• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran-saran

Sesuai dengan tujuan penulisan skripsi ini, penulis menaruh harapan kepada semua pihak agar dapat mengambil manfaat dari pikiran-pikiran yang ada dalam skripsi ini terlebih bagi masyarakat Dusun Balak dan sekitarnya:

1. Bagi Masyarakat Dusun Balak merupakan pelaku utama dalam

pelaksanaan tradisi ini Dari hasil penelitian ini penulis mengharapkan pada masyarakat Dusun Balak dan sekitarnya agar tetap menjaga, melestarikan dan mempertahankan tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai pendidikanIslam dapat terus di lestarikan dari generasi ke generasi.Sebagai generasi muda dan penerus berkepribadian muslim,dengan sendirinya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab akankelangsungan agama, umat maupun masa depan bangsa, demi tegaknyaajaran agama Islam.

2. Bagi tokoh masyarakat Dusun Balak dan sekitarnya perlu

terkandung dalam prosesi Upacara Sadranan yang ada, agar masyarakat dapat menerima pesan yang terkandung didalam prosesi

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Tafsir. 2007. Ilmu Pendidikan dalam Persepektif Islam. Bandung: PT.

Remaja Rosda Karya

Achmadi. 2005.Ideologi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Arifin, Muhammad 2003.Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Bawani, Imam. 1993. Tradisionalisme. Surabaya: Al-Ikhlas

Bowo, Rudi Triyono. 2015. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Peringatan

Tahun Baru Hijriyah. Salatiga: IAIN Salatiga Press

Drajat, Zakiyah.1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta :Bumi Aksara

Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Hasan, Iqbal. 2003. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta:

Balai Pustaka

Hermawan, Jati. 2014. Pengaruh Agama islam dalam Terhadap Kebudayaan dan

Tradisi Jawa di Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. Semarang: IKIP Veteran Semarang Press

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nyadran diakses pada Rabu, 2 november 2016, pukul

13:45 WIB

Materi Ujian Komprehensif Lisan. Salatiga: IAIN Salatiga Press.

Milles, Mattew B dkk. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: PT UI press

Moeloeng, Lexy J. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja

Rosda Karya.

Mujib2011. Pemikiran dan Aktualisasi Pengembangan Pendidikan Islam. Jakarta:

PT Raja Graf Pers

Munandar, Sulaeman. 1995. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: PT

Eresco

Nurhidayah, Siti. 2010. Presepsi Masyarakat Islam Terhadap Tradisi Sadranan di

Desa Tumang Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali. Salatiga: IAIN Salatiga Press

Nurhidayati, Titin. 2010. Proses Penyebaran Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi

Purwadarmita. 1999. Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi ke 3. Jakarta: Balai Pustaka.

Purwadi. 2007. Ensiklopedia Adat Istiadat Budaya Jawa. Yogyakarta: Panji

Pustaka

Sarjono. 2005. Nilai-Nilai Dasar Pendidikan Islam Vol II. Yogyakarta: Fakultas

Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Press

Setiawan, Bayu. 2015. Nilai-Nilai Edukatif dalam Tradisi Gugur Gunung di

Dusun Kalisari Kecamata Tegalrejo Kabupaten Magelang. Salatiga: IAIN Salatiga Press

Simuh. 1996. Sufisme Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya

Sjarkawi.2009. pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta: Bumi Aksara

Sudaryono, Gagik Maryons dan Wardani Rahayu. 2013. Pengembangan

Instrumen Penelitian Pendidikan. Jogja: Graha Ilmu

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

PEDOMAN WAWANCARA A. Identitas Informan 1. Nama : 2. Usia : 3. Pekerjaan : 4. Hari/Tanggal : B. Butir-Butir Pertanyaan

1. Bagaimana sejarahnya tradisi sadranan?

2. Apa arti tradisi sadranan?

3. Kapan waktu dilaksanakanya tradisi sadranan?

4. Dimana upacara nyadran dilakukan?

5. Bagaimana prosesi pelaksanaantradisi sadranan di Gunung Balak?

6. Apa tujuam dilaksanakanya pengajian di Gunung Balak?

7. Adakah nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi sadranan?

8. Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi

Sadranan?

Hasil Wawancara

Nama : Titik Nanik S

Usia : 46 Tahun

Pekerjaan : Menjabat sebagai kepala desa Losari

Alamat : Dusun Jengkol

Hari/Tanggal : Selasa, 13 Desember 2016

Hasil Wawancara

Peneliti : Bagaimana sejarahnya tradisi sadranan di Gunung Balak ini Bu?

Informan :Pada zaman dahulu ada ulama yang bernama Syekh Subakhir.

Beliau menancapkan pusakanya di Gunung Balak

Peneliti : Apa maknadari tradisi sadranan ?

Informan : maknanya itu napak tilas Syekh Subakir dan minta kepada Allah

SWT agar dijauhkan dari bahaya dan bencana.

Peneliti : Kapan waktu dilaksanakanya tradisi sadranan?

Informan : Biasanya dilakukan pada bulan Suro Berdasarkan musyawarah

bersama oleh masyarakat setempat, upacara sadranan pada bulan Oktober tahun 2016 di laksanakan pada hari minggu kliwon, tanggal 2 oktober 2016 bertempat di Gunung Balak kecamatan Pakis, kabupaten Magelang.

Peneliti : Dimana upacara sadranan dilaksanakan?

Informan : Upacaranya dilakukan di Gunung Balak yang letaknya di Dusun

Balak.

Peneliti : Apakah anda mengetahui bagaimanapelaksanaan prosesi tradisi

sadranan?

Informan :Perangkat desa mengadakan rapat dahulu sebelum tradisi sadranan

dilaksanakan. Rapatnya diselenggarakan oleh pihak kecamatan dengan menghadirkan kepala desa dan kepala dusun dan dilaksanakan kira-kira 1 bulan sebelum tradisi sadranan dilaksanakan.Rapat ini membahas tentang pembentukan panitia inti sadranan, pelaksanaan sadranan, khususnya untuk dusun Balak dan dusun Pakis karena lokasi kedua dusun tersebut yang paling dekat dengan Gunung Balak. Setelah rapat selesai, pihak penanggung jawab masing-masing dusun akan menyampaikan hasil rapat kepada warganya dan mengadakan rapat lagi dengan warga untuk membentuk panitia yang lebih rinci dan melakukan pembagian tugas. Setelah itu hasil rapat akan disosialisasikan kepada warga agar warga mengetahui tentang kapan pelaksanaan sadranan dan apa saja yang harus dipersiapkan. Setelah itu ada yang menyelenggarakan pengajian, pengajianya yang menyelenggarakan dari pondok Surya Buana yang terletak di Dusun balak, pembicaranya Kanjeng Syekh Sirullah dari pondok pesantren

Surya Buana. Inti pengajianya satau saya ada dzikir akbar, manaqib, dan penancapan tombak kalimosodo. dan pada saat pelaksanaan nyadran ada ritual-ritual itu mbak bagi masyarakat

yang masih mempercayainya.” (Wawancara pada tanggal 13

Desember 2016)

Peneliti : Apa tujuan dilaksanakanya pengajian di Gunung Balak?

Informan :Yang membawakan Tausiyah adalah Kanjeng Syekh Sirullah

dimana inti dari pengajian ini adalah dzikir akbar, Manaqib, dan penancapan tombak kalimosodo. Pengajian dalam pelaksanaan sadranan ini merupakan suatu bentuk ikhtiar dalam menanggapi berbagai tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat.Adanya pengajian yang diselenggarakan oleh pondok Surya Buana ini masyarakat dapat membentengi diri dengan nilai-nilai agama dan ilmu pengetahuan

Peneliti :Adakah nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam

tradisi sadranan?

Informan :Ya tentunya ada mbak.

Peneliti : Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam

tradisi sadranan?

Informan : Salah satunya ada nilai ukhuwah Islamiyah karena melibatkan

sehingga terwujudlah rasa kebersamaan dan rasa persatuan. Selain itu antusias masyarakat dari daerah Pakis sendiri dan juga masyarakat dari luar daerah, bahkan dari luar kota berkumpul di satu tempat, saling bersilaturahmi untuk menjalin ukhuwah Islamiyah bersama-sama. Selain itu ada nilai dakwahnya juga karena Pondok Surya Buana mengadakdan pengajian yang dilaksanakan satu hari sebelum nyadran dilaksanakan. Dengan dilaksanakanya pengajian ini diharapkan dapat menambah wawasan keislaman bagi masyarakat dan dapat meningkatkan keimanan

Peneliti : Bagaimana upaya masyarakat dalam melestarikan sadranan?

Informan : Pertama dengan melibatkan perangkat desa. Perangkat desa selalu

terlibat dalam pelaksanaan tradisi nyadran di Gunung

Balak.Perangkat desa biasanya mengadakan rapat sebelum tradisi nyadran dilaksanakan.Rapat ini diselenggarakan oleh pihak kecamatan dengan menghadirkan kepala desa dan kepala dusun.Rapat ini dilaksanakan kira-kira 1 bulan sebelum tradisi nyadran dilaksanakan.Rapat ini membahas tentang pembentukan panitia inti nyadran, pelaksanaan nyadran, khususnya untuk dusun Balak dan dusun Pakis karena lokasi kedua dusun tersebut yang paling dekat dengan Gunung Balak.Saat pelaksanaan tradisi nyadran, perangkat desa tersebut hadir dan berkumpul ditenda yang telah disediakan oleh panitia.Keterlibatan perangkat desa

tersebut dapat memberikan contoh kepada masyarakat agar tetap semangat dalam melaksanakan tradisi nyadran karena dalam tradisi nyadran tersebut tersimpan nilai-nilai luhur.Kedua, Sosialisasi Kepada MasyarakatSetelah rapat selesai, pihak penanggung jawab masing-masing dusun menyampaikan hasil rapat kepada warganya dan mengadakan rapat lagi dengan warga untuk membentuk panitia yang lebih rinci dan melakukan pembagian tugas. Setelah itu hasil rapat akan disosialisasikan kepada warga agar warga mengetahui tentang kapan pelaksanaan nyadran dan apa saja yang harus disiapkan.Ketiga, Dengan melibatkan Kaum Muda.Kaum muda juga dilibatkan dalam persiapan dan pelaksanaan nyadran di Gunung Balak.Melibatkan kaum muda adalah upaya yang efektif karena kaum muda merupakan generasi penerus dalam masyarakat.Harapanya ialah apabila telah ikut terlibat sejak saat ini, pemuda tersebut kedepan tetap dapat melestarikan nyadran dan dapat mengembangkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ritual nyadran.Para pemuda turut berpartisipasi dalam bidang keamanan.Mereka membantu mengatur parkir kendaraan bermotor dan membantu menjaga kemananan diatas Gunung Balak tempat sadranan berlangsung.Setelah acara nyadran selesai, para pemuda biasanya bekerja bakti kembali unyuk membersihkan sampah-sampah yang berada dilokasi sadranan. Mereka juga melalukan

pembongkaran tenda sehingga lokasi sadranan akan kembali seperti semula.

Hasil Wawancara

Nama : Bapak Suparjo

Usia : 61 tahun

Pekerjaan : Menjabat sebagai mbahkaum

Alamat : Dusun Jengkol

Hari/Tanggal : Selasa, 13 Desember 2016

Hasil Wawancara

Peneliti : Bagaimana sejarahnya tradisi nyadran di Gunung Balak ini pak?

Informan : Pada saat penyebaran Islam disini datang seorang ulama Islam

dari Persia yang bernama Syekh Subakir. Banyak rintangan yang harus dihadapinya.Sesampainya di Jawa beliau memilih tempat di daerah magelang.Dipilihnya Magelang menjadi tempat singgah Syekh Subakir karena Magelang merupakan tengah-tengahnya pulau Jawa. Selain itu daerah tersebut dahulu masih banyak tempat yang belum terjamah oleh islam. Setelah semuanya selesai, syekh subakir memulai tugasnya untuk menyebarkan Islam pada masyarakat setempat. Masyarakat diajarkan untuk memeluk islam dan berpedoman dengan dua kalimat syahadat. Selain itu dalam proses dakwahnya, Syekh Subakir juga mengumpulkan ulama Islam di Jawa semakin kuat. Untuk mengenang dan menghormati

jasa Syekh Subakir yang telah membuat daerah tersebut tentram dan telah mengajarkan Islam pada masyarakat , sampai saat ini masyarakat secara rutin mengadakan syukuran. Syukuran tersebut dikenal dengan Istilah nyadran yang dilakukan di atas Gunung

Balak setiap tahunya”.

Peneliti : Apa makna dari tradisi sadranan ?

Informan : Maknanya itu supaya untuk mengenang/ napak tilas jasa Syekh

Subakhir.

Peneliti : Kapan waktu dilaksanakanya tradisi sadranan?

Informan : Upacara Sadranan ini dilakukan setahun satu kali setiap bulan

Suro tepatnya pada hari mingu kliwon.Apabila tidak ada hari minggu kliwon pada bulan suro maka tradisi nyadran ini berlangsung pada hari selasa kliwon.Hari minggu kliwon dan selasa kliwon dipercaya masyarakat sebagai hari yang sakral.

Peneliti : Dimana upacara sadranan dilakukan?

Informan : Upacaranya di atas Gunung Balak mbak.

Peneliti : Apakah anda mengetahui bagaimana prosesi tradisi sadranan

dilakukan?

Informan : Pada hari pelaksanaan upacara nyadran jam 7 pagi masyarakat

Gunung Balak dengan membawa tikar, tenong, dll. Masing-masing warga menggelar tikar diatas gunung balak untuk mengikuti upacara nyadran tersebut.Upacara nyadran dimulai diawali dengan sambutan dari kepala desa yang intinya menceritakan secara singkat sejarah adanya tradisi nyadran di Gunung Balak dan bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada warga yang sudah bersedia datang untuk mengikuti upacara nyadran.Seusai sambutan oleh kepala desa mbah kaum yang sudah

dipilih menjadi rois maju untuk memimpin tahlil dan do‟a yang

isinya memohon ampunan atau dosa para leluhur kepada Allah

SWT.Setelah berdo‟a diakhiri dengan makan kenduri

bersama-sama.Masyarakat yang mengikuti nyadran di Gunung Balak biasanya datang dengan membawa kenduri.Kenduri tersebut merupakan wujud syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Allah SWT. Selain itu, dengan adanya kenduri bersama saat nyadran, masyarakat dapat berkumpul dengan anggota masyarakat

lain dan dapat meningkatkan rasa kekeluargaan.Dalam

pelaksannanya ada ritual kejawen yang dipimpin oleh juru kuncinya tapi menurut saya ritual tersebut bukanlah merupakan tindakan musyrik dan menentang agama. Sesaji yang diberikan tersebut hanya sebagai sarana. Permohonan tetap ditujukkan kepada Allah SWT. tidak semua orang mengikuti ritual kejawen ini karena semuanya dikembalikan pada keyakinan setiap

orang.proses nyadran secara islam dan kejawen ini tetap berlangsung sampai sekarang dan tidak mengalami perubahan.

Peneliti : Apa tujuan dilaksanakanya pengajian di Gunung Balak?

Informan : Peran pendidikan tradisi nyadran dalam pendidikan Islam ini

untuk mengajarkan dan membimbing masyarakat sekitar Gunung Balak agar senantiasa mampu menonjolkan dan mempraktekan sikap maupun segala jenis tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.

Peneliti : Adakah nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam

tradisi sadranan?

Informan : Ada nilai keislamanya

Peneliti : Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam

tradisi sadranan?

Informan : Masyarakat yang sampai saat ini masih melaksanakan tradisi

sadranan berkeyakinan bahwa dalam tradisi sadranan banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Ada nilai-nilai aqidahnya.Dalam pelaksanaan upacara sadranan memiliki tahapan yang bernuansa

islami.Dalam prosesinya yang menggunakan do‟a-do‟a sebagai

wujud rasa syukur mereka kepada Allah SWT.Masyarakat meyakini bahwa Allah yang berkuasa Maha Segalanya.Kemudian ada nilai Ibadahnya, pelaksanaan tradisi sadranan merupakan salah

satu sarana untuk meningkatkan beribadah masyarakat. Karena saat pelaksanaan tradisi sadranan masyarakat melantunkan ayat-ayat

suci Al-Qur‟an, berdzikir dan berdo‟a kepada Allah SWT. Selain

itu ada nilai amaliahnya karena masyarakat membuat kenduri untuk dimakan bersama-sama. Mereka beramal dengan cara membagikan kenduri kepada orang yang tidak membawa bekal saat acara nyadran berlangsung dan masih ada nilai-nilai lainya

Peneliti : Bagaimana upaya masyarakat dalam melestarikan sadranan?

Informan : Biasanya sebelum nyadran selalu diadakan rapat oleh pegawai

kelurahan, nanti sama pihak kecamatan juga rapatnya. Setelah itu disosialisasikan kepada masyarakat dan pemuda juga dikerahkan untuk membantu .

Hasil Wawancara

Nama : Bapak Mujiyono

Usia : 55 tahun

Pekerjaan : menjabat sebagai kepala dusun Balak

Alamat : Dusun Balak

Hari/Tanggal : Sabtu, 10 Desember 2016

Hasil Wawancara

Peneliti : Bagaimana sejarahnya tradisisadranan di Gunung Balak ini Pak?

Informan : Asal mula adanya tradisi nyadran di Gunung Balak tidak

terlepasdari proses penyebaran agama islam di daerah tersebut. Jadi, adanya nyadran di Gunung balak juga sebagai salah satu cara untuk mengenang dan menghormati tokoh-tokoh yang berperan dalam penyebaran agama islam di daerah tersebut, salah satunya adalah Syekh Subakir. Syekh Subakir merupakan salah seorang ulama islam yang berasal dari Persia. Pada masa itu SyekhSubakir mendapatkan tugas untuk berijtihad dan menyampaikan agama Islam di Tanah Jawa.

Peneliti : Apa maknadari tradisi sadranan ?

Informan : Nyadran berasal dari bahasa Arab Syodrun yang artinya dada.

meningkatkan rasa lapang dada dan kekeluargaan sesama anggota masyarakat.Masyarakat juga berharap dengan dilaksanakanya tradisi nyadran ini kehidupan mereka menjadi tentram, dijauhkan dari gangguan mahluk halus dan mara bahaya serta bencana

Peneliti : Kapan waktu dilaksanakanya tradisi sadranan?

Informan : Masyarakat meyakini apabila meminta permohonan pada hari

tersebut maka permohonanya akan langsung didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan dapat terkabul.Akan tetapi pelaksannan tradisi nyadran tersebut diprioritaskan dilaksanakan pada hari Minggu Kliwon agar seluruh lapisan masyarakat dapat mengikuti karena hari minggu adalah hari libur.Tradisi Nydran dilaksanakan pada bulan Suro karena pada bulan inilah Syekh Subakir mengubur pusaka-pusakanya.Tradisi nyadran di Gunung Balak ini mulai rutin dilaksanakan sejat tahun 1960.

Peneliti : Dimana upacara sadranan dilaksanakan?

Informan : Sadranan dilaksanakan di Gunung Balak. Letaknya di dusun

Balak, desa Losari.

Peneliti : Apakah anda mengetahui bagaimana pelaksanaan prosesi tradisi

sadranan?

Informan : Satu hari sebelum berlangsungnya upacara nyadran

warga pakis dan sekitarnya. Pengajian ini diselenggarakan oleh podok pesantren Surya Buana yang bertempat di Dusun Balak. Tujuan dari pelaksanaan pengajian ini agar iman masyarakat semakin bertambah dan meningkatkan ukhuwah islamiyah diantara mereka. Kemudian pelaksanaanya jam 7 orang-orang yang mengikuti nyadran berkumpul di gunung Balak dengan membawa keperluanya masing-masing. Acara pembukan di isi oleh kepala

desa dan camat, setelah acara pembukaan selesai kemudian berdo‟a

yang dipimpin oleh mbah kaum.dan diakhiri dengan makan kenduri bersama-sama.

Peneliti : Apa tujuan dilaksanakanya pengajian di Gunung Balak?

Informan : Peran pendidikan tradisi nyadran dalam pendidikan Islam ini

untuk mengajarkan dan membimbing masyarakat sekitar Gunung Balak agar senantiasa mampu menonjolkan dan mempraktekan sikap maupun segala jenis tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu juga untuk mendorong setiap individu untuk selalu taat kepada Allah SWT serta dapat mengamalkan ajaran dan perintah agama.

Peneliti :Adakah nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam

tradisi sadranan?

Peneliti : Apa saja nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam tradisi sadranan?

Informan : karena tata caranya menggunakan tata cara Islam, maka banya

terkandung nilai-nilai islam didalamnya, seperti nilai ukhuwah sesama umat islam, nilai amal, dan masih banyak lagi.

Peneliti : Bagaimana upaya masyarakat dalam melestarikan sadranan?

Informan : pihak dari kecamatan mengadakan rapat bersama pihak

kelurahan. Untuk menentukan tanggal, panitia, serta apa saja yang harus dipersiapkan ketika upacara nyadran. Setelah rapat selesai kemudian disosialisasikan kepada masyarakat.Pemuda juga ikut serta dalam kegiatan sadranan.

Hasil Wawancara

Nama : Mbah Janadi

Usia : 89 tahun

Pekerjaan : menjabat sebagai juru kunci Gunung Balak

Alamat : Dusun Balak

Hari/ Tanggal : 10 Desember 2016

Hasil Wawancara

Peneliti : Pripun Sejarahe Tradisi sadranan Gunung Balak niki mbah?

Informan :“Sejarahe iku miturut cerito wongmbiyen ono alim ulama yo kuwi

Syekh Subakir. Gawe nyebarke Islam Syekh Subakir urip ning Magelang.Sak rampunge ing Magelang, Syekh Subakir nggawe nglawan marang kang nunggu Gunung.Syekh Subakir akhire biso ngalahke saka roh gunung. Pihak sing kalah kudu abdi manut marang syekh Subakir. Sawise Syekh Subakir nglawan marang kang nunggu gunung rampung, Syekh Subakir uga nancepke pusoko ing Gunung Balak. Pusoko iku jenenge pusoko Kalimosodo, kalimosodo iku maknane kalimat syahadat. Pusoko iku gawe njogo supoyo masyarakat uripe tentrem, adoh seko bencana, ora diganggu karo jin lan mahluk alus liyane”(Sejarahnya itu menurut orang dulu ada alim ulama yang

bernama Syekh Subakir. Untuk menyebarkan agama Islam Syekh subakir tinggal di Magelang Selama menetap di magelang, Syekh Subakir mengadakan perlawanan terhadap mahluk halus penungu Gunung. Akhirnya Syekh Subakir berhasil mengalahkan jin penunggu gunung tersebut. Pihak yang kalah harus menjadi abdi yang patuh kepada syekh subakir. Setelah perlawanan Syekh Subakir terhadap mahluk halus tersebut selesai, syekh Subakir juga menancapkan pusaka di Gunung Balak, pusaka tersebut bernama Kalimosodo yang bermakna kalimat syahadat. Pusaka tersebut berfungsi untuk menjaga agar masyarakat hidup dengan tentram, jauh dari bencana, tidak diganggu oleh jin, dan mahluk halus lainya).

Peneliti : Nopo Maknanipun tradisi Sadranan wonten Gunung Balak niki

mbah? (Apa maknanya tradisi Sadranan di Gunung Balak itu mbah?

Informan : “Maknane yo kui syukuran. Supoyo jogo masyarakat ayem

tentrem ora diganggu mahluk alus liyane lan diadohke seko bencana, sakliyane kuwi gawe guyup rukun kanggo masyarakat

(Maknanya yaitu syukuran. Supaya menjaga masyarakat damai, tentram, tidak diganggu oleh mahluk halus lainya dan dijauhkan dari bencanab selain itu juga untuk menjalin guyub rukun dengan masyarakat)

Peneliti : Kapan Tradisi Sadranan wonten Gunung Balak niki dilaksanaaken mbah?(Kapan traisi sadranan di Gunung Balak dilakukan mbah?)

Informan : “Nyadran biasane dilakoni sasi Suro”. (Nyadran biasanya

dilakukan pada bulan Suro)

Peneliti : Wonten Pundi Nyadran dilaksanaaken mbah?(Dimana Nyadran

dilakukan mbah?)

Informan : “Nyadran dilakoni ning duwur Gunung Balak.”(Nyadran

dilakukan di Gunung Balak)

Peneliti : Pripun tata cara Nyadran niku mbah? (bagaimana prosesi

nyadranya mbah?)

Informan :“Masyarakat kumpul ning Gunung balak, acara dibuka kades lan

camat, saklebare mbah kaum mimpin do’a, lan ono nyadran nganggo cara kejawen. proses nyadran ing Gunung Balak cara kejawen dilakoni kanthi menehi sesaji. sesaji sing digawe dening guru lan ana maknane dhewe.yo kuwi tumpeng, umbi-umbian, gedang, lan jajanan pasar. Tumpeng sing tansah disiapake ing ritual.Tumpeng iku simbol saka kesuburan lan kemakmuran . Gedhang, gedhang sing dikanggokke kuwi gedhang raja, kanggone wong sing nindakake ritual kejawen kudu kayata raja adil, becik lan tepat janji. Umbi-umbian dumadi saka kimpul, lilin Lumbu,

Telo Pendem, midro, lan uwi, gedhang kapok, lan kluban saka macem-macem sayuran sing nglambangke asil bumising ditampa dening masyarakat. Kabeh minangka tandha sukur ing Allah SWT.Sesaji liyane yo kuwi jajanan pasar kang dadi simbol saka

Dokumen terkait