• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Berdasarkan pada kesimpulan, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Diketahui Leverage, Ukuran Perusahaan, Intensitas Tenaga Kerja, Kepemilikan Campuran secara parsial tidak berpengaruh terhadap Pemilihan Metode Akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh sebab itu, mengingat bahwa variabel tersebut tidak berpengaruh, jadi bagi investor tidak perlu untuk memperhatikan secara khusus variabel-variabel ini.

2. Diketahui bahwa Pembiayaan Internal dan Proporsi Komisaris Independen secara parsial berpengaruh terhadap Pemilihan Metode Akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh sebab itu, sebaiknya investor memperhatikan kedua

variabel ini untuk mengetahui kebijakan akuntansi yang digunakan oleh manajemen perusahaan.

3. Untuk peneliti berikutnya, sedapat mungkin untuk dapat menambah periode penelitian. Kemudian agar dapat menambah variabel-variabel lainnya ynag dinilai sangat mempengaruhi Pemilihan Metode Akuntansi pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Teori Signalling

Teori signalling menjelaskan bahwa pemberian sinyal dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri informasi. Manajer memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan laba lebih berkualitas karena prinsip ini mecegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan laba dan aktiva yang tidak overstate. Dalam praktiknya, manajemen menerapkan kebijakan akunantansi konservatif dengan menghitung depresiasi yang tinggi akan menghasilkan laba rendah yang relatif permanen yang berarti tidak mempunyai efek sementara pada penurunan laba yang akan berbalik pada masa yang akan datang (Fala, dalam Nugroho 2012).

Kusuma dalam Nugroho (2012) menyatakan bahwa tujuan teori

signalling kemungkinan besar membawa dampak yang baik bagi pemakai laporan keuangan. Manajer berusaha menginformasikan kesempatan yang dapat diraih oleh perusahaan di masa yang akan datang. Sebagai contoh, karena manajer sangat erat kaitannya dengan keputusan yang berhubungan dengan aktivitas investasi maupun operasi perusahaan, otomastis para manajer memiliki informasi yang lebih baik mengenai prospek perusahaan

masa datang. Oleh karena itu, manajer dapat mengestimasi secara baik laba masa datang dan diinformasikan kepada investor atau pemakai laporan keuangan lainnya.

Watts dalam Nugroho (2012) menyatakan bahwa understatement

aktiva bersih yang sistematik atau relatif permanen merupakan salah satu ciri dari konservatisme akuntansi, sehingga dapat dikatakan bahwa konservatisme akuntansi menghasilkan laba yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencegah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan aktiva yang tidak overstate.

2.1.2. Teori Akuntansi Positif

Teori akuntansi positif menjelaskan bahwa manajer memiliki insentif atau dorongan untuk dapat memaksimalkan kesejahteraannya. Teori ini didasarkan pada bagian bahwa manajer, pemegang saham adalah rasional dan mereka berusaha untuk memaksimumkan utilitas mereka, yang secara langsung terkait dengan kemakmuran mereka.

Teori akuntansi positif memprediksi bahwa manajer mempunyai kecenderugan menaikkan laba untuk menyembunyikan kinerja buruk. Kecenderungan manajer untuk menaikkan laba dapat didorong oleh adanya empat masalah pengontrakan yaitu informasi asimetrik, masa kerja terbatas manajer, kewajiban terbatas manajer, dan asimetri pembayaran (asymmetric payoff) (Watts dalam Nugroho, 2012). Pemegang saham dan kreditur berusaha menghindari kelebihan pembayaran kepada manajer dengan meminta penyelenggaraan akuntansi yang konservatif. Oleh karena itu dapat

disimpulkan bahwa manajer cenderung menyelenggarakan akuntansi liberal, tetapi kreditur (dalam kontrak utang) dan pemegang saham (dalam kontrak kompensasi) cenderung meminta manajer menyelenggarakan akuntansi konservatif.

Teori akuntansi positif dalam Chariri dan Ghozali (2007) menyetakan bahwa ada tiga hubungan keuangan:

1. Antara manajemen dengan pemilik (pemegang saham)

Apabila manajemen memeiliki jumlah saham yang lebih sedikit dibanding dengan investor lain, maka manajer akan cenderung melaporkan laba lebih tinggi atau kurang konservatif. Hal ini dikarenakan prinsipal (pemegang saham) menginginkan deviden maupun capital gain dari saham yang dimilikinya. Sedangkan karena agen (manajer) ingin dinilai kinerjanya bagus dan mendapatkan bonus, maka manajer melaporkan laba yang lebih tinggi. Namun jika kepemilikan manajer terhadap perusahaan itu cukup besar, maka manjer lebih berkeinginan untuk memperbesar perusahaan. Dengan metode konservatif, maka akan terdapat cadangan tersembunyi yang cukup besar untuk meningkatkan jumlah investasi perusahaan. Aset diakui dengan nilai terendah, ini berarti nilai pasar lebih besar daripada nilai buku.

2. Antara manajemen dengan kreditur

Manajemen cenderung melaporkan labanya lebih tinggi karena pada umumnya kreditur beranggapan bahwa perusahaan dengan laba yang

tinggi akan melunasi utang dan bunganya pada tanggal jatuh tempo. Dengan kata lain kreditur beranggapan akan mengurangi tingkat resiko utang tidak dibayar. Kreditur dengan melihat laba yang tinggi cenderung akan mudah dalam memberikan pinjaman.

3. Antara manajemen dengan pemerintah

Manajer cenderung melaporkan labanya secara konservatif. Hal ini dikarenakan untuk menghindari pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah, para analis sekuritas dan pihak yang berkepentingan lainnya. Pada umumnya perusahaan yang besar dibebani oleh beberapa konsekuensi. Misalnya harus menyediakan pelayanan publik yang lebih baik dan harus membayar pajak yang lebih tinggi.

2.1.3. Metode Akuntansi

Metode akuntansi merupakan dasar-dasar perhitungan yang digunakan perusahaan dalam mengolah aktivanya. Metode akuntansi yang digunakan perusahaan akan berpengaruh terhadap laporan keuangan perusahaan, khususnya terhadap laba perusahaan dan neraca perusahaan.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan kebebasan kepada setiap perusahaan dalam memilih metode akuntansi yang digunakan. Perusahaan memilih metode akuntansi sesuai dengan kondisinya. Untuk mengantisipasi kondisi perekonomian yang tidak stabil maka perusahaan harus berhati-hati dalam menyajikan laporan keuangannya. Tindakan kehati-hatian yang dilakukan oleh perusahaan biasanya dilakukan dengan cara mengakui biaya dan rugi lebih cepat, mengakui pendapatan dan laba lebih

lama, menilai aktiva dengan nilai terendah, dan kewajiban dengan nilai yang tertinggi.

Suwardjono dalam Nugroho (2012) menyatakan bahwa tindakan kehati-hatian tersebut diimplikasikan dengan mengakui biaya atau rugi yang memungkinkan akan terjadi, tetapi tidak segera mengakui pendapatan atau laba yang akan datang walaupun kemungkinan terjadinya besar, hal ini sejalan dengan yang dinyatakn oleh Taqwa, dkk (2003) yang menyatakan bahwa dalam beberapa item laporan keuangan, terdapat beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk menyusun laporan, pengukuran dan teknik pengungkapan.

2.1.4. Leverage

Leverage (pengungkit) dapat didefenisikan sebagai penggunaan aset atau dana, dan sebagai konsekuensi dari penggunaan ini, perusahaan harus mengeluarkan biaya dan beban tetap. Beban tetap ini dapat berupa bunga pinjaman, jika perusahaan menggunakan sumber pembelanjaan dari luar (modal asing), sedangkan apabila perusahaan menggunakan mesin-mesin, maka harus menggunakan beban tetap yang berupa biaya penyusutan mesin-mesin (depresiasi). “Jika perusahaan menyewa suatu aktiva tetap kepada pihak lain, maka konsekuensinya harus membayar biaya tetap berupa biaya sewa” (Warsono, 2003:204).

Financial Leverage berarti penggunaaan dana dari aset perusahaan dengan surat-surat berharga dengan tingkat pengembalian yang tetap (terbatas) yang diharapkan dapat meningkatkan keuntungan bagi pemegang

saham. Menurut Agus (2001:263) “Financial Leverage adalah penggunaan dana yang memiliki beban tetap dengan harapan bahwa akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban tetapnya sehingga akan meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham”. Lukman (2004:113) “menjelaskan bahwa financial leverage dapat didefenisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam menggunakan kewajiban-kewajiban financial yang bersifat tetap untuk memperbesar pengaruh perubahan EBIT terhadap pendapatan per lembar saham biasa”.

Menurut Keown (2001:402), “financial leverage merupakan penggunaan aset perusahaan yang didanai dengan surat-surat berharga (surat hutang dengan tingkat bunga tetap atau saham preferen dengan tingkat deviden konstan) dengan tingkat pengembalian yang tetap (terbatas) yang diharapkan dapat meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham”.

Dengan kata lain bahwa financial leverage akan timbul pada saat perusahaan menggunakan sumber dana yang menimbulkan biaya atau beban tetap, dengan harapan agar pengahsilan atau penegmbalian serta nilai saham perusahaan dapat ditingkatkan. Menurut Brigham (2006:213) “leverage keuangan (financial leverage) meruapakan penggunaan utang untuk meningkatkan laba perusahaan”. Penggunaan utang dalam investasi sebagai tambahan untuk mendanai aktiva perusahaan diharapkan dapat meningkatkan keuntungan yang akan diperoleh pemilik perusahaan, karena aktiva perusahaan digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional perusahaan yang tujuannya untuk meperoleh laba. Selain itu, ada dua alasan

yang dikemukakan oleh Brigham mengenai alasan mengapa penggunaan utang ataupun financial leverage lebih menguntungkan, yakni (1) bunga merupakan pengurang pajak sementara deviden untuk pemegang saham ekuitas, serta (2) karena bunga merupakan pengurang pajak, laba yang tersedia untuk pemegang ekuitas menjadi lebih besar.

Menurut Brigham (2006:486) menyatakan bahwa hubungan

financial leverage terhadap EPS yaitu sebagai berikut “Changes in the use of debt will cause changes in earning per share (EPS) as well as changes in

risk both of which will affect the company’s stock price”. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa penggunaan utang tersebut, dan financial leverage

dianggap merugikan apabila laba yang diperoleh lebih kecil daripada beban tetap yang timbul akibat penggunaan utangnya tersebut. Jadi dalam penggunaan financial leverage faktor yang paling menetukan adalah kemampuan pihak manajemen dalam memanfaatkan dana pinjaman itu sendiri.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa

financial leverage berarti penggunaan dana yang memiliki beban tetap diharapkan dapat meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Dengan demikian alasan yang kuat untuk menggunakan dana dengan beban tetap adalah untuk menigkatkan pendapatan yang tersedia bagi pemegang saham. Financial leverage menguntungkan apabila pendapatan dari penggunaan dana lebih besar daripada beban tetapnya., tetapi

kemungkinan lain financial leverage dapat merugikan apabila pendapatan dari penggunaan dana lebih kecil daripada beban tetapnya.

Masalah financial leverage merupakan penggunaan sumber dana yang menimbulkan beban tetap bagi perusahaan, dimana penggunaan

financial leverage ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih dalam meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham. Dalam upaya memenuhi kebutuhan dananya, perusahaan dapat menggunakan modalnya sendiri atau modal yang berasal dari pemilik, dan dapat juga berasal dari pinjaman atau hutang. Jika perusahaan menggunakan dana dari pinjaman, maka perusahaan secara rutin akan membayar bunga yang merupakan beban tetap bagi perusahaan. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa perusahaan yang menggunakan sumber dana dengan beban tetap mempunyai financial leverage.

Dasar penentuan struktur modal berkaitan dengan sumber dana, baik itu sumber internal maupun sumber eksternal secara teoritis didasarkan pada dua kerangka teori yaitu balance theory atau pecking order theory. Berdasarkan balance theory, perusahaan mendasarkan kebijakan pendanaan pada struktur modal yang optimal. Struktur modal yang optimal dibentuk dengan menyeimbangkan manfaat dari penghematan Pajak atas penggunaan utang terhadap biaya kebangkrutan (Myers, 1984).

Untuk mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai dengan hutang salah satunya daoat dilihat melalui debt to equity ratio. Debt to Equity Ratio

total shareholder’s equity (total modal sendiri). Total debt merupakan total liabilities (baik utang jangka pendek maupun janga panjang), sedangkan

total shareholder’s equity merupakan total modal sendiri (total modal saham yang disetor dan laba yang ditahan) yang dimiliki perusahaan. Menurut Robert Ang (1997) rasio ini menunjukkan komposisi dari total hutang terhadap total ekuitas. Semakin tinggi DER menunjukkan komposisi total hutang semakin besar dibanding dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihal luar (kreditur). Rumus dari DER adalah sebagai berikut:

Debt To Equity Ratio = Total Hutang Total Ekuitas

Proporsi anatar modal sendiri (internal) dengan modal pinjaman (eksternal) harus diperhatikan, sehingga dapat diketahui beban perusahaan terhadap para pemilik modal tersebut. Dalam manajemen keuangan proporsi anatara jumlah dana dari luar lazim disebut sebagai struktur pendanaan atau struktur modal (capital structure). Brigham (2006) menyatakan bahwa dalam mengembangkan target capital structure perlu dilakukan analisis dari banyak faktor dengan mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan. Sumber dana dari pihak luar diperoleh dari pinjaman atau hutang (baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang), sedangkan sumber dana dari pihak internal diperoleh dari modal saham (equity) dan laba tak dibagi (retained earning). Rasio antara sumber dana dari pihak eksternal

(hutang) terhadap sumber dana pihak internal (ekuitas) lazim disebut sebagai debt to equity ratio (Brigham, 2006).

Dari sudut pandang manajemn keuangan, rasio leverage keuangan merupakan salah satu rasio yang banyak dipakai untuk meningkatkan (leveraged) profitabilitas perusahaan. Terdapat pengaruh negatif pada leverage keuangan yakni bahwa profitabilitas perusahaan berkurang sebagai akibat dari penggunaan hutang pereusahaan yang besar, sehingga dapat menyebabkan biaya tetap yang harus ditanggung lebih besar dari operating income yang dihasilkan hutang tersebut, (Martono, 2002). Perusahaan dengan laba bertumbuh akan memperkuat hubungan DER dengan profitabilitas yaitu dimana profitabilitas meningkat seiring dengan DER yang rendah.

Perusahaan yang pertumbuhan labanya rendah akan berusaha menarik dana dari luar, untuk mendapatkan investasi dengan mengorbankan sebagian besar labanya. Sehingga perusahaan dengan pertumbuhan laba rendah akan semakin memperkuat hubungan antara DER yang berpengaruh negatif dengan profitabilitas dimana peningkatan utang akan memepengaruhi besar kecilnya laba perusahaan, yang mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya, yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar seluruh kewajibannya, karena semin besar penggunaan uatang akan semakin besar kewajibannya. Bagi perusahaan sebaiknya hutang tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban hutang tetapnya tidak terlalu tinggi

dimana DER yang tinggi menunjukkan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang terhadap ekuitas. Perusahaan dengan laba bertumbuh memepunyai kesempatan yang profitable dalam mendanai investasinya secara internal sehingga perusahaan menghindar untuk menarik dana dari luar dan berusaha mencari solusi yang tepat atas masalah-masalah yang terkait dengan hutangnya. Selain itu dengan profitabilitas yang meningkat akan meningkatkan laba ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan untuk melakukan pinjaman dan rasio DER menurun (Surbekti, 2001:146).

Tinggi rendah DER akan mempengaruhi tingkat pencapaian ROE yang dicapai oleh perusahaan. Jika biaya yang ditimbulkan oleh pinjaman (cost of debt) lebih kecil daripada biaya modal sendiri (cost of equity), maka sumber dana yang berasal dari pinjaman atau hutang akan lebih efektif dalam menghasilkan laba (meningkatkan return on equity), demikian sebaliknya (Brigham, 2006).

2.1.5. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara antara lain dengan total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi dalam tiga kategori yaitu perusahaan besar, perusahaan menengah, dan perusahaan kecil. Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan pada total aset perusahaan (Machfoedz dalam Saripudin, 2010).

Bagi perusahaan besar lebih cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat menghemat pajak.Hal tersebut dilakukan perusahaan besar agar tidak menjadi sorotan pemerintah atau pembuat regulasi yang nantinya akan mengakibatkan intervensi pemerintah dan perusahaan akan mengeluarkan pajak yang besar sehingga perusahaan-perusahaan besar lebih menyukai metode akuntansi yang dapat menunda pelaporan pendapatan atau menurunkan nilai pendapatan. Berbeda dengan perusahaan-perusahaan besar, perusahaan kecil akan menggunakan metode akuntansi yang dapat mebghasilkan tingkat laba yang lebih besar, karena dengan demikian perusahaan akan mendapat perhatian dari para investor yang akan memberikan bantuan dana kepada perusahaan.

Ukuran perusahaan diukur dengan total aset yang menggambarkan total sumber daya yang dimiliki perusahaan dari aktivitas operasi dan investasi. Semakin besar total aset, maka semakin besar pula ukuran perusahan tersebut.

2.1.6. Tenaga Kerja

Faktor produksi tenaga kerja adalah segala kegiatan jasmani maupun rohani atau pikiran manusia yang ditujukan untuk kegiatan produksi. Pemanfaatan tenaga kerja dalam proses produksi haruslah dilakukan secara manusiawi, artinya perusahaaan pada saat memanfaatkan tenaga kerja dalam proses produksinya harus menyadari bahwa kemampuan mereka ada batasnya, baik tenaga maupun keahliannya. Selain itu juga

perusahaan harus mengikuti peraturan yang dikeluarkan pemerintah dalam menetapkan besaran gaji tenaga kerja (Kardiman, 2003:73).

Posisi faktor tenaga kerja sangat dominan jika dibandingkan dengan faktor produksi lainnya dalam suatu proses produksi. Tenaga kerja adalah sebagian dari keseluruhan penduduk yang secara potensial dapat menghasilkan barang dan jasa. Dari pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tenaga kerja adalah sebagian penduduk yang dapat menghasilkan barang dan jasa, bila ada permintaan terhadap barang dan jasa.

Pengertian tenaga kerja dan bukan tenaga kerja hanya dibedakan oleh batasan umur. Di Indonesia dipilih batas umur 14 tahun tanpa batas umur maksimun. Dengan demikian di Indonesia penduduk di bawah umur 14 tahun dapat digolongkan bukan tenaga kerja. Pemilihan 14 tahun sebagai batas umur minimum adalah berdasarkan kenyataan di lapangan bahwa pada umur tersebut sudah banyak penduduk usia muda terutama yang tinggal di pedesaan yang sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan serta adanya wajib belajar untuk sekolah dasar.

Kondisi perekonomian pertama kali menyangkut pendapatan dan distribusinya, yang tentu sangat dipengaruhi oleh jumlah dan komposisi penduduk. Dari pemintaan ini yang merupakan permintaan dalam negeri, ditambah dengan permintaan akan barang dan jasa dalam negeri akan mempengaruhi permintaan akan pekerja. Oleh sebab itu peningkatan pendapatam nasional maupun pendapatan negara lain akan meningkatkan

permintaan atas barang dan jasa dari luar negeri terhadap barang dan jasa dalam negeri yang selanjutnya akan mempengaruhi permintaan akan pekerja.

Konflik yang terjadi antara manajemen dengan buruh dapat menjadi sumber political cost. Kekuatan buruh didefenisikan sebagai kemampuan buruh untuk menekan perusahaan sehingga kesejahteraan buruh menjadi lebih baik dengan cara transfer kekayaan sari perusahaan ke para buruh (Missonier-Pierra, 2004). Tekanan buruh diukur berdasarkan banyaknya karyawan yang dimiliki oleh perusahaan pada tahun t. Sebagian besar peneliti terdahulu menggunakan ada tidaknya serikat pekerja di perusahaan sebagai proksi dari kekuatan buruh. Proksi ini tidak bisa dilakukan di Indonesia karena seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI sudah memiliki serikat pekerja. Penelitian ini menggunakan banyaknya karyawan sebagai ukuran kekuatan buruh karena jumlah karyawan yang banyak menunjukkan kekuatan buruh yang sebenarnya yang setiap permasalahan cenderung diselesaikan dengan demonstrasi. Banyaknya karyawan yang dimiliki perusahaan dapat dilihat di laporan keuangan tahunan pada bagian gambaran umum perusahaan.

Kekuatan buruh, karyawan dan/atau serikat (yaitu angkatan kerja perusahaan) dapat mempengaruhi manajer untuk menghindari potensial biaya politik. Sebagai contoh pemogokan karyawan Tanzania Railway Limited (TRL) dan National Microfinance Bank (NBM) di tahun 2008 atasa tuntutan untuk upah lebih tinggi dan gaji (dengan karyawan mengklaim

bahwa perusahaan menghasilkan banyak pendapatan namun pendapatan mereka tetap rendah). Tujuan memaksimalkan kekayaan karyawan umumnya mengambil bentuk tuntutan upah yang terkait dengan sewa ekonomi perusahaan. Mengingat bahwa ekonomi umumnya berkorelasi dengan keuntungan perusahaan, karyawan cenderung berfokus pada laba yang dilaporkan (Elias, 1990).

Untuk mengukur variabel tenaga kerja ini akan digunakan rumus sebagai berikut (Naweru, et al, 2011):

Tenaga Kerja = Biaya Tenaga Kerja Total Penjualan

2.1.7. Struktur Kepemilikan Campuran

Struktur kepemilikan campuran merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik antara manajemen dan pemegang saham (Faisal, 2004). Karena dengan adanya struktur kepemilikan yang terstruktur, dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

Struktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu maksimalisasi niali perusahaan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya kontrol mereka miliki.

Struktur kepemilikan perusahaan terdiri dari dua tipe, yaitu struktur kepemilikan yang tersebar (dispersed ownership) kepada pemegang saham

publik (outside investors), dan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada segelintir pemegang saham saja (concentrated ownership). Struktur kepemilikan terdiri dari struktur kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial. Secara spesifik kategori struktur kepemilikan meliputi kepemilikan oleh institusi domestik, institusi asing, pemerintah, karyawan, dan individual domestik (Xu, 1997).

1. Struktur Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian serta institusi lainnya pada akhir tahun. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peranan yang sangat penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi antara manajer dan pemegang saham.

Institutional shareholders, dengan kepemilikan saham yang besar, memiliki insentif untuk memantau pengambilan keputusan perusahaan. Semakin besar kepemilikan oleh institusi keuangan maka akan semakin besar kekuatan suara dan dorongan institusi keuangan untuk mengawasi manajemen dan akibatnya akan memberikan dorongan yang lebih besar untuk mengoptimalkan nilai perusahaan sehingga kinerja perusahaan juga akan meningkat, dengan demikian laba juga akan tumbuh dengan maksimal.

Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh manajemen perusahaan yang diukur dengan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen (Sujoko dan Soebiantoro, 2007). Kepemilikan perusahaan merupakan salah satu mekanisme yang dapat dipergunakan agar pengelola melakukan aktivitas sesuai dengan kepentingan pemilik perusahaan. Meningkatkan kepemilikan manajerial dapat digunakan sebagai cara untuk mengatasi masalah keagenan. Kepemilikan saham manajerial akan membantu penyatuan kepentingan antara manajer dan pemegang saham, sehingga manajer ikut merasakan secara langsung manfaat dari keputusan yang diambil san ikut pula menanggung kerugian sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah.

3. Kepemilikan Saham Publik

Untuk mencapai tujuan utama suatu perusahaan yaitu meningkatkan nilai perusahaannya, diperlukan pendanaan yang dapat diperoleh bai melalui pendanaan internal maupun pendanaan eksternal. Masalah pendanaan berpengaruh pada tingkat kapitalisasi modal.

Dokumen terkait