• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Saran

Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan penelitian yang telah diuraikan diatas, penelitian memberikan saran sebagai berikut :

1. Penelitian mendatang sebaiknya juga dapat mengembangkan model penelitian dengan menambah rasio keuangan lainnya yang dapat mempengaruhi Return saham.

2. Pengukuran terhadap rasio keuangan pada penelitian mendatang sebaiknya perusahaan – perusahan yang benar – benar mencantumkan data laporan keuangan yang lengkap sehingga data tersebut menyampaikan informasi secara lengkap dan tidak rekayasa

3. Tidak terlalu fokus pada 2 atau 3 rasio keuangan dalam menilai ekspetasi imbalan hasil (Return) karena tidak semua rasio keuangan berpengaruh parsial terhadap Return, melainkan harus didukung oleh faktor lain.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis 2.1.1 Return Saham

Salah satu faktor yang memotivasi investor dalam melakukan kegiatan investasi yaitu adanya return saham yang merupakan imbalan atas keberanian investor untuk menanggung risiko atas investasi yang di lakukannya. Return saham adalah tingkat keuntungan yang di nikmat oleh pemodal atas suatu investasi saham yang dilakukannya. Saham (stock atau share) dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atas pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut (tjiptono darmaji, 2008).

Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspetasi yang belum terjadi tetapi diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang (jogiyanto, 2000). Return saham atau yang biasa disebut dengan return merupakan pembayaran yang diterima karena hak kepemilikannya ditambah dengan perubahan dalam harga pasar yang dibagi dengan harga awal”. Brigham (2006) menyatakan bahwa “Return atau tingkat pengembalian adalah selisih antara jumlah yang diterima dengan jumlah yang diinvestasikan”. Hartono (2010) menyatakan bahwa

“Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi”. Return dapat berupa return realisasi (Realized Return) atau return ekspektasian (Expected Return). Return realisasi merupakan return yang telah terjadi yang dihitung berdasarkan data historis. Return realisasi sangat penting karena dapat digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja perusahaan. Return ekspektasian adalah return yang diharapkan akan diperoleh investor dimasa mendatang, jadi return ekspektasian sifatnya belum terjadi. Return suatu investasi terdiri dari yield atau dividen dan capital gain (loss). Yield merupakan return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik Capital gain (loss) adalah return yang diperoleh dari kenaikan (penurunan) nilai surat berharga (Tandelilin, 2007).

Pengembalian atau lebih sering disebut return merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi yang dilakukan. Pengembalian ini dibedakan menjadi dua, yaitu pengembalian yang telah terjadi (actual return) yang dihitung berdasarkan data historis dan pengembalian yang diharapkan (Expected Return - ER) akan diperoleh di masa depan.

Komponen pengembalian meliputi :

a. Untung/Rugi modal (capital gain/loss) merupakan keuntungan (kerugian) bagi investor yang diperoleh dari kelebihan harga jual

(harga beli) di atas harga beli (harga jual) yang keduanya terjadi di pasar sekunder.

b. Imbal hasil (Yield) merupakan pendapatan atau aliran kas yang diterima investor secara periodik, misalkan berupa dividen atau bunga. Yield dinyatakan dalam persentase dari modal yang ditanamkan.

Secara umum faktor-faktor yang berpengaruh terhadap return saham terdiri dari faktor fundamental, faktor pasar dan faktor makro. Karena faktor makro berpengaruh secara lokal terhadap suatu obyek investasi, maka yang perlu dikaji lebih jauh adalah faktor fundamental dan faktor pasar. Faktor fundamental merupakan faktor yang berhubungan dengan kinerja perusahaan emiten, sedangkan faktor pasar berkaitan dengan kinerja sahamnya (Saniman, 2007). Analisis terhadap faktor fundamental merupakan salah satu cara melakukan penilaian saham dengan mempelajari atau mengamati berbagai indikator terkait dengan kondisi makro ekonomi dan kondisi industri suatu perusahaan termasuk berbagai indikator keuangan dan manajemen perusahaan. Dengan demikian analisis fundamental merupakan analisis yang berbasis pada berbagai data ril untuk mengevaluasi atau memproyeksikan nilai suatu saham.

2.1.2 Economic Value Added (EVA)

Menurut Wijaya (2009), “Economic Value Added adalah indikator internal yang mengukur kekayaan pemegang saham suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu. EVA (Economic Value Added) mengukur seberapa efisien perusahaan menggunakan modalnya untuk menciptakan

nilai tambah ekonomis. Nilai tambah ekonomis tercipta jika perusahaan menghasilkan Return on total capital yang melebihi cost of capital.”

Menurut Brigham (2006), “EVA (Economic Value Added) adalah nilai yang ditambahkan oleh manajemen kepada pemegang saham selama satu tahun tertentu”. Sebagai pencetus, steward pencetus EVA (Economic Value Added ) pertama kali (1991) mendefinisikan EVA sebagai berikut:

EVA (Economic Value Added) is the residual income measure that substracts the cost of capital from the operating profits generated in the bussiness.” It’s measure to account properly for all of the ways in which corporate value maybe added or lost. EVA will increase if operating profit can be made to grow without trying up any more capital,if nem capital is deverted or liquidate from business activities that do not

cover their cost of capital.

Menurut rudianto (2006 : 340) “ EVA (Economic Value Added)

adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercapai jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi dan biaya modal. EVA (Economic Value Added) ditentukan oleh dua hal yaitu laba bersih setelah pajak dan tingkat biaya modal. Laba operasi setelah pajak menggambarkan hasil penciptaan value dalam perusahaan, sedangkan biaya modal dapat di artikan sebagai pengorbanan yang dikeluarkan dalam penciptaan value (nilai) tersebut.

EVA (Economic Value Added) sangat bermanfaat bagi penilaian kinerja perusahaan di mana fokus penilaian kinerja adalah penciptaan nilai (value creation). Penilian kinerja dengan menggunakan pendekatan EVA

dengan kepentingan pemegang saham. Dengan EVA (Economic Value Added), para manajer akan berfikir dan juga bertindak seperti hal nya pemegang saham, yaitu memilih investasi yang memaksimumkan tingkat pengembalian dan meminimumkan tingkat biaya modal sehingga nilai perusahaan dapat di maksimumkan.

EVA (Economic Value Added) dapat juga untuk mengidentifikasikan kegiatan atau proyek yang memberikan pengembalian lebih tinggi dari pada biaya modalnya. Penggunaan EVA (Economic Value Added) dalam kegiatan proyek akan mendorong para manejer untuk selalu mengevaluasi atas tingkat resiko proyek yang bersangkutan. Dengan EVA

(Economic Value Added), para manejer harus selalu membandingkan tingakt pengembalian proyek dengan tingkat biaya modal yang mencerminkan tingakt resiko proyek tersebut.

Menurut Wijaya (2009) “Dasar pengukuran dengan pendekatan EVA (Economic Value Added) lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan yaitu manajemen perusahaan berupaya menghasilkan return yang lebih besar dari biaya modalnya”, sehingga dapat disimpulakan bahwa EVA (Economic Value Added) merupakan keuntungan operasional setelah pajak dikurangi dengan biaya modal atau dengan kata lain EVA (Economic Value Added) merupakan pengukuran pendapatan sisa (residual income) yang mengurangkan biaya modal terhadap laba operasi. EVA (Economic Value Added) memfokuskan pada efektifitas manajerial dalam satu tahun tertentu.

EVA (Economic Value Added) merupakan pengukuran kinerja keuangan yang dianggap sesuai dengan harapan kreditur dan pemegang saham, karena EVA (Economic Value Added) memperhitungkan tingkat risiko. Semakin tinggi risiko atau cost of capital yang ditanggung perusahaan, maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian (return) yang harus diberikan kepada investor atau pemegang saham. Jika tingkat pengembalian investasi perusahaan tidak mampu menutupi risikonya, EVA (Economic Value Added) perusahaan itu akan bernilai negatif. Sebaliknya, tingkat pengembalian investasi yang lebih besar dari cost of capitalnya, maka akan menghasilkan EVA (Economic Value Added)

positif.

Menurut Wijaya (2009), “Pengukuran kinerja keuangan menggunakan konsep EVA (Economic Value Added) memasukkan unsur biaya modal dalam perhitungannya” hal tersebut menunjukkan bahwa pendekatan EVA (Economic Value Added) tidak hanya melihat dari tingkat pengembalian saja tetapi juga mempertimbangkan tingkat risiko perusahaan. EVA (Economic Value Added)merupakan indikator mengenai adanya penciptaan nilai dari suatu investasi. EVA (Economic Value Added) yang positif menunjukkan telah terjadi proses nilai tambah pada perusahaan, karena rate of return lebih besar dari biaya modalnya. Penggunaan EVA (Economic Value Added) akan mendorong perusahaan untuk lebih memfokuskan pada penciptaan nilai perusahaan (creating a firm’s value).

Konsep Economic Value Added (EVA) mengukur nilai tambah dengan cara mengurangi biaya modal (cost of capital) yang timbul akibat investasi yang dilakukan oleh perusahaan. Economic Value Added (EVA) yang positif menandakan perusahaan berhasil menciptakan nilai bagi pemilik modal karena perusahaan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang melebihi tingkat modalnya hal ini sejalan dengan tujuan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Sebaliknya Economic Value Added (EVA) yang negatif menunjukan bahwa nilai perusahaan menurun karena tingkat pengembalian lebih rendah dari biaya modal.

Menurut Mirza (1999:93) keunggulan yang dimiliki EVA

(Economic Value Added) sebagai alat pengukur kinerja adalah :

a. EVA (Economic Value Added) memfokuskan penilaian terhadap nilai tambah dengan memperhitungkan biaya modal sebagai resiko investasi.

b. EVA (Economic Value Added) dapat diterapkan secra mandiri tanpa memerlukan data pembanding dari perusahaan lain maupun standard industri sebagaimana konsep analisis rasio keuangan. c. Konsep EVA (Economic Value Added) sebagai pengukur kinerja

perusahaan memperhatikan harapan penyedia dana secara adil dimana derajat keradilan dinyatakan dengan ukuran tertimbang struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar bukan pada nilai buku.

Disamping keunggulan, EVA (Economic Value Added) juga memiliki kelemahan menurut mirza (1999:99) diantaranya sebagai berikut :

a. EVA (Economic Value Added) hanya mengukur hasil akhir, sementara aktifitas penentu seperti loyalitas dan referensi konsumen tidak diperhatikan, fokus EVA terhadap kinerja keuangan masih kuat sehingga kinerja nonkeuangan seperti loyalitas dan referensi konsumen belum terlalu diperhatikan.

b. EVA (Economic Value Added) terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam kajian dan mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham tertentu.

Economic Value Added (EVA) dapat diformulasikan sebagai berikut :

EVA = NOPAT – Capital Chargers

Profit & Loss Balance Sheet

a. Menghitung NOPAT (Net operating Profit After Tax)

NOPAT (Net operating Profit After Tax) atau laba bersih setelah pajak ini dapat di hitung dengan rumus :

NOPAT = EBIT (1-T) Keterangan :

EBIT : Erning Before Interest and tax( laba sebelum bunga dan pajak)

T : Tax atau pajak.

Dimana tingkat pajak dapat diketahui dengan cara : Beban Pajak

Tingkat pajak (T) = x 100 %

Laba bersih sebelum pajak Dalam perhitungan EVA (Economic Value Added) terlebih dahulu kita harus mengetahui nilai NOPAT perusahaan yang diteliti. Jika pada laba akuntansi laba dikurang dengan biaya operasional saja, maka EVA

(Economic Value Added) mengurangkan laba setelah pajak dengan biaya utang dan biaya modal. Sehingga semua biaya yang dikeluarkan untuk operasi benar-benar telah dihitung.

b. Menghitung capital charges Rumus :

Capital charges = WACC x investes capital Keterangan.

WACC (Weighted Average Cost of Capital) adalah tingkat return minimum berdasarkan porsi masing – masing instrument pemodalan dalam struktur modal yang harus dihasilkan perusahaan untuk memenuhi ekspektasi dari kreditur dan pemegang saham selaku penyedia modal.

c. Cara menghitung WACC :

WACC = { (D x rd) (1- Tax) + (E x re)} Dimana :

Total kewajiban

Tingkat modal (D) = x 100% Total kewajiban dan ekuitas

beban bunga Cost of debt (cd) = x 100% total kewajiban total ekuitas

Tingkat modal dan ekuitas (E) = x 100% total kewajiban dan ekuitas

laba bersih setelah pajak

Cost of equity (ce) = x 100% total ekuitas

d. Cara menghitung invested capital e.

Rumus :

Invested capital = total kewajiban & ekuitas – kewajiban jk.pendek Invested capital adalah penjabaran dari modal, sebagai modal yang diinvestasikan yakni seluruh keuangan perusahaan yang sudah terlepas dari kewajiban jangka pendek yang tidak menanggung bunga. Total kewajiban dan ekuitas menunjukkan beberapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang. Pinjaman jk.pendek tanpa bunga merupakan pinjaman yang digunakan perusahaan yang

pelunasan maupun pembayaran akan dilakukan dalam jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan dan atas jaminan itu tidak dikenal bunga , seperti hutang usaha / kewajiban segera , hutang pajak , biaya yang masih harus di bayar dan lain-lain.

2.1.3 Market Value Added (MVA)

Menurut Brigham (2006) “Market Value Added (MVA) adalah perbedaan antara nilai pasar saham perusahaan dengan jumlah ekuitas modal investor yang telah diberikan”. Menurut steward (dalam Rahayu, 2007), “MVA (Market Value Added) merupakan suatu pengukur kinerja yang tepat untuk menilai sukses tidaknya perusahaan dalam menciptakan kekayaan bagi pemiliknya” jadi kekayaan atau kesejahteraan pemilik perusahaan (pemegang saham) akan bertambah bila MVA (Market Value Added) bertambah. Tujuan utama sebagian besar peusahaan adalah memaksimalkan kekayaan pemegang saham, tujuan ini jelas memihak pada keuntungan pemegang saham, akan tetapi juga harus memastikan sumber daya yang terbatas telah dialokasikan secara efisien yang menguntungkan perekonomian. Kekayaan pemegang saham akan menjadi maksimal dengan memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan dan modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Perbedaan inilah yang disebut MVA (Market Value Added) oleh young (2001) yaitu “MVA (Market Value Added) adalah perbedaan nilai perusahaan (termasuk ekuitas dan hutang) dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam

perusahaan”. Modal yang diinvestasikan adalah jumlah modal yang disediakan oleh penyedia dana pada tanggal yang sama.

a. Perhitungan Market Value Added (MVA)

Nilai tambah pasar atau MVA (Market Value Added) adalah perbedaan antara nilai pasar saham perusahaan dengan jumlah ekuitas modal investor yang telah diberikan. (Brigham, 2006).

Selain itu, MVA (Market Value Added) dapat dirumuskan sebagai berikut:

MVA : (saham beredar) x (harga saham) – total ekuitas saham biasa Atau

MVA = nilai pasar – modal yang di investasikan

Young (2001) menyatakan investor menyerahkan modal kedalam perusahaan dengan harapan manajer akan menginvestasikan dengan produktif. Nilai pasar mencerminkan keputusan pasar mengenai bagaimana manajer yang sukses telah menginvestasikan modal yang sudah dipercayakan kepadanya, dalam mengubahnya menjadi lebih besar. Semakin besar MVA (Market Value Added), menunjukkan indikasi MVA (Market Value Added) semakin baik.

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan indikator yang digunakan untuk mengukur yaitu:

1. Jika Market Value Added (MVA) > 0, bernilai positif, perusahaan berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana.

2. Jika Market Value Added (MVA) < 0, bernilai negatif, perusahaan tidak berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan oleh penyandang dana (Young 2001).

Selain kelebihan nya, MVA (Market Value Added) juga mempunyai kelemahan adalah MVA (Market Value Added) hanya dapat diaplikasikan pada perusahaan yang sudah go public saja.

2.1.4 Inventory Turnover (ITO)

Inventory turnover merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kecepatan perputaran persediaan menjadi kas. Semakin cepat inventory terjual, semakin cepat investasi perusahaan berubah dan persediaan menjadi kas (Robert Ang, 1997). ITO (Inventory Turnofer) mengukur berapa lama rata-rata barang berada di gudang (Husnan, 2006). Artinya semakin tinggi nilai ITO (Inventory turnover) yang diperoleh semakin efisien perusahaan didalam melaksanakan operasinya. Dengan kata lain, perusahaan yang nilai perputaran persediaannya makin tinggi berarti makin efisien dalam kaitannya dengan pengendalian biaya. Efisiensi dalam pengendalian biaya bagi perusahaan akan berdampak pada peningkatan perolehan laba (Saniman, 2007).

Kenaikan persediaan disebabkan oleh peningkatan aktivitas atau karena perubahan kebijakan persediaan. Jika terjadi kenaikan persediaan

yang tidak proporsional dengan peningkatan aktivitas, maka bisa dikatakan terjadi pemborosan dalam mengelola persediaan. Kondisi perusahaan yang baik adalah dimana kepemilikan persediaan dan perputaran adalah selalu berada dalam kondisi yang seimbang. Artinya jika perputaran persediaan adalah kecil, maka akan terjadi penumpukan barang dalam jumlah yang banyak di gudang. Namun jika perputaran terlalu tinggi maka jumlah barang yang tersimpan di gudang akan kecil, sehingga jika sewaktu-waktu terjadi kehilangan bahan/barang di pasaran dalam kejadian yang bersifat di luar perhitungan seperti gagal panen, bencana alam, kekacauan stabilitas politik dan keamanan serta berbagai kejadian lainnya maka ini bisa mengakibatkan perusahaan terganggu aktivitas operasionalnya dan lebih jauh berpengaruh pada sisi penjualan serta perolehan keuntungan (Irham,2012).

ITO (Inventory turnover) dihitung dengan cara membagi harga pokok penjualan dengan rata-rata persediaan. Rata-rata persediaan diperoleh dengan menjumlahkan persediaan barang setiap bulan selama satu tahun kemudian dibagi 12 atau apabila informasi persediaan barang setiap bulan tidak tersedia, maka rata-rata persediaan diperoleh dengan menjumlahkan persediaan awal dan akhir kemudian dibagi dua. Hal ini dikarenakan penjualan terjadi sepanjang tahun, sedangkan angka persediaan adalah angka pada satu titik waktu tertentu.

ROA (Return on asset) merupakan salah satu rasio profitabilitas. Dalam analisis laporan keuangan, rasio ini paling sering diamati karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan menghasilkan keuntungan. ROA (Return on asset) mengukur kemampuan perusahaan didalam menghasilkan keuntungan (return) dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar ROA (Return on asset) menunjukkan kinerja yang semakin baik (Ang, 1997).

Prastowo (2002:86) Return on asset (ROA) adalah kemampuan perusahaan memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur tingkat kembalian investasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimilikinya. Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen asset yang berarti efesiensi manajemen (Hanafi 2003:85). Penilaian Return On Asset (ROA) dapat dirumuskan sebagai berikut

Return On Asset (ROA) = Laba bersih Total aktiva

Return On Asset (ROA) menggambarkan kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan. Semakin tinggi ROA (Return on asset) menunjukkan perusahaan dalam keadaan bagus dan semakin efektif dalam memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak, dengan semakin meningkatnya ROA (Return on asset) maka profitabilitas

perusahaan semakin baik oleh karena itu, perusahaan selalu berupaya untuk meningkatkan ROA (Return on asset).

Kinerja keuangan perusahaan yang baik dalam menghasilkan laba bersih aktiva yang digunakan akan berdampak pada pemegang saham perusahaan. ROA (Return on asset) yang semakin tinggi menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik sehingga dapat mempengaruhi investor untuk membeli saham perusahaan tersebut. Pembelian saham perusahaan oleh para investor yang menanamkan dananya pada perusahaan tersebut, maka harga saham perusahaan akan meningkat, dengan kata lain ROA (Return on asset) akan berdampak positif terhadap return saham.

2.1.6 Debt to Equity Ratio (DER)

Menurut Ang (1997) Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perbandingan antara total hutang terhadap total shareholders equity yang dimiliki perusahaan. Total hutang disini merupakan total hutang jangka pendek dan total hutang jangka panjang. Sedangkan Shareholders Equity adalah total modal sendiri (total modal saham disetor dan laba ditahan) yang dimiliki oleh perusahaan.

Menurut hasan (2006 :70) Rasio Leverage adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan menggunakan utang. Beberapa analis menggunakan istilah rasio solvabilitas, yang berarti kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangannya.

Debt to equity ratio adalah ratio yang memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki perusahaan atau keseimbangan proporsi antara aktiva yang didanai oleh kreditor dan yang didanai oleh pemilik perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak tertagihnya suatu utang (Prastow, 2002:84).

Rasio ini dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Husnan, 2006:70) :

Debt to Equity Ratio (DER) = Total kewajiban Modal Sendiri

Nilai suatu perusahaan akan meningkat dengan meningkatnya DER (Debt to Equity Ratio) karena adanya efek dari corporate tax shield. Hal ini disebabkan karena dalam keadaan pasar sempurna dan ada pajak, umumnya bunga yang dibayarkan akibat penggunaan hutang dapat dipergunakan untuk mengurangi penghasilan yang dikenakan pajak. Dengan demikian apabila terdapat dua perusahaan dengan laba operasi yang sama, tetapi perusahaan yang satu menggunakan hutang dan membayar bunga sedangkan perusahaan yang lain tidak, maka perusahaan yang membayar bunga akan membayar pajak penghasilan yang lebih kecil, sehingga menghemat pendapatan. Akan tetapi hal ini bukan berarti perusahaan dapat menentukan batas hutang dengan seenaknya, berusaha untuk tetap menyeimbangkan antara cost dan benefit harus tetap dilakukan. Dengan pengelolaan perusahaan yang baik, maka DER (debt to

equity ratio) yang tinggi akan dapat meningkatkan keuntungan bagi perusahaan.

DER (debt to equity ratio) mengukur tingkat leverage terhadap modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Semakin rendah rasio ini berarti semakin tinggi tingkat pendanaan perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham dan semakin besar perlindungan bagi kreditor (margin of safety) jika terjadi penyusutan nilai aktiva atau kerugian besar (Van Horne, 2005). DER (debt to equity ratio) dihitung dengan membandingkan total utang perusahaan (termasuk kewajiban jangka pendek) dengan ekuitas pemegang saham.

2.2 Penelitian Terdahulu

Beberapa peneliti melakukan penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi return saham. Hasil dari beberapa penelitian yang sudah ada dilakukan sebelumnya akan digunakan sebagai bahan referensi dan perbandingan dengan penelitian ini.

Penelitian yang dilakukan frengky (2015) yang meneliti tentang “pengaruh Return On Equity, Return On Asset, dan Earning Pershare terhadap return saham pada perusahaan otomotof dan komponen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2010-2013. Variabel yang digunakan Return on Equity, Return On Asset, dan Earning Per Share sebagai variabel independent dan return saham sebagai variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan dari hasil uji simultan diperoleh kesimpulan bahwa Return On Asset (ROA), Return On Equity

(ROE), dan Earning Per Share (EPS) secara simultan berpengaruh terhadap return saham. Berdasarkan hasil uji parsial diperoleh kesimpulan bahwa Return On Asset (ROA) secara parsial memiliki pengaruh signifikan dan negatif terhadap return saham, Return On Equity(ROE) secara parsial berpengaruh signifikan dan memiliki tanda positif terhadap return saham sedangkan Eraning Per Share(EPS) secara parsial tidak berpengaruh terhadap return saham.

Penelitian yang dilakukan oleh Daniel (2013) yang meneliti tentang pengaruh Economic Value added (EVA) dan Market Value Added (MVA) pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk periode 2009-2012. Variabel yang digunakan Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA) sebagai variabel independen dan return saham sebagai variabel dependen. Dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa secara parsial diketahui Market Value Added (MVA) berpengaruh signifikan terhadap return saham, Economic Value Added (EVA) secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Return saham, sedangkan secara simultan Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham.

Penelitian yang dilakukan oleh bambang (2011) yang meneliti tentang keuangan konvensional, Economic Value Added dan return saham dengan variabel ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity), RI (Residual Income) dan EVA (Economic Value Added) sebagai variabel

independen dan return saham sebagai variabel dependen. Hasil penelitian nya menunjukkan bahwa ROA ((return on asset),) berpengaruh positif dan secara statistik signifikan terhadap return saham, Sedangkan EVA (economic value added) berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap return saham.

Penelitian yang dilakukan oleh Susilowati (2011) menyatakan bahwa ROA (Return On Asset) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return saham dan penelitian yang dilakukan penelitian yang

Dokumen terkait