55%
Lampiran 13. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter penampakan tablet
Lampiran 14. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap parameter penampakan tablet effervescent
Lampiran 14a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap penampakan tablet
Friedman Test
Lampiran 14b. Uji frekuensi kesukaan terhadap penampakan tablet effervescent
Skor Penampakan * Perlakuan Crosstabulation Count
Lampiran 15. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter warna seduhan tablet effervescent
PANELIS Kode Sampel
463 256 354 128
Lampiran 16. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent
Lampiran 16a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap warna seduhan tablet effervescent
Lampiran 16b. Uji frekuensi kesukaan terhadap warna seduhan tablet effervescent
Skor Warna * Perlakuan Crosstabulation Count
Lampiran 17. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter aroma seduhan tablet effervescent
PANELIS Kode Sampel
463 256 354 128
Lampiran 18. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent
Lampiran 18a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap warna seduhan tablet effervescent
Lampiran 18b. Uji frekuensi kesukaan terhadap aroma seduhan tablet effervescent
Skor Aroma * Perlakuan Crosstabulation Count
Lampiran 19. Rekapitulasi nilai kesukaan parameter rasa seduhan tablet effervescent
PANELIS Kode Sampel
463 256 354 128
Lampiran 20. Hasil statistik non-parametik Friedman dan uji frekuensi kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent
Lampiran 20a. Uji statistik non-parametik Friedman terhadap rasa seduhan tablet effervescent
Lampiran 20b. Uji frekuensi kesukaan terhadap rasa seduhan tablet effervescent
Skor Rasa * Perlakuan Crosstabulation Count
Lampiran 21. Perbandingan luas permukaan tubuh hewan percobaan untuk konversi dosis (Laurence dan Bacharah, 1964).
20g