• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

C. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, informan menjadi bispak karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi oleh informan. Oleh karena itu, peneliti dapat memberi saran sebagi berikut :

1) Masyarakat

Seorang menjadi bispak hanya karena dilabeli “bispak”. Julukan ini sebenarnya tidak diinginkan oleh ia yang disebut bispak sebab mengandung nada menghina. Karenanya, akan lebih membangun apabila masyarakat lebih terbuka dan tidak menkotakkan bispak sebagai wanita nakal yang bisa seenaknya bisa diajak berhubungan seksual. Setiap perilaku merupakan sebab-akibat dari sesuatu yang belum tentu kita tahu mengapa hal tersebut terjadi.

2) Bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini tidak lepas dari keterbatasan seperti yang diungkap oleh peneliti dalam sub bab keterbatasan penelitian. Oleh karena itu, peneliti menyarankan untuk menggunakan lebih dari 2 informan agar data yang ditemukan dapat lebih beragam. Selain itu, melihat bagaiman sejarah kemunculan istilah “bispak” ini akan memperkuat konteks budaya di mana istilah ini muncul. Dengan mengetahui konteks budayanya, maka bagaimana dan mengapa suatu fenomena bisa muncul akan mungkin lebih bisa dijelaskan.

67

DAFTAR PUSTAKA

Alderfer, P. . (1969). An Empirical Test of a New Theory of Human Needs. Organizational Behavior and Human Performance, 4, 142-175

Azwar, Saifuddin. (2004). Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, Saiffudin. (2010). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bartholomew, D.,&Horowitz, L.M. (1991). Attachment Styles Among Young

Adults: A test of a four-category model. Journal of Personalityand Social Psychology, 61, 226-244.

Basson, R. (2000). The Female Sexual Response: A different model. Journal of Sexand Marital Therapy, 26, 51–65.

Bell, R.L. 1996 Marriage and family interaction The Dorsey Press Illinois.

Berscheid, E., & Walster, E. (1974). A little bit about love. In T. Huston (Ed.), Foundations of interpersonal attraction (pp. 355-381). New York: Academic Press.

Buss, D. M., & Shackelford, T. K. (1997). From vigilance to violence: Mate retention tactics in married couples. Journal of Personality and Social Psychology, 72, 346–361.

Buss, D. M. (2003). The evolution of desire: Strategies of human mating (rev. ed.). New York: Basic Book.

Buss, D. M. (2005). The murderer next door: Why the mind is designed to kill. New York: Penguin.

Carroll, J. L., Volk, K. D., & Hyde, J. S. (1985). Differences between males and females in motives for engaging in sexual intercourse. Archives of Sexual Behavior, 14, 131–139.

Chaplin, J.P. (Penterjemah : Dr. Kartini Kartono). 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Raja Grafindo Persada : Jakarta

Davis, D. et al. (2004). Attachment Style and Subjective Motivations for Sex. Society for Personality and Social Psychology, Inc. Vol. 30 No. 8, 1076-1090.

Djaali, H. (2000). Psikologi pendidikan. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta Djamarah. (2002). Teori Motivasi, edisi 2 (ed-2), Jakarta : PT. Bumi Aksara Downs, C.W, dkk. (1980). Professional Interviewing. New York: Harper & Row

Publisher.

Edelstein, R. S.,&Shaver, P. R. (2004). Avoidant attachment: Explorationn of an oxymoron. In D. Mashek & A. Aron (Eds.), Handbook ofcloseness and intimacy (pp. 397-412). Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum.

Feeney, B. C.,&Collins, N. L. (2001). Predictors of caregiving in adult intimate relationships: An attachment theoretical perspective. Journal of Personality and Social Psychology, 80, 972-994.

Flett, G. (2008). Personality Theory and Research- An InternationalPerspective. Feist, J. And Feist, G. (2009). Theories of Personality. Seventh Ed. Boston:

Mc.Graw Hill.

Fraley, R. C., & Shaver, P. R. (2000). Adult romantic attachment: Theoretical developments, emerging controversies, and unanswered questions. Review of General Psychology, 4, 132-154.

Franken, R. (2002). Human Motivation. United State America: Wadsworth, Thomson Learning.

Gatyo, D.P. (2013). Dinamika Kebutuhan Dan Kecemasan P enderita Latah. Skripsi Strata 1. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Goldberg, L.T. (1981). Language and indi-vidual differences: The search for universal in personality lexicons. In L. Wheeler (ed.). Review of Personality and Social Psychology, 2, 141-165. Beverly hills, CA.: Sage Pub.

Graham, S & Weiner, B. (1996). Theories And Principles Of Motivation. National Science Foundation No. DBS-9211982

Greiling, H., & Buss, D. M. (2000). Women’s sexual strategies: The hidden dimension of extra-pair mating. Personality and Individual Differences, 28, 929–963.

Gunarsa, S.D. (1985)Dasar dan teori perkembangan anak. BPK Gunung Mulia Jakarta.

Handoko, Martin. (1992). Motivasi Daya P enggerak Tingkah laku (cetakan pertama). Yogyakarta: Kanisius.

Hazan, C., &Shaver, P. R. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52, 511-524. Hutagalung, R. A. S., (2012). Pusat Bahan Ajar dan Elearning : Psikodiagnostik I.

http://www.mercubuana.ac.id. Diakses pada 23 Juni 2016.

Hurlock, Elizabeth B. 1998. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Ed. 5). Jakarta : Penerbit Erlangga

John, O. P., Donahue, E. M., & Kentle, R. (1991). The Big Five Inventory. Technical report, University of California, Berkeley.

John, O. P., Naumann, L. P., & Soto, C. J. (2008). Paradigm shift to the integra-tive Big Five trait taxonomy: History, measurement, and conceptual issues. In O. P. John, R. W. Robins, & L. A. Pervin (Eds.), Handbook of personality: Theory and research (pp. 114-158). New York, NY: Guilford Press. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Diakses pada 4 Maret 2016, dari

Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Diakses pada 5 Mei 2017, dari kbbi.web.id: http://kbbi.web.id/motivasi

Lehmiller, J. J. (2014). The Psychology of Human Sexuality. United Kingdom: John Wiley & Sons, Ltd

Maslow, A. H. (1962). A theory of human motivation. Psychological review Matsumoto, D. & Juang, L. (2008). Cultural & P sychology. Belmont: Wadsworth

Cenage Learning.

McCrae, R. R., & Costa. P. T. Jr. (1999). A five-factor theory of personality. In L. A. Pervin, & O. P. John (Eds.),Handbook of personality: Theory and research. New York: Guilford Press.

Mikulincer, M.,&Shaver, P. R. (2003). The attachment behavioral systemin adulthood: Activation, psychodynamics, and interpersonal processes. In M. P. Zanna (Ed.), Advances in experimental social psychology (Vol. 35, pp. 53-152). San Diego, CA: Academic Press.

Moleong, Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif edisi revisi. Bandung: Rosdakarya

Poerwandari, E. Kristi. 1998. Pendekatan Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi. Jakarta :Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3).

Poerwandari, K.(2005). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Jakarta: LPSP3 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Ramdhani, N. (2012). Adaptasi Bahasa dan Budaya Inventori Big Five. Jurnal Psikologi, Vol. 39, no 2, Desmber 2012: 189-207.

Santrock, J. W. (2003). Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sarwono, J. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Schachner, D. A., &Shaver, P. R. (2002). Attachment style and human mate poaching. New Review of Social Psychology, 1, 122-129.

Schultz, D.P. (2009). Theories of Personality 9th edition. Sydney: Wardsworth, Engage Learning.

Sprecher, S. & McKinney, K. (1993). Sage Series On Close Relationships. International Educational and Professional Publisher. London.

72

LAMPIRAN 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 kebutuhan pemenuhan perasaan

nih, pas SPGan, ada orag yang nawar kamu berapa juta buat “main”, kenapa ga kamu terima?

Ga mau

Alesannya?

Kalo gue nih, kaya gitu tuh, bukan maksudnya bukan need of money gitu yah. Terus juga banyak yang ngeliat temen-temen yang lain tuh kalo udah sekali kaya gitu tu nyemplung pasti udah. Duit gampang kan ibaratnya itu. Cuma balik lagi ke gue, nyari duit bener, Cuma buat gue hal kaya gitu tuh bukan buat dijual. Bukan atas dasar uang.

Berarti atas dasar?

Yaa macem-macem

Kalo menurutmu atas dasar apa?

Feeling, kebutuhan

bispak bukan karena masalah ekonomi, akan tetapi hal yang berkaitan dengan perasaan dan kebutuhan 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Pemenuhan kebutuhan seksual Kebutuhan untuk merasa disayang oleh pasangan

Kebutuhan tuh, mkasudnya butuh dari 2 orang, si cowok butuh kamunya ga butuh, atau kamunya butuh si cowonya ga butuh?

Cowok mah butuh terus coy

Terus, pernah ga kamu yang minta duluan?

Ga

Ga pernah? Kenapa?

Ga pernah kepikiran “ahh gue pengen jatah”

Kan tadi kamu bilang kebutuhan?

Ya kebutuhan. Ya kalo dihadapin di situasi kaya gitu baru “oh iya ding, udah lama ga gitu”. Gitu loh.

Oke, berarti, yang kamu cari dari cowo tadi tu apa? Kebutuhan, sama feeling. Kebutuhan tuh maksudnya kebutuhan apa aja?

Ya kaya lu ngerasa disayang, gitu-gitu loh

Gitu-gitunya apa maksudnya?

Subjek dapat

melakukan hubungan seksual pada

seseorang yang dirasa nyaman.

43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

main doang apa gimana gitu loh. Sayangkah? Gitu loh. Sama yang kebutuhan apa si tadi. Ya kebutuhan kaya ketika udah, maksudnya kaya aku kan emang ga pernah “ahh aku pengen, ngebet banget.” Ga, ga pernah. Karena kan emang ga pernah kepikiran kesana, focus orientedku ga kesana. “yaa boleh deh sekali-kali” gitu. Dengan catatan, gue baru sekali kenal nih, “udah ayo”, ya ga mau lah. Gue kenal dia apa deket dulu kek apa gimana, apa mungkin ngerti orangnya gimana 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 Kenyamanan sebagai syarat utama

Deketnya tuh maksudnya gimana? Minimal berpaa lama? Maksudnya arti deket disini itu gimana sih?

Entah nyaman, entah ada perasaan gitu loh

Berarti, umm kalo total deh total, cowo yang udah tidur sama kamu berapa?

Bentar, lima

Dari kelima itu, kesamaan si cowo apa sih? Kenapa mau? Itungannya kenapa kamu mau “dipake”?

Kesamaan gue ke cowonya apa?

Yaa lunya apa gitu? Maksudnya syarat apa sih yang ada di keliama cowo itu?

Yaa ngerasa ada nyaman, ada feeling gitu loh pokoknya. Bukan yang kaya “ahh dugem, bungkus, pulang.” Ga mau kalo aku loh ya. Ya balik lagi ke prisip, soalnya, nek buat aku nih, hal kaya gitu bukan yang kaya “ahh yaudah deh, have fun.”, udah selesai. Ga yang as easy as that, ga yang “ahh udahlah baru kenal, bodo amat.” Kan banyak yang kaya gitu, aku ga mau ah kaya gitu. Ngapain. Gila juga, baru kenal, pulang, bungkus, yaa kalo sehat.

Subjek harus merasakan

kenyamanan terlebih dahulu agar bisa berhubungan badan.

82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92

deket dulu ya?

Iya kalo gue lebih ke nyaman kah, yaa orang nyaman otomatis ada feelingnya gitu, ga mungkin ga. Kalo ga nyaman ga mungkin

Berarti masih ada kemungkinan, kalo misalnya, kamu nyaman sama si cowo nih, tapi kamu ga ada hubungan nih, pacaran gitu. Tapi bisa berhubungan? Ya tergantung. 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120

Rasa sakit hati saat menjadi bispak

Menerima resiko

Menerima resiko

Terus, anggep nih kamu seneng sama si cowo, terus si cowo juga itungannya make kamu. Cuman kamu ga dijadiin pacar, Cuma dijadiin temen atau dijadiin apa gitu. Perasaan kamu apa sih sebenernya?

Gerus coy, tapi ya resiko. Maksudnya, ya ketika belum ada komitmen, cuma gue mau, berarti gue tahu tuh resiko ke depanya. Yaa udah deh. Yaa “ahh anjrit, kampret si kampret”. Cuma yaudah lah emang resikonya gue gitu. Ngerti lah resikonya gimana

Contohnya, resikonya lebih ke sakit hati ya sebenernya?

Iya berarti jatohnya

Tapi, itu itungannya kamu udah nganalisis dulu atau sebelumnya kamu ga bakaln tahu nih bakalan kaya gini?

Ya kaya resiko aja. Kaya lu jalan lu tau positifnya apa, negatifnya apa. Kira-kira kalo gue kaya gini berarti gini, okee jalan. Kalo ga, yaudah gitu. Jadi kira-kira nih kan, bisa apa yah, prediksi orang gitu loh

Nah, maksudku kamu udah pernah memprediksi itu belum sih?

Subjek merasakan sakit hati sebagai resiko dalam menjadi seorang bispak.

123 kira bayangin kurang lebih kaya gini,

Cuma ga tau juga. Kan ga ada yang tau 124 125 126 127 128 129 130 131 132 134 135 136 Harapan subjek Menerima resiko

Sebenernya kamu punya harapan ga sih? Harapan misalnya, sebenernya gitu, “ahh kenapa si, kok Cuma gini doang, ga jadi pacar?” gitu

Kalo awalnya ada. Cuma misalnya nih, apa yah, kaya lagi jalan, tapi kaya ahh ga deh. Yaudah selesai. Ya balik lagi ke resikonya. Kalo orang berani ngambil resiko kan, berarti ada tujuannya. Cuma ketika jalan tujuannya ga nyampe yaudah gitu. Emang resiko gue.

Harapan awal subjek terhadap

pasangannya.

Subjek berani

menerima resiko saat akan menjalani hubungan dengan pasangan. 137 138 139 140 141

Awal menjadi bispak Kamu jadi gini semenjak kapan sih?

Hahaha semenjak sama si orang ketiga lah. Kalo dulu gue bener, statusnya pacar, abis itu udah, ga pacar, ga pacar, ga pacar. Hahaha

Awal saat subjek menjadi seorang bispak. 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 Tanggapan subjek terhadap lingkungan terkait bispak

Kamu malu ga sih, anggep kalo ada orang yang tahu kalo kamu itu bisa dipakai?

Bukan lebih ke malu sih, lebih ke “ahh kalo ga ngerti diem aja!”. Gue kan cuek ya orangnya, ga malu sih. Yaa biarin sih urusan-urusan gue. Maksudnya kalo lo ngerti dasarnya apa, yaa gak apa-apa. Kecuali dasarnya uang, aib lah itu berarti, “yaa ampun, demi duit doang, kaya gitu lo?”

Subjek tidak peduli terhadap pandangan lingkungan pada dirinya. 153 154 155 156 157 158 159 160

Tadi kan, kamu bilang, syaratnya itu nyaman sama ada need. Level nyamannya kamu seperti apa sih? Apakah, misalnya nih, si cowo harus bayarin terus atau kamu bayarin terus, itu masuk level nyaman, yang penting si cowo itu selalu ada? Yaa bayarin makan, main.

Subjek tidak mementingkan masalah uang, akan tetapi harus

mendapatkan

kenyamanan terlebih dahulu.

163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 Seks sebagai kebutuhan pemenuhan perasaan Kenyamanan sebagai syarat utama Menerima resiko

apa-apa. Gak perhitungan lah. Kalo buat gue happy dan worth it yaa gak apa-apa, bukan masalah duit. Asal bisa nyaman apa nyambung gitu.

Nah kan tadi cerita 3 orang terakhir itu gak pacaran, cuman bisa dipake kan? Nahh kok bisa sampai dipake?

Kenapa yaa? Hahaha. Yaa mungkin cowonya juga butuh, ya namanya orang udah pernah kaya begitu kan! Maksudnya walaupun, ada orang yang kudu rutin kah, ada yang orientasinya ga kesana. Tapi jatohnya itu ke kebutuhan. Guenya juga butuh, si cowo juga butuh. Gue juga bingung ihh. Kok bisa yaa? Kalo gue nih, atas dasar butuh, kalo urusan duit mah udah sugih gue! Yaa balik-balik lagi, feeling lo gimana, terus need. Yaudah gitu loh, mau urusan kedepannya gimana ya resiko. 182 183 184 185 186 187

Rasa sakit hati saat menjadi bispak

Resiko yang pernah didapetin apa? Hamilkah? Atau apa penyakit kelamin?

Kalo penyakit kelamin sih gak ada.

Sakit ati?

Iyee!! Heeh bener!

Subjek merasakan sakit hati sebagai resiko menjadi bispak. 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200

Awal menjadi bispak Ini mulainya kapan sih ini?

Hahahaha 1 tahun yang lalu lah, gue lupa. Yaa setahun setengah lah ya

Ada role modelnya gak sih, kenapa kamu bisa jadi kaya gini? Misalanya kamu mungkin lihat temenmu. Misal si ini nih, gampang dapet pacar gara-gara dia bisa dipake atau dia tenar nih, gara-gara bisa dipake

Kalo gue tau orang sih, banyak tau. Cuman, ga jadi patokan. Karena kan balik lagi, kan atas dasarku sendiri.

Subjek memiliki banyak teman yang menjadi bispak juga, akan tetapi tidak menjadikannya sebagai role model.

Subjek menjadi bispak atas

202 203 204 205 206 207 208 Tanggapan subjek terhadap lingkungan terkait bispak

Tadi kalo masalah malu itu, cuek yah?

Yaa karena gue ngerasa ga salah. Yaa atas dasarnya selingkuh, bukan atas dasar duit atau dugem bungkus dugem bungkus. Yaa mngkin kalo kata orang atas dasar duit bener, kan beda-beda orang.

Subjek tidak peduli terhadap pandangan lingkungan pada dirinya. 209 210 211 212

Lebih memilih sisi kepribadian daripada fisik

Nyamanmu itu, lebih kearah fisik atau…

Ga ga ga ga pernah fisik, karakter jatohnya. Lebih ke karakter sama sifat.

Subjek mencari kenyaman dari seorag pria, bukan dari fisiknya. 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 Seks sebagai kebutuhan pemenuhan perasaan

Selama kamu menjadi cewek bispak nih, pernah ngerasain orgasme ga sih?

Pernah!

Itu di semua cowo, setiap kali main atau gak?

Ga.

Sebenernya, mengharapkan orgasme ga sih setiap kali main?

Gue? Nggak. Maksudnya, nyampe yaudah kalo ga nyampe yaudah. Karena ya atas dasar feeling, balik lagi ke perasaan. Jadi ya nerima aja, nggak yang harus banget, lebih ke pemuasan perasaan. Subjek melakukan hubungan seksual sebagai pemuas perasan. 226 227 228 229 230 231 232 233 234 Pendekatan secara langsung

Kamu bisa ditemuin dimana sih untuk hal ini? Misal nih, ada orang kenalan dari BBM. Kenalan, kenalan, nyaman, bisa main ga kira-kira? Kalo dari sosial media awalnya?

Belum pernah ketemu malah, face to face. Yaa ketemuan, orangnya easy going ga. Soalnya males nggagas dari sosmed.

Subjek lebih menyukai

penedekatan secara langsung daripada lewat media sosial.

235 236 237 238

Harapan subjek Kalo dari kamu sendiri, sebenernya pengen ga sih kaya gini? Kenapa?

Ga! Yaa balik lagi, gue kan pernah ngalamin tuh sama pacar gue sama

Subjek tidak mengharapkan dirinya menjadi seorang bispak.

241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253

komunikasi mendalam, terus lebih kaya yang bisa terbuka, bisa kaya yang bisa mendalam gara-gara ada visi kedepannya, ga ngambang. Aku sih orangnya mikir kedepan, tapi ketika itu ngambang, yaudah let it flow aja. Ya namanya juga cewe.

Maksudnya?

Cewe kan sesantai-santainya orang, ngeliat orang pacaran tuh “si kampret, orang pacaran.” Ada komitmen. Menurut gue nih ya, siapapun pasti pengen ada someone yang “ini lho, gue udah komit sama dia, kita ada tujuan kedepan bareng.”

Subjek menerima dirinya sebagai sorang bispak. 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 Seks sebagai kebutuhan pemenuhan perasaan

Menurut kamu, angka itu penting ga sih? Jadi gini, aku pernah baca jurnal, kalo orang-orang eropa itu, misalnya udah bisa nikah kalo misalnya udah pernah nidurin 5 cowo

Ga

Berarti, anggep aja pahit-pahitnya, 3 tahun kedepan, masih belum punya pacar, tapi Cuma cowo yang lewat-lewat doang, tapi pada make, masalah ga buat kamu?

Ga. Karena kan maksudnya basicnya itu ga yang ga salah. Karena gimana pun alesannya ya feeling, kalo duit mah jualan. Yaa ga salah kalo pasangan lo bisa nerima oke oke aja.

Subjek tidak melihat keslahan dalam menjadi bispak karena pemenuhan perasaan. 270 271 272 273 274 275 276 277 278 Cara subjek menampilkan dirinya pada umum.

Pernah ada omongan ga sih atau gosip-gosip yang nyampe telinga kamu “itu tuh bisa dipake tuh”?

Belum. Ga tau apa ga nyampe ke kuping gue

Apa kamu punya cara-cara sendiri untuk nutupin?

Yaa ga usah ember ke orang lain kan. Selesai kan. Subjek akan menampilkan dirinya pada lingkungan dengan cara senyaman subjek.

281 282

Kalo menurut gue sih ga, karena kan penampilan sePDnya lo, senyaman lo, sepengennya lo mau pake apa.

283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 Pasangan ideal menurut subjek

Kalo buat cowo ideal, cowo ideal kamu kaya apa sih sebenernya?

Cowo, tinggi tapi conditional karena fisik bisa ditoleransi, lebih ke ngertiin gue, nyaman, udah.

Kalau untuk ukuran si “otong” nih,

ngaruh ga?

Ngaruh coyy

Lebih suka yang besarkah, yang panjangkah, atau lebih yang tahan lama? Coba deh bandingin mana yang buat kamu nyaman dan ga nyaman

Ukuran sama tahan lama tuh saling bersangkutan coy. Percuma aja dia gede, cuma 3 menit, yaa mati. Apa dia nih misalnya tahan 2 jam, tapi cuma ya seuprit, ya kaliii.

Berarti, yang kamu suka tuh yang seperti apa?

Lebih ke ukuran, kalo waktu tuh conditional lah.

Subjek memiliki pandangan pasangan ideal menurutnya. Pasangan ideal menurut subjek lebih ke arah kepribadiannya bukan fisiknya. 303 304 305 306 307 308 309 310 Kekecewaan subjek Penyelesaikan masalah

Pernah ngerasain kesel ga sih, kaya misalnya nih lagi di tengah-tengah tapi si cowo keluar duluan gitu?

Ohh yaa kentang (kena tanggung) tapi yaudah lah ahhaha

Terus cara ngelawan kentangnya itu gimana? Masturbasi?

Menyibukkan diri kalo gue. Belum pernah masturbasi gue!

Subjek lebih memilih menyibukkan diri daripada memaksa oragasme. 311 312 313 314 315 316 317 318 Seks sebagai kebutuhan pemenuhan perasaan

Misalnya kamu ada perasaan sama si cowo, terus tiba-tiba ngehubungin dan ngomong “ehh gue ngaceng”, itu gimana?

Kalo yang belum pernah main sebelumnya sih, illfeel jadinya, kaya yang ngarep. Beda sama yang udah beberapa kali sebelumnya, itu kan

Subjek dapat diajak berhubungan seksual secara langsung, bila sudah pernah

melakukan

sebelumnya beberapa kali.

321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332

Kan tadi kamu bilang kamu nyaman sama si cowo, cuma si cowo pengen, tapi kok malah ill feel

jadinya?

Ya tapi kan ga langsung juga, “ehh pengen nih”

Berarti bisa kejadian kaya gitu, kalo udah pernah main dulu sebelum-sebelumnya?

Iyaa heeh, udah sama-sama ngerti.

Kalau untuk tempat, biasanya dilakukan dimana?

Di kost si cowo lah, di kost gue susah, tapi tidak menutup kemungkinan

333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 345 346 347 348 349 350 351 352 353 Kenyamanan dalam berhubungan seksual Menerima resiko

Lebih enjoy mana antara yang pacaran sama yang ga pacaran, pas

lagi “main”?

Yang pacaran lah, karena kan kalo amit-amit nih yee, kebobolan, yaa kalo ada pacar kan emang pacar gue kok, pasti tanggung jawab lah kalo ada cowo. Kalo ga pacaran ga kan bisa aja ngelak “emang lo sapanya gue?”.

Kan pacaran juga bisa angkat tangan juga, ga ada hitam diatas putih.

Tapi kan tetap ada komitmen bareng deh. Lebih ngerasa secure jatohnya.

Anggep nih, kebobolan tapi bukan sama pacar, yang kamu lakuin apa?

Balikin dulu ke cowonya, kalo cowonya ga tanggung jawab… Kalo sekarang sih yaa gue gugurin, karena gue belum mapan nih idupnya. Kalo kedepannya sih bisa berubah, conditional.

Subjek menerima resikonya sebagai subjek, walaupun subjek berharap untuk

Dokumen terkait